Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39604 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Agrina Cintya Lestari; Pembimbing: Umar Fahmi Acmadi; Penguji: Budi Hartono, Ely Setyawati
Abstrak: Diare pada balita masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia. Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan Maluku merupakan tiga provinsi dari beberapa provinsi di Indonesia yang mengalami peningkatan kejadian diare dari tahun 2007 hingga 2013 dan balita menjadi populasi yang paling berisiko untuk mengalami diare. Fasilitas jamban, sumber air minum, pengolahan air minum, dan fasilitas cuci tangan diketahui menjadi faktor risiko kejadian diare. Studi ini menggunakan desain potong lintang dengan menggunakan data sekunder yang bersumber dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 untuk mengetahui hubungan antara fasilitas jamban, sumber air minum, pengolahan air minum, dan fasilitas cuci tangan dengan kejadian diare pada balita. Sampel penelitian adalah balita berusia 0-59 bulan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan Maluku yang menjadi sampel SDKI 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi diare tertinggi ditemukan di Sulawesi Selatan (20,5%) dan terendah di Daerah Istimewa Yogyakarta (6,4%). Selain itu, ditemukan hubungan yang signifikan antara fasilitas cuci tangan dengan kejadian diare pada balita di Daerah Istimewa Yogyakarta (nilai P=0,026). Sumber air minum juga ditemukan berhubungan secara signifikan dengan kejadian diare pada balita di Sulawesi Selatan (nilai P=0,007). Fasilitas cuci tangan pun berhubungan dengan signifikan dengan kejadian diare pada balita di Maluku (nilai P=0,010). Walaupun beberapa variabel tidak berhubungan dengan signifikan, variabel-variabel tersebut dapat meningkatkan risiko balita untuk mengalami diare. Oleh karena itu, pencegahan terhadap faktor risiko perlu dilakukan seperti menggunakan jamban yang memenuhi syarat, menggunakan sumber air minum yang layak, mengolah air minum sebelum dikonsumsi, dan memiliki fasilitas cuci tangan yang memadai. Kata Kunci: diare, fasilitas jamban, sanitasi, air, cuci tangan, balita
Read More
S-9403
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imtinan Nabilah; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Bambang Wispriyono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Provinsi Maluku berdasarkan data SDKI tahun 2017. Dengan menggunakan desain studi cross sectional dan jumlah sampel sebanyak 238. Bentuk analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat (chi square dan uji OR). Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, konsumsi vitamin A, tingkat pendidikan ibu, sumber air minum, tipe kakus, tempat pembuangan tinja balita serta pola tempat tinggal dan hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada variabel yang signifikan terhadap kejadian diare pada balita.
Read More
S-10616
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadilla Hasan; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Haryanto, Aulia Salmaddiina
Abstrak:
Diare termasuk salah satu permasalahan kesehatan utama yang membutuhkan perhatian serius, terutama pada kelompok rentan seperti balita. Provinsi Kalimantan Selatan menjadi salah satu provinsi yang turut memberikan kontribusi terhadap angka kejadian diare nasional pada balita dengan prevalensi sebesar 5,9%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengelolaan air rumah tangga dengan kejadian diare pada balita di wilayah perkotaan dan perdesaan Provinsi Kalimantan Selatan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan besar sampel 1.141 balita. Analisis data yang digunakan adalah distribusi frekuensi, uji chi-square, dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sumber air minum memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diare pada balita di wilayah perkotaan (p=0,049; OR=4,543). Sementara itu, sumber air bersih, pengolahan air minum, dan wadah penyimpanan air minum, status gizi, dan status imunisasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Setelah dikontrol oleh status gizi dan status imunisasi, hasil menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengelolaan air rumah tangga dengan kejadian diare pada balita. Variabel sumber air minum merupakan variabel yang paling mendekati signifikan, tetapi pada tahap pemodelan akhir tetap tidak bermakna secara statistik. Oleh karena itu, penting untuk tetap memperkuat upaya promotif dan preventif melalui peningkatan akses air minum aman, edukasi pengelolaan air rumah tangga, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, serta pemantauan kesehatan balita secara berkelanjutan.

Diarrhea is one of the major health problems that requires serious attention, especially among vulnerable groups such as toddlers. South Kalimantan Province is one of the provinces contributing to the national burden of diarrhea among toddlers, with a prevalence of 5.9%. This study aimed to analyze the association between household water management and diarrhea incidence among toddlers in urban and rural areas of South Kalimantan Province using data from the 2023 Indonesian Health Survey. This study used a cross-sectional design with a sample of 1.141 toddlers. Data were analyzed using frequency distribution, chi-square tests, and multiple logistic regression. The results showed that drinking water source was significantly associated with diarrhea incidence among toddlers in urban areas (p = 0,049; OR = 4,543). Meanwhile, clean water source, drinking water treatment, drinking water storage container, nutritional status, and immunization status were not significantly associated with diarrhea incidence in either urban or rural areas. After controlling for nutritional status and immunization status, there was no significant association between household water management and diarrhea incidence among toddlers. Drinking water source was the variable closest to statistical significance; however, it remained statistically insignificant in the final model. In conclusion, this study stated that there was no significant association between household water management and diarrhea incidence in toddlers. Therefore, promotive and preventive efforts should continue to be strengthened through improved access to safe drinking water, household water management education, promotion of clean and healthy living behaviors, and continuous monitoring of child health.
Read More
S-12223
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Airadiba Hadad; Pembimbing: Ririn Arminsih; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi diare pada balita di DKI Jakarta dan mengetahui hubungan sumber air minum, pengolahan air minum, fasilitas sanitasi, fasilitas cuci tangan, suplementasi vitamin A, dan pendidikan ibu sebagai faktor risiko terhadap kejadian diare pada balita. Desain penelitian menggunakan desain studi potong lintang dengan menggunakan data sekunder dari SDKI 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita usia 0-59 bulan yang tercatat dalam data Provinsi DKI Jakarta sebagai bagian dari sampel SDKI 2017. Dari 695 sampel balita hidup, didapatkan 370 sampel yang memenuhi kriteria. Analisis yang dilakukan adalah analisis univariat dan bivariat.
Read More
S-10584
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ajeng Sewelas Ekapermatasari; Pembimbing: Ririn Arminsih; Penguji: Budi Haryanto, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sumber air minum dengan kejadian diare pada balita di Banten menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah sampel 467 balita. Analisis data yang digunakan adalah distribusi frekuensi dan chi-square. Prevalensi diare pada balita sebesar 10,7%.
Read More
S-10544
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farras Qurota A'yun Darmawan; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Fitri Kurniasari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Diare didefinisikan sebagai kondisi buang air besar sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari dengan tinja encer atau cair. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diare pada balita di Provinsi Banten berada di atas prevalensi nasional (4,9%) yaitu sebesar 5,6%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kejadian diare pada balita usia 0-59 bulan di Provinsi Banten berdasarkan data SKI 2023 yang mencakup tiga kelompok faktor risiko, yaitu karakteristik balita (status imunisasi dasar, status gizi balita, dan suplemen vitamin A), karakteristik ibu (pendidikan ibu, pengolahan air minum, kebiasaan CTPS), dan karakteristik lingkungan (sumber air minum, kondisi jamban, pengelolaan air limbah, dan pengelolaan sampah). Jumlah responden yang dianalisis dalam penelitian ini sebanyak 1.256 balita yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kejadian diare pada balita dengan pengolahan air minum (POR=0,43; 95% CI: 0,25–0,73) dan kondisi jamban (POR=0,56; 95% CI: 0,31–0,98). Faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diare pada balita adalah pengolahan air minum (POR=0,41; 95% CI: 0,23–0,70).

Diarrhea is defined as having three or more bowel movements per day with loose or watery stools. According to the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of diarrhea among toddlers in Banten Province was higher than the national prevalence (4.9%), at 5.6%. This study aims to analyze the determinants of diarrhea incidence among children aged 0–59 months in Banten Province based on 2023 SKI data, covering three groups of risk factors: child characteristics (basic immunization status, child nutritional status, and vitamin A supplementation), maternal characteristics (maternal education, drinking water treatment, CTPS habits), and environmental characteristics (drinking water source, latrine conditions, wastewater management, and waste management). The number of respondents analyzed in this study was 1,256 infants who met the inclusion and exclusion criteria. The study employed a cross-sectional design with multivariate analysis using multiple logistic regression. The results of the analysis showed a significant association between the incidence of diarrhea in toddlers and drinking water treatment (POR=0.43; 95% CI: 0.25–0.73) and latrine conditions (POR=0.56; 95% CI: 0.31–0.98). The factor most strongly associated with the incidence of diarrhea in infants was drinking water treatment (POR=0.41; 95% CI: 0.23–0.70).   
Read More
S-12241
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rabiatul Adawiah; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Bambang Wispriyono, Zakianis, Yulia Fitria Ningrum, Aria Kusuma
Abstrak:

Penyakit diare menjadi salah satu gangguan gastrointestinal yang sering terjadi pada anak usia balita dan menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Provinsi Papua Pegunungan memiliki capaian sanitasi rendah dan prevalensi diare balita tertinggi di Indonesia pada tahun 2023. Faktor lingkungan dan faktor ibu merupakan faktor yang saling berkaitan dengan kejadian diare pada anak balita. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor risiko kejadian diare pada anak balita di Provinsi Papua Pegunungan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan sumber data diperoleh dari Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 dengan jumlah sampel yang dianalisis sebesar 266 anak usia 0-59 bulan di Provinsi Papua Pegunungan. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square dan multivariat menggunakan regresi logistik model determinan. Hasil menunjukkan ada hubungan antara sumber air minum, akses sanitasi, jenis lantai dan pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita. Pendidikan ibu rendah merupakan faktor paling dominan berpengaruh terhadap kejadian diare. Anak balita yang berasal dari ibu dengan pendidikan rendah akan berisiko 2,832 kali lebih besar untuk mengalami diare dibandingkan anak balita yang berasal dari ibu dengan pendidikan tinggi. Diperlukan kerjasama dari pemerintah dan masyarakat dalam peningkatan akses pendidikan yang merata disetiap wilayah serta kolaborasi penyelenggara kesehatan untuk meningkatkan pendidikan kesehatan melalui promosi kesehatan terpadu terkait perilaku hidup bersih dan sehat dalam lingkungan rumah tangga.


Diarrhea is one of the most common gastrointestinal disorders in children under five years of age and is a major cause of morbidity and mortality. Papua Pegunungan Province has the lowest sanitation achievement and the highest prevalence of under five years of diarrhea in Indonesia by 2023. Environmental factors and maternal factors are interrelated with the incidence of diarrhea in children under five years. The purpose of this study was to analyze the risk factors for the incidence of diarrhea in children under five years in Papua Pegunungan Province. This study used a cross sectional design and the data source from the Indonesian Health Survey in 2023 with a total sample of  266 children aged 0-59 months in Papua Pegunungan Province. Data were analyzed univariate, bivariate with Chi- Square test and multivariate with logistic regression of determinant models. Results showed an association between drinking water source, sanitation access, floor type and mother's education with the incidence of diarrhea in children under five. Low maternal education is the most dominant factor affecting the incidence of diarrhea. Children under five who come from mothers with low education will be at risk 2,832 times greater to experience diarrhea than children under five who come from mothers with high education. Cooperation is needed from the government and the community to increasing access to education that is evenly distributed in each region and collaboration of health providers to improve health education through integrated health promotion related to clean and healthy living behaviors in the household environment.

 

Read More
T-7240
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Brightwell Sibanda; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Budi Hartono, Dewi Susanna, Aria Kusuma
Abstrak:
Diare masih merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian anak, terutama pada anak di bawah usia lima tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Menilai Hubungan Antara Cakupan Sanitasi dan Hasil Diare pada Anak Balita di Provinsi Matabeleland Selatan dan Matabeleland Utara Zimbabwe. Metode: Penelitian ini menggunakan studi Kuantitatif Cross-Sectional. Sebanyak 518 ibu di Matabeleland Selatan dan 615 ibu di provinsi Matabeleland Utara dianalisis dalam penelitian ini berdasarkan data sekunder dari temuan Multiple Indicator Cluster Survey (MICS) tahun 2019. Variabel yang diteliti adalah pendidikan ibu, kekayaan, cuci tangan, cakupan sanitasi, fasilitas sanitasi bersama, usia anak, tempat tinggal, dan agama. Hasil: Analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia dan tempat tinggal di Provinsi Matabeleland Selatan. Untuk usia p-Value sebesar 0,039 dengan OR sebesar 0,594 dan CI 95% (0,362-0,974) serta Tempat Tinggal dengan p-Value sebesar 0,004 dan OR sebesar 2,442 dan CI 95% (1,329-4,484). Di provinsi Matabeleland Utara, kekayaan memiliki p-Value sebesar 0,039 dan OR sebesar 0,555 dengan CI 95% (0,318-0,969). Usia memiliki 0,002 dan OR 2,382 pada CI 95% (1,375-4,127). Kesimpulan: Cakupan sanitasi tidak signifikan dalam penelitian ini.

Diarrhea remains a prominent factor contributing to the high rates of child mortality, particularly observed in children under the age of five. The aim of the study was to Assess the Relationship Between Sanitation Coverage and Diarrhea Outcomes among under five years of age in Matabeleland South and Matabeleland North Provinces of Zimbabwe. Methods: The study utilized a Quantitative Cross-Sectional study. A total of 518 mothers in Matabeleland South and 615 mothers in Matabeleland North province were analyzed in this research based on the secondary data from the 2019 Multiple Indicator Cluster Survey (MICS) findings. The variables studied were the mother's education, wealth, handwashing, sanitation coverage, shared sanitation facilities, child age, residence, and religion. Results: The analysis revealed significant associations for both age and residence in Matabeleland South Province. For age the p-Value was 0.039 with an OR of 0.594 and a 95% CI (0.362-0.974) and Residence with a p-Value of 0.004 and an OR of 2.442 and a 95% CI (1.329-4.484). In Matabeleland North province, wealth had a p-Value of 0.039 and an OR of 0.555 with 95% CI (0.318-0.969). Age had 0.002 and an OR of 2.382 at a 95% CI (1.375-4.127). Conclusion: Sanitation coverage was not significant in this study.
Read More
T-7062
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuni Andrianningsih; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan pada balita yang prevalensinya mengalami peningkatan. Kondisi ini diperparah oleh tingginya kepadatan penduduk, rendahnya persentase rumah layak huni, serta paparan polutan udara perkotaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor determinan kejadian ISPA pada balita di Provinsi DKI Jakarta menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan data sekunder SKI. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik balita (usia, jenis kelamin, riwayat BBLR, dan status imunisasi dasar), karakteristik keluarga (pendidikan ibu dan perilaku merokok anggota keluarga), serta kondisi lingkungan rumah (jenis atap, dinding, dan lantai). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara seluruh variabel yang diteliti dengan kejadian ISPA (p > 0,05). Berdasarkan pemodelan multivariat, jenis atap rumah merupakan faktor yang paling dominan terhadap kejadian ISPA pada balita. Berdasarkan hasil tersebut mengindikasikan perlunya penelitian lebih lanjut dengan melibatkan variabel-variabel lain di luar cakupan studi ini guna memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan pengendalian ISPA pada balita tetap perlu dilakukan dengan pendekatan multisektoral, seperti mengadakan program intervensi rumah layak huni, meningkatkan kegiatan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai faktor risiko ISPA, dan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat.

Acute Respiratory Tract Infection (ARI) is a health problem in toddlers whose  prevalence is increasing. This condition is exacerbated by high population density,  low percentage of habitable houses, and exposure to urban air pollutants. This study  aims to analyze the determinants of the incidence of ARI in toddlers in DKI Jakarta  Province using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). This study used  a cross-sectional design with secondary SKI data. The variables studied included  toddler characteristics (age, gender, history of low birth weight, and basic  immunization status), family characteristics (maternal education and smoking  behavior of family members), and home environmental conditions (type of roof,  walls, and floors). The results of the analysis showed no statistically significant  relationship between all studied variables and the incidence of ARI (p > 0.05).  However, based on multivariate modeling, the type of roof is the most dominant  factor in the incidence of ARI in toddlers. These results indicate the need for further  research involving other variables beyond the scope of this study to obtain a more  comprehensive picture. Therefore, efforts to prevent and control ARI in toddlers  still require a multisectoral approach, such as implementing a habitable housing  intervention program, increasing community education on various ARI risk factors,  and promoting clean and healthy living habits.
Read More
S-12224
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Fatma Kader; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Bamabang Siswanto, Achmad Naufa Azhari
Abstrak: Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia bagian tengah yangmasih endemis malaria baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Prevalensikejadian malaria cenderung meningkat dari 2,12% pada tahun 2010 menjadi 10%di tahun 2013 dengan angka API di tahun 2013 adalah 6,4% lebih tinggi dari angkaAPI nasional 1,38%. Prevalensi tertinggi terjadi di wilayah pedesaandibandingkan perkotaan dan terbanyak di usia dewasa. Penelitian ini bertujuanuntuk mendeterminasi faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria diwilayah perkotan dan pedesaan menggunakan desain cross sectional, sumber dataadalah data sekunder Riskesdas 2013 yang dianalisis menggunakan uji statistikregresi logistik terhadap sampel masyarakat usia produktif sebanyak 7381 sampeldiwilayah perkotaan dan 8489 sampel di wilayah pedesaan. Penelitianmenemukan bahwa prevalensi malaria di perkotan sebesar 2,4% dan di pedesaansebesar 5,8%. Ditemukan adanya hubungan antara plafon rumah serta jeniskelamin di wilayah perkotaan dan pedesaan, sementara di wilayah pedesaantingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan penggunaan obat semprot insektisidaberhubungan terhadap kejadian malaria. Faktor yang paling dominan memilikihubungan dengan kejadian malaria adalah plafon rumah di wilayah perkotaan(nilai p=0,005; OR 2,6 95% CI 1,28-5,26) dan penggunaan insektisida di wilayahpedesaan (nilai p=0,019; OR 2,77 95% CI 1,19-6,47)Kata kunci : Malaria, usia produktif, perkotaan, pedesaan
North Sulawesi is one of the provinces in the central part of which is still endemicmalaria in urban and rural areas. The prevalence of malaria incidence is increasefrom 2,12% in 2010 to 10% in 2013 with the Annual Paracite Index (API) in 2013were 6,4% higher than the national API about 1,38%. Prevalence was highest inrural areas rather than urban areas and highest in adulthood. This study aims todeterminant associated incidence of in the region of urban and rural areas withcross-sectional design, the data source is a secondary data of Riskesdas 2013 wereanalyzed using statistical test of logistic regression on samples of reproductive ageas many as 7381 samples in urban area and about 8489 samples in rural area. Theresult of study showed that prevalence of malaria in urban is about 2,4% andabout 5.8% in rural areas. There were association between the ceiling of the houseand sex in urban and rural areas, level of education, type of work and the behaviorof insecticide sprays in rural areas were related to malaria incidence. The mostdominant factor has a relationship with the incidence of malaria is the ceiling ofthe house in urban areas (0,05; OR 2,6 95% CI 1,26-5,26) and the use ofinsecticides in rural areas (p = 0,019; OR 2,77 95% CI 1,19-6,47)Keywords: Malaria, productive age, urban, rural
Read More
T-4673
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive