Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31556 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Umi Lutfiah; Pembimbing: Besral; Sudijanto Kamso; Penguji: R. Sutiawan, Rahmadewi, Yulinda
T-4743
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhalina Sari; Pembimbing: R. Sutiawan, Besral; Penguji: Tri Yunis Wahyono, Flourisa J.Sudrajat, Inti Mudjiati
Abstrak: TFR Indonesia sebesar 2,6 yang sudah berlangsung selama 10 tahun (2002-2012), ditambah dengan CPR yang masih rendah 57,9% dan unmet need yang masih tinggi 11,4%, menyebabkan tidak tercapainya tujuan KB, yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Stagnansi fertilitas ini adalah dampak dari perubahan pola determinan fertilitas yang terjadi di Indonesia. Untuk itu, peneliti ingin mengetahui lebih dalam lagi terkait perubahan pola determinan fertilitas berdasarkan wilayah dengan menggunakan indikator tingkat fertilitas dan beban KB. Penelitian ini menggunakan data SDKI 2012 dengan desain penelitian potong lintang dan jumlah sampel 23.239 WUS berstatus pernah kawin. Determinan prediktor yang diduga, yaitu (1) layanan kesehatan reproduksi (sumber pelayanan kontrasepsi KB, media informasi layanan KB, dukungan ber-KB); (2) karakteristik sosial ekonomi (pendidikan wanita, pendidikan suami/pasangan, pekerjaan suami/pasangan, pekerjaan wanita, status ekonomi keluarga, dan daerah tempat tinggal), dan (3) perilaku reproduksi wanita (umur kawin pertama, umur melahirkan pertama, jumlah anak yang diinginkan, selang kelahiran, mortalitas anak, jumlah perkawinan). Semua variabel prediktor signifikan terhadap wilayah dengan tingkat fertilitas dan beban KB, kecuali pekerjaan suami/pasangan. Kerjasama lintas sektor antara BKKBN dan Kemenkes dalam menanggulangi stagnansi fertilitas melalui peningkatan peran serta jaringan dan jejaring faskes KB dalam JKN dan meningkatkan promosi, KIE dan konseling terutama pada wilayah yang tingkat fertilitas dan beban KB tinggi. Kata Kunci: TFR, CPR, unmet need, fertilitas, beban KB.
Read More
T-4524
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Rahayu Ningsih; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo, Iwan Ariawan; Penguji: Mieke Savitri, Lukas C. Hermawan, Ganda Raja Partogi Sinaga,
Abstrak: Faktor penyebab tingginya AKI (346/100.000KH) yaitu belum tercapainyaindikator pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan. Pertolongan persalinan difasilitas kesehatan dipengaruhi oleh faktor individu dan provinsi. Penelitian inibertujuan melihat pengaruh dan besar kontribusi faktor individu dan provinsiterhadap pertolongan persalinan di enam provinsi di Indonesia berdasarkan dataSDKI dan profil kesehatan Indonesia tahun 2012. Hasil analisis multilevel regresilogistik multinomial menunjukan, determinan pertolongan persalinan meliputiasuhan kehamilan, daerah, asuransi kesehatan, indeks kepemilikan, pekerjaansuami, pekerjaan, pendidikan ibu, paritas, umur, rasio bidan, rasio puskesmas, rasiotempat tidur rumah sakit dan kepadatan penduduk. Faktor provinsi menurunkan24.22% variasi pertolongan persalinan di Indonesia.Kata Kunci :Pertolongan persalinan, faktor individu, faktor provinsi, multilevel regresi logistikmultinomial
The high maternal mortality rate (346 per 100.000 live birth) in Indonesia is causedby several factors, one of it is that Indonesia has not been achieved the indicator ofaid deliveries in health facilities. This study aims to look at the influence and thecontribution of individual factors and province factor on deliveries in six provincesin Indonesia based on data from Demographic and Health Survey and healthprofiles of Indonesia in 2012. Based on the analysis of multilevel multinomiallogistic regression, the determinant of delivery aid is the individual factors includethe antenatal care, regions, health insurance, household wealth index, husband'soccupation, employment and education of women of childbearing age, parity andthe age of them. The determinant factor of the province covers the ratio of healthcenters, the ratio of beds and population density. Contextual variables (provincefactors) decrease 24.22% variation deliveries at six provinces in Indonesia.Keywords :Maternal mortality, Deliveries, individual factors, provinces factors, multilevellogistic regression multinomial.
Read More
T-4620
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khobir Abdul Karim Taufiqurahman; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Milla Herdayati, Besral, Ning Sulistiyowati, Usep Solehudin
Abstrak: ABSTRAK Nama : Khobir Abdul Karim Taufiqurahman Program Studi : Biostatistika Judul : Tren dan Determinan Pendewasaan Usia Pernikahan Pada Wanita Menikah Usia 15-24 Tahun di Indonesia (Analisis Data SDKI 2007, 2012, dan 2017) Pembimbing : Dr. drs. Tris Eryando M. A. Pernikahan dini selalu berkaitan dengan kesehatan reproduksi pada perempuan. Komplikasi kehamilan dan persalinan adalah penyebab utama kematian pada anak perempuan berusia 15-19 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor determinan yang berhubungan dengan usia pernikahan pada perempuan menikah yang berusia 15-24 tahun di Indonesia Tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitian jenis deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah wanita menikah yang berusia 15-24 tahun di Indonesia pada tahun 2007, 2012, dan 2017. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariabel dan multivariabel dengan menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tren median usia kawin pertama terjadi peningkatan dari tiga tahun data SDKI dan persentase usia kawin pertama kurang dari 20 tahun mengalami sedikit penurunan. Tingkat pendidikan perempuan, status pekerjaan perempuan, tingkat pendidikan suami, dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga merupakan faktor determinan berpengaruh terhadap pendewasaan usia pernikahan. Temuan pada penelitian ini adalah akses media dan peran pengambilan keputusan yang protektif. Perempuan yang tetap bersekolah dengan program pendewasaan usia perkawinan melalui teman sebaya berperan penting dalam menunda usia pernikahan, selain itu paparan media terutama media sosial merupakan media yang paling efektif untuk memberikan informasi tentang penundaan usia pernikahan pada perempuan. Kata kunci: Pernikahan dini, usia pernikahan, wanita menikah, pendidikan ABSTRACT Name : Khobir Abdul Karim Taufiqurahman Study Program : Biostatistics Title : Trends and Determinants Maturity of Age of Marriage in Married Women Aged 15-24 in Indonesia (Data Analysis of 2007, 2012 and 2017) Counsellor : Dr. drs. Tris Eryando M. A. Early marriage is always related to reproductive health in women. Pregnancy and childbirth complications are the main causes of death in girls aged 15-19 years. This study aims to determine the determinants associated with marriage age in married women aged 15-24 years in Indonesia in 2017. This study is a descriptive analytic type research with cross-sectional design. The sample of this study was married women aged 15-24 years in Indonesia in 2007, 2012 and 2017. The analysis used in this study was univariable and multivariable analysis using multiple logistic regression. The results of this study indicate that the median trend of first marriage age is an increase from three years of IDHS data and the percentage of age of first marriage less than 20 years has decreased slightly. Women's education level, women's occupational status, husband's education level, and education level of the head of the household are the determinant factors influencing the age of marriage. The findings in this study are media access and the role of protective decision making. Women who continue to go to school with a marriage age maturity program through peers play an important role in delaying the age of marriage, besides exposure to the media, especially social media, is the most effective media for providing information about delaying marriage to women. Key words: Early marriage, marriage age, married woman, education
Read More
T-5780
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Damayanti; Pembimbing: Besral; Penguji: Tris Eryando, Mario Ekoriano
Abstrak: Tujuan : untuk mengetahui perbandingan faktor atau determinan yang mempengaruhi fertilitas pada wanita kawin di Provinsi NTT dan Provinsi DIY. Metode : menggunakan desain potong lintang (cross sectional) dengan sampel seluruh responden wanita usia subur yang berstatus kawin atau hidup bersama pasangannya.
Read More
S-10670
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Kurniasih; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Iwan Ariawan, Tri Yunis Miko Wahyono, Amnur R Kayo, Gunawan Wahyu Nugroho
T-4754
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ela Febriana; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Rahmadewi; Besral
Abstrak: Pemahaman yang baik tentang peran pria dalam pembentukan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi yang ideal dapat berdampak baik dalam program keluarga berencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prediktor penggunaan kontrasepsi modern dan preferensi fertilitas pada pria yang aktif secara seksual di Indonesia. Sumber data merupakan data gambaran nasional Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 pria kawin usia 15-54 tahun. Analisis dibatasi pada 9.277 pria yang dilaporkan aktif secara seksual dalam 12 bulan terakhir sebelum survei dilakukan, berstatus menikah, dan tinggal bersama istri. Penelitian ini menggunakan uji bivariat dan regresi logistik multinominal untuk mendapatkan prediktor yang mempengaruhi penggunaan kontrasepsi modern dan preferensi fertilitas pada pria yang aktif secara seksual. Signifikansi uji statistik dari analisis bivariat dan regresi logistik multinomial ditetapkan pada nilai p-value<0,05. Dari total 9.277 pria aktif seksual di Indonesia, 309 (3,3%) pria menggunakan metode kontrasepsi modern dan 8.970 (96,7%) tidak menggunakan kontrasepsi modern. Selain itu, dari jumlah sampel sebanyak 4.384 (47,2%) merupakan pria yang tidak menginginkan anak lagi dan 4.895 (52,8%) pria bimbang atau masih menginginkan anak lagi. Temuan dari regresi logistik bivariat dan multinominal menunjukkan bahwa tingkat pendidikan (OR=3,02; 95% CI: 1,72-5,31 ), tempat tinggal (OR=1,75; 95% CI: 1,18-2,58), indeks kekayaan (OR=3,57; 95% CI: 1,87-9,50), status pekerjaan (OR=15,85; 95% CI: 1,83-96,76), jumlah anak hidup (OR=2,1; 95% CI: 1,35-3,24), istri menggunakan KB (OR=0,07; 95% CI: 0,05-0,11), keterpaparan melalui media (OR=1,83; 95% CI: 1,23-2,72), diskusi dengan petugas kesehatan (OR=0,47 ; 95% CI: 0,30-0,72), diskusi bersama istri (OR=2,71; 95% CI: 1,94-3,79), pengetahuan (OR=1,69; 95% CI: 1,23-2,32), dan preferensi fertilitas (OR=1,72; 95% CI: 1,22-2,43) berhubungan secara bermakna dengan penggunaan kontrasepsi modern pada pria yang aktif secara seksual. Hasil lain ditemukan bahwa usia (OR=4,55; 95% CI: 3,87-5,34), tingkat pendidikan (OR=0,77; 95% CI: 0,67-0,89), tempat tinggal (OR=1,26; 95% CI: 1,10-1,45), jumlah anak hidup (OR=13,2; 95% CI: 10,45-16,68), istri menggunakan KB (OR=1,32; 95% CI: 1,15-1,51), keterpaparan melalui media (OR=0,83; 95% CI: 0,72-0,96), diskusi bersama istri (OR=0,86; 95% CI: 0,75-0,98), dan pengetahuan (OR = 1,28; 95% CI: 1,11-1,48) secara signifikan berhubungan dengan preferensi fertilitas pada pria yang tidak menginginkan anak lagi. Studi ini menunjukkan bahwa kebijakan dan program masa depan harus fokus pada intervensi dan mempromosikan kontrasepsi pria di media, mengatasi kesenjangan wilayah dalam aksesibilitas dan ketersediaan kontrasepsi modern, dan intervensi keluarga berencana di tingkat pendidikan menengah.
A good understanding of the role of men in the formation of an ideal family and reproductive health planning can have a good impact in a family planning program. This study seeks to the predictors of modern contraceptive use and fertility preference among sexually active men in Indonesia. The data source is the nationally representative 2017 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) of men aged 15-54 years. The analysis is restricted to 9,277 men who reported being sexually active in the past 12 months prior to the survey, have a married status, and living with his wife. This research use bivariate and multinominal logistic regression to access predictors that influence modern contraceptive use and fertility preference among sexually active men. Bivariate and multivariable multinomial logistic regression analysis was conducted and statistical significance was set at p-value<0.05. From a total of 9,277 sexually active men in Indonesia, 309 (3,3%) used male modern contraception methods and 8,968 (96,7%) didn't use modern contraception. Besides that, from the total sample, 4,383 (47,2%) is the fertility preference of male that didn't want another child and 4,894 (52,8%) men indecisive or still want another child. Findings from the bivariate and multinominal logistic regression indicate that education (OR=3,02; 95% CI: 1,72-5,31 ), residence (OR=1,75; 95% CI: 1,18-2,58), wealth index(OR=3,57; 95% CI: 1,87-9,50), currently working (OR=13,32; 95% CI: 1,83-96,76), living children (OR=2,1; 95% CI: 1,35-3,24), istri menggunakan KB (OR=0,07; 95% CI: 0,05-0,11), access to media (OR=1,83; 95% CI: 1,23-2,72), disscuss with health worker (OR=0,47 ; 95% CI: 0,30-0,72), disscuss with wife (OR=2,71; 95% CI: 1,94-3,79), knowledge (OR=1,69; 95% CI: 1,23-2,32), dan fertility preference (OR=1,72; 95% CI: 1,22-2,43) were all significantly associated with modern contraceptive use among sexually active men. Other result finding that age (OR=4,55; 95% CI: 3,87-5,34), education level (OR=0,77; 95% CI: 0,67-0,89), residence (OR=1,26; 95% CI: 1,10-1,45), living children (OR=13,2; 95% CI: 10,45-16,68), wife using contraceptive (OR=1,32; 95% CI: 1,15-1,51), access to media (OR=0,83; 95% CI: 0,72-0,96), disscuss with wife (OR=0,86; 95% CI: 0,75-0,98), and knowledge (OR = 1,28; 95% CI: 1,11-1,48) were all significantly assosiated with fertility preference in a men who didn't want another child. These findings suggest that future policies and programs should focus on interventions and promoting men's contraception in media, addressing regional disparities in accessibility and availability of modern contraceptive, and interventions family planning in the middle of level education.
Read More
S-11111
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anindya Nuzhmi Zharifa; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Wahyu Septiono, Novi Indriastuti
Abstrak:
Merokok masih menjadi ancaman kesehatan bagi remaja hingga saat ini. Studi menemukan bahwa tren perokok anak usia 10 – 18 tahun di Indonesia dari waktu ke waktu terus meningkat. Merokok yang dimulai pada usia remaja akan lebih sulit untuk berhenti merokok saat dewasa. Kian langgengnya perilaku merokok yang dilakukan oleh penduduk usia belia di Indonesia menandakan belum tercapainya kemajuan program-program pengendalian tembakau yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tren dan prevalensi pengalaman merokok remaja di Indonesia dari tahun 2009, 2014, hingga 2019. Analisis data memanfaatkan hasil Global Youth Tobacco Survey pada sampel remaja usia 11 – 17 tahun di tingkat menengah pertama dengan regresi logistik multivariabel untuk mengetahui determinan utama pengalaman merokok. Penelitian ini mengungkapkan bahwa prevalensi merokok remaja di Indonesia meningkat secara signifikan dari waktu-waktu (p-value <0.001). Faktor-faktor yang mendorong perilaku mencoba merokok pada remaja ditemukan pada remaja laki-laki (AOR: 13,2; 95% CI: 11,055 – 15,788), remaja dengan persepsi social benefit positif (AOR: 1,2; 95% CI: 1,095 – 1,406), menerima tawaran rokok teman (AOR: 24; 95% CI: 19,450 – 29,788), terpapar asap rokok di tempat umum (AOR: 2; 95% CI: 1,774 – 2,228), terpapar asap rokok di rumah (AOR: 2,4; 95% CI: 2,103 – 2,706). Implikasi penelitian ini menyorot evaluasi program pengendalian tembakau di Indonesia yang perlu dikembangkan dari berbagai aspek guna menekan laju konsumsi rokok yang dilakukan remaja melalui penguatan regulasi dan kolaborasi lintas sektor.

Smoking is still a health threat to adolescents today. Studies have found that the trend in smokers among children aged 10 - 18 years in Indonesia has been increasing over time. Smoking that starts in adolescence will be more difficult to quit smoking as an adult. The persistence of smoking behavior by the young population in Indonesia indicates that effective tobacco control programs have not yet made progress. This study aims to determine the trends and prevalence of adolescent smoking experience in Indonesia from 2009, 2014, to 2019. Data analysis utilized the Global Youth Tobacco Survey on a sample of adolescents aged 11 - 17 years at junior secondary level with multivariable logistic regression to determine the main determinants of smoking experience. The study revealed that the prevalence of adolescent smoking in Indonesia increased significantly over time (p-value <0.001). Factors that encourage adolescent smoking trying behavior were found in male adolescents (AOR: 13.2; 95% CI: 11.055 - 15.788), adolescents with positive social benefit perceptions (AOR: 1.2; 95% CI: 1.095 - 1.406), accepting a friend's cigarette offer (AOR: 24; 95% CI: 19.450 - 29.788), exposure to cigarette smoke in public places (AOR: 2; 95% CI: 1.774 - 2.228), exposure to cigarette smoke at home (AOR: 2.4; 95% CI: 2.103 - 2.706). The implications of this study highlight the evaluation of tobacco control programs in Indonesia that need to be developed from various aspects to reduce the rate of cigarette consumption by adolescents through strengthening regulations and cross-sector collaboration
Read More
S-11728
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Anggraeni Sari; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Sutiawan, Rahmadewi
Abstrak: Preferensi jumlah anak yang dinyatakan sebagai jumlah anak ideal yang diinginkan dapat memprediksi pertumbuhan penduduk di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran preferensi jumlah anak yang diinginkan remaja belum kawin usia 15-24 tahun di 10 provinsi penyangga serta faktor-faktor yang berhubungan dengan preferensi tersebut. Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia komponen Kesehatan Reproduksi Remaja tahun 2012. Hasil analisis menunjukan rata-rata jumlah anak yang diinginkan remaja yaitu 2,4 anak. 33,6 persen remaja pria dan 25,1 persen remaja wanita berkeinginan memiliki lebih dari 2 anak. Umur dan tempat tinggal merupakan faktor yang paling mempengaruhi jumlah anak yang diinginkan remaja wanita dan remaja pria. Faktor pelayanan KIE kesehatan reproduksi dan KB pada remaja tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap jumlah anak yang diinginkan.
Kata Kunci: remaja, determinan, preferensi fertilitas, jumlah anak yang diinginkan

Preference the number of children expressed as the number of children ideal that desirable can predict the population growth in the future. The aims of this research are to understand the description preference the number of children desired by the non-married adolecents(15-24 years old) in 10 Penyangga Provinces and factors associated with a preference. This research used data from Indonesia Demographic and Health Survey in components Adolecent Reproductive Health in 2012. The analysis showed the average number of children desired by the adolescents is 2,4 children. Then, 33,6% man and 25,1% woman desirous of owning more than two children. Age and residence are factor that most affect the number of children desired by them. KIE the adolescent reproductive health services and FP in adolescent did not showed significant influence against preference the number of children to be desired.
Key Words: adolescents, determinants, fertility preference, and the number of children desired.
Read More
S-8539
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jilan Salshabilla Mutaqin; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Tiopan Sipahutar
Abstrak:
Provinsi Bangka Belitung, Gorontalo, dan Papua Barat memiliki angka kematian balita tertinggi berdasarkan wilayah Indonesia bagian Barat, Tengah, dan Timur. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki determinan kematian balita pada lokasi tersebut. Untuk meneliti hal tersebut, data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 digunakan. Analisis dilakukan pada 1056 sampel dengan uji chi-square dan regresi logistik untuk melihat faktor kematian balita yang signifikan dan besar risiko masing-masing faktor pada determinan sosioekonomi dan proksi. Hasil nya, jumlah kelahiran lebih dari dua anak, jenis kelamin laki-laki, ibu yang tidak memberikan ASI, pendidikan ibu yang rendah, dan umur ibu saat melahirkan kurang dari 25 tahun menjadi faktor risiko kematian balita. Dengan begitu, faktor-faktor pada kedua determinan tersebut, baik determinan sosioekonomi maupun proksi merupakan faktor penting terhadap kematian balita di Provinsi Bangka Belitung, Gorontalo, dan Papua Barat.

Under five mortality rate in Bangka Belitung, Gorontalo, and West Papua still high and respectively describe child survival in three region of Indonesia (west, center, and east). Therefore, this study aim to examine determinant of under five mortality. Data from Indonesian Demographic and Health Survey 2017 used in this study. Then, this study analyses 1056 samples using chi-square and logistic regression test to investigate the significant factors and measure the risk on each factor according to determinant socioeconomic and proximate. Result show number of children more than two, male child, give not breastfeeding, mother with low education, age at childbirth low than 25 years old are the risk factors of under five mortality. In conclusion, determinant socioeconomic and proximate are important factors which influence under five mortality in Bangka Belitung, Gorontalo, and West Papua.
Read More
S-11243
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive