Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31167 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nina Herlina; Komisi Pembimbing: Nur Indrawati Lipoeto; Ko-Promotor I: Sutoto; Ko-Promotor II: Hardisman; Ketua Program Studi: Delmi Sulastri
D-367
Padang : Andalas, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asep Surahman; Promotor: Sudijanto Kamso; Kopromotor: Purwantyastuti, Purnawan Junadi, Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Soewarta Kosen, Nana Mulyana, Bambang Setiaji
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Rendahnya cakupan penemuan kasus TB di Indonesia berdampak padaberlanjutnya proses transmisi infeksi Mycobacterium Tuberculosis M.tb dimasyarakat. Pondok pesantren merupakan populasi rentan dan berisiko dengankarakteristik hunian relatif padat, sanitasi lingkungan kurang sehat. Beberapakasus TB terjadi di pondok pesantren, akibat rendahnya kesadaran santri terhadapgejala TB sehingga berdampak pada akses layanan kesehatan. Perlu upayapengendalian TB dengan melibatkan masyarakat sebagai solusi ketika pemerintahkurang memiliki kapasitas menyediakan layanan dan menjangkau penderita TB.Permasalahan yang sama terjadi di Kabupaten Garut, yaitu terbatasnya sumberdaya kesehatan untuk menjaring dan mengawasi penderita TB. Kegiatanpemberdayaan santri sebagai kader TB di pondok pesantren merupakan inovasidalam upaya menjembatani suspek dan penderita TB untuk mendapatkan akses kefasilitas kesehatan atau active case finding TB. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui dampak positif pemberdayaan santri kader TB terhadap aksesibilitaslayanan TB di fasilitas kesehatan. Metode yang digunakan adalah metodekuantitatif dengan menggunakan desain quasi eksperimen rancangan ldquo;nonequivalent control group design rdquo;, dan metode kualitatif menggunakan wawancaramendalam. Studi ini dilakukan di enam pondok pesantren dengan jumlah sampel493 orang, masing-masing tiga pondok pesantren intervensi sampel 232 orang dantiga pondok pesantren non-intervensi jumlah sampel 236 orang.Penelitian ini membuktikan bahwa pemberdayaan santri kader TB padapondok pesantren di Kabupaten Garut memberikan pengaruh yang signifikanyaitu peningkatan proporsi aksesibilitas layanan TB di fasilitas kesehatan sebesar41.4 pada kelompok intervensi. Santri yang tinggal di pondok pesantrenintervensi berpeluang 3.9 kali lebih besar untuk mengakses layanan TB di fasilitaskesehatan dibandingkan yang tinggal di non-intervensi. Intervensi ini jugaberhasil menemukan 14 kasus TB positif di pondok pesantren dengan tingkatkeberhasilan convertion rate dan cure rate masing-masing sebesar 100 .Program ini perlu direplikasi di wilayah lain mengingat di Indonesia terdapatpondok pesantren dengan kondisi tidak jauh berbeda dengan lokasi dan kondisipenelitian ini.Kata kunci : Santri, Kader TB, akses layanan TB, pondok pesantren
 

 
ABSTRACT
 
 
The low coverage of cases of TB in Indonesia has an impact on thecontinuation of the process of transmission of infection with Mycobacteriumtuberculosis M.tb in the community. Students in Islamic Boarding Schools arevulnerable and are at risk populations with relatively dense residentialcharacteristics and poor environmental sanitation. Some cases of TB occurred inthe boarding school due to the low knowledge TB symptoms among students.This problem, in turn, leads to low access to health care. There is a need forinvolving the community when the government lacks the capacity to provideservices and reach out to people with TB. The same problems occur in Garut,namely the limited health resources and workforce to recruit and supervise TBpatients. The empowerment of students as a cadre of TB in a boarding school is aneffort to bridge suspected TB patients to gain access to a health facility or activeTB case finding. This study aims to determine the positive impact of empoweringstudents as TB Cadre on the accessibility of TB health services. The method usedis quantitative by using a quasi experimental design non equivalent controlgroup design, and qualitative method in the form of interviews. The study wasconducted in six boarding schools with a sample size of 493 people, Theintervention group consists of three boarding schools with 232 students, while therest of the boarding schools with 236 students was chosen as the non interventiongroup.This study proves that the empowerment of students cadre of TB in theboarding school in Garut has a significant and positive impact. It is observed thatthere was an increased in the proportion of service accessibility TB in healthfacilities as much as 41.4 in the intervention group. Students who live in theintervention group were 3.9 times more likely to access TB services in healthfacilities compared to those living in non intervention. This intervention alsomanaged to find 14 positive TB cases in the boarding school with a conversionrate and cure rate of 100 . This program needs to be replicated in other regions inIndonesia, considering that there are many boarding schools with similarconditions across Indonesia.Keywords Students, TB Cadre, Access to TB service, Islamic Boarding School
Read More
D-359
Depok : FKM-UI, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Peristiwanto Adiyono Kodrat Pramudho; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Azrul Azwar, Adang Bachtiar; Penguji: Sudijanto Kamso, Soekidjo Notoatmodjo, Triono Sundoro, Trihono, Minarto
D-226
Depok : FKM UI, 2009
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Khodijah Parinduri; Promotor: Wachyu Sulistiadi; Kopromotor: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Sutanto Priyo Hastono, Soroy Lardo, Sumarjaya, Hermawan Saputra, Maryami Yuliana Kosim
Abstrak:
Kerentanan rumah sakit di Indonesia dalam menghadapi bencana terlihat dari rata-rata indeks Hospital Emergency Disaster Management yang rendah (0,408) dan kegagalan infrastruktur fisik (hard resilience) saat beban puncak (surge capacity), seperti pada pandemi COVID-19 dan gempa bumi. Modal sosial (social capital) berpotensi menjadi "infrastruktur organisasi non-fisik" (soft resilience) yang mampu mensubstitusi keterbatasan fiskal dan birokrasi, namun pengoptimalannya belum terformulasikan secara terstruktur dalam manajemen bencana rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, menyintesis, dan merekonstruksi Model Social capital melalui integrasi perspektif strategis (makro) dan operasional (mikro) guna meningkatkan kesiapsiagaan dan ketahanan rumah sakit di wilayah berisiko bencana tinggi (Provinsi Jawa Barat). Penelitian ini menggunakan desain Exploratory Sequential Mixed Methods. Tahap kualitatif melibatkan 18 informan kunci (praktisi senior dan pakar manajemen bencana) untuk mengidentifikasi 78 indikator modal sosial. Tahap kuantitatif melibatkan 110 responden dari 5 tipologi rumah sakit di Jawa Barat (RS Vertikal, RSUD, dan RS Swasta) yang dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM-PLS). Kualitatif Tahap 2 pada 5 RS mewawancara 34 informan. Tahap akhir adalah rekonstruksi model melalui validasi konsensus ahli. Analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa Modal Sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kesiapsiagaan (0,872) dan Ketahanan (0,672), dengan nilai R-Square Ketahanan sebesar 85,2% (kategori sangat kuat). Penelitian ini memetakan tiga lapis kapital: 1) Bonding Capital (Internal RS) berbasis organizational trust dan nilai spiritual ("Employee of Allah"); 2) Bridging Capital (Horizontal) melalui jejaring lintas faskes/organisasi profesi berbasis resiprositas; dan 3) Linking Capital (Vertikal) melalui agile governance dengan otoritas (Kemenkes/BPBD). Temuan menunjukkan adaptasi kontekstual yang khas: RS Vertikal mengandalkan bridging untuk rujukan makro; RSUD memanfaatkan kearifan lokal "Saduluran" untuk substitusi fiskal daerah; dan RS Swasta Filantropi menggunakan kekuatan identitas sosial untuk pertahanan bottom-up yang lincah. Model Social capital merupakan strategi optimasi non-fiskal yang mentransformasikan jejaring manusia menjadi kapasitas resiliensi nyata. Model ini merekomendasikan integrasi elemen penilaian modal sosial dalam Standar Akreditasi Rumah Sakit (Bab MFK) dan penguatan kurikulum sosiologi kebencanaan pada pendidikan manajemen kesehatan untuk memutus siklus repitisi kesalahan manajemen krisis.

The vulnerability of hospitals in Indonesia in dealing with disasters can be seen from the low average Hospital Emergency Disaster Management index (0.408) and the failure of physical infrastructure (hard resilience) during peak loads (surge capacity), such as in the COVID-19 pandemic and earthquakes. Social capital has the potential to become a "non-physical organizational infrastructure" (soft resilience) that is able to substitute fiscal and bureaucratic limitations, but its optimization has not been formulated in a structured manner in hospital disaster management. This research aims to analyze, synthesize, and reconstruct the Social capital Model through the integration of strategic (macro) and operational (micro) perspectives to improve hospital preparedness and resilience in high-risk disaster areas (West Java Province). This study uses the design of Exploratory Sequential Mixed Methods. The qualitative stage involved 18 key informants (senior practitioners and disaster management experts) to identify 78 social capital indicators. The quantitative stage involved 110 respondents from 5 hospital typologies in West Java (Vertical Hospitals, Hospitals, and Private Hospitals) which were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM-PLS). Qualitative Phase 2 at 5 hospitals interviewed 34 informants. The final stage is the reconstruction of the model through expert consensus validation. The SEM-PLS analysis shows that Social capital has a positive and significant effect on Preparedness (0.872) and Resilience (0.672), with an R-Square value of Resilience of 85.2% (very strong category). This study maps three layers of capital: 1) Bonding Capital (Internal RS) based on organizational trust and spiritual values ("Employee of Allah"); 2) Bridging Capital (Horizontal) through a network of reciprocity-based health facilities/professional organizations; and 3) Linking Capital (Vertical) through agile governance with authorities (Ministry of Health/BPBD). The findings show typical contextual adaptations: Vertical RS relies on bridging for macro references; The hospital utilizes the local wisdom of "Duluran" for regional fiscal substitution; and Philanthropy Private Hospitals use the power of social identity for nimble bottom-up defenses. The social capital model is a non-fiscal optimization strategy that transforms human networks into real resilience capacity. This model recommends the integration of social capital assessment elements in Hospital Accreditation Standards (MFK Chapter) and strengthening the disaster sociology curriculum in health management education to break the cycle of repetition of crisis management errors.
Read More
D-643
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suriah; Promotor: Hadi Pratomo; Ko-Promotor: Hadi Nurlaella, Yeni Rustina; Penguji: Sudijanto Kamso, Sudarto Ronoatmodjo, Rulina Suradi, Dwi Susilowati, M. Ridwan Thaha
D-252
Depok : FKM-UI, 2011
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raharni; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Asri Adisasmita, Trihono; Ketua Tim Penguji: Anhari Achadi; Penguji: Azrul Azwar, Endang L. Achadi, Minarto, Dwisusilowati
D-289
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Martya Rahmaniati Makful; Promotor: Sudijanto Kamso; Kopromotor: Tris Eryando, Purnawan Junadi, Ratna Djuwita, Purwantyastuti, Raldi H. Koestoer, Artha Budi Duarsa, Suwarta Kosen
Abstrak: Tuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di dunia, termasuk di Indonesia. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB, dengan menerapkan strategi DOTS. Sejalan dengan kebijakan pembangunan nasional, pelaksanaan strategi pengendalian TB nasional diprioritaskan pada daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan terutama yang belum memenuhi target penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan. Terdapat lima provinsi dengan TB paru tertinggi dan dua tertinggi yaitu Provinsi Jawa Barat (0.7%), Papua (0.6%). Akses pelayanan kesehatan pasien TB menunjukan ketidakmerataan, dimana hanya ada di wilayah perkotaan dan berada pada ekonomi tinggi. Permasalahan dalam penelitian ini adalah masih ditemukan pasien TB yang tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan. Keterbatasan akses pelayanan kesehatan pasien TB dapat disebabkan oleh kondisi individu yang berbeda-beda serta adanya perbedaan kondisi fisik (geografis). Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan model spasial akses pelayanan kesehatan di provinsi Jawa Barat dan Papua.
 
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dan menggunakan data yang berasal dari Riset Kesehatan Dasar 2013. Lokasi penelitian di 2 provinsi yaitu di provinsi Jawa Barat dan provinsi Papua. Analisis penelitian dengan menggunakan regresi logistik untuk melihat pengaruh karakteristik individu terhadap akses pelayanan kesehatan dan analisis spasial statistik menggunakan Geographically Weighted Regression (GWR) untuk melihat spasial akses pelayanan kesehatan. Akses pelayanan kesehatan adalah pasien TB yang melakukan pemeriksaan dahak, foto rontgen dan mendapatkan obat anti TB.
 
Akses pelayanan kesehatan pasien TB di provinsi Papua masih rendah. Karakteristik individu yang mempengaruhi akses pelayanan kesehatan adalah asuransi kesehatan, pekerjaan, menikah, mengetahui ketersediaan fasilitas kesehatan. Model spasial akses pelayanan kesehatan menghasilkan dua jenis variabel pembentuknya, yaitu adanya variabel lokal dan variabel global. Variabel lokal adalah variabel yang mempunyai pengaruh unsur kewilayahannya terhadap akses pelayanan kesehatan, sedangkan variabel global merupakan variabel yang berpengaruh di tingkat provinsi.
 
Masih rendahnya pasien TB yang melakukan akses pelayanan dapat disebabkan oleh sulitnya pasien TB dalam mencapai fasilitas kesehatan, terutama di wilayah dengan perbedaan geografis. Sehingga perlunya ada kebijakan dalam menyiapkan sarana dan prasarana kesehatan pasien TB, yaitu dengan mulai memasukan tenaga kesehatan terlatih di bidang tuberkulosis pada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
 

Tuberculosis is a major public health problem in the world, including in Indonesia. Finding and curing the patients are the best way of preventing transmission of TB by implementing the DOTS strategy. Implementation of the national TB control strategy prioritized in remote, border and island especially TB patients who do not meet the target case detection and treatment success. There are two of provinces with the highest and second highest TB namely west Java province (0.7%) and Papua (0.6%). Accessibility to health services of TB patients showed inequality, which only exist in urban areas and at high economic status. The problem in this research is find the of TB patients who do not get accessibility to health services. Limited accessibility to health services of TB patients could be caused by conditions different individuals as well as differences in physical conditions (geographic). The purpose of this study is to setup a spatial model of accessibility to health services in the province of West Java and Papua.
 
This study used a cross-sectional design and data derived from the Basic Health Research in 2013 (RISKESDAS). Research sites in the provinces of West Java and Papua. Research analysis applied logistic regression to determine the effect of individual characteristics of accessibility to health services and statistical spatial analysis using the Geographically Weighted Regression (GWR) for a model of spatial accessibility to health services.
 
Accessibility to health care is the patient of TB sputum examination, x-rays and getting anti-TB. Accessibility to health services of TB patients in the province of Papua remains low. Individual characteristics that affect accessibility to health care are health insurance, employment, marriage, the availability of health facilities. Spatial models of accessibility to health services generate two types of constituent variables, the local variables and global variables. Local variables are variables that influence the spatial element of accessibility to health services, while global variables are variables that influence at the provincial level.
 
The low TB patients who do accessibility services may be caused by the difficulty in the of TB patients to health facilities, especially in the areas with geographical differences. Thus the need for a policy in preparing health facilities TB patients, i.e. to start entering trained health personnel in the field of tuberculosis in the entire health care facility.
Read More
D-389
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yudhia Fratidhina; Komisi Pembimbing; Rizanda Machmud, Artha Budhi Duarsa; Ketua Program Studi: Delmi Sulastri
D-368
Padang : Andalas, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Citra Cinta Asyura Nasution; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Adang Bachtiar, Besral; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Sutoto, Emma Rachmawati, Viera Wardhani
Abstrak:

Keselamatan pasien merupakan kewajiban rumah sakit dan bagian integral dari akreditasi sejak 2008. Namun, berbagai permasalahan masih sering ditemukan, sehingga keberlanjutan perbaikan menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan merumuskan model konseptual strategi peningkatan keselamatan pasien. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan desain convergent parallel. Data kuantitatif berasal dari Riset Fasilitas Kesehatan 2019 (523 rumah sakit) dan data akreditasi (917 rumah sakit), dianalisis menggunakan uji chi-square, regresi logistik, dan analisis jalur. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen dari enam rumah sakit, dinas kesehatan provinsi, dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) wilayah di Sumatera Utara dan Bali, dengan total 95 informan. Analisis tematik menggunakan perangkat NVivo, dengan kerangka Malcolm Baldrige dan model implementasi Van Meter-Van Horn, meliputi ukuran dan tujuan kebijakan, sumber daya, kepemimpinan, perencanaan strategis, fokus tenaga kerja, fokus operasi, fokus pelanggan, pengukuran, analisis, dan manajemen pengetahuan, komunikasi antar organisasi, serta peran akreditasi. Hasil kuantitatif menunjukkan bahwa pelaporan insiden keselamatan pasien berhubungan signifikan dengan lokasi (Jawa-Bali), status akreditasi, jumlah tempat tidur (> 200), kelas rumah sakit (A dan B), evaluasi pelayanan, audit internal, serta keaktifan komite keselamatan pasien dan pengendalian infeksi. Hasil kualitatif menunjukkan bahwa implementasi kebijakan keselamatan pasien sudah berjalan, namun bervariasi tergantung kepemilikan dan ketersediaan sumber daya. Semua dimensi yang diteliti berpotensi menjadi faktor pendukung maupun penghambat tergantung pengelolaannya. Kepemimpinan yang kuat, fasilitas yang memadai, serta budaya keselamatan yang ditanamkan secara konsisten memperkuat implementasi, sedangkan lemahnya komitmen dan keterbatasan dana menjadi kendala. Hambatan juga muncul dalam pelaporan insiden, baik dari sisi organisasi maupun individu. Penelitian ini menghasilkan model konseptual strategi peningkatan keselamatan pasien yang mencakup integrasi keselamatan pasien dalam perencanaan strategis, penguatan kepemimpinan, peningkatan kapasitas staf, alokasi anggaran memadai, monitoring dan evaluasi berkelanjutan, serta pelibatan pasien. Model ini diharapkan dapat mendorong peningkatan keselamatan pasien secara menyeluruh dan berkelanjutan di rumah sakit.


 

Patient safety is a mandatory obligation for hospitals and has been an integral part of hospital accreditation since 2008. However, various patient safety issues are still frequently found, making the sustainability of improvements a major challenge. This study aims to formulate a conceptual model of patient safety improvement strategies. A mixed-methods approach with a convergent parallel design was employed. Quantitative data were obtained from the 2019 Rifaskes (523 hospitals) and accreditation records (917 hospitals), and analyzed using chi-square tests, logistic regression, and path analysis. Qualitative data were collected through in-depth interviews and document reviews from six hospitals, provincial health offices, and the Indonesian Hospital Association (PERSI) in North Sumatra and Bali Provinces, involving a total of 95 informants. Thematic analysis was conducted using NVivo software, guided by the Malcolm Baldrige framework and the Van Meter–Van Horn policy implementation model. Quantitative findings showed that the reporting of patient safety incidents was significantly associated with location (Java–Bali), accreditation status, bed capacity (>200 beds), hospital class (A and B), presence of service evaluations, internal audits, and the activity of patient safety and infection control committees. Qualitative results indicated that while policy implementation was underway, it varied depending on hospital ownership and available resources. All dimensions could act as either enablers or barriers depending on how they were managed. Strong leadership and adequate facilities enhanced implementation, while weak commitment and limited funding were key constraints. Incident reporting also faced challenges at both organizational and individual levels. This study produced a conceptual model for improving patient safety through the integration of safety into strategic planning, strengthened leadership, staff capacity building, sufficient budget allocation, continuous monitoring and evaluation, and enhanced patient engagement. The model is expected to support comprehensive and sustainable patient safety improvements in hospitals

Read More
D-580
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ingan Ukur Tarigan; Promotor: Endang L Achadi; Ko Promotor: Soewarta Kosen, Asri C. Adisasmita; Penguji: Anhari Achadi, Kusharisupeni, Mardiati Nadjib, Besral, Imam Rasjidi, Trihono
D-308
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive