Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31423 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Eva Sulistiowati, Anna Maria Sirait
MPPK Vol.24, No.2
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titi Indriyati; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Mardiati Nadjib, Imam Subekti; Penguji: Ratna Djuwita, Soewarta Kosen, Woro Riyadina, Telly Purnamasari
Abstrak:
ABSTRAK Peran Perubahan Status Sindrom Metabolik Terhadap Kualitas Hidup Terkait Kesehatan Pada Orang Dewasa Di Kota Bogor (Data Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Dalam 4 Periode Pemantauan, Tahun 2011-2018) Pemantauan kualitas hidup pada penderita sindrom metabolik perlu dilakukan secara berkelanjutan, untuk mencapai status kesehatan yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan menilai peran perubahan status sindrom metabolik terhadap kualitas hidup terkait kesehatan (HRQoL). Pendekatan studi menggunakan desain follow up prevalence sebagai turunan dari cross sectional yang merupakan bagian dari studi kohor induk. Diagnosis SM ditegakkan ketika jumlah kriteria SM >3 dari 5 faktor risiko menggunakan data studi kohor faktor risiko PTM yang dikelola oleh Balitbangkes Kemenkes RI di Kecamatan Bogor Tengah dalam 4 periode pemantauan tahun 2011-2018. HRQoL diukur melalui wawancara langsung terhadap 874 responden menggunakan kuesioner SF-36 dan EQ-5D-5L. Perubahan status SM yang dapat diidentifikasi adalah: SM persisten (6,8%); SM memburuk (12,8%), SM membaik (10,3%), dan tidak SM (70,1%). Kriteria SM pada periode pemantauan T4 yaitu: obesitas sentral pada laki-laki 23,2% dan perempuan 78,6%; kadar HDL rendah pada laki-laki 31% dan perempuan 36,4%; hipertensi 35,5%; trigliserida tinggi >150 mg/dl adalah 21,9%; serta gula darah puasa tinggi >100 mg/dl adalah 38,2%. Gambaran HRQoL dari hasil pengukuran kuesioner SF-36 yaitu 50,3% memiliki kualitas hidup baik pada dimensi fisik dan 51% baik pada dimensi mental. HRQoL EQ-5D-5L untuk profil status kesehatan adalah 95,7% tidak bermasalah pada dimensi kemampuan perawatan diri; sedangkan masalah yang paling besar adalah pada dimensi ketidaknyamanan (rasa nyeri) seebanyak 76,8%. Pada skala EQ-VAS responden dengan kategori HRQoL rendah sebanyak 8,5% memiliki nilaidi bawah rerata EQ-VAS orang Indonesia pada umumnya. Ada interaksi dalam hubungan perubahan status SM dengan HRQoL pada dimensi fisik berdasarkan faktor riwayat penyakit penyerta (PTM), Analisis multivariat regresi logisttik ganda membuktikan bahwa perubahan status SM yang berinteraksi dengan riwayat penyakit penyerta (PTM: jantung, strok, DM, kanker) memberikan efek HRQoL rendah pada dimensi fisik sebesar POR (95%CI) = 27,5 (10,3-73,2) dan strata tidak memiliki penyakit penyerta sebesar = 9,2 (5,7 – 15,0) setelah dikontrol oleh umur, status kesehatan mental, perubahan IMT, rutinitas periksa kesehatan dalam setahun, dan pengetahuan. Efek interaksi yang dijelaskan menggunakan nilai rasio peluang disebut interaksi multiplikatif dan ini penting dalam menjelaskan hubungan kausalitas bahwa perubahan status SM yang memburuk sebagai penyebab rendahnya HRQoL dimensi fisik. Rekomendasi mengembangkan upaya sinergi dengan instansi terkait dalam menentukan progam intervensi kesehatan dan Germas yang memungkinkan untuk diintegrasikan dalam studi kohor PTM di Kota Bogor.

ABSTRACT The Role of Changes in Metabolic Syndrome Status on Health-Related Quality of Life in Adults in Bogor City (Data on Cohort Study of Non-Communicable Disease Risk Factors in 4 Monitoring Periods, 2011-2018) Monitoring the quality of life in patients with metabolic syndrome needs to be carried out on an ongoing basis, to achieve a better health status. This study aims to assess the role of changes in metabolic syndrome status on health-related quality of life (HRQoL). The study approach uses a follow-up prevalence design as a cross-sectional derivative which is part of the main cohort study. The diagnosis of MS is enforced when the total number of criteria for MS >3 from 5 risk factors using a cohort study data of NCD risk factors managed by the Research and Development Center of the Ministry of Health of Indonesia in Central Bogor District in 4 monitoring periods 2011-2018. HRQoL was interviewed with 874 participants using the SF-36 and EQ-5D-5L questionnaires. Changes in MS status that can be identified are: persistent MS (6.8%); worsened MS (12.8%), improved MS (10.3%), and no MS (70.1%). The criteria for MS in the fourth monitoring period were: central obesity in males 23.2% and females 78.6%; low HDL levels in men 31% and women 36.4%; hypertension 35.5%; high triglycerides >150 mg/dl is 21.9%; and high fasting blood sugar> 100 mg/dl is 38.2%. The HRQoL description from the SF-36 questionnaire is 50.3% have a good quality of life on the physical dimension and 51% have a good quality of life on the mental dimension. HRQoL EQ-5D-5L for the health status profile is 95.7% without problems on the dimension of self-care ability; while the biggest problem is the dimension of discomfort (pain) as much as 76.8%. On the respondent's EQ-VAS scale with a low HRQoL category of 8.5% has a value below the average EQ-VAS of Indonesians in general. There is an interaction in the relationship between changes in MS status and HRQoL on the physical dimension based on the history of co-morbidities (NCD). Low HRQoL in the physical dimensions of POR (95% CI) = 27.5 (10.3-73.2) and without comorbidities of = 9.2 (5.7 – 15.0) after adjusting for age, mental health status, changes in BMI, routine health checks in a year, and knowledge. The effect modifications are explained using the probability ratio is called the multiplicative interaction is important in explaining the causal relationship that worsening MS status changes low HRQoL physical dimension. Recommendations for developing a synergy program with related agencies in determining health and Germas intervention programs that allow them to be integrated into the NCD cohort study in Bogor City.
Read More
D-486
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Aisyah Solechah, Lilik Kustiyah
Penelitian Gizi dan Makanan (PGM), Vol.37, No.1, Juni 2014; hal. 21-32
Bogor : Balitbangkes, 2014
Laporan Penelitian   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pradita Rani Nurharianti; Pembimbing: Nasrin Kodim, Ratna Djuwita; Penguji: Fidiansjah, Uswatun Hasanah
Abstrak: Prediabetes merupakan golden period dalam menunda terjadinya diabetes melitus tipe 2 karena pada periode ini perjalanan penyakit masih bisa dihentikan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak stres pada konversi prediabetes menjadi diabetes melitus tipe 2 pada orang dewasa. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Studi Kohort Faktor Risiko untuk Penyakit Tidak Menular di Bogor, Indonesia. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan sejak 2011 hingga 2015 dengan total populasi 5.890. Berdasarkan kriteria eksklusi dan inklusi, total subjek penelitian adalah 1059. Selama 5 tahun pengamatan, di antara subjek usia dewasa prediabetik ada 169 subjek yang dikategorikan sebagai T2DM dan 219 subjek dikategorikan sebagai stres. Analisis bivariat menunjukkan bahwa stres dan usia pada awal merupakan faktor risiko pada konversi pradiabetes menjadi T2DM (p <0,05). Model akhir pada analisis multivariat, menunjukkan hazard rasio stres sebesar 1,815 (95% CI: 1,307 - 2,520) dengan p <0,05. Temuan ini, diharapkan dapat digunakan sebagai informasi dan motivasi dalam upaya melakukan pencegahan dan pengendalian T2DM. Terutama pada individu dengan prediabetes yang menderita stres karena memiliki pengaruh terhadap konversi prediabetes menjadi T2DM.
Kata kunci: Diabetes melitus tipe 2, prediabetes, stres, dewasa

Prediabetes is a golden period in delaying the occurrence of type 2 diabetes mellitus because in this period the course of the disease can still be stopped. The study aim was to knowing the impact of stress on the conversion of prediabetes to type 2 diabetes mellitus in adults. This study used retrospective cohort design. The data used are secondary data from the Cohort Study of Risk Factors for Non-Communicable Diseases in Bogor, Indonesia. Data collection in this study was carried out since 2011 until 2015 with a total population of 5890. Based on the exclusion and inclusion criteria, the total of study participants were 1059. During 5 years of follow-up, among prediabetic adults there were 169 subjects categorized as T2DM and 219 subjects categorized as stressed. Bivariate analysis shows that stress and age at baseline is a risk factor on the conversion of prediabetes to T2DM (p < 0,05). Final model on multivariate analysis, shows the hazard ratio of stress was 1.815 (95% CI: 1.307 - 2.520) with p < 0.05. This findings, expected to be used as information and motivation in an effort to make prevention and control of T2DM. Especially in individuals with prediabetes who suffer from stress because it has an impact with conversion of prediabetes to T2DM.
Key words: Type 2 diabetes mellitus, prediabetes, stress, adults
Read More
T-5471
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.55, No.10, Okt., 2005 : hal. 617-621
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Wahyu Wadarsih; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Asih Setiarini, Endang L. Achadi, Nurhayati, Armein Sjuhary Rowi
Abstrak: Hipertensi adalah penyebab utama kematian dan kecacatan di tingkat global dan merupakan faktor risiko untuk penyakit kronis lainnya termasuk penyakit jantung iskemik dan gagal ginjal. Penelitian ini bertujuan menilai trend dan determinan hipertensi yang terkait dengan karakteristik individu dan gaya hidup. Desain penelitian ini adalah studi longitudinal dengan analisis time series memanfaatkan data studi kohor faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) tahun 2015-2017 di kota Bogor. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 711 responden. Analisis bivariat menggunakan uji repeated ANOVA, Friedman dan Wilcoxon, oneway ANOVA, Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney serta Chi-square. Sedangkan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian tahun 2015-2017 menunjukkan prevalensi hipertensi meningkat dari 31,9% menjadi 45,9%. Kenaikan juga ditunjukkan pada rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik, asupan energi, karbohidrat, protein, lemak, natrium dan aktifitas fisik. Pada penelitian ini diperoleh faktor paling dominan mempengaruhi status hipertensi tahun 2015-2017 yaitu asupan karbohidrat berlebih. Responden dengan asupan karbohidrat berlebih berisiko 5,14-14,58 kali mengalami hipertensi dibandingkan dengan asupan karbohidrat cukup. Variabel lain yang berpengaruh terhadap status hipertensi adalah status gizi, usia, jenis kelamin, asupan protein, kebiasaan merokok dan asupan lemak.
Hypertension is a leading cause of death and disability on a global level and is a risk factor for other chronic diseases including ischemic heart disease and kidney failure. This study aimed to assess trends and determinants of hypertension associated with individual characteristics and lifestyle. The design of this research was a longitudinal study with time series analysis utilizing cohort study data of risk factors for Non-Communicable Diseases 2015-2017 in Bogor. The number of samples in this study were 711 respondents. Bivariate analysis used repeated ANOVA, Friedman and Wilcoxon, oneway ANOVA, Kruskal-Wallis and Mann-Whitney and also Chi-square tests. Meanwhile, the multivariate analysis used multiple logistic regression. The results of the 2015-2017 study showed that the prevalence of hypertension increased from 31,9% to 45,9%. The increase was also shown in the average systolic and diastolic blood pressure, energy, carbohydrates, protein, fat, sodium intake and physical activity. In this study, it was found that the most dominant factor affecting hypertension status in 2015-2017 was excess carbohydrate intake. Respondents with excess carbohydrate intake had a 5,14-14,58 times risk of developing hypertension compared to those with sufficient carbohydrate intake. Other variables that affect hypertension status were nutritional status, age, gender, protein intake, smoking habits and fat intake
Read More
T-5999
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sulistyowati Tuminah; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Julianty Pradono, Nikson Sitorus
Abstrak:
"Latar belakang: Hipertensi, DM, dan stres psikologis masih menjadi masalah kesehatan yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Tujuan: menilai kejadian hipertensi dan besaran risiko akibat efek gabungan antara DM dan stres psikologis pada orang dewasa. Metode: Analisis menggunakan data sekunder Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (FRPTM). Disain studi yaitu studi kohor retrospektif. Populasi: Data penduduk berusia 25 tahun ke atas (saat baseline) yang menjadi responden Studi Kohor FRPTM di Kota Bogor, Jawa Barat. Inklusi: Data yang lengkap pada wawancara/pengukuran/ pemeriksaan. Eksklusi: Data subyek yang hipertensi saat baseline. Sampel: Data penduduk berusia 25 tahun ke atas (saat baseline) yang menjadi responden Studi Kohor FRPTM di Kota Bogor, Jawa Barat. Sebanyak 3165 data subyek dianalisis dengan regresi Cox. Hasil: Hipertensi yang ditemukan sebanyak 207 orang (6,6%). Relative risk (RR) untuk terjadinya hipertensi akibat adanya efek gabungan antara DM dan stres psikologis sebesar 2,20 dengan 95% CI (1,030?4,711) setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan obesitas. Interaksi yang didapatkan bersifat sinergis (positif). Kejadian hipertensi yang disebabkan karena interaksi sebesar 30%. Kesimpulan: Kelompok subyek dengan DM dan stres psikologis berisiko untuk terjadinya hipertensi sebesar 2,20 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok subyek tanpa DM dan tanpa stres psikologis dengan hubungan yang bermakna secara statistik.

Background: Hypertension, DM, and psychological distress are still health problems that cannot be fully controlled. Purpose: to assess the proportion of hypertension and the magnitude of the risk due to the combined effect of DM and psychological distress in adults. Methods: Analysis using secondary data of Cohort Study on Non-Communicable Disease Risk Factors (NCDRF). The study design was a retrospective cohort study. Population/sample: Data of respondents of the NCDRF Cohort Study in Bogor City, West Java aged 25 years and over (at baseline). Inclusions: Complete data on interviews/ measurements/examinations. Exclusion: Data of hypertensive subjects at baseline. A total of 3165 subject data were analyzed with Cox regression. Results: Hypertension was found in 207 people (6.6%). The relative risk (RR) for the occurrence of hypertension due to the combined effect of DM and psychological distress is 2.20 with a 95% CI (1.030-4.711) after controlling for gender and obesity. The interactions obtained are synergistic (positive). The incidence of hypertension caused by interactions is 30%. Conclusion: The group of subjects with DM and experiencing psychological stress has a risk of developing hypertension by 2.20-fold higher rather than the group of subjects without DM and without psychological distress with a statistically significant association.
Read More
T-6535
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lisnawati Maryam; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Emita Ajis
Abstrak:
Tuberkulosis atau biasa disebut TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Situasi TB paru di kabupaten Bogor sendiri sampai dengan februari tahun 2023. Sebanyak 13,6 % pasien yang sudah di obati, yaitu 2.476 kasus TB SO dan 103 kasus TB RO dengan jumlah capaian yang diinginkan yaitu 22.696 pasien yang diobati. Untuk diagnosa menggunakan TCM (Tes Cepat Molekuler) sudah 70%. Sedangkan untuk kasus Succes Rate TB tahun 2022 yaitu 38,4%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Persentase kejadian TB dan faktor yang berhubungan dengan kejadian TB pada orang dewasa di Kabupaten Bogor berdasarkan data tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain studi case series dengan menggunakan data SITB dan Kuesioner yang di bagikan ke narasumber. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan uji chi-square. Dengan hasil pemeriksaan TCM (+) sebanyak 67 orang dengan persentase 94,4%. Sedangkan jumlah pasien TB paru di puskesmas megamendung dengan hasil pemeriksaan ronsen (+) sebanyak 4 orang dengan presentase 5,6%. Sedangan dilihat dari demografi jumlah pasien TB paru lebih banyak diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Untuk umur 35 tahun ke bawah lebih banyak menderita TB paru. Pengetahuan pasien TB mayoritas pengetahuannya baik. Efek samping yang paling dominan adalah air kencing berwarna merah, dialami oleh 56 pasien (76,1%). Selain itu, nyeri gatal (36,6%) dan lemas (36,6%). Lingkungan juga dapat mempengaruhi TB.

Tuberculosis or commonly called TB is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium Tuberculosis. The pulmonary TB situation in Bogor district itself is up to February 2023. A total of 13.6% of patients have been treated, namely 2,476 SO TB cases and 103 RO TB cases with the desired achievement being 22,696 treated patients. For diagnosis using TCM (Rapid Molecular Test) it is already 70%. Meanwhile, the TB Success Rate in 2022 is 38.4%. The aim of this research is to determine the percentage of TB incidence and factors related to the incidence of TB in adults in Bogor Regency based on data for 2024. This research uses a case series study design using SITB data and questionnaires distributed to sources. Data analysis was carried out descriptively and used the chi-square test. With TCM examination results (+) as many as 67 people with a percentage of 94.4%. Meanwhile, the number of pulmonary TB patients at the Megamendung health center with X-ray examination results (+) was 4 people with a percentage of 5.6%. Judging from the demographics, the number of pulmonary TB patients is more common among women than men. People aged 35 years and under are more likely to suffer from pulmonary TB. Most TB patients' knowledge is good. The most dominant side effect was red urine experienced by 56 patients (76.1%). Apart from that, itching pain (36.6%) and weakness (36.6%). The environment can also influence TB.
Read More
S-11776
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marice Sihombing, Sulistyowati Tuminah
MPPK Vol.25, No.4
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2015
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Buku II, Tempo Hal: 140
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive