Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39604 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fahrul Rahman; pEMBIMBINBG: Sandi Iljanto; Penguji: Mardiati Nadjib, Pujiyanto, Amila Megraini, Emi Lidia Arlini
Abstrak: Mulai 1 januari 2014 diberlakukannya JKN di rumah sakit maka terjadi perubahan sistem pembayaran dari pembayaran secara retrospektif (fee for service) menjadi sistem pembayaran prospektif (INA-CBG‟s).Direncananakn pada 2019 Indonesia seluruh penduduk Indonesia terdaftar di BPJS (Universal Heath Coverage).Sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah RSUD Banyuasin mempunyai peranan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas namun tetap memperhatikan efisiensi karena makin berkurangnya subsidi pemerintah.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya dan mengidentifikasi faktor-faktor penentu inefisiensi layanan Diabetes Melitus Komplikasi sehingga bisa dijadikan pedoman pengendalian biaya dalam melayani pasien.Jenis penelitian ini bersifat analisis deskriptif dengan menggunakan data primer (pengamatan dan wawancara) dan data sekunder berupa data dari RSUD Banyuasin tahun 2015.Analisis biaya menggunakan pendekatan Activity Based Costing (ABC).Metode ABC untuk mengalokasikan biaya dengan mengidentifikasi pemicu biaya (cost driver) penyebab terjadinya biaya layanan Diabetes Melitus Komplikasi.Hasil penelitian menunjukkan komponen obat pada pelayanan Diabetes Melitus Komplikasi merupakan faktor penentu inefisiensi. Usaha yang dapat dilakukan oleh rumah sakit untuk mengatasi inefisiensi dengan pembuatan Panduan Praktek Klinik, Revisi Formularium RS, Klinisi secara konsisten menggunakan obat e-cataloq Kata kunci: Analisis biaya, metode ABC, inefisiensi Since JKN was offiacially administered in general hospital on January 1st, 2014, there has been changing in hospital administration payment from the restrospective system (free for services) to the prospective system (INA-CBG‟s). It is planned in 2019 that all the people in Indonesia is registered in BPJS (Universal Heath Coverage) as one of the facilities for public healt services provided by Banyuasin general hospital (RSUD Banyuasin) which ains to provide qualified services, yet still considering effiencies due to the lach of the government subsidies. This study aimed to analyze the cost and identify determinant factor in handling Diabetes Melitus with complications, so that it can be a reference to handle the cost in taking care of patients with Diabetes Melitus. This study applied descriptif analysis which using primary data (observation and interview) and secondary data from Banyuasin general hospital (RSUD Banyuasin) in 2015 meanwhile. The cost analysis was appliyng Activity Based Costing (ABC) method. The ABC method was applied to allocated the cost by identifying the cost driver which was the major cause for cost for financing services for Diabetes Melitus with complication. The result of this study showed that medical component was the determinant factor of the inefficiencies for Diabetes Melitus with complication services. There are many efforts that can be done by the hospital to overcome the ineficiencies, for instance, making quidance for clinical practies, making revision for hospital formulation, and using e-cataloq medicine consistently Keywords : the cost analysis, ABC method, ineficiency
Read More
B-1872
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Handi Wirawan; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Pujiyanto, Atik Nurwahyuni, Ari Purwohandoyo, Slamet Tjahjono
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi biaya satuan layanan rawat jalan Diabetes Melitus Tipe II agar Manajemen Rumah Sakit dapat menentukan upaya efisiensi kedepannya dalam rangka menutup kesenjangan antara tarif Rumah Sakit dengan tarif INA CBG's. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam, observasi serta telaah dokumen terkait penelitian. Informan dalam penelitian adalah Kepala Bagian Keuangan, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Kepala Unit Rawat Jalan serta Petugas Bagian Farmasi. Total biaya Rajal DM sebesar Rp 369.573.586,- Hasil perhitungan menunjukkan bahwa besar unit cost untuk Rajal DM Tipe II adalah sebesar Rp 251.069,- dimana tarif INA CBGs untuk Rajal DM Tipe II hanya sebesar Rp 192.100,- yang berarti terdapat kesenjangan sebesar Rp 58.969,- . Efisiensi untuk menekan biaya tidak tetap dan mengurangi variasi pemberian obat serta pemeriksaan laboratorium Diabetes Melitus Tipe II dengan membuat clinical pathway Diabetes Melitus Tipe II. Untuk mengurangi beban biaya tetap, tindakan efisiensi yang dapat dilakukan adalah menaikkan angka kunjungan pasien Diabetes Melitus Tipe II dengan menyediakan dokter spesialis tetap untuk penyakit dalam agar pelayanan untuk pasien dapat maksimal serta kunjungan dapat meningkat
Read More
B-2122
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irma Yudi Febrianti; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Anhari Achadi, Amila Megraini, indah Rosana Djadiredja
Abstrak: Atas rekomendasi dokter spesialis pelayanan Rujuk Balik ke puskesmas dianjurkan bagi pasien di RS yang menderita penyakit kronis termasuk diabetes melitius. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kesediaan pasien diabetes mellitus Tipe 2 peserta JKN di RSU Jagakarsa untuk dirujuk balik ke FKTP. Desain potong lintang dan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam digunakan dalam studi ini.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan pasien terhadap dokter layanan primer, persepsi pasien mengenai ketersediaan obat di fasilitas kesehatan primer, jarak tempuh terhadap fasilitas kesehatan primer dan dukungan keluarga dan teman berhubungan dengan kesediaan pasien untuk dirujuk balik. Disarankan untuk mengembangkan SOP rujuk balik di RS dan mengembangkan pojok rujuk balik. Kata Kunci: rujuk balik, peserta Jaminan Kesehatan Nasional, Dibetes Melitus Tipe 2 Back referral service to primary care is provided for JKN patients including diabetes mellitus type 2 patients as recommended by the internal medicine specialist. This study aim is to analyse the factors that related to willingness of the patients to be referred to primary care after receiving care at the hospital in Jagakarsa Hospital. This study is using quantitative method with cross sectional design, followed by qualitative method with in-depth interview. The study revealed that trust to the primary health care physician, perception on medicine availability in primary health care facility, accessiibility and support from family and friend affect patient willingness to agree with back referral service. The study suggested to develop standard procedure for back referral and initiate back referral corner in hospital Key word: Back referral, National Health Insurance members, Diabetes Mellitus Type 2
Read More
B-1900
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nita Nuryatin; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Pujiyanto, Alim A. Irsal,
Abstrak: Sejak tahun 2011, pemerintah telah menjamin layanan pengobatan bagi penderitathalassemia. Pengobatan suportif yang didukung oleh BPJS berupa transfusi darahdan obat khusus (kelasi besi) namun rumah sakit belum memiliki informasi akuratmengenai biaya riil. Penelitian yang dilakukan di RS Anna Medika Bekasi inimenggunakan metode ABC (Activity Based Costing) di mana aktivitas diperolehdari sampel 20 pasien thalassemia dewasa dengan rawat inap serta 20 pasienthalassemia anak-anak dengan rawat inap. Hasil studi menunjukkan bahwa biayasatuan pelayanan pasien thalassemia dewasa dengan rawat inap adalah Rp.8.559.433 dan Rp. 6.411.485 pasien thalassemia anak-anak dengan rawat inap perepisode. Pemicu biaya adalah biaya operasional (61%) dan tingkat pemulihanbiaya (cost recovery rate) adalah 108%.Kata kunci: Biaya, pemulihan biaya (cost recovery rate), thalassemia, ActivityBased Costing (ABC)
Since 2011, the government covered all treatment for thalassemia patients. BPJSprovide a supportive treatment including blood transfusion and chelating ironmedicine, but the hospital donot have accurate informationa on the real cost. Thisresearch done in Anna Medika Hospital was using Activity Based Costingapproach, activity on inpatient care of the patients was captured from sampled of20 adults and 20 children patients treated at the hospital. The study revealed thatunit cost per episode was Rp. 8.559.433 for adult thalassemia patient and Rp.6.411.485 for the thalassemia children patient with inpatient care. Cost driver wasoperational cost (60%). Cost recovery rate was 108%.Keywords: Cost, Cost Recovery Rate, Thalassemia, Activity Based Costing(ABC)
Read More
B-1802
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Made Ratna Saraswati; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Purnawan Junadi, Sukamto Koesnoe, Ni Made Ayu Lestari, Amal Chalik Sjaaf
Abstrak:
Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) dengan komplikasi merupakan salah satu tantangan utama pelayanan kesehatan di rumah sakit rujukan tersier karena bersifat kronis, kompleks, dan membutuhkan pelayanan berkesinambungan lintas disiplin. Rumah Sakit Prof. dr. I G.N.G. Ngoerah, Bali (RS Ngoerah) sebagai rumah sakit rujukan nasional menghadapi tuntutan untuk tidak hanya menyediakan layanan klinis lanjutan, tetapi juga memastikan mutu, efisiensi, dan kesinambungan pelayanan melalui tata kelola yang kuat dan terintegrasi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan governansi klinis pelayanan kronis terintegrasi bagi pasien DMT2 dengan komplikasi di Poliklinik RS Ngoerah, agar pelayanan berkesinambungan dan berkualitas. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan kerangka analisis Teori Donabedian (struktur/input–proses–outcome/output) serta prinsip governansi klinis dan pelayanan penyakit kronis. Data diperoleh melalui analisis dokumen, survei, dan wawancara mendalam dengan berbagai pemangku kepentingan layanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara struktural RS Ngoerah telah memiliki sumber daya manusia, fasilitas, dan layanan subspesialistik yang memadai. Namun, keunggulan struktur tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh proses pelayanan yang terintegrasi dan berkesinambungan. Pelayanan pasien DMT2 dengan komplikasi masih didominasi pendekatan episodik, terfragmentasi antar unit, serta belum didukung oleh alur pelayanan kronis terintegrasi, sistem rujuk balik yang efektif, dan pemanfaatan data klinis longitudinal secara optimal. Ketidakselarasan antara struktur/input, proses, dan outcome/output ini berdampak pada belum optimalnya efektivitas layanan, efisiensi biaya, dan pengalaman pasien. Analisis tata kelola menunjukkan bahwa interaksi unsur man, machine, dan method belum berjalan secara sinergis. Kompetensi tenaga kesehatan yang tinggi belum sepenuhnya didukung oleh sistem informasi terintegrasi dan metode pelayanan kronis yang baku. Dari perspektif availability, affordability, dan accessibility, layanan komprehensif tersedia secara klinis, namun masih terdapat hambatan dalam akses berkelanjutan dan kesesuaian pembiayaan dengan kebutuhan pelayanan kronis jangka panjang. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan pengembangan model governansi klinis pelayanan kronis terintegrasi yang menekankan integrasi struktur/input–proses–outcome/output, penguatan kepemimpinan klinis, standarisasi alur pelayanan kronis lintas unit, pemanfaatan sistem informasi klinis terintegrasi, serta mekanisme evaluasi berbasis outcome klinis dan pengalaman pasien dalam bentuk unit pelayanan diabetes terpadu (diabetes integrated care unit). Model ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan kesinambungan pelayanan pasien DMT2 dengan komplikasi di RS Ngoerah Bali, sekaligus menjadi rujukan penguatan tata kelola pelayanan penyakit kronis di rumah sakit rujukan lainnya.

Type 2 diabetes mellitus (T2DM) with complications represents one of the major challenges in healthcare delivery at tertiary referral hospitals due to its chronic nature, clinical complexity, and the need for continuous, multidisciplinary care. Prof. dr. I G.N.G. Ngoerah Hospital, Bali (Ngoerah Hospital), as a national referral hospital, is therefore required not only to provide advanced clinical services but also to ensure the quality, efficiency, and continuity of care through a robust and integrated governance framework. This study aimed to develop an integrated chronic care governance model for patients with T2DM and complications attending the outpatient clinics of Ngoerah Hospital, Bali, in order to support high-quality and continuous care delivery. A mixed-methods approach was employed, guided by the Donabedian framework (structure/input–process–outcome/output) and informed by principles of clinical governance and chronic disease management. Data were collected through document review, surveys, and in-depth interviews with key healthcare stakeholders. The findings indicate that, from a structural perspective, Ngoerah Hospital has adequate human resources, facilities, and subspecialty services to support comprehensive diabetes care. However, these structural strengths have not been fully translated into integrated and continuous care processes. Care for patients with T2DM and complications remains predominantly episodic, fragmented across service units, and insufficiently supported by integrated chronic care pathways, effective referral-back mechanisms, and optimal use of longitudinal clinical data. This misalignment between structure/input, process, and outcomes/output has contributed to suboptimal service effectiveness, cost efficiency, and patient experience. Governance analysis further reveals that the interaction among the elements of manpower, machinery, and methods has not yet functioned synergistically. While healthcare professionals demonstrate a high level of clinical competence, this capacity is not adequately supported by integrated health information systems and standardized chronic care methods. From the perspectives of availability, affordability, and accessibility, comprehensive services are clinically available; however, barriers persist in ensuring sustained access and alignment between financing mechanisms and the long-term needs of chronic care. Based on these findings, this study recommends the development of an integrated chronic care governance model that emphasizes alignment across structure, process, and outcomes; strengthens clinical leadership; standardizes multidisciplinary chronic care pathways; optimizes the use of integrated clinical information systems; and implements evaluation mechanisms based on clinical outcomes and patient experience, as in diabetes integrated care unit. Such a model is expected to enhance the effectiveness, efficiency, and continuity of care for patients with T2DM and complications at Ngoerah Hospital, while also serving as a reference for strengthening chronic disease care governance in other tertiary referral hospitals.
Read More
B-2560
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmiati; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Dwi Gayatri, Rio Prasetyo Badriansyah, Indah Deryane
Abstrak:
Latar Belakang: Kematian pasien rawat inap menunjukkan tren peningkatan yang konsisten di RSUD Banyuasin. Kematian ini dipengaruhi oleh aspek multidimensional yang terbagi menjadi dua domain utama, yaitu faktor pasien dan faktor rumah sakit.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kedua faktor tersebut dengan kematian pasien >48 jam di RSUD Banyuasin. Metode: Penelitian potong lintang dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap RSUD Banyuasin pada bulan April hingga Mei 2026 menggunakan data rekam medis pasien periode 1 Januari 2023 sampai 31 Desember 2025. Didapatkan sebanyak 343 pasien rawat inap > 48 jam yang memenuhi kriteria penelitian. Kematian pasien diukur dengan indikator Net Death Rate (NDR) yang akan dianalisis. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan dilanjutkan dengan uji regresi logistic. Hasil: Total sampel yang memenuhi kriteria terdiri dari 297 pasien dengan luaran hidup dan 46 pasien meninggal dunia. Mayoritas sampel berjenis kelamin perempuan (53,9%) , tingkat pendidikan rendah (67,9%), lama rawat < 5 hari (68,5%), dan dirawat di ruang non-ICU (95,9%). Hasil uji regresi logistik menunjukkan faktor risiko dominan yang berperan terhadap kematian pasien rawat inap adalah perawatan di ruang ICU (aOR=17,795; 95%CI 4,660−67,952; p=0,000), tingkat pendidikan tinggi (aOR=4,497; 95%CI 2,157−9,374; p=0,000), diagnosis penyakit menular (aOR=3,213; 95%CI 1,388−7,435; p=0,006), dan usia >60 tahun (aOR=2,539; 95%CI 1,211−5,323; p=0,014). Simpulan: Faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian pasien rawat inap di RSUD Banyuasin adalah ruang rawat ICU, pendidikan tinggi (SMA), penyakit menular dan usia > 60 tahun. Kata Kunci: Banyuasin, Faktor Pasien, Faktor Rumah Sakit, Kematian, Rawat Inap

Background: Inpatient mortality has shown a consistently increasing trend at RSUD Banyuasin. This mortality is influenced by multidimensional aspects categorized into two main domains: patient factors and hospital factors. This study aims to analyze the relationship between these two factors and inpatient mortality >48 hours at RSUD Banyuasin. Methods: An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted at the Inpatient Ward of Banyuasin Regional General Hospital from April to May 2026, utilizing patient medical records from January 1, 2023, to December 31, 2025. A total of 343 inpatients hospitalized >48 hours met the study criteria. Inpatient mortality was measured by the Net Death Rate (NDR). Data were analyzed using Chi-Square tests, followed by logistic regression analysis. Results: The total sample meeting the inclusion criteria consisted of 297 survivor patients and 46 non- survivor patients. The majority of the sample were female (53.9%), had a low educational level (67.9%), had a length of stay < 5 days (68.5%), and were admitted to non-ICU rooms (95.9%). Logistic regression analysis demonstrated that the dominant risk factors contributing to inpatient mortality were ICU admission (aOR = 17.795; 95% CI: 4.660–67.952; p=0.000), high educational level (aOR = 4.497; 95% CI: 2.157–9.374; p=0.000), infectious disease diagnosis (aOR = 3.213; 95% CI: 1.388–7.435; p=0.006), and age >60 years (aOR = 2.539; 95% CI: 1.211–5.323; p=0.014). Conclusion: The factors significantly associated with inpatient mortality at RSUD Banyuasin are ICU admission, high educational level (High School), infectious disease diagnosis, and age >60 years. Keywords: Banyuasin, Hospital Factors, Inpatient, Mortality, Patient Factors
Read More
B-2596
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Uli Silalahi; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Puput Oktamianti, Anhari Achadi, A. Yani Suryana, Srinowo Retno
B-2009
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Roselyne E.H.L. Tobing; Pemb. Prastuti Soewondo; Penguji: Dandi Ilyanto, Kurnia Sari, Ria Virgiandari, IBN Banjar
B-1517
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noer Triyanto Rusli; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Prsastuti Soewondo, Pujiyanto, Amila Megraini, Purwa Kurnia Sucahya
Abstrak:

ABSTRAK Nama :    Noer Triyanto Rusli Program Studi :    Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul :  Analisis Biaya dan Faktor-Faktor Penentu Inefisiensi Layanan Hemodialisis Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Rumah Sakit RK Charitas Palembang Tahun 2016 Diberlakukannya JKN di rumah sakit mengubah sistem pembayaran dari pembayaran secara retrospektif (fee for service) menjadi sistem pembayaran prospektif (INA-CBG’s) Sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan, RS RK Charitas mempunyai peranan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas namun tetap memperhatikan cost effective pelayanan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya dan mengidentifikasi faktor-faktor penentu inefisiensi layanan hemodialisis pada pasien gagal ginjal kronik di RS RK Charitas. Jenis penelitian ini bersifat analisis deskriptif dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Analisis biaya menggunakan pendekatan Activity Based Costing (ABC) dengan metode “Bottom Up”. Metode ABC untuk mengalokasikan biaya dengan mengidentifikasi pemicu biaya (cost driver) penyebab terjadinya biaya layanan hemodialisis. Beban biaya operasional merupakan beban yang terbesar dalam penyelenggaraan layanan hemodialisis. Analisis faktor-faktor penyebab inefisiensi dilakukan dengan perhitungan Value Stream Mapping (VSM). Komposisi value added (VA) dibanding non value added (NVA) adalah 17.73%:82.27%. Implementasi lean pada layanan hemodialisis dapat mengeliminasi pemborosan. Kata kunci: Analisis biaya, metode ABC, implementasi lean


ABSTRACT Name :   Noer Triyanto Rusli Programme :   Hospital Administration Title :   Analysis of Cost and Determinants of Inefficiency of Hemodialysis Services for Patients with Chronic Renal Failure at RK Charitas Hospital Palembang 2016 Enactment of JKN in hospital changes the payment system from retrospective payment (fee for service) into prospective payment (INA-CBG's). As a healthcare facility, RK Charitas Hospital has a role to provide not only quality but also to consider cost effective of services. This study aimed to analyze costs and identify the determinants of the inefficiency of hemodialysis services in patients with chronic renal failure at RK Charitas Hospital. This is a descriptive analysis research using primary and secondary data. Approach of cost analysis is Activity Based Costing (ABC) with "Bottom Up" method. ABC method is used to allocate costs by identifying cost drivers of hemodialysis services. Operational cost is the biggest expense in the hemodialysis services. Analysis of the inefficiency factors uses the calculation of Value Stream Mapping (VSM). The composition of value added (VA) compared to non-value added (NVA) is 17.73%: 82.27%. Lean implementation on hemodialysis services could eliminate waste. Key words: Cost analysis, ABC method, lean implementation

Read More
B-1855
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iphigenia Margaretha Ganap; Pembimbing: Amila Megraini
B-755
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive