Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34092 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tri Budiarti; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Mieke Savitri, Gita Swisari, Elin Herliana
Abstrak: Pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi tergantung cara orang tuamenstimulasinya. Pijat bayi merupakan salah satu cara menstimulasi pertumbuhandan perkembangan bayi dimana hal ini merupakan tradisi yang masih seringdilakukan oleh masyarakat Jawa terutama di Wilayah Kecamatan AdipalaKabupaten Cilacap yang umumnya dilakukan oleh seorang dukun bayi. Penelitianini bertujuan mendapatkan gambaran dan informasi yang mendalam tentang pijatpada bayi di wilayah Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap. Penelitian inimenggunakan pendekatan kualitatif dengan desain RAP. Informasi diperolehmelalui wawancara mendalam pada 10 ibu yang mempunyai bayi 0-11 bulan, 4orang dukun bayi, 2 orang bidan koordinator anak, dan 2 orang kepala puskesmasWilayah Kecamatan Adipala. Hasil penelitian menunjukkan Pijat bayi atau dadahyang dilakukan ibu bayi di wilayah Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacapbelum sesuai dengan pedoman pijat bayi yang dianjurkan Kementrian KesehatanRI karena pijat yang dilakukan pada masyarakat setempat dilakukan pada seluruhtubuh setelah bayi lahir dan pijat saat bayi sakit. Pijat bayi tersebut merupakantradisi turun temurun yang dilakukan oleh dukun bayi dengan manfaat pijat bayiagar peredaran darah lancar, otot-otot rileks, pertumbuhan optimal, tidur nyenyak,dan bayi sehat. Pijat bayi hanya boleh dilakukan pada bayi sehat dan kondisitertentu seperti demam, batuk, pilek, terkilir dan tidak boleh dilakukan terlalusering. Seluruh tubuh bayi boleh dipijat kecuali perut karena ada tali pusat yangbelum lepas dan dapat menyebabkan illeus yaitu gangguan system saraf padausus. Informasi tentang pijat umumnya diperoleh dari keluarga terutama nenekbayi. Saat ini belum ada kebijakan maupun aturan dari pihak puskesmas tentangpijat bayi.Kata kunci: pijat, bayi
Growth and development of a baby depends on how parents stimulatethem. Infant massage is one way of stimulating the growth and development ofbabies where it is a tradition that is still often done by the Java community,especially in the districts of the district Adipala cilacap region that is generallydone by TBAs This study aims to get an overview and in-depth information aboutinfant massage in the District Adipala Cilacap. This study used a qualitativeapproach to the design of RAP. Information obtained through in-depth interviewson 10 mothers who have babies 0-11 months, 4 TBAs, 2 midwives coordinatorchildren, and 2 heads of health centers Adipala District Area. The results showedthat infant massage or do mothers bye baby in the District of Cilacap Adipala notin accordance with the guidelines of infant massage is recommended the Ministryof Health because the massage is done on the local community performed on theentire body after the baby is born and massage when the baby is sick. InfantMassage in District Area Adipala a hereditary tradition performed by TBAs.Benefits of infant massage for smooth blood circulation, relax muscles, optimalgrowth, rest ful sleep, and a healthy baby. Infant massage should only beperformed on healthy babies and under certain conditions such as fever, cough,colds, sprains and should not be done too often. Baby's entire body except theabdomen be massaged because there is not yet off the umbilical cord and cancause illeus. Information about massage is generally obtained from the familyespecially the baby 's grandmother. Currently there are no policies or rules of theclinic on infant massage.Keywords : massage , baby
Read More
T-4739
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ella Ayu Septia Mustika; Pembimbing: Carolina Endah Wuryaningsih; Penguji: Dian Ayubi, Yanti Rahim
Abstrak: Hipertensi menyebabkan 9,4 juta kematian/tahun di dunia. Prevalensi hipertensi diUPT Puskesmas Kecamatan Beji tahun 2016 di peringkat kedua dengan jumlahtotal kasus baru sebanyak 5.406 kasus. Tujuan penelitian untuk mengetahuigambaran kasus hipertensi pada pasien rawat jalan di UPT Puskesmas KecamatanBeji Tahun 2017 ditinjau dari faktor risiko usia, jenis kelamin, riwayat hipertensidalam keluarga, pekerjaan, status gizi, kadar kolesterol total dan kadar trigliserida.Penelitian menggunakan desain potong lintang, menggunakan data sekunderberupa rekam medis. Populasi penelitian sebesar 1.198 pasien. Kriteria inklusiyaitu pasien rawat jalan di UPT Puskesmas Beji, berusia >18 tahun dan telahdidiagnosa hipertensi. Kriteria eksklusi yaitu pasien yang dengan kunjunganulang, tidak memenuhi variabel yang diteliti. Sampel penelitian sebesar 97 pasien.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52,58% pasien kategori hipertensi stadium2. Prevalensi tertinggi pada usia 50-59 tahun yaitu 39,18%. 70,10% pasienberjenis kelamin perempuan. 78,35% pasien tidak bekerja, 53,61% memilikiriwayat hipertensi dalam keluarga, 39,20% pasien obesitas, 61,86% memilikikadar kolesterol >200 mg/dL, dan 63,92% memiliki kadar trigliserida normal.Kesimpulan pada penelitian adalah sebagian besar pasien kategori hipertensistadium 2, perempuan, memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga, tidak bekerja,kadar kolesterol total di atas batas normal, namun kadar trigliserida normal.Prevalensi hipertensi naik seiring peningkatan usia.Kata kunci: Hipertensi, faktor risiko hipertensi.
Read More
S-9561
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vita Chandra Puspita; Agustine Kusumayanti; Penguji: Carolina Endah Wuryaningsih, Rina Artining Anggorodi, IBN Banjar
Abstrak:

Industri seks komersial menjadi penting diperhatikan karena bukan saja menyangkut masalah kualitas moral, namun juga karena banyaknya dampak yang ditimbulkan. Salah satunya adalah penyebaran IMS termasuk HIV/AlDS. Salah satu isu yang mendapat perhatian besar akhir-akhir ini adaJah penggunaan kondom pada industri seks komersial sebagai upaya pencegahan IMS terutama infeksi HIV. Selain di lokalisasi prostitusi. industri seks komersial terkadang terselubung dalam industri hiburan seperti bar, diskotik, karaoke, live music (musik hidup), panti pijat, spa, hotel, dan restoran. Program kondom seratus merupakan program yang dilaksanakan sejak tahun 1995 yang terintegrasi dengan program pencegahan dan pengangguangan HIV/AIDS lainnya. Program kondom seratus persen mempunyai tujuan utama mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual pada kelompok resiko tinggi, salah satunya pada penjaja seks komersial. Pada industry seks komersial fackor yang berpengaruh terhadap penggunaan kondom adalah ekonomi, pengetahuan mengenai kondom, IMS dan HIV/AIDS, ketersediaan kondom di tempat prostitusi, dukungan dari mucikari, petugas LSM dan petugas kesehatan, serta dukungan komitmen dari Pemerintah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dan jenis desain yang digunakan adalah Rapid Assessment Producers (RAP). Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam kepada enam wanita penjaja seks (WPS), dua mucikari/pemi!ik tempat, dua petugas LSM terkait. dan dua petugas kesehatan di Kelurahan Maphar. Hasil penelitian ini menunjukkan belum ter1aksananya Program Kondom 100% di panti pijat yang menjadi lokasi penelitian. Kurangnya dukungan komitmen dari pemerintah, tidak tersedianya akses kondom di tempat seks komersial, tidak adanya peraturan penggunaan kondom. kurangnya dukungan dari mucikari, dan faktor ekonoml menjadi hambatan pelaksanaan Program Kondom seratus persen di Kelurahan Maphar, Di panti pijat yang menjadi lokasi penelitian tidak terdapat peraturan penggunaan kondom, dan tidak semua panti pijat menyediakan kondom. Terdapat perbedaan karakteristik WPS dan pelanggan WPS yang menggunakan dan yang tidak menggunakan kondom. Dukungan manajer panti pijat hanya sebatas mengingatkan penggunaan kondom. Peran petugas LSM adalah melakukan penyuluhan IMS, pendampingan, dan bantuan pemberian kondom. Peran petugas kesehatan terutama melakukan pemeriksaan kesehatan, selain itu petugas kesehatan juga melakukan penyuluhan IMS dan bantuan pemberian kondom. Dengan demikian untuk meningkatkan pencapaian Program Kondom Seratus Persen perlu adanya kerja sama dari instansi pemerintah terkait dalam membuat undang-undang yang menjadi dasar penanggulangan lMS dan HIV/AlDS, khususnya peraturan mengenai penggunaan kondom di tempat-tempat hiburan. Apabila peraturan penggunaan kondom pada ke!ompok beresiko sudah ditetapkan, diharapkan instansi pemerintah terkait, LSM, petugas kesehatan, dan pemilik tempat hiburan dapat bekerjasama melakukan monitoring Program Kondom Sersatus persen. Selain itu untuk mencegah penularan IMS dan HIV, diperlukan pendidikan kepada masyarakat umum mengenai hubungan seks yang aman, yaitu tidak melakukan hubungan seks sebelum nikah, setia kepada pasangan, dan menggunakan kondom pada hubungan seks yang beresiko menularkan IMS dan HIV.

Read More
T-3004
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulyanti; Pembimbing: Fikawati, Sandra; Penguji: Syafiq, Ahmad; Izwardy, Doddy
S-9264
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ferra Kartika Widodo; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: R. Sutiawan, Lesti Harni
S-9083
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Juita Ayu Bima Putri; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Lintje
Abstrak: Selama tahun 2015-2050, setengah dari pertumbuhan penduduk dunia diperkirakan akan terkonsentrasi di sembilan negara salah satunya adalah Indonesia. Pada tahun 2015 persentase penggunaan metode kontrasepsi modern sebesar 58,99%. Sebagian besar PUS peserta KB di Indonesia masih mengandalkan kontrasepsi suntikan (59,57%), sedangkan persentase pengguna MKJP adalah 17,01% (Susenas, 2015). Data Puskesmas Kecamatan Cipayung tahun 2016, proporsi peserta KB aktif yang menggunakan MKJP berjumlah 4.024 (9,3%) PUS. Tujuan penelitian ini diketahuinya gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) pada wanita usia 15-49 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cipayung tahun 2017. Desain penelitian menggunakan kasus kontrol. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 60 sampel untuk kelompok kasus (pengguna MKJP) dan 60 sampel untuk kelompok kontrol (pengguna Non MKJP). Uji statistik menggunakan Chi Square test. Hasil penelitian didapatkan ada hubungan antara umur, status pekerjaan, jumlah anak hidup, pengetahuan tentang MKJP, sikap terhadap MKJP, biaya pelayanan KB, keterpaparan informasi mengenai MKJP, dukungan tenaga kesehatan terhadap penggunaan MKJP, dukungan suami terhadap penggunaan MKJP, dan pengambilan keputusan ber-KB dengan penggunaan MKJP.
Kata Kunci : Faktor Risiko, Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)

During 2015-2050, half of the world population growth is expected to be concentrated in nine countries, one of which is Indonesia. By 2015 the percentage of modern contraceptive method usage is 58.99%. Most of the couples of reproductive age participants in Indonesia still rely on injectable contraception (59.57%), while the percentage of LTCM users is 17.01% (Susenas, 2015). Data of Puskesmas Kecamatan Cipayung in 2016, the proportion of active family planning participants using LTCM amounted to 4,024 (9.3%). The purpose of this research is to know the overview of factors associated to the use of long-term contraception method (LTCM) in women aged 15-49 years in work area of Puskesmas Kecamatan Cipayung East Jakarta year 2017. The research design use case control. Sampling was done by simple random sampling. The number of samples in this study were 60 samples for case group (LTCM users) and 60 samples for control group (Non LTCM user). Statistical test using Chi Square test. The results of the study showed that there was a relationship between age, occupation status, number of live children, knowledge of LTCM, attitudes toward LTCM, cost of family planning services, exposure of information about LTCM, support of health workers on the use of LTCM, husband support for LTCM use, and family planning decision making with the use of LTCM.
Keywords: Risk Factor, Long Term Contraception Method (LTCM)
Read More
S-9443
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stany Indira Meir; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguj: Ahmad Syafiq, P.C. Sanger
S-6119
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herlyssa; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Asri C. Adisasmita, Agustin Kusumayati, Noer Qoryati Hanun, Rus Martini
Abstrak:

Tesis ini membahas pengetahuan ibu tentang  tanda bahaya pada bayi baru lahir menurut kunjungan neonatal 1 dan karakteristik ibu lainnya di Kecamatan Kramat Watu Kabupaten Serang Provinsi Banten. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cros-sectional berupa rapid survey pada 210 ibu yang memiliki bayi berumur 7 hr s/d ≤ 12 bulan. Pengambilan sampel dengan rancangan klaster dua tahap secara probability proportionate to size (pps).  Hasil penelitian, 55,7% responden memiliki pengetahuan yang kurang dan 44,3% memiliki pengetahuan baik. Responden yang mampu menyebutkan minimal dua tanda bahaya pada BBL hanya sebesar 41,4%, dan yang mampu menyebutkan tiga tanda bahaya pada BBL hanya sebesar 14,8%. Penelitian  menunjukkan adanya perbedaan distribusi antara Kunjungan neonatal 1, umur, pendidikan, pekerjaan, tempat persalinan, penolong persalinan, keterpaparan informasi melalui tenaga kesehatan, kegiatan sosial dan media komunikasi dengan pengetahuan tentang tanda bahaya BBL.  Hasil penelitian menyarankan bahwa bidan di  Kecamatan Kramat yang melakukan kunjungan neonatal 1 pada semua ibu yang melahirkan di rumah,  baik yang bersalin oleh bidan atau dukun, memberikan nasehat tanda bahaya pada BBL terutama pada ibu yang berpendidikan rendah, menggunakan posyandu dan buku KIA sebagai media informasi dan pihak kecamatan Kramat Watu dan Dinas Kabupaten Serang perlu bekerja sama dengan media televisi dalam memberikan informasi kepada masyarakat tentang tanda bahaya pada bayi baru  lahir khususnya melalui acara sinetron, film dan kesehatan. Kata kunci: Pengetahuan, kunjungan neonatal 1, karakteristik ibu, riwayat kesehatan neonatal  dan keterpaparan informasi.


 This thesis discusses the knowledge mother about danger signs in newborn according to neonatal visit 1 and the characteristics of maternal in the District Kramat Watu Serang Banten Province. This study is a cross sectional descriptive study of rapid survey of 210 mothers with babies aged 7 hr to ≤12 months. The samples with two-stage cluster design by probability proportionate to size (pps). The results, 55.7% of respondents had low knowledge and 44.3% had high knowledge. Respondent  who know  at least two newborn danger sign only 41,4% and who know  at least three  newborn danger sign only 14,8%. Research shows the differences in distribution between neonatal visit 1, age, education,  job, place of delivery, birth attendants, previous neonatal health record and exposure information through health workers, social actvity and media communication with knowledge mother about danger signs in newborn. The study suggest that midwives in the District Kramat neonatal visit 1 in all mothers who birth at home, whether by birth or tradisional birth attendants (TBA), give counseling about newborn danger sign to risk mother, age mother of

Read More
T-3400
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fanny Mega Sari; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Agustin Kusumayati, Evi Martha, Weni Muniarti, Marion Siagian
Abstrak: Fenomena pernikahan dini di Indonesia mengalami peningkatan pada masa pandemi COVID-19, faktor keuangan yang menurun selama pandemi COVID-19 dan faktor bosan belajar daring telah mempengaruhi sebagian besar anak-anak di Indonesia. Indonesia termasuk rangking 37 di dunia dengan persentase tertinggi Pernikahan Dini, Di Indonesia Provinsi paling tinggi angka pernikahan dini adalah Provinsi Kalimantan Selatan 12,52 persen, sedangkan pada posisi kedua berasal dari Provinsi Jawa Barat 11,48 persen.Penelitian yang dilakukan dengan metode Kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. dengan pendekatan Theory Of Reosened Action. Pernikahan dini yang terjadi pada perempuan di desa Cibaregbeg keseluruhan informan memiliki niat yang kuat untuk melakukan pernikahan dini,itu didasari dengan pemahaman seperti alasan tidak ingin membebankan orang tua,faktor pendidikan, faktor budaya, faktor pergaulan bebas dan bahkan memang ada faktor dari anak itu sendiri untuk menikah. Berpijak pada temuan tersebut, maka dirumuskan salah satu yang dapat memberikan tambahan kepada berbagai pihak, Penundaan usia pernikahan dikalangan remaja harus lah ditangani secara bersama. Pernikahan hendaklah memperhatikan faktor usia karena usia sangat berpengaruh terhadap kematangan fisik, non fisik seperti pola pikir. Umur sangat penting dalam menjalankan sebuah hubungan keluarga, karena seiring dengan bertambahnya umur seseorang maka pola pikirnya juga akan bertambah dan berubah
The phenomenon of early marriage in Indonesia has increased during the COVID-19 pandemic, the declining financial factor during the COVID-19 pandemic, and the boredom factor of online learning have affected most children in Indonesia. Indonesia is ranked 37th in the world with the highest percentage of Early Marriage, In Indonesia, the province with the highest early marriage rate in South Kalimantan Province 12.52 percent, while a second place comes from West Java Province 11.48 percent. The research was conducted using Qualitative methods with a case study research design. with the Theory Of Reasoned Action approach. The early marriage that occurs in women in Cibaregbeg village, all informants have a strong intention to marry early, it is based on understanding such as reasons for not wanting to burden parents, educational factors, cultural factors, promiscuity factors, and even there are factors from the child himself to get married. Based on these findings, one that can provide additions to various parties is formulated, the delay in the age of marriage among adolescents must be handled together. Marriage should pay attention to the age factor because age greatly affects physical, and non-physical maturity such as mindset. Age is very important in running a family relationship because as a person gets older, his mindset will also increase and change
Read More
T-7267
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Ela; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Mieke Savitri, Farida Ekasari
Abstrak: Nationally, the rate of child marriage in Indonesia a decline, the trend for marriages decreased from 33.49% children who had been married before the age of 18 in 2000, fell to 27.36% in 2008, yet it still happens disparity, where child marriage is more common in rural than in urban areas (UNICEF, 2011). Pringkasap village is one of the highest Village that the number of marriages in the District Pabuaran in 2011, the number of marriage age <20 years is 28%, with 42% of them are mating with the level of primary and secondary school education.
 
This study was conducted to understand the dynamics of early marriage on dropout in the Village Pringkasap 2014. Study was a qualitative study with indepth interviews, the results of this study indicate an intention to perform an early marriage is influenced by, the attitude of the parents, influence of peers, teen jobs, teen attitudes, patterns of dating and unwanted pregnancy. The impact of early marriage is the limited teenage promiscuity, lack of family economy, the obligation to take care of the household, and LBW (Low Birth Weight). The barriers program maturation Age of Marriag is not yet done BKR and PIK program in the village, it is necessary for the formation of a society PIK existing organizations such as youth clubs.
Read More
S-8482
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive