Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36713 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sri Hartoyo; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Renti Mahkota, Erliana Setiani, Subangkit
T-4789
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diah Anjarini; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah, Beti Ernawati Dewi
Abstrak:

ABSTRAK

Pengembangan diagnosis DBD dengan pendekatan deteksi antigen saat iniadalah deteksi IgM/IgG antibodi dan circulating dengue virus non-structuralprotein 1 yang bersirkulasi dalam serum atau plasma penderita. Nonstructaralprotein I (NS1) merupakan glikoprotein yang diperlukan dalam proses replikasivirus. Pada infeksi akut NSI disekresikan dari sel yang terinfeksi dan akanbersirkulasi dalam darah penderita DBD baik pada infeksi primer maupuninfeksi sekunder. NSI dapat dideteksi pada penderita terinfeksi virus dengueserotipe 1, 2, 3 maupun 4. NSI disekresi pada hari 1 sampai hari 9 saat onsetdemarn, sehingga dengan deteksi NSI diharapkan diagnosis DBD dapatditegakkan lebih dini, atau secepatnya pada hari 1 onset demam. Saat ini sudahtersedia secara komersial Diagnostik Kit SD Dengue Duo (Dengue NS1 Ag+AbCombo). Penelitian ini bertuiuan untuk mendapatkan alternatif diagnosis infeksivirus dengue dengan melakukan uii validasi produk tersebut terhadap IgM, IgGdan NS1 pada tersangka penderita DBD di Rumah sakit Imanuel BandarLampung. Uji validasi meliputi sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif, nilaiduga negatif, rasio kecenderungan positif, rasio kecenderungan negatif danakurasi. Hasil uji dibandingkan dengan RT-'PCR sebagai baku emas (goldstandard). Hasilnya menunjukkan Dengue NSI Ag menunjukkan sensitivitas(sebesar 100%), spesifisitas sebesar 92%, nilai duga positif (NDP) sebesar 58%,nilai duga negatif (NDN) sebesar 100% dan akurasi sebesar 92,5%, nilai ROCsebesar 95.8% menunjukkan bahwa NS-1 dapat mendiagnosis Dengue dengan baiksekali.Disimpulkan bahwa Diagnostik Kit SD Dengue Duo (Dengue NS1 Ag+Ab Combo )layak dan memadai sebagai perangkat diagnosis DBD.


 

ABSTRACT

New approach of dengue diagnosis is detecting of circulating denguenonstructural protein 1 (NS1) IgM/IgG antibodies, antigen in patient sera orplasma. NSI is a glycoprotein essential use for virus replication process. It issecreted from infected cells and detectable in blood from the lst day aftertheonset of fever up to day 9. This protein could be detected in dengue virusinfection either serotype 1,2,3 and 4 by NS1 detection and IgM/IgG. Promptdiagnosis could be made as soon as on day 1 onset of fever. The NS I antigen assayhas been developed for commercial use Diagnostik Kit SD Dengue Duo (DengueNS1 Ag+Ab Combo). To find out an alternative dengue diagnostic tool DengueNS1. Ag was validated for early diagnosis of febrile stage in patients withsuspect dengue infection as a gold standard of the test was rely on RT-PCR.The diagnostik Kit SD Dengue Duo (Dengue NS1 Ag+Ab Combo) showssensitivity 100%, spesificity 92%, positive predictive value (PPV) 58%, negatifpredictive value (NPV) 100% and accuracy 94,5% respectively, ROC 95.8%the agreement between both tests were good. It was concluded that DiagnostikKit SD Dengue Duo (Dengue NS1 Ag+Ab Combo) and NSI Ag good and could beused for early diagnosis of dengue virus infection.

Read More
T-3992
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ivana Yulian Hendarsin; pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Hadianti Adlani, Herman Kosasih
Abstrak:

Latar Belakang Indonesia merupakan daerah hyper-endemic dengue dengan siklus epidemik yang rutin terjadi. Kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 mendefinisikan kumpulan gejala, tanda dan hasil laboratorium yang dapat mendeteksi mayoritas kasus dengue namun untuk konfirmasinya membutuhkan tambahan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan NS1 maupun Immunoglobulin M.
Metode Penelitian Penelitian cross-sectional dengan data sekunder dari pasien demam akut di tiga lokasi Kabupaten Tangerang yaitu RSUD Kabupaten Tangerang, Puskesmas Kelapa Dua dan Puskesmas Bojong Nangka. Reference test berupa pemeriksaan RT-PCR, sedangkan index test adalah kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 dan pemeriksaan RDT NS1. Analisis data dilakukan dengan uji diagnostik berupa uji reabilitas dan validitas.
Hasil Penelitian Kekuatan tingkat kesepakatan pada kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 terhadap pemeriksaan RT-PCR maupun RDT NS1 adalah fair sedangkan pemeriksaan RDT NS1 terhadap RT-PCR didapatkan tingkat kesepakatan substantial. Sensitivitas kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 didapatkan sebesar 72% (95%CI 65-78.2) lebih tinggi daripada pemeriksaan RDT NS1 65.6% (95%CI 58.4-72.4), namun spesifisitasnya sangat rendah (52.4% vs 97.6%). Kombinasi kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 dan RDT NS1 secara serial memiliki sensitivitas 50.8% dan spesifisitas 98.1% dibandingkan kombinasi paralel menunjukkan hasil sensitivitas 86.8% dan spesifisitas 51.9%.
Kesimpulan Berdasarkan uji reabilitas hanya pemeriksaan RDT NS1 yang memiliki tingkat kesepakatan substantial. Berdasarkan uji validitas sensitivitas kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 tidak cukup baik dalam skrining kasus dengue sehingga penggunaannya sebaiknya digantikan kombinasi paralel agar kasus dengue yang tidak terdiagnosis dapat berkurang.


Background Dengue is hyperendemic with frequent epidemic cycles in Indonesia. Tangerang district is among the regions with a high dengue burden. The 2009 WHO dengue case classification has a set of symptoms, signs, and laboratory findings that can identify most dengue cases; however, dengue cases need to be confirmed by additional laboratory diagnostic tests, such as NS1 and Immunoglobulin M testing. Method A cross-sectional study using secondary data from acute fever patients in three different locations in Tangerang District: Bojong Nangka PHC, Kelapa Dua PHC, and Tangerang District Hospital. The 2009 WHO dengue case classification and the NS1 RDT as index test, whereas the reference test is RT-PCR. Validity and reliability tests are used to analyze data. Results The observed agreement on the 2009 WHO dengue case classification for RT-PCR and NS1 RDT examinations was fair, although among NS1 RDT and RT-PCR was substantial. The sensitivity of the 2009 WHO dengue case classification was 72% (95%CI 65-78.2) higher than the NS1 RDT 65.6% (95%CI 58.4-72.4), but the specificity was considerably lower (52.4% vs 97.6%). The serial combination of the 2009 WHO dengue case classification and NS1 RDT in this study had a sensitivity of 50.8% and a specificity of 98.1%, while the parallel combination showed a sensitivity of 86.8% and a specificity of 51.9%. Conclusion Based on the reliability test, only the NS1 RDT has a substantial level of agreement. Based on the validity test, the sensitivity of the 2009 WHO dengue case classification is insufficient for screening dengue cases; therefore, a parallel combination can be used instead to lower the number of undiagnosed dengue cases.

Read More
T-7359
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikke Yuniherlina; Pembimbing: SSyahrizal yarif, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Endang Burni P., Herman Kosasih
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ikke Yuniherlina NPM : 1506704434 Program Studi : Epidemiologi Komunitas Judul : Faktor-faktor yang berhubungan dengan keparahan DBD pada pasien studi demam akut di delapan rumah sakit di Indonesia Manifestasi klinis demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi permasalahan dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan derajat keparahan DBD menurut kritera WHO 2011 terbagi atas DBD derajat I, DBD derajat II, DBD derajat III, dan DBD derajat IV. Di Indonesia insiden DBD meningkat walaupun angka kematiannya menurun, untuk itu penelitian ini bertujuan meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan keparahan DBD, dimana DBD derajat II, III, dan IV dikategorikan sebagai DBD parah. Penelitian cross-sectional yang menggunakan data sekunder dari studi etiologi demam akut dari delapan rumah sakit di Indonesia, didapatkan proporsi keparahan DBD sebesar 43,3%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan keparahan DBD didapatkan faktor jenis serotipe virus DENV-2 (OR = 3,06 95%CI 1,43 – 6,55), DENV-3 (OR = 2,62 95% CI 1,33 – 5,15), faktor lama demam (OR = 1,91 95%CI 1,09 – 3,35), dan faktor jumlah leukosit (OR = 1,79 95%CI 1,02 – 3,16). Skoring didapatkan sebesar 67% kemampuan untuk memprediksi keparahan. Kata kunci: keparahan, demam berdarah dengue, faktor-faktor


ABSTRACT Name : Ikke Yuniherlina NPM : 1506704434 Study Program : Epidemiology Title : Prognostic factors associated with dengue hemorrhagic fever severity of the acute fibril illness study patients in eight hospitals in Indonesia Dengue hemorrhagic fever (DHF) as a clinical manifestasion of dengue infection remains a public health problem in Indonesia. According to WHO, DHF severity grade was divided into DHF I, DHF II, DHF III and DHF IV. In Indonesia, the incidence of DHF increased eventhough the mortality rate decreased. Therefore, the study aims to examine prognostic factors related to the severity of DHF, with the category of severe DHF is including DHF II, DHF III and DHF IV. This cross-sectional study using secondary data from the Acute Febrile Illness Etiology Study of eight Hospitals in Indonesia. The result as follow, the proportion of severe DHF category is 43.3%, the prognostic factors associated with DHF severity are DENV serotype (DENV-2, OR = 3.06 95% CI 1.43 - 6.55; DENV-3, OR = 2.62 95% CI 1.33 - 5.15), day of illness (OR = 1.91 95% CI 1.09 - 3.35), and leucocyte count (OR = 1.79 95% CI 1.02 - 3.16). The scoring with contributing of DENV serotype, day of illness, and leucocyte count as prognostic factors, has only 67% ability to predict DHF severity. Keywords: severity, dengue hemorrhagic fever, prognostic factors

Read More
T-5168
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cucunawangsih; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-Promotro: Pohan Herdiman T. Syahrurachman; Penguji: Djoko Widodo, Sudarto Ronoatmodjo, Cicilia Windiyaningsih, Tjahyani Mirawati, Mondastri Korib Sudaryo
D-267
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ira Wignjadiputro; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Renti Mahkota, Tri Yunis Miko Wahyono, Edy Hariyanto, Ni Ketut Sulilarini
T-4654
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rohani Simanjuntak; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Ratna Djuwita, Suhendro, Cicilia Windiyaningsih
T-2383
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhayati; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan Penguji: Nuning, Ratna Djuwita, Dien Emawati, I Made Setiawan
T-2966
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ita Perwira; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Wahyono, Helda, Endang Burni
Abstrak:

Infeksi virus dengue masih merupakan masalah kesehatan dunia saat ini termasuk di Indonesia. Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2009 dilaporkan 158.912 kasus dengan jumlah kematian 1.420 orang (CFR 0,89%). Tingginya jumlah rawat inap di rumah sakit ini juga menjadi beban yang cukup besar. Tujuan: untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi lama rawat inap pada pasien yang terinfeksi virus dengue di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur. Metode: Menggunakan desain potong lintang (cross-sectional). Hasil: Jumlah kasus infeksi dengue di RSUP Persahabatan tahun 2010 adalah 2168. Didapatkan subjek 450 orang dari total 633 subjek yang tercatat selama 1 Januari - 31 Juni 2010. Berdasarkan hasil analisis multivariat diperoleh 4 variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan lama rawat inap pasien yang terinfeksi virus dengue yaitu lama sakit sebelum masuk RS (p=0.000, OR=0.229, 95% CI 0.134-0.392), penyulit (p=0.003, OR = 2.050, CI 95% : 1.276 ? 3.293),jumlah trombosit (p=0.013, OR=2.585, 95% CI 1.220-5.478) dan jumlah leukosit (p=0.024, OR=1.624, 95% CI 1.065-2.475). Variabel yang paling dominan yang berhubungan dengan lama rawat inap adalah jumlah trombosit. Dari hasil tersebut disarankan agar klinisi dan akademisi perlu meningkatkan standar pelayanan penyakit yang lebih efektif dan efisien pada pasien yang terinfeksi virus dengue.


 

Background: Dengue fever remains as health problem in the world, especially in tropic and sub-tropic zone include Indonesia. DKI Jakarta province in 2009 was reported 158.912 cases with mortality rate 1.420 cases (CFR 0,89%). Very high of hospitalization rate in the hospital due to dengue infection increase the burden for the government and community. Objective: to find out factors affect to the hospitalization days in patients with dengue virus infection in Persahabatan Hospital, East Jakarta Method: This study was implemented using cross-sectional design. Result: There was 450 subject from total 633 cases reported during 1 January - 31 June 2010. Based on bivariate analysis there is 4 variable which has significant correlation with hospitalization days in patients with dengue virus infection in Persahabatan Hospital. They are days of sick before hospitalized (p=0.000, OR=0.229, 95% CI 0.134-0.392), complication (p=0.003, OR = 2.050, CI 95% : 1.276 ? 3.293), trombocyte (p=0.013, OR=2.585, 95% CI 1.220-5.478), leucocyte (p=0.024, OR=1.624, 95% CI 1.065-2.475). Dominant variable which has significant correlation with hospitalization days is trombocyte. From those result, suggestion for clinician and academician are to increase services standart to be more effective and efficient for patients with dengue virus infection.

Read More
T-3458
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imam Syahputra Yamin; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Lalu Simbawara
Abstrak: Latar Belakang: Demam berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Dengue yang merupakan masalah kesehatan di Indonesia termasuk di Kota Mataram. Kasus DBD di Kota Mataram sejak tahun 2016 sampai tahun 2019 cenderung fluktuatif dimana sebagian besar pasien DBD dirawat di RSUD Kota Mataram. Kematian akibat infeksi DBD Sebagian besar terjadi pada DSS dan kematian akibat DSS dilaporkan 50 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien DBD tanpa DSS. Diagnostik yang cepat dan pengobatan yang tepat merupakan salah satu penentu penting untuk pencegahan dan pengendalian dengue, sehingga dengan mengetahui faktor risiko ini dapat mencegah/mengurangi kematian. Metode: Penelitian ini bersifat observasional dengan desain kasus control. Kasus adalah pasien DBD yang didagnosis Dengue Shock Syndrome oleh dokter yang merawat, sedangkan untuk kontrol adalah pasien DBD yang didiagnosis bukan Dengue Shock Syndrome oleh dokter yang merawat. Data penelitian diperoleh dari data rekam medis dan formular KD-RS yang dirawat di RSUD Kota Mataram dari bulan Januari 2016 sampai Desember 2020. Rancangan analisis ditujukan untuk memperoleh nilai odds ratio dilanjutkan dengan analisis multivariat untuk mengetahui faktor risiko yang dapat mendeteksi DSS lebih awal. Hasil Penelitian: Variabel yang signifikan secara statistic pada prediksi model akhir adalah variable peningkatan nilai hematokrit > baseline dengan OR= 17,1 (95% CI: 4,033-72,600), penurunan nilai trombosit < 100.000/µL dengan OR= 6 (95% CI: 2,30615,699), dan penurunan nilai leukosit < baseline dengan OR= 5,1 (95% CI: 2,20911,838). Sedangkan variabel yang paling dominan adalah variabel peningkatan nilai hematokrit > baseline dengan nilai OR= 17,1 (95% CI: 4,033-72,600) dan nilai p= 0,000.
Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by the Dengue virus which is a health problem in Indonesia, including in the city of Mataram. DHF cases in Mataram City from 2016 to 2019 tend to fluctuate where most of the DHF patients are treated at the RSUD Kota Mataram. Death due to DHF infection occurred mostly in DSS and mortality from DSS was reported to be 50 times higher than in DHF patients without DSS. Prompt diagnosis and appropriate treatment are important determinants for dengue prevention and control, so knowing these risk factors can prevent/reduce mortality. Methods: This study is an observational study with a case-control design. Cases are DHF patients diagnosed with Dengue Shock Syndrome by the treating doctor, while the controls are DHF patients diagnosed not with Dengue Shock Syndrome by the treating doctor. The research data were obtained from medical records and KD-RS formular data treated at the RSUD Kota Mataram from January 2016 to December 2020. The design of the analysis was aimed at obtaining the odds ratio value followed by multivariate analysis to determine the risk factors that could detect DSS early. Results: The variables that were statistically significant in the prediction of the final model were the increase in hematocrit value > baseline with OR= 17.1 (95% CI: 4.03372.600), decreased platelet value < 100.000/µL with OR= 6 (95% CI : 2,306-15,699), and decreased leukocyte value < baseline with OR= 5.1 (95% CI: 2,209-11,838). While the most dominant variable is the increase in hematocrit value > baseline with OR = 17.1 (95% CI: 4.033-72.600) and p value = 0.000
Read More
T-6191
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive