Ditemukan 31651 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Maman Suherman; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Ella Nurlaella Hadi, Hernani
Abstrak:
Read More
Salah satu aspek yang paling penting dalam menunjang keteraturan pengobatan adalah kepatuhan mengambil obat oleh penderita Tb Paru di puskesmas. Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilaksanakan di Kota Tasikmalaya, diketahui bahwa proporsi ketidakpatuhan mengambil obat adalah 49,73%. Hal ini merupakan ancaman serius bagi terjadinya resistensi obat dan kegagalan pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan mengambil obat dikalangan penderita TB Paru di puskesmas Kota Tasikmalaya, yang dilaksanakan pada periode Januari s/d April 2001. Rancangan penelitian ini menggunakan cross sectional dengan populasi aktual seluruh penderita TB Paru BTA (+) yang berobat di puskesmas wilayah Kota Tasikmalaya. Jumlah sampel yang diteliti adalah 360, jumlah ini melewati jumlah sampel minimum yang diperoleh dengan perhitungan. Anaiisis yang dilakukan adalah analisis univariat,bivariat dan multivariat logistik regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita yang tidak patuh mengambil obat cukup tinggi sebesar 48,90%. Dari ke tujuh variabel independen, yang terbukti secara statistik bermakna adalah faktor umur (p=0,046; OR=1,707; 95%CI=1,039-2,804), Faktor jarak (p=-0,002; OR=2,141; 95%CI=1,337-3,433) dan jenis PMO (p=0,001; OR=2,164; 95%CI=1,397-3,351). Berdasarkan perhitungan dampak potensial, variabel yang paling dominan adalah jenis PMO yang memberikan kontribusi paling besar terhadap ketidakpatuhan mengambil obat yaitu 56,12%. Berdasarkan temuan peneliti, disarankan pertama mengembangkan sistem pemantauan yang berkesinambungan melalui program perawatan kesehatan masyarakat (PI-IN). Kedua, bagi penderita umur produktif perlu diamati secara lebih ketat dengan pendekatan KIE. Ketiga, dalam mengatasi jarak fasilitas pelayanan yang jauh dari rumah penderita perlu adanya keterlibatan BP, KIA dan Bidan Desa setempat. Keempat, untuk lebih mengefek-tifkan PMO perlu dikembangkan sistem rekruitmen, bimbingan dan pemantauan lebih lanjut.
Some Factors Related to Drug Taking Uncompliance of Pulmonary Tuberculosis Patients in Health Center in Tasikmalaya Municipality in Year 1999-2000One of the most significant aspect in supporting treatment regularity is drug taking compliance of pulmonary tuberculosis patients in health center_ Based on the previous research conducted in Tasikmalaya Municipality, it is proved that proportion of medicine taking compliance is 49,73%. This becomes drug resistance and treatment failure. The research objective is to find some factors related to drug taking uncompliance in health center in Tasikmalaya Municipality conducted from January to April 2001. The design used in this research is cross sectional design with actual population of entire patients of pulmonary tuberculaosis AFB (+) cured in health center in Tasikmalaya Municipality. The number of observed sample is 360 exceeding the minimum sample number obtained from the calculation. The analysis in this research is univariate, buvariate and regression logistic multivariate. The research result shows that patients who not taking drug is much higher i.e. 48,90%. Among independent variables which are statisticly significant related to are age (p--0,046; OR=1.707; 95%CI= 1.039-2.804), distance (p=0,002; OR=2.142; 95%CI=1,337-3.433) and treatment observer (p=O.O01; OR=2.I64; 95%CI=1.397-3.351). Based on the researcher findings, there are some suggested recomendation. First, most develop surveillance system through public health nursing program (PHN). Second, the patients of productive age should be observed closely using KIE approach. Third, to solve the distance of health facility, the BP, KIA and midwives should be involved in the recruitment system, cuonseling and surveilance of follow up activities be developed.
T-1261
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syaumaryadi; Pembimbing: Krisnawati Bantas
T-1185
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jajat Hidajat; Pembimbing: Bambang Sutrisna
T-852
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tjetjep Yudiana; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Hernani, Yovsyah, Ella Nuelaella Hadi, Sukmahadi Thawaf
Abstrak:
Read More
Penyakit tuberculosis (TB) dewasa ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat khususnya di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah telah melakukan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short Course) yang merupakan komitmen internasional. Namun demikian dalam pelaksanaannya masih ditemukan hambatan, misalnya masih tingginya kegagalan pengobatan sebagaimana yang dihadapi Kabupaten Bandung. Penderita dinyatakan gagal pengobatan apabila hasil pemeriksaan ulang dahak pada satu bulan sebelum akhir pengobatan atau pada akhir pengobatan dahaknya tetap positif. Sebaliknya apabila hasilnya negatif, dapat dinyatakan sembuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perilaku kepatuhan mengambil obat pada penderita TB paru BTA(+) dengan pengobatan kategori I terhadap kegagalan pengobatan dan pengaruh kovariat lainnya (persediaan obat anti tuberculosis, persepsi responden terhadap jarak rumah dengan Puskesmas, penilaian responden terhadap pelayanan petugas, peranan pengawas menelan obat dan persepsi responden terhadap efek samping obat) terhadap kegagalan pengobatan di Kabupaten Bandung tahun 1999-2000. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur perilaku kepatuhan mengambil obat menggunakan kartu pengobatan (TB.01), untuk mengukur kovariat lainnya menggunakan kuesioner, sedangkan untuk mengukur status gagal dan sembuh menggunakan data sekunder (TB 03) berdasarkan laporan hasil pemeriksaan laboratorium dari PPM dan PRM. Jenis disain penelitian ini adalah studi kasus kontrol, dengan besar sampel berjumlah 266 responden terdiri dan 133 kasus (penderita yang dinyatakan gagal dalam pengobatannya) dan 133 kontrol (penderita yang dinyatakan sembuh). Baik kelompok kasus maupun kontrol diidentifikasi melalui pemeriksaan mikroskopis di puskesmas. Berdasarkan analisis multivariat dengan regresi logistik menunjukkan bahwa perilaku kepatuhan mengambil obat setelah dikontrol oleh kovariat persepsi responden terhadap jarak rumah dengan Puskesmas, peranan PMO dan persepsi responden terhadap efek samping obat berpengaruh signifikan terhadap kegagalan pengobatan OR=7,422 (95% CI;4,034-13,657). Guna meningkatkan upaya penanggulangan TB, penelitian ini menyarankan bahwa perlu mengoptimalkan kemampuan petugas kesehatan dalam memberikan motivasi kepada penderita, melibatkan lembaga yang terdekat dengan masyarakat misalnya RT/RW, mengoptimalkan peranan PMO, dan upaya khusus lainnya guna menemukan OAT yang dapat menekan sekecil mungkin risiko efek samping yang ditimbulkan oleh OAT.
Behavioral Analysis of Compliance of Pulmonary Tuberculosis Diseases with Bacterial Resistance (+) Patients to Take Drug with Medication Category I to the Medication Failure in Public Health Center Bandung Regency 1999-2000 Tuberculosis diseases (TB) today still represents the problem of health of society specially in developing countries include in Indonesia. To overcome the problem, government has conducted DOTS strategy (Directly Observed Treatment Short Course) representing international commitment However in its execution still found hindrances, for example still the high failure of medication as faced by Bandung regency. The patients stated to be failed in medication if result of phlegm reexamining in one month before the end of medication or by the end of medication of his phlegm remains to be positive. On the contrary if its result to be negative, can be expressed to recover. The target of this research is to know behavioral influence of compliance of pulmonary tuberculosis diseases with acid bacterial resistance (+) patients to take drug with medication category I to the failure medication and other covariant influences (supply of anti tuberculosis, respondents perception to the distance of home to public health center, the respondents judge toward officer service, the role of supervisor to take the drug and respondent's perception to the drug side effects) to failure of medication in Bandung regency in 1999-2000. Measuring instrument used to measure the compliance behavior to take drug using medication card (TB.01), to measure other covariate using questioner, while to measure failure and recover status to use secondary data (TB.03) pursuant to report result of assessment of laboratory from PPM and PRM. The type design of this research is control case study, with the sample amount to 266 respondents consist of 133 cases (expressed patients failed in their medication) and 133 control (expressed patient recovered). Whether case group and control identified through microscopic assessment in public health center. Pursuant to multivariate analysis with logistic regression shows that compliance behavior to take drug after controlled by respondent's perception covariate to the house distance with public health center, PMO role and respondent's perception to drug side effects have an significant effect to failure of medication OR =7,422 (95% CI: 4,034-13,657). In order to improve TB handling effort, this research suggests that require to maximize the ability of health officer in giving motivation to patient involves closest institutes with society for example RT/RW, to maximize PMO role, and other special efforts in order to find OAT that could depress as small as possible of side effects risk generated by OAT.
T-1426
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yulikarmen; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan, Sandi Iljanto
T-1538
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ius Suheryati; Pembimbing: Sujana Jatiputra
S-2682
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adolfina Pirade; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah
T-1100
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mardjono Samad; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan
T-1184
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sarmudianta ; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Nuning M Kaptiyah, Yovsyah, Ella Nurlaella Hadi, Lukman Hakim Siregar
Abstrak:
Read More
Proporsi ketidakpatuhan penderita berobat di beberapa daerah di Indonesia, angkanya bervariasi dan umumnya masih tinggi (36,7%-63,3%). Ketidakpatuhan berobat menjadi sangat penting karena berhubungan dengan resistensi. Di Kabupaten Ogan Komering Ulu proporsi ketidakpatuhan memeriksakan dahak pada akhir fase intensif cukup tinggi,yaitu 25,15%. Sehingga kemungkinan terjadinya resistensi tinggi juga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa faktor terhadap ketidakpatuhan memeriksakan dahak pada akhir fase intensif pengobatan tuberkulosis paru di Kabupaten Ogan Komering Ulu tahun 2000. Penelitian ini dilaksanakan dalam waktu satu bulan dengan menggunakan data sekunder yang ada di puskesmas (register tb 01 dan tb 04) di Kabupaten Ogan Komering Ulu. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kasus kontrol. Sampelnya adalah sebagian atau seluruh penderita tuberkulosis paru berumur 15 tahun atau lebih yang berobat di puskesmas di Kabupaten Ogan Komering Ulu dari tanggal 1 juni 2000 sampai dengan tanggal 31 mei 2001 dengan mendapat pengobatan jangka pendek kategori I, II atau III. Jumlah sampel sebesar 184 orang, terdiri dari 92 orang kasus dan 92 orang kontrol. Analisis yang dilakukan adalah analisis bivariat dan analisis multivariat logistik regresi dengan menggunakan ukuran Odds rasio dan uji kai kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak rumah penderita yang jauh dari fasilitas kesehatan mempunyai OR=2,72 (95% CI: 1,44-5,14) dan PMO yang berasal dari keluarga terdekat mempunyai OR=2,56 (95% CI: 1,25-6,26) Penelitian ini menyimpulkan bahwa jarak rumah terhadap fasilitas kesehatan dan PMO mempunyai pengaruh terhadap ketidakpatuhan memeriksakan dahak pada akhir fase intensif pengobatan tuberkulosis paru. Penelitian ini menyarankan kepada petugas perlu melakukan tindakan yang proaktif, seperti membantu penderita dengan cara mengambil pot yang telah disiapkan sebelumnya untuk dibawa ke fasilitas kesehatan. Menyeleksi orang yang akan dijadikan PMO, memberikan pelatihan/ penyuluhan kepada calon PMO dan menginformasikan kembali jadwal ulang pemeriksaan dahak kepada penderita atau PMOnya satu minggu, atau beberapa hari sebelum jadwal pemeriksaan. Kalau dalam satu desa banyak PMOnya perlu diangkat seorang koordinator.
Some Factors Influencing Not Compliance of the Sputum Examination at the End of Intensive Phase of Tuberculosis Treatment in Oku District, South Sumatera 2000 The proportion of not compliance to attend tuberculosis treatment at some areas in Indonesia, the rate is varies and at present it is still high (36, 7%-63, 3%). Not compliance becomes quite essential, since it related to tuberculosis drug resistance. In Ogan Komering Ulu district the portion of not compliance to check the sputum at the end of intensive phase of tuberculosis treatment is still high, that was 25,15%. So the possibility of become resistance is high. The objective of this study is to determine the impact of some factors to not compliance of tuberculosis cases to check the sputum at the end of intensive phase of tuberculosis treatment in Ogan Komering Ulu district in 2000. This study was conducted in a month by using secondary data that available at Health Center (register TB 01 and TB 04) in Ogan Komering Ulu district. The design used was case control study. The sample was some or entire of tuberculosis cases age 15 years old or over who take medical treatment at Health Center of Ogan Komering Ulu district from June 1,2000 to May 31, 2001 who having short treatment of category I, II or III. The number of sample was 184 people, covering of 92 cases and 92 controls. Analysis conducted were bivariate and regression logistic multivariate analysis by using Odds ratio and quadrate kai measurement. The result of this study showed that the distant of tuberculosis patient home which is far away from the health facility having OR=2,72 (95% CI : 1,44-5,14) and treatment observer (PMO) appointed from the nearest family member having OR=2,56 (95% CI : 1,25-6,26). This study concludes that the home distant to health facility and PMO has impacted to not compliance of checking the sputum at the end of intensive phase of tuberculosis treatment. This study recommended the health workers, the necessity of proactive action to support the smoothness of those programs, such as helping the patient by taking the sputum spot that has been prepared earlier to be brought to the Health Center. Selecting people who will act as the PMO, giving short briefing to PMO candidate and informing again to reschedule checking their sputum to patient or its PMO a week or several days prior treatment schedule according to standard operational procedure. The PMO coordinator is necessary to be appointed if a lot of PMO exist in the village.
T-1218
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Juhandi; Pembimbing: Bambang Sutrisna, Sujana Jatiputra
T-1581
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
