Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30006 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Atan Tachjamirah; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito
T-746
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Temy Ramadan; Pembimbing : Sandra Fikawati; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Giri Wurjandaru
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Program PMT-P untuk Balita pada duaPuskesmas kecamatan di Jakarta Utara tahun 2017. Penelitian ini menggunakan metodekualitatif deskriptif untuk mengetahui masukan (SDM, anggaran, sarana dan prasarana,bahan makanan tambahan), proses (perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi),dan keluaran (balita sasaran yang menerima makanan tambahan, hari makan anak) sertametode kuantitatif potong lintang untuk mengetahui proses (pelaksanaan, pemantauandan evaluasi) dan keluaran (balita sasaran yang menerima makanan tambahan, hari makananak) program pada kedua Puskesmas. Data penelitian didapatkan dengan metodewawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, wawancara terstruktur, dan observasi.Informan penelitian ini adalah masing-masing 1 orang TPG, 1 orang kepala Puskesmas,dan 8 orang kader pada kedua Puskesmas. Serta responden penelitian masing-masing 10orang ibu dari sasaran program pada kedua Puskesmas. Penelitian dilakukan diPuskesmas Kecamatan Pademangan dan Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok. Hasildari penelitian di Puskesmas Kecamatan Pademangan menunjukkan TPG yang diisi olehtenaga kesehatan lain, belum tersedia gudang penyimpanan yang baik, makanantambahan dengan kuantitas berlebih dan kualitas kurang baik, perbedaan istilah sasaranprogram, perbedaan indikator, penolakan dari sasaran, hari makan anak yang tidakdipantau, dan kenaikan berat badan yang tidak terlalu bermakna. Sedangkan penelitian diPuskesmas Kecamatan Tanjung Priok menunjukkan anggaran yang dirasa kurang cukup,kuantitas makanan tambahan yang berlebih, perbedaan istilah sasaran, perbedaanindikator, kenaikan berat badan yang tidak terlalu bermakna, penolakan dari sasaran, danjumlah hari makan anak yang tidak dipantau.Kata Kunci:Evaluasi program; Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan untuk Balita.
Read More
S-9628
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aminuddin; Pembimbing: Yvonne M.Indrawati; Penguji: Asih Setiarini, Kodrat Pramudho, Tri Hadiah
Abstrak:

Krisis ekonomi yang berlangsung sejak tahun 1997 di Indonesia mengakibatkan bertambahnva jumlah orang miskin, Jaya bell masyarakat menurun, harga bahan pokok melambung, munculnya ancaman kelaparan dan kerawanan gizi terutama pada kelompok anak Balita. Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencegah agar masyarakat miskin tidak makin terpuruk , Program tersebut meliputi: peiayanan kesehatan dasar bagi anggota keluarga miskin; pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin, nifas dan balita; perbaikan gizi ibu hamil, menyusui dan balita serta pengembangan model JPKM. Studi longitudinal program JPSBK pada 5 propinsi di Indonesia memperlibatkan adanya kecenderungan perbaikan status gizi dan penurunan infeksi pada balita. Dalam rangka mengetahui dampak program JPSBK terhadap status gizi anak BADUTA maka Pusat Studi Gizi dan Pangan (PSGP) Universitas Hasanuddin bekerjasama dengan Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI melakukan penelitianpada 2 Kabupaten yakni Maros Propinsi Sulawesi Selatan dan Tangerang Propinsi Banten. Data yang dianalisis dalam rangka pembuatan Iesis ini adalah bagian dari penelitian yang diiaksanakan di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak program JPSBK terhadap status gizi dan prevalensi penyakit infeksi anak BADUTA dengan desain penelitian Time Series (trend)_ Sedangkan yang menjadi sampel daiam penelitian ini adalah bayi dan anak yang berumur 6 - 23 buaan. Dari hasil analisis dengan menggunakan indikator < -2 z- score untuk PBIU,BBIPB dan BBIU ditemukan anak baduta Gakin malnutrisi setelah setahun program 3PSBK masing-masing berturut-turut 43,3°/x; 14% dan 45,1% . Untuk poia asupan makanan meningkat pads. BADUTA GAKIN dan non GAKIN setelah setahun program JPSBK. Prevalensi penyakit infeksi meningkat pada kasus diare dan demam tetapi menurun untuk kasus ISPA. Pada BADUTA non GAKIN prevalensi diare dan ISPA menurun tetapi meningkat pads kasus demain. Variabel yang bermakna dalam penalitian ini hanya pola asupan makanan, penyakit Diare dan ISPA. Dari basil yang diperoleh dalam penekitian ini maka disarankan untuk mencontoh model program JPSBK untuk menanggulangi status gizi anak Baduta yang sifatnya darurat.


 

Impact of Infectious Diseases and Quality of Nutrition Intake Method Concerning to Nutrition status of Children Under Two Years Age Before and After One Year of Social - Health Safety Net Program (SHSNP) at Tangerang District Banten Province in Year 2000 During Indonesia economic crisis since 1997 has made impact to increase the numbers of poor, decrease the purchasing power of people, to rise the prices of primary goods then starvation and malnutrition comes up among children under five years old. Social - Health Safety Net Program (SHSNP) is one of action of government to prevent the poor people should not be more savers. This program included primary health services for poor family, maternal and child services, mother nutrition, breastfeeding and develops SHSNP model Longitudinal study of this program at five provinces in Indonesia has shown the improvement of nutrition status and decrease of infectious diseases on children under five years old or BALITA. Recording to find out the effect of this program to the improvement of nutrition status on children under five years old, Direktorat Bina Gizi Masyarakat or Directorate of Cultivate of Community Nutrition Ministry of Health, Republic of Indonesia has studied at 2 (two) Districts; Maros on South Sulawesi Province and Tangerang on Banten Province. The data that analyzed in this study is part of research that has run on Tangerang District. This study focuses on the effect of SHSNP to nutrition status and prevalence of infectious diseases on children under two years old or BADUTA Design of this study is quasi experimental. Babies and children with age 6 - 23 months are become sample in this study. The result of this study by using indicator < -2 z- score Height/Age, Weight/Height and Weight/Age, and after one year it was founded children with malnutrition, each of them are 43,3 %, 14,0 % and 45,1%. The nutrition intake method increase an BADUTA GAKIN and Non-BADUTA GAKIN after one year of this program. Infectious disease prevalence of diarhoea and fever increase, but respiratory tract infection decrease. BADUTA Non GAKIN has decreasing of diarrhea and respiratory infection, but fever increase. The significant variables are food intake, diarrhea and respiratory tract infection. This study has recommendation to imitate Social - Health Safety Net Program (SHSNP) to take care the emergency nutritional status on children under two years age (BADUTA).

Read More
T-1170
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stephanie Yesica; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Trini Sudiarti, Eko Prihastono, Fajrinayanti
Abstrak: Tesis ini membahas program pemberian makanan tambahan berupa biskuit pabrikan bagi balita gizi kurang (pengukuran perbandingan berat badan menurut panjang atau tinggi badan balita) yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia sejak tahun 2004 - 2022. Pada praktiknya Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) berupa biskuit pabrikan juga diberikan bagi balita dengan berat badan kurang (pengukuran perbandingan berat badan menurut umur). Perlu adanya analisis untuk mengetahui hubungan pemberian makanan tambahan dengan Prevalensi Balita Berat Badan Kurang dan Gizi Kurang di Indonesia Tahun 2022. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan menggunakan data sekunder dengan desain cross-sectional. Data yang digunakan adalah Data Sekunder Sigizi Terpadu / EPPGBM dari Kementerian Kesehatan RI. Data tersebut meliputi jumlah balita penerima PMT-P dan balita dengan berat badan sangat kurang (severely underweight), berat badan kurang (underweight) dan gizi kurang (moderate wasted) seluruh provinsi di Indonesia tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pemberian makanan tambahan dengan prevalensi balita berat badan kurang (underweight) nilai P = 0,026 (CI = 0,007-0,101), sangat kurang (severely underweight) nilai P = 0,026 (CI = -0,101 s/d -0,007) dan gizi kurang (moderate wasted) nilai P = 0,021(CI = 0,056-0,650). Seluruh nilai P <0.005 menunjukkan ada hubungan prevalensi balita berat badan kurang dan gizi kurang. Penelitian menyarankan program pemberian makanan tambahan berupa biskuit dilanjutkan diikuti dengan program pendekatan keluarga bagi balita gizi kurang dan adanya penambahan pelaporan faktor determinan kejadian balita gizi kurang di aplikasi EPPGBM. --- This thesis discusses the supplementary feeding program in the form of manufactured biscuits for malnourished toddlers (measurement of the ratio of body weight according to the length or height of toddlers) that has been carried out by the Government of Indonesia from 2004 - 2022. In practice, supplementary feeding in the form of manufactured biscuits is also given to toddlers with underweight (a measure of the ratio of body weight to age). An analysis is needed to determine the relationship between supplementary feeding and the Prevalence of Underweight and Malnourished Children in Indonesia in 2022. This research is a quantitative study using secondary data with a cross-sectional design. The data used is Integrated Nutrition Secondary Data / EPPGBM from the Indonesian Ministry of Health. The data includes the number of toddlers receiving PMT-P and severely underweight, underweight and wasted toddlers in all provinces in Indonesia in 2022. The results show that there is a relationship between supplementary feeding and prevalence of underweight toddlers P value = 0.026 (CI = 0.007-0.101), severely underweight P value = 0.026 (CI = -0.101 to -0.007) and moderate wasted P value = 0.021(CI = 0.056-0.650). All P values <0.005 indicated that there was a relationship between the prevalence of underweight and malnutrition. The research suggested that the supplementary feeding program in the form of biscuits be continued followed by a family approach program for undernourished toddlers and additional reporting of the determinants of the incidence of undernourished toddlers in the EPPGM application.
Read More
T-6761
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Suci Anzarkusuma; Pembimbing: Sandra Fikawati; pENGUJI: Triyanti, Fathimah Sulistyowati Sigit, Ray Wagiu Basrowi, Mirsal Picaso
Abstrak:

Masalah malnutrisi balita masih menjadi tantangan global, dengan 45 juta anak mengalami wasting pada 2022. Di Indonesia, prevalensi wasting dan underweight masing-masing mencapai 8,5% dan 15,9%, termasuk di Jakarta Timur yang mencatat angka wasting 9,3% dan memiliki jumlah balita terbanyak di DKI Jakarta. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengimplementasikan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan yang didanai melalui APBD maupun Corporate Social Responsibility (CSR).
Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Program PMT berbahan pangan lokal yang didanai oleh APBD dan CSR terhadap perubahan status gizi anak usia 6–59 bulan di Jakarta Timur tahun 2024. Menggunakan desain mixed methods sequential explanatory, yang menggabungkan analisis kuantitatif terhadap 2.183 anak (APBD: 1.812; CSR: 371) dan analisis kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pengelola program. Analisis dilakukan untuk mengevaluasi perubahan status gizi anak sebelum dan sesudah intervensi PMT berdasarkan sumber pendanaan (APBD dan CSR). Analisis statistik meliputi independent sampel t-test, oneway ANOVA, dan regresi linier dengan menggunakan indikator perubahan Δ z-score BB/U dan BB/TB.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan status gizi BB/U (APBD naik 6,4%; CSR naik 10%) dan BB/TB (APBD naik 1%; CSR naik 2,4%). Ditemukan hubungan yang bermakna antara status gizi awal dengan perubahan z-score BB/U (APBD p=0,000; CSR p=0,033) dan BB/TB (APBD p=0,000). Regresi linier multivariat menunjukkan bahwa status gizi awal, frekuensi, dan jenis PMT merupakan faktor signifikan dalam perubahan z-score (p<0,05), sedangkan sumber pendanaan tidak menunjukkan pengaruh signifikan setelah dikontrol variabel lain. Temuan kualitatif menyoroti perbedaan dalam pelaksanaan dan pemantauan antara skema APBD dan CSR, namun keberhasilan program lebih dipengaruhi oleh ketepatan sasaran dan kualitas implementasi.
Studi ini menyimpulkan keduanya pendanaan memiliki potensi yang setara dalam mendukung perbaikan status gizi anak. Tidak ditemukan perbedaan efektivitas antara PMT berbasis APBD dan CSR, di mana keberhasilan program lebih dipengaruhi oleh ketepatan sasaran dan pelaksanaannya. Penguatan monitoring serta kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk meningkatkan dampak intervensi gizi pada anak. Temuan penelitian ini menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan dalam pengembangan intervensi gizi anak berbasis kebutuhan lokal.


Child malnutrition remains a global challenge, with an estimated 45 million children experiencing wasting in 2022. In Indonesia, the prevalence of wasting and underweight among children under five remains high at 8.5% and 15.9%, respectively. East Jakarta, which has the largest number of under-five children in the capital, reported a wasting prevalence of 9.3%. To address this issue, the government has implemented the Supplementary Feeding Program (PMT Pemulihan), funded through both local government budgets (APBD) and Corporate Social Responsibility (CSR) schemes. This study aimed to evaluate the effectiveness of locally sourced PMT programs funded by APBD and CSR on the nutritional status improvement of children aged 6–59 months in East Jakarta in 2024. A sequential explanatory mixed-methods design was used, combining quantitative analysis of 2,183 children (APBD: 1,812; CSR: 371) and qualitative analysis through in-depth interviews with program implementers. The analysis assessed changes in nutritional status before and after PMT interventions, based on funding sources. Statistical methods included independent sample t-tests, one-way ANOVA, and linear regression using changes in weight-for-age (Δ z-score W/A) and weight-for-height (Δ z-score W/H) as indicators. The results showed improvements in W/A (6.4% in APBD; 10% in CSR) and W/H (1% in APBD; 2.4% in CSR). Significant associations were found between baseline nutritional status and z-score changes for both W/A (APBD p = 0.000; CSR p = 0.033) and W/H (APBD p = 0.000). Multivariate regression indicated that initial nutritional status, feeding frequency, and PMT type were significant factors affecting z-score changes (p < 0.05), while funding source was not significant after adjusting for other variables. Qualitative findings highlighted differences in implementation and monitoring between APBD and CSR programs, but emphasized that program success was more influenced by targeting accuracy and quality of implementation. The study concludes that both funding schemes have comparable potential in improving child nutritional status. No significant difference in effectiveness was found between APBD- and CSR-based PMT. Success was driven more by precise targeting and proper implementation. Strengthening monitoring systems and cross-sectoral collaboration is essential to maximize the impact of nutrition interventions. These findings provide evidence-based guidance for policymakers in developing locally tailored child nutrition strategies.

Read More
T-7294
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghevira Aulia Sahara; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Triyanti, Fajrinayanti
Abstrak:

Masalah kekurangan gizi pada balita usia 12–59 bulan masih menjadi tantangan besar di Indonesia, termasuk di Kota Depok. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbasis Pangan Lokal merupakan salah satu upaya intervensi yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki status gizi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal dan faktor-faktor lain terhadap kenaikan berat badan balita di Puskesmas Cimpaeun Kota Depok Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 71 balita usia 12–59 bulan yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan data sekunder dari Puskesmas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,6% balita mengalami kenaikan berat badan yang adekuat setelah mengikuti program PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal. Terdapat hubungan yang signifikan antara kesesuaian pemberian PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal dengan kenaikan berat badan balita (p = 0,027; OR = 4,464; 95% CI: 1,155–17,252), yang berarti balita yang menerima PMT Pemulihan Berbasis Pangan Lokal tidak habis memiliki risiko 4,464 kali lebih besar untuk mengalami kenaikan berat badan yang kurang dibandingkan dengan balita yang menerima PMT habis terdapat hubungan yang signifikan antara infeksi dengan kenaikan berat badan (p = 0,015). Balita yang mengalami infeksi memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami kenaikan berat badan. Sementara itu, variabel seperti pola makan, pendidikan ibu, pengetahuan, pola asuh, kunjungan posyandu, dan PHBS tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap kenaikan berat badan balita.


Malnutrition among children aged 12-59 months remains a major challenge in Indonesia, including in Depok City. Local Food-Based Supplementary Feeding (PMT) is one of the government's intervention efforts to improve children's nutritional status. This study aims to determine the relationship between the provision of Local Food-Based Recovery PMT and other factors on toddler weight gain at the Cimpaeun Health Center in Depok City in 2024. This study used a cross sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of 71 toddlers aged 12-59 months who were purposively selected. Data were collected through questionnaires and secondary data from the health center. The results showed that 60.6% of toddlers experienced adequate weight gain after participating in the Local PMT program. There was a significant association between the appropriateness of the provision of local PMT and weight gain (p = 0.027; OR = 4.464; 95% CI: 1.155-17.252), meaning that toddlers who received inadequate local food-based recovery PMT had a 4.464 times greater risk of underweight gain compared to toddlers who received inadequate PMT. There was a significant association between infection and weight gain (p = 0.015). Infected toddlers had a higher tendency to gain weight. Meanwhile, variables such as diet, mother's education, knowledge, parenting, posyandu visits, and PHBS did not show a significant relationship with toddler weight gain. 

Read More
S-11937
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Fauzan Antyanta; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Alfanissa Ilmaladuni
Abstrak:
Permasalahan gizi balita, yaitu gizi kurang, berat badan kurang dan berat badan tidak naik, merupakan masalah gizi yang masih tinggi prevalensinya secara nasional. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah menerapkan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut, termasukoleh Puskesmas Tanjung Priok di Jakarta Utara. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan status gizi pada balita bermasalah gizi usia 0-59 bulan dalam program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Priok tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel balita gizi kurang usia 0-59 bulan berjumlah 134 balita yang telah mengikuti program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal pada tahun 2025. Variabel independe meliputi faktor balita (usia balita, jenis kelamin balita, ASI eksklusif, PMT yang dihabiskan, penyakit infeksi dan imunisasi) dan faktor orang tua (pendidikan ayah dan ibzu, status pekerjaan ayah dan ibu dan jumlah anak dalam keluarga). Uji statistik chi square digunakan untuk melihat hubungan antara variabel yang diteliti. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 52,2% balita mengalami kenaikan status gizidan terdapat hubungan yang signifikan antara usia balita dengan peningkatan status gizi mereka (p-value = 0,001).

Nutritional problems of toddlers, namely malnutrition, underweight and weight faltering, are nutritional problems that still have a high prevalence nationally. To address this problem, the government implemented a local food supplementary feeding program as one of the efforts to overcome this problem. The local food supplementary feeding program is implemented by the Tanjung Priok Community Health Center in North Jakarta. The purpose of this study was to identify factors related to improving the nutritional status of toddlers with nutritional problems aged 0-59 months in the local food supplementary feeding program in the Tanjung Priok Community Health Center working area in 2025. This study used a cross-sectional study design with a sample of 134 malnourished toddlers aged 0-59 months who had participated in the local food supplementary feeding program in 2025. Independent variables included toddler factors (toddler age, toddler gender, exclusive breastfeeding, PMT consumed, infectious diseases and immunizations) and parental factors (father's and mother's education, father's and mother's employment status and number of children in the family). The chi-square statistical test was used to see the relationship between the studied variables. The results showed that 52.2% of toddlers had improved nutritional status and there was a significant relationship between the age of the toddlers and the improvement in nutritional status of toddlers (p-value = 0.001).
Read More
S-12151
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heny Purbaningsih; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Trini Sudiarti, Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Dewi Astuti, Eka Agustina
Abstrak:

Balita gizi kurang merupakan keadaan gizi pada balita dengan berat badan menurut tinggi badan atau berat badan menurut panjang badan pada Z-score -3 SD sampai dengan <-2 SD atau lingkar lengan atas (LiLA) 11,5 cm sampai dengan <12,5 cm. Pada tahun 2021, prevalensi wasting di Provinsi Banten melebihi angka nasional yaitu sebesar 7,9%. Bahkan di Kota Serang jauh lebih tinggi sebesar 11,4%. Sedangkan Kecamatan Serang merupakan penyumbang prevalensi gizi kurang tertinggi di Kota Serang dengan angka  30,71%. Tata laksana balita gizi kurang yang menjadi program Kementerian Kesehatan dengan memberikan makanan tambahan berbahan pangan lokal yang dilaksanakan salah satunya di Kecamatan Serang, Kota Serang. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan status gizi pada balita gizi kurang usia 12-59 bulan dalam program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal di Kecamatan Serang tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel balita gizi kurang usia 12-59 bulan berjumlah 130 balita yang telah mengikuti program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal di Kecamatan Serang tahun 2022. Variabel independen meliputi faktor balita (usia, jenis kelamin, ASI eksklusif, PMT berbahan pangan lokal, konsumsi energi, konsumsi protein, konsumsi protein hewani, konsumsi protein nabati, penyakit infeksi dan imunisasi) dan faktor orang tua (pendidikan ibu dan pendapatan). Uji statistik yang digunakan pada uji bivariat menggunakan chi square dan uji multivariat menggunakan regresi logistik ganda model determinan. Hasil menunjukkan bahwa terdapat balita yang status gizinya naik sebanyak 56,2%. Terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal (p-value = 0,012), konsumsi energi (p-value = 0,001), penyakit infeksi (p-value = 0,020) dan pendapatan (p-value = 0,003). Analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan peningkatan status gizi adalah konsumsi energi (OR = 3,600). Balita dengan konsumsi energi kurang berisiko 3,6 kali lebih tinggi status gizinya tidak naik dibandingkan balita yang mengonsumsi cukup energi setelah dikontrol oleh variabel PMT berbahan pangan lokal, konsumsi protein, konsumsi protein hewani, penyakit infeksi, imunisasi dan pendapatan. Perlunya perbaikan pola pemberian makan dan asupan makanan yang baik dalam jumlah dan kualitasnya untuk menunjang tumbuh kembang balita dan meningkatkan kewaspadaan jika terjadi masalah gizi pada balita.


 

Wasted is a nutritional condition in children under five with weight for height Z-score or weight for length Z-score of -3 SD to <-2 SD or upper arm circumference of 11.5 cm to <12.5 cm. In 2021, the prevalence of wasting in Banten Province exceeded the national rate at 7.9%. In Serang City, it was even higher at 11.4%. Meanwhile, Serang sub-district contributed the highest prevalence of wasted in Serang city with 30.71%. The management of wasted children, which is a program of the Ministry of Health by local food-based supplementary feeding program is implemented one of them in Serang District, Serang City. The purpose of this study was to identify factors associated with improving nutritional status in underweight children aged 12-59 months in the local food-based supplementary feeding program in Serang District in 2022. This study used a cross sectional study design with a sample of wasted children aged 12-59 months totaling 130 children who had participated in the local food-based supplementary feeding program in Serang District in 2022. Independent variables included children factors (age, sex, exclusive breastfeeding, local food-based supplementary feeding program, energy consumption, protein consumption, animal protein consumption, vegetable protein consumption, infectious diseases and immunization) and parental factors (maternal education and income). Statistical tests used in bivariate tests using chi square and multivariate tests using multiple logistic regression determinant models. The results showed that there were children whose nutritional status improved by 56.2%. There was a significant relationship between local food-based supplementary feeding program (p-value = 0.012), energy consumption (p-value = 0.001), infectious diseases (p-value = 0.020) and income (p-value = 0.003). Multivariate analysis showed that the dominant factor associated with improved nutritional status was energy consumption (OR = 3.600). Children with insufficient energy consumption had a 3.6 times higher risk of not improving their nutritional status compared to children who consumed enough energy after controlling for the variables of local food-based supplementary feeding program, protein consumption, animal protein consumption, infectious diseases, immunization and income. It is necessary to improve feeding patterns and food intake both in quantity and quality to support the growth and development of children and increase vigilance in the event of nutritional problems in children under five.

Read More
T-6938
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arif Setyawan; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Sabdra Fikawati, Luknis Sabri, Sihadi
Abstrak:
Penelitian ini merupakan analisa data sekunder dari data penelitian mengenai Pola Pemberian Makan, Masukan Makanan, dan Status Gizi Anak Umur 0 - 23 bulan di Indramavu. Jawa Barat 1997. Desain Penelitian adalah Cross Sectional. Analisis data yang dilakukan adalah untuk mengetahui hubungan antara praktek pemberian makan dan karakteristik lain dengan status gizi bayi usia 6-11 bulan di Kecamatan Gabus Wetan dan Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu tahun 1997. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10,8 % bayi umur 6-11 bulan memiliki status gizi kurang. Sebagian besar (88,7 %) bayi diberikan ASI, 83,3 % diberikan kolostrum dan 86.8% memiliki pola makan ASI dengan makanan tambahan. Gambaran lain dari hasil penelitian ini adalah masih tingginya penyakit infeksi (44,1 %) dan rendahnya tingkat pendidikan ibu ( SD = 89,2 %). Penelitian ini menyarankan perlunya dilakukan upaya peningkatan dan perbaikan praktek pemberian makan pada bayi, perbaikan kesehatan lingkungan, serta menggalakkan pemberian ASI dan sosialisasi penggunaan MP ASI yang memenuhi syarat gizi dan annan untuk mencegah terjadinya gizi kurang pada bayi.

The study analized data from survey on Feeding Pattern, Nutritional Intake, and Nutritional Status among Children 0-23 months in Indramayu, West Java, 1997. This study is a cross sectional study and the goal of this research is to get information about feeding practice and other determine factors of infant nutritional status 6-11 months old at Gabuswetan and Sliyeg subdistrict of Indramayu, 1997. The study revealed that infant 6-11 months with malnutrition were 10,8 %. 88.7 % infant were breastfeed, 83,3 % have cholostrum, and 86,8 % with breastfed with weaning foods. The other results of this study are prevalence of infectious diseases remain high (44.1 %), and most of the mothers have low educational level (5 SD = 89.2 °ro). Base on the study, it is suggested to give more attention to feed pattern practice infant 6 - 11 months, health environment rehabilitation, and also to promote and socialize breast feeding and the useful of weaning food to prevent malnutrition.
Read More
T-1343
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oky Sutiarso; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Trini Sudiarti, Agus Triwinarto, Salimar
Abstrak: Penelitian ini mempelajari hubungan antara Pemberian Makanan Tambahan (PMT)untuk meningkatkan status gizi pada anak usia 10-12 tahun di Kelas Belajar Oky.Variabel yang diteliti adalah jenis kelamin, umur, pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan, kontribusi energi dan protein sebelum dan sesudah intervensi terhadapBB/U, TB/U, IMT/U, status gizi, pengaruh PMT dalam peningkatan status gizisebelum dan sesudah diberikan intervensi. Analisis menggunakan data primer. Desainpenelitian menggunakan quasi eksperiment dan rancangan control time series design. Responden yang digunakan adalah sebanyak 42 orang, terdiri dari 22 orang yangmendapat perlakuan dan 20 orang kelompok control. Kelompok perlakuan mendapatkan PMT selama 90 hari berupa susu 200 ml, telor 1 butir dan buah 1potong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil kontribusi sebelum dan sesudah PMT terhadap analisa berat badan sebelum dan sesudah diberikan PMT terdapat perbedaan nyata dengan nilai p=0.000 (p value <0.005) dan 1.37 point lebih tinggi yang mendapat dar ipada yang tidak mendapat PMT. Untuk analisa tinggi badan sebelumdan sesudah diberikan PMT terdapat perbedaan nyata dengan nilai p=0.000 (p value<0.005) dan 2.3 point lebih tinggi yang mendapat daripada yang tidak mendapat PMT.Untuk BB/U sebelum dan sesudah PMT terdapat perbedaan nyata dengan nilaip=0.000 (p value <0.005) dan TB/U PMT terdapat perbedaan nyata dengan nilaip=0.001 (p value <0.005) serta untuk IMT/U terdapat perbedaan nyata dengan nilaip=0.000 (p value <0.005).Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan status gizi secaranyata sebelum dan sesudah diberikan PMT. Penelitian ini menyarankan perludilakukan penelitian lebih lanjut dengan waktu penelitian lebih dalam serta dapatberkorelasi dengan hal-hal yang berkaitan tidak hanya dengan gizi tetapi juga denganhal-hal sosial, sosiologi, budaya, ekonomi dan pemberdayaan masyaraka dan denganmenggunakan kemampuan dan sumberdaya lokal. Daftar Bacaan : 44 (tahun 1978-2012) Kata kunci : Pemberian makanan tambahan, Status Gizi, anak usia 10-12 tahun
This research study relationship correlation Supplementary Feeding to increasenutrition status children 10-12 years old in Kelas Belajar Oky. Variable examined aregender, age, parents work, education, contribution energy and protein before andafter Suplementary Feeding against weight per age, height per age, BMI per age,nutrition status, impact supplementary feeding in an increase nutrition status beforeand after supplementary feeding. Analyses using primary data. Research design usingquasi eksperiment and control time series design. Respondents who used is as 42children, consist of 22 children is treatment group and 20 children control group.Groups of experiment get supplementary feeding 90 days is milk 200 ml, egg 1 pcs andfruit 1 pcs.The results showed that the result of the contribution before and after supplementaryfeeding for analyses weight before and after significant p value = 0.000 (p value<0.005). Analyses height before and after supplementary feeding are significant withp value = 0.000 (p value <0.005). Weight per age before and after SF are significantwith p value =0.000 (p value <0.005) and height per age significant with p value=0.001 (p value <0.005) and also significant for BMI/Age with p value =0.000 (pvalue <0.005).From the results of this study concluded that an increase in nutrition status before andafter supplementary feeding. This study suggests further research needs to be donewith more research time and can be correlated not only nutrition but also socialscience, sociology, culture, economy, and community development with ability localsource.Literatur : 44 (years 1978-2012) Keyword : Suplementary feeding, Nutrition Status, age 10-12 years
Read More
T-4099
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive