Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34871 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Luthfida Anisa Kurnia, Soedjajadi Keman
JKL Vol.7, No.2
Surabaya : Departemen KL FKM Unair, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Purnama Ning Cahya; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Hendra, Suningrat
Abstrak: Skripsi ini membahas tingkat konsentrasi debu PM2,5 dan keluhan saluran pernapasan pada pekerja di PT. X Plant Kasablanka Tahun 2016. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian menyarankan bahwa PT. X Plant Kasablanka dengan uji statistik yang tidak ditemukan hubungan antara kadar PM2,5 dengan keluhan pernafasan, namun perlu dilakukan evaluasi terhadap kesehatan pekerjaan dan pencegahan terhadap timbulnya gangguan kesehatan yang disebabkan bahan-bahan kimia berbahaya dikarenakan kadar PM2,5 yang tinggi pada dua area di tempat kerja PT. Ready Mix Plant Kasablanka. Pekerja dengan keluhan pernafasan lebih banyak dari pada yang tidak ada keluhan, usia para pekerja yang kebanyakan lebih dari 30 tahun, yang merupakan usia yang rentan dengan gangguan saluran pernafasan, banyak pekerja yang memiliki masa kerja lebih dari 6 bulan dan terpapar > 8 jam perhari dan banyaknya keluhan pernafasan pada pekerja yang tidak menggunakan masker. Pengendalian terhadap bahaya faktor-faktor yang ada atau timbul dilingkungan kerja dimaksudkan untuk menciptakan atau memelihara lingkungan kerja agar tetap sehat dan aman atau memenuhi persyaratan kesehatan dan norma keselamatan, sehingga tenaga kerja terbebas dari ancaman gangguan kesehatan dan keamanan atau tenaga kerja tidak menderita akibat kerja dan tidak mendapatkan kecelakaan kerja. Kata Kunci: Partikulat PM2,5, Industri ready mix, keluhan saluran pernapasan This thesis discuss dust concentration levels of PM2,5 and respiratory tract complaints for worker at PT. X Plant Kasablanka year 2016. this study is quantitative research with the descriptive design. The result of study suggest that PT. X Plant Kasablanka statistical test that no relationship was found between the levels of PM2,5 with respiratory complaints, but need to be evaluated and to the health of the job and the prevention of the onset of health problems caused by harmful chemicals due to high levels of PM2,5 in two areas workplace PT. Ready Mix Plant Kasablanka. Workers with respiratory complaints more than that no complaints, the age of the workers were mostly over 30 years, which is a vulnerable age with respiratory disorders, many workers who have a work period of more than 6 months and exposed to > 8 hours per day and, the number of respiratory symptoms in workers who are not wearing masks. Control of the danger factors that exist or arise in the work environment is intended to create or maintain a working environment in order to remain healthy and safe or meets the requirements of health and safety norms, so that labor is free from the threat of disruption of health and safety or workers do not suffer as a result of the work and do not get a work accident. Key Word: Particulate PM2,5, Industry ready mix, respiratory tract complaints
Read More
S-9311
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ashila Diza Rahmadini; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Agus Sudarman
Abstrak: Skripsi ini membahas mengenai dampak dari pajanan PM2,5 yang dihubungkan dengan gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) Eksaserbasi Akut pada pekerja di Pelabuhan Tanjung Priok tahun 2018. Penelitian ini adalah penelitian observasi dengan pendekatan cross-sectional dan dilakukan pada titik-titik kemungkinan pencemaran tinggi terjadi yang melibatkan 75 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pajanan PM2,5 pada pelabuhan sudah melebihi kadar diberikan WHO yaitu 35 µm/m3 dan jumlah responden yang mengalami gejala PPOK Eksaserbasi Akut sudah berada di atas prevalensi PPOK DKI Jakarta, yaitu 1,6%. Secara statistic, data menunjukkan tidak ada kaitan antara PM2,5 dengan kejadian gejala PPOK Eksaserbasi Akut. Temuan ini menyarankan bahwa adanya perbaikan dari perilaku hidup pekerja dan pemberian APD yang tepat.
Kata kunci: PPOK, Eksaserbasi, PM2,5, Pelabuhan, Polusi

Pollution of Particulate Matter2,5 or PM2,5 happens one of them caused by emission. According to studies, one of the places with highest activity that caused the release of this emission in in ports. Port activities such as delivering goods to and from the port caused high amount of PM2,5 to be released to the air and it can affect field worker, one of them is Acute Exacerbation Chronic Obstructive Pulmonary Disease or AECOPD. The study used observational design study with cross-sectional approach to 75 field workers whom had worked more than 1 year. The statistic showed that the PM2,5 level has exceeded WHO limit of 35 µm/m3 while showed that there is no significance between PM2,5 and AECOPD Symtomps. The study suggested that health behavior of the workers should be changed, including using appropriate safety equipment
Key words: AECOPD, PM2,5. Port, Pollution
Read More
S-9768
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Verry Adrian; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Helda, Dwi Oktavia Tatri Lestari Handayani, Agus Fitri Atmoko
Abstrak:
Infeksi SARS CoV-2 sebagai penyebab terjadinya pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) kini menjadi perhatian kesehatan masyarakat. Pada kasus COVID-19 yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian, sehingga tidak jarang membutuhkan perawatan intensif. Diduga komorbiditas akan memperberat kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak komorbiditas yakni hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit paru obstrktif kronis terhadap kejadian perawatan intensif pada pasien COVID-19 di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan menggunakan data registri pasien COVID-19 milik Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pada Maret-Juni 2020 yand diperoleh dari formulir pencatatan dan pelaporan COVID-19. Kriteria inklusi adalah usia lebih dari 18 tahun, terdiagnosis COVID-19 dari hasil pemeriksaan swab PCR positif, dan pasien dirawat di Rumah Sakit di DKI Jakarta. Kriteria eksklusi adalah memiliki kondisi imunodefisiensi (HIV, keganasan, sedang menjalani kemoterapi atau radiasi). Data dianalisis secara bivariat dan multivariat menggunakan regresi logistik multipel dengan mempertimbangkan kovariat berupa usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, jumlah gejala dan durasi gejala yang dialami. Berdasarkan 12 699 pasien terkonfirmasi COVID19 pada periode penelitian, terdapat 6 359 pasien yang memenuhi kriteria penelitian ini. Diketahui 623 (9,8%) mengalami hipertensi, 421 (6,62%) mengalami diabetes melitus, dan 133 (2,09%) mengalami PPOK. Sebanyak 166 (2,61%) diantaranya mendapat perawatan di ICU. Setelah dikontrol kovariat, ketiga komorbiditas tersebut secara independen meningkatkan risiko kebutuhan perawatan di ICU, tertinggi pada penderita hipertensi tanpa diabetes yang memiliki lebih dari 2 gejala OR 23,98 (IK95% 12,8344,83) diikuti penderita hipertensi yang disertai diabetes dan lebih dari 2 gejala OR 16,53 (IK95% 8,76-31,17). Penderita PPOK memiliki risiko OR 1,80 (IK95% 0,95-3,40) untuk dirawat di ICU. Disimpulkan bahwa hipertensi, diabetes melitus, dan PPOK meningkatkan risiko perawatan di ICU pada pasien COVID-19 di DKI Jakarta.

COVID-19 cases can lead to pneumonia, acute respiratory distress syndrome, acute kidney failure, and death. The presence of comorbidities are tought to worsen that condition. This study aimed to investigate impact of hypertension, diabetes mellitus, and chronic obstructive pulmonary disease to admission to intensive care unit (ICU) among COVID-19 patients in DKI Jakarta. This cross sectional study utilize COVID-19 patients registry data owned by DKI Jakarta Provincial Health Office from March to June 2020. Inclusion criteria are aged 18 years old or older, confirmed by positive PCR swab test result, and hospitalized in DKI Jakarta. Exclusion criteria are patients with immunodeficiency condition (HIV, malignancy, in chemotherapy or radiation therapy). Data were analyzed in bivariate and multivariate analysis using multiple logistic regression by considering covariates (age, sex, working status, number of symptoms, and duration of symptoms). Among 12 699 patients, 6 359 were included. Approximately 623 (9,8%) had hypetension, 421 (6,62%) had diabetes mellitus, and 133 (2,09%) had COPD. Among them, 166 (2,61%) were admitted to ICU. After controlling for covariates, those comorbidities are independently increase risk of ICU admission. The highest risk are found among hypertension patients without diabetes melitus and had more than two symptoms OR 23,98 (95%CI 12,83-44,83) followed by hypertension patients with diabetes melitus and had more than two symptoms OR 16,53 (95%CI 8,76-31,17). COPD patients had risk OR 1,80 (95%CI 0,95-3,40) for ICU admission. In conclusion, hypertension, diabetes mellitus, and COPD increase risk of ICU admission among COVID-19 patients in DKI Jakarta.
Read More
T-6097
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naijla Irly Shaliha; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Budi Haryanto, Sariman
S-12264
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iceu Siti Nurzanah; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Penguji: Laila Fitria, Sri Yuni Budi Utami
S-4363
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Nur Ghania; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Mauliate Duarta C.
Abstrak:
Latar belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan masalah kesehatan yang menempati peringkat ketiga penyebab kematian di seluruh dunia. PPOK secara umum dapat terjadi karena adanya paparan zat/partikel secara terus menerus sehingga memicu adanya penyempitan saluran napas. Kabupaten Karawang dan Kota Bogor sebagai wilayah industri dapat memicu peningkatan kejadian PPOK. Selain itu, prevalensi perokok ≥ 35 tahun di Kabupaten Karawang sebesar 63,05% dan Kota Bogor sebesar 56,83% juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya PPOK. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian PPOK pada penduduk usia ≥ 40 tahun di Kabupaten Karawang dan Kota Bogor tahun 2022. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang menggunakan data deteksi dini PPOK pada tahun 2022. Hasil: Penelitian ini memperlihatkan adanya faktor yang berhubungan dengan kejadian PPOK yaitu usia (POR 1,83; 95% CI 0,69 – 4,86; dan POR 17,6; 95% CI 3,60-85,9), riwayat asma (POR 4,84; 95% CI 1,05-22,21), derajat merokok (POR 5,8; 95% CI 2,17-15,50; dan POR 16,61; 95% CI 4,40-62,69), pekerjaan (POR 1,49; 95% CI 0,20-10,68; POR 0,10; 95% CI 0,02-0,46; POR 1,14; 95% CI 0,19-6,91; dan POR 0,03; 95% CI 0,004-0,25) serta konsumsi sayur/buah (POR 8,36; 95% CI 1,93-36,21). Kesimpulan: Angka kejadian PPOK yang diketahui sebesar 2,1% memperlihatkan adanya hubungan antara usia, riwayat asma, derajat merokok, pekerjaan, dan konsumsi sayur/buah dengan kejadian PPOK pada penduduk usia ≥ 40 tahun di Kabupaten Karawang dan Kota Bogor tahun 2022.

Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a health problem that ranks third as the cause of death worldwide. COPD can generally occur due to continuous exposure to substances/particles that trigger narrowing of the airways. Karawang Regency and Bogor City as industrial areas can trigger an increase in the incidence of COPD. In addition, the prevalence of smokers ≥ 35 years in Karawang Regency is 63.05% and in Bogor City is 56.83%, which can also increase the likelihood of COPD. Objective: This study aims to determine the factors associated with the incidence of COPD in residents aged ≥ 40 years in Karawang Regency and Bogor City in 2022. Methods: The method used in this study is a quantitative method with a cross-sectional study design that uses early detection data for COPD in 2022. Results: This study shows the factors associated with the incidence of COPD, namely age (POR 1,83; 95% CI 0,69 – 4,86; and POR 17,6; 95% CI 3,60-85,9), history of asthma (POR 4.84; 95% CI 1.05-22.21), smoking status (POR 5,8; 95% CI 2,17-15,50; dan POR 16,61; 95% CI 4,40-62,69), occupation (POR 1.49; 95% CI 0.20- 10.68; POR 0.10; 95% CI 0.02-0.46; POR 1.14; 95% CI 0.19-6.91; and POR 0.03; 95% CI 0.004- 0.25), and consumption of vegetables/fruits (POR 8,36; 95% CI 1,93-36,21). Conclusion: The incidence rate of COPD is known to be 2.1%, which shows the relationship between age, history of asthma, smoking degree, occupation, and consumption of vegetables/fruits with the incidence of COPD in residents aged ≥ 40 years in Karawang Regency and Bogor City in 2022.
Read More
S-11256
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Riski; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Ema Hermawati, Agus Sudarman
Abstrak: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronik yang ditandai dengan hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif non reversibel. PPOK merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia dan diperkirakan akan menjadi penyebab kematiaan ketiga pada tahun 2020. Hampir 90% dari seluruh kematian karena PPOK terjadi di negara miskin dan berkembang. Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan internasional utama terbesar di Indonesia memiliki peran yang penting dalam arus barang. Aktivitas ini menimbulkan dampak lingkungan yaitu pencemaran udara akibat dari banyaknya kendaraan yang melintas. Salah satunya adalah PM2,5, hasil dari gas buang kendaraan. Kelompok yang berisiko untuk terpapar PM2,5 adalah pekerja di pintu gerbang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara PM2,5 dengan kejadian PPOK pada pekerja di Pintu Gerbang Pelabuhan Tanjung Priok. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah konsentrasi PM2,5, umur, status gizi, riwayat penyakit, kebiasaan berolahraga, derajat berat merokok,penggunaan APD, lama kerja, masa kerja , jarak tempuh dan waktu tempuh. Studi yang dipilih adalah cross sectional dengan jumlah pekerja yang diikutkan dalam penelitian sebanyak 75 pekerja. Pengukuran PM2,5 dilakukan pada 30 titik di pintu gerbang Pelabuhan Tanjung Priok dengan menggunakan Haz Dust EPAM 5000. Sedangkan untuk identifikasi kejadian PPOK menggunakan tes spirometri dan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM 2,5 dengan kejadian PPOK nilai p =0,149. Sedangkan untuk variabel lain, hanya penggunaan APD yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian PPOK, nilai p= 0,001 (OR=6,9; 95%CI;2,1 -22,8). Sementara itu umur (OR=1,5; 95%CI : 0,5-4,1), status gizi (OR=1,5; 95%CI : 0,5- 4,6), riwayat penyakit (OR =1,7 ;95%CI : 0,2-20,6), kebiasaan berolahraga (OR= 2,3;95%CI :0,8-6,9), lama kerja (OR= 1,1;95%CI :0,4-3,2), masa kerja (OR=2,2; 95% CI : 0,8-6,5), jarak tempuh(OR= 2,3 ; 95%CI; 0,7-6,9) dan waktu tempuh (OR=1,9 ;95%CI; 0,6-5,9). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat variabel konfounding yang dapat mengontrol variabel PM2,5 terhadap kejadian PPOK dan terjadi perubahan nilai p PM2,5 dari 0,448 menjadi 0,426 dan nilai OR 1,002. Perlu adanya penelitian lanjutan dengan pendekatan longitudinal untuk mengatahui besar risiko PM2,5 terhadap kejadian PPOK.
Kata Kunci : PM2,5, PPOK, Pelabuhan, Pekerja
Read More
S-9736
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
A. A. Istri Jayantri Kusuma Wardhani; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Kurnia Sari, Khaterina Kristina Manurung
S-12418
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
A. A. Istri Jayantri Kusuma Wardhani; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Kurnia Sari, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Latar Belakang: PPOK merupakan penyakit kronis saluran napas dengan beban kesehatan dan ekonomi yang terus meningkat di Indonesia, dengan total belanja BPJS Kesehatan untuk PPOK mencapai Rp1,8 triliun pada periode 2018–2022. Namun, data Cost of Illness (COI) PPOK yang komprehensif dan berskala nasional berbasis klaim BPJS Kesehatan hingga saat ini belum tersedia. Tujuan: Menganalisis besaran rata-rata COI PPOK pada peserta JKN serta faktor-faktor yang memengaruhinya berdasarkan Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2025. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder dari Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2025, mencakup 4.400 peserta JKN dengan diagnosis PPOK (J44) pada periode pelayanan Januari–Desember 2024. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat (Chi-Square dan regresi logistik sederhana), dan multivariat, dengan seluruh estimasi biaya menggunakan data terbobot (weighted) untuk merepresentasikan populasi peserta JKN dengan PPOK secara nasional. Kategorisasi COI ditentukan berdasarkan nilai median (Rp1.173.448). Hasil: Berdasarkan estimasi terbobot, total COI peserta JKN dengan PPOK secara nasional diperkirakan sebesar Rp919.452.637.279 untuk 405.246 peserta, terdiri dari biaya medis langsung sebesar Rp756.652.637.279 (82,3%) dan biaya tidak langsung sebesar Rp162.800.000.000 (17,7%), dengan rata-rata COI per peserta sebesar Rp2.253.992 per tahun. Sebanyak 53,3% peserta termasuk kategori COI rendah dan 46,7% kategori COI tinggi. Seluruh 11 variabel independen (jenis kelamin, usia, segmentasi peserta, hak kelas rawat, tipe FKRTL, kepemilikan FKRTL, status eksaserbasi, komorbiditas, kunjungan RJTL, kunjungan RITL, dan lama hari rawat) memiliki hubungan yang signifikan dengan COI (p-value = 0,001). Kesimpulan: Setelah dikontrol seluruh variabel, frekuensi kunjungan RJTL lebih dari tiga kali merupakan determinan COI terkuat, diikuti status eksaserbasi akut, komorbiditas, usia ≥60 tahun, tipe FKRTL, kepemilikan FKRTL, hak kelas rawat, segmentasi peserta, dan jenis kelamin. Variabel kunjungan RITL dan lama hari rawat tidak dapat diikutsertakan dalam model multivariat akibat kondisi complete separation, meskipun keduanya menunjukkan hubungan signifikan pada analisis bivariat.

Background: COPD is a chronic respiratory disease with an escalating health and economic burden in Indonesia, with BPJS Kesehatan expenditure reaching IDR 1.8 trillion during 2018–2022. However, comprehensive national-level COI data for COPD based on BPJS Kesehatan claims remains unavailable. Objective: To analyze the average COI of COPD among JKN participants and its associated factors using BPJS Kesehatan Sample Data 2025. Methods: A quantitative cross-sectional study using secondary data from the BPJS Kesehatan 2025 Sample Data, covering 4,400 JKN participants diagnosed with COPD (J44) during January–December 2024. Univariate, bivariate (Chi-Square and simple logistic regression), and multivariate analyses were conducted, with all cost estimates weighted to represent the national population of JKN participants with COPD. COI categorization was based on the median value (IDR 1,173,448). Results: Based on the weighted estimate, total national COI reached IDR 919,452,637,279 for 405,246 participants, comprising direct medical costs of IDR 756,652,637,279 (82.3%) and indirect costs of IDR 162,800,000,000 (17.7%), with a mean COI per participant of IDR 2,253,992 per year. A total of 53.3% of participants were categorized as low COI and 46.7% as high COI. All 11 independent variables (sex, age, participant segmentation, inpatient class entitlement, FKRTL type, FKRTL ownership, exacerbation status, comorbidities, outpatient visit frequency, inpatient visit frequency, and length of stay) showed significant associations with COI (p-value = 0.001). Conclusion: After controlling for all variables, outpatient visit frequency exceeding three times was the strongest determinant of COI, followed by acute exacerbation status, comorbidities, age ≥60 years, FKRTL type, FKRTL ownership, inpatient class entitlement, participant segmentation, and sex. Inpatient visit frequency and length of stay could not be included in the multivariate model due to complete separation, despite showing significant associations in the bivariate analysis.
Read More
S-12418
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive