Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39060 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ponisah; Pembimnbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Helda, Popy Irawati, Maya Raiyan
Abstrak: Menarche yang makin dini memungkinkan remaja putri lebih cepat bersentuhan dengan kehidupan seksual sehingga memungkinkan remaja putri untuk hamil dan menjadi seorang ibu semakin besar. Riskesdas tahun 2010, prevalensi menarche dini di Provinsi Jambi 0,6%, sedangkan studi pendahuluan pada Februari 2017 di Kabupaten Tebo, prevalensi menarche dini pada siswi SMP ada 16%, dan salah satu faktor risiko menarche dini adalah keterpaparan media informasi pornografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keterpaparan media informasi pornografi dengan menarche dini pada siswi SMP dan MTs di Kabupaten Tebo Provinsi Jambi tahun 2017. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain crosssectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi dari kelas VII sampai dengan kelas IX yang bersekolah di SMP dan MTs baik swasta ataupun negeri yang berada di Kabupaten Tebo Provinsi Jambi tahun 2017, dan sampelnya ada 776 siswi. Hasil penelitian ini, tidak ada hubungan yang bermakna antara keterpaparan media informasi pornografidengan menarche dini pada siswi SMP dan MTs di Kabupaten Tebo Provinsi Jambi tahun 2017(p value 0,299) dengan nilai OR=1,210 (95% CI= 0,844-1,735). Perlu pengawasan dan aturan yang kuat, terkait penggunaan media yang bisa mengakses pornografi, serta program pembelajaran (KIE) terkait kesehatan reproduksi remaja khususnya dampak yang ditimbulkan darimenarche dinikarena sering terpapar pornografi. Kata kunci: keterpaparan media informasi pornografi, menarche dini Early menarche allows young women to get in touch with sexual life so as to enable them to become pregnant and being a mother in greater probability. Riskesdas in 2010, the prevalence of early young women menarche in Jambi Province is 0,6%, while preliminary study in Februari 2017 in Tebo District, the prevalence of young female student showed 16%. One that cause of early menarche exposure to pornographic information media. This study aims to determine the relationship of media exposured to pornographic informatin with early menarche on female students of junior high school in Tebo District of jambi Province in 2017. This is quantitative reseach with cross sectional design. Population in reseach is all female students of junior high school from grade 7th up to 9th who is going to either private or public junior high school in Tebo District of jambi Provice in 2017, with 776 sample students. The result of this study is there is no significant relationship between the exposure of pornographic information media with early menarche of female students junior high school intebo Districto of Jambi Province in 2017. There needs to have supervision and rules, related to the use of media that can acces pornography, well as learning programs (KIE) related to adolescent reproductive health especially impact of early menarche caused bt high exposure of pornography contents. Key word: media exposured of pornography information, early menarche
Read More
T-5087
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zarnuzi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Suhardini
Abstrak: Keterlambatan diagnosis dapat memperparah penyakit, meningkatkan risiko kematian dan kemungkinan penularan tuberkulosis di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapakah proporsi dan lama waktu keterlambatan diagnosis dan faktor risiko apa saja yang berhubungan dengan keterlambatan diagnosis TB paru di Kabupaten Tebo. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang dilakukan pada penderita tuberkulosis yang berobat di rumah sakit dan puskesmas dalam Kabupaten Tebo tahun 2018. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 366 responden. Anaisis multivariat menggunakan cox regression. Hasil penelitian proporsi keterlambatan diagnosis (>28 hari) sebesar 63,93%. Faktor predisposisi (umur ≥ 45 tahun), faktor pendukung (jenis UPK Non-DOTS dikunjungi pertama kali, stigma tinggi dan jarak tempuh ke UPK ≥ 30 menit) dan faktor kebutuhan (persepsi penyakit tidak serius) merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan keterlambatan diagnosis. Perlu dilakukan peningkatan kualitas program pengendalian tuberkulosis, penyuluhan tuberkulosis agar masyarakat mempunyai persepsi yang benar terhadap tuberkulosis dan untuk mengurangi stigma negatif terhadap penyakit tuberkulosis, meningkatkan akses ke unit pelayanan kesehatan DOTS serta penemuan secara aktif untuk mengurangi keterlambtan diagnosis
Delay in diagnosis can lead to increased severity of the disease, increased the risk of death and the possibility of transmission of tuberculosis in the community. The objective of this study was to determine proportion and the length of delay in diagnosis and factors associated with the delay in diagnosis among pulmonary tuberculosis patient in Tebo Distric. This study design using cross sectional conducted in patients with tuberculosis who was treated at hospitals and health centers at Tebo District in 2018. The sample in this study amounted to 366 respondents. Multivariat analysis using a multivariate cox regression. The results showed that the proportion of diagnosis delay (> 28 days) was 63.93 %. Predisposing factors (age ≥ 45 years), enabling factors (first consulting Non- DOTS health care unit, high stigma and distance to the health care unit DOTS ≥ 30 minutes) and need factors (perception of the disease is not serious) are risk factors associated with the diagnostic delay. Necessary improving the quality of tuberculosis control programs, counseling tuberculosis so that people have the correct perception against tuberculosis and to reduce the negative stigma against tuberculosis, improving access to health care units DOTS and active case finding are vital to reduce diagnostic delay
Read More
T-5596
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Swasti Setyorini; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Helda, Tin Afifah, Hasnerita
Abstrak: Abstrak

Beberapa studi menunjukkan adanya penurunan rata-rata usia menarche di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Rata-rata usia menarche wanita di Amerika menurun sebesar 0,9 tahun dari tahun 1920 hingga 1980an (McDowell, 2007). Berdasarkan survei nasional pada tahun 1992 – 1995 rata-rata usia menarche remaja putri di Indonesia adalah 12,96 tahun dengan prevalensi menarche dini sebesar 10,3 % dan menarche terlambat sebesar 8,8 % (Batubara, 2010). Faktor determinan dari menarche dini dan menarche terlambat adalah status gizi, lemak tubuh, asupan makronutrien, asupan mikronutrien, sosial ekonomi, rangsangan psikis, hormonal, umur menarche ibu, outcome kelahiran, dan aktivitas fisik. Penelitian ini menggunakan data Riskesdas tahun 2010 dan mengikutsertakan 5358 remaja putri (10-19 tahun) diseluruh wilayah Indonesia sebagai populasi eligible. Studi ini menggunakan metode penarikan sampel non simple random sampling, strata, dan cluster sehingga menggunakan desain complex sample dalam analisisnya. Analisis model akhir menggunakan regresi logistik multinomial. Pada hasil multivariat, faktor risiko untuk menarche dini adalah kegemukan/obesitas (POR 3.03, 95% CI 2.39-3.83), hormonal banyak (POR 1.57, 95% CI 1.21-2.05), umur menarche ibu cepat (POR 1.74, 95 % CI 1.39 – 2.19) dan jumlah anak dalam keluarga sedikit (POR 1.64, 95 % CI 1.21-2.23). Sementara itu faktor protektif untuk menarche dini adalah asupan energi kurang (POR 0.73, 95 % CI 0.56-0.94). Faktor risiko untuk menarche terlambat adalah usia menarche ibu yang lambat (POR 2.1 95 % CI 1.68-2.61). Sementara itu faktor protektif untuk menarche terlambat adalah kegemukan/obesitas (POR 0.42, 95% CI 0.27 to 0.63), hormonal banyak (POR 0.7, 95% CI 0.62-0.95), asupan protein rendah (POR 0.68, 95% CI 0.51-0.91), asupan lemak tinggi (POR 0.75, 95 % CI 0.59- 0.95), umur menarche ibu yang lebih muda (POR 0.6, 95 % CI 0.44 – 0.84), pendidikan bapak yang tinggi (POR 0.73, 95 % CI 0.57-0.92) dan jumlah anggota keluarga yang besar (POR 0.75, 95 % CI 0.57-0.99). Pentingnya upaya meningkatkan program pencegahan kegemukan/obesitas anak dan remaja serta meningkatkan program penyuluhan kesehatan reproduksi dengan sasaran usia yang lebih muda yaitu murid sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) baik di unit pemerintah maupun swasta.


Several studies have shown a decrease mean age of menarche in the world, including in Indonesia. The mean age of menarche in U.S. women declined by 0.9 years from 1920 to the 1980s (McDowell, 2007). Based on National Suveys conducted in 1992-1995, the mean age of menarche in Indonesian girls was 12.96 years with prevalence of early menarche was 10.3% and late menarche was 8.8% (Batubara, 2010). Determinant factors of early and late menarche was nutritional status, body fat, macronutrient intake, micronutrient intake, social economy, psycological stimulate, height/hormonal, maternal age of menarche, birth outcome, family structural, and phisical activity. This study used data of Basic Health Survey 2010 and include 5358 girls (10-19 years) in all region of Indonesia as eligible population. This study used non simple random sampling, strata, and cluster sampling method so that the analysis using complex sample design. In multivariate, this study using multinomial logistic regression. The risk factors of early menarche is overweight/obesity (POR 3.03, 95% CI 2.39-3.83), more height girls (POR 1.57, 95% CI 1.21-2.05), early maternal age of menarche (POR 1.74, 95 % CI 1.39 – 2.19), small number of children in families (POR 1.64, 95 % CI 1.21-2.23). Meanwhile the protective factors of early menarche is low energy intake (POR 0.73, 95 % CI 0.56-0.94). The risk factors of late menarche is late maternal age of menarche (POR 2.1 95 % CI 1.68-2.61). Meanwhile the protective factors of late menarche is overweight/obesity (POR 0.42, 95% CI 0.27 to 0.63), more height girls (POR 0.7, 95% CI 0.62-0.95), low protein intake (POR 0.68, 95% CI 0.51-0.91), high fat intake (POR 0.75, 95 % CI 0.59-0.95), early maternal age of menarche (POR 0.6, 95 % CI 0.44 – 0.84), high level of father education (POR 0.73, 95 % CI 0.57-0.92), small number of families (POR 0.75, 95 % CI 0.57-0.99). So, this is important to improve prevention programs of child/adolescent obesity and reproductive health education for elementary and junior high school students both in government and private sectors.

Read More
T-3864
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febrina Elisabeth; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Zarfiel Tafal, Amanta Ariela
S-7428
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kadarusman; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Wahyono, Tri Yunis Miko, Yovsyah, Tulus Riyanto, Syafriyal
T-3084
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bella Fitri Ayu; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Helda, Hermina M. Basrie
Abstrak: Asfiksia Neonatorum adalah salah satu penyebab utama mortalitas neonatal di Indonesia dengan persentase sebesar 27%. KPD menyebabkan terjadinya oligohidramnion yang menyebabkan menngkatnya tekanan pada tali pusat sehingga mengalami penyempitan dan mengahambat aliran darah yang membawa oksigen ke janin dan menimbulkan hipoksia yang berkelanjutan hingga menyebabkan bayi menjadi asfiksia saat dilahirkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui asosiasi KPD dengan asfiksia neonatorum. Desain studi yang digunakan adalah kohort retrospektif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di RSUD HAMBA Batang Hari, Jambi dengan sampel adalah ibu bersalin di RSUD HAMBA Batan Hari, Jambi pada tahun 2020 yang dipilih dengan metode sampel acak sederhana. Besar sampel pada penelitian ini adalah 70 sampel yang terdiri dari 35 orang terpapar dan 35 orang kontrol. Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi cox berganda model faktor risiko. Ada hubungan KPD dengan asfiksia neonatorum gestasi, preeklampsia, dan berat badan lahir. Ibu hamil direkomendasikan untuk konsumsi vitamin C, melakukan pemeriksaan antenatal care rutin, menjaga tekanan darah dengan memperhatikan makanan yang dikonsumsi, mengendalikan stres, dan berkonsultasi kepada dokter sebelum merencanakan kehamilan
Neonatal Asphyxia is one the main causes of neonatal mortality in Indonesia with a percentage of 27%. Premature rupture of membranes (PROM) is one of the factors that cause of nenonatal asphyxia. PROM causes oligohydramnios which causes pressure on the umbilical cord so that it inhibits blood flow that carries oxygen to the fetus and causes continuous hypoxia, causing asphyxia. The purpose of this study was to determine the association between PROM and neonatal asphyxia. The study design used was a retrospective cohort. The population in this study were all mothers who gave birth at the HAMBA Batang Hari Hospital, Jambi with the sample being mothers who gave birth at the HAMBA Batan Hari Hospital, Jambi in 2020 which were selected using a simple random sample method. The samples size in this study was 70 samples consisting of 35 people exposed and 35 controls. The statistical test used was the multiple cox regression test with the risk factor model. There is association between PROM and neonatal asphyxia after controlled b history of abortion, gestational age, preeclampsia, and birth weight. Pregnant women are recomended to consume vitamin C, do antenatal care regularly, maintain blood pressure by paying attention to the food consumed, control stress, and consult a doctor before planning a pregnancy
Read More
T-6281
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muammar Muslih; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Yunis Tri Miko Wahyono, Ella Nurlaela Hadi, Lukman Hakim, Suherman
Abstrak:

Latar belakang : Hasil investigasi KLB malaria  ada hubungan faktor resiko perilaku pemakaian kelambu. Perilaku pemakaian kelambu dipengaruhi pengetahuan dan sikap. Peneliti ingin mengetahui gambaran dan hubungan pengetahuan, sikap dengan perilaku penduduk usia di atas 15 tahun di Hargotirto. Metodologi : Desain penelitian cross sectional. Sampel adalah penduduk usia di atas 15 tahun yang dipilih dengan sistem cluster dan random pada setiap cluster. Jumlah sampel 266 responden. Dilakukan análisis univariat, bivariat dan multivariat dengan regresi logistik ganda. Hasil : Distribusi responden dengan pengetahuan tinggi 52,3%, sikap positif 57,9%, perilaku memakai kelambu 80,8%. Perilaku memakai kelambu dengan pengetahuan tinggi dan sikap positif 31,9%. Hasil bivariat pengetahuan (OR=1,57 nilai p=0,15 95%CI=0,85-2,9), sikap (OR=4,93 nilai p=0,000, 95%CI=2,51-9,69). Hasil regresi logistik sikap dengan perilaku pemakaian kelambu ada hubungan dan bermakna  (OR=4,933 nilai p=0,000, 95%CI=2,510-9,698). Kesimpulan : Responden dengan pengetahuan tinggi dan sikap positif sebanyak 90 responden (33,8%).Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku memakai kelambu. Ada hubungan bermakna antara sikap dengan perilaku memakai kelambu. Saran bentuk penyuluhan yang lebih mengena untuk meningkatkan pengetahuan, contoh dari tokoh masyarakat memakai kelambu sehingga masyarakat meniru untuk memakai kelambu dan diadakan kembali arisan kelambu untuk membantu yang belum memiliki kelambu. Kata Kunci  : pengetahuan, sikap, perilaku memakai kelambu, malaria, regresi logistik ganda.


 

Background : The results of investigation malaria outbreak there is a risk factor for mosquito nets usage behavior. Use of mosquito nets behavior influenced of knowledge and attitudes. Researcher wants to know the description and the association between knowledge, attitude with mosquito nets usage behavior by age over 15 year in Hargotirto, 2012. Methods : cross  sectional  study  design.  Sample  is  population  by age over  15 year  selected with cluster systems and random in each  cluster.  The number of samples  are 266 respondents. Univariat  analysis, bivariat  and multivariat with multiple logistic regression. Results : Distribution of respondents with high knowledge of 52.3%,  positive attitude is 57.9%,  and the behavior of using mosquito nets is 80.8%. Behavior of using mosquito nets with high knowledge and positive attitudes about 31.9%. The results of the bivariat :  knowledge  (OR = 1.57 p-value = 0.15,  95% CI = 0.85- 2.9), attitude (OR = 4.93 p-value = 0.000, 95% CI = 2.51 - 9,69). The results of logistic regression attitude to the behavior of using mosquito nets have meaningful associatin (OR=4.933, p-value=0.000, 95%CI=2.510-9.698). Conclusions : The behavior of respondents 33.8% wearing mosquito net with the knowledge of high and positive attitude. There is no association between knowledge of the behavior of using mosquito nets. There is a significant association between attitudes to the behavior of using mosquito nets. Keywords : knowledge, attitudes, behaviors of using mosquito nets, multiple logistic regression

Read More
T-3679
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novie Ariani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Dwi Oktavia T.L. Handayani, Ikke Yuniherlina
Abstrak:
Leptospirosis termasuk dalam zoonosis, penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Leptopira. Leptospirosis merupakan penyakit yang sering tidak terlaporkan atau misdiagnosis hal ini karena gejala awal leptospirosis merupakan gejala penyakit demam akut lainnya ( dengue, malaria, flu like syndrome). Terjadinya kasus leptopsirosis terkait erat dengan rantai penularan, dan rantai penularan leptospirosis terkait dengan banyak faktor. Pekerjaan dan keberadaan tikus adalah faktor risiko Leptospirosis. Banten yang merupakan daerah endemis Leptospirosis, terpilih untuk menjadi lokasi surveilans Sentinel Leptospirosis, tepatnya berlokasi di Kab, Tangerang dan Kab. Serang. Publikasi mengenai hubungan faktor risiko masih jarang ditemui, begitu juga penelitian tentang Leptospirosis lebih banyak di lakukan di Jawa Tengah atau DI Yogyakarta. Penelitian ini menggunaan desain potong lintang. Hasil penelitian ini Tidak terbukti ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan kejadian leptospirosis pada suspek leptospirosis di 2 kabupaten lokasi Surveilan Sentinel Leptospirosis di Provinsi Banten tahun 2017 - 2019 Hubungan keberadaan tikus dengan kejadian leptospirosis menunjukkan hubungan yang bermakna, keberadaan tikus dan aktivitas disungai/kolam/saluran air secara bersama memberikan hubungan antagonis sehingga membuat risiko saat kedua variabel ini ada bersama sama lebih kecil dibandingkan risiko dari masing masing variabel

Leptospirosis is a zoonosis, an infectious disease caused by the Leptospira bacteria. Leptospirosis is often underreported or misdiagnosed because the initial symptoms of leptospirosis are symptoms of other acute febrile diseases (dengue, malaria, flu-like syndrome). The occurrence of leptospirosis cases is closely related to the chain of transmission, and the chain of leptospirosis transmission is related to many factors. Occupation and the presence of rats are risk factors for leptospirosis. Banten is an endemic area of Leptospirosis, was chosen to be the location for Sentinel Leptospirosis surveillance, precisely located in Kab, Tangerang, and Kab. Serang. Publications on the relationship of risk factors are still limited, and research about leptospirosis is mostly done in Central Java or DI Yogyakarta. This study used a cross-sectional design. The results of this study did not show that there was a significant relationship between work and the incidence of leptospirosis in leptospirosis suspects in 2 districts where Leptospirosis Sentinel Surveillance was located in Banten Province in 2017 - 2019 The relationship between the presence of rats and the incidence of leptospirosis showed a significant relationship, the presence of rats and activity in rivers/ponds/ drains together to provide an antagonistic relationship thus making the risk when these two variables are together smaller than the risk of each variable
Read More
T-6040
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Januar Tree Kencana; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Sholah Imari, Muammar Muslih
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Januar Tree Kencana Program Studi: Epidemiologi Judul : Hubungan Status Imunisasi dan Status Gizi dengan Kejadian Difteri Pada Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Serang Propinsi Banten Tahun 2017-2018 Pembimbing : Dr. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, M.Sc Penyakit difteri disebabkan oleh infeksi corynebacterium diphteriae merupakan salah satu penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan yang serius karena seringkali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di berbagai negara maupun belahan dunia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada tahun 2017 telah terjadi KLB difteri di 20 propinsi dan 95 kabupaten / kota di Indonesia, termasuk Propinsi Banten dan salah satunya adalah di Kabupaten Serang. Di kabupaten Serang Status imunisasi dan statu gizi masyarakat masih menjadi masalah kesehatan, Cakupan imunisasi yang masih rendah di beberapa Desa dalam kecamatan dan status gizi buruk masih ditemukan, oleh karenanya penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan status imunisasi dan status gizi dengan kejadian difteri pada KLB di kabupaten Serang Propinsi Banten Tahun 2017-2018. Desain penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol dimana variabel penelitiannya adalah status imunisasi dan status gizi serta variabel kovariat yaitu lingkungan fisik tempat tinggal, pengetahuan dan riwayat bepergian. Berdasarkan hasil penelitian secara multivariat dengan menggunakan regresi logistik di dapatkan hasil bahwa status imunisasi mempunyai OR : 3,777 95% CI = 1.48 -9.60 P Value 0.005 sedangkan Status Gizi memiliki OR : 1,23 90% CI = 0.44 – 3,41 P Value 0,680 setelah dikontrol dengan Variabel  Umur, Jenis Kelamin, Pengetahuan, Riwayat Bepergian, lingkungan fisik Rumah, pencahayaan alami, Kelembaban dan kepadatan Hunian. Kata Kunci : Difteri, Kasus Kontrol, Kejadian Luar Biasa


ABSTRACT Nama : Januar Tree Kencana Study Program: Epidemiology Title                 : The Relationship between Immunization and Nutritional Status with Diphtheria Outbreaks in Serang Regency, Banten Province 2017-2018. Background: Diphtheria as a one of the most contagious diseases that can be prevented by immunization (VPD) is still a serious health problem because it often causes outbreak in various countries including Indonesia. Based on data from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, during 2017 there have been diphtheria outbreaks in 20 provinces and 95 regency/cities including Serang Regency.This study aims to determine the relationship between immunization and nutritional status with the diphtheria outbreaks in Serang Regency of Banten Province in 2017-2018. Methods: This study was an analytic study using case control design with 172 respondents consisting of 43 cases and 129 controls. Logistic regression analysis was performed to obtain an estimate of the relationship between immunization and nutritional status with diphtheria after controlled covariate variables. Result: Proportion of immunization and good nutrition in the case is lower than in control. Immunization and nutrition in both cases were 51.2% and 76.7% while in controls were 77.5% and 81.4%. The association (OR) between immunization status and diphtheria was 3.78 (95% CI: 1.48-9.60) after controlling to age, room density and natural house lighting while the association (OR) between nutritional status and diphtheria was 1.23 (95% CI: 0.44-3.41) after controlling to age, knowledge, humidity, and immunization status. Conclusions: The proportion of immunization in diphtheria cases is still low. Nonimmunization status are at risk for diphtheria 3.78 times. The Health Office is expected to conduct routine monitoring and evaluation of basic immunization programs, especially in areas with low coverage and provide information to the community about diphtheria, including factors such as immunization, nutrition, and the physical environment of the house. Keywords: Diphtheria, Case Control, Outbreak.

Read More
T-5173
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahra Syahrani; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Trisari Anggondowati, Nadia Shafira
Abstrak:
Latar Belakang: Menarche dini, atau menstruasi pertama pada usia sebelum 12 tahun, merupakan isu kesehatan masyarakat yang penting karena memengaruhi berbagai luaran kesehatan reproduksi seperti meningkatkan risiko kanker payudara dan endometrium. Terjadi tren penurunan rata-rata usia menarche di Indonesia, dari 13,0 tahun pada Riskesdas 2013 menjadi 12,8 tahun pada Riskesdas 2018. Menyikapi tren penurunan tersebut, penelitian berskala nasional yang secara khusus menganalisis faktor-faktor yang berasosiasi dengan kejadian menarche dini di Indonesia sangat diperlukan, mengingat ketersediaannya yang masih sangat terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berasosiasi dengan menarche dini pada remaja usia 15–19 tahun di Indonesia menggunakan data SKI 2023. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif observasional analitik dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder SKI 2023. Sebanyak 17.765 remaja perempuan usia 15–19 tahun yang telah mengalami menarche dan memiliki data usia menarche yang valid. Menarche dini yang didefinisikan sebagai menarche pada usia < 12 tahun memiliki beberapa variabel independen yang memengaruhinya, yakni status gizi, wilayah tempat tinggal, gugus pulau, kuintil kekayaan, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, aktivitas fisik, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan berlemak, pajanan asap rokok. Analisis data dilakukan secara univariat, lalu bivariat menggunakan Chi-square dan dilanjutkan multivariat menggunakan regresi logistik dengan mempertimbangkan desain survei kompleks SKI 2023. Hasil: Prevalensi menarche dini pada remaja usia 15–19 tahun di Indonesia adalah 12,2%. Status gizi lebih meningkatkan odds menarche dini (aOR = 1,72; 95% CI: 1,44 – 2,07), sebaliknya, status gizi kurang menurunkan odds menarche dini (aOR = 0,58; 95% CI: 0,38 – 0,89) dibandingkan status gizi normal. Remaja yang berada di Kepulauan Maluku memiliki odds lebih rendah mengalami menarche dini (aOR = 0,38; 95% CI: 0,24 – 0,61), sedangkan tidak ada perbedaan odds yang signifikan pada Kalimantan (aOR = 0,84; 95% CI: 0,67 – 1,07) dan Papua (aOR = 0,82; 95% CI: 0,43 – 1,53). Remaja dari kuintil terendah (aOR = 0,71; 95% CI: 0,54 – 0,92) dan kuintil menengah bawah (aOR = 0,72; 95% CI: 0,57 – 0,91) memiliki odds menarche dini lebih rendah dibandingkan kuintil menengah. Remaja dengan ibu berpendidikan tinggi memiliki nilai odds menarche dini yang lebih tinggi (aOR = 1,30; 95% CI: 1,09 – 1,55). Kesimpulan: Studi ini menunjukkan bahwa menarche dini pada remaja Indonesia usia 15–19 tahun dipengaruhi oleh gugus pulau, kuintil kekayaan, pendidikan ibu, dan status gizi remaja, dengan status gizi sebagai faktor dengan asosiasi paling kuat. Temuan ini menggarisbawahi perlunya program intervensi kesehatan remaja yang komprehensif dan berbasis bukti, menyasar pengendalian status gizi anak hingga remaja, sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan reproduksi remaja di tingkat nasional.

Background: Early Age at Menarche (AAM), defined as the first menstruation occurring before age 12, is an important public health issue because it affects various reproductive health outcomes, including an increased risk of breast and endometrial cancer. Indonesia has seen a declining trend in average menarche age, from 13.0 years in Riskesdas 2013 to 12.8 years in Riskesdas 2018. In response to this trend, a national-scale study specifically analyzing the factors associated with AAM in Indonesia is greatly needed, given the still limited availability of such research. Objective: This study aims to analyze the factors associated with AAM among adolescents aged 15–19 years in Indonesia using 2023 Indonesian Health Survey (SKI) data. Methods: This is a quantitative, analytical observational study with a cross-sectional design using secondary data from SKI 2023. A total of 17,765 female adolescents aged 15–19 years who had experienced menarche and had valid menarche age data were included. AAM, defined as menarche occurring before age 12, was examined in relation to nutritional status, area of residence, island group, wealth quintile, maternal education, maternal occupation, physical activity, sugary beverage consumption, fatty food consumption, and secondhand smoke exposure. Data were analyzed univariately, followed by bivariate analysis using Chi-square, and multivariate analysis using logistic regression, accounting for the complex survey design of SKI 2023. Results: The prevalence of Early Age at Menarche (AAM) among adolescents (15–19 years) was 12.2%. AAM odds were significantly higher in those with overweight (aOR 1.72; 95% CI 1.44–2.07) and lower in those with underweight (aOR 0.58; 95% CI 0.38–0.89) compared to normal weight. Geographically, adolescents in the Maluku Islands had lower odds of AAM (aOR 0.38; 95% CI 0.24–0.61), while no significant differences were observed in Kalimantan (aOR 0.84; 95% CI 0.67–1.07) and Papua (aOR 0.82; 95% CI 0.43–1.53). Adolescents in the lowest (aOR 0.71; 95% CI 0.54–0.92) and lower-middle (aOR 0.72; 95% CI 0.57–0.91) wealth quintiles also showed lower odds of AAM compared to the middle quintile. Finally, higher maternal education was associated with increased odds of AAM (aOR 1.30; 95% CI 1.09–1.55). Conclusion: This study shows that AAM among Indonesian adolescents aged 15–19 years is influenced by island group, wealth quintile, maternal education, and nutritional status, with nutritional status as the factor most strongly associated with AAM. These findings underscore the need for comprehensive, evidence-based adolescent health intervention programs targeting nutritional status control from childhood through adolescence, as part of promotive and preventive efforts for adolescent reproductive health at the national level.
Read More
S-12324
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive