Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 7819 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Bul. Pen. Sis. Kes. (Bulitsiskes), Vol.17, No.2, Apr. 2014 : hal. 107-114. ( ket. ada di bendel 2013 - 2014 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astri Syativa; Pembimbing: Suyud Wano Utomo, Agustin Kusumayati; Pemguji: Budi Hartono, Cucu Cakrawati Kosim
Abstrak:

ABSTRAK

Dua puluh tahun terakhir ini kondisi lingkungan dan kualitas air disepanjang Sungai Citarum semakin menurun. Akses penduduk di sekitar Citarumterhadap air bersih dan sarana sanitasi dasar pun masih rendah, dengan angkakesakitan diare yang tinggi. Integrated Citarum Water Resources ManagementInvestment Program (ICWRMIP) merupakan upaya yang dilakukan olehpemerintah untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada di DAS SungaiCitarum dan Saluran Tarum Barat. Kementerian Kesehatan berperan dalamICWRMIP Sub Komponen 2.3 yang bertujuan untuk meningkatkan penyediaanair bersih, sanitasi, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Penelitian inibertujuan untuk menganalisis pengaruh ICWRMIP Sub Komponen 2.3 terhadapakses air bersih, akses jamban sehat dan kejadian diare serta menganalisispengaruh akses air bersih dan jamban sehat terhadap kejadian diare. Penelitian inimenggunakan rancangan studi cross-sectional berulang. Data dikumpulkansebelum dan sesudah program, di lokasi program dan non program, dengan besarsampel 300 responden pada tiap kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwakegiatan ICWRMIP Sub Komponen 2.3 berpengaruh meningkatkan akses airbersih dan akses jamban sehat serta menurunkan kejadian diare. Semua variabelberhubungan dengan kejadian diare: akses air bersih (OR=1,74; 1,33-2,28), aksesjamban sehat (OR=2,48; 1,88-3,28), program (OR=7,17; 4,68-10,99), dan waktu(OR=5,10; 3,33-7,80). Disimpulkan bahwa rumah tangga di lokasi non programtanpa akses jamban sehat pada saat sebelum ada program berisiko 7,75 kali lebihbesar mengalami kejadian diare dibandingkan dengan rumah tangga di lokasiprogram yang akses jamban sehat setelah program.

ABSTRACT

The condition of the environment and water quality along the Citarum Riverhas declined in the last twenty years. Access people around Citarum to cleanwater and basic sanitation facilities is low, with high diarrhea morbidity. IntegratedCitarum Water Resources Management Investment Program (ICWRMIP) is an effort bythe government to solve the problems that exist in Citarum and West TarumCanal. Ministry of Health is involve on Sub Component 2.3, that aims to improvewater supply, sanitation, and improving public health. This study aims to analyzethe effects of ICWRMIP Sub Component 2.3 to clean water access, healthy latrineaccess and diarrhea, and also to analyze the effect of access to clean water andhealthy latrines on the incidence of diarrhea. This study uses repeated crosssectionalstudy design. Data were collected before and after the program, on-siteprogram and non-program, with sample size 300 respondents in each group. Theresults showed that ICWRMIP Sub Component 2.3 affects to improve clean waterand healthy latrines access, and also reduce the incidence of diarrhea. Allvariables associated with the incidence of diarrhea: clean water access (OR=1,74;1,33-2,28), healthy latrines access (OR=2,48; 1,88-3,28), program (OR=7,17;4,68-10,99), and time (OR=5,10; 3,33-7,80). Concluded that households in nonprogramlocations without access to healthy latrines at the time before program7.75 times greater risk of experiencing diarrhea compared with on-site householdlatrine access program healthy after the program.

Read More
T-3983
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marceline Ferto Tanaya; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Al Asyary, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara proporsi rumah sehat, akses air minum layak, dan penggunaan jamban sehat dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Sukadiri, Pakuhaji, dan Sukawali pada tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis desa/kelurahan. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dan masing-masing puskesmas. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman sesuai dengan hasil uji normalitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang lemah dan berarah positif antara proporsi rumah sehat dengan kejadian diare (ρ = 0,387; p = 0,075), serta hubungan yang lemah dan berarah negatif antara akses air minum layak (r = -0,276; p = 0,214) dan penggunaan jamban sehat (ρ = -0,334; p = 0,128) dengan kejadian diare. Ketiga hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun arah hubungan sebagian besar sejalan dengan teori, hubungan antara indikator lingkungan dan kejadian diare belum dapat dibuktikan secara signifikan di wilayah penelitian ini.


Diarrhea remains a significant public health issue in Indonesia, including in Tangerang Regency. This study aims to analyze the relationship between the proportion of healthy homes, access to safe drinking water, and the use of proper sanitation facilities with the incidence of diarrhea in the working areas of Sukadiri, Pakuhaji, and Sukawali Community Health Centers in 2023. This study employed an ecological study design with the unit of analysis being villages/sub-districts. The data used were secondary data obtained from the Tangerang District Health Office and respective health centers. Bivariate analysis was conducted using Pearson and Spearman correlation tests, based on the results of the normality test. The findings show a weak positive correlation between the proportion of healthy homes and the incidence of diarrhea (r = 0.387; p = 0.075), a weak negative correlation between access to safe drinking water (r = -0.276; p = 0.214), and a weak negative correlation between the use of proper sanitation facilities (r = -0.334; p = 0.128) with the incidence of diarrhea. All three correlations were found to be statistically insignificant. Although the direction of the relationship aligns with theoretical expectations, the relationship between environmental health indicators and the incidence of diarrhea could not be statistically confirmed in the study area.
Read More
S-12056
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Percik, edisi II, 2010, hal. 22-26
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edgina Dhafia Callista; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Budi Haryanto, Ikha Purwandari
Abstrak:
Hingga tahun 2024, prevalensi stunting di Indonesia masih berada di angka 19,8% dan belum mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, yakni 14%. Distribusi stunting dan faktor risikonya terbukti tidak terjadi secara acak, melainkan membentuk pola kewilayahan. Sementara itu, penelitian menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) terkait faktor lingkungan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan (akses sumber air minum dan sanitasi) terhadap stunting di Indonesia pada tahun 2024 dengan mengontrol faktor Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), tingkat pendidikan ibu, dan kepemilikan jaminan kesehatan. Penelitian dilakukan dengan desain cross-sectional menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024. Sampel dalam penelitian ini adalah 273.281 balita usia 0–59 bulan di Indonesia. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat, bivariat (uji chi-square), multivariat (regresi logistik ganda), serta visualisasi spasial dengan pendekatan SIG. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 21,2% dengan sebaran yang tidak merata antarprovinsi. Analisis spasial menunjukkan wilayah Indonesia bagian timur memiliki kombinasi prevalensi stunting tinggi dengan akses sumber air minum dan sanitasi tidak layak yang tinggi, sedangkan wilayah bagian barat cenderung memiliki kondisi yang lebih rendah. Hasil analisis multivariat membuktikan kedua faktor lingkungan tetap berhubungan signifikan setelah dikontrol faktor perancu, dengan akses sanitasi tidak layak (aPOR=1,292; 95% CI: 1,258–1,327) dan akses sumber air minum tidak layak (aPOR=1,287; 95% CI: 1,245–1,330). Dengan demikian, ketidaklayakan faktor lingkungan secara independen meningkatkan risiko stunting dan membentuk pola kewilayahan, sehingga diperlukan intervensi multisektoral berbasis wilayah untuk menekan prevalensi stunting di Indonesia.

As of 2024, the prevalence of stunting in Indonesia remains at 19.8% and has not yet reached the target set in the 2020–2024 National Medium-Term Development Plan, which is 14%. The distribution of stunting and its risk factors has been shown not to occur randomly, but rather to form regional patterns. Meanwhile, research using a Geographic Information System (GIS) approach regarding environmental factors remains limited. This study aims to determine the relationship between environmental factors (access to drinking water and sanitation) and stunting in Indonesia in 2024 by controlling for Low Birth Weight (LBW), maternal education level, and health insurance ownership. The study used a cross-sectional design using data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey. The sample in this study consisted of 273,281 children aged 0–59 months in Indonesia. Data analysis was performed using univariate analysis, bivariate (chi-square test), multivariate (multiple logistic regression), and spatial visualization using a GIS approach. The results showed a stunting prevalence of 21.2%, with uneven distribution across provinces. Spatial analysis showed that eastern Indonesia has a high prevalence of stunting combined with high rates of inadequate access to drinking water and sanitation, while western regions tend to have lower rates. Multivariate analysis results confirm that both environmental factors remain significantly associated after controlling for confounding factors, specifically inadequate sanitation access (aPOR=1.292; 95% CI: 1.258–1.327) and inadequate access to drinking water sources (aPOR=1.287; 95% CI: 1.245–1.330). Thus, inadequate environmental factors independently increase the risk of stunting and form regional patterns, necessitating region-based multisectoral interventions to reduce the prevalence of stunting in Indonesia.
Read More
S-12240
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salmaa Afkari; Pembimbuing: R. Sutiawan; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Ely Setyawati
Abstrak:
Periode balita adalah fase rentan terhadap risiko kesehatan yang dapat menghambat pertumbuhan anak serta menyebabkan kematian. Diare menjadi perhatian utama dalam kesehatan balita karena menjadi penyebab utama kematian dan penyakit pada kelompok usia tersebut, terutama di negara-negara berkembang. Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dan 2017, prevalensi diare pada balita di Indonesia cenderung stagnan, hanya mengalami sedikit penurunan dari 14,3% pada tahun 2012 menjadi 14,1% pada tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh antara sumber air minum dan sanitasi rumah tangga terhadap kejadian diare pada balita di Indonesia dengan menggunakan analisis propensity score matching berdasarkan data SDKI 2017. Penelitian bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain studi observasional. Populasi penelitian ini yaitu seluruh anak di bawah usia lima tahun (0 - 59 bulan) yang tercatat dalam data SDKI 2017. Hasil analisis propensity score matching menemukan bahwa efek rata-rata dari layanan air minum yang tidak layak menunjukan hasil yang tidak signifikan terhadap peningkatan kejadian diare pada balita berdasarkan nilai statistic t yang dihasilkan dengan nilai efek peningkatan risiko sebesar 2,0%. Sementara itu, efek rata-rata dari layanan sanitasi yang tidak layak memenuhi nilai asumsi yang signifikan berdasarkan nilai t yang dihasilkan terhadap peningkatan kejadian diare pada balita dengan nilai efek peningkatan risiko sebesar 3,8%. Perbandingan hasil analisis propensity score matching dan analisis regresi logistik biner menunjukkan sedikit perbedaan pada nilai odds ratio yang dihasilkan, namun tidak terlihat signifikan. Temuan ini menunjukan masih diperlukan penanganan terhadap kejadian diare pada balita. Diperlukan upaya dalam penerapan program edukasi yang berfokus pada pencegahan diare untuk mengurangi kejadian diare pada balita terkait sanitasi jamban. Selain itu, diperlukan pengembangan infrastruktur dan peningkatan ketersediaan fasilitas sumber air minum dan sanitasi agar akses fasilitas dapat tercapai merata di seluruh wilayah Indonesia.

The under-five period is a phase vulnerable to health risks that can stunt a child's growth and cause death. Diarrhea is a major concern in the health of children under five as it is the leading cause of death and illness in this age group, especially in developing countries. Based on data from the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in 2012 and 2017, the prevalence of diarrhea in children under five in Indonesia tends to stagnate, only experiencing a slight decrease from 14.3% in 2012 to 14.1% in 2017. This study aims to examine the effect of drinking water sources and household sanitation on the incidence of diarrhea in children under five years old in Indonesia using propensity score matching analysis based on the 2017 IDHS data. The research was quantitative in nature using an observational study design. The population of this study was all children under the age of five (0 - 59 months) recorded in the 2017 IDHS data. The results of the propensity score matching analysis found that the average effect of unimproved drinking water services showed insignificant results on increasing the incidence of diarrhea in children under five years of age based on the t-statistic value generated with an increased risk effect value of 2.0%. Meanwhile, the average effect of unimproved sanitation services meets the significant assumption value based on the resulting t value on the increase in the incidence of diarrhea in children under five with an increased risk effect value of 3.8%. Comparison of the results of propensity score matching analysis and binary logistic regression analysis showed a slight difference in the resulting odds ratio values, but did not appear significant. These findings indicate the handling of the incidence of diarrhea in toddlers. Efforts are needed to implement educational programs that focus on diarrhea prevention to reduce the incidence of diarrhea in children under five years of age related to latrine sanitation. In addition, it is necessary to develop infrastructure and increase the availability of water supply and sanitation facilities so that access to facilities can be achieved evenly throughout Indonesia.
Read More
S-11517
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arina Qonita; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Bambang Wispriyono, Debbie Valonda S.
Abstrak:
Diare masih menjadi masalah kesehatan dengan tren cenderung meningkat di Provinsi DKI Jakarta dalam kurun 5 tahun terakhir. Kejadian diare di wilayah Provinsi DKI Jakarta perlu mendapat perhatian karena dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor risiko, salah satunya adalah kualitas air yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan kualitas air minum pada tingkat rumah tangga dan pengaruhnya terhadap kejadian diare di Provinsi DKI Jakarta dengan turut melihat faktor kondisi sarana air minum, faktor sanitasi, faktor perilaku, dan juga faktor sosiodemografi. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan data sekunder yang berasal dari Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2025. Kualitas air minum rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta sebagian besar belum memenuhi syarat (86,8%). Sebagian besar kualitas air minum rumah tangga ditinjau dari parameter mikrobiologi (57,6%) dan juga fisik (57,2%) di Provinsi DKI Jakarta belum memenuhi syarat sesuai dengan baku mutu yang berlaku. Mayoritas rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta memiliki sumber air minum yang layak (97,9%), lokasi yang aman (98,7%), wadah penyimpanan tertutup (74,6%), tidak mengetahui jarak penampungan tinja dengan sumber air minum (53,0%), tidak melakukan pengolahan air sebelum diminum (56,4%), memiliki tingkat pendidikan menengah dan tinggi (91,0%), bekerja (95,0%), dan juga berusia produktif (96,9%). Hasil analisis diperoleh bahwa tidak terdapat variabel yang berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian diare (p > 0,05). Namun, faktor yang paling dominan adalah sumber air minum sebagai faktor yang turut berperan secara signifikan. Berdasarkan hasil tersebut mengindikasikan perlunya upaya pencegahan diare melalui pemantauan kualitas air minum rumah tangga secara berkala, edukasi pengolahan dan penyimpanan air minum, serta penguatan perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga.

Diarrhea continues to pose a significant public health challenge with an increasing trend in DKI Jakarta Province over the last five years. The incidence of diarrhea in DKI Jakarta Province requires attention, as it may be influenced by various risk factors, one of which is household drinking water quality. This research sought to investigate the association between household drinking water quality and diarrhea incidence in DKI Jakarta Province by also considering factors related to drinking water facilities, sanitation, behavior, and sociodemographic characteristics. Utilizing a cross-sectional design approach, the research analyzed secondary data derived from the 2025 Household Drinking Water Quality Surveillance conducted by the DKI Jakarta Provincial Health Office. The results showed that of household drinking water failed to meet the quality standards (86,8%), particularly in the microbiological (57.6%) and physical (57.2%) parameters. Even though most households had improved water sources (97.9%), safe locations (98.7%), and closed storage containers (74.6%), many respondents were unaware of the distance to the septic tank (53.0%) and did not treat their water before consumption (56.4%). Furthermore, the majority of respondents had secondary or higher education (91.0%), were employed (95.0%), and belonged to the productive age group (96.9%). The findings indicated that no factors were statistically significantly associated with diarrhea incidence (p > 0.05). However, water source was the most dominant factor that played a significant role. These results indicate the need for diarrhea prevention efforts through regular monitoring of household drinking water quality, education on drinking water treatment and storage, and strengthening clean and healthy living behaviors at the domestic level.
Read More
S-12244
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Regina Fatikha Yonashita; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Budi Hartono, Dharma Ningsih Dwi Putri
Abstrak:
Diare dapat didefinisikan sebagai peningkatan frekuensi buang air besar dari suatu individu yang biasanya disertai dengan konsistensi feses yang cair. Diare tergolong dalam 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Puskesmas di Kota Depok. Pada tahun 2024, tercatat dua kasus kematian akibat diare di Kota Depok, dan satu di antaranya terjadi di Kecamatan Bojongsari. Tren penggunaan air minum isi ulang yang diproduksi oleh Depot Air Minum semakin meningkat. Dalam praktiknya, kualitas air minum isi ulang sangat bergantung pada aspek kelayakan dan higiene dan sanitasi dari penjamah/operator DAM, tempat, dan proses karena apabila tidak diterapkan dengan baik dapat menyebabkan air isi ulang tercemar sehingga menyebabkan penyakit, salah satunya adalah diare. Di sisi lain, risiko diare tidak hanya ditentukan oleh kondisi DAM sebagai sumber air minum, tetapi juga perilaku konsumen dalam menangani air yang sudah diperoleh, contohnya adalah perilaku mecuci tangan, cara penyimpanan air, pendistribusian, dan frekuensi konsumsi. Desain studi yang digunakan adalah studi potong lintang. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara dan observasi kelayakan DAM. Analisis data dari 96 responden dengan menggunakan uji Chi-Square, Fisher's Exact Test, dan Mann-Whitney. Kejadian diare yang digambarkan melalui gejala yang dialami oleh konsumen menunjukkan 10,4% responden mengalami gejala diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara waktu tempuh ke Depot Air Minum, perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS), dan jumlah konsumsi air minum isi ulang per hari dengan kejadian diare pada konsumen (p > 0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku konsumen yang diteliti belum terbukti secara statistik berhubungan dengan kejadian diare pada konsumen DAM di Kecamatan Bojongsari. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan cakupan variabel yang lebih luas, termasuk faktor kualitas air dan kondisi sanitasi lingkungan rumah tangga, untuk mengidentifikasi determinan kejadian diare pada populasi pengguna Depot Air Minum.

Diarrhea can be defined as an increase in the frequency of bowel movements in an individual, usually accompanied by loose stools. Diarrhea is among the 10 most common diseases among outpatients at community health centers in Depok City. In 2024, two deaths due to diarrhea were recorded in Depok City, one of which occurred in Bojongsari District. The trend of using refilled drinking water produced by drinking water depots is increasing. In practice, the quality of refilled drinking water is highly dependent on the suitability, hygiene, and sanitation aspects of the water depot handlers/operators, the location, and the process. If not implemented properly, it can lead to water contamination, which can cause diseases, one of which is diarrhea. On the other hand, the risk of diarrhea is not only determined by the condition of the water depot as a drinking water source, but also consumer behavior in handling the water that has been obtained, for example, handwashing behavior, water storage methods, distribution, and frequency of consumption. The study design used was a cross-sectional study. Data collection was carried out using interviews and observations of the feasibility of the water depot. Data analysis of 96 respondents using the Chi-Square, Fisher's Exact Test, and Mann-Whitney test. Diarrhea symptoms, as described by consumers, showed that 10.4% of respondents experienced diarrhea. The results showed no significant relationship between travel time to the Drinking Water Depot, handwashing with soap (CTPS) behavior, and the number of refilled drinking water consumed per day and diarrhea incidence among consumers (p > 0.05). This study concluded that the consumer behaviors studied were not statistically proven to be associated with diarrhea incidence among DAM consumers in Bojongsari District. Further research is needed with a broader range of variables, including water quality factors and household environmental sanitation conditions, to identify the determinants of diarrhea incidence among the Drinking Water Depot user population.
Read More
S-12260
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive