Ditemukan 36584 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Latar belakang: Kerusakan gigi pada anak sekolah menjadi masalah serius yang mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari-hari. Literasi kesehatan berperan penting dalam kemampuan orang tua anak untuk mengakses, memahami, menilai dan menerapkan informasi kesehatan untuk mengambil keputusan terkait sikap tanggung jawab kesehatan. Puskesmas Pasir Jaya Kabupaten Tangerang memiliki 18 sekolah binaan program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) dengan persentase karies gigi sebanyak 69%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan literasi kesehatan dengan tanggung jawab kesehatan orang tua akan kesehatan gigi anak. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan survei melalui kuesioner. Jumlah sampel sebanyak 244 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi HLS-EU-Q16 dan PACOH. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman rho. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran tautan kuesioner kepada orang tua serta koordinasi dengan pihak puskesmas dan wali kelas. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan orang tua dengan tanggung jawab akan kesehatan gigi anak dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,210 dengan nilai signifikansi 0,001 (p < 0,05). Kesimpulan: adanya hubungan positif antara literasi kesehatan dengan tanggung jawab kesehatan, meskipun berada pada kategori lemah.
Background: Dental caries among school-aged children remains a serious public health problem that can interfere with daily activities. Health literacy plays an important role in parents’ ability to access, understand, appraise, and apply health information when making decisions related to health responsibility. Pasir Jaya Primary Health Center, Tangerang Regency, supervises 18 schools under the School Dental Health Program (UKGS), with a dental caries prevalence of 69%. This study aimed to analyze the relationship between health literacy and parental health responsibility toward children’s oral health. Methods: This study employed a cross-sectional design with a survey approach using questionnaires. A total of 244 respondents were selected through purposive sampling. The instruments used were the HLS-EU-Q16 and PACOH questionnaires. Data were analyzed using the Spearman rho correlation test. Data collection was conducted by distributing a questionnaire link to parents and coordinating with the public health center and homeroom teachers. Results: There was a significant relationship between parental health literacy and responsibility for children’s dental health, with a correlation coefficient of 0.210 and a significance value of 0.001 (p < 0.05). Conclusion: There is a positive relationship between health literacy and health responsibility, although the strength of the relationship is categorized as weak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan, pengetahuan, sikap, keterpaparan informasi, dan peran orang tua memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku pemberian pendidikan seks untuk anak. Peran orang tua merupakan faktor yang paling berhubungan dengan perilaku pemberian pendidikan seks untuk anak (OR = 6,3).
Kata Kunci: Pendidikan, pendidikan seks, pendidikan seks anak
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap petugas puskesmas terhadap Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) di Kota Bandung melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan data primer di empat puskesmas (Salam, Kopo, Pasundan, dan Ibrahim Adji/Kiaracondong) di Kota Bandung pada bulan Oktober - Nopember 2010. Hasil penelitian didapatkan 59.6% petugas puskesmas bersikap positif terhadap ODHA. Faktor yang berhubungan dengan sikap petugas puskesmas terhadap ODHA adalah pengalaman menolong ODHA dengan nilai p=0.016 (OR: 4.827, 95%CI: 1.343-17.349). Artinya, petugas puskesmas yang pernah menolong ODHA akan memberi sikap positif terhadap ODHA sebesar 4.8 kali lebih tinggi dibandingkan petugas puskesmas yang belum pernah menolong ODHA setelah dikontrol variabel dukungan rekan kerja. Hasil penelitian kualitatif ditemukan informasi tentang sikap negatif petugas Puskesmas terhadap ODHA dan mutasi petugas Puskesmas yang mengganggu kelancaran pelayanan kesehatan HIV-AIDS di Puskesmas.
The study was designed to explore the relationship of the factors of health center providers attitude toward People Living with HIV-AIDS (PLWH) in HIV-AIDS Care, through quantitative and qualitative approach using primary data in four health centers (Ibrahim Adjie/Kiaracondong, Kopo, Pasundan, and Salam) in Bandung in October - November 2010. The result showed 59.6% health center providers had positive attitude toward PLWH. Only one factor was significant related to attitude of health center providers toward PLWH with p=0.16 (OR: 4.827, 95% CI: 1.343-17.349). Meaning, there was 4.8 chance for health center providers who had helped PLWH having positive attitude toward PLWH compared with those who never helped PLWH. The qualitative study found negative attitude of health centre providers toward PLWH and mutation of health centre providers was the problem in HIV-AIDS care at health centers in Bandung.
