Ditemukan 41165 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
The Indonesian J. of Public Health (IJPH), Vol.3, No.1, Juli 2006, hal. 15-18. ( ket. ada di bendel 2005- 2006) dan ( di bendel 2006-2007 )
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rezki Primaswastya; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani
S-3994
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Pemerintah RI & UNICEF
362.1982 UNI p
Jakarta : Pemerintah RI & UNICEF, s.a.]
Buku (pinjaman 1 minggu) Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
CB: Q 2044
[s.l.] :
Surabaya: BAppeko, 2003, s.a.]
Hibah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ike Anggraeni G.; Promotor : Purnawan Junadi; Kopromotor: Tris Eryando; Penguji: Sabarinah B. Prasetyo, Adang Suhendra, Mardiati Nadjib, Didik Budijanto, Wahyu, Suprijanto Rijadi
D-331
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Imelda Sussanti Nailius; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Tri Krianto, Rudy Priyono, Tiurmasari E. Saragih
Abstrak:
Tuberkulosis merupakan salah satu prioritas utama masalah kesehatan saat ini dengan jumlah kasus yang diobati dan dilaporkan di Indonesia masih dibawah target nasional pada tahun 2021. Angka keberhasilan pengobatan tuberkulosis di Kota Kupang dilaporkan dalam empat tahun terakhir belum tercapai secara optimal. Salah satu faktor ketidakberhasilan minum obat disebabkan karena jangka waktu minum obat yang lama yang memungkinkan untuk terjadi ketidakpatuhan dalam minum obat. Ketidakpatuhan dalam minum obat dapat menyebabkan kegagalan dalam pengobatan, pengobatan ulang maupun resisten terhadap obat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan determinan sosial dan literasi kesehatan dengan kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis di Kota Kupang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional yang dilakukan pada penderita tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan di puskesmas di Kota Kupang. Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner secara online (self administered survey) pada 126 penderita tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan di 11 puskesmas di Kota Kupang. Data dianalisis menggunakan uji regresi logistik sederhana dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan 23,8 % penderita tuberkulosis tidak patuh dalam minum obat tuberkulosis. Variabel literasi kesehatan (p=0,008) dan umur responden (p=0,029) dengan p-value <0,05 dinyatakan berhubungan signifikan dengan kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis. Literasi kesehatan menjadi variabel yang paling dominan dalam mempengaruhi kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis setelah di kontrol oleh variabel umur, pendidikan dan pendapatan. Pentingnya kolaborasi terintegrasi antara berbagai lembaga terkait untuk melakukan edukasi terkait tuberkulosis lewat berbagai media dapat meningkatkan literasi kesehatan masyarakat dan kepatuhan minum obat tuberkulosis.
Tuberculosis is one of the most challenging public health issues at the moment, with the number of cases being treated and reported in Indonesia still falling short of the national objective for 2021. In the last four years, the success rate for tuberculosis treatment in Kupang City has not been optimal. One of the reasons people fail to take medication is because they have been taking it for a long time, which allows for non-compliance. Non-adherence in taking medication can lead to treatment failure, re-treatment or drug resistance. The purpose of this study was to determine the relationship between social determinants and health literacy with medication adherence for tuberculosis patients in Kupang City. This study is a cross-sectional quantitative study that was carried out on tuberculosis patients receiving care at a medical facility in Kupang City. Data were collected by filling out online questionnaires (self-administered survey) on 126 tuberculosis patients who were undergoing treatment at 11 health centers in Kupang City. Simple logistic regression and multiple logistic regression were used to analyze the data. According to the study's findings, 23.8 percent of tuberculosis patients did not take their tuberculosis medications. Health literacy variables (p=0.008) and respondent age (p=0.029) with p-value 0.05 were shown to be significantly related to tuberculosis patients' medication adherence. After adjusting for age, education, and income, health literacy emerged as the most influential variable in affecting medication adherence in tuberculosis patients. The significance of integrated collaboration among multiple associated entities to undertake tuberculosis education through various media can improve public health literacy and adherence to tuberculosis medications.
Read More
Tuberculosis is one of the most challenging public health issues at the moment, with the number of cases being treated and reported in Indonesia still falling short of the national objective for 2021. In the last four years, the success rate for tuberculosis treatment in Kupang City has not been optimal. One of the reasons people fail to take medication is because they have been taking it for a long time, which allows for non-compliance. Non-adherence in taking medication can lead to treatment failure, re-treatment or drug resistance. The purpose of this study was to determine the relationship between social determinants and health literacy with medication adherence for tuberculosis patients in Kupang City. This study is a cross-sectional quantitative study that was carried out on tuberculosis patients receiving care at a medical facility in Kupang City. Data were collected by filling out online questionnaires (self-administered survey) on 126 tuberculosis patients who were undergoing treatment at 11 health centers in Kupang City. Simple logistic regression and multiple logistic regression were used to analyze the data. According to the study's findings, 23.8 percent of tuberculosis patients did not take their tuberculosis medications. Health literacy variables (p=0.008) and respondent age (p=0.029) with p-value 0.05 were shown to be significantly related to tuberculosis patients' medication adherence. After adjusting for age, education, and income, health literacy emerged as the most influential variable in affecting medication adherence in tuberculosis patients. The significance of integrated collaboration among multiple associated entities to undertake tuberculosis education through various media can improve public health literacy and adherence to tuberculosis medications.
T-6470
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hafla Hadissa; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Dieta Nurrika
Abstrak:
Read More
Stres merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang umum dialami mahasiswa dan dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis maupun performa akademik. Berbagai faktor gaya hidup, seperti konsumsi probiotik, asupan serat, konsumsi ultra-processed food (UPF), aktivitas fisik, dan kualitas tidur diduga berperan terhadap kejadian stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi probiotik dan faktor lainnya dengan tingkat stres pada mahasiswa FKM UI tahun 2026. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 138 mahasiswa FKM UI. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58% mahasiswa mengalami stres tinggi. Terdapat hubungan yang signifikan antara tahun studi (p=0,002), konsumsi UPF (p=0,003; OR=2,9; 95% CI=1,4–6,0), dan kualitas tidur (p<0,001; OR=4,3; 95% CI=1,9–9,6) dengan kejadian stres. Sementara itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi probiotik, jenis kelamin, asupan serat, dan aktivitas fisik dengan kejadian stres (p>0,05). Meskipun demikian, aktivitas fisik menunjukkan kecenderungan. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan menerapkan pola hidup sehat, terutama dengan menjaga kualitas tidur untuk membantu mengurangi risiko stres. Fakultas juga diharapkan mendukung upaya promosi kesehatan mental dan perilaku hidup sehat di lingkungan kampus. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain longitudinal serta analisis multivariat untuk memahami hubungan faktor gaya hidup dan stres secara lebih mendalam. Kata kunci: stres, konsumsi UPF, kualitas tidur, tahun studi, mahasiswa.
Stress is a common mental health problem among university students and may affect both psychological well-being and academic performance. Various lifestyle factors, including probiotic consumption, dietary fiber intake, ultra-processed food (UPF) consumption, physical activity, and sleep quality, are believed to be associated with stress. This study aimed to examine the relationship between probiotic consumption and other factors with stress among students of the FKM UI, in 2026. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted among 138 students. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test. The results showed that 50.7% of students experienced high stress. Significant associations were found between year of study (p=0,002), UPF consumption (p=0,003; OR=2,9; 95% CI=1,4–6,0), and sleep quality (p<0,001; OR=4,3; 95% CI=1,9–9,6) and stress. Meanwhile, no significant associations were found between probiotic consumption, sex, dietary fiber intake, physical activity, and stress (p>0.05). Nevertheless, physical activity showed a tendency toward an association with stress. Therefore, students are encouraged to adopt healthy lifestyle behaviors, particularly by maintaining good sleep quality to reduce the risk of stress. The faculty is also expected to support mental health promotion and healthy lifestyle programs within the campus environment. Future studies are recommended to employ longitudinal designs and multivariate analyses to further explore the relationship between lifestyle factors and stress. Keywords : stress, UPF consumption, sleep quality, year of study, college students.
S-12380
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Machdalena; Pembimbing; Adang Bachtiar Kantaatmaja ;Penguji: Kusdinar Ahmad, Yayuk Hartriyanti, Lukman, Sumarty
T-916
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sarah Dessy Oktavia; Pembimbing: Zulazmi Mamdy; Pnguji: Zarfiel Tafal, Djalu Sugiarto
S-5719
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Auliya Nanda Susmita; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Mona Lisa
Abstrak:
Read More
Kualitas tidur dan tingkat stres merupakan aspek penting kesehatan mahasiswa, yang berpotensi dipengaruhi salah satunya oleh siklus menstruasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara tingkat stres dan kualitas tidur berdasarkan siklus menstruasi pada mahasiswa S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tahun 2024 menggunakan desain cross-sectional dengan sampel 167 mahasiswa yang dipilih secara simple random sampling dari populasi 1070 mahasiswi. Data dikumpulkan melalui kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk kualitas tidur, Perceived Stress Scale (PSS-10) untuk tingkat stres, dan kuesioner menstruasi secara online, kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square dan korelasi Spearman menggunakan SPSS. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswi memiliki kualitas tidur buruk (81,2%) dan tingkat stres sedang (88,6%). Dengan siklus menstruasi yang normal pada seluruh responden. Analisis Chi-square menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dengan kualitas tidur (p-value = 0,347), antara tingkat stres dengan siklus menstruasi (p-value = 0,206), dan juga kualitas tidur dengan siklus menstruasi (p-value = 0,423). Namun, uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan negatif yang lemah namun signifikan secara statistik antara tingkat stres dan siklus menstruasi (korelasi = -0,170, p = 0,028), serta antara kualitas tidur dan siklus menstruasi (korelasi = -0,155, p = 0,04). Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan tingkat stres dan penurunan kualitas tidur berhubungan dengan perubahan pada siklus menstruasi, meskipun kekuatan hubungan tergolong lemah. Penelitian ini memberikan gambaran awal mengenai interaksi antara stres, kualitas tidur, dan siklus menstruasi, yang menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental dan pola tidur untuk mendukung kesehatan reproduksi mahasiswi, meskipun keterbatasan jumlah sampel dan metode survei online dapat memengaruhi hasil. Penelitian lanjutan dengan desain yang lebih komprehensif disarankan untuk memvalidasi temuan ini.
Sleep quality and stress levels are essential aspects of student health, potentially influenced by the menstrual cycle. This study aims to analyze the relationship between stress levels and sleep quality based on the menstrual cycle in undergraduate students of the Faculty of Public Health, University of Indonesia in 2024. The study used a cross-sectional design with a sample of 167 students selected by simple random sampling from a population of 1070 female students. Data were collected through the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire for sleep quality, the Perceived Stress Scale (PSS-10) for stress levels, and an online menstrual questionnaire, then analyzed using the Chi-Square test and Spearman correlation using SPSS. The results of the descriptive analysis showed that the majority of female students had poor sleep quality (81.2%) and moderate stress levels (88.6%). With a normal menstrual cycle in all respondents. Chi-square analysis showed no significant relationship between stress levels and sleep quality (p-value = 0.347), between stress levels and the menstrual cycle (p-value = 0.206), and also sleep quality with the menstrual cycle (p-value = 0.423). However, Spearman's correlation test showed a weak but statistically significant negative relationship between stress level and menstrual cycle (correlation = -0.170, p = 0.028), and between sleep quality and menstrual cycle (correlation = -0.155, p = 0.04). These results indicate that increased stress level and decreased sleep quality are associated with changes in menstrual cycle, although the strength of the relationship is relatively weak. This study provides an initial overview of the interaction between stress, sleep quality, and menstrual cycle, emphasizing the importance of maintaining mental health and sleep patterns to support female students' reproductive health, although the limited number of samples and online survey method may affect the results. Further research with a more comprehensive design is recommended to validate these findings.
S-11851
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
