Ditemukan 31898 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Andri Yan Prima Zani; Pembimbing: Budi Utomo, Besral
T-2020
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nopi Susilawati; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Muhammad Noor Farid, Bachti Alisjahbana
T-3950
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Istiqomah Nur Ocnisari; Pembimbing: Besral; Penguji: Popy Yuniar, Nurhalina Afriana
Abstrak:
Penasun merupakan populasi kunci yang memiliki risiko ganda untuk penularan HIV, yaitu melalui perilaku menyuntik dan perilaku seksualnya. Upaya yang dilakukan untuk mencegah penularan HIV dan infeksi lainnya yang terjadi melalui penggunaan napza dengan jarum suntik dan perlengkapannya adalah dengan melalui program pengurangan dampak buruk. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan program pengurangan dampak buruk HIV-AIDS dengan perilaku menyuntik. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan data STBP Tahun 2013. Sampel dalam penelitian ini adalah penasun yang pernah bertemu dengan petugas penjangkau sebanyak 430 responden di kota Yogyakarta, Tangerang, Pontianak dan Makassar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi penasun yang menyuntik berisiko dalam seminggu terakhir adalah sebesar 43% dan 45,4% penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk. penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk berisiko 1,2 kali lebih tinggi untuk menyuntik berisiko dibandingkan dengan penasun yang mengakses program pengurangan dampak buruk setelah dikontrol oleh faktor usia, tempat menyuntik, penggunaan kondom, lama menjadi penasun, dan jumlah teman menyuntik. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan program pengurangan dampak buruk secara komprehensif untuk mengurangi perilaku menyuntik berisiko, sehingga penularan HIV-AIDS pada penasun dapat dicegah.
Kata Kunci : penasun, perilaku menyuntik, pengurangan dampak buruk
Injection Drug Users (IDUs) are key population that have double risk of HIV transmission, through injecting behaviors and sexual behaviors. The effort to reduce HIV transmission and other infection among IDUs is by implementing harm reduction program. This study was conducted to identify the association between harm reduction program of HIV-AIDS among IDUs with injecting behaviors. This study used cross sectional design and used data of IBBS 2013. The respondents are IDUs who ever met with the outreach workers as many as 430 respondents in Yogyakarta, Tangerang, Pontianak, and Makassar.
The result showed that the prevalence of IDUs who inject risky in the past week is 44,3% and 54,1% of IDUs do not access harm reduction program. IDUs who do not accsess harm reduction program has 1,3 time higher chance to inject risky than IDU who accsess harm reduction program after controlled by age, place of injection, condom use, duration of injecting drugs and total number of injecting partner. Therefore, optimalization of comprehensive harm reduction program is needed to decrease injection risk behavior in order to prevent HIV-AIDS transmission among IDUs,
Keywords : people who inject drugs, injection behaviors, harm reducion
Read More
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi penasun yang menyuntik berisiko dalam seminggu terakhir adalah sebesar 43% dan 45,4% penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk. penasun yang tidak mengakses program pengurangan dampak buruk berisiko 1,2 kali lebih tinggi untuk menyuntik berisiko dibandingkan dengan penasun yang mengakses program pengurangan dampak buruk setelah dikontrol oleh faktor usia, tempat menyuntik, penggunaan kondom, lama menjadi penasun, dan jumlah teman menyuntik. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan program pengurangan dampak buruk secara komprehensif untuk mengurangi perilaku menyuntik berisiko, sehingga penularan HIV-AIDS pada penasun dapat dicegah.
Kata Kunci : penasun, perilaku menyuntik, pengurangan dampak buruk
Injection Drug Users (IDUs) are key population that have double risk of HIV transmission, through injecting behaviors and sexual behaviors. The effort to reduce HIV transmission and other infection among IDUs is by implementing harm reduction program. This study was conducted to identify the association between harm reduction program of HIV-AIDS among IDUs with injecting behaviors. This study used cross sectional design and used data of IBBS 2013. The respondents are IDUs who ever met with the outreach workers as many as 430 respondents in Yogyakarta, Tangerang, Pontianak, and Makassar.
The result showed that the prevalence of IDUs who inject risky in the past week is 44,3% and 54,1% of IDUs do not access harm reduction program. IDUs who do not accsess harm reduction program has 1,3 time higher chance to inject risky than IDU who accsess harm reduction program after controlled by age, place of injection, condom use, duration of injecting drugs and total number of injecting partner. Therefore, optimalization of comprehensive harm reduction program is needed to decrease injection risk behavior in order to prevent HIV-AIDS transmission among IDUs,
Keywords : people who inject drugs, injection behaviors, harm reducion
S-9072
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andini Ayu Lestari; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Milla Herdayati, Nurhalina Afriana
Abstrak:
Kelompok Penasun merupakan kelompok berisiko HIV dengan agka prevalensi HIV lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok berisiko HIV lainnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilaku berisiko HIV pada Penasun dewasa muda dan dewasa madya di 3 kota di Indonesia. Desain penelitian ini adalah cross sectional menggunakan data STBP tahun 2011 dan 2015. Sampel dalam penelitian ini adalah Penasun di kota Medan, Bandung, dan Malang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi HIV lebih tinggi pada Penasun dewasa madya, namun meningkat 10% pada Penasun dewasa muda. Analisis multivariabel menunjukkan perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif tahun 2011 pada Penasun dewasa muda adalah mulai menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, tidak mengurangi praktik setting basah, pernah melakukan hubungan seks, berhubungan seks dengan lebih dari 1 orang, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik dan berhubungan seks pada usia ≤ 18 tahun dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya.
Pada tahun 2015 perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif pada Penasun dewasa muda adalah menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, pinjam meminjam jarum, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik pada usia ≤ 18 tahun, dan memiliki pasangan seks tidak tetap dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya. Perlu adanya peningkatan layanan pencegahan HIV ke Penasun dewasa muda dan intervensi terhadap jejaring Penasun.
Kata kunci : Penasun, dewasa muda, dewasa madya, perilaku berisiko HIV
IDU is population-at-risk that has the highest HIV prevalance in Indonesia. This study aims to know different risk behavior among young adult and middle-aged adult IDU in 3 cities in Indonesia. This study design is cross sectional by using IBBS data 2011 and 2015. Samples in this study were IDU in 3 cities in Indonesia that meet inclusion and exclusion criteria.
The result shows that HIV prevalence is higher among middle-aged adult IDU, but increase 10% among young adult IDU. Multivariable analysis shows risk behaviors that increase risk of HIV positive among young adult IDU in 2011 are age at first injection ≤ 18 years, not reduce sharing drugs with water, ever had sex, and having multiple sex partners; whereas first injection and first had sex at ≤ 18 years old increase risk of HIV positive status among middle-aged adult IDU.
In 2015, risk behaviors that increase HIV positive status among young adult IDU are age at first injection ≤ 18 years, sharing syringes to inject, and not consistent using condom; whereas first injection at ≤ 18 years old and having casual sex partner increase risk of HIV positive among middle-aged adult IDU. Prevention HIV services should be improved for young adult IDU and also network intervention should be improved.
Keywords : IDU, young adult, middle-aged adult, hiv risk behavior
Read More
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi HIV lebih tinggi pada Penasun dewasa madya, namun meningkat 10% pada Penasun dewasa muda. Analisis multivariabel menunjukkan perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif tahun 2011 pada Penasun dewasa muda adalah mulai menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, tidak mengurangi praktik setting basah, pernah melakukan hubungan seks, berhubungan seks dengan lebih dari 1 orang, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik dan berhubungan seks pada usia ≤ 18 tahun dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya.
Pada tahun 2015 perilaku berisiko yang dapat meningkatkan status HIV positif pada Penasun dewasa muda adalah menyuntik NAPZA pada usia ≤ 18 tahun, pinjam meminjam jarum, dan tidak konsisten menggunakan kondom; sedangkan pertama kali menyuntik pada usia ≤ 18 tahun, dan memiliki pasangan seks tidak tetap dapat meningkatkan risiko HIV positif pada Penasun dewasa madya. Perlu adanya peningkatan layanan pencegahan HIV ke Penasun dewasa muda dan intervensi terhadap jejaring Penasun.
Kata kunci : Penasun, dewasa muda, dewasa madya, perilaku berisiko HIV
IDU is population-at-risk that has the highest HIV prevalance in Indonesia. This study aims to know different risk behavior among young adult and middle-aged adult IDU in 3 cities in Indonesia. This study design is cross sectional by using IBBS data 2011 and 2015. Samples in this study were IDU in 3 cities in Indonesia that meet inclusion and exclusion criteria.
The result shows that HIV prevalence is higher among middle-aged adult IDU, but increase 10% among young adult IDU. Multivariable analysis shows risk behaviors that increase risk of HIV positive among young adult IDU in 2011 are age at first injection ≤ 18 years, not reduce sharing drugs with water, ever had sex, and having multiple sex partners; whereas first injection and first had sex at ≤ 18 years old increase risk of HIV positive status among middle-aged adult IDU.
In 2015, risk behaviors that increase HIV positive status among young adult IDU are age at first injection ≤ 18 years, sharing syringes to inject, and not consistent using condom; whereas first injection at ≤ 18 years old and having casual sex partner increase risk of HIV positive among middle-aged adult IDU. Prevention HIV services should be improved for young adult IDU and also network intervention should be improved.
Keywords : IDU, young adult, middle-aged adult, hiv risk behavior
S-9554
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sugiarto; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Toha Muhaimin, R. Sutiawan, Nurhalina Afrianti, Maya Trisiswati
Abstrak:
Konsistensi penggunaan kondom pada Penasun masih rendah. MenurutLaporan STBP 2013, konsistensi penggunaan kondom pada Penasun sebesar 17%pada pasangan tetap, 17% pasangan tidak tetap dan 16% pasangan komersial.Penelitian ini bertujuan untuk melihat determinan penggunaan kondom padaPenasun di 4 Kota di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data STBP Penasuntahun 2013. Cara pengambilan sampel STBP Penasun adalah Responden DrivenSampling (RDS). Analisis data secara univariat, bivariat dan multivariabel.
Hasil penelitian menunjukkan proporsi penggunaan kondom pada saatberhubungan seks sebesar 18% pada pasangan tetap, 17% pada pasangan tidaktetap, 17% membeli seks dan 5% menjual seks. Determinan penggunaan kondompada 4 pasangan berbeda, namun tidak memiliki kondom selalu ada pada semuajenis pasangan. Determinan penggunaan kondom pada pasangan tetap adalahtidak memiliki kondom, tidak merasa berisiko, pengetahuan rendah, tidakmengakses LASS, tidak menikah dan merasa kondom tidak bermanfaat dalammencegah HIV merupakan determinan dari perilaku penggunaan kondom Penasunpada pasangan tetap. Determinan penggunaan kondom pada pasangan tidak tetapadalah tidak memiliki kondom dan tidak menikah merupakan determinanpenggunaan kondom Penasun pada pasangan tidak tetap. Determinan penggunaankondom pada Penasun yang membeli seks adalah tidak memiliki kondommerupakan determinan penggunaan kondom Penasun saat membeli seks.
Kata Kunci : Penasun, Penggunaan Kondom
Consistent condom use in IDUs remains low. According to the report IBBS2013, the consistent use of condoms in 17% IDU steady partner, 17% of couplesare not fixed and 16% commercial partner. This study aims to look at thedeterminants of condom use among IDU in four cities in Indonesia. This studyuses IBBS IDU 2013. How sampling IBBS IDU is Respondent Driven Sampling(RDS). Analysis of univariate, bivariate and multivariable.
The results showed the proportion of condom use during sex by 18% on aregular partner, 17% on casual partners, 17% and 5% purchase sex sell sex.Determinants of condom use on four different couples, but does not have acondom always exist in all types of couples. Determinants of condom use on aregular partner is not having a condom, do not feel at risk, low knowledge, noaccess LASS, not married and feel condoms are not useful in preventing HIV is adeterminant of condom use behaviors of IDUs in couples staying. Determinants ofcondom use in casual partners is not to have condoms and abstaining frommarriage is the determinant of condom use in casual partners of IDUs. The Determinants of condom use among IDU who buy sex is not having a condom is a determinant of the use of condoms when buying sex IDU.
Keywords: IDU, Condom Use
Read More
Hasil penelitian menunjukkan proporsi penggunaan kondom pada saatberhubungan seks sebesar 18% pada pasangan tetap, 17% pada pasangan tidaktetap, 17% membeli seks dan 5% menjual seks. Determinan penggunaan kondompada 4 pasangan berbeda, namun tidak memiliki kondom selalu ada pada semuajenis pasangan. Determinan penggunaan kondom pada pasangan tetap adalahtidak memiliki kondom, tidak merasa berisiko, pengetahuan rendah, tidakmengakses LASS, tidak menikah dan merasa kondom tidak bermanfaat dalammencegah HIV merupakan determinan dari perilaku penggunaan kondom Penasunpada pasangan tetap. Determinan penggunaan kondom pada pasangan tidak tetapadalah tidak memiliki kondom dan tidak menikah merupakan determinanpenggunaan kondom Penasun pada pasangan tidak tetap. Determinan penggunaankondom pada Penasun yang membeli seks adalah tidak memiliki kondommerupakan determinan penggunaan kondom Penasun saat membeli seks.
Kata Kunci : Penasun, Penggunaan Kondom
Consistent condom use in IDUs remains low. According to the report IBBS2013, the consistent use of condoms in 17% IDU steady partner, 17% of couplesare not fixed and 16% commercial partner. This study aims to look at thedeterminants of condom use among IDU in four cities in Indonesia. This studyuses IBBS IDU 2013. How sampling IBBS IDU is Respondent Driven Sampling(RDS). Analysis of univariate, bivariate and multivariable.
The results showed the proportion of condom use during sex by 18% on aregular partner, 17% on casual partners, 17% and 5% purchase sex sell sex.Determinants of condom use on four different couples, but does not have acondom always exist in all types of couples. Determinants of condom use on aregular partner is not having a condom, do not feel at risk, low knowledge, noaccess LASS, not married and feel condoms are not useful in preventing HIV is adeterminant of condom use behaviors of IDUs in couples staying. Determinants ofcondom use in casual partners is not to have condoms and abstaining frommarriage is the determinant of condom use in casual partners of IDUs. The Determinants of condom use among IDU who buy sex is not having a condom is a determinant of the use of condoms when buying sex IDU.
Keywords: IDU, Condom Use
T-4741
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Firli Kusuma Ardiati; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Martya Rahmaniati, Novera Parulian Sandi
S-6083
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurmah Yasinta; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Sabarinah B. Prasetyo, Arif Rachman Iryawan
S-8111
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ice Marini; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Nurlaelasari, Fajrinayati
Abstrak:
Laporan Epidemi AIDS Global UNAIDS 2012 menunjukkan bahwa terdapat 34 juta orang dengan HIV di seluruh dunia. Sebanyak 50% diantaranya adalah perempuan dan 2,1 juta anak berusia kurang dari 15 tahun. Estimasi dan Proyeksi HIV AIDS tahun 2012 menyatakan ODHA dari populasi kunci tertinggi yaitu perempuan risiko rendah, yang bisa saja mengakses layanan kesehatan dan berinteraksi dengan bidan di layanan kesehatan. Bidan beresiko tinggi tertular HIV saat menolong persalinan, kewaspadaan universal diterapkan dengan menganggap bahwa setiap darah dan cairan tubuh yang berasal dari pasien berpotensial menularkan infeksi terlepas dari mereka HIV atau tidak, hal ini dilakukan untuk melindungi pasien, bidan, keluarga dan orang lain dari risiko paparan darah dan cairan tubuh yang mungkin terinfeksi HIV.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap dengan perilaku pencegahan infeksi dan PPIA di Kabupaten Lebak Tahun 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan cross secsional. Jumlah sampel penelitian adalah 159 responden. Pengambilan sampel dengan stratified proposional random sampling yang dilakukan pada 30 Puskesmas.
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan (p=0,016), Ketersediaan alat pelindung diri (p=0,007), pengawasan (p=0,006) dan dukungan rekan kerjaa (p=0,021) dengan perilaku pencegahan infeksi dan PPIA. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan memberikan pelatihan kepada seluruh tenaga kesehatan bidan serta dilakukan secara berkesinambungan untuk meningkatkan pengetahuan. Mengadakan pelatihan tentang program PPIA agar pelaksanaan pelayanan sesuai dengan pedoman PPIA nasional.
Kata Kunci: Bidan, pencegahan infeksi, HIV, PPIA
The UNAIDS Global AIDS Epidemic Report 2012 shows that there are 34 million people with HIV in worldwide. As many as 50% of them are women and 2.1 million children aged less than 15 years. HIV/AIDS Estimates and Projection in 2012 declare people with HIV/AIDS from the highest key population of low risk women, who may access health services and interact with midwives in health services. Midwives are at high risk of contracting HIV while assisting in childbirth, universal precautions are applied by assuming that any blood and body fluids originating from patients potentially transmit infections regardless of whether they are HIV or not, this is done to protect patients, midwives, families and others from exposure risk Blood and body fluids that may be infected with HIV.
This study aims to determine knowledge and attitude of midwives with infections preventions behavior and PPIA in Kabupaten Lebak. The research method used is cross sectional design. The number of research samples is 159 respondents. Sampling with stratified proportional random sampling conducted at 30 health care.
The results showed a significant correlation between knowledge (p = 0.016), availability of personal protective equipment (p = 0.007), supervision (p = 0.006) and peer support (p = 0.021) with infection prevention behavior and PPIA. Based on the result of this research, it is suggested to give training to all midwife health worker and to be done continuously to increase knowledge. Conducting training on PPIA programs so that service delivery is in line with national PPIA guidelines. Evaluation on the procurement of facilities and equipment in village midwives to support good infection prevention behavior.
Keywords: midwife, prevention of infection, HIV, PPIA
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap dengan perilaku pencegahan infeksi dan PPIA di Kabupaten Lebak Tahun 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan cross secsional. Jumlah sampel penelitian adalah 159 responden. Pengambilan sampel dengan stratified proposional random sampling yang dilakukan pada 30 Puskesmas.
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan (p=0,016), Ketersediaan alat pelindung diri (p=0,007), pengawasan (p=0,006) dan dukungan rekan kerjaa (p=0,021) dengan perilaku pencegahan infeksi dan PPIA. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan memberikan pelatihan kepada seluruh tenaga kesehatan bidan serta dilakukan secara berkesinambungan untuk meningkatkan pengetahuan. Mengadakan pelatihan tentang program PPIA agar pelaksanaan pelayanan sesuai dengan pedoman PPIA nasional.
Kata Kunci: Bidan, pencegahan infeksi, HIV, PPIA
The UNAIDS Global AIDS Epidemic Report 2012 shows that there are 34 million people with HIV in worldwide. As many as 50% of them are women and 2.1 million children aged less than 15 years. HIV/AIDS Estimates and Projection in 2012 declare people with HIV/AIDS from the highest key population of low risk women, who may access health services and interact with midwives in health services. Midwives are at high risk of contracting HIV while assisting in childbirth, universal precautions are applied by assuming that any blood and body fluids originating from patients potentially transmit infections regardless of whether they are HIV or not, this is done to protect patients, midwives, families and others from exposure risk Blood and body fluids that may be infected with HIV.
This study aims to determine knowledge and attitude of midwives with infections preventions behavior and PPIA in Kabupaten Lebak. The research method used is cross sectional design. The number of research samples is 159 respondents. Sampling with stratified proportional random sampling conducted at 30 health care.
The results showed a significant correlation between knowledge (p = 0.016), availability of personal protective equipment (p = 0.007), supervision (p = 0.006) and peer support (p = 0.021) with infection prevention behavior and PPIA. Based on the result of this research, it is suggested to give training to all midwife health worker and to be done continuously to increase knowledge. Conducting training on PPIA programs so that service delivery is in line with national PPIA guidelines. Evaluation on the procurement of facilities and equipment in village midwives to support good infection prevention behavior.
Keywords: midwife, prevention of infection, HIV, PPIA
T-5086
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Berdita; Pembimbing: Kemal N. Siregar; Penguji: Indang Trihandini, Besral, Kristina, Vinny Sutriani Tobing
T-4071
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yeni; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Agustin Kusumayati, Ratna Djuwita, Wenita Indra Sari, Fatcha Nuraliyah
T-3867
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
