Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 13346 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Diah Setia Utami; Promotor: Budi Utomo; Ko-Promotor: Sabarinah Prasetyo, Eunike Sri Tyas; Penguji: Anhari Achadi, Kemal Nazaruddin Siregar, Rita Damayanti, Hartati Kurniadi, Fidiansjah
Abstrak: Penggunaan Amphetamine Type Stimulants (ATS) di Indonesia meningkat secara signifikan, sehingga tren penggunaan narkotika berubah. Cara penggunaan juga berubah dari mayoritas melalui jarum suntik menjadi melalui alat isap (bong). Penggunaan ini berpotensi menularkan infeksi saluran pernafasan akut seperti TBC dan pneumonia, selain itu penggunaan ATS memberi efek stimulan yang lebih meningkatkan risiko gangguan kardiovaskuler dan gangguan psikiatris. Efek ATS terhadap fisik, psikis maupun sosial, yang berbeda dari penggunaan zat non-ATS perlu mendapatkan intervensi yang spesifik. Saat ini model layanan rehabilitasi yang tersedia memberikan layanan yang sama kepada seluruh pengguna narkotika, sehingga belum memenuhi layanan rehabilitasi spesifik bagi pengguna ATS.
 
Tujuan penelitian ini adalah mempelajari layanan rehabilitasi yang ada, dan selanjutnya membuat usulan model layanan rehabilitasi khusus pengguna ATS. Metode penelitian adalah kombinasi kuantitatif dan kualitatif. Untuk mempelajari pelayanan yang tersedia saat ini, dilakukan studi kuantitatif membandingkan indikator keluaran yaitu produktivitas dan kekambuhan dari klien yang telah selesai dirawat di One Stop Center (OSC) dan Community Based Unit (CBU) dengan wawancara menggunakan kuesioner. Untuk membuat usulan model dilakukan studi kualitatif dengan wawancara mendalam kepada klien pengguna ATS, manajer program dan kepala OSC; telaah literatur dan telaah data sekunder; serta diskusi kelompok terarah terhadap petugas layanan rehabilitasi, program manajer, akademisi, organisasi profesi dan pengambil kebijakan.
 
Hasil studi awal memperlihatkan tidak adanya perbedaan indikator keluaran pada pengguna ATS yang direhabilitasi di OSC maupun CBU (p>0,05). Ini berarti, perbedaan sumber daya dan metode layanan tidak menghasilkan perbedaan luaran terhadap pengguna ATS. Ditengarai beberapa kelemahan dari layanan yang tidak spesifik bagi pengguna ATS, mencakup prosedur skrining dan asesmen yang belum memisahkan kondisi klinis dan penyulit, intervensi yang belum sesuai dengan kondisi dan tujuan rehabilitasi individu, penilaian faktor risiko dan kualitas hidup belum dilakukan dan belum adanya monitoring evaluasi untuk indikator mutu layanan rehabilitasi. Berdasarkan hasil ini, diusulkan model layanan rehabilitasi bagi pengguna ATS. Model dikembangkan mengacu pada alur perjalanan klinis penggunaan ATS, meliputi metode intervensi sesuai kategori dan kebutuhan individu -terutama perlunya skrining dan asesmen terhadap risiko gangguan psikiatrik-, kemudian kebutuhan sarana prasarana minimal -terutama terkait perlunya ruang observasi psikiatrik-, dan terakhir, kapasitas minimal SDM -khususnya keterampilan penilaian psikopatologi gejala gangguan psikiatris serta kompetensi dalam penatalaksanaan dasar gangguan penggunaan narkotika disertai gangguan mental dan fisik (co-occurring disorders). Diperlukan uji coba lebih lanjut guna menilai penerapannya dalam berbagai tatanan layanan rehabilitasi di Indonesia.
 

 
Major drug of abused in Indonesia has changed from heroin to amphetamine type stimulants (ATS) recently. Major route of administration has also changed from injection of heroin to smoking of ATS. Unlike heroin users who tended to be dependent, ATS users in general tended to be a recreational user. However, pattern of ATS usage has also potential risks, such as respiratory diseases -like TB and pneumonia-, as well as cardiovascular diseases and psychiatric disorders. Effects of ATS towards physical, psychological and social of its users were different with other non-ATS users, while existing drug treatment and rehabilitation program tended to provide ?one-size fits all?-where all clients received similar program and approach regardless their uniqueness and background. Therefore, there is a need to develop specific intervention for ATS users who need treatment.
 
This study was aimed to provide drug rehabilitation model for ATS users that can accommodate individual needs and minimize harmful effect of its usage. This study applies both qualitative and quantitative methods. Study population is stakeholders from One Stop drug-treatment Center (OSC) and Community Based drug-treatment Unit (CBU), includes clients, clinical staff and management. Primary data is taken from three sources, first, clients who have completed treatment program, second, from literature review, and third, from secondary data review.
 
The results of primary data analysis showed that there was no significance difference of treatment outcome between OSC and CBU (p>0,05). Meaning that different resources and approaches does not differentiate treatment outcomes toward ATS users. Existing rehabilitation programs have not accommodate ATS users specific needs. Existing drug treatment and rehabilitation program had potential limitation in treating ATS users. The study proposes drug rehabilitation model for ATS users which theoretically can accommodate their specific needs. The model covers intervention method which is based on individual needs and categories -particularly screening and assessment of psychiatric problem risks-, then minimum facilities requirements -particularly availability of psychiatric observation room-, and lastly, human resources capacity -particularly competencies in screening and assessing psychiatric signs and symptoms, as well as managing co-occurring disorder-. This model will be piloted in various rehabilitation setting. This model will be piloted in various rehabilitation setting to review its applicability in the field.
Read More
D-325
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Brian Sriprahastuti; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Hadi Pratomo, Tris Eryando; Penguji: Anhari Achadi, Adang Bachtiar, Trihono, Harimat Hendarwan, Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan
D-301
Depok : FKM-UI, 2014
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Roikhatul Jannah; Promotor: Budi Utomo Kopromotor: Ahmad Syafiq, Wahyuddin; Penguji: Endang Laksminingsih, Sudarto Ronoatmodjo, Bambang Trisnowiyanto, Indra Supradewi
Abstrak:
Masalah persalinan yang berdampak traumatik terhadap keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi baru lahir (BBL) membutuhkan strategi layanan fisioterapi antenatal yang kontekstual dengan budaya sedentari. Untuk itu, penting adanya model strategis persalinan positif, yaitu persalinan berkualitas yang aman, selamat ibu dan bayi sehat, melebihi harapan. Berbagai upaya dikembangkan dengan mengoptimalkan faktor yang berkontribusi. Penelitian ini berkontribusi untuk memelihara dan meningkatkan kebugaran fisik pada masa kehamilan dalam model layanan Fisioterapi Antenatal (FA) “Gerak Musik” Intensif Kebugaran untuk Hamil-bersalin Aman-sehat (IKHA). Yaitu, program olahraga untuk ibu hamil yang menggabungkan unsur aerobic, stretching dan strengthening dalam satu rangkaian gerak terstruktur. Dari permasalahan itu, rumusan masalah penelitian ini “bagaimana layanan model FA IKHA untuk persalinan positif?” Tujuannya, untuk mengetahui bagaimana efektifitas dan feasibilitas dari layanan FA IKHA untuk persalinan positif. Metode penelitian dirancang dengan pendekatan prospektif dengan desain campuran: Kuantitatif quasi eksperimental dua grup dengan kontrol untuk tahap evaluasi efektifitas, dan kualitatif pada penilaian feasibilitas model. Penelitian melibatkan ibu hamil dan provider kesehatan bidan dan dokter sebagai sampel. Total 48 ibu yang dipilih berdasarkan purposive sampling yang berpartisipasi pada tahap efektivitas. Terbagi dalam kelompok perlakuan (n=24) dan kontrol (n=24). Sampel untuk tahap feasibilitas dipilih dengan convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan melaksanakan intervensi FA IKHA pada ibu dengan usia kehamilan 22 minggu, dilanjutkan dengan pengisian kuesioner kualitas persalinan yang dikembangkan dari modifikasi Birth Satisfaction Scale (BSS) dan Childbirth Experience Questionnaire (CEQ) satu minggu pascasalin. Proses analisis pada tahap efektivitas dilakukan dengan uji statistik. Uji chi square digunakan untuk melihat perbedaan data kategorik dan uji t-test untuk variabel kontinyu. Pada tahap feasibilitas digunakan analisis Rapid Assessment Procedure (RAP). Hasil menunjukkan bahwa pada tahap efektivitas, proporsi perbandingan persalinan positif lebih tinggi pada kelompok perlakuan (67%) daripada kontrol (40.4%) dengan p-value=0.014. Pada komponen kualitas persalinan lain yang menunjukkan beda signifikan secara statistik antara kelompok perlakuan dan kontrol ditemukan pada metode persalinan, nyeri persalinan, laserasi perineum, perdarahan, durasi kala II, penggunaan forceps, proses induksi, dan penggunaan obat antinyeri. Pada tahap feasibilitas model FA IKHA mendapat penerimaan secara antusias karena manfaat yang dirasakan oleh ibu hamil dan bidan, aman, serta mengandung unsur menghibur. Kesimpulan: Layanan model FA IKHA sangat strategis untuk persalinan positif dengan menimbang efektivitas dan feasibilitas yang dirasakan oleh ibu dan proviser dari masa kehamilan sampai persalinan. Rekomendasi: Dengan kebijakan model FA IKHA yang diterapkan menjadi bagian layanan antenatal terpadu secara lebih luas di faskes tingkat satu, maka semakin banyak ibu yang mendapatkan persalinan positif.

Childbirth process problems that have a traumatic impact on the safety and health of mothers and newborns require antenatal physiotherapy service strategies that are contextual to a sedentary culture. For this reason, it is important to have a strategic model for positive childbirth, the better quality of childbirth, those safe and healthy for mother newborn, beyond the expectations. Various efforts have been developed to optimize contributing factors. This research contributes to maintaining and improving physical fitness during pregnancy in the Intensive Fitness Antenatal Physiotherapy service model for Safe and Healthy Pregnancy to Childbirth (FA IKHA). It is an exercise program for pregnant women that combines aerobic, stretching and strengthening elements in one structured series of movements. It raise question research "how is the FA IKHA model service for positive childbirths?" The aim is to find out the effectiveness and feasibility of the FA IKHA service for positive childbirths. The research method was designed using a prospective approach with a mixed design: Quantitative quasi-experimental two groups with controls for the effectiveness evaluation stage, and qualitative for assessing the model's feasibility. The research involved pregnant women and health providers, midwives and doctors as samples. A total of 48 mothers selected based on purposive sampling participated in the effectiveness stage. Divided into treatment (n=24) and control (n=24) groups. The sample for the feasibility stage was selected using convenience sampling. Data collection was carried out by implementing the FA IKHA intervention on mothers at 22 weeks' gestation, followed by filling in a birth quality questionnaire developed from the modified Birth Satisfaction Scale (BSS) and Childbirth Experience Questionnaire (CEQ) one week postpartum. The analysis process at the effectiveness stage is carried out using statistical tests. The chi square test is used to see differences in categorical data and the t-test for continuous variables. At the feasibility stage, Rapid Assessment Procedure (RAP) analysis is used. The results show that at the effectiveness stage, the proportion of positive birth comparisons was higher in the treatment group (67%) than the control (40%) with p-value=0.002. Other components of delivery quality that showed statistically significant differences between the treatment and control groups were found in the method of delivery, labor pain, perineal lacerations, bleeding, duration of the second stage, use of forceps, induction process, and use of pain medication. At the feasibility stage, the FA IKHA model received enthusiastic acceptance because of the benefits felt by pregnant women and midwives, it was safe, and contained entertaining elements. Conclusion: The FA IKHA model service is very strategic for positive childbirth by considering the effectiveness and feasibility benefit for mother and provider from pregnancy to childbirth. Recommendation: With the FA IKHA model policy implemented as part of wider integrated antenatal services in primary health facilities, more mothers will have positive births.
Read More
D-530
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Delmaifanis; Promotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Kopromotor: Anhari Achadi, Kalamullah Ramli; Penguji: Sabarinah, Sutanto Priyo Hastono, Tris Eryando, Indra Supradewi; Elizabeth Jane Soepardi
Abstrak:
Salah satu upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) adalah melalui pelayanan antenatal. Adanya transformasi digital menjadikan pelayanan antenatal juga perlu menerapkan kesehatan digital untuk meningkatkan kualitas layanan. Salah satu petugas yang berperan penting dalam pelayanan antenatal adalah bidan. Sebanyak 85% pemeriksaan kehamilan dilakukan oleh bidan, baik yang dilakukan di puskesmas maupun Praktik Mandiri Bidan. Untuk itu diperlukan model layanan antenatal oleh bidan yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model layanan antenatal oleh bidan yang didukung Web-based Apps ‘Bundaqusehat’ untuk meningkatkan kualitas layanan antenatal dan promosi kesehatan ibu hamil. Metode penelitian adalah pengembangan sistem yang terdiri dari 5 tahap. Tahap 1 adalah systematic literature review, tahap 2 adalah analisis kebutuhan sistem, tahap 3 merupakan pengembangan model pelayanan antenatal dengan proses bisnis baru, tahap 4 pengembangan prototipe Web-based Apps ‘Bundaqusehat’, tahap 5 melakukan uji prototype Web-based Apps ‘Bundaqusehat’ yang terdiri dari; uji usability, uji penerimaan oleh bidan dan ibu hamil dan uji efikasi. Uji efikasi dilakukan dengan desain studi quasi experiment pretest and posttest with control group design. Fitur utama Web-based apps ‘Bundaqusehat’ adalah pengecekan penerapan 10T layanan antenatal, catatan kesehatan, deteksi risiko, reminder, promosi kesehatan, link rujukan, telekonsultasi, pemantauan gerakan janin, dan laporan real time. Penelitian dilakukan di wilayah Jakarta Barat. Sebagai kelompok intervensi adalah 30 bidan dan 30 ibu hamil di Puskesmas Cengkareng, dan 30 bidan dan 30 ibu hamil di Puskesmas Kalideres sebagai kontrol. Analisis statistik uji T menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu hamil (p value=0,009), kepuasan ibu hamil (p value=0,001), kepatuhan minum tablet Fe (p value=0,030) dan pemantauan gerakan janin (p value=0,039). Model layanan antenatal yang didukung oleh Web-based Apps ‘Bundaqusehat’ cukup efektifitas meningkatkan kualitas layanan antenatal. Agar transformasi kesehatan dapat terlaksana, diperlukan ekosistem dalam implementasi kesehatan digital.

One of the efforts to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) is through antenatal care. The existence of digital transformation makes antenatal services also need to implement digital health to improve service quality. One of the officers who play an important role in prenatal checks is the midwife; as much as 85% of prenatal checks are carried out by midwives at health centres and in independent midwifery practices. For this reason, an effective and efficient model of antenatal care by midwives is needed. This study aims to develop a model of antenatal care by midwives supported by the Web-based application 'Bundaqusehat' to improve the quality of antenatal care and the health of pregnant women. The research method is system development which consists of 5 stages. Stage 1 is a systematic literature review; stage 2 is an analysis of system requirements; stage 3 is the development of an antenatal care model with new business processes; stage 4 is the development of a Web-based 'Bundaqusehat' Application prototype; stage 5 has been testing the 'Bundaqusehat' Web-Based Application prototype consisting of; usability test, acceptance test by midwives and pregnant women and efficacy test. The efficacy test was carried out using a quasi-experimental research design with a pretest and a posttest with a control group design. The main features of the web-based 'Bundaqusehat' application are checking the implementation of 10T antenatal services, health records, risk detection, reminders, health promotion, referral links, teleconsultation, fetal movement monitoring, and real-time reports. The research was conducted in the West Jakarta area. As the intervention group, there were 30 midwives and 30 pregnant women at the Cengkareng Health Center and 30 midwives and 30 pregnant women at the Kalideres Health Center as controls. Statistical analysis of the t-test showed an increase in knowledge of pregnant women (p-value = 0.009), the satisfaction of pregnant women (p-value = 0.001), adherence to taking Fe tablets (p-value = 0.030) and fetal movement monitoring (p-value = 0.039). The antenatal care model supported by the web-based 'Bundaqusehat' application effectively improves the quality of antenatal care. For health transformation to occur, an ecosystem is needed to implement digital health.
Read More
D-490
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Hapsari Tjandrarini; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Sudijanto Kamso, Anhari Achadi; Penguji: Amal C. Sjaaf, Minarto, Trihono, Soewarta Kosen
D-268
Depok : FKM UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Holly Herawati; Promotor: Amal Chalik Sjaaf; Kopromotor: Purnawan Junadi, Trihono; Penguji: Anhari Achadi, Sudarto Ronoatmodjo, Sandi Iljanto, Soewarta Kosen
Abstrak: Penyakit TB masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia, walaupun upaya pengendalian sudah dilakukan sejak jaman penjajahan. Evaluasi yang dilakukan selama ini masih merupakan evaluasi proses, maka kali ini peneliti menawarkan suatu evaluasi yang menyeluruh yaitu adanya cara pengukuran baru berupa variabel laten ( lingkungan, sarana prasarana, proses, target dan output) dengan tujuan hasil evaluasi ini untuk memberi masukan pada penentu kebijakan pengendalian TB di masa yang akan datang.
 
Penelitian di lakukan dengan memakai gabungan data Rifaskes 2011 dan P2PL 2011.
 
Metode yang dipakai adalah analisa data sekunder, serta penambahan data kualitatif dengan memakai penelitian sistem, serta metode pemodelan variabel dengan menggunakan analisa Struktural Equation Modeling. Hasil yang didapat adalah di perolehnya 4 model hasil evaluasi program pengendalian TB: Model nasional, model wilayah Sumatra, model Jawa Bali, model wilayah lainnya. Secara garis besar ada beberapa perbedaan kontribusi setiap hubungan variabel laten; pada model nasional kontribusi terbesar (1.sarana prasarana ke proses, 2. Target 1 dan CDR 3. proses ke target 2) pada hasil evaluasi Sumatra (1. sarana prasarana ke proses; 2. target 1 dan CDR 2. target 1 dengan CNR 3.lingkungan dan sarana prasarana) hasil evaluasi Jawa Bali (1.target 1 dan CNR 2.target 1 dengan CDR 3. Target 2 dan CR ) dan hasil evaluasi wilayah lainnya (1. target 1 dengan CNR 2. lingkung dan sarana prasarana 3. sarana prasarana ke proses).
 

TB disease remains a health problem in Indonesia, despite the control measures already carried out since the colonial era. Evaluations were conducted for this is still an evaluation process, so this time offers researchers a comprehensive evaluation that is the way of new measures in the form of latent variables (environment, infrastructure, processes, targets and output) with the purpose of this evaluation to provide input on policy makers TB control in the future.
 
The experiment was conducted using a combination of data P2PL Rifaskes 2011 and 2011. The method used is the analysis of secondary data, as well as additional qualitative data using systems research, as well as variable modeling methods using Structural Equation Modeling analysis. The result is a model of evaluation results oBTAin it 4 TB control program: The national model, a model region of Sumatra, Java and Bali models, models of other regions. Broadly speaking, there are some differences in the contribution of each relationship latent variables; the largest contribution to the national model (1. infrastructure to process, targets 1 and CDR 3.target 1 to process) on evaluation of Sumatra (1. infrastructure to process; 2. target 1 and CDR 2. target of 1 to CNR. 3.the environment and infrastructure) on the evaluation of Java Bali (1.target 1 and CNR 2.target 1 with CDR 3. Target 2 and CR) and the results of evaluation of other areas (1.targets 1 with CNR 2. infrastructure with the environment and 3.infrastructure to process).
Read More
D-342
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asmaripa Ainy; Promotor: Budi Hidayat; Kopromotor: Pujiyanto, Ali Ghufron Mukti; Penguji: Atik Nurwahyuni, Mardiati Nadjib, Prastuti Soewondo, Mahlil Ruby
Abstrak:
Sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), Universal Health Coverage (UHC) menjadi agenda utama pembangunan kesehatan yang diimplementasikan di Indonesia melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sejak tahun 2014. Pada akhir tahun 2022, cakupan kepesertaan JKN telah mencapai 90,45% penduduk Indonesia dan berpotensi meningkatkan utilisasi layanan kesehatan. Namun, variasi utilisasi layanan kesehatan antar kelompok peserta dan wilayah masih terjadi, sehingga pemerataan akses dan pemanfaatan layanan kesehatan masih menjadi tantangan. Tujuan dari penelitian ini adalah diperolehnya estimasi variasi utilisasi layanan kesehatan pada peserta JKN guna mendukung terwujudnya kesetaraan akses layanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan memanfaatkan data kepesertaan dan kunjungan layanan kesehatan dari data sampel Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tahun 2023, data fasilitas kesehatan dari Sistem Monitoring Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), data lama sekolah penduduk umur 15 tahun ke atas dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita dari publikasi Provinsi dalam Angka Badan Pusat Statistik tahun 2023, serta data cost weight berdasarkan tarif Indonesian Case Based Groups (INA-CBGs) tahun 2016. Sampel penelitian terdiri atas 1.480.031 peserta JKN aktif dengan data lengkap. Analisis data dilakukan dengan mempertimbangkan bobot sampel, meliputi analisis univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan model regresi Zero-Inflated Negative Binomial (ZINB). Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi utilisasi layanan kesehatan pada peserta JKN setelah mengontrol variabel kovariat. Pada layanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), tidak terdapat perbedaan signifikan frekuensi kunjungan rawat jalan maupun rawat inap antara peserta JKN Non Penerima Bantuan Iuran (Non PBI) dan Penerima Bantuan Iuran (PBI). Namun, peserta PBI memiliki peluang nol kunjungan rawat jalan di FKTP yang lebih tinggi (OR 1,92; p<0,001) dan peluang nol kunjungan rawat inap di FKTP yang lebih rendah (OR 0,68; p<0,001). Sebaliknya, pada layanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL), peserta PBI memiliki frekuensi kunjungan rawat jalan dan rawat inap yang lebih rendah (IRR 0,22 dan 0,43; p<0,001) serta peluang nol kunjungan yang lebih tinggi (OR 1,40 dan 5,00; p<0,001) dibandingkan peserta JKN Non PBI. Lebih lanjut, hasil analisis interaksi menunjukkan bahwa perbedaan frekuensi kunjungan antara peserta JKN Non PBI dan PBI dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, wilayah tempat tinggal, rasio FKRTL, penyakit kronis, dan tingkat keparahan penyakit. Upaya pemerataan akses layanan kesehatan melalui kebijakan JKN dan bantuan iuran PBI perlu didukung oleh peningkatan literasi kesehatan pada peserta PBI, kemudahan akses dan navigasi sistem rujukan, serta pemerataan FKRTL, terutama di wilayah yang masih menunjukkan utilisasi relatif rendah seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua.

In line with the Sustainable Development Goals (SDGs), achieving Universal Health Coverage (UHC) has become a key health policy priority in Indonesia and has been pursued through the National Health Insurance (JKN) program since 2014. By the end of 2022, JKN coverage had reached 90.45% of the Indonesian population and has the potential to increase healthcare utilization. However, variations in healthcare utilization across membership groups and regions persist, posing challenges to achieving equitable access to and use of healthcare services. This study aimed to estimate variations in healthcare utilization among JKN members to support the achievement of equitable healthcare access. A cross-sectional study design was employed using 2023 membership and healthcare utilization data from the Social Health Insurance Administration Body (BPJS Kesehatan) sample database, health facility data from the National Social Security Council (DJSN) Monitoring System, educational attainment and gross regional domestic product (GRDP) per capita data from the 2023 Provincial Statistics publications of Statistics Indonesia, and cost-weight data based on the 2016 Indonesian Case-Based Groups (INA-CBGs) tariff system. The study included 1,480,031 active JKN members with complete data. Data were analyzed using sample weights through univariate, bivariate, and multivariable analyses with Zero-Inflated Negative Binomial (ZINB) regression models. The findings revealed significant variations in healthcare utilization among JKN members after adjusting for covariates. At the primary healthcare level (FKTP), no significant differences were observed in the frequency of outpatient or inpatient visits between Contribution Assistance Beneficiaries (PBI) and Non PBI members. However, PBI members had higher odds of having no outpatient visits (OR = 1.92; p < 0.001) and lower odds of having no inpatient visits (OR = 0.68; p < 0.001) at FKTP facilities. In contrast, at the secondary and tertiary referral healthcare level (FKRTL), PBI members exhibited lower frequencies of outpatient and inpatient visits (IRR = 0.22 and 0.43, respectively; p < 0.001) and higher odds of having no visits (OR = 1.40 and 5.00, respectively; p < 0.001) compared with Non PBI members. Furthermore, interaction analyses indicated that differences in healthcare utilization between Non PBI and PBI members were modified by educational attainment, region of residence, referral healthcare facility density, chronic disease status, and disease severity. Efforts to promote equitable access to healthcare through the JKN program and PBI contribution assistance should be supported by improving health literacy among PBI members, strengthening access to and navigation of the referral system, and ensuring a more equitable distribution of referral healthcare facilities, particularly in regions with relatively low utilization, such as Sulawesi, Maluku, and Papua.
Read More
D-625
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dien Kurtanty; Promotor: Adang Bachtiar; Kopromotor: Fachmi Idris, Ummi Azizah Rachmawati; Penguji: Tris Eryando, Rizanda Machmud, Trihono, Andi Alfian Zainuddin
Abstrak: Diabetes adalah penyakit kronik yang dikenal dengan “longlife disease” yang harus dikelola secara terus-menerus. Penelitian ini bertujuan membangun intervensi meningkatkan kemandirian pengelolaan DM dengan model DIEN (Diabetic Self-Reliance, Intervention, Electronic basis, Network system). Penelitian mixed method exploratory sequential melalui empat tahap penelitian. Tahap pertama mengidentifikasi determinan perilaku kemandirian pengelolaan DM; tahap kedua mengidentifikasi intervensi yang dibutuhkan dalam membangun perilaku kemandirian DM; tahap ketiga pengembangan model DIEN; tahap keempat uji coba model. Model DIEN dibuat berdasarkan temuan tahap satu dan dua, telah diuji coba dan saat ini dalam level pengembangan teknologi level tujuh.
Diabetes is a chronic disease known as a "long life disease" which must be managed continuously. This study aims to build interventions to increase the independence of DM management with the DIEN model (Diabetic Self-Reliance, Intervention, Electronic basis, Network system). This mixed method exploratory sequential study went through four stages of research. The first stage identifies the behavioural determinants of DM management independence; the second stage identifies the interventions needed to build DM independence behaviour; the third stage of developing the DIEN model; fourth stage model trials. The DIEN model was based on the findings of stages one and two, has been tested and currently at the level seven technology development level.
Read More
D-564
Depok : FKM UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Sutrisna; Promotor: Buchari Lapau; Ko-Promotor: Purnawan Junadi, Arthur L. Reingold, Umar Fahmi Achmadi, Amal Chalik Sjaaf, Agus Suwandono, Cholid Rasidi, Soekidjo Notoatmodjo
Abstrak: ABSTRAK
 
Faktor risiko, menurut Last (1983), adalah suatu terminologi yang dihasilkan oleh suatu penelitian epidemiologi yang mempunyai beberapa arti yang antara lain:
 
1) suatu atribut atau pemajanan yang dapat dihubungkan dengan peningkatan probabilitas terjadinya suatu outcome seperti terjadinya suatu penyakit; yang tidak selalu merupakan faktor kausal. Ini sering disebut sebagai risk marker
 
2) suatu atribut atau pemajanan yang meningkatkan probabilitas terjadinya suatu penyakit atau suatu outcome tertentu lainnya. Ini sering disebut penentu (determinant) atau faktor yang menentukan
 
3) suatu penentu yang dapat dimodifikasi dengan intervensi sehingga dapat mengurangi probabilitas teijadinya penyakit atau suatu outcome tertentu. Ini Bering juga disebut sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi.
 
 
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan faktor risiko dari pneumonia pada bayi dan anak balita tercakup dalam tiga pengertian di atas.
 
 
Pneumonia adalah penyakit dengan gejala batuk pilek disertai napas sesak atau napas cepat. Definisi pneumonia di atas adalah definisi kasus yang baru diperkenalkan oleh WHO pada tahun 1989 dan dipakai oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam program penanggulangan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara nasional pada tahun 1991. Sebelumnya, istilah yang dipakai untuk kasus ini adalah ISPA. ISPA biasanya mengandung arti yang lebih luas karena di dalam ISPA juga termasuk saluran pernapasan atas, telinga, hidung, dan tenggorok, sedangkan pada pneumonia yang dimaksud adalah infeksi saluran pernapasan bawah yang akut dan penyakit ini mempunyai tingkat kematian yang tinggi. Sebenarnya, program penanggulangan ISPA yang mempunyai tujuan menurunkan mortalitas pada bayi dan anak balita ditujukan pada pneumonia ini. Oleh karena itu, sejak tahun 1989, WHO menggunakan istilah pneumonia dalam case managementnya sebagai pengganti ISPA dan hal ini pun dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan RI sejak tahun 1991. Dalam telaah kepustakaan pun baru pada tahun-tahun terakhir ini lebih banyak muncul istilah pneumonia; sebelumnya cukup banyak dipergunakan istilah ISPA. Biasanya, yang dimaksud pneumonia sekarang adalah istilah yang dulunya dikategorikan sebagai "ISPA sedang" dan "ISPA berat".
Read More
D-17
Depok : FKM-UI, 1993
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pradnya Paramita; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achmadi, Tribudi, Suprijanto Rijadi, Hafizurrachman, Setyo Hari Wijanto, Soewarta Kosen, Sutoto
D-266
Depok : FKM UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive