Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38573 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ingan Ukur Tarigan; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo
T-953
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ingan Ukur Tarigan
Bulitkes Vol.31, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2003
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hadiyat Miko; Pembimbing: Ratna Djuwita, Lukman Hakim Tarigan
T-1839
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nitta Isdiany; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Ratna Djuwita, Kusdinar Achmad, Tatang Sahibul Falah, Djoko Kartono
Abstrak:

Prevalensi gizi kurang pada anak usia kurang dari 36 bulan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah keluarga miskin di Indonesia. Untuk mencegah semakin memburuknya status gizi dan kesehatan masyarakat, pemerintah telah melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK). Salah satu pelayanannya adalah intervensi gizi berupa pemberian makanan tambahan (PMT) bagi anak keluarga miskin.Penelitian ini menganalisis data sekunder dari penelitian "Studi Dampak PMT terhadap Status Gizi dan Kesehatan Bayi dan Anak". Tujuan penelitian ini untuk memperoleh informasi kekuatan hubungan PMT dengan status gizi anak usia 12 - 36 bulan. Lokasi penelitian di Propinsi Jawa Tengah yang merupakan salah satu wilayah sasaran program PMT JPS-BK. Faktor lain meliputi umur anak, jenis kelamin, lama pemberian ASI, penyakit infeksi, konsumsi energi, umur ibu, dan pendidikan ibu diduga mempengaruhi hubungan PMT dengan status gizi anak.Desain yang digunakan adalah Case Control. Kelompok kasus adalah anak yang memiliki status gizi kurang dengan indeks BBIU (Z-skor <-2 SD). Sedangkan kelompok kontrol adalah anak dengan status gizi baik (Z-skor > -2 SD). Besar sampel 214 anak, terdiri dari 107 sampel kasus dan 107 sampel kontrol. Evaluasi dari PMT yang diterima anak merupakan komposit dari kandungan energi PMT dan lama mendapat PMT.Hasil penelitian menunjukkan, dari seluruh sampel, sebagian anak ternyata menerima PMT dengan kualitas kurang. Penyelenggaraan PMT dengan model paket dibawa pulang ke rumah, ternyata hanya sebagian anak yang mengkonsumsi sendiri PMT tersebut. Proporsi anak yang menerima PMT kualitas kurang, lebih banyak ditemukan di kelompok kasus dibandingkan kontrol. Kesimpulan dari studi ini adalah tidak terbukti adanya hubungan yang bermakna antara PMT kualitas kurang dan cukup dengan status gizi anak. Diketahui pula faktor konsumsi energi ternyata berperan sebagai confounder, atau mempunyai pengaruh terhadap hubungan PMT dengan status gizi anak. Adanya bias misklasifikasi dalam pengukuran PMT.Saran yang diajukan adalah program PMT akan lebih efektif dengan model feedings centers. Selain itu, perlu adanya kerjasama lintas sektor, seperti "dana bergulir" untuk meningkatkan pendapatan keluarga, atau pemanfaatan pekarangan rumah, yang dapat digunakan oleh anggota keluarga itu sendiri. Dengan demikian, konsumsi energi anak dapat meningkat dan berdampak terhadap status gizinya. Untuk meminimalkan bias misklasifikasi, perlu penelitian lebih lanjut dengan populasi terdiri dari anak yang mendapat PMT dan tidak mendapat PMT.


 

The relationship between supplementary feeding program (PMT) and nutritional status of children 12-36 months of age at Central Java Province(secondary data analysis)The prevalence of underweight on children under 36 months of age increasingly with increment of poor families in Indonesia. To prevent more badly nutritional status and public health, the government has launched Social Safety Net Program in Health (JPS-BK). One of the services is nutritional intervention such as supplementary feeding program (PMT) for children from poor families.The study was analyzed the secondary data "impact study supplementary feeding program on nutritional status and health on baby and children". The aim of the study to get information strength of relationship between supplementary feeding program and nutritional status on children 12 - 36 months of age. Location's study at Central Java Province, one of the target area JPS-BK supplementary feeding programs. Several factors such as age, sex, length of breastfeeding, infection, energy consumption, mother?s age, mother's education, was predicted influenced the relationship between PMT and nutritional status on children.The design was case control study. Cases group is children who underweight by weight for age index (Z-score < -2 SD). Control group is children with nutritional status was good (Z-score > -2 SD). Sample size was 214, that was 107 cases and 107 control. Evaluation of PMT was composite from energy of PMT and duration of feeding.Result of the study showed a half of the sample have gotten PMT as insufficient quality. All the supplement were delivered to the home, and showed a half of children who consumed PMT by himself/herself. Proportion of children who got PMT as insufficient quality, was more at cases group than control. The study concluded no significant relationship between insufficient quality and sufficient quality of PMT and nutritional status of children. Energy consumption was role as confounder. There was misclassification bias on measured PMT.It is suggested that supplementary feeding program were more effectively with feeding centers model. It's necessary cross sector program such as "rotation fund" to increase income families or using garden home for members of families. Consequently, energy consumption of children increased, and have given indirect impact on nutritional status on children. To minimize misclassification bias, it's necessary a further study with population on children who supplemented and non supplemented.

Read More
T-1256
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Luriana Nur Pratiwi; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dwi Gayatri, Syafrial
S-7415
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Devita Ariestiana Prabowo; Pembimbing: Nurhyati Adnan; Penguji: Helda, Dewi Damayanti
S-8297
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tinneke Primasari; Pemb; Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Agus Triwinarto
S-5516
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ervira Dwiaprini As Syifa; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Trisari Anggondowati, Jasrida Yunita, Irwan Muryanto
Abstrak:
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013 dan 2018, menunjukkan adanya peningkatan prevalensi gizi lebih dan obesitas di provinsi Riau yaitu dari 3,1% menjadi 11,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi lebih/obesitas pada remaja siswa SMA Negeri di Kota Pekanbaru Tahun 2023. Jenis penelitian adalah kuantitatif analitik dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2023. Sampel adalah siswa SMAN kelas X dan XI di tiga SMAN di Kota Pekanbaru, yaitu SMAN 4, SMAN 6, dan SMAN 12. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Variabel independen adalah jenis kelamin, pengetahuan remaja, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, uang saku, status kegemukan orang tua, aktivitas fisik, kualitas tidur, konsumsi makanan cepat saji dan konsumsi makanan manis. Variabel dependen adalah gizi lebih/obesitas. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel yang dominan berhubungan dengan gizi/obesitas adalah status kegemukan orang tua (OR=3,12; 95% CI: 1,25-7,83). Remaja dengan orang tua gemuk/obesitas lebih berisiko 3 kali mengalami gizi lebih/obesitas dibandingkan dengan remaja yang tidak memiliki orang tua gemuk/obesitas. Variabel lain yang berhubungan adalah pengetahuan siswa (OR=2,62; 95% CI: 1,27-5,39) dan kebiasaan makanan manis (OR=2,34; 95% CI:1,04-5,27). Untuk itu diharapkan pihak sekolah dapat bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk menyelenggarakan penyuluhan atau seminar tentang gizi dan obesitas pada remaja, sekolah dapat menyediakan kantin sehat dengan membatasi ketersediaan makanan cepat saji dan minuman manis.

Based on the 2013 and 2018 Basic Health Research, there was an increase in the prevalence of overnutrition and obesity in Riau province from 3.1% to 11.6%. This study aimed to analyse the factors associated with the incidence of overeight/obesity in adolescent students of public high schools in Pekanbaru City in 2023. The type of research is quantitative analytic with a cross-sectional design. The research was conducted in May-June 2023. Samples were class X and XI students in three high schools in Pekanbaru City, namely SMAN 4, SMAN 6, and SMAN 12. Sampling was done by purposive sampling. Independent variables were gender, adolescent knowledge, parental education, parental occupation, pocket money, parental obesity status, physical activity, sleep quality, fast food consumption and sweet food consumption. The dependent variable was overweight/obesity. Data were analysed univariately, bivariate and multivariate. The results showed that the dominant variable associated with overweight/obesity was parental obesity status (OR=3.12; 95% CI: 1.25-7.83). Adolescents with obese parents were three times more likely to experience overweight/obesity compared to adolescents who did not have obese parents. Other associated variables were student knowledge (OR=2.62; 95% CI: 1.27-5.39) and sweet food habits (OR=2.34; 95% CI: 1.04-5.27). For this reason, schools are expected to work with the Health Office and Community Health Center to organise counselling or seminars on nutrition and obesity in adolescents; schools can provide healthy canteens by limiting the availability of fast food and sugary drinks.
Read More
T-6811
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akhmad Yani Suryana; Pembimbing: Buchari Lapau; Penguji: Luknis Sabri, Tri yunis Miko Wahyono, Sri Utami
Abstrak: Suksesnya pembangunan kesehatan dan gizi yang dilaksanakan Indonesia telah dapat menurunkan masalah gizi yang dihadapi secara bermakna. Tetapi suksesnya pembangunan tersebut mengakibatkan pula perubahan pola penyakit yang ada di Indonesia. Penyakit infeksi dan kekurangan gizi terlihat berkurang, sebaliknya penyakit degenaratif dan penyakit kanker meningkat. Peningkatan kemakmuran ternyata diikuti oleh perubahan gaya hidup. Pola makan terutama di kota-kota besar bergeser dari pola makan tradisional yang banyak mengkonsumsi karbohidrat, sayuran dan serat ke pola makanan masyarakat barat yang komposisinya terlalu banyak mengandung lemak, protein, gula dan garam tetapi miskin serat. Sejalan dengan itu pada beberapa tahun terakhir ini mulai terlihat peningkatan angka prevalerisi kegemukan/obesitas pada sebagian penduduk Indonesia terutama di kota-kota besar, yang diikuti pula pada akhir-akhir ini di pedesaan.
 
Kelebihan gizi dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi dan penyakit batu kandung empedu. Salah satu faktor yang berperan adalah adanya kebiasaan makan-makanan trendi, makan-makan berlemak. Disamping itu faktor aktivitas fisik juga berperan dalam mengatur kebutuhan energi, dalam hal ini menyangkut aktivitas pekerjaan dan aktivitas olah raga. Selain itu faktor-faktor lain yang berperan adalah umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya masalah status gizi lebih dan faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada orang dewasa di Kota Bogor.
 
Desain penelitian ini adalah "cross sectional" dengan memanfaatkan data sekunder hasil pengumpulan data status gizi pada orang dewasa yang dilakukan oleh Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Bogor tahun 1997. Kemudian data yang diperoleh dianalisa baik secara bivariat maupun multivariat dengan menggunakan regresi logistik antara faktor risiko (kebiasaan makan-makanan trendi. kebiasaan makan-makanan berlemak, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan olah raga) dengan status gizi lebih pada orang dewasa.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi status gizi lebih orang dewasa di Kota Bogor adalah sebesar 23,88% (klasifikasi Depkes).
 
Berdasarkan hasil analisis bivariat faktor risiko yang mempunyai hubungan bermakna antara lain : kebiasaan makan-makanan trendi. kebiasaan makan-makanan berlemak, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan.
 
Dari hasil analisis model multivariat dengan memasukkan secara bersama-sama semua faktor risiko yang diduga mempunyai hubungan dengan status gizi lebih pada orang dewasa. dapat diketahui ada tiga faktor risiko yang berhubungan dengan status gizi lebih pada orang dewasa yaitu, kebiasaan makan-makanan trendi, umur dan jenis kelamin.
 
Selanjutnya dari analisis model regresi menunjukkan bahwa proporsi status gizi lebih orang dewasa di Kota Bogor pada kelompok orang dewasa yang berumur 30-39 tahun kejadiannya 2,96 kali lebih tinggi, 40-49 tahun kejadiannya 5,01 kali lebih tinggi, 50-59 tahun kejadiannya 3,91 kali lebih tinggi, 60-65 tahun kejadiannya 2,73 kali lebih tinggi. dibandingkan kelompok umur < 30 tahun. Selain itu juga dapat diketahui hasil dari analisis model regresi bahwa proporsi status gizi lebih orang dewasa di Kota Bogor pada kelompok yang jarang mengkonsumsi makan-makanan trendi 1,31 kali lebih tinggi dan yang sering mengkonsumsi makan-makanan trendi kejadiannya 2,97 kali lebih tinggi, dibandingkan dengan kelompok yang tidak pernah mengkonsumsinya. Sementara itu proporsi status gizi lebih orang dewasa pada kelompok orang dewasa yang berjenis kelamin perempuan 2,29 kali lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.
 
Terdapat interaksi faktor kebiasaan makan-makanan trendi dengan jenis kelamin dalam kaitannya dengan status gizi lebih pada orang dewasa di Kota Bogor . Dimana pada kelompok perempuan yang jarang(1-4 kali/bulan) mengkonsumsi makan-makanan trendi proporsi status gizi lebilmya kemungkinannya 0,73 kali dari kelompok laki-laki yang jarang mengkonsumsinya. Demikian pula proporsi status gizi lebih orang dewasa pada kelompok perempuan yang sering mengkonsumsi makan-makanan trendi kemungkinannya 0,32 kali dari kelompok laki-laki yang sering mengkonsumsinya.
 

Factors Related to the Status of Excess of Nutrition on Adults in Bogor in 1997 (Analysis of Secondary Data)The success on health and nutrition development program carried out has been able to decrease nutritious problem that is faced by Indonesian significantly. However, the development also results in changing disease pattern that exists in Indonesia. Infectious disease and malnutrition seems decreased, on the contrary the generative and cancer diseases increased. The increasing of prosperity is followed by the changing of life style. The pattern of having food especially in the big cities moves from a traditional food pattern that consumes a lot of carbohydrate, vegetables and fiber into having a western food pattern that consumes a lot of fat, protein, sugar and salt but consumes less fiber. As consequences, the increase of over weight prevalent value can be seen in recent years in many part of Indonesia, especially in the big cities and also followed by the villages recently.
 
Excess in nutrition can cause various health problems such as coronary heart, diabetes, hypertension, and gall stone. One factor which plays role is a habit of consuming trend food and fat food. Moreover, physical activity factor also plays role in regulating energy need which includes work and exercise activity. Besides that, other factors that plays role are age, gender and education level.
 
The purpose of this research is to know the problems of excess of nutrition status and its related factors on the adults in Bogor.
 
This research design is "cross sectional" by utilizing secundary data on nutritional status of adults. This data collected by Directorate for the Establishment of Nutrition for Community (Direktorat Bina Gizi Masyarakat), Health Department (Departemen Kesehatan) Republic of Indonesia and Health Service Bogor in 1997. The collected data was analyzed by either ` bivariat" or "multivariat" using "Logistic Regression" between risk factors (habit of having trend food, habit of having fat food, age, gender, education level, type of jobs and exercise) and excess of nutrition status of the adults.
 
The result shows that the excess of nutrition status prevalent of adults in Bogor is 23,88% (Depkes' classification). According to the analysis of "Bivariat" model, the risk factors which have significant relation are: habit of having trend food, habit of having fat food, ages, gender, education levels, and type of jobs.
 
From the analysis of "multivariat" model using all of the risk factors that are assumed has =elation with the excess of nutrition status of adults, found that there are three risk factors related to the excess of nutrition status of the adults. The three risk factors are habit of having trend food, ages and gender.
 
Further more, regression analysis model shows that the proportion of excess of nutrition status of the adults in Bogor compare to the group of people with less than 30 years old are as follows:
 
- Group with the age between 30 and 39 is 2.96 higher,
 
- Group with the age between 40 and 49 is 5.01 higher,
 
- Group with the age between 50 and 59 is 3.91 higher, and
 
- Group with the age between 60 and 69 is 2,73 higher.
 
Besides that, the regression analysis model also shows that:
 
- the proportion of excess to nutrition status of the adults in Bogor for a group of people that seldom consumed trend food is 1.31 higher compare to that of group that never consumed trend food, and The group that often consumed trend food is 2.97 higher compare to that of group that never consumed trend food.
 
Meanwhile the proportion of excess of nutrition status of the female adults is 2.29 higher than male adults.
 
There is interaction between the habit of having trend food factor and gender that is related to excess of nutrition status of the adults in Bogor. The female group that seldom (1-4 times/month) consumed trend food; the proportion of their excess of nutrition status is 0.73 more than the male group that seldom consumed it. The proportion of excess of nutrition status of the female adults that often consumed trend food is 0.32 higher than the male group that often consumed trend food.
Read More
T-1319
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ummi Kalsum; Pembimbing: Ratna Djuwita Hatma, Airin Roshita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Anies Irawati, Entos Zainal
T-2082
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive