Ditemukan 30125 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
ABSTRAK Keberhasilan universal health coverage di Indonesia sangat ditentukan oleh utilisasi sumber daya yang efisien di rumah sakit. Variasi biaya yang tinggi untuk perawatan tertentu menunjukkan indikasi bahwa rumah sakit belum cukup efisien dalam memanfaatkan sumber dayanya untuk menyediakan pelayanan. Length of stay (LOS) adalah salah satu faktor penting penentu biaya yang banyak digunakan sebagai indikator efisiensi rumah sakit dalam penggunaan sumber daya. LOS dan biaya perawatan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang merupakan karakteristik pasien maupun faktor terkait manajemen di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi seberapa besar hubungan antara karakteristik pasien dengan variasi LOS dan biaya perawatan,dan mengetahui gambaran penerapan clinical pathway sebagai upaya kendali mutu dan biaya pada pasien JKN rawat inap di RSUP Fatmawati dari tahun 2015 – September 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi usia, jumlah diagnosis, jumlah prosedur dan kelas rawat hanya dapat menjelaskan sedikit variasi LOS dan biaya perawatan (R 2 <34%). Sementara itu clinical pathway sebagai salah satu pendekatan manajemen untuk kendali mutu dan biaya belum diterapkan secara optimal. Berbagai upaya kreatif perlu dilakukan manajemen antara lain implementasi care plan, difungsikannya kembali case manager, pengisian CP secara elektronik dan identifikasi inefisiensi dalam pelayanan menggunakan data unit cost rumah sakit. Kata kunci: Length of stay (LOS), biaya (costs), efisiensi, clinical pathway, CMG
ABSTRACT Efficient use of resources in hospitals will contribute to successful implementation of universal health coverage in Indonesia. Substantial variation in hospital costs for certain diagnosis or procedure is an indication of resource use inefficiency. Length of stay is a well-accepted measure of resource utilization and a key driver to hospital costs. Variation in LOS and costs can be influenced by patient demographic and clinical factors that are outside a hospital’s control, in the meanwhile there are also factors within the control of a hospital. This research focuses on five Casemix Main Groups and aims to identify how patient characteristic factors contribute to variation in LOS and costs, and to investigate qualitatively the implementation of Clinical Pathway as a management approach to control LOS as well as hospital costs for JKN patients at RSUP Fatmawati, a class-A teaching hospital in Jakarta, from 2015 to September 2017. The result indicates that the variance in LOS and cost is not significantly correlated to patient’s age, number of diagnoses, number of procedures and room types as independent variables. The hospital has numerous clinical pathways that have not been optimally implemented yet for LOS and cost control. This research provides information for hospital management team to improve LOS performance by implementing care planning, intensive case management and to use cost data for identification of inefficiency of certain types of care. Keywords: Length of stay (LOS), costs, efficiency, clinical pathway, CMG
ABSTRAK Nama : Weny Rinawati Program Studi : Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul : Analisis biaya perawatan stroke berdasarkan Clinical Pathway di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta dalam pelayanan pasien Jaminan Kesehatan Nasional Latar belakang. Masalah yang sering dihadapi pada pelayanan pasien Jaminan Kesehatan Nasional adalah kesenjangan biaya perawatan pasien stroke dengan tarif INA-CBGs. Hal ini terkait dengan biaya perawatan dan Clinical Pathway. Tujuan. Mengetahui biaya perawatan pasien stroke di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Metoda. Penelitian kuantitatif deskriptif mengikutsertakan 277 subjek penyakit stroke yang diperoleh di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta selama Januari – Juni 2015. Biaya perawatan stroke dihitung berdasarkan biaya satuan (unit cost) dengan menggunakan metode activity based costing dan Clinical Pathway. Hasil. Biaya satuan perawatan stroke iskemik dan stroke hemoragik berdasarkan Clinical Pathway, dengan memperhitungkan biaya investasi dan biaya gaji, tanpa memperhitungkan jasa medis berturut-turut adalah Rp 311,860,860.83 dan Rp 585,083,610.01; dengan memperhitungkan biaya investasi, biaya gaji, dan jasa medis berdasarkan tarif rumah sakit adalah Rp 321,682,940.73 dan Rp598,929,450.01; dengan memperhitungkan biaya investasi, biaya gaji, dan jasa medis berdasarkan tarif IDI adalah Rp 318,360,860.73 dan Rp 594,333,610.01; tanpa memperhitungkan biaya investasi, biaya gaji, dan jasa medis adalah Rp30,361,681.00 dan Rp25,698,199.46; tanpa memperhitungkan biaya investasi dan biaya gaji, tetapi memperhitungkan jasa medis berdasarkan tarif rumah sakit adalah Rp 40,183,761.00 dan Rp 39,544,199.46; tanpa memperhitungkan biaya investasi dan biaya gaji, tetapi memperhitungkan jasa medis berdasarkan IDI adalah Rp 36,861,681.00 dan Rp 34,948,199.46. Simpulan: Dijumpai selisih biaya perawatan berdasarkan biaya satuan dan Clinical Pathway, baik yang memperhitungkan biaya investasi, gaji, dan jasa medis, maupun tanpa memperhitungkan biaya investasi, gaji, dan jasa medis, dengan tarif layanan existing dan tarif INA-CBGs Kata kunci : biaya, Clinical Pathway, INA-CBGs, stroke
ABSTRACT Name : Weny Rinawati Study Program : Hospital Administration Title : Cost of stroke treatment based on Clinical Pathway in National Brain Center Hospital, Jakarta Background. Problem often encountered in patient care National Health Insurance is the gap between the cost of stroke treatment with INA-CBGs tariff. This is related to the cost of treatment and the Clinical Pathway. Aim. Knowing the cost of stroke treatment in the National Brain Center Hospital Jakarta. Methods. Descriptive quantitative study involving 277 subjects stroke obtained at the National Brain Center Hospital Jakarta during January - June 2015. The cost of stroke treatment are calculated based on the unit cost using activity-based costing method and Clinical Pathway. Results. The unit cost of ischemic stroke and hemorrhagic stroke treatment by Clinical Pathway, taking into account investment costs and salary costs, regardless of medical services is IDR 311,860,860.83 and IDR 585,083,610.01; taking into account investment cost, salary cost, and medical services tariff based hospital is IDR 321,682,940.73 and IDR 598,929,450.01; taking into account investment cost, salary cost, and medical services tariff based IDI is IDR 318,360,860.73 and IDR 594,333,610.01; without taking into account investment cost, salary cost, and medical services are IDR 30,361,681.00 and IDR 25,698,199.46; without taking into account the investment cost and salary cost, but taking into account medical services tariff based hospital is IDR 40,183,761.00 and IDR 39,544,199.46; without taking into account the investment cost and salary cost, but taking into account medical services tariff based IDI is IDR 36,861,681.00 and IDR 34,948,199.46. Conclusion. Found difference in the cost of stroke treatment is based on unit cost and Clinical Pathway, both of which take into account the investment, salaries, and medical services cost, and without taking into account investment, salaries, and medical services cost, with existing services and tariff rates INA-CBGs Keywords: Clinical Pathway, cost, INA-CBGs, stroke
RSUD Tarakan merupakan rumah sakit umum daerah milik Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta yang ditetapkan sebagai rumah sakit pengampu layanan stroke baik untuk kasus stroke infark maupun kasus stroke hemoragik. Dalam memberikan pelayanan kasus stroke hemoragik baik severity I, II maupun III, RSUD Tarakan mengalami selisih negatif antara rata-rata tarif INA CBG’s terhadap rata-rata tarif rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran biaya satuan perawatan stroke hemoragik sebagai langkah awal untuk menganalisis biaya. Dengan diketahuinya besaran biaya satuan antara layanan aktual dan clinical pathway maka dapat diketahui faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan inefisiensi di dalam perawatan stroke hemoragik. Dari faktor-faktor inefisiensi yang telah diketahui maka dapat diketahui pula nilai cost recovery rate untuk menentukan upaya efisiensi dan penerapan cost containment sebagai rekomendasi bagi manajemen RSUD Tarakan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang mengolah data primer dari hasil wawancara mendalam dan data sekunder melalui telaah dokumen dengan menggunakan metode Activity Based Costing. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa biaya satuan rata-rata perawatan stroke hemoragik kelas 1 sebesar Rp. 18.296.787,-, kelas 2 sebesar Rp. 32.496.824,- dan kelas 3 sebesar Rp. 15.595.005. Nilai cost recovery rate mencapai lebih dari 100% pada perawatan stroke hemoragik baik severity I, II maupun III dengan LOS 1-7 hari. Dari hasil upaya efisiensi berdasarkan layanan dan biaya disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inefisiensi pada perawatan stroke hemoragik adalah keterpakaian tempat tidur yang rendah khususnya kelas 2, utilitas alat yang rendah, biaya pemakaian obat yang tinggi serta LOS yang memanjang. Dari faktor-faktor tersebut dilakukan pemetaan terhadap 4 tahap cost containment. Cost Awareness dilakukan dengan pemantapan sosialisasi kepada dokter dan seluruh pegawai mengenai pentingnya kesadaran biaya di rumah sakit, cost management dilakukan dengan melakukan strategi optimalisasi sumber daya manusia dan pemakaian obat-obatan, optimalisasi proses layanan perawatan stroke hemoragik dan sarana-prasarana yang diberikan seperti penggabungan kelas 2 ke dalam ruang rawat kelas 3 yang sudah sesuai standar KRIS serta otomatisasi sistem informasi rumah sakit. Cost monitoring dilakukan dengan memperkuat fungsi pengawasan pihak-pihak pengendali biaya dan cost incentive dilakukan dengan memberikan reward kepada dokter maupun pegawai rumah sakit yang berkontribusi dalam melakukan efisiensi biaya rumah sakit.
RSUD Tarakan is a regional public hospital owned by the Provincial Government of the Special Region of Jakarta which is designated as the hospital in charge of stroke services for both infarct stroke cases and hemorrhagic stroke cases. In providing services for hemorrhagic stroke cases of severity I, II and III, RSUD Tarakan experiences a negative difference between the average INA CBG's tariff and the average hospital tariff. This study aims to determine the unit cost of hemorrhagic stroke care as a first step to analyzing costs. By knowing the amount of unit costs between actual services and clinical pathway, it can be known what factors can cause inefficiencies in hemorrhagic stroke treatment. From the inefficiency factors that have been known, the value of cost recovery rate can also be known to determine efficiency efforts and the application of cost containment as a recommendation for the management of RSUD Tarakan. This study uses a descriptive method with a qualitative approach that processes primary data from in-depth interviews and secondary data through document review using the Activity Based Costing method. The results of this study indicate that the average unit cost of class 1 hemorrhagic stroke treatment is Rp. 18,296,787, class 2 is Rp. 32,496,824, and class 3 is Rp. 15,595,005. The cost recovery rate value reached more than 100% in hemorrhagic stroke treatment both severity I, II and III with LOS 1-7 days. From the results of efficiency efforts based on services and costs, it is concluded that the factors that cause inefficiency in hemorrhagic stroke treatment are low bed utilization, especially class 2, low equipment utility, high drug usage costs and prolonged LOS. From these factors, a mapping of the 4 stages of cost containment was carried out. Cost Awareness is carried out by strengthening socialization to doctors and all employees regarding the importance of cost awareness in hospitals, cost management is carried out by carrying out strategies to optimize human resources and the use of drugs, optimizing the hemorrhagic stroke treatment service process and facilities provided such as the incorporation of class 2 into class 3 treatment rooms that are in accordance with KRIS standards and automation of hospital information systems. Cost monitoring is carried out by strengthening the supervisory function of cost control parties and cost incentives are carried out by providing rewards to doctors and hospital employees who contribute to hospital cost efficiency.
Latar Belakang: Kepadatan (overcrowding) di Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan isu global yang berdampak negatif terhadap keselamatan pasien dan kualitas pelayanan. Length of Stay (LOS) atau lama rawat, dengan target ≤4 jam, menjadi indikator kinerja kunci di banyak negara untuk mengatasi masalah ini. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menetapkan target pencapaian LOS ≤4 jam sebesar ≥90% untuk rumah sakit vertikal. Namun, capaian di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) masih sangat rendah, yakni 18% pada triwulan keempat tahun 2023. Sebagai solusi, RSCM mengimplementasikan Ruang Rawat Emergensi (RRE), sebuah unit observasi, untuk memperbaiki alur pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak penerapan RRE terhadap pencapaian target LOS ≤4 jam di IGD RSCM.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif kausal-komparatif. Data sekunder dikumpulkan secara retrospektif dari rekam medis elektronik seluruh pasien IGD RSCM. Analisis membandingkan periode sebelum implementasi RRE (1 Januari s.d. 31 Desember 2023) dengan periode setelah implementasi (1 Januari s.d. 31 Desember 2024). Uji statistik yang digunakan meliputi analisis univariat dan bivariat (Uji Mann-Whitney dan Chi-Square) untuk menguji perbedaan antar kelompok.
Hasil: Setelah implementasi RRE, terjadi penurunan signifikan pada median LOS pasien IGD secara keseluruhan, dari 16,36 jam pada tahun 2023 menjadi 8,01 jam pada tahun 2024. Proporsi pasien yang memenuhi target LOS ≤4 jam meningkat dari 17,66% menjadi 26,71%. Pasien zona kuning yang diputuskan rawat di RRE memiliki median LOS IGD yang secara signifikan lebih singkat (6,42 jam) dibandingkan dengan yang dirawat di ruang non-RRE (11,62 jam). Keputusan rawat oleh DPJP Emergensi menunjukkan peluang 1,86 kali lebih tinggi untuk mencapai target LOS ≤4 jam dibandingkan DPJP non-emergensi. Secara finansial, RRE memberikan keuntungan pada kelompok pasien yang dapat dipulangkan.
Kesimpulan: Penerapan RRE terbukti secara signifikan dapat mempersingkat median LOS pasien di IGD dan meningkatkan proporsi pencapaian target LOS ≤4 jam. Meskipun demikian, capaian tersebut masih jauh di bawah target nasional ≥90%. RRE merupakan strategi yang efektif untuk mengurangi dampak kepadatan IGD dan berpotensi memberikan keuntungan finansial. Peran DPJP Emergensi dalam pengambilan keputusan disposisi pasien sangat krusial untuk optimalisasi alur pelayanan
