Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 26377 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Charles PJ. Suoth; Pembimbing: Corrie Wawolumaja; Penguji: Herman Mulyadi, Astrid B. Sulistomo
Abstrak:
Latar Belakang: Waktu Reaksi adalah suatu pengukuran kecepatan reaksi, suatu proses mental dari pengaliran rangsang di dalam sel-sel otak dan saraf, sering digunakan untuk menilai kemampuan pelaksanaan tugas mental seseorang. Berkurangnya suplai oksigen, terutama dalam jaringan otak dan saraf oleh pengaruh hipoksia akan memperpanjang waktu reaksi seorang penerbang dalam misi penerbangan. Keadaan ini merupakan faktor utama meningkatnya risiko terjadinya kecelakaan dalam misi penerbangan. Metodologi: Penelitian ini adalah suatu eksperimen kuasi dengan desain pra dan pasca tes terhadap 64 orang calon siswa sekolah penerbangan TN1 Angkatan Udara dengan usia 21-26 tahun. Kadar hemoglobin, saturasi oksigen, fungsi kardio respirasi, kadar gula darah, dan waktu reaksi di ketinggian permukaan diukur. Subyek diintervensi ke ketinggian simulasi 18.000 kaki dalam ruang udara bertekanan rendah untuk mencapai kondisi hipoksia, yaitu dengan nilai saturasi oksigen 64-72%. Dilakukan pengukuran waktu reaksi di ketinggian permukaan dengan waktu reaksi di ketinggian simulasi 18.000 kaki. Hasil: Terjadi pemanjangan waktu reaksi yang signifikan di ketinggian simulasi 18.000 kaki. (100.11 mdet ± 15,76) dibandingkan dengan waktu reaksi di ketinggian permukaan (90.98 mdet ± 14.53) (p < 0.05). Pemanjangan waktu reaksi ini disebabkan oleh berkurangnya kecepatan pengaliran rangsang di dalam jaringan otak dan saraf akibat berkurangnya suplai oksigen. Kadar hemoglobin mempunyai hubungan yang kuat dengan terjadinya pemanjangan waktu reaksi ini. Kesimpulan: Hipoksia pada ketinggian simulasi 18.000 kaki menyebabkan pemanjangan waktu reaksi.

The Effect of Hypoxia on Reaction Time Among Indonesian Military Pilot's Candidates at a Simulated Altitude of 18.000 feet in the Hypobaric Chamber, 1999Background: Reaction time is a measure of the speed of reaction, it's a mental process that results from the impels processing through brain and nerves. It is often used to assess the ability of mental tasks performance. The lack of oxygen supply especially in the brain and nerves through hypoxia will prolong reaction time of the pilot which is a main factor to increase the risk of catastrophic in the flight mission. Methodology: A quasi experiment study with a pre and post test design on 64 Indonesian Military Pilot's candidate's age 22-26 years was conducted. Hemoglobin, oxygen saturation, cardio respiratory function, blood sugar and reaction time at ground level was measured. Subjects were exposed to a simulated altitude of 18.000 feet for hypoxia condition in the hypobaric chamber. Hypoxia condition was indicated by 65-72% oxygen saturation. Reaction times at ground level and at 18.000 feet were measured. Results: Reaction time was significantly longer at 18.000 feet (100.11 m sec ± 15.76) compared to ground level (90.98 m sec ± 14.53) (p < O.05). Prolonged reaction time at 18.000 feet is due to decrease of the speed of mental process in brain and nerves caused on reduced oxygen supply. Hemoglobin level showed strong correlation with prolonged reaction time (p-0,000). Conclusion: Hypoxia at a simulated altitude of 18.000 feet prolonged reaction.
Read More
T-1006
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Gathmyr; Pembimbing: Bastaman Basuki; Penguji: Maryunani, Dewi Soemarko
Abstrak:

LATAR BELAKANG: Terbang dengan menggunakan pesawat yang memiliki kecepatan tinggi melebihi kecepatan suara (high performance air craft), yang mampu menghasilkan akselerasi +5Gz sampai +9Gz bahkan lebih terutama pada saat melakukan manuver, merupakan suatu tantangan tersendiri yang membutuhkan kepaiawaian dan sikap profesional. Banyak faktor yang mempengaruhi relaxed +Gz force tolerance seperti mean arterial pressure, hasil puncak ekspirasi dan posisi tubuh.METODE: Desain penelitian adalah studi korelasi, yang dilakukan di Lakespra Saryanto Jakarta. Dengan menggunakan populasi semua bakal calon penerbang TNI AU dan subyek dipilih secara random sederhana, semua yang memenuhi kriteria inklusi diambil. Sampel yang diambil sebanyak 31 orang, data yang dikumpulkan berasal dari kuesioner, pencatatan human centrifuge. Hasil penelitian kemudian dilakukan uji statistik berupa analisis regresi inner untnk melihat pengaruh arus puncak ekspirasi terhadap relaxed+Gz force tolerance serta faktor faal yang berpengaruh.HASIL: Rata-rata relaxed +G, -force tolerance 7,51 ± 0,71 G, selanjutnya beberapa faktor yang berpengaruh terhadap relaxed +Gr force tolerance antara lain arus puncak ekspirasi: koefisien regresi sebesar -0,358 dan kemaknaan p = 0,073; mean arterial pressure: koefisien regresi sebesar 0,047 dan kemaknaan p = 0,065, serta forced expiratory in 1 second: koefisien regresi sebesar 1,246 dan kemaknaan p = 0,012) dan yang paling dominan adalah-forced expiratory in l second.KESIMPULAN: Relaxed ±Gz force tolerance dipengaruhi oleh arus puncak ekspirasi. Di samping itu relaxed G tolerance berkaitan pula dengan mean arterial pressure dan FEV1.


 

BACKGROUND: The Influence of Peak Expiratory Flow Rate to Relaxed +Gz Force Tolerance at Human Centrifuge Training in Pilot Candidates of Indonesian Air Force 2002BACK GROUND: Flying high performance fighter aircraft is a challenging and demanding profession which regularly imposes significant acceleration force on pilot, particularly during air combat maneuvering, in which +Gz level of +5 to ±9 G or more are frequently experienced. Relaxed +Gz force tolerance is influenced by mean arterial pressure, peak expiratory flow rate and body position.METHODS: Correlation study design was chosen for this research in Lakespra Saryanto. Simple random sampling is used to choose the subject from all pilot candidates in the population. Thirty one subjects were selected consecutively according to inclusion criteria. Data collected from questionnaire, human centrifuge records. The results were analyzed by linear regression analysis to evaluate the influence of peak expiratory flow rate and relaxed +Gz tolerance, and other physiological factors which might influence the relaxed +Gz tolerance.RESULTS: The mean value of relaxed +Crz tolerance was 7,51 ± 0,71G. Several factors that influence of relaxed +Gz tolerance was peak expiratory rate (regression coefficient - 0,358, p = 0,073); mean arterial pressure (regression coefficient =0,047, p = 0,065); forced expiratory volume in 1 second (regression coefficient 1,246, p = 0,012). The most dominant was forced expiratory volume in 1 second.CONCLUSIONS: Relaxed +Gz force tolerance was influenced by peak expiratory flow rate, forced expiratory volume in 1 second and mean arterial pressure.

Read More
T-1322
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suhartono; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf
S-3418
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
J. Handoko Koesnadi; Pembimbing: Otto Maulana
T-877
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendro Yulieanto; Pembimbing: Joedo Prihartono; Penguji: Herman Mulijadi, Dewi S. Soemarko
Abstrak:

LATAR BELAKANG : Penerbang yang mengawaki pesawat tempur canggih memiliki peluang besar untuk terpajan gaya + Gz tinggi dengan durasi yang cukup lama (High Sustained G). Untuk mengurangi bahaya pajanan gaya ini, penerbang tempur harus melakukan Anti G Straining Maneuver (AGSM), padahal dikeluhkan bahwa AGSM yang harus dilakukan berulang-ulang dengan intensitas tinggi cepat mengakibatkan kelelahan. Diyakini bahwa tingkat kesamaptaan otot yang baik akan meningkatkan kemampuan penerbang bertahan terhadap High Sustained G.HIPOTESIS : Penelitian ini bertujuan membuktikan kebenaran hipotesis bahwa terdapat hubungan antara tingkat kesamaptaan jasmani B (kesamaptaan otot) dan durasi ketahanan tehadap High Sustained G.METODE : Subyek dipajankan terhadap gaya +8 Gz dan diinstruksikan untuk bertahan selama mungkin sampai merasakan kelelahan, dalam latihan Simulated Air Combat Maneuver (SACM) dengan Human Centrifiige. Ketahanan penerbang dinilai dengan lamanya durasi bertahan. Tingkat kesamaptaan jasmani B (kesamaptaan otot) subyek dinilai dengan prosedur test kesamaptaan jasmani yang diberlakukan di TNT AU.HASIL : Dari 25 orang pilot yang semula mengikuti penelitian ini, 2 orang dikeluarkan karena mengalami mabuk gerak yang parah. Rata-rata umur dan jam terbang subyek adalah 28,0 (SD 3,4) tahun dan 501,4 (SD 232,3) jam. Ditemukan adanya hubungan yang kuat antara tingkat kesamaptaan jasmani B (kesamaptaan otot) dengan durasi bertahan terhadap High Sustained G (r = 0,76 ; p < 0,01). Repetisi gerakan Push up dalam tes samapta B memiliki hubungan yang sangat kuat dengan durasi ketahanan terhadap High Sustained G (r = 0,85., p < 0,01).KESIMPULAN Tingkat kesamaptaan jasmani B (kesamaptaan otot) dapat digunakan untuk memprediksi durasi bertahan terhadap High Sustained G di kalangan penerbang tempur TNT AU. Latihan beban dengan fokus pada kelompok otot dada kemungkinan akan dapat mengurangi kelelahan yang terjadi saat melakukan AGSM.


 

BACKGROUND : Fighter pilots flying high performance airera is are often subjected to high levels of headword (+ Gz) acceleration. In order to reduce dangerous effect of this type of acceleration pilots must perform the Anti G Straining Maneuver (AGSM), eventhough there are a number of complaints that this repeated and high intensity maneuver is perceived very fatiguing. It seems that a good muscle fitness will increase pilot's High Sustained G enduranceHYPOTHESIS: This study aimed to define correlations between muscle fitness levels and High Sustained G durations.METHODS : Subjects were exposed to +8 Gz plateaus during a Human Centrifuge Simulated Air Combat Maneuver (SACM) until volitional fatigue. High Sustained G endurances were evaluated by measuring the exposure durations. Muscle fitness levels were determined using a standardized test protocol of Indonesian Air Force.RESULTS : Twenty five pilots participated in this study. Because of severe motion sickness 2 pilots were eliminated. Their age and flying hours averaged 28,0 (SD 3,4) years and 501,4 (SD 232,3) hours. Strong correlation was found between muscle fitness levels and High Sustained G durations (r = 0,75 ; p < 0,01). Push up test item had a very strong correlation with High Sustained G durations (r = 0,85 ; p < 0,01).CONCLUSION The results indicate that the muscle fitness levels can be used to predict High Sustained G durations performed by Indonesian Air Force fighter pilots during SACM. Weight training focused on chest muscle groups may reduce fatigue while performing AGSM.

Read More
T-1522
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Dewa Ketut Kerta Widana; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Tata Soemitra, Hendra
T-2239
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Aditya Kamallah; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan/; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:

Polutan udara dalam ruangan, khususnya PM2.5 memberikan dampak buruk bagi kesehatan penghuni ruangan. Salah satu pengendalian untuk menurunkan konsentrasi PM2.5 adalah dengan menggunakan filter HEPA. Filter HEPA memiliki desain bahan filter yang dilipat-lipat untuk memperbesar luas permukaan filter. Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pengaruh jumlah lipatan pada filter HEPA berbahan meltblown nonwoven polypropylene terhadap efektivitas filter dalam menurunkan konsentrasi PM2.5 di dalam ruangan. Penelitian dilakukan dalam bentuk eksperimen yang dilakukan di laboratorium Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Larutan KCl 5% disebarkan dalam bentuk partikulat ke dalam ruang uji dan digunakan berbagai variasi filter HEPA dengan jumlah lipatan berbeda untuk dilihat efektivitasnya menurunkan konsentrasi PM2.5. Variasi jumlah lipatan pada filter HEPA yang dilakukan pengujian adalah kepadatan lipatan 1 lipatan/cm, 2 lipatan/cm, dan 3 lipatan/cm. Data PM2.5 dikumpulkan secara langsung dengan CEM Air Particle Counter DT-9881. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara tiga kelompok pengujian, tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap efektivitas filter HEPA jika dilakukan uji statistik terhadap rata-rata efektivitas filter. Sementara secara praktis, filter 2 lipatan/cm memiliki rata-rata efektivitas paling baik antara ketiga variasi jumlah lipatan, yaitu sebesar 95,28% dan memasuki kategori filter E11.


Indoor air pollution, especially PM2.5, adversely affects its occupants. One of the solutions to reduce PM2.5 concentration is using HEPA Filters. HEPA Filters are designed with pleats to broaden the filter’s surface area. This study aims to research the influence of different pleat count on melt-blown nonwoven polypropylene HEPA Filter on the effectiveness of reducing PM2.5. This research was an experimental study in the occupational and health laboratory, faculty of public health, Universitas Indonesia. A mixture of potassium chloride was dispersed in the form of particulate to the experimentation room and various HEPA filters with different pleat counts were used to see their effectivity in reducing PM2.5 concentration. Variations of pleat count that were used in these experiments were HEPA filters with pleat density of 1 pleat/cm, 2 pleats/cm, and 3 pleats/cm. Data of PM2.5 are directly read and stored with CEM Air Particle Counter DT-9881. Research finds between three variations of pleat count; there were no statistical significance between the average effectiveness percentage of each pleat count variants. Although not statistically significant, filter with pleat density of 2 pleats/cm has the highest effectiveness average between three variations, which is 95,28%, where it’s classified as E11 filter category.

Read More
S-11880
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maura Emillia Kirana; Pembimbing: Mufti Wirawan; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Winanda Mashlahat
Abstrak: Bekerja di ketinggian merupakan aktivitas yang memiliki risiko tinggi. Kasus jatuh dari ketinggian berkontribusi atas 38% dari 105.182 kasus kecelakaan kerja di sektor konstruksi. Pada tahun 2020 dan 2021, PT.X memiliki dua kecelakaan jatuh dari ketinggian. Pengaruh organisasi menjadi kontributor paling besar dalam kedua kasus yang ada. Studi ini membahas secara mendalam terkait analisis kecelakaan bekerja di ketinggian yang terjadi pada PT.X pada tahun 2020-2021 menggunakan aspek human factors. Pada analisis kecelakaan, akan digunakan salah satu teori human factors yaitu Swiss Cheese Model dengan tools turunan yaitu Human Factors Analysis and Classification. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan menggunakan data sekunder serta wawancara dengan pihak PT.X. Penggunaan aspek human factors pada kecelakaan bekerja di ketinggian akan menemukan kondisi laten dan kegagalan aktif yang dapat menjadi faktor-faktor kontributor terhadap kecelakaan. Kondisi laten yang ditemukan antara lain kurangnya kesadaran manajemen dalam menegakkan aspek keselamatan, belum tersedianya fasilitas pendukung safety yang optimal, dan lainnya. Sedangkan kondisi aktif yang berkontribusi antara lain pengetahuan dan pelatihan yang kurang dari pekerja tentang bahaya serta pengendalian di tempat kerja, pelanggaran aturan kerja, dan lainnya. Peneliti menyarankan untuk PT.X melakukan perbaikan atas faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian kecelakaan khususnya di level manajemen dan organisasi.
Working at heights is a high-risk activity. Falls from heights accounted for 38% of the 105,182 work accidents in the construction sector. In 2020 and 2021, PT.X had two falls from a height. Organizational influence is the biggest contributor in both cases. This study discusses in depth the analysis of work accidents at the height that occurred at PT.X in 2020-2021 using human factors aspects. In the accident analysis, one of the theories of human factors will be used, namely the Swiss Cheese Model with derivative tools, namely Human Factors Analysis and Classification. The research method used is a case study using secondary data and interviews with PT.X. The use of human factors aspects in accidents at work will find latent conditions and active failures that can be contributing factors to accidents. Latent conditions found include lack of management awareness in enforcing safety aspects, unavailability of optimal safety support facilities, and others. While active conditions that contribute include lack of knowledge and training of workers about hazards and controls in the workplace, violation of work rules, and others. Researchers suggest PT.X make improvements to the factors that contribute to the incidence of accidents, especially at the management and organizational levels.
Read More
S-11066
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Foury Krisyunanto; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Yuni Kusminanti
S-5927
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yurizal Rahman; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Doni Hikmat Ramadhan, Eko Pudjadi, Lina Warlina
T-3409
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive