Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27535 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Interaksi: Maj. Info & Rev. Promkes, ed. 1, 2015, hal. 50-
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meirina Nur Asih Susanti; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Dien Anshari, Beladenta Amalia, Suci Puspita Ratih
Abstrak:
Depresi merupakan kontributor utama beban penyakit global dengan estimasi Disability-Adjusted Life Years (DALYs) mencapai 694,6 per 100.000 penduduk pada tahun 2023. Prevalensi gejala depresi di Indonesia sebesar 1,4% dengan 61% penderita pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya. Di sisi lain, paparan asap rokok pasif (SHS) pada non-perokok masih sangat tinggi, 74,2% di tempat umum dan 44,8% di tempat kerja, namun hubungannya dengan gejala depresi pada populasi dewasa non-perokok di Indonesia belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara paparan SHS dengan gejala depresi pada orang dewasa non-perokok di Indonesia menggunakan data sekunder SKI 2023 dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 353.980 responden dewasa usia 18–59 tahun yang tidak pernah merokok. Gejala depresi diukur menggunakan instrumen MINI ICD-10, sedangkan paparan SHS dikategorikan berdasarkan frekuensi paparan di ruang tertutup. Analisis menggunakan regresi logistik multilevel tiga tingkat dengan penyesuaian bobot survei kompleks. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 67,7% responden terpapar SHS, terdiri dari 21,3% terpapar setiap hari dan 46,4% terpapar tidak setiap hari. Prevalensi gejala depresi sebesar 1,27%, lebih tinggi pada kelompok terpapar SHS setiap hari (1,93%) dibandingkan tidak terpapar (1,09%). Setelah dikontrol seluruh kovariat, paparan SHS setiap hari berhubungan dengan gejala depresi (OR = 1,29; 95% CI: 1,12–1,48), sedangkan paparan tidak setiap hari menunjukkan odds lebih rendah (OR = 0,88; 95% CI: 0,78–0,99). Analisis sensitivitas dengan menggabungkan kategori "tidak terpapar" dan "terpapar tidak setiap hari" sebagai kelompok referensi mengkonfirmasi konsistensi temuan (OR = 1,39; 95% CI: 1,24–1,56), menunjukkan bahwa hubungan antara paparan SHS harian dan gejala depresi bersifat robust. Faktor individu yang berhubungan meliputi penyakit kronis (OR = 2,91; 95% CI: 2,56–3,32), jenis kelamin perempuan (OR = 1,64; 95% CI: 1,37–1,96), tidak bekerja (OR = 1,37; 95% CI: 1,22–1,54), status ekonomi bawah (OR = 1,36; 95% CI: 1,13–1,64), pendidikan rendah (OR = 1,29; 95% CI: 1,14–1,47), dan tidak ada aktivitas fisik (OR = 1,19; 95% CI: 1,05–1,34). Sementara, usia lebih tua berhubungan dengan odds gejala depresi lebih rendah (OR = 0,98; 95% CI: 0,97–0,99), begitupun dengan faktor wilayah, tinggal di pedesaan (OR = 0,77; 95% CI: 0,67–0,88). Nilai Intraclass Correlation Coefficient (ICC) kabupaten/kota sebesar 24,7% mengindikasikan peran konteks wilayah yang masih substansial. Paparan SHS setiap hari terbukti berhubungan dengan gejala depresi pada orang dewasa non-perokok di Indonesia. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sebagai strategi pencegahan berbasis kebijakan, integrasi kesehatan mental dalam program pengendalian tembakau, skrining gejala depresi yang diprioritaskan pada kelompok paling rentan dan wilayah dengan KTR lemah, serta perlunya studi lanjut yang bersifat kuasi-eksperimen atau longitudinal.

Depressive symptoms are a major contributor to the global disease burden, with an estimated 694.6 DALYs per 100,000 population in 2023. The prevalence of depressive symptoms in Indonesia is 1.4%, with 61% of those detected having had thoughts of ending their lives, according to the 2023 SKI. Meanwhile, secondhand smoke (SHS) exposure among non-smokers remains high, 74.2% in public places and 44.8% in workplaces; however, its association with depressive symptoms among non-smoking adults in Indonesia has not been extensively studied. This study aims to investigate the association between SHS exposure and depressive symptoms among non-smoking adults in Indonesia using secondary data from the 2023 SKI with a cross-sectional design. The sample consisted of 353,980 adult respondents aged 18–59 years who had never smoked. Depressive symptoms were measured using the MINI ICD-10 instrument, while SHS exposure was categorized based on frequency of exposure in enclosed spaces. Analysis utilized three-level multilevel logistic regression with complex survey weight adjustments. The results showed that 67.7% of respondents were exposed to SHS, consisting of 21.3% exposed daily and 46.4% exposed non-daily. The prevalence of depressive symptoms was 1.27%, higher among those exposed to SHS daily (1.93%) compared to those unexposed (1.09%). After adjusting for all covariates, daily SHS exposure was significantly associated with depressive symptoms (OR = 1.29; 95% CI: 1.12–1.48), whereas non-daily exposure showed lower odds (OR = 0.88; 95% CI: 0.78–0.99). A sensitivity analysis combining the "unexposed" and "non-daily exposed" categories as a single reference group confirmed the consistency of findings (OR = 1.39; 95% CI: 1.24–1.56), demonstrating that the association between daily SHS exposure and depressive symptoms is robust. Individual-level factors associated with depressive symptoms included chronic disease (OR = 2.91; 95% CI: 2.56–3.32), female sex (OR = 1.64; 95% CI: 1.37–1.96), unemployment (OR = 1.37; 95% CI: 1.22–1.54), lower economic status (OR = 1.36; 95% CI: 1.13–1.64), low education (OR = 1.29; 95% CI: 1.14–1.47), and physical inactivity (OR = 1.19; 95% CI: 1.05–1.34), while older age was associated with lower odds of depressive symptoms (OR = 0.98; 95% CI: 0.97–0.99), as well at the area level, residing in rural areas (OR = 0.77; 95% CI: 0.67–0.88). The Intraclass Correlation Coefficient (ICC) at the district/city level of 24.7% indicated a substantial role of area-level context. Daily SHS exposure was significantly associated with depressive symptoms among non-smoking adults in Indonesia. These findings underscore the importance of strengthening smoke-free area policy enforcement as a policy-based prevention strategy for depressive symptoms, integrating mental health into tobacco control programs, prioritizing depressive symptom screening for the most vulnerable groups and areas with weak smoke-free regulations, and the need for further longitudinal or quasi-experimental studies.
Read More
T-7603
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Buku 1, Republika, hal. 134
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Buku III, Media Indonesia. hal : 33
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tempo: hal 33, 2010
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Duma Tiurma Siagian; Pembimbing: Ratna Djuwita
S-1312
Depok : FKMUI, 1998
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wawang; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Endah Kusumowardani, Ikke Yuniherlina
Abstrak:
Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita di Indonesia. Paparan polusi udara rumah tangga, khususnya dari bahan bakar memasak yang menghasilkan asap, serta paparan asap rokok diduga berperan dalam meningkatkan risiko kejadian pneumonia pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara polusi udara rumah tangga dan paparan asap rokok dengan kejadian pneumonia pada balita di Indonesia.Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Analisis dilakukan pada balita usia 12–59 bulan dengan variabel dependen kejadian pneumonia, serta variabel independen utama berupa bahan bakar memasak dan paparan asap rokok. Variabel kovariat dipilih berdasarkan nilai    p < 0,25 pada analisis bivariat dan pertimbangan teoritis. Analisis data dilakukan secara bertahap menggunakan regresi logistik berganda dengan pendekatan survei (svy) untuk mengontrol variabel perancu serta menguji interaksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi pneumonia pada balita sebesar 1,92%. Pada analisis bivariat, penggunaan bahan bakar memasak yang menghasilkan asap berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia (OR = 1,30; 95% CI: 1,03–1,64; p = 0,030). Pada analisis multivariat model akhir, bahan bakar memasak tetap berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia (OR = 1,30; 95% CI: 1,03–1,65; p = 0,027). Selain itu, status gizi akut (wasting) juga berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia (OR = 1,41; 95% CI: 1,04–1,91; p = 0,028). Paparan asap rokok tidak menunjukkan hubungan yang signifikan baik pada analisis bivariat (OR = 0,86; p = 0,215) maupun multivariat (OR = 1,22; p = 0,306), namun ditemukan adanya efek modifikasi oleh status imunisasi (p = 0,037), dengan efek protektif imunisasi lengkap terhadap dampak paparan asap rokok. Tidak ditemukan interaksi bermakna antara asap rokok dengan variabel lain. Variabel lain seperti jenis kelamin, usia balita, pendidikan ibu, dan status ekonomi menunjukkan hubungan yang bervariasi, dengan sebagian tetap signifikan dalam model akhir. Meskipun tidak ditemukan variabel confounder berdasarkan kriteria perubahan OR ≥ 10%, seluruh variabel tetap dipertahankan berdasarkan pertimbangan statistik dan teoritis. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian pneumonia pada balita bersifat multifaktorial, dengan faktor utama yang berperan adalah bahan bakar memasak dan status gizi akut. Efek bahan bakar memasak juga dipengaruhi oleh faktor sosial seperti pendidikan ibu, sementara paparan asap rokok tidak berhubungan langsung dengan kejadian pneumonia namun dipengaruhi oleh status imunisasi sebagai efek modifikasi. Upaya pencegahan pneumonia perlu difokuskan pada pengendalian polusi udara rumah tangga, pengurangan paparan asap rokok, perbaikan status gizi, serta penguatan program imunisasi dan edukasi kesehatan.

Pneumonia is a leading cause of morbidity and mortality among toddlers in Indonesia. Household air pollution, particularly from smoky cooking fuels, and secondhand smoke exposure are suspected risk factors. This study aims to analyze the relationship between household air pollution and secondhand smoke exposure with pneumonia incidence among toddlers in Indonesia. Using a cross-sectional design, this study analyzed secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) focusing on children aged 12–59 months. Data were analyzed using multiple logistic regression with a survey (svy) approach. The results showed a pneumonia prevalence of 1.92%. Bivariate analysis indicated that smoky cooking fuels were significantly associated with pneumonia (OR = 1.30; 95% CI: 1.03–1.64; p = 0.030). In the final multivariate model, cooking fuel remained significant (OR =1.30; 95% CI: 1.03–1.65; p = 0.027), alongside acute nutritional status/wasting (OR = 1.41; 95% CI: 1.04–1.91; p = 0.028). Secondhand smoke exposure showed no direct significant association in bivariate (OR = 0.86; p = 0.215) or multivariate analysis (OR = 1.22; p = 0.306). However, immunization status acted as a significant effect modifier (p = 0.037), providing a protective effect against smoke exposure. Other variables such as gender, age, maternal education, and economic status showed varying associations. In conclusion, pneumonia incidence is multifactorial, primarily driven by cooking fuel and nutritional status. The impact of cooking fuel is influenced by maternal education, while the effect of smoke exposure is modified by immunization. Prevention efforts should focus on controlling household air pollution, reduced exposure to cigarette smoke, improving nutrition, and strengthening immunization and health education programs.
Read More
T-7506
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faraz Ali; Pembkimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ema Hermawati, Fajar Nugraha, Rindu Rachmiaty
Abstrak:
Asap rokok di rumah (SHS) telah menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di daerah dengan prevalensi merokok yang tinggi seperti Indonesia. Paparan SHS telah dikaitkan dengan gejala pernapasan seperti sesak napas dan batuk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan korelasi antara paparan SHS di rumah dengan gejala pernapasan pada orang dewasa yang tidak merokok di Depok, Indonesia. Sebanyak 108 orang dewasa yang tidak merokok berusia 18–30 tahun, yang terpapar SHS di rumah, direkrut menggunakan teknik sampling kenyamanan untuk penelitian potong lintang. Kuesioner terstruktur yang diisi oleh pewawancara digunakan untuk mengumpulkan data mengenai gejala pernapasan batuk dan sesak napas. Statistik deskriptif digunakan dalam deskripsi karakteristik peserta, dan hubungan antara paparan asap rokok pasif (SHS) dan gejala pernapasan ditentukan menggunakan uji Chi-square. Menurut temuan dari penelitian tersebut, hubungan signifikan secara statistik dari prevalensi gejala pernapasan dengan usia (p = 0,046; OR = 2,63, 95% CI: 1,05–6,55), pekerjaan (p = 0,050; OR = 2,61, 95% CI: 1,04–6,53), frekuensi paparan (p = 0,001; OR = 4,86, 95% CI: 1,84–12,83), dan waktu paparan SHS (p = 0,007; OR = 3,76, 95% CI: 1,43–9,87) ditetapkan. Hasil ini menunjukkan bahwa pria, individu yang terpapar SHS dalam durasi yang lebih lama, terutama yang terpapar lebih dari lima jam, dan individu yang tidak bekerja, memiliki prevalensi gejala yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan adanya risiko kesehatan dari paparan SHS jangka panjang di rumah bagi orang dewasa yang tidak merokok. Hal ini menekankan pentingnya penerapan undang-undang rumah bebas rokok dan kesadaran bahaya SHS di masyarakat.

Secondhand smoke (SHS) home exposures have come to represent a public health concern, especially where there is high prevalence of smoking such as Indonesia. SHS exposures have been linked to respiratory manifestations such as shortness of breath and cough. This study set out to determine the correlation of SHS home exposures with respiratory symptoms among nonsmoking adults in Depok, Indonesia. A total of 108 nonsmoking adults aged 18–30 years old, exposed to SHS at home, were recruited using convenience sampling for the cross-sectional study. A structured interviewer-administered questionnaire was filled to gather data for measurement of respiratory symptoms of cough and shortness of breath. Descriptive statistics were utilized in the description of the participants' characteristics, and the association between second-hand smoke (SHS) exposure and respiratory symptoms was determined using the Chi-square test. According to the findings from the study, statistically significant associations of the prevalence of respiratory symptoms with age (p = 0.046; OR = 2.63, 95% CI: 1.05–6.55), occupation (p = 0.050; OR = 2.61, 95% CI: 1.04–6.53), the frequency of exposure (p = 0.001; OR = 4.86, 95% CI: 1.84–12.83), and the time of SHS exposure (p = 0.007; OR = 3.76, 95% CI: 1.43–9.87) were established These results indicate that male, individuals exposed to SHS for longer durations. Significantly, SHS-exposed subjects for longer than five hours and unemployed subjects showed prevalence of symptoms. It is the study findings with implications of health risks of long SHS home exposures among nonsmoking adults. It vouches for the importance of implementing legislation of smoke-free houses and SHS hazards awareness in the community.
Read More
T-7332
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
kompas
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stevy Elisabeth Dame Simamora; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Helda; Yosyah; Penguji: Soewarta Kosen, Mularsih Restianingrum
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Stevy Elisabeth Dame Simamora Program Studi : Epidemiologi Judul : Pengaruh Paparan Asap Rokok Dari Suami Pada Wanita Usia 15-57 Tahun Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah Di Indonesia (Analisis Data Lanjutan IFLS V Tahun 2014) Pembimbing : DR. dr. Sudarto Ronoatmodjo S.K.M., M.Sc Di Indonesia berdasarkan hasil riskesdas tahun 2013 menunjukkan angka nasional BBLR yaitu sekitar 10,2%. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2011 diperoleh hasil bahwa 67% laki-laki di Indonesia merokok. (1) Sementara itu pada tahun 2011-2015 prevalensi perokok pasif yang terpapar asap rokok di rumah sekitar 78.4%, lebih dari separuh perokok pasif adalah kelompok rentan seperti perempuan dan balita. (2).  Penelitian ini bertujuan untuk menegetahui hubungan paparan asap rokok dari suami pada wanita usia 15-57 tahun dengan kejadian BBLR. Penelitian ini bertujuan untuk menegetahui hubungan paparan asap rokok dari suami pada wanita usia 15-57 tahun dengan kejadian BBLR. Penelitian ini menganalisis data IFLS V tahun 2014.Jumlah wanita usia 15-57 tahun yang menjadi responden IFLS V sebanyak 2.721 orang. Sebanyak 1.599 orang menjadi total sampel karena telah memenuhi syarat kriteria inklusi yaitu wanita  usia 15 – 57 tahun dengan anak kelahiran terakhir yang lahir hidup dalam kurun waktu 2007-2015, Pernah melahirkan. Sedangkan kriteria ekslusi yaitu : data tentang riwayat merokok suamidan variabel kovariat  tidak lengkap, dan ibu merupakan perokok aktif. Proporsi ibu usia 15-57 tahun yang terpapar asap rokok dari suami adalah 73,5 % . Proporsi bayi  dengan berat lahir rendah yang dilahirkan oleh ibu yang terpapar asap rokok dari suami pada penelitian ini adalah 7,74 %, dan  proporsi bblr pada ibu yang tidak terpapar asap rokok dari suami yaitu 6,86%. Terdapat hubungan yang tidak bermakna antara merokok pasif pada ibu usia 15-57 tahun dengan kejadian BBLR dengan 1,096 (CI 95% 0,721-1,66) setelah dikontrol oleh variabel riwayat kunjungan ANC. Pengaruh paparan asap rokok terhadap kejadian BBLR setelah dikontrol oleh variabel riwayat kunjungan ANC tidak bermakna. Meskipun faktor yang mempengaruhi BBLR sangat banyak dan kompleks, namun hal ini dapat dicegah sejak dini. Salah satunya melalui melindungi masyarakat dari paparan asap rokok melalui upaya pencegahan dan promosi kesehatan. Kata Kunci : bblr,merokok pasif, IFLS


ABSTRACT Name : Stevy Elisabeth Dame Simamora Study Program : Epidemiology Title : The Effect of Cigarette Smoke Exposure From Husbands In Women Aged 15-57 Years With Low Birth Weight In Indonesia (Advanced Data Analysis of IFLS V 2014) Counsellor : DR. dr. Sudarto Ronoatmodjo S.K.M., M.Sc In Indonesia based on the results of Riskesdas (Basic Health Research) in 2013 shows the national rate of LWB is about 10.2%. Based on a survey conducted by Global Adult Tobacco Survey (GATS) in 2011, it was found that 67% of men in Indonesia smoke. (1) Meanwhile in 2011-2015 the prevalence of passive smokers exposed to cigarette smoke at home is about 78.4%, more than half of passive smokers are vulnerable groups such as women and toddlers. (2). Objective: This study to see the effect of exposure to husbands cigarette smoke with the LWB. Method: This study analyzed IFLS V data in 2014. A total of 1,599 people into the total sample because it has fulfilled the inclusion criteria, namely women aged 15 - 57 years with the last born birth of children in the period 2007-2015, Ever give birth. While the exclusion criteria are: data about husbans smoking history and  covariate variable is incomplete, and mother is active smoker. Results: 73.5% of husbands were smokers. The proportion of infants with low birth weight born to mothers exposed to cigarette smoke from husbands in this study was 7.74%, and the proportion of bblr in mothers not exposed to cigarette smoke from husbands was 6.86%. There was no significant relationship between passive smoking in women aged 15-57 years with LWB incidence with 1.096 (95% CI 0.721-1.66) after controlled by antenatal care (ANC) visit variables. Conclusion: The effect of exposure to husbands smoke with the  LWB after controlled by antenatal care (ANC) visit history variable is not significant. Although the factors that affect LBW are very numerous and complex, but this can be prevented early on. One of them through protecting people from exposure to cigarette smoke through prevention efforts and health promotion. Key words : LWB, passive smoker, IFLS

Read More
T-5142
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive