Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31268 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Febriana Setiawati; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo
T-597
Depok : FKM UI, 1998
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yusuf Priatna Kartapradja; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito
T-665
Depok : FKM UI, 1998
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Konstatinus Konsep Sinulingga; Pembimbing: I Made Djaja
S-1443
Depok : FKM UI, 1999
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ormaia Nja`Oemar; Pembimbing: Sandi Iljanto
T-763
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Artha Prabawa; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Besral, Poppy Yuniar, Hendry Boy
Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengankaries gigi pada murid SD di Kota Jambi Tahun 2014. Penelitian menggunakandesain cross sectional. Hasil penelitian diperoleh 59,3% responden karies gigi.Susunan gigi dan derajat keasaman saliva merupakan faktor yang berhubungandengan karies gigi, dimana responden dengan derajat keasaman saliva yang tidaknormal berisiko terjadi karies gigi 2,6 kali dibanding yang normal setelahdikontrol oleh susunan gigi dan kebersihan gigi dan mulut. Susunan gigi tidakteratur berisiko terjadi karies gigi 2,6 kali dibanding yang teratur, setelah dikontrololeh derajat keasaman saliva dan kebersihan gigi dan mulut. Disarankan untukmeningkatkan upaya promotif dan preventif pada murid SD di Kota Jambi.Kata kunci : karies gigi, faktor-faktor yang berhubungan dengan karies gigi
The purpose of this study to determine the factors associated with dental cariesin primary school students in the city of Jambi 2014. The study used across-sectional design. The results were obtained 59.3 % of respondents dentalcaries. Arrangement of the teeth and saliva acidity is a factor associated withdental caries, where respondents with the degree of acidity abnormal salivarycaries risk occurs 2.6 times compared to normal after controlled by thearrangement of teeth and oral hygiene. The composition of irregular teeth cariesrisk occurs 2.6 times compared to regular, once controlled by the acidity of salivaand oral hygiene. It is recommended to increase the promotive and preventiveprimary school students in the city of Jambi.Keywords : dental caries , related factors to dental caries
Read More
T-4268
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gabriella Eunike; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Renti Mahkota, Nani Rizkyanti
Abstrak:
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah yang termasuk wilayah endemis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian leptospirosis di Provinsi Jawa Tengah tahun 2023–2025. Penelitian menggunakan desain studi cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder yang berasal dari surveilans sentinel leptospirosis Provinsi Jawa Tengah tahun 2023–2025. Populasi penelitian terdiri dari seluruh responden surveilans sentinel di enam kabupaten lokasi sentinel, yaitu Banyumas, Demak, Klaten, Sragen, Kebumen, dan Purworejo. Analisis data dilakukan secara deskriptif, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kejadian leptospirosis sebesar 31,8%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa pekerjaan berisiko, riwayat banjir, keberadaan tikus di lingkungan, usia, dan tidak menggunakan alas kaki sebagai alat pelindung diri merupakan prediktor kejadian leptospirosis. Responden berusia 15-64 tahun (OR= 3,67; 95% CI: 0,46 – 29,02) dengan pekerjaan berisiko (OR= 3,45; 95% CI: 2,43 – 4,89), tidak menggunakan alas kaki sebagai APD (OR= 1,57; 95% CI: 0,96 – 2,57) serta yang memiliki riwayat banjir (OR= 2,44; 95% CI: 1,34 – 4,43) dan keberadaan tikus di lingkungan (OR= 1,57; 95% CI: 1,02–2,42) menunjukkan peluang kejadian leptospirosis yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor pejamu dan faktor lingkungan berperan penting dalam kejadian leptospirosis serta dapat menjadi dasar dalam perencanaan program pencegahan dan pengendalian leptospirosis yang lebih tepat sasaran di Provinsi Jawa Tengah.

Leptospirosis is a zoonotic disease that remains a public health concern in Indonesia, particularly in Central Java Province, which is considered an endemic area. This study aimed to identify factors associated with leptospirosis incidence in Central Java Province from 2023 to 2025. A cross-sectional study design was employed using secondary data obtained from the Central Java leptospirosis sentinel surveillance system for the period 2023–2025. The study population comprised all sentinel surveillance respondents from six sentinel districts, namely Banyumas, Demak, Klaten, Sragen, Kebumen, and Purworejo. Data were analyzed using descriptive, bivariate, and multivariate analyses with logistic regression. The results showed that the prevalence of leptospirosis was 31.8%. Multivariate analysis indicated that high-risk occupations, history of flooding, presence of rodents in the environment, age, and use of protective footwear were predictors of leptospirosis incidence. Respondents aged 15–64 years (OR = 3.67; 95% CI: 0.46–29.02) with risky occupations (OR = 3.45; 95% CI: 2.43–4.89), not using footwear as PPE (OR=1.57; 95% CI: 0.96–2.57), and having a history of flooding (OR=2.44; 95% CI: 1.34–4.43) and the presence of rats in the environment (OR= 1.57; 95% CI: 1.02–2.42). These findings suggest that both host-related and environmental factors play important roles in leptospirosis occurrence and may inform more targeted prevention and control strategies in Central Java Province.
Read More
S-12180
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Fauziah; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, Hidayat Nuh Ghazali Djadjuli
Abstrak:

Karies gigi merupakan salah satu penyakit gigi dan mulut dengan prevalensi tinggi baik secara global maupun nasional. Tingginya kejadian karies serta rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi menunjukkan masih adanya faktor risiko yang perlu dikaji, khususnya pada tingkat fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian karies gigi pada pasien di Agsato Dental tahun 2024.
Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross sectional. Data diperoleh dari rekam medis dan administrasi pasien yang melakukan kunjungan perawatan gigi pada periode Januari–Desember 2024. Sampel penelitian berjumlah 669 responden, terdiri dari 310 pasien karies dan 359 bukan karies. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan perhitungan Prevalence Odds Ratio (POR) pada tingkat kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan Responden perempuan memiliki peluang mengalami karies 1,052 kali dibandingkan laki-laki (95% CI: 0,776–1,427), Dibandingkan usia <10 tahun, kelompok usia 10–17 tahun memiliki peluang karies 0,808 kali (95% CI: 0,373–1,747),, usia 18–59 tahun sebesar 0,930 kali (95% CI: 0,533–1,622),, dan usia >60 tahun sebesar 2,045 kali lebih tinggi (95% CI: 0,848–4,932). Responden yang bekerja memiliki peluang karies 1,042 kali dibandingkan yang tidak bekerja (95% CI: 0,712–1,524). Berdasarkan wilayah tempat tinggal, responden yang tinggal di Jakarta selain Jakarta Selatan memiliki peluang 0,548 kali (95% CI: 0,292–1,027), dan yang tinggal di Jakarta Selatan 0,866 kali dibandingkan responden di luar Kota Jakarta (95% CI: 0,568–1,319). Pada kategori pembayaran, responden yang melakukan pembayaran pribadi memiliki peluang 1,462 kali lebih tinggi mengalami karies dibandingkan pengguna asuransi (95% CI: 1,072–1,995).
Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan peluang karies terutama terlihat pada kelompok usia lanjut. Sementara itu, karakteristik demografi lainnya menunjukkan peluang yang relatif serupa antar kelompok. Dengan demikian, upaya promotif dan preventif perlu difokuskan pada kelompok usia lanjut guna menurunkan risiko karies gigi.


Dental caries is one of the most prevalent oral diseases both globally and nationally. The high incidence of caries and the low utilization of dental health services indicate that risk factors still need to be explored, particularly at the level of healthcare facilities. This study aimed to analyze factors associated with the occurrence of dental caries among patients at Agsato Dental in 2024. This research employed an observational study with a cross-sectional design. Data were obtained from medical records and administrative records of patients who visited for dental treatment from January to December 2024. The study sample consisted of 669 respondents, including 310 patients with caries and 359 without caries. The association between variables was analyzed using the Chi-square test, with the calculation of the Prevalence Odds Ratio (POR) at a 95% confidence level. The results showed that female respondents had 1.052 times the odds of experiencing caries compared to males (95% CI: 0.776–1.427). Compared to children aged <10 years, those aged 10–17 years had 0.808 times the odds of caries (95% CI: 0.373–1.747), those aged 18–59 years had 0.930 times the odds (95% CI: 0.533–1.622), and those aged >60 years had 2.045 times higher odds (95% CI: 0.848–4.932). Respondents who were employed had 1.042 times the odds of caries compared to those who were unemployed (95% CI: 0.712–1.524). Based on place of residence, respondents living in Jakarta outside South Jakarta had 0.548 times the odds (95% CI: 0.292–1.027), and those living in South Jakarta had 0.866 times the odds compared to respondents residing outside Jakarta (95% CI: 0.568–1.319). Regarding payment method, respondents who made out-of-pocket payments had 1.462 times higher odds of experiencing caries compared to those using insurance (95% CI: 1.072–1.995). These findings indicate that increased odds of caries were primarily observed in the elderly group. Meanwhile, other demographic characteristics showed relatively similar odds across categories. Therefore, promotive and preventive efforts should be prioritized for the elderly population to reduce the risk of dental caries..

Read More
S-12214
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vuru Heksayanti; Pembimbing: Endang L. Achadi
S-1366
Depok : FKM UI, 1998
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikke Yuniherlina; Pembimbing: SSyahrizal yarif, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Endang Burni P., Herman Kosasih
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ikke Yuniherlina NPM : 1506704434 Program Studi : Epidemiologi Komunitas Judul : Faktor-faktor yang berhubungan dengan keparahan DBD pada pasien studi demam akut di delapan rumah sakit di Indonesia Manifestasi klinis demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi permasalahan dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan derajat keparahan DBD menurut kritera WHO 2011 terbagi atas DBD derajat I, DBD derajat II, DBD derajat III, dan DBD derajat IV. Di Indonesia insiden DBD meningkat walaupun angka kematiannya menurun, untuk itu penelitian ini bertujuan meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan keparahan DBD, dimana DBD derajat II, III, dan IV dikategorikan sebagai DBD parah. Penelitian cross-sectional yang menggunakan data sekunder dari studi etiologi demam akut dari delapan rumah sakit di Indonesia, didapatkan proporsi keparahan DBD sebesar 43,3%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan keparahan DBD didapatkan faktor jenis serotipe virus DENV-2 (OR = 3,06 95%CI 1,43 – 6,55), DENV-3 (OR = 2,62 95% CI 1,33 – 5,15), faktor lama demam (OR = 1,91 95%CI 1,09 – 3,35), dan faktor jumlah leukosit (OR = 1,79 95%CI 1,02 – 3,16). Skoring didapatkan sebesar 67% kemampuan untuk memprediksi keparahan. Kata kunci: keparahan, demam berdarah dengue, faktor-faktor


ABSTRACT Name : Ikke Yuniherlina NPM : 1506704434 Study Program : Epidemiology Title : Prognostic factors associated with dengue hemorrhagic fever severity of the acute fibril illness study patients in eight hospitals in Indonesia Dengue hemorrhagic fever (DHF) as a clinical manifestasion of dengue infection remains a public health problem in Indonesia. According to WHO, DHF severity grade was divided into DHF I, DHF II, DHF III and DHF IV. In Indonesia, the incidence of DHF increased eventhough the mortality rate decreased. Therefore, the study aims to examine prognostic factors related to the severity of DHF, with the category of severe DHF is including DHF II, DHF III and DHF IV. This cross-sectional study using secondary data from the Acute Febrile Illness Etiology Study of eight Hospitals in Indonesia. The result as follow, the proportion of severe DHF category is 43.3%, the prognostic factors associated with DHF severity are DENV serotype (DENV-2, OR = 3.06 95% CI 1.43 - 6.55; DENV-3, OR = 2.62 95% CI 1.33 - 5.15), day of illness (OR = 1.91 95% CI 1.09 - 3.35), and leucocyte count (OR = 1.79 95% CI 1.02 - 3.16). The scoring with contributing of DENV serotype, day of illness, and leucocyte count as prognostic factors, has only 67% ability to predict DHF severity. Keywords: severity, dengue hemorrhagic fever, prognostic factors

Read More
T-5168
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisa Ramadhani; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Widyawati
S-10405
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive