Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 21795 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yuli Subiakto; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Nurhayati A. Prihartono, Mohamad Sadikin; Penguji: Purwantyastuti, Sabarinah B. Prasetya, Meily Kurniawidjaja, Carmen M. Siagian, Wawan Mulyawan
Abstrak: Dengan Vitamin E 200 mg Terhadap Penurunan Stres Oksidatif Dan Peningkatan Antioksidan Pada Teknisi Awaak Pesawat Terbang Militer. Stres oksidatif merupakan kondisi patologis tubuh yang disebabkan oleh terjadinya ketidakseimbangan antara oksidan dengan antioksidan tubuh, yang menghasilkan radikal bebas yang dapat mengakibatkan kerusakan sel secara dini. Radikal bebas akan berikatan bahan penyusun sel meliputi lemak, protein dan DNA akibatnya sel mengalami kerusakan, sehingga sel tidak dapat beregenerasi yang berdampak timbulnya penyakit degeneratif. Teknisi awak pesawat terbang militer sebagai personel khusus dalam melakukan pekerjaan bersinggungan langsung dengan bahan-bahan oksidan, sehingga berisiko tinggi mengalami stres oksidatif. Vitamin C dan vitamin E merupakan antioksidan non enzim dari luar luar tubuh yang memiliki peran menghambat stres oksidatif, sehingga stres oksidatif tidak terjadi. Desain penelitian studi eksperimental dengan intervensi (intervention study) dengan randomized double blind controled trial. Besar sampel 206 orang terbagi dua kelompok yaitu kelompok intervensi besar sampel 103 orang diberikan suplemen kombinasi vitamin C 500 mg dengan vitamin E 200 mg dan kelompok kontrol besar sampel 103 orang diberikan placebo selama 40 hari tanpa putus. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden, pola dan jumlah konsumsi vitamin C, vitamin E dan nutrien makanan, yang diperoleh dari food frequecy questionnaire (FFQ) dan 24 jam recall, pemeriksaan stres oksidatif berdasarkan pemeriksaan kadar malondialdehyde (MDA) dan antioksidan berdasarkan pemeriksaan kadar glutathione (GSH) dalam serum darah pada pre dan post intervensi. Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan stres oksidatif pada kelompok yang mendapatkan suplemen kombinasi vitamin C 500 mg dengan vitamin E 200 mg dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mendapatkan placebo, secara bermakna dengan p value 0,04 dengan besar efek - 0,089 nmol/mL, selang kepercayaan 95% (-0,17875 – 0,00095). Tidak terjadi peningkatan antioksidan pada kelompok yang mendapatkan suplemen kombinasi vitamin C 500 mg dengan vitamin E 200 mg dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mendapatkan placebo, secara tidak bermakna dengan p value 0,81 dengan besar efek -0,019 ug/mL, selang kepercayaan 95% (-0,140 – 0,180). Kata kunci : Suplemen Kombinasi Vitamin C dan Vitamin E, Stres Oksidatif, Antioksidan, Teknisi Awak Pesawat Terbang Milite
 

500 mg with Vitamin E 200 mg to Decrease Oxidative Stress and Increase Antioxidant on Technician Crew Military Aircraft. Oxidative stress is pathological condition body that is caused by imbalance between oxidants with antioxidants body, which produces free radicals that can lead cell damage early. Free radical will bind building blocks cell covering of fat, protein and DNA will result damage cell, so cell can not regenerate that affect onset of degenerative diseases. Technicians crew military aircraft as specialized personnel with activity job direct contact with material oxidant, thus high risk of oxidative stress. Vitamin C and vitamin E are antioxidant enzyme exogen outside body which has role inhibiting oxidative stress, so oxidative stress does not occur. The design study experimental studies with intervention randomized double blind controled trial. Sample size 206 people divided into two groups are intervention group with sample size 103 people are given supplements combination vitamin C 500 mg with vitamin E 200 mg and control group with sample size 103 people are given placebo for 40 days without break. Data collected include are characteristics of respondent, pattern and amount of consumption of vitamin C, vitamin E and nutrient food, derived from food frequecy questionnaire (FFQ) and 24-hour recall, examination of oxidative stress by checking levels malondialdehyde (MDA) and examination of antioxidant by checking levels glutathione (GSH) in blood serum in pre and post intervention. The results showed decrease oxidative stress in group intervention who are received suplement combination vitamin C 500 mg with vitamin E 200 mg compared with control group who are received placebo, are significant with p value 0.04 with effects size -0.089 nmol/mL, confidence interval 95 % (-0.17875 - 0.00095). No increase antioxidants in group intervention who are received supplement combination vitamin C 500 mg with vitamin E 200 mg compared with control group who are received placebo, are not significant with p value 0.81 with effects size -0.019 ug/mL, 95% confidence interval ( -0.140 - 0.180).
Read More
D-350
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
The Indonesian J. of Public Health (IJPH), Vol.4, No.1, Juli 2007, hal. 25-34. ( ket. ada di bendel 2005- 2007)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
ELsa Gustianty; Promotor; Sudarto Ronoatmodjo; Ko-Promotor: Gantira Natadisastra, Nurhayati Prihartono; Penguji: Ratna Djuwita, Herri S. Sastramihardja, Sabarinah Prasetyo, Sutarya Enus
D-290
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khairani Fatmah; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Tubagus Dwika Yuantoko, Laksita Ri Hastiti
Abstrak:
Paparan partikel halus (PM2.5) di dalam ruangan dapat berdampak buruk bagi kesehatan, sehingga diperlukan solusi yang efektif dan terjangkau. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas penggunaan air purifier sederhana dengan filter HEPA berbahan meltblown nonwoven polypropylene dalam menurunkan konsentrasi PM2.5 di ruang tertutup. Eksperimen dilakukan di Laboratorium K3 FKM UI pada Januari–April 2025, dengan dua skenario utama: satu dan dua unit air purifier. Pengukuran dilakukan secara real-time menggunakan air particle counter CEM DT-9883M, serta didukung data suhu, kelembaban, kecepatan aliran udara, dan putaran kipas. Hasil menunjukkan bahwa dua air purifier lebih efektif dibanding satu unit, terutama jika ditempatkan di posisi depan dan belakang ruangan, dengan rata-rata penurunan konsentrasi PM2.5 mencapai 98,8%. Efektivitas konfigurasi ini sekitar 5% lebih tinggi dibandingkan penggunaan satu alat. Selain itu, penggantian turbin pada air purifier tunggal juga memberikan hasil lebih baik, menurunkan konsentrasi dari 56,67 µg/m³ menjadi 46 µg/m³. Hasil ini menegaskan bahwa peningkatan jumlah dan penataan posisi air purifier dapat menjadi strategi sederhana namun signifikan dalam memperbaiki kualitas udara dalam ruangan.

Indoor fine particle exposure (PM2.5) can have a negative impact on health, so an effective and affordable solution is needed. This study aims to prove the effectiveness of using a simple air purifier with a HEPA filter made of Meltblown Nonwoven Polypropylene in reducing PM2.5 concentrations in closed spaces. The experiment was conducted at the FKM UI K3 Laboratory in January–April 2025, with two main scenarios: one and two air purifier units. Measurements were carried out in real time using a CEM DT-9883M air particle counter, and supported by data on temperature, humidity, air flow speed, and fan rotation. The results showed that two air purifiers were more effective than one unit, especially when placed at the front and back of the room, with an average reduction in PM2.5 concentration reaching 98.8%. The effectiveness of this configuration is about 5% higher than using one device. In addition, the placement of the turbine on a single air purifier also gave better results, reducing the concentration from 56.67 µg/m³ to 46 µg/m³. These results confirm that increasing the number and positioning of air purifiers can be a simple yet significant strategy in improving indoor air quality.
Read More
S-11881
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qurrotul A'yuni; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan diameter dan daya listrik turbine fan yang dilengkapi dengan filter HEPA buatan berbahan meltblown nonwoven polypropylene terhadap efektivitas penurunan konsentrasi partikel PM2.5. Penelitian ini penting mengingat polusi udara, khususnya PM2.5, menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia. Metodologi penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium yang dilakukan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Data dikumpulkan melalui pemantauan real-time menggunakan Particle Counter CEM DT-9881M, serta pengukuran kecepatan angin, kecepatan putar baling-baling, dan tingkat kebisingan menggunakan Digital Vane Anemometer Lutron AM-4222, Digital Laser Photo Tachometer LCD 2.5-99999 RPM, dan 3M SoundPro Class 1 Sound Level Meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem dengan kipas turbin berdiameter 10” dan daya listrik 50 watt menghasilkan efektivitas penurunan PM2.5 sebesar 95.28% dan CADR sebesar 107.35 cfm (ACH = 4.8), sedangkan sistem dengan kipas turbin 6” dan daya 32 watt hanya mencapai efektivitas 82.66% dan CADR 49.91 cfm (ACH = 2.3). Uji statistik menunjukkan perbedaan signifikan (p < 0.05) antara kedua konfigurasi, tetapi korelasi kecepatan angin dan RPM terhadap efektivitas tidak signifikan. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan spesifikasi kipas dan desain sistem secara keseluruhan untuk mengoptimalkan performa pemurnian udara

This study aims to analyze the influence of different diameters and electrical power of turbine fans with homemade HEPA filters (meltblown nonwoven polypropylene) on the effectiveness of reducing PM2.5 concentration. This research is important considering that air pollution, especially PM2.5, is a serious threat to human health. The research methodology used is a laboratory experiment conducted at the Faculty of Public Health, University of Indonesia. Data was collected through real-time monitoring using the Particle Counter CEM DT-9881M, as well as measurements of wind speed, propeller rotation speed, and noise level using the Lutron AM-4222 Digital Vane Anemometer, the 2.5-99999 RPM LCD Digital Laser Photo Tachometer, and the 3M SoundPro Class 1 Sound Level Meter. The results showed that the system with a 10" diameter turbine fan and 50 watts of electrical power produced a PM2.5 reduction effectiveness of 95.28% and a CADR of 107.35 cfm (ACH = 4.8), while a system with a 6" turbine fan and a power of 32 watts achieved only 82.66% effectiveness and a CADR of 49.91 cfm (ACH = 2.3). Statistical tests showed a significant difference (p < 0.05) between the two configurations, but the correlation of wind speed and RPM to effectiveness was not significant. These findings confirm the importance of considering fan specifications and overall system design to optimize air purification performance.
Read More
S-11879
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jour. of the Indonesian Med. Ass. (Maj. Ked. Indo) (MKI), Vol. 61, No. 7, Juli, 2011, Hal. 280-284
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Majalah Kedokteran Indonesia (MKI), Vol. 41, No. 2, Pebruari 1991, hal. 61-68. ( ket. ada di bendel 1985 - 1992 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Zuliani; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Fatmah, Pritasari
Abstrak: Kebugaran menjadi sangat penting karena kebugaran berhubungan dengan kesehatan kardiovaskular. Remaja yang memiliki kebugaran yang rendah dapat berisiko mengalami penyakit kardiovaskular saat dewasa kelak jika terus menerus dibiarkan. Kebugaran kardiovaskular biasa dinilai dengan VO2max (konsumsi maksimal oksigen). Salah satu cara untuk meningkatkan VO2max ialah dengan memberikan suplemen yang mengandung zat besi (Fe) dan multivitamin dan mineral (MVM).
 
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan kuasi eksperimen pre-test and post-test design. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplemen kombinasi Fe dan MVM yang diberikan selama enam hari terhadap nilai estimasi VO2max pada siswi SMP di Jakarta. Nilai estimasi VO2max diukur menggunakan tes kebugaran 20-m shuttle run.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perubahan nilai estimasi VO2max pada kelompok Fe&MVM adalah 0,20 ml/kg/min sedangkan kelompok kontrol adalah 0,13 ml/kg/min serta terdapat perbedaan yang signifikan pada perubahan total lintasan tes 20-m shuttle run diantara kedua kelompok (p=0,001). Kesimpulan dari penelitian ini adalah sekalipun tidak ada perbedaan bermakna pada rata-rata nilai estimasi VO2max kedua kelompok, pemberian suplemen dapat meningkatkan nilai estimasi meningkatkan VO2max dan total lintasan pada tes kebugaran 20-m shuttle run.
 

 
Cardiovascular fitness is very important especially for teenage. Teenage with low fitness have risk of cardiovascular disease later. Cardiovascular fitness was usually scored by VO2max (maximal consumption oxygen). One of solutions to increase VO2max is administration of iron (Fe) and multivitamins and mineral (MVM) supplement.
 
This Research was a quasi experiment pre-test and post-test design with purpose of study is to discover the effect of six days administration of iron combination supplement with multivitamins & mineral (MVM) toward the predicted of VO2max of Girl Student in Junior High School. The predicted of VO2max score was calculated by 20-m shuttle run test.
 
The result showed delta of VO2max score in Fe&MVM’s group was 0,20 ml/kg/min and placebo’s group was 0,13 ml/kg/min; and there was significant differences in delta of total lap of 20-m shuttle run between two groups after intervention (p=0.001). Although there was no significant differences of VO2max, administration of supplement can increased VO2max score and increased total lap of 20-m shuttle run.
Read More
S-7959
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fetty Ismandari; Pembimbing: Helda; Penguji: Nasrin Kodim, Yovsyah, Virna Dwi Oktariana
Abstrak: Pendahuluan, Glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor dua di Indonesia, kebutaannya bersifat permanen dan seringkali gejala glaukoma tidak disadari oleh penderita. Proporsi pasien baru glaukoma yang datang ke RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam kondisi telah buta cukup tinggi sehingga perlu diteliti faktor yang berhubungan dengan kondisi tersebut.
 
Metode Penelitian, cross sectional, dengan populasi seluruh pasien glaukoma primer di poliklinik penyakit mata RSCM yang datang pada Januari 2007 - Oktober 2009 dan dilakukan analisis dengan Cox?s Proportional Hazard Model untuk mendapatkan nilai Prevalence Ratio(PR) dan mendapatkan model persamaan akhir.
 
Hasil Penelitian, Didapatkan hubungan yang bermakna antara antara kebutaan pada pasien baru glaukoma primer di RSCM dengan tekanan intraokular (PR 1,01 95% CI 1,01-1,02), jenis glaukoma, pengobatan sebelumnya dan interaksi antara jenis glaukoma dan pengobatan sebelumnya (PR 2,09 95% CI 1,36-3,22 untuk sudut terbukayang pernah mendapat pengobatan sebelumnya; PR 1,72 95% CI 1,20-2,46 untuk sudut tertutup yang belum mendapat pengobatan; PR 1,79 untuk sudut tertutup yang pernah mendapat pengobatan; dibandingkan sudut terbuka yang belum mendapat pengobatan) serta pendidikan (PR 1,49 95% CI 1,06-2,08 untuk pendidikan rendah dan 1,37 95% CI 0,97-1,92 dibandingkan dengan pendidikan tinggi).
 
Kesimpulan, Variabel yang bermakna secara statistik atau substansi dan dimasukkan dalam model akhir adalah umur, jenis kelamin, tekanan intraokular, jenis glaukoma, adanya pengobatan sebelumnya, interaksi antara jenis glaukoma dan pengobatan sebelumnya, dan tingkat pendidikan. Umur dan jenis kelamin secara statistik tidak bermakna namun dimasukkan dalam model karena secara substansi bermakna.
 

Introduction, Glaucoma is the second largest cause of blindness in Indonesia. Blindness caused by glaucoma is irreversible and most of the patients are unaware of the symptoms. The proportion of blindness in new glaucoma patients at RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) in that period was high, so that, the factors related to the blindness need to be explored.
 
Methods, cross sectional study, the population were all of new primary glaucoma patients at RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo's Eye Clinic from January 2007 to October 2009, and used Cox's Proportional Hazard Model Analysis to calculate Prevalence Ratio (PR) and find final equation model.
 
Results, variables those statistically significant associated with blindness in new patient with primary glaucoma at RSCM were intraocular pressure (PR 1,01 95% CI 1,01-1,02), glaucoma type, treated patients, interaction between glaucoma type and treated patients (PR 2,09 95% CI 1,36-3,22 for POAG-treated patients; PR 1,72 95% CI 1,20-2,46 for PACG-untreated patients; PR 1,79 for PACG-treated patiens; compared with POAG-untreated patients), and education level (PR 1,49 95% CI 1,06-2,08 for low level education and 1,37 95% CI 0,97-1,92 for no answer compared with high level education).
 
Conclusions, variables those statistically or substantively significant and included in final model were age, sex, intraocular pressure, glaucoma type, treated patients, interaction between glaucoma type and treated, and education level. Age and sex were not statistical significant and were included in the model because of substantive significance.
Read More
T-3227
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kedokteran Indonesia (MKI), Vol.50, No.3, Maret. 2000: hal. 120-127
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive