Ditemukan 28492 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Kata Kunci: Kanker payudara, kesintasan hidup, stadium kanker, RSCM
Based on GLOBOCAN data of 2012, the highest incidence of cancer in Indonesia is breast cancer. Currently there are still many deaths caused by breast cancer. The survival of breast cancer survivors depends on several factors that are very important to know, including the stage of cancer. This study aims to determine the effect of stage of cancer, age, education, occupation, marriage, health insurance status, family history, type of therapy and distance of residence to survival of breast cancer survivors. The study design used a retrospective cohort method. Samples in this study were 135 breast cancer patients who were first diagnosed with breast cancer from January 2007 to June 2012 at RS Cipto Mangunkusumo. Data analysis using SPSS program and Kaplan Meier method and related factors were analyzed with Cox regression. The results of bivariable analysis showed that the stage of cancer had a significant relationship to survival of breast cancer (p value = 0,000; HR 19,227 (95% CI 1,395-265,101)). While in the analysis of mutivariabel the relationship of stage to life survival is not significant (p value = 0,102) after controlled by education variable, work, therapy type and interaction of cancer stage with education of patient. The survival of breast cancer survivors in early stage of breast cancer was higher (94.1%) than those in advanced stage (70.1%). Patients with advanced stage 11 times higher risk than the early stage (HR = 10,923; 95% CI 0.623-191,417). So needed awareness and efforts to early detection of breast cancer to further improve survival of breast cancer patients.
Keywords: Breast cancer, life survival, cancer stage, RSCM
ABSTRAK Nama : Nuraini Oktaviani Program Studi : Epidemiologi Judul : Analisis Kesintasan 5 Tahun Pasien Kanker Payudara Stadium Lanjut Lokal Berdasarkan Kemoterapi Neoadjuvan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Tahun 2011-2016 Latar belakang: Salah satu modalitas terapi yang digunakan untuk meningkatkan angka kesintasan hidup pasien kanker payudara adalah dengan pemberian kemoterapi neoadjuvan. Pada umumnya kemoterapi neoajuvan kanker payudara stadium lanjut lokal di RSCM menggunakan regimen doxorubicin based. Namun belum ada penelitian lebih lanjut mengenai perbandingan kesintasan hidup lima tahun pasien kanker payudara lanjut lokal yang mendapatkan kemoterapi neoadjuvan doxorubicin based dengan non-doxorubicin based di RSCM. Tujuan: Mengetahui angka kesintasan hidup lima tahun penderita kanker payudara stadium lanjut lokal yang diberikan kemoterapi neoadjuvan doxorubicin based dan non-doxorubicin based di RSCM tahun 2011 – 2016. Metode: Sebanyak 236 pasien kanker payudara stadium lanjut lokal yang mendapatkan kemoterapi neoadjuvan di RSCM tahun 2011-2016 menjadi sampel dalam penelitian ini. Analisis data dilakukan dengan metode Kapplan Meier, uji Log Rank dan Cox Regreession. Hasil penelitian: Angka kesintasan hidup lima tahun pasien kanker payudara stadium lanjut lokal yang diberi kemoterapi neoadjuvan doxorubicin based sebesar 37% dan non-doxorubicin based sebesar 48,9%. Pasien kanker payudara stadium lanjut lokal yang mendapatkan kemoterapi neoadjuvan doxorubicin based memiliki probabilitas 1,38 kali lebih cepat terjadinya kematian (95% CI 0,946 – 2,026) setelah dikontrol dengan variabel invasi pembuluh limfatik, respon klinis, stadium, radiasi, jenis histopatologi, grade, dan status menopause. Invasi pembuluh limfatik merupakan variabel dengan hazard ratio terbesar yaitu 4,74 (95% CI 3,213 – 7,284). Kesimpulan: Kemoterapi neoadjuvan non-doxorubicin based menunjukkan kesintasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan kemoterapi neoadjuvan doxorubicin based. Kata kunci : doxorubicin based, non-doxorubicin based, kanker payudara, kemoterapi neoadjuvan
ABSTRACT Name : Nuraini Oktaviani Study Program : Epidemiologi : Survival Rate 5-years Breast Cancer Locally Advanced Based on Chemotherapy Neoadjuvan in Hospital Cipto Mangunkusumo 2011-2016 Background : One of the therapeutic modalities used to increase survival rates of breast cancer patients with neoadjuvan chemotherapy. In general, neoajuvan chemotherapy for locally advanced breast cancer at RSCM used a doxorubicinbased regimen. But there has been no further study on the survival comparison of five years of locally advanced breast cancer patients who are neoadjuvan chemotherapy doxorubicin based or non-doxorubicin based at RSCM. Title Objectives: This study is conducted for determine 5-years survival rate of locally advanced breast cancer who were given neoadjuvan chemotherapy doxorubicin based and non-doxorubicin based at RSCM in 2011 - 2016. Methods: A total of 236 patients with locally advanced stage breast cancer who received neoadjuvan chemotherapy at RSCM in 2011-2016 were sampled in the study. Data analysis was perfomed by Kapplan Meier method, Log Rank and Cox Regreession analysis. Results: 5-years survival rate of locally advanced breast cancer patients given neoadjuvan doxorubicin based chemotherapy is 37% and non-doxorubicin based is 48.9%. Locally advanced breast cancer patients receiving neoadjuvan doxorubicin based chemotherapy had a 1.38 times faster probability of death (95% CI 0.946 - 2.026) after controlled by invasive variation of lymphatic vein, clinical response, stage, radiation, histopathology, grade, And menopausal status. Invasion of lymphatic vessels is the variable with the largest hazard ratio of 4.74 (95% CI 3,213 - 7,284). Conclusions: Neoadjuvan chemotherapy non-doxorubicin based showed a higher survival than doxorubicin-based for locally advanced breast cancer. Keywords: doxorubicin based, non-doxorubicin based, breast cancer, neoadjuvan chemotherapy
ABSTRAK Nama : Megawati Program Studi : Epidemiologi Judul : Kesintasan Pasien Kanker Payudara Berdasarkan Keterlambatan Pengobatan di Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo Pembimbing : Prof. Dr. dr. Bambang Sutrisna, MHSc (Epidemiology) Abstrak Kanker payudara masih mendominasi penyakit kanker pada wanita di dunia termasuk di Indonesia. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo sebagai rumah sakit rujukan nasional dengan jumlah kasus terus meningkat setiap tahunnya. Sebagian besar kasus ditemukan pada stadium lanjut dan mengalami keterlambatan pengobatan lebih dari 60 hari setelah didiagnosis. Keterlambatan pengobatan diduga berpengaruh terhadap kesintasan pasien kanker payudara. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk menilai hubungan keterlambatan pengobatan dengan kesintasan pasien kanker payudara di RSCM. Desain studi penelitian adalah kohort retrospektif dengan mengamati 584 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Pengamatan dilakukan mulai dari 1 Januari 2011 sampai Desember 2017. Data dianalisis secara univariat, bivariat dengan uji logrank, dan multivariat dengan cox regresi. Hasil penelitian menunjukkan dari 584 pasien yang dianalisis ditemukan besarnya risiko terjadinya kematian sebesar 1,27 kali lebih cepat pada pasien yang mengalami keterlambatan pengobatan lebih dari 60 hari dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan pengobatan kurang dari 60 hari (HR=1,27; 95%CI;0,99 – 1,64) setelah dikontrol stadium klinis, status pernikahan, dan status hormon reseptor estrogen. Perbedaan kesintasan antara pasien yang terlambat lebih dari 60 hari setelah didiagnosis adalah sebesar 7% pada tahun kelima. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa keterlambatan pengobatan lebih dari 60 hari setelah didiagnosis mempengaruhi kesintasan pasien kanker payudara sehingga pentingnya edukasi kepada pasien dan keluarga untuk tidak menunda pengobatan setelah didiagnosis. Kata kunci: keterlambatan pengobatan; kesintasan; kanker payudara
ABSTRACT Name : Megawati Study Program : Epidemiologi Title : Survival of Breast Cancer based on Delay treatment at Cipto Mangunkusumo Hospital Counsellor : Prof. Dr. dr. Bambang Sutrisna, MHSc (Epidemiology) Breast cancer still dominates cancer in women in the world including in Indonesia. Cipto Mangunkusumo Hospital as a national referral hospital with the number of cases continues to increase every year. Most of the cases were found at an advanced stage and experienced treatment delays more than 60 days after diagnosis. Treatment delays are thought to affect the survival of breast cancer patients. Therefore, this study was conducted to assess the relationship of delayed treatment with survival of breast cancer patients at RSCM. The study design was a retrospective cohort by observing 584 patients who met the inclusion criteria. Observations were done from 1 January 2011 to December 2017. Data were analyzed univariat, bivariate with logrank test, and multivariate with cox regression. The results of the study showed that the 584 patients analyzed found that the risk of death was 1.27 times faster in patients who experienced treatment delay more than 60 days compared with patients who received treatment less than 60 days (HR = 1.27; 95% CI; 0,99 - 1.92) after controlled marital status, hormone receptor estrogen, and clinical stage. The difference in survival between their patients who were late more than 60 days after the diagnosis was 7% in the fifth year. Based on this research, it can be concluded that the delay of treatment influences survival of breast cancer patients so that the importance of education to the patient and family to immediately perform treatment after diagnosis. Keywords : Delay treatment; Survival; Breast Cancer
Kanker payudara merupakan kanker yang paling banyak diderita oleh wanita di dunia, khususnya di Indonesia. Pengobatan yang lama dan berat memiliki dampak psikologis yang berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien. Dukungan sosial penting untuk kualitas hidup pasien kanker payudara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup pasien kanker payudara di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi longitudinal dan kualitatif dengan case study. Sampel penelitian ini adalah pasien kanker payudara yang berobat dan tercatat pada di RS Kanker Dharmais periode bulan Agustus-Desember 2023 yang memenuhi syarat kriteria inklusi dan eksklusi penelitian sebanyak 190 pasien. Pengukuran kualitas hidup dengan kuesioner EORTC QLQ 30 dan BR-23 Pengukuran dukungan sosial dengan kuesioner Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Pengumpulan data kualitatif dengan kelompok focus group discussion (FGD) dan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan analisis regresi logistik untuk pengukuran data berulang pada data kategorik dengan General Estimation of Equotion (GEE). Dukungan sosial mempengaruhi kualitas hidup pasien kanker payudara sebesar 3,9 kali (OR=3,9; 95% CI: 3,3-4,6) setelah dikontrol faktor umur dan stadium kanker payudara. Sumber dukungan yang paling berpengaruh yaitu dukungan keluarga (OR=5,2 CI 95% 2,8-7,6) dan tenaga kesehatan (OR=2,0 CI 95% 1,3-3,1). Bentuk dukungan sosial yang paling berpengaruh yaitu dukungan emosional (OR=5,3 CI 95% 3,0-9,0), nyata (OR=3,6 CI 95% 2,5-5,2), dan informasi (OR=2,4 CI 95% 1,4-4,3). Pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup berdasarkan waktu terdapat penurunan seiring berjalannya waktu. Diharapkan untuk peningkatan dukungan sosial dari keluarga, tanaga Kesehatan dalam bentuk dukungan emosianal, nyata dan informasi. Rumah Sakit Kanker Dharmais juga diharapkan untuk mengoptimalkan program paliatif dan NAPAK sebagai bentuk dukungan sosial terhadap pasien kanker payudara. Kata Kunci : Kualitas Hidup, Dukungan Sosial, Pasien Kanker Payudara
Breast cancer is the most common type of cancer affecting women worldwide, particularly in Indonesia. The lengthy and intensive treatment process often has psychological impacts that affect patients' quality of life. Social support plays a crucial role in improving the quality of life of breast cancer patients. This study aims to analyze the effect of social support on the quality of life of breast cancer patients at Dharmais Cancer Hospital. A mixed-methods design was used, combining a quantitative longitudinal approach with a qualitative case study. The sample consisted of 190 breast cancer patients who were treated and registered at Dharmais Cancer Hospital between August and December 2023, and who met the study's inclusion and exclusion criteria. Quality of life was measured using the EORTC QLQ-C30 and BR-23 questionnaires, while social support was assessed using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Qualitative data were collected through focus group discussions (FGDs) and in-depth interviews. Data were analyzed using logistic regression for repeated measurements, employing the Generalized Estimating Equation (GEE) method for categorical data. The results showed that social support significantly influenced the quality of life of breast cancer patients, increasing the odds by 3.9 times (OR = 3.9; 95% CI: 3.3–4.6) after controlling for age and cancer stage. The most influential sources of support were family (OR = 5.2; 95% CI: 2.8–7.6) and healthcare workers (OR = 2.0; 95% CI: 1.3–3.1). The most impactful forms of support were emotional (OR = 5.3; 95% CI: 3.0–9.0), tangible (OR = 3.6; 95% CI: 2.5–5.2), and informational support (OR = 2.4; 95% CI: 1.4–4.3). However, the effect of social support on quality of life was found to decrease over time. It is therefore recommended to enhance social supports particularly from family and healthcare professionals through emotional, tangible, and informational forms. Dharmais Cancer Hospital is also expected to optimize its palliative care and NAPAK programs as a structured form of social support for breast cancer patients. Keywords: Quality of Life, Social Support, Breast Cancer Patients
Latar Belakang Menurut WHO diseluruh dunia ada sekitar 10 jula kasus bam kanker dengan lebih dan 6 juta kematian setiap tahunnya. Angka tersebut meningkat bila dibandingkan dengan dua dekade yang sebeiumnya, dimana dilaporkan 6 juta kasus kanker baru dengan jumlah kematian 4 juta orang (WHO, 2002). Di Indonesia kecenderungan peningkatan jumlah kasus dan kematian karena kanker juga meningkat, dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1992 kanker merupakan penyebab kematian dengan urutan ke 9 dari 10 penyebab kematian utama yang ada dan pada hasil SKRT 2002 dilaporkan kanker menempati urutan ke 5 sebagai penyebab kematian (Depkes. 2002). Tujuan: Penelitian ini bermjuan untuk mengetahui faktor~faktor yang berhubungan dengan terjadinya kematian pasien ravwxt inap kanker payudara di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta yang meninggal pada tahun 1999 sampai dengan 2005 Metode: Rancangan penelitian ini adalah studi kasus kontrol dengan jmnlah sampel keselumhan 201, jumlah sampel kasus 67 dan kontroi 134 (perbandingan I:2). Kasus adalah pasien rawat inap kanker payudara RSPN-CM yang meninggal dari tahun 1999- 2005 dan kontrol adalah pasien rawat inap kanker payudara RSPN-CM yang tidak meninggal dari tahun 1999-2004. Variabel penelitian adalah faktor prognosis tumor yang terdiri dari stadium, ukuran tumor, residiIQ metastase, faktor kelengkapan terapi, faktor prognosis penderita yang terdiri dari usia, jenis pembayaran dan jenis pekerjaan. Hasil: Pekerjaan pasien kanker payudara berhubungan bermakna secara statistisk OR 3,52 (95%CI 1,66-7,42). Faktor tumor stadium (OR=ll,98 95%CI:4,64-30,91) dan metastase (OR:8,44 95% CI3,l8-22,4) berhubungan dengan kematian pasien kanker payudara Kelengkapan pengobatan (OR:3,82 95%CI 1,57-9,25) berhubungan dengan kematian pasien kanker payudara. Kesimpulan: Dari penelitian ini dapat disarankan bagi wanita yang mempunyai resiko untuk mengalami kanker payudara agar melakukan perneriksaan dini dan bagi penderita kanker payudara untuk melakukan pengobatan selengkap mungkin. Penyuluhan tentang faktor resiko kanker payudara, pengobatan yang akan dilakukan, waktu yang diperlukan untuk pengobatan kanker payudara merupakan salah satu cara mengurangi resiko untuk terjadinya kematian pasien kanker payudara.
Background: WHO (2002) state that in the world there are I0 million cancer new cases and more than 6 million death every years. This incidence was increased than two decade before where was reported 6 million cancer new cases and death 4 million people. ln Indonesia cancer cases and death caused cancer increase. Based of health household survey (SKRT) 1992, cancer is caused death at 9"' from 10 primary caused death and at health household survey (SKRT) 2002 reported that cancer is at 5°? caused death (Dcpkes. 2002). The objective: The objective of this research to know the related factors to breast cancer patient death at Dr Cipto Mangunkustuno Hospital Jakarta years] 999-2005 Method: The design of this research is case control design with 20| total samples that consist of 67 cases and 134 controls (l:2). Cases is breast cancer patient at Dr Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta yearsl999~2005 that were death. And control is breast cancer patient at Dr Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta yearsl999-2005 that were life. The variable of this research are patient factors consist of age, kind of payment, and job. Tumor factors are stage, the size, residual, metastasis and completing therapy factor. Result: The job of breast cancer patient related to death significant statistically, OR 3,52 (95%Cl 1,66-7,-42). Tumor factors are stage (OR=l 1,98 95%Cl:4,64»30,9l) and metastasis (OR:8,44 95% CI3,l8-22,4) related to death of breast cancer patient The completely therapy (OR:3,82 95%CI 1,57-9,25) related to death of breast cancer patient. Conclusion: In this research the job status, tumor stage, metastasis and completly therapy related to breast cancer patient death. Women with risk factors to breast cancer that is suggested to early examination and to breast cancer patient suggested to completely therapy. The campaign of risk factors breast cancer, the therapy procedure and time for therapy are some ways to decrease breast cancer patient death.
Karsinoma endometrium merupakan salah satu keganasan yang menyerang wanita dengan angka kesintasan yang relatif baik. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam prognosis karsinoma endometrium antara lain adalah usia saat diagnosis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan usia saat diagnosis dengan kesintasan hidup keseluruhan pasien 4 tahun karsinoma endometrium yang dirawat di RS Kanker Dharmais selama rentang tahun 2013–2019.
Studi ini merupakan kohort retrospektif yang menggunakan data sekunder berupa regsitri kanker berbasis rumah sakit dan sistem informasi RS di RSKD dengan subjek data pasien karsinoma endometrioid endometrium yang terdiagnosis dalam rentang 2013-2019. Sebanyak 220 pasien eligibel untuk dilakukan analisis terhadap variabel usia saat diagnosis, stadium, derajat keganasan, durasi menerima terapi, protokol terapi, kedalam invasi, adanya diabetes mellitus, hiperkolesterol, dan hipertensi. Analisis statistik digunakan untuk melihat hubungan masing-masing variabel terhadap kesintasan hidup, interaksi antar variabel, dan adanya perancu. Model akhir dibangun untuk melihat perbedaan kesintasan hidup pasien berdasarkan usia.
Probabilitas kesintasan hidup pada pasien karsinoma endometrium dirawat di RS Kanker Dharmais adalah 78,19%. Tidak terdapat perbedaan pada probabilitas kesintasan karsinoma endometrium pada kelompok usia ≥50 tahun (74,91%) dan
Endometrial endometrioid carcinoma is one of the malignancies that affect women with relatively excellent survival rates. One of the factors that play a role in the prognosis of endometrial carcinoma is the age at diagnosis. This study aims to examine the corellation between age at diagnosis and 4 years overall survival of endometrial carcinoma patients treated at Dharmais National Cancer Hospital from 2013 to 2019. This study was a retrospective cohort that utilized secondary data from the hospital-based cancer registry and the hospital information system at Dharmais National Cancer Hospital, involving subjects diagnosed with endometrioid endometrial carcinoma between 2013 and 2019. A total of 220 eligible patients were analyzed for variables such as age at diagnosis, stage, grade of malignancy, duration of treatment, treatment protocol, depth of invasion, presence of diabetes mellitus, hypercholesterolemia, and hypertension. Statistical analysis was used to assess the relationship between each variable and overall survival, interaction between variables, and confounding factors. A final model was constructed to examine the difference in survival among patients based on age at diagnosis. The survival probability for endometrial endometrioid carcinoma at Dharmais Cancer Hospital is 78.19%. There was no difference in the survival probability between the age groups ≥50 years (74.91%) and
