Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33894 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Destry Rizkawati; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Doddy Izwardy
Abstrak: Stunting tidak hanya berdampak pada perawakan yang pendek namun juga pada penurunan fungsi kognitif usia sekolah, menurunkan kapasitas kerja dan kemampuan ekonomi serta peningkatan risiko penyakit metabolik di usia dewasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor dominan kejadian stunting pada balita kelompok usia 6-12 bulan, 13-24 bulan dan 25-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Tambora tahun 2017. Desain penelitian ini adalah kasus control dengan 68 sampel kasus dan 68 sampel kontrol. Data dianalisis dengan uji chi square untuk melihat hubungan antar variabel dan uji regresi logistik ganda untuk menemukan faktor dominan penyebab stunting pada setiap kelompok usia. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tinggi badan ibu, kenaikan berat badan hamil, panjang badan lahir, asupan energi saat usia 6-12 bulan, 13-24 bulan dan 25-59 bulan, asupan protein saat usia 6-12 bulan dan 13-24 bulan, penyakit infeksi dan sanitasi total dengan kejadian stunting pada balita di setiap kelompok usia. Berdasarkan hasil analisis multivariat diketahui bahwa faktor dominan kejadian stunting pada balita kelompok usia 6-12 bulan adalah asupan energi saat usia 6-12 bulan (p-value 0,001; OR 7,382; 95%CI 2,261-24.102), pada kelompok usia 13-24 bulan adalah penyakit infeksi (p-value 0,016; OR 7,154; 95%CI 1,436-35,653) dan pada kelompok usia 25-59 bulan adalah asupan energi saat usia 13-24 bulan (p-value 0,040; OR 12,599; 95%CI 1,125-141,126). Perlu adanya perbaikan asupan gizi balita sesuai kelompok usia dan pencegahan penyakit infeksi melalui pendekatan sanitasi total berbasis masyarakat. Kata kunci: Stunting, balita, asupan energi, penyakit infeksi Stunting affects not only to short stature but also decreases in cognitive function at school age, decreases work and economic capacity at the productive age and increases the risk of metabolic diseases in elderly. The purpose of this study was to analyze the dominant factors of stunting among children aged grup 6-12 months, 13-24 months and 25-59 months in Kelurahan Tambora. This was case control study with 68 cases and 68 controls. The data were analyzed by chi square test for bivariate analysis and multiple logistic regression test to find the dominant factor of stunting in each of age group. The results of this study shows that there was a significant relationship between maternal height, weight gain during pregnancy, birth length, energy intake at 6-12 months, 13-24 months and 25-59 months, protein intake at 6-12 months and 13-24 months, infectious diseases and sanitation with stunting. Based on multivariate analysis, it was found that the dominant factor of stunting at 6-12 months children was energy intake at 6-12 months (p-value 0,001; OR 7,382; 95% CI 2,261-24,102), at 13-24 Months was infectious disease (p-value 0.016; OR 7,154; 95% CI 1,436-35,653) and at 25-59 months was energy intake at 13-24 months (p-value 0,040; OR 12,599; 95% CI 1,125 -141,126). It is necessary to improve the nutritional intake of under five children and prevention of infectious diseases through community-based total sanitation approaches. Keyword : Stunting, under five children, energy intake, infectious diseases
Read More
T-5014
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hertin Rindawati; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Ade Saprudin, Cecep Heriana
Abstrak: Stunting (balita pendek) memiliki efek terhadap masa depan anak seperti berkurangnya tingkat kognitif anak, hambatan dalam peningkatan tinggi badan, kelebihan berat badan atau obesitas di kemudian hari, dan mengurangi hasil kehadiran sekolah sehingga menyebabkan berkurangnya produktifitas pada masa dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan dalam hubungan pemberian MPASI dengan kejadian stunting pada bayi berusia 12 bulan dari Januari-April 2017 di wilayah kerja Puskesmas Katapang Kabupaten Bandung tahun 2017. Rancangan penelitian ini menggunakan desain case control pada 28 kasus dan 56 kontrol. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2017. Data dianalisis dengan uji regresi logistik sederhana untuk melihat hubungan antar variabel dan uji regresi logistik ganda model prediksi untuk menemukan faktor dominan dalam hubungan pemberian MPASI dengan kejadian stunting pada bayi. Hasil penelitian menunjukkan faktor dominan dalam hubungan pemberian MPASI dengan kejadian stunting pada bayi adalah berat lahir bayi (p=0,022 OR=5,177 dan 95%CI=1,27-21,098), diare (p=0,027 OR=5,226 dan 95%CI=1,206-22,652), dan pemberian MPASI (p=0,034 OR=3,884 dan 95%CI=1,106-13,649). Faktor dominan dari ketiga variabel tersebut yaitu variabel diare. Variabel diare memiliki hubungan paling kuat dengan kejadian stunting pada bayi. Perlu adanya langkahlangkah dalam pencegahan stunting pada bayi dengan cara konseling pemberian asupan gizi optimal pada ibu hamil agar terhindar dari risiko kelahiran BBLR, pencegahan diare berulang pada bayi dan pemberian MPASI yang benar terutama perbaikan asupan protein pada bayi. Kata Kunci : stunting, berat lahir, diare, pemberian MPASI Stunting has an effect on the child's future such as reduced child's cognitive level, obstacles in height increase, overweight or obesity later in life, and reduced school attendance resulting in reduced productivity in adulthood. This study aims to determine the dominant factor in the relationship of gi with stunting in infants aged 12 months from January to April 2017 in the work area of the Katapang Health Center Bandung Regency in 2017. The design of this study used case control design on 28 cases and 56 controls. This study was conducted in May 2017. The data were analyzed by simple logistic regression test to see the relationship between variables and multiple logistic regression test prediction model to find the dominant factor in the relationship of complementary feeding with stunting in infants. The results showed that the dominant factor in the association of complementary feeding with the incidence of stunting in infants was birth weight (p = 0,022 OR = 5,177 and 95% CI = 1,27-21,098), diarrhea (p = 0,027 OR = 5,226 and 95% CI = 1,206-22,652), and giving of complementary feeding (p = 0,034 OR = 3,884 and 95% CI = 1,106-13,649). The dominant factors of these three variables are diarrhea which have the strongest relationship with the incidence of stunting in infants. Preventing stunting in infants by counseling the optimal intake of nutrients in pregnant women to avoid the risk of low birth weight, prevention of recurrent diarrhea in infants and provision of appropriate complementary feeding, especially the improvement of protein intake in infants are needed. Keywords: stunting, birth weight, diarrhea, complementary feeding
Read More
T-4956
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tika Noor Prastia; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Trini Sudiarti, Endnag Laksminingsih, Itje Aisah, Eti Rohati
Abstrak: Stunting menjadi masalah kesehatan yang terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Dampak stunting menyebabkan buruknya kualitas sumber daya manusia dan menurunkan kemampuan produktifitas. Penelitian ini bertujuan menilai faktor- faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kras Kecamatan Kras Kabupaten Kediri Tahun 2017. Desain penelitian mengggunakan cross sectional dengan metode proportional random sampling dengan jumlah sampel 187 anak. Data diperoleh dari data primer melalui wawancara kuesioner dan form FFQ semikuantitatif, serta pengukuran antropometri panjang badan anak dan tinggi badan ibu. Analsisis bivariat menggunakan uji chi-square, regresi logistik ganda untuk analisis multivariat. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 20,9%. Analisis bivariat menunjukkan faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting yaitu riwayat IMD dan asupan zink (p<0,05), sedangkan faktor yang tidak berhubungan dengan kejadian stunting yaitu berat badan lahir, panjang lahir, riwayat penyakit infeksi, pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu ketika melahirkan, LiLA ibu ketika hamil, riwayat pemberian ASI, asupan energi, asupan protein, asupan vitamin A, asupan kalsium, riwayat pemberian MP-ASI, dan riwayat ANC (p>0,05). Analisis multivariat menunjukkan asupan zink (OR= 12,54: 95%CI: 3,68-42,76) merupakan faktor risiko dominan yang menyebabkan kejadian stunting setelah dikontrol dengan berat badan lahir dan pendidikan ibu. Perlu diperhatikan komsumsi makan anak seperti daging, ikan, hati, dan telur yang kaya akan zink sebagai upaya pencegahan terhadap kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan. Kata kunci : Stunting ̧ asupan zink, anak usia 6-24 bulan.
Read More
T-4961
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gabriela Sanjaya; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Trini Sudiarti, Rahmawati
Abstrak: Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak yangterjadi sebagai akibat dari buruknya asupan makan anak, kejadian infeksi yangberulang, dan tidak adekuatnya stimulasi psikosoial. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadianstunting pada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Barat tahun 2017. Penelitiandilakukan dengan desain cross sectional, menggunakan data primer denganjumlah sampel sebanyak 210 anak yang diambil dengan teknik multistage randomsampling dari 12 Posyandu pada 6 kelurahan dari 3 kecamatan di Jakarta Barat.Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan pengukuran panjang badananak dan melakukan wawancara dengan responden. Hasil penelitianmemperlihatkan bahwa sebanyak 16,2% anak usia 6-23 bulan di Jakarta Baratmengalami stunting. Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square menemukanbahwa faktor-faktor yang berhubungan secara bermakna dengan kejadian stuntingpada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Barat adalah suplementasi vitamin A(OR=3,62; 90% CI 1,144-8,939) dan tingkat pendidikan ibu (OR=2,40; 90% CI1,167-4,885). Hasil analisis multivariat dengan analisis regresi logistik gandamenemukan bahwa suplementasi vitamin A merupakan faktor dominan darikejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Barat tahun 2017 setelahdikontrol oleh variabel capaian MAD, praktik pemberian kolostrum, dan tingkatpendidikan ibu (OR=4,00; 90% CI 1,402-11,436). Berdasarkan hasil penelitian,saran untuk pihak Suku Dinas Kota Administrasi Jakarta Barat adalah perludilakukan assessment untuk mengetahui mengapa anak yang masih berusia kurangdari 6 bulan sudah diberikan susu formula, cakupan mendapatkan suplementasivitamin A harus ditingkatkan hingga mencapai 100%, perlu dilakukan penyediaanalat antropometri panjang badan yang baku untuk setiap Puskesmas danPosyandu, dan perlu dilakukan pelatihan mengenai prosedur yang baik dan benardalam mengukur panjang badan anak; saran untuk pihak Puskesmas dan Posyanduadalah perlu dilakukan pemantauan status gizi berdasarkan indeks PB/U setiap 3bulan sekali, perlu dilakukan pelatihan prosedur panjang badan kepada kader,perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat mengenai praktik pemberian makanyang tepat dan pemanfaatan pelayanan kesehatan bagi anak; saran untuk penelitilain adalah penelitian perlu dilakukan pada skala yang lebih besar (baik dari sisijumlah sampel maupun wilayah), penggunaan variabel capaian minimum dietarydiversity, minimum meal frequency, dan minimum acceptable diet sebaiknyadigunakan secara berhati-hati dan pengukurannya dilakukan 2-3 kali pada hariyang berbeda, serta perlu dilakukan 24-hour dietary recall untuk mengetahuikeadekuatan asupan makan anak.Kata kunci: stunting, suplementasi vitamin A, usia 6-23 bulan.
Read More
S-9444
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmi Lisdeni; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum, Darwel
Abstrak:
Salah satu fokus program pembangunan kesehatan di Indonesia saat sekarang merupakan stunting. Stunting adalah kegagalan pertumbuhan dan perkembangan karena multifaktor diantaranya sanitasi lingkungan yang buruk, asupan gizi kurang, penyakit infeksi, dll yang ditandai dengan tinggi atau panjang badan tidak sesuai dengan umurnya (TB/U20%). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kejadian stunting pada balita yang dikaitkan dengan sanitasi lingkungan dan asupan gizi pada Balita 6-59 bulan di Wilayah Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat pada Tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 189 sampel. Analisis data dilakukan dengan SPSS yaitu analisis univariat Distribusi Frekuensi, Analisis bivariate (Chi-square) dan analisis multivariat (regresi logistik). Terdapat hubungan yang bermakna antara variabel-variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi dengan kejadian stunting pada balita yaitu variabel perilaku BABS, variabel perilaku CTPS, variabel Pengolahan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAM-RT), variabel sarana dan kepemilikan jamban dan variabel asupan zat gizi. Semua variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi yang diteliti merupakan faktor risiko kejadian stunting pada balita karena memiliki OR>1 Sedangkan variabel yang paling besar pengaruhnya yaitu variabel CTPS. Terdapat faktor risiko sanitasi lingkungan dan asupan gizi terhadap kejadian stunting pada balita. Dan disarankan kepada Puskesmas dan Dinas Kesehatan untuk melakukan pemberantasan stunting dengan pemicuan STBM dan peningkatan asupan memberikan edukasi kepada ibu balita serta ibu hamil untuk memakan makanan beragam, bergizi dan seimbang serta meningkatkan pemberian PMT pada balita terutama PMT lokal bernilai gizi yang banyak di wilayah tersebut seperti Ikan. Perlu peningkatan kerjasama lintas sektor untuk memberantas faktor risiko sanitasi lingkungan yang buruk dan asupan gizi yang kurang pemicu stunting. Kata kunci: Stunting, balita 6-59 bulan, sanitasi lingkungan, asupan gizi, Batangkapas .

One of the current focuses of health development programs in Indonesia is stunting. Stunting is failure of growth and development due to multiple factors including the poor environmental sanitation, the inadequate nutritional intake, the infectious diseases, etc. which is characterized by height or body length that is not appropriate for age (TB/U 20%). The goal of the research is ttg=termine the risk factors for stunting in toddlers which are associated with environmental sanitation and nutritional intake in toddlers 6-59 months . The design of this research is cross sectional with a total sample of 189 samples. Data analysis was carried out using SPSS, namely Frequency Distribution univariate analysis, bivariate analysis (Chi-square) and multivariate analysis (logistic regression). There is a significant relationship between environmental sanitation variables and nutritional intake and the incidence of stunting in toddlers, namely the behavioral variable of ODF, the behavioral variable of CTPS, home food and drink processing (PAM-RT) variable, latrine ownership variable and nutrient intake variable. All environmental sanitation and nutritional intake variables studied are risk factors for stunting in toddlers because they have OR> 1. Meanwhile, the variable with the greatest influence is the CTPS variable. There are risk factors for environmental sanitation and nutritional intake in the incidence of stunting among toddlers. And it is recommended that the Community Health Center and Health Service eradicate stunting by triggering STBM and increasing intake. education for mothers of toddlers and pregnant mothers to eat diverse, nutritious and balanced food and increase the provision of PMT to toddlers, especially local PMT with nutritional value which is abundant in the region, such as fish. There is a need to increase cross-sector collaboration to eradicate the risk factors of poor environmental sanitation and inadequate nutritional intake that trigger stunting.
Read More
T-6884
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Paramitha Anisa; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Rahmawati
S-7224
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iis Fatimah; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Trini Sudiarti, Siti Arifah Pujonarti, Helwiah Umniyati, Yuliati Chasbullah
Abstrak:

ABSTRAK

Stunting atau perawakan pendek pada anak merupakan suatu ?tragedi yang tersembunyi? dan dampaknya menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anak yang irreversibel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan kejadian stunting pada balita usia 24 ? 59 bulan di Kelurahan Harapan Mulya Kota Bekasi tahun 2013. Disain penelitian adalah cross sectional dan melibatkan 143 sampel yang diambil dengan sampel acak sederhana. Status stunting dinilai berdasarkan Z-score TB/U menurut klasifikasi WHO. Pengukuran tinggi badan menggunakan microtoice, berat badan menggunakan timbangan digital, asupan makanan (energi, protein, vitamin A, zink) menggunakan FFQ semikuantitatif. ASI, berat lahir, penyakit infeksi, pendidikan ayah dan ibu, status ekonomi didapatkan melalui wawancara.

Hasil analisis menunjukkan sebanyak 32,9% balita usia 24-59 bulan tergolong stunting. Uji chi-square menunjukkan berat lahir, asupan energi dan protein, asupan zink, pendidikan ayah dan status ekonomi berhubungan signifikan dengan kejadian stunting. Analisis regresi logistik menghasilkan berat lahir sebagai faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting setelah dikontrol pendidikan ayah dan asupan energi (p=0,003;OR=6,663;CI=1,87? 23,5). Untuk mencegah kejadian stunting pada balita, disarankan pemeriksaan kehamilan yang teratur, memberikan makanan bergizi seimbang untuk balita sesuai AKG yang dianjurkan, mempersiapkan status kesehatan dan gizi yang baik untuk remaja perempuan sebelum kehamilan.


ABSTRACT

Stunting or short stature is a ?hidden tragedy? and its impact causes disorder to a irreversible child?s development. The aim of this study were to determine the dominant factor of stunting among children aged 24-59 months at Harapan Mulya sub-district in Bekasi city 2013. Design was a cross sectional study on 143 children whom chosen by simple random sampling. Status of stunting were expressed by height for age z-score (HAZ) according to the WHO classification. Children?s height were measured using microtoise, body weight was measured with digital scales, nutrients intake (energy, protein, vitamin A and zink) were collected throught semiquantitative FFQ. Breastfeeding, birthweight, infection disease, education of father and mother and economic status were collected through interview.

The analysis result showed 32,9% children aged 24-59 months were stunting. Chi-square test showed birthweight , energy and protein intake, zinc intake, father education and economic status were significant correlate with stunting. Logistic regression analysis showed birthweight variable as a dominant factor which related to stunting after being controlled by father education and energy input (p=0,003;OR=6,663;CI=1,8723,5). Suggestion for deterrence of stunting is the regular pregnancy inspection, giving nutritious wellbalanced under five years food input as according to AKG suggested, preparing good nutrient and health status for woman adolescent before pregnancy.

Read More
T-3936
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ina Poristinawati; Pembimbing : Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Diah Mulyawati Utari, Abas Basuni Jahari, Tiska Yumeiza
Abstrak:
ABSTRAK Nama : Ina Poristinawati Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Determinan Stunting Pada Balita Usia 6-23 Bulan Di Nagari Sasak Kecamatan Sasak Ranah Pasisie kabupaten Pasaman Barat Tahun 2019 Pembimbing : Ir.Siti Arifah Pujonarti, MPH Stunting adalah kondisi kekurangan gizi pada balita yang bersifat kronik di masa awal pertumbuhan dan perkembangan yang ditandai dengan terhambatnya pertumbuhan linier yang berhubungan dengan meningkatnya morbiditas, dan mortalitas. Tujuan dari tesis ini adalah untuk mengetahui determinan stunting pada balita usia 6-23 bulan di Kecamatan Sasak Ranah Pasisie Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2019. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampelpenelitian adalah 127 pasangan ibu dan anak usia 6-23 bulan. Stunting diukur menggunakan indikator TB/U melalui pengukuran antropometri panjang badan, dan wawancara kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan 33,9% balita usia 6-23 bulan mengalami stunting, 76,4% balita tidak mendapat ASI eksklusif. Hasil analisis chi-square menunjukkan ada hubungan antara sosial ekonomi (p-value 0,037), Minimum Dietary Diversity (MDD) (p-value 0,006), Minimum Acceptable Diet (p-value 0,05), dan riwayat infeksi (p-value 0,003) dengan kejadian stunting. Uji regresi logistik menunjukkan MDD merupakan faktor determinan terjadinya stunting pada balita usia 6-23 bulan setelah dikontrol dengan variabel sosial ekonomi, MAD dan riwayat infeksi (OR 3,646; 955CI: 1,421-9,366). Saran peneliti untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman Barat adalah melakukan upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan ibu dalam praktik pemberian ASI, dan MPASI. Terutama untuk dapat memberikan makanan yang beraneka ragam dan cukup jumlahnya. Kata kunci: Stunting, sosial ekonomi, MDD, infeksi ABSTRACT Stunting is a condition of malnutrition in children who are chronic in the early stages of growth and development which is characterized by inhibited linear growth associated with increased morbidity and mortality. The purpose of this thesis is to determine the stunting determinants of toddlers aged 6-23 months in Sasak Subdistrict, Pasisie District, West Pasaman Regency in 2019. This research is a quantitative research with cross sectional design. The study sample was 127 couples of mothers and children aged 6-23 months. Stunting is measured using the HAZ indicator through body length anthropometric measurements, and questionnaire interviews. The results showed 33.9% of children aged 6-23 months had stunting, 76.4% of children under five did not get exclusive breastfeeding. The results of the chi-square analysis showed that there was a relationship between socio-economic (p-value 0.037), Minimum Dietary Diversity (MDD) (p-value 0.006), Minimum Acceptable Diet (p-value 0.05), and infection history (p-value 0.003) with the incidence of stunting. Logistic regression test showed MDD was a determinant of stunting in infants aged 6-23 months after being controlled by socioeconomic variables, MAD and history of infection (OR 3.646; 955CI: 1.421- 9,366). The suggestion of researchers for the West Pasaman District Health Office is to make efforts to increase the knowledge and abilities of mothers in the practice of breastfeeding and complementer feeding practice. Especially to be able to provide food that is diverse and sufficient in number Key word: Stunting, socioeconomic, MDD, infection
Read More
T-5741
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Primasti Nuryandari Putri; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Trini Sudiarti, Armein Sjuhary, Sulistyowati, Budi Haryanto
Abstrak: Tesis ini membahas determinan lingkungan yang ada pada kejadian stunting balita usia 6-59 bulan di Kecamatan Babakan Madang tahun 2019. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat fenomena masalah kesehatan dalam hal ini kejadian stunting beserta determinan lingkungan yang mempengaruhinya. arak kandang dengan rumah balita stunting, dan keterkaitannya dengan hubungan gejala ISPA selama 3 bulan dan interaksinya dengan pengaruh iklim (suhu, temperature, kecepatan dan arah angin) terhadap stunting digambarkan secara representative melalui pemetaan. Beberapa variabel dapat dijelaskan dengan lebih baik melalui deskriptif spasial yaitu jarak kandang dengan rumah balita
This thesis discusses the environmental determinants that occur in stunting toddlers aged 6-59 months in Babakan Madang District in 2019. The purpose of this study is to look at the phenomenon of health problems in this case the incidence of stunting with the environmental determinants that influence it. This research is an wise team study with funds from the research directorate and community service at Universitas Indonesia. Using cross-sectional design to take primary data with multi stages sampling method and the way of taking respondents in Posyandu using purposive cluster sampling The distance of the poultry cages with a stunting children's house, and its relationship to the ARI symptoms for 3 months and their interactions with the influence of climate (temperature, wind speed and direction) to stunting are representative through mapping. Some variables can be explained better through spatial descriptive, namely the distance of the cage with a toddler's house. The influence of the distance of the poultry cage with the children's house and there is an interrelated relationship with the temperature, wind direction and wind speed on the incidence of recurrent infectious
Read More
T-6005
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anisa Permatasari; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, R.T. Ayu Dewi Sartika, Netti Yaneli, Salimar
Abstrak:
Prevalensi stunting di Indonesia menempati urutan kedua tertinggi di Asia Tenggara sebesar 31,8% pada tahun 2020. Kecamatan Bunguran Timur Laut berada di urutan ke 3 prevalensi stunting dari 15 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Natuna. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor determinan kejadian stunting pada balita usia 1-3 tahun di Kecamatan Bunguran Timur Laut. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian dilakukan di Kecamatan Bunguran Timur Laut pada bulan Juni-Agustus tahun 2023. Sampel adalah balita usia 1-3 tahun dengan responden adalah ibu yang mempunyai balita yang berjumlah 142 orang. Analisis bivariat menggunakan chi square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proprosi kejadian stunting (PB/U atau TB/U) yaitu 23,2%. Ada perbedaan proporsi kejadian stunting pada balita usia 1-3 tahun berdasarkan usia ibu, tinggi badan ibu, sumber air minum, berat badan lahir dan panjang badan lahir (p<0,05). Tidak ada perbedaan proporsi kejadian stunting pada balita usia 1-3 tahun berdasarkan IMT prahamil, riwayat hipertensi, jumlah anak, pendapatan rumah tangga, usia anak, jenis kelamin, riwayat penyakit infeksi, kehadiran di posyandu 6 bulan terakhir dan frekuensi konsumsi protein hewani (p>0,05). Pemodelan terakhir terdiri dari variabel usia ibu (OR=2,38; 95%CI=0,94-6,00), panjang badan lahir (OR=2,11; 95%CI=0,82-5,43), berat badan lahir (OR=2,69; 95%CI=0,64-11,22) dan akses sumber air minum (OR=2,77; 95%CI=1,12-6,82). Akses sumber air minum sebagai faktor dominan setelah dikontrol variabel usia ibu, panjang badan lahir dan berat badan lahir.

In 2020, Indonesia exhibits the second highest prevalence of stunting among Southeast Asian countries, standing at 31.8%. North East Bunguran Sub-District is ranked third in stunting prevalence among the 15 Sub-Districts in Natuna Regency. This study aimed to determine the factors contributing to the prevalence of stunted growth among toodlers aged 1 to 3 years. The research employed a cross-sectional approach. The study was undertaken at North East Bunguran Sub-District from June to August 2023. The sample consisted of toddlers aged 1 to 3 years, and the respondents were Mothers with toddlers, comprising 142 individuals. The analysis involved using chi-square for bivariate analysis and logistic regression for multivariate analysis. The proportion of stunting (PB/U or TB/U) is 23,2%. The proportion of stunted toddlers aged 1 to 3 years differ depending on factors such as mother age, maternal height, drinking water source, birth weight, and birth length (p<0.05). The proportion of stunted toddlers aged 1 to 3 years did not differ according to the number of children, household income, child age, gender, history of infectious disease, attendance at posyandu within the last six months, frequency of animal protein consumption, or weight gain during pregnancy (p>0.05). The final model included the following variables: maternal age (OR=2,38; 95%CI=0,94-6,00), birth length (OR=2,11; 95%CI=0,82-5,43), birth weight (OR=2,69; 95%CI=0,64-11,22), and access to drinking water sources (OR=2,77; 95%CI=1,12-6,82). The prevailing determinant after controlling for maternal age, birth length, and birth weight, was the access to drinking water sources.
Read More
T-6888
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive