Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33533 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Bul. Pen. Sis. Kes. (Bulitsiskes), Vol.17, No.3, Juli, 2014 : hal. 233-239. ( ket. ada di bendel 2013 - 2014 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laurentia Mihardja, Delima, Alwi Qomariah, Lannywati Ghani, Olwin Nainggolan dan Raflizar
BPSK Vol.17, No.3
Surabaya : Balitbangkes Kemenkes RI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fathimah; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Yvonne Magdalena Indrawani, Kresnawan, Dewi Friska
T-3430
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nicolaski Lumbun; Promotor: Nasrin Kodim; Ko-Promotor: Bambang Sutrisna, S. Soegianto, R. Rondang; Penguji: Sudijanto Kamso, Sutarmo Setiadji, Nafrialdi; Ratu Ayu Dewi Sartika
D-278
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggie Hardiyanti; Pembimbing: Helda; Penguji: Trisari Anggondowati, Sulistyo, Budi Setiawan
Abstrak:
Loss to follow up (LTFU) menjadi kontributor utama ketidakberhasilan pengobatan tuberkulosis sensitif obat (TB SO) di Provinsi DKI Jakarta, dengan proporsi 14,2–14,4% pada periode 2023–2025, jauh di atas rata-rata nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu kejadian LTFU, mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan, dan membangun model prediksi risiko LTFU pada pasien TB SO di DKI Jakarta. Desain yang digunakan adalah kohort retrospektif berbasis data sekunder Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta periode 1 Januari 2023–31 Desember 2025. Sampel akhir terdiri dari 110.493 pasien. Analisis waktu kejadian dilakukan menggunakan metode Kaplan-Meier, regresi Cox Proportional Hazards, dan Extended Cox Regression. Dari total sampel, 18.928 pasien (17,13%) mengalami LTFU, dengan median waktu kejadian LTFU pada hari ke-64 (IQR: 30–113). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang secara signifikan meningkatkan risiko LTFU adalah jenis kelamin laki-laki (aHR=1,403; 95%CI=1,359–1,449), riwayat pengobatan TB sebelumnya (aHR=1,301; 95%CI=1,232–1,374), status diabetes melitus (aHR=1,232; 95%CI=1,170–1,297), diagnosis klinis (aHR=1,093; 95%CI=1,058–1,128), regimen tidak sesuai standar (aHR=1,151; 95%CI=1,070–1,239), dan usia ≥45 tahun (aHR=1,056; 95%CI=1,024–1,088). Sebaliknya, status bekerja (aHR=0,833), pelajar (aHR=0,712), dan rujukan dari fasilitas lain (aHR=0,905) bersifat protektif. Pengobatan di puskesmas menunjukkan risiko LTFU lebih rendah dibandingkan rumah sakit pada 120 hari pertama (aHR=0,316). Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa LTFU dipengaruhi oleh interaksi faktor sosiodemografi, klinis, dan layanan kesehatan. Periode 64–120 hari pertama merupakan waktu kritis yang memerlukan penguatan pemantauan dan intervensi berbasis risiko.

Loss to follow up (LTFU) remains the primary contributor to treatment failure in drug-susceptible tuberculosis (DS-TB) in DKI Jakarta, with a proportion of 14.2–14.4% during 2023–2025, substantially exceeding the national average. This study aimed to analyze the time-to-event of LTFU, identify associated risk factors, and develop an LTFU risk prediction model among DS-TB patients in DKI Jakarta. A retrospective cohort design was employed using secondary data from the Tuberculosis Information System (SITB) of the DKI Jakarta Provincial Health Office, covering January 1, 2023 to December 31, 2025. The final sample consisted of 110,493 patients. Time-to-event analyses were conducted using the Kaplan-Meier method, Cox Proportional Hazards regression, and Extended Cox Regression. Of the total sample, 18,928 patients (17.13%) experienced LTFU, with a median time-to-LTFU of day 64 (IQR: 30–113). Multivariate analysis identified the following significant predictors of LTFU: male sex (aHR=1.403; 95%CI=1.359–1.449), prior TB treatment history (aHR=1.301; 95%CI=1.232–1.374), diabetes mellitus comorbidity (aHR=1.232; 95%CI=1.170–1.297), clinical diagnosis (aHR=1.093; 95%CI=1.058–1.128), non-standard treatment regimen (aHR=1.151; 95%CI=1.070–1.239), and age ≥45 years (aHR=1.056; 95%CI=1.024–1.088). Conversely, employment (aHR=0.833), student status (aHR=0.712), and referral from another facility (aHR=0.905) were protective factors. Patients treated at primary health centers (puskesmas) had significantly lower LTFU risk compared to hospitals during the first 120 days (aHR=0.316). These findings confirm that LTFU is determined by the interaction of sociodemographic, clinical, and healthcare service factors. The first 64–120 days of treatment represent a critical window requiring intensified monitoring and risk-stratified intervention.
Read More
T-7669
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Medika, Vol. XXXI, Juli 2005, hal. 438-442
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ekowati Rahajeng; Pembimbing: Bambang Sutrisno, Sarwono Waspadji, Ratna Djuwita
D-97
Depok : FKM UI, 2004
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indarti Widyaningsih; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Artha Prabawa, Santayana Daulay
S-10304
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aulia Habibi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Sudarto Ronoatmodjo, Arum Ambarsari, Hidayat Nuh Ghazali Djajuli
Abstrak:
Latar Belakang: Loss to follow up (LTFU) pada orang dengan HIV (ODHIV) yang menjalani terapi antiretroviral (ARV) masih menjadi tantangan dalam meningkatkan retensi pengobatan dan pencapaian target Triple 95 UNAIDS. Di Provinsi DKI Jakarta, cakupan inisiasi ARV telah mencapai 84,8%, namun Kecamatan Cengkareng mengalami peningkatan kasus LTFU dari 236 kasus pada tahun 2023 menjadi 309 kasus pada tahun 2025. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian loss to follow up (LTFU) pada orang dengan HIV (ODHIV) yang menjalani terapi antiretroviral (ARV) di Puskesmas Cengkareng Jakarta Barat Tahun 2024–2025. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa rekapitulasi data pasien HIV dari Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) 2.1 periode tahun 2024–2025. Sampel penelitian berjumlah 149 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi Cox Hasil: Proporsi ODHIV yang mengalami LTFU sebesar 16,1%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin (p=0,001), status perkawinan (p=0,027), dan kelompok populasi (p=0,019) berhubungan dengan kejadian LTFU. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian LTFU (PR=0,263; 95% CI: 0,118–0,585; p=0,001). Kesimpulan: Jenis kelamin merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian LTFU pada ODHIV yang menjalani terapi ARV. Penguatan strategi retensi layanan, khususnya pada pasien laki-laki, perlu dilakukan untuk meningkatkan keberlangsungan terapi ARV dan mendukung pencapaian target Triple 95 UNAIDS.

Background: Loss to follow-up (LTFU) among people living with HIV (PLHIV) receiving antiretroviral therapy (ART) remains a challenge to treatment retention and achieving the UNAIDS Triple 95 targets. In Jakarta Province, ART initiation coverage reached 84.8%; however, LTFU cases in Cengkareng Subdistrict increased from 236 in 2023 to 309 in 2025. Objective: To analyze factors associated with loss to follow-up (LTFU) among people living with HIV (PLHIV) receiving antiretroviral therapy (ART) at Cengkareng Primary Health Center, West Jakarta, during 2024–2025. Methods: This quantitative study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. Secondary data were obtained from the HIV/AIDS Information System (SIHA) 2.1 database for the 2024–2025 period. A total of 149 respondents were included using a total sampling technique. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the Chi-square test, and multivariate analysis using Cox regression. Results: The proportion of PLHIV experiencing LTFU was 16.1%. Bivariate analysis showed that sex (p=0.001), marital status (p=0.027), and population group (p=0.019) were significantly associated with LTFU. Multivariate analysis demonstrated that sex was the most dominant factor associated with LTFU (PR=0.263; 95% CI: 0.118–0.585; p=0.001). Conclusion: Sex was the most dominant factor associated with LTFU among PLHIV receiving ART. Strengthening retention strategies, particularly for male patients, is essential to improve continuity of ART and support the achievement of the UNAIDS Triple 95 targets.
Read More
T-7684
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dora Herdiana; Pembimbing: Nurhayati Prihartono; Penguji: Ratna Djuwita, Heidy Agustin, Sulistyo
Abstrak: Tingginya angka putus berobat merupakan masalah serius dalampengobatan TB karena memunculkan resistensi obat, meningkatkan kekambuhan,gagal pengobatan,dan berpotensi penularan yang menyebabkan peningkatanbeban dan transmisi TB. Sistem skoring faktor risiko untuk memprediksikesintasan putus berobat pada penderita TB belum banyak diteliti. Studi inibertujuan untuk mengetahui sistem skoring faktor prediktor kesintasan putusberobat penderita TB paru.Studi dilakukan pada April-Mei 2015 di poli DOTS RSUP Persahabatan,menggunakan desain cohort retrospective yang bersumber dari form TB 01 danrekam medis. Sampel sebanyak 370 dengan penderita putus berobat sebagai event,70 orang, penderita sembuh dan pengobatan lengkap sebagai sensor, 300 orang.Probabilitas kumulatif kesintasan putus berobat penderita TB adalah 81%. Hasilanalisis multivariat menemukan prediktor jenis kelamin, diagnosis TB, dan ambilobat sesuai jadwal yang berinteraksi dengan waktu mempunyai nilai p 0,043,0,008, 0,0001 berturut-turut, berisiko terhadap kesintasan putus berobat denganHR 1,7 (95%CI:1,02-2,99), 1,9 (95%CI:1,18-3,05) dan 32,7 (95%CI:14,78-72,18).Variabel mengambil obat sesuai jadwal semakin meningkat HR nya seiringmeningkatnya waktu pengamatan. Hasil skoring model akhir mampu memprediksikesintasan kejadian putus berobat penderita TB paru sebesar 92%, dan nilai cut-off untuk skor model skoring ≥21.Perlu meningkatkan KIE pada penderita secara efektif khususnyapenderita yang laki-laki, diagnosis TB BTA negatif dan mengambil obat tidaksesuai jadwal, meningkatkan jejaring internal maupun eksternal rumah sakit,untuk mengendalikan angka putus berobat TB.Kata Kunci: tuberculosis, putus berobat, kesintasan, skoring
Treatment default is a serious problem in tuberculosis control because itimplies resistance, increased relaps, failure, persistence of infectious source andfurther increased burden and transmission tuberculosis. Scoring system of defaultrisk factors to predict survival patients have been not studied yet, particularly inIndonesia. The aim of this study to determine the predictors scouring system ofsurvival defaulting treatment for tuberculosis patients.This retrospective cohort study was conducted from April to Mei 2013 atpoli DOTS RSUP Persahabatan. were identified from TB 01 forms and medicalrecords. Patients defaulting from treatment were considered as event and thosecure and completing treatment as censors. 370 tuberculosis patients wereincluded, 70 events and 300 censors. Overall patients survival rate was 81%.Survival defaulting associated significanly to sex, smear diagnosis and taking drugaccording to guideline with p value are 0,043, 0,008, 0,0001 respectively, found tobe risk factors for survival defaulting HR 1,7 (95%CI:1,02-2,99), HR 1,9;(95%CI:1,18-3.05), dan HR 32,7 (95%CI:14,78-72,18) respectively. IncreasingHR of taking drug according to guideline followed with increased alteration oftime observation. Scoring results are obtained predicting survival patientsdefaulting by 92%, and a cut-off point for the scoring model is ≥21.Communication, information and education must be increased das well asincreased internal and external hospital linkage to decrease default outcome.Keywords: tuberculosis, default, survival, scouring
Read More
T4472
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive