Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29986 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yudhia Fratidhina; Komisi Pembimbing; Rizanda Machmud, Artha Budhi Duarsa; Ketua Program Studi: Delmi Sulastri
D-368
Padang : Andalas, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Legina Anggraeni; Promotor: Evi Martha; Kopromotor: Sabarinah, Sri Murni; Penguji: Asri C. Adisasmita, Budi Iman Santoso, Soedibyo Alimoesoe, Indra Supradewi, Maryuni, Nana Mulyana
Abstrak:
Latar belakang Perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi merupakan intervensi untuk mencegah kematian ibu, namun pelaksanaanya belum optimal dan masih berpusat difasilitas kesehatan. Opat sauyunan merupakan program pendampingan ibu hamil berbasis komunitas yang perlu ditingkatkan terutama dalam pendampingan perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menilai efek strategi pendampingan ibu hamil berbasis komunitas “JABAR IMAS” dalam meningkatkan perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi melalui opat sauyunan. Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed methods exploratory sequential design. Pada penelitian kualitatif menggunakan desain etnografi sedangkan untuk penelitian kuantitatif menggunakan desain Quasi Eksperimen-Pre and Post Control Group Design. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu tahap penelitian pertama adalah studi kualitatif, tahap penelitian kedua adalah tahap pengembangan model strategi pendampingan ibu hamil dan tahap ketiga adalah intervensi opat sauyunan kepada ibu hamil. Waktu penelitian pada bulan Agustus 2024-November 2025 dengan lokasi penelitian berada di Kecamatan Bogor Selatan (daerah intervensi) dan Kecamatan Bogor Utara (daerah kontrol). Sampel penelitian berjumlah 78 ibu hamil (daerah intervensi) dan 80 ibu hamil (daerah kontrol). Analisa data yang digunakan adalah difference in difference dan Generalized Estimating Equations. Hasil penelitian menunjukan setelah dilakukannya intervensi strategi “JABAR IMAS” memiliki efek yang signifikan (p=0.0001) serta mampu meningkatkan skor perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi menjadi 10 dari 12 komponen. Pada akhir minggu ke-8 intervensi sebesar 81.3% ibu hamil pada kelompok intervensi berhasil mencapai status well birth planning. Kesimpulan dan saran. Model penguatan JABAR IMAS dapat memperkuat program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi melalui pendampingan secara holistik di komunitas. Perlu adanya keberlanjutan pendampingan ibu berbasis komunitas hingga masa nifas untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda bahaya masa nifas, pemberian ASI eksklusif, dan perencanaan pemakaian alat kontrasepsi setelah persalinan.

Background: Birth planning and complication prevention aim to reduce maternal mortality, but implementation remains suboptimal and centered in health facilities. Opat Sauyunan is a community-based program for pregnant women that needs improvement, especially in assistance with birth planning and complication prevention. This study aims to develop and assess the effectiveness of the "JABAR IMAS" community-based pregnancy support strategy in improving birth planning and complication prevention through Opat Sauyunan. The research used a mixed-methods exploratory sequential design. The qualitative study employed an ethnographic design, while the quantitative study used a quasi-experimental pre- and post-control group design. The study had three stages: a qualitative study, development of a pregnancy support strategy model, and Opat Sauyunan intervention for pregnant women. The study period was August 2024–November 2025, with locations in South Bogor District (intervention area) and North Bogor District (control area). The sample consisted of 78 pregnant women in the intervention area and 80 in the control area. The data analysis used was difference in difference and Generalized Estimating Equations. The results showed that after the intervention, the "JABAR IMAS" strategy had a significant effect (p = 0.0001) and was able to increase the score of birth planning and complication prevention in 10 out of 12 components. At the end of the 8th week of intervention, 81.3% of pregnant women in the intervention group successfully achieved a well birth planning status. Conclusions and suggestions: The “JABAR IMAS” strengthening model can strengthen birth planning and complication prevention programs through holistic assistance in the community. There is a need for continued community-based maternal assistance until the postpartum period to increase awareness of postpartum danger signs, exclusive breastfeeding, and planning for the use of contraceptives after delivery.
Read More
D-634
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yusef Dwi Jayadi; Promotor: Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Mila Tejamaya; Penguji: Sabarinah, Sandra Fikawati, Sudi Astono, Sugiarti, Heny Mayawati
Abstrak:

Pada tahun 2023 industri perkebunan kelapa sawit tercatat sebagai sektor dengan angka kecelakaan kerja tertinggi nasional (60,5%) dengan tren kenaikan sebesar 18–20 % per tahun. Dua faktor utama penyebab kecelakaan dan penyakit pada pekerja di sektor ini adalah kurangnya pengawasan dari manajemen (lack of management control) dan rendahnya tingkat pengetahuan pekerja (human factor). Untuk mengatasi hal tersebut, penelitian ini mengembangkan Model Edukasi K3 melalui penyusunan Modul Edukasi K3 dan pembentukan Kader Sawit, yang bertujuan meningkatkan literasi dan praktik keselamatan kerja pekerja sawit. Penelitian menggunakan pendekatan mix-method exploratory yang dilakukan selama 6 bulan dengan tahapan penelitian: (1) analisis penyelenggaraan K3 dan mengidentifikasi status gizi pekerja, (2) penyusunan Modul Edukasi K3 melalui studi literatur dan expert judgement serta pembentukan Kader Sawit, dan (3) uji coba/menilai dampak intervensi dengan Quasi Experiment Design (Wilcoxon Test). Hasil intervensi menunjukkan peningkatan signifikan pada skor pengetahuan (dari 38,68 menjadi 50,60), sikap (61,87 menjadi 68,13), dan perilaku (25,38 menjadi 30,53). Peningkatan skor Pengetahuan, Sikap dan Perilaku pada kelompok intervensi rata-rata 7.4 kali lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Selain itu, kecelakaan kerja menurun dari 66,7 % menjadi 10 %, dan angka kejadian penyakit turun dari 43,3 % menjadi 33,3 % setelah intervensi. Dengan demikian, intervensi melalui Modul Edukasi K3 dan Kader Sawit terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku K3 serta menurunkan angka kecelakaan dan penyakit, sehingga dapat menjadi langkah strategis dan efektif untuk meningkatkan literasi dan praktik K3 di industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia.


In 2023, the palm oil plantation industry was recorded as the sector with the highest national rate of occupational accidents (60.5%), with an annual increasing trend of 18 20%. The two main contributing factors to accidents and occupational illnesses in this sector are lack of management control and low levels of worker knowledge (human factor). To address these issues, this study developed an Occupational Safety and Health (OSH) Education Model through the formulation of an OSH Education Module and the establishment of “Kader Sawit” (Palm Cadres), aimed at improving workers’ safety literacy and practices. This research applied an exploratory mixed-method approach over a six-month period, with the following phases: (1) analysis of OSH implementation and identification of workers’ nutritional status, (2) development of the OSH Education Module through literature review and expert judgment, along with the training of Kader Sawit, and (3) trial and evaluation of the intervention impact using a Quasi-Experimental Design (Wilcoxon Test). The intervention resulted in a significant increase in knowledge scores (from 38.68 to 50.60), attitudes (from 61.87 to 68.13), and safety behavior (from 25.38 to 30.53). The average increase in knowledge, attitude, and behavior scores in the intervention group was 7.4 times higher than in the control group. Furthermore, the incidence of occupational accidents decreased from 66.7% to 10%, while the occurrence of work-related illnesses declined from 43.3% to 33.3% after the intervention. These findings demonstrate that the implementation of the OSH Education Module and the involvement of Kader Sawit are effective strategies for enhancing OSH-related knowledge, attitudes, and behaviors, and for reducing the incidence of accidents and diseases, thereby offering a strategic and impactful approach to improving OSH literacy and practices in Indonesia’s palm oil plantation industry.

Read More
D-577
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Finna Ella Indriany; Promotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Kopromotor: Bambang Budi Siswanto, Indrajani Sutedja; Penguji: Adang Bachtiar, Budi Setianto Purwowiyoto, Artha Prabawa, Sutanto Priyo Hastono, Heru Purnomo Ipung
Abstrak:

Latar Belakang Gagal jantung adalah kondisi kronis dan progresif, dengan prevalensi di dunia 1-3% dan di Indonesia 5% (peringkat ke 4 di dunia) dengan kematian 50% dalam 5 tahun. Angka readmisi dalam 90 hari adalah 50%-75% dan dalam 30 hari 2-3%, sedangkan di Indonesia angka readmisi dalam 30 hari adalah 17%. Biaya rawat inap gagal jantung dapat mencapai empat ratus juta rupiah per pasien per tahun. Data BPJS Kesehatan 2018 terdapat 130.275 kejadian rawat inap tingkat lanjut pasien gagal jantung kongestif dan berdasarkan tarif JKN 2023 perkiraan biaya rawat inapnya akan berkisar antara 379 milyar sampai 4,2 triliun rupiah. Dengan memanfaatkan teknologi kekinian dari Artificial Intelligence dan kapabilitas serta kebiasaan masyarakat paska pandemi Covid-19, penelitian ini membuat model prediksi berbasis machine learning dengan menemukan faktor-faktor risiko yang dapat menjadi prediktor rawat inap berulang, yang kemudian diimplementasikan di dalam prototype yang digunakan dalam kolaborasi antara penyedia layanan kesehatan dengan pasien yang turut terlibat melakukan monitoring mandiri sehingga dapat mempertahankan kualitas hidupnya dan mengendalikan biaya perawatan baik yang dibayarkan oleh pasien sendiri, menggunakan asuransi ataupun dengan pendanaan pemerintah. Metode Penelitian ini terdiri atas beberapa tahap, dengan studi kuantitatif dan kualitatif menggunakan data rekam medis pasien gagal jantung di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta. Dimulai dengan Systematic Literature Review untuk menemukan faktor risiko rawat inap berulang di rumah sakit dan untuk menemukan novelty, pemodelan prediksi dengan studi kohort retrospektif, analisis kebutuhan sistem dengan studi kualitatif, pengembangan prototype, dan uji prototype dengan studi kohort prospektif. Hasil Systematic Literature Review tentang prediktor readmisi gagal jantung dengan machine learning dari PubMed, Science Direct, ProQuest, Scopus, Embase, google scholar menghasilkan 19 artikel terseleksi. 13 studi berasal dari USA, tidak ditemukan studi serupa di Indonesia, dengan algoritma terbaik adalah Neural Network. Pada tahap pemodelan prediksi diperoleh 2738 data pasien gagal jantung paska rawat inap di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta, dengan ketersediaan 64 variabel. Dengan Orange Data Mining, terseleksi sebanyak 31 features. Model terbaik menggunakan Random Forest, dengan AUC 0,976, CA 0,912, F1 0,912, Precision 0,916 dan Recall 0,912, diimplementasikan dalam prototype aplikasi Fineheart dengan fitur aplikasi profil pasien, dashboard, catatan harian jantungku, penilaian kualitas hidup, rencana kontrol, instruksi medis dan obat, catatan asupan makanan dan cairan, edukasi, konsultasi. Uji efikasi prototype menunjukkan angka readmisi pada kelompok intervensi (20%), lebih rendah daripada kelompok kontrol (43,3%). Perubahan signifikan terjadi pada 2 parameter KCCQ yaitu Quality of Life (p=0,029) dan Overall Summary Score (p=0,001). Tingkat kepatuhan menggunakan prototype aplikasi juga berpengaruh signifikan terhadap kedua parameter tersebut dan mencegah readmisi. Kesimpulan Model prediksi readmisi pasien gagal jantung dengan machine learning yang diimplementasikan ke prototype aplikasi dapat digunakan untuk monitoring di rumah untuk mencegah readmisi dan mempertahankan kualitas hidup.


 

Background Heart failure is a chronic and progressive condition, with a prevalence in the world of 1-3% and in Indonesia 5% (ranked 4th in the world) with a mortality of 50% within 5 years. The readmission rate in 90 days is 50%-75% and in 30 days it is 2-3%, while in Indonesia the readmission rate in 30 days is 17%. The cost of hospitalization for heart failure can reach four hundred million rupiah per patient per year. The government health insurance of Indonesia (BPJS Kesehatan) data for 2018 shows 130,275 advanced hospitalizations for congestive heart failure patients and based on the 2023 tariff, the estimated cost of hospitalization will range from 379 billion to 4.2 trillion rupiah. By utilizing the latest technology from Artificial Intelligence and the capabilities and habits of society after the Covid-19 pandemic, this research creates a machine learning-based predictive model by finding risk factors that can lead to hospital readmission, which are then implemented in the prototype that is used in collaboration between health care providers with patients who are also involved in conducting self-monitoring so that they can maintain their quality of life and control the costs of care whether paid by the patient himself, using insurance or with government funding. Method This research consisted of several stages, with quantitative and qualitative studies using medical records of heart failure patients at the Harapan Kita Cardiovascular Center. Starting with a Systematic Literature Review to find risk factors of readmission and to find novelties, predictive modeling with retrospective cohort study, system requirements analysis with qualitative studies, prototype development, and prototype testing with prospective cohort study. Results A systematic literature review on predictors of heart failure readmission using machine learning from PubMed, Science Direct, ProQuest, Scopus, Embase, Google Scholar resulted in 19 selected articles. 13 studies came from the USA, no similar studies were found in Indonesia, with the best algorithm being Neural Network. At the prediction modeling stage, data was obtained on 2738 post-hospitalization heart failure patients at Harapan Kita Cardiovascular Hospital, Jakarta, with the availability of 64 variables. With Orange Data Mining, 31 features are selected. The best model uses Random Forest, with AUC 0,976, CA 0,912, F1 0,912, Precision 0,916 and Recall 0,912, implemented in the Fineheart application prototype with patient profile application features, dashboard, my heart diary, quality of life assessment, control plan, medical instructions and medication, food and fluid intake records, education, consultation. The prototype efficacy test showed that the readmission rate in the intervention group (20%), was lower than the control group (43.3%). Significant changes occurred in 2 KCCQ parameters, Quality of Life (p=0.029) and Overall Summary Score (p=0.001). The level of presence of application prototypes also has a significant effect on these two parameters and prevents readmissions. Conclusion The readmission prediction model for heart failure patients with machine learning implemented in the application prototype can be used for home monitoring to prevent readmissions and maintain quality of life.

Read More
D-566
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Nata Rina; Promotor: Robiana Modjo; Kopromotor: Sjahrul Meizar Nasri, Jenny Endang Bashiruddin; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Indri Hapsari Susilowati, Sutanto Priyo Hastono, Dewi Sumaryani Soemarko, Iting Shofwati, Nana Sugiono
Abstrak:
Gangguan pendengaran akibat bising kerja (Occupational Noise-Induced Hearing Loss/ONIHL) masih menjadi masalah kesehatan kerja utama di industri minyak dan gas. Pemeriksaan audiometri konvensional berbasis Air Conduction (AC) sering kali kurang sensitif dalam mendeteksi kerusakan koklea tahap awal sehingga diperlukan pendekatan diagnostik yang lebih komprehensif. Penelitian ini bertuuan untuk menganalisis faktor individu dan lingkungan kerja yang berhubungan dengan Sensorineural Hearing Loss (SNHL) serta mengembangkan model prediksi risiko SNHL pada pekerja sektor migas. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder 497 pekerja yang terpajan bising di sektor migas Kalimantan Timur periode 2021–2022. Penetapan SNHL dilakukan melalui integrasi parameter Air Conduction (AC), Bone Conduction (BC), Air-Bone Gap (AB-Gaps), Standard Threshold Shift (STS), dan pola audiometric notch. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik bivariat dan multivariat dengan metode enter dan stepwise. Sebanyak 99 pekerja (19,9%) teridentifikasi mengalami SNHL, 31 pekerja (6,2%) mengalami Conductive Hearing Loss (CHL), dan 151 pekerja (43,6%) memiliki audiometric notch pada frekuensi 4.000 Hz. Faktor yang berhubungan signifikan dengan SNHL pada model akhir adalah usia ≥41 tahun (AOR=9,09; 95%CI: 2,28–36,21; p=0,002), hipertensi stadium 1 (AOR=1,98; 95%CI: 1,05–3,75; p=0,035), serta masa kerja 5–15 tahun yang bersifat protektif dibandingkan masa kerja >15 tahun (AOR=0,20; 95%CI: 0,09–0,45; p<0,001). Variabel dosis personal kebisingan, frekuensi bising, penggunaan alat pelindung pendengaran, diabetes melitus, hobi bising, dan pajanan benzena tidak menunjukkan hubungan signifikan pada model multivariat. Model prediksi risiko SNHL yang dikembangkan menunjukkan probabilitas risiko tertinggi mencapai 81,5%. Prevalensi SNHL pada pekerja sektor migas mencapai 19,9%. Usia ≥41 tahun dan hipertensi stadium 1 merupakan faktor risiko independen utama, sedangkan masa kerja >15 tahun mencerminkan akumulasi pajanan yang meningkatkan risiko SNHL. Pendekatan audiometri multi-parameter terbukti lebih sensitif dalam mendeteksi kerusakan pendengaran dini dan dapat digunakan sebagai dasar pengembangan program konservasi pendengaran berbasis risiko di lingkungan kerja.

Occupational Noise-Induced Hearing Loss (ONIHL) remains one of the leading occupational health problems in the oil and gas industry. Conventional audiometric examinations based on Air Conduction (AC) are often insufficiently sensitive to detect early cochlear damage, highlighting the need for a more comprehensive diagnostic approach. This study aimed to identify individual and occupational factors associated with Sensorineural Hearing Loss (SNHL) and to develop a predictive risk model for SNHL among oil and gas workers. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted using secondary data from 497 noise-exposed workers in East Kalimantan, Indonesia, collected between 2021 and 2022. SNHL was determined through an integrated assessment of Air Conduction (AC), Bone Conduction (BC), Air-Bone Gap (AB-Gaps), Standard Threshold Shift (STS), and audiometric notch patterns. Data were analyzed using bivariate and multivariate logistic regression with enter and stepwise methods. A total of 99 workers (19.9%) were diagnosed with SNHL, 31 (6.2%) with Conductive Hearing Loss (CHL), and 151 (43.6%) exhibited an audiometric notch at 4,000 Hz. Significant predictors of SNHL included age ≥41 years (AOR = 9.09; 95% CI: 2.28–36.21), stage 1 hypertension (AOR = 1.98; 95% CI: 1.05–3.75), while 5–15 years of employment was protective compared with employment duration >15 years (AOR = 0.20; 95% CI: 0.09–0.45). Personal noise dose, noise frequency, hearing protection use, diabetes mellitus, noisy hobbies, and benzene exposure were not significantly associated with SNHL. The developed prediction model demonstrated a maximum estimated SNHL probability of 81.5%. A multi-parameter audiometric approach was more sensitive for detecting early hearing impairment and may serve as a valuable basis for developing risk-based hearing conservation programs in the oil and gas industry.
Read More
D-647
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Petriana Ekklesia Mahmud; Promotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Kopromotor: Tri Krianto, Mus Huliselan; Penguji: Asri C. Adisasmita, Besral, Ira Nurmala, Raditya Wratsangka, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Perilaku seksual berisiko pada remaja puteri merupakan masalah kesehatan reproduksi yang dapat meningkatkan risiko kehamilan tidak diinginkan serta berdampak pada aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji Strategi Holistik Intervensi Nilai dan Edukasi (SHINE) dengan pendekatan Tiga Batu Tungku sebagai model peningkatan determinan protektif perilaku seksual berisiko kehamilan pada remaja puteri di Kota Ambon. Penelitian menggunakan mixed-methods exploratory sequential design yang terdiri atas tahap eksplorasi budaya dan kebutuhan intervensi, pengembangan model, serta pengujian efektivitas intervensi melalui desain kuasi-eksperimen. Tahap kualitatif melibatkan 53 informan, terdiri atas remaja, orang tua, tokoh agama, tokoh adat, guru/kepala sekolah, dan petugas kesehatan. Tahap kuantitatif melibatkan remaja usia 12–15 tahun, dengan 85 responden pada kelompok intervensi di Negeri Hative Kecil dan 83 responden pada kelompok kontrol di Negeri Passo. Data kuantitatif dianalisis menggunakan Difference-in-Differences (DiD). Analisis DiD menunjukkan bahwa kelompok intervensi mengalami peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan asertif yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, dengan selisih masing-masing sebesar 32,24 poin, 23,26 poin dan 16,56 poin. Efek intervensi pada ketiga variabel signifikan secara statistik dengan nilai p<0,05. Temuan ini menunjukkan bahwa Strategi Holistik Intervensi Nilai dan Edukasi  (SHINE) dengan pendekatan Tiga Batu Tungku berpotensi meningkatkan determinan protektif pengetahuan, memperbaiki sikap, dan memperkuat keterampilan asertif remaja puteri dalam menolak tekanan seksual, mempertahankan keputusan, serta menghindari situasi berisiko. Model ini dapat dipertimbangkan sebagai strategi intervensi berbasis budaya lokal untuk pencegahan perilaku seksual berisiko kehamilan pada remaja puteri di Kota Ambon.

Risky sexual behavior among adolescent girls is a reproductive health problem that can increase the risk of unintended pregnancy and affect health, social, and economic aspects. This study aimed to develop and test the Holistic Strategy for Value Intervention and Education (SHINE) using the Tiga Batu Tungku approach as a model to improve protective determinants against pregnancy-related risky sexual behavior among adolescent girls in Ambon City. This study employed a mixed-methods exploratory sequential design consisting of cultural exploration and intervention needs assessment, model development, and intervention effectiveness testing through a quasi-experimental design. The qualitative phase involved 53 informants, consisting of adolescents, parents, religious leaders, traditional leaders, teachers/school principals, and health workers. The quantitative phase involved adolescents aged 12-15 years, with 85 respondents in the intervention group in Negeri Hative Kecil and 83 respondents in the control group in Negeri Passo. Quantitative data were analyzed using Difference-in-Differences (DiD). The DiD analysis showed that the intervention group experienced greater increases in knowledge, attitudes, and assertive skills than the control group, with differences of 32.24 points, 23.26 points, and 16.56 points, respectively. The intervention effects on the three variables were statistically significant with p < 0.05. These findings indicate that the Holistic Strategy for Value Intervention and Education (SHINE) using the Tiga Batu Tungku approach has the potential to improve protective determinants of knowledge, enhance attitudes, and strengthen assertive skills among adolescent girls in refusing sexual pressure, maintaining their decisions, and avoiding risky situations. This model may be considered a local culture-based intervention strategy for preventing pregnancy-related risky sexual behavior among adolescent girls in Ambon City
Read More
D-645
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asep Surahman; Promotor: Sudijanto Kamso; Kopromotor: Purwantyastuti, Purnawan Junadi, Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Soewarta Kosen, Nana Mulyana, Bambang Setiaji
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Rendahnya cakupan penemuan kasus TB di Indonesia berdampak padaberlanjutnya proses transmisi infeksi Mycobacterium Tuberculosis M.tb dimasyarakat. Pondok pesantren merupakan populasi rentan dan berisiko dengankarakteristik hunian relatif padat, sanitasi lingkungan kurang sehat. Beberapakasus TB terjadi di pondok pesantren, akibat rendahnya kesadaran santri terhadapgejala TB sehingga berdampak pada akses layanan kesehatan. Perlu upayapengendalian TB dengan melibatkan masyarakat sebagai solusi ketika pemerintahkurang memiliki kapasitas menyediakan layanan dan menjangkau penderita TB.Permasalahan yang sama terjadi di Kabupaten Garut, yaitu terbatasnya sumberdaya kesehatan untuk menjaring dan mengawasi penderita TB. Kegiatanpemberdayaan santri sebagai kader TB di pondok pesantren merupakan inovasidalam upaya menjembatani suspek dan penderita TB untuk mendapatkan akses kefasilitas kesehatan atau active case finding TB. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui dampak positif pemberdayaan santri kader TB terhadap aksesibilitaslayanan TB di fasilitas kesehatan. Metode yang digunakan adalah metodekuantitatif dengan menggunakan desain quasi eksperimen rancangan ldquo;nonequivalent control group design rdquo;, dan metode kualitatif menggunakan wawancaramendalam. Studi ini dilakukan di enam pondok pesantren dengan jumlah sampel493 orang, masing-masing tiga pondok pesantren intervensi sampel 232 orang dantiga pondok pesantren non-intervensi jumlah sampel 236 orang.Penelitian ini membuktikan bahwa pemberdayaan santri kader TB padapondok pesantren di Kabupaten Garut memberikan pengaruh yang signifikanyaitu peningkatan proporsi aksesibilitas layanan TB di fasilitas kesehatan sebesar41.4 pada kelompok intervensi. Santri yang tinggal di pondok pesantrenintervensi berpeluang 3.9 kali lebih besar untuk mengakses layanan TB di fasilitaskesehatan dibandingkan yang tinggal di non-intervensi. Intervensi ini jugaberhasil menemukan 14 kasus TB positif di pondok pesantren dengan tingkatkeberhasilan convertion rate dan cure rate masing-masing sebesar 100 .Program ini perlu direplikasi di wilayah lain mengingat di Indonesia terdapatpondok pesantren dengan kondisi tidak jauh berbeda dengan lokasi dan kondisipenelitian ini.Kata kunci : Santri, Kader TB, akses layanan TB, pondok pesantren
 

 
ABSTRACT
 
 
The low coverage of cases of TB in Indonesia has an impact on thecontinuation of the process of transmission of infection with Mycobacteriumtuberculosis M.tb in the community. Students in Islamic Boarding Schools arevulnerable and are at risk populations with relatively dense residentialcharacteristics and poor environmental sanitation. Some cases of TB occurred inthe boarding school due to the low knowledge TB symptoms among students.This problem, in turn, leads to low access to health care. There is a need forinvolving the community when the government lacks the capacity to provideservices and reach out to people with TB. The same problems occur in Garut,namely the limited health resources and workforce to recruit and supervise TBpatients. The empowerment of students as a cadre of TB in a boarding school is aneffort to bridge suspected TB patients to gain access to a health facility or activeTB case finding. This study aims to determine the positive impact of empoweringstudents as TB Cadre on the accessibility of TB health services. The method usedis quantitative by using a quasi experimental design non equivalent controlgroup design, and qualitative method in the form of interviews. The study wasconducted in six boarding schools with a sample size of 493 people, Theintervention group consists of three boarding schools with 232 students, while therest of the boarding schools with 236 students was chosen as the non interventiongroup.This study proves that the empowerment of students cadre of TB in theboarding school in Garut has a significant and positive impact. It is observed thatthere was an increased in the proportion of service accessibility TB in healthfacilities as much as 41.4 in the intervention group. Students who live in theintervention group were 3.9 times more likely to access TB services in healthfacilities compared to those living in non intervention. This intervention alsomanaged to find 14 positive TB cases in the boarding school with a conversionrate and cure rate of 100 . This program needs to be replicated in other regions inIndonesia, considering that there are many boarding schools with similarconditions across Indonesia.Keywords Students, TB Cadre, Access to TB service, Islamic Boarding School
Read More
D-359
Depok : FKM-UI, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Hapsari Tjandrarini; Promotor: Purnawan Junadi; Ko-Promotor: Sudijanto Kamso, Anhari Achadi; Penguji: Amal C. Sjaaf, Minarto, Trihono, Soewarta Kosen
D-268
Depok : FKM UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nina Fentiana; Promotor: Trini Sudiarti; Kopromotor: Endang Laksminingsih, Besral; Penguji: Kusharisupeni, Diah M. Utari, Hardinsyah, Fasli Jalal, Arum Atmawikarta
Abstrak:
Stunting anak 0-23 bulan di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh berbagai faktor langsung dan tidak langsung. Penelitian menggunakan data Riset Kesehatan Dasar, Survey Sosial Ekonomi Nasional dan Produk Domestik Regional Bruto per kapita tahun 2018 dengan pendekatan potong lintang bertujuan mengetahui model jalur hubungan langsung dan tidak langsung berbagai faktor risiko stunting dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota. Pengolahan data sekunder dilakukan pada Januari-April 2022. Sampel adalah 106 kabupaten/kota prevalensi stunting <20% dan 403 kabupaten/kota prevalensi stunting ≥20% (20%-<30%, 30%-40% dan >40%) yang diagregratkan pada tingkat kabupaten/kota dari 32.095 data individu anak usia 0-23 bulan yang diukur panjang badannya. Pemodelan menggunakan analisis jalur. Model jalur pencegahan risiko stunting memperlihatkan akses terhadap makanan (r=-0,31) dan pemeriksaan kehamilan (r=-0,29) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting <20%. Keluarga Berencana (r=-0,15), pemeriksaan kehamilan (r=-0,13) dan cuci tangan pakai sabun (r=-0,11) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting ≥20%. Tablet tambah darah ibu hamil (r=-0,02) dan inisiasi menyusu dini (r=-0,03) berhubungan tidak langsung melalui ASI eksklusif dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 20%-<30%. ASI eksklusif (r=-0,15) berhubungan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 20%-<30%. Cuci tangan pakai sabun berhubungan signifikan langsung dengan prevalensi stunting tingkat kabupaten/kota di kabupaten/kota prevalensi stunting 30%-40% (r=-0,22) dan >40% (r=-0,45). Model jalur menyimpulkan bahwa kabupaten/kota dapat memainkan peran penting dalam upaya pencegahan risiko stunting dengan memodifikasi sejumlah faktor risiko terutama pada keluarga anak 0-23 bulan.

Stunting in children 0-23 months in Indonesia is a public health problem caused by various direct and indirect factors. This study uses data from Basic Health Research, National Socio-Economic Survey and Gross Regional Domestic Product per capita in 2018 with a cross-sectional approach. Secondary data processing was carried out in January-April 2022. The samples were 106 districts/cities with stunting prevalence <20% and 403 districts/cities with stunting prevalence 20% (20%-<30%, 30%-40% and >40%) Aggregated at the district/city level from 32,095 individual data for children aged 0-23 months, whose body length was measured. The modeling uses path analysis. The stunting risk prevention pathway model shows that access to food (r=-0.31) and prenatal care (r=-0.29) is directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities with stunting prevalence <20%. Family planning (r=-0.15), pregnancy check-ups (r=-0.13) and hand washing with soap (r=-0.11) were directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities stunting prevalence 20 %. Blood supplement tablets for pregnant women (r=-0.02) and early initiation of breastfeeding (r=-0.03) were indirectly related through exclusive breastfeeding with the prevalence of stunting at the district/city level in districts/cities stunting prevalence of 20%-<30% . Exclusive breastfeeding (r=-0.15) was directly related to the prevalence of stunting at the district/city level in the district/city stunting prevalence of 20%-<30%. Hand washing with soap is directly related to stunting prevalence at district/city level in districts/cities, stunting prevalence is 30%-40% (r=-0.22) and >40% (r=-0.45). The pathway model concludes that districts/cities can play an important role in preventing stunting risk by modifying a number of risk factors, especially in families of children 0-23 months.
Read More
D-475
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Guspianto; Promotor: Budi Hidayat; Kopromotor: Purnawan Junadi, Amal C. Sjaaf; Tim Penguji: Anhari Achadi, Dian Ayubi, Soewarta Kosen, Dumilah Ayuningtyas, Harimat Hendarwan
D-311
Depok : FKM UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive