Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31591 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia (MOGI), Vol.18, No.2, Apr. 1992, hal. 67-79. ( ket. ada di bendel 1985- 1992)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Omo Sutomo; Pembimbing: Sudarti Kresno; Penguji: Rina Artining Anggorodi, Hadi Pratomo, Sri Kusmiati, Kirana Pritasari
Abstrak:

Dewasa ini di Indonesia ada sekitar 19 % bayi lahir dengan berat lahir rendah kurang dari 2500 gram. BBLR merupakan salah satu faktor penting kematian neonatal dan juga sebagai determinan yang cukup bermakna bagi kematian bayi dan balita. Penyumbang kematian BBLR adalah prematuxitas, infeksi, asfiksia lahir, hipotermia dan pemberian ASI yang kurang adekuat.BBLR di Kabupaten Bogor memberi sumbangan atas kejadian kematian bayi sementara informasi secara mendalam mengenai perilalcu ibu-ibu dalam merawat BBLR belum diperoleh. Karena itu tujuan penelitian ini adalan ingin memperoleh informasi secara rnendalam perilaku ibu-ibu dalam merawat BBLR di Kabupaten Bogor tahun 2002. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan alat pengumpul data berupa pedoman wawancara mendalam dan fokus group diskusi. Pengumpulan data dilakukan terhadap 15 informan kunci dan 43 ibu BBLR Analisis data yang dilakukan adalah analisis isi (content analysis).Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik sosio demografi informan bervariasi dalam hal umur, pendidikan, pekerjaan, dan jumlah anak. Pengetahuan ibu BBLR tentang perawatan BBLR rendah, hampir seluruh ibu BBLR setuju terhadap bayi yang dihangatkan dengan botol berisi air panas. Sebagian besar tidak setuju terhadap bayi yang didekapkan ke dada ibunya (Metode Kanguru) dan tidak setuju terhadap bayi yang diberikan makanan (pisang) terlalu dini. Hampir seluruh ibu BBLR tidak setuju terhadap perawatan tali pusat yang tidak higienes (diberi abu gosok). Namun demikian masih ada yang membubuhi tali pusat dengan abu kayu bakar, asam dicampur air. Ibu BBLR setuju terhadap upaya pencegahan penyakit. Dikalangan ibu BBLR masih ditemukan kepercayaan membawa anaknya keluar harus setelah 40 hari. Sebagian besar ibu BBLR menggunakan cara lama atau tardisional dalam mencegah dan menangani hipotermia. Pada umumnya ibu BBLR memberikan kolostrum pada bayinya, namun demikian sebelum ASI keluar bayi diberikan air atau madu. ASI mulai diberikan paling banyak pada hari ke dua, dan mereka menyusui bayinya sampai 2 tahun. Sebagian besar ibu muda/baru menikah tidak melakukan perawatan tali pusatnya, tetapi oleh dukun atau orang tuanya dan petugas kesehatan. Tali pusat dirawat menggunakan alkohol atau betadin. Pada umumnya ibu BBLR membawa bayinya yang sakit ke petugas kesehatan dan selebihnya mengobati sendiri dengan ramuan, membeli obat di warung atau toko obat, rninum obat untuk bayi yang sakit, dan membawanya ke dukun. Alat dan bahan yang digunakan untuk merawat BBLR tidak sulit didapat. Beberapa faktor penghambat adalah masih adanya kepercayaan, ketidaktahuan ibu, pengaruh otang tua dan dukun, serta faktor ekonomi. Sementara faktor pendukung adalah ibu berpengalaman dalam merawat bayi serta adanya. dukungan keluarga dalam merawat bayi.Beberapa saran diajukan 1) Depkes R1 dapat mengembangkan prototife atau model media tentang perawatan BBLR. 2) Dinkes Bogor menindaklanjuti pembuatan media dengan menggunakan bahasa dan budaya lokal, pelatihan bagi pengelola program kesehatan ibu dan anak tingkat kabupaten dan tingkat Puskesmas tentang manajemen laktasi dan Perawatan Bayi Lekat serta monitoring dari bidan koordinator kabupaten terhadap bidan puskesmas. 3) Puskesmas Citemeup, Leuwiliang dan Jasinga, perlu adanya monitoring dari kordinator bidan Puskesmas terhadap bidan di desa, bidan di desa memberi contoh kepada dukun bayi cara mencegah hipotermia, Perawatan Bayi Lekat dan ASI eksklusif serta perlunya pendidikan kesehatan bagi ibu-ibu hamil tentang cara mencegah hipotermia, Perawtan Bayi Lekat dan ASI eksklusif di Puskesmas, Posyandu maupun Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak.


 

Recently, in Indonesia there are about 19 % babies have low birth weight with less than 2500 gram. Low birth weight (LBW) is one of important factor in neonatal mortality and also as determinant factor for infant and babies under tive mortality. The main causation of mortality in low birth weight is pre-term delivery, infection, asphyxia, hypothermia and inadequate breast feeding.In Bogor, LBW is one of baby mortality factor, while detail information about women?s behavior in caring their babies not found yet. Because of willing to know detail information of women?s behavior in taking care LBW in Bogor in 2002, so that the type of the research is qualitative rsearch, collected data by using indepth interview and discussion group focus. Collecting the data is conducted to 15 key informants and 43 women whose LBW. To analyze the data, it is used content analysis.Based on the research, there is some sociodemography characteristic of informants in age, education, occupation, number of children, babies birth weight and care givers. Women?s knowlegde in caring LBW is low, most of them agree in waming the baby with hot water. Some of them do not agree in Kangaroo Mother Care in their breast and do not agree in giving feed banana in early. Almost all of mowen do not agree toward unhygienic placenta care. Otherwise, there is some women mix placenta with ash, and mix with tamarind water. LBW women agree in preventing the diseases. There is still a belief in women having LBW that they may take their babies out of home alter 40 days of delivery. Some of them apply traditional method in preventing hypothermia Commonly, they give eolostrum to their babies but previously giving them water or honey before breast out in the first time. Most of them give breast feeding to their baby in the second day, and give it until 2 years. Most of young women do not give placenta care, as their parents or traditional midwife do. Using bethadine or alcohol to clean the placenta Generally, women having LBW take their unhealthy baby to the hospital but some of them self-curing by their own made medicine, buy the generic medicine in the shop, even take them to traditional midwife. Ingredient for medicine is not difficult to find. Some of the LBW obstacles are traditional belief, lack of knowledge, parent and traditional midwife influence, and economical problem. While the effort factor are experienced women and family support in caring the baby.Some suggestions are recommended, namely : (1) Health Department of Rl can develop prototype or media model for LBW care. (2) Health Instance of Bogor can follow up making media by using local language and culture, training of location management and Kangoroo Mother Care for conductor of women and baby health in district level and Health Center and also monitoring of midwife coordinator to midwife to midwife in district. (3) In Citeureup, Leuwiliang, and Jasinga Health Center, monitoring of midwife coordinator to midwife in the village is needed, how they give demontration to traditional midwife, how to prevent hypotennia, Kangoroo Mother Care and exclusive breast feeding. Furthennore, giving health education for pregnant women in preventing hypoterrnia, kangoroo mother care and giving exclusive breast feeding in Health Center, integrated service post or group of women and baby health lover.

Read More
T-1381
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qomariah Alwi
Bulitkes Vol.35, No.3
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2007
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R.M. Triharyanto; Pembimbing: Bambang Sutrisna
S-90
Jakarta : FKM UI, 1982
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desak Putu Kurniati; Pembimbing: Soekidjo Notoatmodjo, Evi Martha; Penguji: Zarfiel Taffal, Adhi Dharmawan Tato, Anita Nuzulia
Abstrak:

Pemenuhan hak reproduksi dan seksual perempuan menjadi salah satu strategi penting untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan di Indonesia. PKK menjadi salah satu wadah dimana upaya pemenuhan hak reproduksi tersebut dilakukan. Informasi, fasilitas, dan pelayanan kesehatan telah disediakan untuk mempercepat upaya pemenuhan tersebut, namun upaya tersebut terkesan mengalami beberapa kendala dalam aplikasinya di masyarakat. Sebuah studi kualitatif diperlukan untuk mengetahui faktor internal dan eksternal yang menjadi kendalanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan Rapid Assesment Procedures (RAP). Penelitian dilakukan pada ibu-ibu PKK di Kelurahan Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, Bali, tahun 2012. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa dua dari enam hak reproduksi yang diteliti sebagian besar belum terpenuhi dengan baik, diantaranya adalah hak seksual serta  hak dalam menentukan jumlah dan  jarak anak. Tingkat pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, persepsi,  sumber daya yang dimiliki, budaya, peran kelompok referensi (orang tua, suami, teman dan petugas kesehatan) menjadi faktor yang terkait upaya pemenuhan hak reproduksi perempuan. Peningkatan peran suami dan tokoh masyarakat untuk mendukung pemenuhan hak reproduksi menjadi saran dari penelitian ini. Kata kunci: Pemenuhan, Hak reproduksi, Pemberdayaan dan  Kesejahteraan Keluarga (PKK)


The Fulfillment of sexual and reproductive rights become  one of important strategies to cope the health problems in Indonesia. PKK (Family Empowerment and Welfare) to be  one of place, where the efforts for the  fulfillment of reproductive rights have been done. Informations, facilities, and health services have been provided to accelerate the fulfillment, but these efforts  have not been going well impressed in society. A qualitative study is needed to determine the internal and external factors that become obstacles. This study used the Rapid Assessment Procedures (RAP) approach.  It was performed on the PKK in the Sesetan Village, South of Denpasar District, Bali, year of 2012. The results of this study found that two of six of reproductive rights have not been properly unfulfilled, such as sexual rights and the right for determining number and spacing of children. Level of education, employment, knowledge, perception, resources, culture, and reference groups (parents, husband, friends and health workers) to be associated factors for the fulfillment of women reproductive rights. The study also suggested to enhance the role of husband and community leaders, in supporting the fulfillment of reproductive rights. Key words: The fulfillment, Reproductive rights, PKK (Family Empowerment and Welfare)

Read More
T-3554
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Obstetri dan Ginekologi Indonesia (MOGI), Vol.20, No.4, Okt. 1996, hal: 254-257. ( ket. ada di bendel maj. campuran No.20 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tuti Alawiyah; Pembimbing: Fatmah Yusron
S-3978
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas. Indonesia (MKMI), Vol.34, No.2, Juni, 2009, hal. 111-117. ( ket. ada di bendel 1994-2009 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syafni Elwina; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Baiduri Widanarko, Dramayadi
Abstrak: Kecelakaan lalu lintas menjadi salah satu permasalahan di dunia, terutama di negara-negara berkembang. Penyumbang angka kecelakaan lalu lintas terbanyak adalah sepeda motor, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara di dunia. Penyebab utama kecelakaan lalu lintas di kalangan pengendara sepeda motor adalah perilaku berkendara. Perilaku berkendara sesorang dapat tergantung pada bagaimana persepsi berkendara dan persepsi risiko pengendara itu sendiri.
 
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara persepsi berkendara dan persepsi risiko dengan perilaku berkendara ibu-ibu di Kabupaten Bekasi tahun 2015. Penelitian ini mengunakan desain penelitian cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dari penelitian ini adalah pengendara sepeda motor ibu-ibu di Kabupaten Bekasi, sedangkan sampel adalah 150 ibu-ibu pengendara sepeda motor di Kabupaten Bekasi.
 
Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki persepsi berkendara dan persepsi risiko yang tinggi, sedangan perilaku berkendara mayoritas berperilaku tidak aman. Berdasarkan analisis bivariat menggunakan chi-square diperoleh persepsi berkendara (p-value = 0,002),persepsi risiko (p-value = 0,002). Kesimpulan dari penelitian ini ada hubungan antara 1) persepsi berkendara dengan perilaku berkendara dan 2) persepsi risiko dengan perilaku berkendara.
 

Traffic accidents are one of the major problems in the world, especially in developing countries.Contributor to the highest number of traffic accident is motorcycle. Not only in Indonesia but also in many countries around the world. The main cause of the traffic accident among motorcyclist were riding behavior. Someone riding behavior may depend on how the riding perception and the risk perception of the motorist itself.
 
The aim of this study was to determine the relationship between the riding perception and risk perception and women riding behavior in Kabupaten Bekasi 2015, using cross sectional design with quantitative approach.Population are women motorcyclist in Kabupaten Bekasi. While samples were 150 women motorcyclist in Kabupaten Bekasi.
 
The results showed that the majority of respondents havea high riding perception and high risk perception and the majority of respondents have unsafe riding behavior. Based on bivariate analysis using the chi-square obtained perception of riding (p-value = 0,002), risk perception (p-value = 0,002). The conclusions of this study is there is a relationship between 1) the riding perception with riding behavior and 2) risk perception with riding behavior.
Read More
S-8837
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asrijanti; Pembimbing: Anwar Hasan
S-513
Depok : FKM UI, 1990
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive