Ditemukan 33144 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dewasa ini di Indonesia ada sekitar 19 % bayi lahir dengan berat lahir rendah kurang dari 2500 gram. BBLR merupakan salah satu faktor penting kematian neonatal dan juga sebagai determinan yang cukup bermakna bagi kematian bayi dan balita. Penyumbang kematian BBLR adalah prematuxitas, infeksi, asfiksia lahir, hipotermia dan pemberian ASI yang kurang adekuat.BBLR di Kabupaten Bogor memberi sumbangan atas kejadian kematian bayi sementara informasi secara mendalam mengenai perilalcu ibu-ibu dalam merawat BBLR belum diperoleh. Karena itu tujuan penelitian ini adalan ingin memperoleh informasi secara rnendalam perilaku ibu-ibu dalam merawat BBLR di Kabupaten Bogor tahun 2002. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan alat pengumpul data berupa pedoman wawancara mendalam dan fokus group diskusi. Pengumpulan data dilakukan terhadap 15 informan kunci dan 43 ibu BBLR Analisis data yang dilakukan adalah analisis isi (content analysis).Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik sosio demografi informan bervariasi dalam hal umur, pendidikan, pekerjaan, dan jumlah anak. Pengetahuan ibu BBLR tentang perawatan BBLR rendah, hampir seluruh ibu BBLR setuju terhadap bayi yang dihangatkan dengan botol berisi air panas. Sebagian besar tidak setuju terhadap bayi yang didekapkan ke dada ibunya (Metode Kanguru) dan tidak setuju terhadap bayi yang diberikan makanan (pisang) terlalu dini. Hampir seluruh ibu BBLR tidak setuju terhadap perawatan tali pusat yang tidak higienes (diberi abu gosok). Namun demikian masih ada yang membubuhi tali pusat dengan abu kayu bakar, asam dicampur air. Ibu BBLR setuju terhadap upaya pencegahan penyakit. Dikalangan ibu BBLR masih ditemukan kepercayaan membawa anaknya keluar harus setelah 40 hari. Sebagian besar ibu BBLR menggunakan cara lama atau tardisional dalam mencegah dan menangani hipotermia. Pada umumnya ibu BBLR memberikan kolostrum pada bayinya, namun demikian sebelum ASI keluar bayi diberikan air atau madu. ASI mulai diberikan paling banyak pada hari ke dua, dan mereka menyusui bayinya sampai 2 tahun. Sebagian besar ibu muda/baru menikah tidak melakukan perawatan tali pusatnya, tetapi oleh dukun atau orang tuanya dan petugas kesehatan. Tali pusat dirawat menggunakan alkohol atau betadin. Pada umumnya ibu BBLR membawa bayinya yang sakit ke petugas kesehatan dan selebihnya mengobati sendiri dengan ramuan, membeli obat di warung atau toko obat, rninum obat untuk bayi yang sakit, dan membawanya ke dukun. Alat dan bahan yang digunakan untuk merawat BBLR tidak sulit didapat. Beberapa faktor penghambat adalah masih adanya kepercayaan, ketidaktahuan ibu, pengaruh otang tua dan dukun, serta faktor ekonomi. Sementara faktor pendukung adalah ibu berpengalaman dalam merawat bayi serta adanya. dukungan keluarga dalam merawat bayi.Beberapa saran diajukan 1) Depkes R1 dapat mengembangkan prototife atau model media tentang perawatan BBLR. 2) Dinkes Bogor menindaklanjuti pembuatan media dengan menggunakan bahasa dan budaya lokal, pelatihan bagi pengelola program kesehatan ibu dan anak tingkat kabupaten dan tingkat Puskesmas tentang manajemen laktasi dan Perawatan Bayi Lekat serta monitoring dari bidan koordinator kabupaten terhadap bidan puskesmas. 3) Puskesmas Citemeup, Leuwiliang dan Jasinga, perlu adanya monitoring dari kordinator bidan Puskesmas terhadap bidan di desa, bidan di desa memberi contoh kepada dukun bayi cara mencegah hipotermia, Perawatan Bayi Lekat dan ASI eksklusif serta perlunya pendidikan kesehatan bagi ibu-ibu hamil tentang cara mencegah hipotermia, Perawtan Bayi Lekat dan ASI eksklusif di Puskesmas, Posyandu maupun Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak.
Recently, in Indonesia there are about 19 % babies have low birth weight with less than 2500 gram. Low birth weight (LBW) is one of important factor in neonatal mortality and also as determinant factor for infant and babies under tive mortality. The main causation of mortality in low birth weight is pre-term delivery, infection, asphyxia, hypothermia and inadequate breast feeding.In Bogor, LBW is one of baby mortality factor, while detail information about women?s behavior in caring their babies not found yet. Because of willing to know detail information of women?s behavior in taking care LBW in Bogor in 2002, so that the type of the research is qualitative rsearch, collected data by using indepth interview and discussion group focus. Collecting the data is conducted to 15 key informants and 43 women whose LBW. To analyze the data, it is used content analysis.Based on the research, there is some sociodemography characteristic of informants in age, education, occupation, number of children, babies birth weight and care givers. Women?s knowlegde in caring LBW is low, most of them agree in waming the baby with hot water. Some of them do not agree in Kangaroo Mother Care in their breast and do not agree in giving feed banana in early. Almost all of mowen do not agree toward unhygienic placenta care. Otherwise, there is some women mix placenta with ash, and mix with tamarind water. LBW women agree in preventing the diseases. There is still a belief in women having LBW that they may take their babies out of home alter 40 days of delivery. Some of them apply traditional method in preventing hypothermia Commonly, they give eolostrum to their babies but previously giving them water or honey before breast out in the first time. Most of them give breast feeding to their baby in the second day, and give it until 2 years. Most of young women do not give placenta care, as their parents or traditional midwife do. Using bethadine or alcohol to clean the placenta Generally, women having LBW take their unhealthy baby to the hospital but some of them self-curing by their own made medicine, buy the generic medicine in the shop, even take them to traditional midwife. Ingredient for medicine is not difficult to find. Some of the LBW obstacles are traditional belief, lack of knowledge, parent and traditional midwife influence, and economical problem. While the effort factor are experienced women and family support in caring the baby.Some suggestions are recommended, namely : (1) Health Department of Rl can develop prototype or media model for LBW care. (2) Health Instance of Bogor can follow up making media by using local language and culture, training of location management and Kangoroo Mother Care for conductor of women and baby health in district level and Health Center and also monitoring of midwife coordinator to midwife to midwife in district. (3) In Citeureup, Leuwiliang, and Jasinga Health Center, monitoring of midwife coordinator to midwife in the village is needed, how they give demontration to traditional midwife, how to prevent hypotennia, Kangoroo Mother Care and exclusive breast feeding. Furthennore, giving health education for pregnant women in preventing hypoterrnia, kangoroo mother care and giving exclusive breast feeding in Health Center, integrated service post or group of women and baby health lover.
ABSTRAK Nama : Ramadhani Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Perilaku Pemberian Air Susu Ibu pada Bayi Berat Lahir Rendah Studi Kualitatif di RSUD Karawang Tahun 2016 Faktor risiko yang berkontribusi dalam kematian bayi salah satunya kelahiran bayi berat lahir rendah. Strategi yang diupayakan yakni meningkatkan keberhasilan pemberian air susu ibu. Penelitian ini bertujuan mengetahui informasi mendalam dan fakta terkait perilaku pemberian ASI pada BBLR selama di RSUD Karawang. Pendekatan kualitatif menggunakan desain Rapid Assessment Procedure dengan metode pengumpulan data wawancara mendalam 7 ibu dan 4 kepala ruang, diskusi kelompok terarah 6 perawat bidan serta observasi 2 ibu. Ibu yang dapat memberikan ASI di rumah sakit adalah ibu dengan pendidikan baik dan tidak kembali bekerja. Ibu tidak yakin dapat memberikan kolostrum selama di rumah sakit namun yakin dapat menyusui eksklusif setelah keluar dari rumah sakit. Ibu memiliki kondisi fisik dan psikologis tidak baik selama di rumah sakit. Penyuluhan ASI dan kebijakan pemberian pengganti ASI di rumah sakit belum mendukung perilaku pemberian ASI eksklusif. Ibu yang tidak didukung suami, keluarga dan petugas kesehatan tetap berusaha memberikan ASI. Ibu dapat menyusui BBLR secara langsung di ruang menyusui PMK. Perilaku pemberian ASI pada BBLR dapat dilakukan ibu yang memiliki kesehatan fisik dan psikologis baik serta menyusui di PMK. Promosi ASI eksklusif dan upaya pendampingan tambahan terhadap kondisi psikologis perlu dilakukan pada ibu dan keluarga dengan BBLR selama di rumah sakit. Kata kunci: bayi berat lahir rendah, perilaku pemberian air susu ibu, rumah sakit
ABSTRACT Name : Ramadhani Study Program : Public Health Science Title : Qualitative Study on Breastfeeding Behavior for Low-Birth Weight Infants at Center Hospital of Karawang in 2016 One factor that contribute in infant’s mortality was low-birth weight infant’s delivery. The strategy was increased implementation of breastfeeding practice successfully. This study aims to explore information and fact about low-birth weight infant breastfeeding behavior at Center Hospital of Karawang. Qualitative approach with Rapid Assessment Procedure design was used to collect data from 7 mothers and 4 head offices with depth interview method, focus group discussion from 6 midwife-nurses, and also observation from 2 mothers. Mothers who did breastfeeding practice in hospital have better educational level and did not return to work. Mothers had no belief to give colostrum during breastfeeding practice in hospital, otherwise to give breastfeeding exclusively after hospital discharge. Mothers have poor physic and psychology condition during breastfeeding practice in hospital. Promotion and policy of complementary feeding did not support breastfeeding practice in hospital. Mothers who got no support from their partners, families and also health providers were trying to breastfeed. Mothers could did breastfeeding practice directly in PMK room. Breastfeeding behavior for low birth weight infants could be doing by mothers who did breastfeeding practiced with better physical and psychological condition. Exclusive breastfeeding promotion and psychology guidance were needed for low-birth weight infant’s mothers and families. Keywords: low-birth weight infant, breastfeeding behavior, hospital
ABSTRAK
WHO memperkirakan lebih dari sepertiga kematian anak secara global karena diare.Banyak penelitian membuktikan cuci tangan pakai sabun cost effective mencegahkesakitan dan kematian anak dibawah lima tahun akibat diare dan infeksi saluranpernapasan. Namun perilaku cuci tangan pakai sabun bukan perilaku yang biasadilakukan sehari-hari oleh masyarakat. Hasil survey Dinas Kesehatan Kota Bogortahun 2012 didapatkan perilaku cuci tangan pakai sabun masyarakat Kelurahan PasirKuda baru 35,5%. Penelitian ini membahas faktor predisposisi, pemungkin danpenguat perilaku ibu/pengasuh bayi sebagai upaya pencegahan kejadian diare.Penelitian bersifat kuantitatif dengan desain cross sectional. Hasil analisis multivariatvariabel pengetahuan dan ketersediaan sarana ada hubungan bermakna. Saranpenelitian meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang langkah-langkah mencucitangan yang baik dan benar serta meningkatkan kemitraan dengan Dinas Bina Margauntuk perluasan ketersedian dan kemudahan akses air bersih sepanjang tahun.
ABSTRACT
WHO estimates that more than one third of child deaths due to diarrhea globally. Manystudies have shown Handwashing cost effective to prevent the morbidity and mortality ofchildren under five are caused by diarrhea and respiratory tract infections. However,handwashing with soap is not the usual behavior. Results Bogor City Health Departmentsurvey in 2012 found the behavior of handwashing with soap in Kelurahan Pasir Kudacommunity 35.5%. This study discusses the factors predisposing, enabling, and reinforcingbehavior of handwashing the mother / baby sitter. Quantitative research with crosssectional design. Multivariate analysis variable availability of existing knowledge andhandwashing equipment relationships. To be advised improve knowledge of effectivehandwashing step and cooperation between Bina Marga Bogor City Department todevelop water supply.
Tujuan penelitian untuk memperoleh informasi mendalam tentang perilaku ibu dan faktor yang menunjang dan menghambat dalam pemberian imunisasi Hepatitis 13 pada bayi 0-7 hari di Puskesmas Lubuk Alung. Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam terhadap informan kunci (seorang Kasie P2M, seorang Wasor Imunisasi, seorang Kepala Puskesmas, seorang Juru Imunisasi, tiga bidan, tiga kader posyandu dan dua dukun bersalin) dan informan (enam ibu yang bayinya diimunisasi Hepatitis B pada umur 0-7 hari, enam ibu yang bayinya diimunisasi Hepatitis B di atas tujuh hari dan tujuh ibu yang bayinya belum diimunisasi Hepatitis B).
Hasil penelitian menunjukkan karakteristik (umur dan paritas), pengalaman masa lalu, tempat persalinan, penolong persalinan, media infomasi dan dukungan keluargalmasyarakat sangat mempengaruhi perilaku ibu terhadap pemberian imunisasi Hepatitis B pada bayi 0-7 hari. Selain itu pengetahuan semua informan ibu masih kurang tentang imunisasi Hepatitis B pada bayi 0-7 hari. llmumnya intorman hersikap positif terhadap pemberian imunisasi. Adanya kepercayaan masyarakat setempat kalau bayi yang berumur dibawah umur 40 hari tidak botch dibawa keluar rumah karena dipercaya bayi bisa terkena Palasik. Pengalaman imunisasi ibu, persepsi terhadap jarak tempat pelayanan imunisasi dan biaya imunisasi tidak mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian imunisasi Hepatitis B pada bayi 0-7 hari.
Dari hasil penelitian disarankan perlunya pembinaan terhadap bidan balk yang ada di puskesmas maupun di desa serta koordinasi dengan 113I, 1DAI dan POGI yang berperan sebagai orang yang kontak pertama terhadap bayi barn lahir, meningkatkan sosialisasi pentingnya melaksanakan KNI, meningkatkan advokasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman dan Pemda untuk memperoleh dukungan politis, bantuan teknis dalam pencarian dana yang mendukung kelangsungan program imunisasi Hepatitis B pada bayi 0-7 hari, melaksanakan pelatihan imunisasi Hepatitis B kepada petugas kesehatan dan penyebarluasan informasi tentang imunisasi Hepatitis B pada bayi 0-7 hari dengan meningkatkan wawasan dan pengetahuan semua pihak terutama masyarakat melalui televisi dan poster.
Hepatitis B is a liver inflammatory disease that caused by Hepatitis B virus, which sat in world second rank as agent that cause cancer on human after tobacco, while Indonesia sat as world third rank with prevalence 2,50% - 36,17%. Range number of Hepatitis B immunization 0-7 days in West Sumatra Province year 2005 is 42,2%, in Padang Pariaman Regency 23,86% and in Lubuk Alung Puskesmas working area reach 1,07% from 80% National target.
Research objective is getting circumstantial information toward mother behavior and factor that supporting and pursuing in giving Hepatitis B immunization to 0-7 days baby in Lubuk Aiung Puskesmas. This research is Qualitative research using circumstantial interview toward key informants (a P2M Kasie, a Immunization Wasor, a Puskesmas Chief, a Immunization Worker, three midwife, three posyandu cadre and two give birth shaman) and informants (six mother with baby that Hepatitis B immunized in 0-7 day's, six mother with 0-7 day's baby that not yet Hepatitis B immunized).
Research result shows characteristic (age and parity), past experience, give birth place, give birth helper, information media and public/family support that was very influencing mother behavior toward giving Hepatitis B immunization to 0-7 day's baby.
Commonly, informant act positively toward giving immunization. The existence of local public believe that baby under 40 days age should not brought out from home because believed that the baby could got Palasik. Mother immunization experience, perception toward immunization service distance, and immunization cost not affecting mother behavior in giving Hepatitis B immunization to 0-7 day's baby.
From research result, suggest improvement toward midwife whether in Puskesmas and in village and coordination with IBI, IDAI, and POGI that role as first person do contact with newborn baby, to improve the importance of socialization KN1 conducted, improving advocate from Health Agency of Padang Pariaman Regency and Pemda to get political support, technical support in searching fund that support Hepatitis B immunization to 0-7 day's baby occurrence, do Hepatitis B immunization training to health officer and spreading information toward Hepatitis B immunization to 0-7 day's baby by improving perception and knowledge of all people thorough television and poster.
ABSTRAK Nama : F. Detiniaty Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Perilaku Ibu dalam Pemberian Makan Bayi dan Anak Stunting Usia 0-23 Bulan (Studi Kualitatif di Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa Tahun 2017) Perilaku ibu dalam Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) pada periode kritis (usia 0-23 bulan) sangat penting untuk mencegah kondisi stunting pada bayi/anak. Penelitian ini bertujuan mengetahui perilaku ibu dalam pemberian makan bayi dan anak stunting usia 0-23 bulan di Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, tahun 2017. Pendekatan Kualitatif menggunakan desain Rapid Assessment Procedure dengan metode pengumpulan data diskusi kelompok terarah, wawancara mendalam, dan observasi terhadap informan ibu yang sudah dan belum mendapatkan konseling/penyuluhan PMBA. Pengetahuan dan sikap ibu yang positif terhadap informasi terkait PMBA yang diperoleh dari konseling/penyuluhan tidak menjamin terlaksananya perilaku pemberian makan bayi dan anak dengan benar. Adanya faktor dukungan keluarga, tradisi yang tidak mendukung, akses dan pemanfaatan pangan serta praktik pemberian informasi melalui penyuluhan menjadi salah satu yang menghambat kegiatan PMBA. Perilaku ibu dalam pemberian makan bayi dan anak stunting usia 0-23 bulan di Kecamatan Lape belum optimal. Perlu adanya evaluasi pelaksanaan kegiatan konseling PMBA di lapangan. Kata kunci : stunting, perilaku ibu, pemberian makan bayi dan anak (PMBA)
ABSTRACT Name : F. Detiniaty Study Program : Public Health Science Title : Mother's Behavior in Infants and Young Child Feeding Stunting Age 0-23 Months (Qualitative Study in Lape Sub-district, Sumbawa Regency in 2017) Mother’s behavior in Infant and Young Child Feeding (IYCF) in critical periods (ages 0-23 months) is very important to prevent stunting conditions in infants/children. This study aims to determine the behavior of mothers in feeding infant and stunting children aged 0-23 months in Lape Sub-district, Sumbawa Regency in 2017. Qualitative approach using Rapid Assessment Procedure design with data collection methods of focus group discussion, indepth interviews, and observation of mother’s informants who had had and have not received IYCF counseling/education. Knowledge and a positive attitude towards mother IYCF related information obtained from counseling/education does not guarantee the implementation of feeding infants and children properly. The existence of family support factors, unsupported tradition, access and utilization of foods and the practice of providing information through counseling to be one that inhibits IYCF activities. Mother’s behavior in feeding infant and stunting children 0-23 months in Lape Sub-District is not optimal. It is necessary to evaluate the implementation of IYCF counseling activities in the field. Keywords: stunting, maternal behavior, infant and young child feeding (IYCF)
