Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32873 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rini Mutahar; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Denni Joko Purwanto, Ratna Djuwita; Penguji: Mardiati Nadjib, Mondastri Korib Sudaryo, Noorwati Sutandyo, Fachmi Idris, Misnaniarti
Abstrak:
Kemoterapi neoadjuvan, merupakan standar perawatan untuk kanker payudara stadium lanjut lokal (KPSLL). Terdapat hasil yang kontradiktif terhadap efektivitas kedua golongan rejimen kemoterapi neoadjuvan yaitu antrasiklin dan taksan pada pengoabatan KPSLL. Pada umumnya kemoterapi neoajuvan kanker payudara stadium lanjut lokal di RKS Dharmais menggunakan regimen berbasis antrasiklin. Namun belum ada penelitian lebih lanjut studi efektivitas klinis dan evaluasi ekonomi penggunaaan kemoterapi neoadjuvan berbasis antrasiklin dan taksan pada pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut Lokal di RSK Dharmais, Jakarta.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Efektivitas Klinis dan Evaluasi Ekonomi Pengobatan Kemoterapi Neoadjuvan pada Pengobatan Kanker Payudara Stadium Lanjut Lokal di RSK Dharmais Jakarta 2011 – 2016.
Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan rancangan studi kohort retrospektif. Pengumpulan data dilakukan dengan mengikuti riwayat medis dan billing pasien penderita kanker payudara saat berobat ke Rumah Sakit Darmais pada periode tahun 2011 hingga 2016. Penelitian ini menggunakan analisis regresi logistik,  survival dan evaluasi ekonomi dengan ICER (incremental cost effectiveness ratio) .
Hasil penelitian menunjukkan Pasien kanker payudara stadium lanjut lokal di RSK Dharmais  yang menerima kemoterapi berbasis taksan memiliki risiko 1,516 kali lebih besar untuk mendapatkan respons klinis positif dibandingkan dengan pasien yang menerima kemoterapi berbasis antrasiklin. (RR adjusted 1,516; 95% CI: 0,601–3,826). Pasien dengan respon klinis yang negatif memiliki risiko kematian 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang menunjukkan respon positif tstelah dikontrol oleh faktor perancu yaitu, jenis histopatologis dan  stadium ( ajusted hazard ratio   1,729;95% CI: 1,031–2,902). Pasien kanker payudara stadium lanjut lokal (KPSLL) yang melakukan kemoterapi neadjuvan berbasis antrasiklin memiliki risiko 2 kali lipat lebih besar dibandingkan berbasis taksan untuk mengalami kematian setelah dikontrol oleh faktor perancu yaitu respon klinis, jenis istopatologis, stadium dan Subtipe molekular Luminal (adjusted hazard ratio  2,128 :95%CI:1,097-4,128). Nilai ICER (incremental cost effectiveness ratio) menunjukkan bahwa membutuhkan biaya sebesar Rp 3,1 juta untuk meningkatkan satu unit efektivitas (persentase jumlah pasien dengan respon klinis positif)  dengan pemakaian regimen berbasis taksan dibandingkan dengan antrasiklin.
Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk melakukan Penilaian Teknologi Kesehatan dengan evaluasi ekonomi yang lebih komprehensif, khususnya dalam menilai intervensi kesehatan untuk penyakit kronis seperti kanker. Penelitian lanjutan diperlukan untuk lebih mendalami faktor-faktor perancu yang mungkin mempengaruhi hasil, seperti keterlambatan diagnosis dan pengobatan, riwayat terapi sebelumnya, dan status sosial ekonomi
Neoadjuvant chemotherapy is the standard treatment for locally advanced breast cancer (LABC). Contradictory findings exist regarding the effectiveness of two main types of neoadjuvant chemotherapy regimens, anthracycline and taxane, for treating LABC. At RSK Dharmais, anthracycline-based regimens are commonly used for LABC treatment. However, there is a lack of research on the clinical effectiveness and economic evaluation of anthracycline-based and taxane-based neoadjuvant chemotherapy regimens in patients with LABC at RSK Dharmais, Jakarta.
This study aims to assess the clinical effectiveness and economic evaluation of neoadjuvant chemotherapy for LABC at RSK Dharmais Jakarta from 2011 to 2016.
This study employed an observational analytic method with a retrospective cohort study design. Data collection was conducted by reviewing the medical records and billing data of breast cancer patients treated at RSK Dharmais during the 2011–2016 period. Logistic regression analysis, survival analysis, and economic evaluation using the Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) were performed.
The results showed that patients with LABC at RSK Dharmais who received taxane-based chemotherapy had a 1.516-fold higher likelihood of achieving a positive clinical response compared to those receiving anthracycline-based chemotherapy (RR adjusted 1.516; 95% CI: 0.601–3.826). Patients with a negative clinical response had a 1.7-fold higher risk of death compared to those with a positive response after adjusting for confounding factors, such as histopathological type and cancer stage (adjusted hazard ratio 1.729; 95% CI: 1.031–2.902). Patients undergoing anthracycline-based neoadjuvant chemotherapy had a two-fold higher risk of death compared to those on taxane-based regimens, after controlling for confounding factors including clinical response, histopathological type, stage, and Luminal molecular subtype (adjusted hazard ratio 2.128; 95% CI: 1.097–4.128). The ICER analysis showed that it costs IDR 3.1 million to achieve one additional unit of effectiveness (percentage of patients with a positive clinical response) using taxane-based regimens compared to anthracycline-based regimens.
This study provides a basis for conducting a more comprehensive Health Technology Assessment, particularly in evaluating healthcare interventions for chronic diseases like cancer. Further research is needed to explore confounding factors that may influence outcomes, such as delays in diagnosis and treatment, prior therapy history, and socioeconomic status.






Read More
D-568
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Indah Irianti; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Indang Trihandini, Aries Hamzah, Punto Dewo
Abstrak: Berdasarkan data GLOBOCAN tahun 2012, insidensi kanker yang tertinggi di Indonesia adalah kanker payudara. Saat ini masih banyak kematian yang disebabkan oleh kanker payudara. Kesintasan hidup penderita kanker payudara tergantung beberapa faktor yang sangat penting untuk diketahui, termasuk stadium kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stadium kanker, umur, pendidikan, pekerjaan, pernikahan, status jaminan kesehatan, riwayat keluarga, jenis terapi dan jarak tempat tinggal terhadap kesintasan hidup penderita kanker payudara. Rancangan penelitian menggunakan metode kohort retrospektif. Sampel pada penelitian ini adalah 135 penderita kanker payudara yang pertama kali didiagnosis kanker payudara dari bulan Januari 2007 sampai dengan Juni 2012 di RS Cipto Mangunkusumo. Analisis data menggunakan program SPSS dan metode Kaplan Meier serta faktor yang berhubungan dianalisis dengan Cox regression. Hasil analisis bivariabel menunjukkan bahwa stadium kanker memiliki hubungan yang signifikan terhadap kesintasan hidup kanker payudara (p value=0,000 ; HR 19,227 (95%CI 1,395-265,101)). Sedangkan pada analisis mutivariabel hubungan stadium terhadap kesintasan hidup tidak signifikan (p value=0,102) setelah dikontrol oleh variabel pendidikan, pekerjaan, jenis terapi dan interaksi stadium kanker dengan pendidikan penderita. Kesintasan hidup penderita kanker payudara pada penderita kanker payudara dengan stadium dini lebih tinggi (94,1%) dibandingkan penderita stadium lanjut (70,1%). Penderita dengan stadium lanjut berisiko 11 kali lebih tinggi dibandingkan stadium dini (HR=10,923 ; 95%CI 0,623-191,417). Maka diperlukan kesadaran dan upaya deteksi dini kanker payudara untuk lebih meningkatkan kesintasan hidup penderita kanker payudara.
Kata Kunci: Kanker payudara, kesintasan hidup, stadium kanker, RSCM

Based on GLOBOCAN data of 2012, the highest incidence of cancer in Indonesia is breast cancer. Currently there are still many deaths caused by breast cancer. The survival of breast cancer survivors depends on several factors that are very important to know, including the stage of cancer. This study aims to determine the effect of stage of cancer, age, education, occupation, marriage, health insurance status, family history, type of therapy and distance of residence to survival of breast cancer survivors. The study design used a retrospective cohort method. Samples in this study were 135 breast cancer patients who were first diagnosed with breast cancer from January 2007 to June 2012 at RS Cipto Mangunkusumo. Data analysis using SPSS program and Kaplan Meier method and related factors were analyzed with Cox regression. The results of bivariable analysis showed that the stage of cancer had a significant relationship to survival of breast cancer (p value = 0,000; HR 19,227 (95% CI 1,395-265,101)). While in the analysis of mutivariabel the relationship of stage to life survival is not significant (p value = 0,102) after controlled by education variable, work, therapy type and interaction of cancer stage with education of patient. The survival of breast cancer survivors in early stage of breast cancer was higher (94.1%) than those in advanced stage (70.1%). Patients with advanced stage 11 times higher risk than the early stage (HR = 10,923; 95% CI 0.623-191,417). So needed awareness and efforts to early detection of breast cancer to further improve survival of breast cancer patients.
Keywords: Breast cancer, life survival, cancer stage, RSCM
Read More
T-5084
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Megawati; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Sonar Soni Panigoro, Yovsyah; Aries Hamzah
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Megawati Program Studi : Epidemiologi Judul : Kesintasan Pasien Kanker Payudara Berdasarkan Keterlambatan Pengobatan di Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo Pembimbing : Prof. Dr. dr. Bambang Sutrisna, MHSc (Epidemiology) Abstrak Kanker payudara masih mendominasi penyakit kanker pada wanita di dunia termasuk di Indonesia. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo sebagai rumah sakit rujukan nasional dengan jumlah kasus terus meningkat setiap tahunnya. Sebagian besar kasus ditemukan pada stadium lanjut dan mengalami keterlambatan pengobatan lebih dari 60 hari setelah didiagnosis. Keterlambatan pengobatan diduga berpengaruh terhadap kesintasan pasien kanker payudara. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk menilai hubungan keterlambatan pengobatan dengan kesintasan pasien kanker payudara di RSCM. Desain studi penelitian adalah kohort retrospektif dengan mengamati 584 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Pengamatan dilakukan mulai dari 1 Januari 2011 sampai Desember 2017. Data dianalisis secara univariat, bivariat dengan uji logrank, dan multivariat dengan cox regresi. Hasil penelitian menunjukkan dari 584 pasien yang  dianalisis ditemukan besarnya risiko terjadinya kematian sebesar 1,27 kali lebih cepat pada pasien yang mengalami keterlambatan pengobatan lebih dari 60 hari dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan pengobatan kurang dari 60 hari (HR=1,27; 95%CI;0,99 – 1,64)  setelah dikontrol stadium klinis, status pernikahan, dan status hormon reseptor estrogen. Perbedaan kesintasan antara pasien yang terlambat lebih dari 60 hari setelah didiagnosis adalah sebesar 7% pada tahun kelima. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa keterlambatan pengobatan lebih dari 60 hari setelah didiagnosis mempengaruhi kesintasan pasien kanker payudara sehingga pentingnya edukasi kepada pasien dan keluarga untuk tidak menunda pengobatan setelah didiagnosis. Kata kunci: keterlambatan pengobatan; kesintasan; kanker payudara


ABSTRACT Name : Megawati Study Program : Epidemiologi Title : Survival of Breast Cancer based on Delay treatment at Cipto Mangunkusumo Hospital Counsellor : Prof. Dr. dr. Bambang Sutrisna, MHSc (Epidemiology) Breast cancer still dominates cancer in women in the world including in Indonesia. Cipto Mangunkusumo Hospital as a national referral hospital with the number of cases continues to increase every year. Most of the cases were found at an advanced stage and experienced treatment delays more than 60 days after diagnosis. Treatment delays are thought to affect the survival of breast cancer patients. Therefore, this study was conducted to assess the relationship of delayed treatment with survival of breast cancer patients at RSCM. The study design was a retrospective cohort by observing 584 patients who met the inclusion criteria. Observations were done from 1 January 2011 to December 2017. Data were analyzed univariat, bivariate with logrank test, and multivariate with cox regression. The results of the study showed that the 584 patients analyzed found that the risk of death was 1.27 times faster in patients who experienced treatment delay more than 60 days compared with patients who received treatment less than 60 days (HR = 1.27; 95% CI; 0,99 - 1.92) after controlled marital status, hormone receptor estrogen, and clinical stage. The difference in survival between their patients who were late more than 60 days after the diagnosis was 7% in the fifth year. Based on this research, it can be concluded that the delay of treatment influences survival of breast cancer patients so that the importance of education to the patient and family to immediately perform treatment after diagnosis. Keywords : Delay treatment; Survival; Breast Cancer

Read More
T-5134
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Megawati; Pembimbing: Nurhayati Prihartono; Penguji: Yovsyah, Ni Ketut Susilarini
S-7467
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Fitriani; Pembimbing: Bambang Sutrisana, Syahrizal; Penguji: Nugraha Utama Pelupessy
Abstrak: Kanker ovarium adalah salah satu kanker ginekologi yang paling umum terjadi dan menempat urutan ketiga setelah kanker serviks dan kanker uterus. Sebagian besar kasus kanker ovarium
Read More
T-5809
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhitya Bayu Perdana; Pembimbing: Asri C Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Denni Joko Purwanto
Abstrak: Limfedema merupakan komplikasi kronis yang umumnya terjadi setelah diseksi kelenjar getah bening (KGB) aksila pada pasien kanker payudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian, faktor risiko, dan model prediksi limfedema pasca diseksi KGB aksila pada pasien kanker payudara stadium lanjut. Penelitian ini merupakan desain kohort retrospektif pada 174 pasien di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Regresi Cox digunakan untuk mengidentifikasi faktor risiko signifikan terhadap limfedema. Keakuratan model prediksi dinilai dengan menghitung area under the receiver operating characteristic curve (AUROC). Hasil penelitian menunjukkan limfedema teridentifikasi pada 88/174 (50,6%) pasien dan sebagian besar mengalami limfedema pada 12 hingga 36 bulan pertama setelah diseksi KGB aksila. Faktor risiko yang terkait dengan limfedema di antaranya adalah usia, obesitas, diabetes, kemoterapi neoadjuvan, dan kemoterapi adjuvan. Model prediksi menunjukkan sensitivitas yang baik (80,2%) pada populasi penelitian dengan nilai AUC 0,706 (95% CI 0,629-0,783; p-value < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa model prediksi yang dikembangkan dalam penelitian ini cukup baik untuk diterapkan oleh para klinisi dalam mengestimasikan risiko limfedema, khususnya untuk pasien kanker payudara dengan stadium lanjut.
Lymphedema is a chronic complication that commonly occurs after axillary lymph node dissection (ALND) in breast cancer patients. This study aimed to determine the incidence, risk factors, and prediction model for lymphedema after ALND in advanced-stage breast cancer patients. This was a retrospective cohort design on 174 patients at Dharmais Cancer Hospital. Cox regression was used to identify significant risk factors for lymphedema. The prediction accuracy of the model was assessed by calculating the area under the receiver operating characteristic curve (AUROC). The results showed that lymphedema was identified in 88/174 (50.6%) patients and most of them experienced lymphedema in the first 12 to 36 months after ALND. Risk factors associated with lymphedema include age, obesity, diabetes, neoadjuvant chemotherapy, and adjuvant chemotherapy. The prediction model showed good sensitivity (80.2%) in the study population with an AUC value of 0.706 (95% CI 0.629-0.783; p-value < 0.05). It can be concluded that the prediction model developed in this study is good enough to be implemented by clinicians in estimating the risk of lymphedema, especially for advanced-stage breast cancer patients in our hospital.
Read More
T-6902
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mugi Wahidin; Pembimbing: Ratna Djuwita, Asri C. Adisasmita; Penguji: Sonar S Panigoro, Basalama Fatum
Abstrak: Abstrak
Kanker merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat baik di dunia maupun di Indonesia. Kanker payudara merupakan kanker tertinggi pada perempuan di Indonesia dengan kecenderungan terus meningkat. Jumlah kasus kanker payudara di 5 provinsi di Indonesia, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, relatif lebih tinggi dibanding provinsi lain. Kanker payudara dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk penggunaan kontrasepsi oral yang merupakan metode kontrasepsi kedua terbesar setelah suntik. Dengan tingginya kanker payudara dan tingginya penggunaan kontrasepsi oral di 5 provinsi perlu diteliti pengaruh penggunaan kontrasepsi oral dengan kanker payudara pada 6 rumah sakit rujukan kanker di 5 provinsi tersebut. 
Penelitian dilakukan dengan desain kasus-kontrol berbasis rumah sakit. Populasi sumber adalah pasien perempuan berusia 15 tahun atau lebih di 6 RS rujukan kanker di 5 provinsi yaitu RS Kanker Dharmais (DKI Jakarta), RS Cipto Mangunkusumo (DKI Jakarta), RS Hasan Sadikin (Bandung, Jawa Barat), RS Kariadi (Semarang, Jawa Tengah), RS Sardjito (DI Yogyakarta), dan RS dr. Soetomo (Surabaya, Jawa Timur). Populasi penelitian adalah pasien perempuan berusia 15 tahun atau lebih di bagian bedah pada 6 RS rujukan kanker tersebut. 
Sampel penelitian yaitu kasus adalah pasien yang didiagnosa kanker payudara dengan konfirmasi histopatologi pada bagian rawat inap bedah dan kontrol adalah pasien pada bagian rawat jalan bedah yang tidak didiagnosa kanker payudara berdasarkan wawancara. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien perempuan berusia 15 tahun atau lebih, sedangkan kriteria eksklusi adalah menggunakan kontrasepsi hormonal selain pil (suntik dan susuk) dan menggunakan terapi sulih hormon. Jumlah sampel eligible setelah dilakukan eksklusi dan matching rumah sakit asal dengan perbandingan 1:1 adalah 762 responden (381 kasus dan 381 kontrol). 
Hasil analisa menunjukkan karakteristik responden dalam penggunaan kontrasepsi oral adalah yang menggunakan kontrasepsi oral < 6 tahun pada kasus 20,2% dan pada kontrol 13,9%, menggunakan kontrasepsi oral ≥ 6 tahun pada kasus 15,2% dan pada kontrol 6,3%. Penggunaan kontrasepsi oral terbukti meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara. Setelah dikontrol variabel umur, status menyusui, diet tidak sehat, dan riwayat tumor jinak payudara, nilai Odds Ratio (OR) penggunaan kontrasespsi oral < 6 tahun sebesar 1,93 (95% CI 1,23 ? 3,03) dan OR menggunakan kontrasepsi oral ≥ 6 tahun sebesar 2,90 (95% CI 1,65 ? 5,09) dibanding tidak menggunakan kontrasepsi oral. Hasil-hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi perempuan pengguna kontrasepsi oral, BKKBN, Kemeterian Kesehatan, dan penelliti lain. 
Cancer is one public health program in the world and in Indonesia as well. Breast cancer is the most common cancer among women in Indonesia and is increasing. Breast cancer cases in 5 provinsces of Indonesia: Jakarta, West Java, Central Java, Jogjakarta, and East Java is relatively higher than other provinces. Breast cancer is influenced by many risk factors including oral contraceptives which is 2nd biggest contraceptive method in Indonesia. Because of high of breast cancer cases and high of oral contraceptive use in 5 provinces, it is needed to conduct research of influence of oral contraceptive to breast cancer in 5 provinces at 6 cancer-referral hospitals. 
The design of this research is hospital based case-control.Base population of this study is women patients aged 15 years and above in 6 cancer-referral hospitals in 5 provinces: Dharmais hospital (Jakarta), Ciptomangunkusumo hospital (Jakarta), Hasan Sadikin hospital (Bandung, West Java), Kariadi hospital (Semarang, Central Java), Sardjito hospital (Jogjakarta), and Soetomo hospital (Surabaya, East Java). Study population is women patients aged 15 years and above in surgery ward of these hospitals. 
Sample of this research is women patients diagnosed breast cancer cofirmed with histopathologic examination in inpatient surgery ward, and control is women patients whom are not diagnosed breast cancer based on interview in outpatient surgery ward. Inclusion criteria of the sample is women patients aged 15 years and above, mean while exclusion criteria is using hormonal contraceptive other than pill (injection and inplan) and using hormone replacement therapy. The number of eligible sample after exclution and matching to hospital is 762 (381 cases and 381 controls). 
Result of the analyse shows that characteristic of respondent: using oral contraceptive < 6 years is 20.2% of cases and 13.9% of control, using oral contraceptive ≥ 6 years is 15.2% of cases and 6.3% of control. Using oral contraceptive is proven increase risk of breast cancer. Controlled by age, breast feeding status, unhealthy diet, and history of benign breast tumor, Odds Ratio (OR) of using contraceptive < 6 years is 1.93 (95% CI 1.23 ? 3.03) and OR using contraceptive ≥ 6 years is 2.90 (95% CI 1.65? 5.09) compare with never users. These results can be input for oral contraceptives users, BKKBN, Ministry of Health, and other researchers.
Read More
T-3793
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uly a Qoulan Karima; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Ns. Palestina Gultom
S-7891
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Astuti; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Bantas, Krisnawati; Rachmawati
S-6293
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marini; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Suginarti, Edy Rizal
Abstrak:

Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup di Indonesia maka populasi usia Ianjut pun semakin bertambah. Menjalani masa tua dengan bahagia dan sejahtera merupakan dambaan semua orang. Keadaan ini hanya dapat dicapai bila merasa sehat secara fisik, mental (jiwa) dan sosial. Berkaitan dengan kesehatan jiwa ini salah satunya adalah penyakit dcpresi. Depresi mcrupakan pcnyakit gangguanjiwa dengan prevalensi terbesar pada usia lanjut dan dan diperkirakan sampai 40% tidak terdiagnosa padahal dengan diagnosa awal dan terapi segera dapat menaikkan kualilas hidup, status fungsional dan mencegah kematian dini pada usia lanjut. Untuk mengctahui apa pcnycbabnya maka dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mcngctahui faktor-faktor risiko yang bcrhubungan dcngan dcprcsi pada usia lanjut di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Metodologi pada penelitian ini merupakan disain kasus kontrol dengan menggunakan data sekunder melalui penelusuran rekam medik pasien gcriatri di poli geriatri rumah sakil Cipro Mangunkusumo pada tahun 2006 - tahun 2008. Populasi penelilian adalah seluruh pasien usia lanjut di poli geriatri rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Sampel adalah pasien usia Ianjur di poli geriatri RSUPN-CM yang menderila diagnosa depresinya dan telah ditegakkan diagnosanya oleh departemen psikiatri RSUPN-CM scbagai kasus dan kontrol adalah pasien usia Ianjut di poli geriatri RSUPN-CM yang tidak depresi. Jumlah sampel dalam penelitian ini 105 kasus dan 2I0 kontrol. Entri data, pengolahan dan analisis data menggunakan SPSS Hasil penelitian mcnunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian depresi pada usia lanjum adalah kcmandirian (OR = 2,008. 95% Cl I,239 - 3253) dan dukungan sosial (OR = l_724_ 95% C`| 1.065 - 2.79l). Variabel kemandirian merupakan variabel yang lebih kuat pengaruhnya terhadap kejadian depresi dibandingkan variabel dukungan sosial. Variabel yang tidak berhubungan dengan kqiadian depresi pada usia lanjut adalah usia, jcnis kclamin. status perkawinan, tingkat pendidikan, obat resep dokter yang diminum rutin, kegiatan keagamaan, keadaan ekonomi dan riwayar pekerjaan. Dari temuan pada penelitian ini disarankan untuk mcningkatkan pembinaan dan pcrhatian lerhadap kcbutuhan usia Ianjul agar usia Ianjut hidup mandiri, produktif dan tetap berperan aktif dalam kehidupan serta diperlukan penelitian kasus kontrol lanjutan dengan menggunakan sampel yang lebih besar.


 

With growing of a spark of life age in indonesia hence old age population even also progressively increase. Experiencing a period to old happyly and securc and prosperous is everybody hungering. This situations only can reach by if feeling lit by lisik. bouncing (social and mental). Relating to health of this head one of them is disease of depresi. Depresi is disease of head trouble with biggest prevalensi at old age and estimated until 40% do not diagnosa though with diagnosa early and therapy immediately can boost up the quality of lil' e, functional status and prevent death early at old age. To know what the cause of hence conducted by this research with aim to to know risk factors related to depresi at old age in region of Jabodetabek ( Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and ol' Bekasi). Methodologies this research is to bc designed by case control by using data of sekunder through of patient sis record of geriatri in hospital geriatri poli of Cipto Mangunkusumo in the year 2006 - year 2008. Research population is entire old age patient in hospital geriatri poli of`Cipto Mangunkusumo. Sampel is old age patient in RSUPN-CM geriatri poli which suffering the diagnosa of him and have been upheld the by him of by psychiatry department of RSUPN-CM as control and case is old age patient in RSUPN-CM geriatri poli which do not depresi. Amount oi" sampel in this researchs t05 ease and 2I0 control. Data Entri, data analysis and processing use SPSS version I3.0. Research result indicatc that variable rclatcd to occurcncc of depresi at old age is independence ( OR = $2,008. 95% CI l,239 - 3,253) and social support ( OR = l.724. 95% Cl l.065 - 2,79l). independence variable is stronger variable ofinfluence of to occurcncc ofdepresi compared to social support variable. Variable which do not relate to occurence of depresi at old age is age, gender, marriage status. education level. drinkcd by doctor recipe drug is routine, religious activity. situation ofwork history and economics. Of finding at this research is suggested to improve attcntion and construction to requirement of old agc so that self-supponing life old age. ad for and remain to share active in life is and also needed by research of case control continuation by using larger ones sampel.

Read More
T-2970
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive