Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 21434 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Berita AIDS Indonesia, Vol.1, No. 2, 1991, hal. 6-8. ( ket. ada di bendel Maj. campuran No. 14 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ingan Tarigan, Ratih Ariningrum
BPSK Vol.11, No.3
Surabaya : Balitbangkes Kemenkes RI, 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Medika, No.4, April 1993, hal. 33-37
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas. Indo. (MKMI), XXII, No.5, Juni, 1994, hal. 310-313
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
614.4 GRE e
[s.l.] : Depok: FKMUI, 2011, s.a.]
Kumpulan Daftar Isi Buku   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imran Lubis
MKP No.2
Jakarta : Unika Atma Jaya, 1994
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zita Atzmardina; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Caroline Endah Wuryanigsih, Nurhalina Afriana
Abstrak: Waria sering mendapatkan diskriminasi. Perilaku waria yang berisiko perlutindakan pendeteksian dini sehingga tidak menjadi sumber penularan. Penelitianbertujuan untuk melihat model perilaku waria dalam memutuskan pemeriksaanHIV/AIDS di Palembang, Pontianak, Samarinda, dan Makasar tahun 2013. Desainpenelitian yang digunakan adalah cross sectional, menggunakan data STBP tahun2013. Hasil analisis GSEM memperlihatkan faktor predisposing mempengaruhikeputusan pemeriksaan HIV/AIDS pada waria (koef. path=0,61). Peran petugasberpengaruh terhadap pengetahuan waria (koef. path=1,1) dan mempunyaipengaruh yang besar dalam pengambilan keputusan pemeriksaan HIV/AIDS padawaria (koef. path=3,5). Oleh sebab itu, penyuluhan melalui petugas kesehatanatau petugas lapangan sangat penting dalam pengambilan keputusan pemeriksaanHIV/AIDS.
Kata kunci: GSEM, waria, pemeriksaan HIV/AIDS
Transvestites often get discrimination. The risk behavior of transvestites needs anearly detection so as not to be a source of transmission. This study examined thebehavior of transvestites in deciding of HIV/AIDS test in Palembang, Pontianak,Samarinda and Makassar in 2013. The study design is cross sectional, using dataIntegrated Biological and Behavioral Survey (IBBS) 2013. The results of GSEManalysis showed predisposing factors affect the decision of HIV/AIDS test amongtransvestites (path coef. = 0.61). Health workers affect the knowledge oftransvestites (path coef.= 1.1) and has a great influence on decision HIV/AIDStest in transvestites (path coef. = 3.5). Therefore, counseling via health workers isvery important in the decision for HIV/AIDS test.
Key word: GSEM, Transvestites, HIV/AIDS test
Read More
T-4397
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwiati Sekaringsih; Pembimbing: Sudarti
S-471
Depok : FKM UI, 1989
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitria Maretha H; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Artha Prabawa, Roji Suherman
S-7039
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R Nasrullah Nur Nugroho; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Retno Mardhiati, Hilmansyah Panji Utama
Abstrak:
Pada tahun 2023, lebih dari 50% kasus baru HIV di Indonesia berada di pulau jawa. Berdasarkan faktor risiko yang teridentifikasi, penyebaran terbesar berasal dari homoseksual 31% yang terdiri atas 30% kelompok LSL dan 1% Waria. Studi ini bertujuan untuk dapat mengetahui apa determinan sosial perilaku yang berhubungan dengan kejadian HIV pada kelompok LSL dan Waria di Pulau Jawa berdasarkan data STBP 2018. Desain Studi yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan studi cross-sectional pada 2555 responden LSL dan 1967 responden Waria. Hasil studi ini menunjukkan prevalensi HIV pada kelompok LSL di Pulau Jawa sebesar 19%, dan pada kelompok Waria sebesar 13,6%. Pada kelompok LSL, Usia ≥ 26 Tahun, status perkawinan yang belum kawin, status sifilis positif, dan status TBC positif merupakan faktor risiko pada kejadian HIV pada kelompok LSL di Pulau Jawa. Positif TBC menjadi faktor risiko paling dominan dengan peluang sebesar 3x meningkatkan terinfeksi HIV. Sementara itu, pada kelompok Waria, pengetahuan HIV yang rendah, penggunaan NAPZA suntik, status sifilis positif dan status TBC positif merupakan faktor risiko pada kejadian HIV pada kelompok Waria di Pulau Jawa. Positif sifilis menjadi faktor risiko paling dominan dengan peluang sebesar 3,8x meningkatkan terinfeksi HIV. Kementerian kesehatan dapat meningkatkan layanan berupa petunjuk teknis (Juknis) layanan terpadu HIV-Sifilis-TBC khusus populasi kunci atau pedoman peran layanan berbasis komunitas. Selain itu peningkatakan integrasi layanan pengobatan baik IMS maupun TB dengan HIV dapat dilakukan untuk memudahkan LSL dan Waria. LSM dapat meningkatkan layanan skrining "Jemput Bola" di ruang aman, serta meningkatkan pengetahuan HIV yang komprehensif pada Waria seperti pertemuan berkala dan juga penentuan community leader. Memperkuat upaya pendampingan untuk meningkatkan akses dan retensi layanan HIV, IMS, dan TB bagi LSL dan Waria

Java Island, as the most populous region in Indonesia, has become the epicenter of HIV/AIDS transmission. In 2023, it was reported that more than 50% of newly identified HIV cases in Indonesia occurred in Java. Based on identified risk factors, the largest proportion of cases (31%) was attributed to homosexual transmission, comprising 30% among men who have sex with men (MSM) and 1% among transgender women. This study aims to identify the social and behavioral determinants associated with HIV infection among MSM and transgender women in Java, using data from the 2018 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS). The study employed a quantitative design with a cross-sectional approach involving 2,555 MSM and 1,967 transgender women respondents. The findings showed that HIV prevalence among MSM in Java was 19%, while among transgender women it was 13.6%. Among MSM, the significant risk factors for HIV infection were age ≥ 26 years, being unmarried, positive syphilis status, and positive tuberculosis (TB) status. TB was the most dominant risk factor, increasing the likelihood of HIV infection by threefold. Among transgender women, risk factors included low HIV knowledge, injecting drug use, positive syphilis status, and positive TB status. Syphilis was identified as the most dominant risk factor, increasing the risk of HIV infection by 3.8 times. The Ministry of Health needs encouraged to enhance services through the development of integrated technical guidelines for HIV–Syphilis–TB services tailored to key populations, as well as community-based service frameworks. Detection and treatment services for sexually transmitted infections (STIs) and TB should be integrated and made specifically accessible to MSM and transgender women. Civil society organizations can strengthen community-based screening services through mobile outreach strategies in safe spaces and increase comprehensive HIV knowledge among transgender women through regular meetings and the empowerment of community leaders. Strengthening peer support and outreach programs is also crucial to improve access to and retention in HIV, STI, and TB services for MSM and transgender populations.

Read More
B-2548
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive