Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37206 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Admadi Soeroso; Pembimbing: Purnawan Junadi
B-285
Depok : FKM UI, 1995
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irmawati Ummi Masitha; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Mieke Savitri, Syaifuddin Zuhri
S-6134
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Benedicta Dwi Ariyanti; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Vetty Yulainty Permanasari, Kemala Sari
Abstrak: Rumah sakit memiliki fungsi utama yaitu menyelenggarakan kesehatan yangparipurna melalui usaha promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Pelayananfarmasi merupakan kegiatan bagian yang tak terpisahkan dari sistem pelayanankesehatan pelayanan kesehatan yang berorientasi kepada pelayanan pasien danpenyediaan obat yang bermutu. Pada data pemakaian obat pada tahun 2011didapat total investasi RS untuk pembelian obat antibiotik sebesar Rp.1.866.502.206 dan terjadi kekosongan pada persediaan obat sehingga pemberianobat kepada pasien tidak tepat jumlah. Penelitian ini menggunakan analisis ABCuntuk mengetahui pengelompokan obat berdasarkan katagori A, B dan C sertaperhitungan EOQ dan ROP. Pengumpulan data dilakukan dengan telaahdokumen, kuesioner dan wawancara mendalam kepada informan. Hasil penelitianini menunjukkan obat kelompok A terdiri dari 11 item obat dengan persentase sebesar 4,25 % dari total obat dengan nilai investasi Rp. 876.329.723. Padakelompok B terdiri 96 item obat dengan persentase 37, 07 % dari total obatdengan nilai investasi Rp. 785.005.348. Sedangkan sisanya, 152 item obat dengan persentase 58, 68 % dari total obat dengan nilai investasi Rp. 205.166.955merupakan kelompok C. Sedangkan perhitungan ekonomis pada kelompok Adidapat bervariasi antara 3 hingga 67 unit untuk sekali pesan. Sedangkan ROP untuk obat kelompok A indeks kritis didapat titik pesan kembali untuk obatantibiotik bervariasi dari 9 hingga 126 unit. Untuk mengantisipasi terjadinyakekurangan obat (stock out), maka ROP dapat dikombinasikan dengan safetystock. Dari hasil penelitian, rumah sakit melakukan analisis ABC untuk mengetahui kelompok obat sehingga dapat dilakukan pengawasan yang ketat.

Kata kunci : Analisis ABC, Pengendalian Obat, Farmasi
The hospital has a main function that is held through a joint plenary healthpromotive, preventive, curative and rehabilitative. Pharmacy services are anintegral part of the activities of the health care system-oriented health services andthe provision of patient care quality medicines. On drug consumption in 2011obtained a total investment of RS to purchase antibiotics Rp. 1,866,502,206 and avacancy occurs on the drug supply so that application of the drug is notappropriate number. This study uses ABC analysis to determine the classificationof drugs based on category A, B and C as well as the calculation of EOQ andROP. Results was collected through document review, questionnaires andinterview the informant. The results of this study showed the drug group Aconsisted of 11 items with a percentage of the drug is 4.25% of the total drugswith an investment of Rp. 876.329.723. In group B, comprised 96 items with apercentage of 37,07% of the total drugs with an investment of Rp. 785.005.348. Ingroup C have 152 items with a percentage of the drug 58,68% of the total drugwith an investment of Rp. 205.166.955. While the economic calculations in groupA gained varies between 3 and 67 units for a single message. While the ROP forthe drug group A critical indices obtained reorder point for antibiotics varies from9 to 126 units. To anticipate stock out, then the ROP can be combined with thesafety stock. From the research, hospitals ABC analysis to determine the drug so itcan be done surveillance.

Key : ABC analysis, inventory control, farmacy
Read More
S-7667
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wisnu Kresno Birowo; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Peter Pattinama, Hafizurrachman, Rahmi Rahim
Abstrak: Dalam pembangunan nasional secara menyeluruh, kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.Kesehatan memainkan peranan penting dalam meningkatkan kualitas hidup, Kecerdasan dan produktifitas sumber daya manusia. Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan, pada era globalisasi, RS pemerintah sedang bergerak dari lembaga birokrasi ke lembaga usaha. Logistik farmasi merupakan salah satu komponen utama dalam menilai mutu pelayanan Rumah Sakit dan ABC indeks kritis merupakan salah satu cara untuk melakukan pengendalian dan pengontrolan pada manajemen farmasi, yang merupakan salah satu dari pendapatan rumah sakit yang terbesar.Sampai saat ini, pengadaan dn pengendalian persediaan farmasi di RS Duren Sawit, menggunakan metoda dengan menggunakan sistem target pasien yang ditentukan oleh dokter dan sering terjadi kekurangan dan kelebihan stok farmasi. Untuk mengatasi hal ini, dan banyaknya jenis persediaan, di sarankan menggunakan analisis ABC indeks kritis untuk pengelompokannya. Pada analisis ABC Indeks Kritis, persediaan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok A dengan investasi dan pemakaian tinggi, kelompok B dengan investasi dan pemakaian sedang dan kelompok C dengan investasi dan pemakaian rendah. Selain nilai investasi dan pemakaian, pada persediaan farmasi rumah sakit, penentuan indeks kritis sangat lah diperlukan, karena tidak semua persediaan yang memiliki nilai investasi dan pemakaian yang tinggi, mempunyai nilai kritis yang tinggi pula. Nilai kritis ini ditentukan oleh pemakai/ dokter. Dengan teknologi komputer saat ini, pengelompokan setiap jenis sediaan farmasi dapat dilakukan dengan cepat dan akurat, akan tetapi memerlukan pencatatan dan sistem pelaporan pemakaian yang baik, serta informasi biaya investasi yang baik. Dengan sistem informasi yang baik, analisis indeks kritis ABC dalam pengendalian persediaan farmasi pada rumah sakit dapat dilakukan dengan cepat, tepat, sehingga manajemen dapat mengambil keputusan pada perencanaan, pengadaan dan pelaksanaan operasionalnya. Dengan data sekunder pengeluaran persedian RS. Duren Sawit periode januari 2004 sampai Maret 2005, perhitungan analisa ABC menghasilkan 35 jenis persediaan pada kelompok A dengan nilai sebesar Rp179.689.310,29 kelompok B 206 jenis persediaan dengan nilai sebesar Rp. 475.863.923,99 dan kelompok C 728 jenis dengan nilai sebesar Rp.122.840.524,75. Selain itu, Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa, ada 225 jenis persediaan yang diasumsikan merupakan investasi tidak bergerak dengan perkiraan nilai lebih dari Rp.1.133.136.736,29, hal ini dapat saja terjadi disebabkan oleh pencatatan yang tidak akurat, ataupun pengadaan persediaan yang tidak tepat. Hal ini dapat menyebabkan persediaan yang tidak efesien serta merugikan sumber daya keuangan secara tidak langsung, baik dari segi pengadaan maupun biaya penyimpanan maupun resiko kerusakan dan kehilangan. Dengan mengetahui pengelompokan persediaan ini, diharapkan peningkatan efesiensi biaya operasional dan dapat mencegah terjadinya kekosongan persediaan farmasi dengan pengendalian dan pengawasan terhadap persediaan farmasi serta peningkatan pelayanan terhadap pasien dengan tetap tersedianya bahan bahan farmasi dan menjaga harga yang baik, karena resiko kehilangan dan kerusakan persediaan dapat diantisipasi sebelumnya. Kepustakaan : 31 (1985 – 2005 )
Read More
B-884
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irma Binarso; Pembimbing: Amal C. Sjaaf
B-165
Depok : FKM UI, 1996
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Kemala Sari
S-5259
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuniwati; Pembimbing: HM. Hafizurrachman; Penguji: Peter AW. Pattinama, Budi Hidayat, Luhut P. Sirait
Abstrak: Latar Belakang Dari pengeluaran Rumah Sakit Jiwa “Soeharto Heerdjan” tahun 2004, untuk pembelanjaan khusus obat sebesar 48,5% total pembelanjaan barang farmasi. Belum adanya perencanaan dan pengendalian yang sistematis dan efektif. Tujuan Menyusun perencanaan dan pengendalian obat-obat yang lebih terarah dan sistematis di Instalasi Farmasi dengan menentukan jumlah pemesanan yang optimum dan ekonomis. Metode Merupakan penelitian operasional riset, dengan analisis kuantitatif menggunakan Analisa ABC, Analisa ABC Indeks Kritis, metode peramalan Time Series Forecasting dan perhitungan EOQ dan ROP. Hasil Terdapat 11 item obat yang termasuk kelompok A Hasil Analisa ABC Indeks Kritis. Jadi dengan mengawasi 11 item ini sudah mengontrol hampir 70% dari total investasi. Untuk Prakiraan kebutuhan dengan 2 metode peramalan yaitu Exponential Smoothing With Linear Trend dan Double Exponential Smoothing With Linear Trend. Hasil perhitungan EOQ, Rumah Sakit Jiwa “Soeharto Heerdajn” dapat menghemat sebesar Rp. 6.108.717,- dari total biaya yang harus dikeluarkan. Kesimpulan Untuk perencanaan obat menggunakan EOQ dan ROP dengan prakiraan kebutuhan menggunakan metode peramalan dan untuk pengendalian menggunakan Analisa ABC dan Analisa ABC Indeks Kritis. Kata Kunci: Analisis Persediaan Obat
Background In “Soeharto Heerdjan” Mental Hospital the total of hospital expenses is 35% is for pharmaceutical goods purchase, and of the total, 47,8% is for drug expense. This Hospital also does not have a good planning in budgeting. Objectives Results of this research is making the drug planning and control that is more oriented and systematic at its Pharmaceutical Installation with determining the number of optimum and economical drug order Methods This is a Riset Operational Research, with Kuantitative Analysis and used ABC Analysis and ABC Critical Index, methods of estimating test of Time Series Forecasting, with the EOQ and ROP calculation. Results To control the drug stock, ABC Analysis and ABC Critical Index is conducted so results of Group A is obtained of ABC Critical Index consisting of 11 drug items. With controlling 11 drug items in the Group A have included 70% of the all investment values. Two methods of estimating test of Time Series Forecasting is conducted to estimate the needs for the quarterly period . Total value of total expenses / Cost of EOQ calculation result gives much better “Soeharto Heerdjan” Mental Hospital result saving Rp. 6.108.717,- Conclusions To have a good drugs planning, we can use EOQ and ROP with methods of estimating test of Time Series Forecasting is conducted to estimate the needs and for a good drugs controling, we can use ABC Analysis and ABC Critical Index. Keywords. Analysis of Drugs Planning
Read More
B-908
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pita Aprilia; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Purnawan Junadi, Susan Oktiwidya Ananda, Dian Trisnawati
Abstrak:
Persediaan farmasi harus dikelola dengan baik untuk kelancaran operasional dan keuangan rumah sakit. Sistem informasi dibutuhkan untuk mengelola persediaan farmasi agar memudahkan pengambilan keputusan dengan data yang akurat pada waktu yang tepat. RS Premier Jatinegara mengembangkan sistem persediaan baru yaitu RSDI yang menggabungkan informasi data perencanaan hasil analisis metode ABC-VEN dan MMSL, serta informasi terkini status tahap pemesanan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur output dari penggunaan sistem RSDI yang ditinjau dari indikator efektivitas dan efisiensi. Penelitian dilakukan dengan operational research terhadap sampel obat hasil analisis ABC-VEN dan MMSL di Instalasi Farmasi RS Premier Jatinegara setelah dilakukan intervensi. Hasil analisis ABC diperoleh obat kategori A mewakili 70% dari total investasi. Jumlah non esensial mencapai 53% dari total obat secara keseluruhan. Obat kategori EA dan NA memiliki nilai investasi tertinggi yaitu 63%. Apabila obat kategori EA dan NA dikelola dengan baik maka sekitar 63% biaya investasi dapat dikendalikan. Hasil penelitian menunjukan angka kejadian kekosongan obat turun 57%. Kekosongan masih ada karena kondisi stok yang kosong di distributor yang tidak dapat dihindari oleh karena itu integrasi B2B dengan distributor perlu ditingkatkan. Namun nilai ITOR juga turun dari 7 kali menjadi 6 kali. Penyesuaian periode pengadaan, pengurangan lead time distributor dan pengurangan jumlah stok obat non esensial perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi. Informan menyampaikan sistem RSDI membantu memprioritaskan pengadaan ketika obat vital, esensial atau kategori A kosong, mempercepat pengambilan keputusan, menghilangkan permintaan berulang, dan meningkatkan komunikasi antara Instalasi Farmasi-Gudang-Pengadaan. Penelitian diharapkan dapat dilanjutkan agar pencapaian efektivitas dan efisiensi persediaan semakin baik.

Pharmaceutical supplies must be managed well for smooth hospital operations and finances. Information systems are needed to manage pharmaceutical supplies to facilitate decision making with accurate data at the right time. Premier Jatinegara Hospital developed a new inventory system, namely RSDI. This research aims to measure the output from using the RSDI system in terms of indicators of effectiveness and efficiency. The research was carried out using operational research on drug samples resulting from ABC-VEN and MMSL analysis at the Pharmacy Department after the intervention. The results showed that total investment category A drugs is 70%. The number of non-essential drugs reaches 53%. EA and NA category drugs have the highest investment value 63%, if EA and NA category are managed well then around 63% of investment costs can be controlled. The research results showed that the incidence of stock out decreased by 57%. Stock out still exist due to unavailable stock at distributors which cannot be avoided, therefore B2B integration with distributors needs to be improved. However, the ITOR value also fell from 7 times to 6 times. Adjusting the procurement period, reducing distributor lead time, and reducing the amount of non-essential drug needs to be done to increase efficiency. Informants said that the RSDI system helps prioritize procurement when vital or category A drugs are out of stock, speeding up decision making, eliminating repetitive requests, and improving communication between the Pharmacy-Warehouse-Procurement. This research should be continued to achieve better inventory effectiveness and efficiency.
Read More
B-2424
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arfan Awaloeddin; Pembimbing: Amila Megraini; Penguji: Purnawan Junadi, Adang BAchtir, Astuty, Anwarul Amin
Abstrak:

Rurnah sakit sebagai mata rantai sistern kesehatan diharapkan dapat mencapai pelayanan yang bermutu, berdaya guna, serta didirikan dan dijalankan dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang diperlukan oleh masing-masing penderita dalam batas kemampuan teknologi dan sarana yang tersedia di rumah sakit. Salah satunya adalah instalasi farmasi yang merupakan sarana penting dalam proses penyembuhan dan merupakan salah satu komponen biaya operasional yang besar dari seluruh biaya operasional rumah sakit. Anggaran yang dibelanjakan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Awal Bros untuk obat dan alkes sebanyak 46.65 % (Rp 5.155.680.986) dari total pengeluaran rumah sakit, dari jumlah tersebut 37.88% (1.952.881.880) adalah investasi untuk obat antibiotika. Penelitian dilakukan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Awal Bros pada pemakaian obat-obatan antibiotika periode Januari hingga Juni tahun 2001, dengan tujuan mengidentifikasi tingkat persediaan obat antibiotika di instalasi farmasi, merencanakan dan mengendalikan jumlah pemesanan obat yang efisien dan efektif. Perencanaan yang tepat diharapkan dapat menghasilkan suatu jumlah dan jenis persediaan perbekalan di instalasi farmasi, dalam hal ini khusus obat antibiotika. Persediaan obat-obatan antibiotika dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok berdasarkan nilai pemakaian, nilai investasi dan nilai indeks kritis dengan memakai analisis ABC. Pengelompokkan ini merupakan salah satu cara untuk mengendalikan persediaan, dengan demikian dapat diketahui jenis obat mana yang perlu diperhatikan karena mempunyai investasi yang tinggi dengan nilai kritis yang tinggi pula. Indeks kritis dapat diketahui melalui pendapat dari para dokter full timer yang berada di Rumah Sakit Awal Bros yang memakai obat tersebut. Hasil analisis indeks kritis ABC didapatkan basil bahwa kelompok A untuk 75-20-5 yang memerlukan investasi paling tinggi (66.51 % dari seluruh biaya) terdiri dari 32 item obat (9.33 %), kelompok B menelan biaya 28.99% terdiri dari 126 item obat dan kelompok C menelan biaya 4.50% dari seluruh biaya. Jenis obat antibiotika kelompok A 75-20-5 berdasarkan pemakaian, investasi dan indeks kritis berjumlah 74 item, jika dikelompokkan dengan kelompok nama generik akan dapat berkurang menjadi 60 item. Hal ini setidaknya rumah sakit Awal Bros dapat melakukan efisiensi sehingga biaya yang hares diinvestasikan akan berkurang.


 

Hospital is the part of health system chain which might be expected to provides quality services, efficient, and was established, operated to achieve various level of health services including promotion, prevention, curative and rehabilitation to meet patient needs in accordance to both technologies and facilities availabilities in the respective hospital. In particularly, pharmaceutical department is one of the important facilities in patient care that consume the biggest part of operational cost. In Awal Bros hospital, drugs and consumable goods spent 46.65% of total hospital expenditure. (Rp 5.155.680.986.-). In addition the hospital spent 37.88% of their total drugs expenditure for antibiotic (1.952.881.880 rupiahs). This study took place in Pharmaceutical Department of Awal Bros hospital during January 2001 thorough June 2001 period that aimed to identify the availability of antibiotic, and to develop the most economical procurement plan as well as to manage the availability. By doing so it was expected the hospital could manage the availability of antibiotic in terms of amount and type. The availability of antibiotic was grouped into different categories according to level of utilization, investment as well as critical index by using ABC analysis. This approach aimed to control level of antibiotic availability, an effort to identify priority in next procurement by considering its investment level and critical index. Information on critical index was gathered from selected residence physicians that had been known as frequent users. The ABC critical index analysis revealed that group A (75- 20-5) represented the highest investment totaling 66.51% of total expenditure, consisted of 32 item of antibiotic (9.33%); group B represent 28.99% of total expenditure (126 items) and group C represent 4.50% of total expenses. The total group A 75-20-5 with categories according to level of utilization, investment as well as critical index consisted 74 items, if grouped to generic drugs the least would decrease to 60 items. This approach which aimed to control level of antibiotic availability, can be utilized to identify priority in next procurement by considering its investment level.

Read More
B-500
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Sundari; Pembimbing: Ronnie Rivany
S-3079
Depok : FKM UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive