Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38624 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Imannuel Sitepu; Pembimbing: Kusharisupeni, Diah M. Utari; Penguji: Yvone M. Indrawani, Anis Irawati, Iip Syaiful
Abstrak:

Status gizi baik anak baduta keluarga miskin merupakan suatu keadaan bahwa diantara anak baduta yang hidup di lingkungan dan kondisi dengan sosial ekonomi yang rendah terdapat anak baduta dengan status gizi baik (63,9%). Dalam situasi dan tekanan ekonomi yang terjadi mereka dapat beradaptasi untuk bertahan dan mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik dibandingkan dengan anak-anak lainya. Faktor-¬faktor yang berhubungan dengan status gizi baik anak baduta gakin antara lain karakteristik ibu (pengetahuan gizi, pendidikan, pekerjaan), karakteristik anak (berat lahir, umur awal pemberian MP-ASI), karakteristik keluarga (jumlah anggota keluarga, keadaan rumah tinggal, jumlah balita dalam keluarga, urutan anak, biaya pengeluaran pangan rumah tangga), pola makan (konsumsi energi, konsumsi protein, status pemberian ASI), riwayat penyakit infeksi (ISPA, diare), pola asuh (gizi, kesehatan). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui garnbaran status gizi anak baduta keluarga miskin di wilayah Puskesmas Sambas dan faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi baik anak baduta tersebut. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 190 orang (total sampel) dan untuk melengkapi informasi dilakukan pendekatan kualitatif melalui Focus Group Discussion (FGD) pada kelompok ibu dengan anak status gizi baik dan kelompok ibu dengan anak status gizi kurang. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis univariat, bivariat dengan uji chi square dan multivariat dengan uji regresi logistik dan tingkat kemaknaan p≥0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi gizi baik anak baduta gakin 48,4%, pada analisis bivariat hubungan variabel pengetahuan gizi ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, berat lahir anak, umur awal pemberian MP-ASI, jumlah anggota keluarga, jumlah balita dalam keluarga, status pemberian ASI, riwayat penyakit infeksi, perilaku gizi dan kesehatan ibu dengan status gizi anak baduta secara staistik terbukti bermakna dengan (p<0,05), sedangkan hubungan keadaan rumah tinggal, urutan anak, konsumsi energi protein dengan status gizi anak baduta tidak terbukti bermakna dengan (p>0,O5). Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel yang paling menonjol (dominan) adalah umur awal pemberian MP¬ASI setelah dikontrol oleh variabel pengetahuan gizi ibu, jumlah balita dalam keluarga, berat tahir anak dart penyakit infeksi. Berdasarkan basil penelitian ini disimpulkan bahwa proporsi gizi baik makin menurun dan adanya beberapa faktor dominan yang berperan terhadap status gizi baik anak baduta di daerah miskin. Oleh karena itu maka saran lebih ditujukan pada usaha-usaha promosi gizi dan kesehatan terutama menyangkut faktor-faktor tersebut oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas.Untuk Puskesmas perlu dipikirkan berbagai cara pendekatan dalam rangka penjangkauan kelompok berisiko seperti bumil, ibu menyusui, WUS sehingga informasi mengenai gizi dan kesehatan akan dapat dengan mudah disebarkan dan diserap antara lain dengan menambah frekuensi penyuluhan terutama kelompok rawan gizi di daerah miskin.


Good nutrient status of under two years old children of poor families is a condition that among under two years old children living in an environment and low social economic condition there are under two years old children possessing good nutrient status (63.9%). In the situation with such economical pressure, they can adapt to survive and having good ability to grow and develop compared to other children. Factors related to the good nutrient status of this under two years old children are characteristic of mother ( nutrient knowledge, education, occupation), children's characteristic (born weight, age of first complementary food consumption), family's characteristic ( number of family member, situation of the house, number of children under five years old in the family, order of children, spending budget for food), food pattern (energy consumption, protein consumption, status of mother's milk consumption), history of infectious disease (respiratory tract infection, diarrhea), caring pattern (nutrition, health). The purposes of the research were to describe the nutrient status of under two years old children of the poor families in the local area of Sambas Public Health Centre and to determine factors related with good nutrient status of the under two years old children. The research used cross sectional design with totally 190 persons as sample and for completion of information, qualitative approach through Focus Group Discussion in the. group of mother possessing children with good nutrition status and with bad nutrition status was performed. The obtained data were analyzed using univariate, bivariate analysis with chi-square test and multivariate with regression logistic test using degree of significance p ?0,05. The research results showed that proportion of under two years children possessing good nutrient was 48.4%. Based on bivariate analysis, statistically there is significant correlation of nutrient knowledge of mother, mother education, mother occupation, children born weight, age of first complementary food consumption - mother' milk, number of family member, number of children under five years old in the family, status of mother's milk consumption, history of infectious disease, nutrient behavior and mother's health with the nutrient status of under two year old children (p<0,05). However, there is not significant correlation of house situation, order of children, energy consumption, protein consumption with the nutrient status of under two years old children (p>0,05). Multivariate analysis showed that the most dominant variable was age of first complementary food consumption-mother's milk) after controlled by variable of nutrient knowledge of mother, number of children under five years old in the family, children born weight and infectious disease. Based on the research's results, it is concluded that the proportion of good nutrient get lower and someof dominant factors contributing to good nutrient status of under two years children in poor area were observed. Therefore, the Public Health Service of the city of Sambas is suggested to carry out promotion of nutrition and health, approach ways to reach the risk groups such as pregnant women, breast feeding mother and women in productive age, so that information about nutrition and health is spread and absorbed easily by adding the frequency of illumination especially to the nutrition disturbed groups in the poor area.

Read More
T-2210
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Djasmidar A.T.; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Abas Basuni Jahari, Asih Setiarini, Tanti Herawati, Ramchan Raoef
Abstrak:

Salah satu upaya agar memperoleh sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas di masa datang dengan memperhatikan keadaan gizi balita umumnya dan anak usia 6-17 bulan khususnya. Kemiskinan erat hubungannya dengan keadaan gizi balita, karena keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar antara lain makanan. Umumnya anak yang hidup di dalam keluarga miskin menderita gangguan pertumbuhan dan kurang gizi, tetapi kenyataannya dalam keadaan sosial ekonomi miskin masih terdapat anak-anak dengan status gizi baik, sehingga timbul pertanyaan faktor-faktor apakah yang menyebabkan anak keluarga miskin mempunyai status gizi baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan pada keluarga miskin di Jakarta Utara, kabupaten Bogor dan kabupaten Lombok Barat. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang (cross sectional) dengan jumlah sampel yang diolah 479 orang anak dari 540 orang anak yang ada pada studi penyimpangan positif masalah KEP di Jakarta Utara, kabupaten Bogor dan kabupaten Lombok Timur. Hasil penelitian melaporkan proporsi gizi baik pada anak usia 6-17 bulan di Jakarta Utara 64,7%,kabupaten Bogor 63,1%, kabupten Lombok Timur 59,3% dan secara keseluruhannya 62,4%. Hasil uji chi-square menunjukkan ada hubungan yang bermakna (p<0,05) asupan energi dan asupan protein dengan status gizi baik anak usia 6-1.7 bulan di Jakarta Utara, ada hubungan yang bermakna pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan di kabupaten Bogor, ada hubungan yang bermakna pola asuh anak dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan di kabupaten Lombok Timur dan ada hubungan yang bermakna pengetahuan ibu tentang gizi dan keadaan rumah dengan status gizi basi anak usia 6-17 bulan pada total di tiga lokasi penelitian. Hasil analisis multivariat regresi logistik ganda juga menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan berhubungan dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan adalah asupan protein di Jakarta Utara, pengetahuan ibu tentang gizi di kabupaten Bogor, pola asuh anak di kabupaten Lombok Timur dan keadaan rumah pada total di tiga lokasi penelitian. Dan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa proporsi gizi baik masih rendah dan adanya variasi faktor dominan yang berhubungan dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan di daerah miskin. Untuk itu Dinas Kesehatan kabupaten/kota dalam perencanaan perbaikan status gizi anak usia 6-17 bulan di daerah miskin tidak disamakan di semua lokasi tetapi dibedakan dengan melihat faktor dominan dimasing-masing lokasi dan perlunya perbaikan lingkungan perumahan yang disertai dengan penyuluhan perilaku hidup sehat. Untuk Puskemas perlu meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi melalui program promosi gizi seimbang di masyarakat.


 

Factors Related to Good Nutritional Status of Children Age 6-17 Months Old Among Poor Families in Northern Jakarta, Bogor District, and Eastern Lombok District in 1999. (Secondary Data Analysis)Among others, concern on under five nutritional status in general and children age 6-17 months old in particular is one important effort to improve the quality of human resource in the future. Poverty is closely related to the nutritional status of under five due to limitation to fulfill basic needs including food In general, children live within poor families suffered from growth retardation and under nutrition. However, within the poor socioeconomic environment, children with good nutritional status still can be found. This raises questions on what factors contribute to good nutritional status among poor families. The aim of this study is to investigate factors related to good nutritional status of children age 6-17 months old among poor families in Northern Jakarta, Bogor district, and Eastern Lombok district in 1999. Design of this study is cross sectional with number of sample of analysis 479 out of 540 children who were included in the positive deviance study on protein energy malnutrition in Northern Jakarta, Bogor district, and Eastern Lombok district. The study shows the proportion of children age 6-17 months old with good nutritional status are 64.7% in Northern Jakarta, 63.1% Bogor district, 59.3% in Eastern Lombok and the overall proportion is 62A%. The chi square test exhibits. significant association (p<0.45) between energy and protein intakes with good nutritional status among children age 6-17 months old in Northern Jakarta, significant association between mother's nutrition knowledge with good nutritional status among children age 6-17 months old in Bogor district, significant association between child care practices and good nutritional status among children age 6-17 months old in Eastern Lombok district, and significant association between mother's nutrition knowledge and house condition with good nutritional status among children age 6-17 months old. Multiple logistic regression analysis shows that the most dominant factors for good nutritional status among children age 6-17 months old are protein intake in Northern Jakarta, mother's nutrition knowledge in Bogor district, child care practices in Eastern Lombok district, and house condition for overall places. The study result concludes that the proportion of good nutritional status is still low and there is variation of dominant factors related to good nutritional status among children age 6-17 months old in poor areas. District Health Service have to consider the variation of determinant by making the planning of improvement of nutritional status not similar to the other districts. The planning has to be based on the real situation and the determinants which have been identified as main caused of nutritional status in each districts. There is a need to improve mother's nutrition knowledge through promotion of balance of nutrition and through promotion of nutrition in Posyandu as well as innovation of affordable nutrition balance.

Read More
T-1488
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uki Basuki; Pembimbing: Diah M. Utari, Ahmad Syafiq
T-1746
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andry Harmany; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Sandra Fikawati
Abstrak:
Masa anak balita relatif pendek, tetapi sarat dengan proses pertumbuhan dan perkembangan, sehingga masa anak balita tersebut menempati posisi penting dalam siklus kehidupan manusia. Kemiskinan erat hubungannya dengan keadaan gizi balita, karena penduduk miskin memiliki akses yang relatif kecil terhadap kebutuhan pangan dan pelayanan kesehatan dasar, serta biasa hidup dalam lingkungan yang kurang sehat. Umumnya anak balita yang hidup di dalam keluarga miskin mengalami gangguan pertumbuhan dan kurang gizi, namun ternyata ada sebagian. anak balita dan keluarga miskin mempunyai kemampuan untuk bertahan sehingga mampu untuk tumbuh kembang dengan baik. Karena itu timbul pertanyaan, faktor-faktor apakah yang menyebabkan anak balita keluarga miskin dapat mempunyai status gizi baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk rnengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi baik anak balita di daerah miskin yaitu Kabupaten Gunung kidul dan Kabupaten Sukabumi. Penelitian ini menggunakan desain potog lintang (Cross Sectional) dengan 440 jumlah sampel yang diolah dari studi Penyimpangan Positif Status Gizi anak balita dan Faktor yang berperan di Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Sukabumi, suatu penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang Gizi Bogor bulan April - November 2000. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi gizi baik anak balita di Gunung Kidul 68,01 % dan di Sukabumi 67,43 %, hasil uji chi-square menunjukkan ada hubungan bermakna (p < 0,05) antara status gizi ibu (MT) dengan status gizi baik balita dan antara pendapatan keluarga dengan status gizi baik balita, serta tidak ada hubungan bermakna (P > 0,05) masing-masing antara karakteristik (umur ibu, pendidikan ibu, dan pengetahuan ibu), karakeristik keluarga (jumlah- anggota keluarga, dan keadaan rumah tinggal), konsumsi anak balita (energi dan protein), riwayat kesehatan anak, dan perilaku ibu (gizi dan kesehatan) dengan status gizi baik anak balita. Hasil analisis multivariat regresi logistik ganda menunjukkan bahwa faktor yang dominan berhubungan dengan status gizi baik anak balita adalah pendapatan keluarga, status gizi ibu (IMT), dan umur ibu. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa proporsi gizi baik masih rendah dan adanya beberapa faktor dominan yang berhubungan dengan status gizi baik anak balita di daerah miskin. Untuk itu dinas kesehatan kabupaten/kota dalam merencanakan strategi upaya perbaikan konsumsi dan status gizi pada golongan rawan, perlu dipertimbangkan faktor dominan setiap daerah, sehingga strategi program yang telah direncanakan dapat tepat diterapkan pada setiap daerah. Untuk puskesmas perlu lebih digalakan program pemantauan pertumbuhan anak balita dan penyuluhan tentang pentingnya kegunaan KMS untuk memonitor pertumbuhan anak balita melalui penemuan ibu-ibu.

Short period of 0 - 5 years old is full of growth and development processes. Thus, it is the most important stage on human life cycle. Malnutrition is strongly associated with the poverty because of limited access to fill the necessity of food and health service among the poor. Commonly, children under five, who live in poor family, have interference of their development. Nevertheless, some children, who live in economic pressure, can survive to grow and develop well. This phenomenon is called "positive deviance". Then the question appears " What factors operate among those well nourished children ? ". The purpose of this study is to find out about factors related to children under five's nutritional status in Gunung Kidul and Sukabumi. This study used cross sectional design of 440 children, who have been included, from 450 children as the sample of positive deviance study on children under five's nutritional status and associated factors which have a role in Gunung Kidul and Sukabumi. Nutrition Research and Development Center (Puslitbang) of Bogor did the study in April - November 2000. The result indicated that proportion of well nourished children under five in Gunung Kidul was 68,01% and 67,43% in. Sukabumi. The chi-.square's test result showed that there's significant association (pO,O5) between mother's characteristics (age, education, and nutrition knowledge), family's characteristic (family's number and the residence's condition), good consumption of children (energy and protein), child morbidity, and mother's attitude (nu lion and health), and child nutrition status. The result of double logistic regression raultivariate analysis showed that family's income, mother's nutritional status, and mother's age are dominant factors which are associated with the children under five's nutritional status. In summary, the result showed that the proportion of good nutritional status is still low and there are significant factors, which are related to the children under five's nutritional status in destitute area, in the manner of planning strategy to improve the consumption and nutrient status on high risk group, the district health office need to consider the plan which is appropriate with significant factors in each area. So, the program strategy can he applied appropriately. In addition, Health Center (Puskesmas) needs to strengthen the growth monitoring program of children under five and also the use of KMS as a tool to monitor child growth in every contact with mothers.
Read More
T-1642
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syaiful Bahri; Pembimbing: Siti Arifah Pujinarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Asih Setiarini, Eman Sumarna, Donatus Priyono
Abstrak:

Tuntutan dan kebutuhan pelayanan kesehatan yang bermutu terutama dalam penanggulangan gizi buruk merupakan tantangan yang harus dipersiapkan secara benar dan ditangani secara mendasar, terarah dan sungguh-sungguh mengingal banyaknya kasus gizi buruk dari tahun ke tahun. Hasil pernantauan status gizi diwilayah kerja dinas kesehatan Kabupaten Padang Pariaman tahun 2005 ditemukan kasus gizi buruk sebanyak 4,3%. Kasus gizi buruk memerlukan perawatan yang intensif balk dirumah tangga, puskesmas dan rumah sakit. Untuk memenuhi tuntutan pelayanan kesehatan maka yang harus dilakukan adalah melaksanakan penanggulangan gizi buruk dengan mengikuti pedoman yang dibuat dcpkes. Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran kinerja tenaga pelaksana gizi (TPG) puskesmas dalam penanggulangan gizi buruk dan faktor-faktor apa yang berhubungan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan yang digunakan adalah cross sectional, dengan sampel 23 orang yang merupakan total populasi yang dilaksanakan di kabupaten Padang Pariaman pada bulan Maret sampai April 200G. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian sendiri kuesioner oleh TPG, meliputi variabel independent yaitu umur, pendidikan, pengetahuan, lama kerja, pelatihan, motivasi, sarana, beban kerja, kepemimpinan dan supervisi. Variabel dependent yaitu kinerja TPG dalam penanggulangan gizi buruk yang diperoleh dari check list dan penelusuran dokumen. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat (chi-square). Untuk pengayaan informasi dilakukan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalarn terhadap beberapa orang informan. Hasil penelitian ini menunjukan proporsi kinerja TPG puskesmas yang baik 52,2% dan kinerja kurang 47,8%. Hasil uji bivariat menunjukan ada 7 variabel yang berhubungan secara statistik (p-value < 0,05) yaitu pendidikan, pengetahuan, pelatihan, motivasi, sarana, beban kerja dan kepemimpinan. Faktor -faktor Iainya yaitu umur, lama kerja dan supervisi tidak berhubungan dengan kinerja TPG puskesmas dalam penanggulangan gizi buruk. Berdasarkan basil penelitian ini disarankan bagi penentu kebijakan agar menempatkan TPG dari pendidikan profesi gizi dan untuk meningkatkan pengetahuan perlu diadakan pelatihan secara berkala. Untuk pimpinan puskesmas disarankan untuk dapat memotivasi TPG agar kinerjanya lebih baik, selain itu juga diperhatikan beban kerja yang diberikan sesuai dengan kemampuan petugas.


 

Demand and requirement of quality health service especially in handling a severe malnutrition is a challenge which must be prepared correctly and handled primarily, directional an seriously considering cases number of severe malnutrition each year. Monitoring result of nutrition status at working area of health service in district of Padang Pariaman in 2005 found 4,3% cases of severe malnutrition. Severe malnutrition cases need a good intensive care in household, public health center and hospital. To fulfill demand of health service so it is important to implement on handling severe malnutrition by following a guidance which arc made by health department of RI. Therefore goal of this research is to know describing of nutrition workers performance of public health centre handling severe malnutrition and related factors. Research used a cross sectional design with a quantitative approach. The number of samples is 23 respondent where they are a population total which are conducted in district of Padang Pariaman from March-April 2006. Data collected has been done with answering a questioner by nutrition workers, incIiuded independent variables, such as age education, knowledge, working duration, training, motivation, equipment, work loading, supervision and leadership. Dependent variables is nutrition workers performance of public health center in handling severe malnutrition which is obtained from check list and document research. Data analysis consist of univariate analysis and bivariate analysis (chi-square). For information enrichment, they had been done a qualitative approach by a deep interview to some informants. The result of this research showed nutrition workers at public health center with good performance is 52,2% and with less performance is 47,8%. Bivariate analysis showed there are 7 related variables significant statistically to nutrition workers performance at public health center in handling severe malnutrition (p-value < 0,05), that is education, knowledge, training, motivation, equipment, work loading, and leadership. The other factor such age, working duration and supervision are not related to nutrition workers performance. To suggested for policies makers in order to exercise non nutrition workers by periodical training to improve knowledge. For the leader of public health centre suggested to be able to motivate nutrition workers so their performance becomes better, besides it is important to give attention of work loading which is given according to officers ability.

Read More
T-2290
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imanuel Sitepu, Kusharisupeni, Diah M. Utari
MKP Vol.13, No.2
Jakarta : PPK Universitas Katolik Atma Jaya, 2006
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jonni Syah R. Purba; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Anwar Hasan, Yayuk Hartriyanti, Muryati Sihombing, Bambang Haryanto
Abstrak:
ABSTRAK Program gizi di Indonesia dilaksanakan oleh Departemen Keschatan Republik Indonesia bemxjuan menurunkan angka penyakit kurang gizi yang terdiri dari Gangguan Akibat Kekurangan lodium (GAKI), Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi (AGB) dan Kekgrangan Vitamin A (KVA). Upaya ini diharapkan dapat mcndukung akselerasi penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI). Petugas Gizi Puskcsmas sebagai salah sam tenaga terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat khususnya di bidang gizi harus mernpunyai upaya yang baik agar program gizi bisa berhasil, tetapi temyata di Kota Pontianak dan Kabupalen Pontianak pcncapaiannya masih rendah akibat proses pelaksanaan kcgiatan oleh Petugas Gizi Puskesmas masih mcnunjukkan kinerja rendah. Bcrkenaan dengan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dan mengetahui falctor-faktor yang diperkirakan mempunyai hubungan dengan kinexja Petugas Gizi Puskcsmae di Kota Pontianak dan Kabupaten Pontianak. Penelitian ini diiakukan d§ Puskesmas Kota Ponnanak dan Kabupaten Pontianak pada bulan Oktober sampai Nopember 2000. Sampel penelilian adalah seluruh petugas gizi utama yang benugas di`Puskesmas Kota Pontia|1ak dan Kabupaten Pontianak sebanyak 62 orang. J enis penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Analisis yang digunakan adaiah analisis univadat, bivariat dan multi variat : distribusi fre!-ruensi, chi-square dan rcgresi logistik. I-Iasil pcnclitian ini menunjukkan bahwa kinerja petugas gizi masih rendah. Dari analisa bivariat didapat faktor yang berhubungan dengan kinelja petugas gizi (p < 0,05) adalah motivasi, pcngetahuan, pendidikan, kcterpencilan, p¢mbinaan, rekan kezja dan kondisi kesja, sedangkan faktor yang tidak herhubungan dengan kinenja adalah umur, pengalaman, sosial budaya, keterjangkauan, pelatihan. Dari analisa multivariat, didapat bahwa variabel yang paling dominan berhubungan dengan kinerja petugas gizi adalah pendidikan dan sosial budaya. Dari hasil ini disarankan lerutama kepada Dinas Kesehatan Kota dan Kabupaten Pontianak serta Kanwil DepkcsfDinas Kesehatan Propinsi Kalimanlan Barat agar melakukan pcnempatan dan pengadaan tcnaga gizi sesuai dengan Iatar belakang pendidikan dan mcmbuat pcdoman yang jelas tentang tugas pdkok dan tugas khusus sesuai dengan permasalahan gizi di wilayah kenja puskesmas. Daliar Bacaan 43 (I974 _ 2000) PERPUST U 5 2 l AKA/EN PU IINKVERSEMS ,szfsomggg Egmbdiin/i'5§c§ah dar!

Abstract ABSTRACT Nutrition Program in Indonesia carried out by Indonesian Health Departement has the objective to decrease the morbidity rate of malnutrition which include Disturbances of lodium Deiiciency, Protein Deficiency, Anemia of Fen-um Deficiency, and Vitamin A deficiency. 'I`his effort is expected to support thc acceleration of The Infant Mortality Rate and The Mother Mortality Rate. The Nutritional oflicial of Public Health Clinic as the frontline staff practitioner/official in providing health services to public especially in the Held of nutrition must have good effort in sueceding the Nutrition Program. However, the achievement of the program in Pontianak City and Pontianak Distric has been low as the result ofthe poor perfomtance ofthe Nutrition Oflicial. Dealing with this matter, this research has thc objective to obtain and know the factors considered to have relation with the performance of Nutrition Ofiicial of Public Health Center in Pontianak City and Pontianak District This study was conducted at Health Cenue in Pontianak City and Pontianak Distric in October until November 2000. The sudy sample were 62 nutrition main staffs who worked at Health Centre in Pontianak City and Pontianak Distric. T`his study employed a cross sectional method. ~ The analysis techniques used were univariat, bivariat, multivariat analysis : iiequency distribution, ch-square, and logistic regression. This study reveals that the perfonnance ofthe nutrition staff is low. The bivariat analysis shows that factors that correlate with low performance of the nutrition staff (p < 0,05) were motivation, knowledge, education, remoteness, couclting, workmates end worltatmosphere, while factors that do not cotrelate with the performance are age, experience, social and cultural background, accessibility, and training. The multivariat analysis indicates that variables mostly correlating with thc perfonnance of the nutrition staffs are education background and social and cultural background. Based on the study, it is recommended that health departemcnt ofthe city and district as well as the provincial oflice ofthe health dcpartcment of West Kalimanlan province should recntit and assign nutrition stat? according to their education background and should estabilish explicit guidelines concerning the staB`s'major and minor duties based on the nutrition issues within the puskesmas service area. References 43 (1974-2000)
Read More
T-898
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Suraedi; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi
S-3964
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dipo Wicaksono; Pembimbing: Sandra Fikawati
S-6288
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive