Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27888 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ponisih; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah, Aldy Heriwardito, Ismail Dilawar
Abstrak: Tujuan: Mediastinitis pascabedah BPAK adalah komplikasi yang jarang namunmematikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui determinan dan sistem skoringmediastinitis pascabedah BPAK.Metode: Studi kohort retrospektif yang melibatkan 706 pasien operasi BPAK di RSUPNDr. Cipto Mangunkusumo dari Januari 2011 hingga Desember 2017. Definisimediastinitis disesuaikan dengan definisi CDC infeksi kasus spesifik, yangmelatarbelakangi resternotomi debridement. Terdapat delapan faktor risiko yangberpotensi mediastinitis dalam analisa univariate.Hasil: Dari 706 pasien BPAK, terjadi insiden mediastinitis sebanyak 35 pasien. Lima daridelapan variable tersebut bertahan dalam analisa multivariate yaitu diabetes mellitusdengan OR sebesar 4.46 (IK95% = 2,01-9,89), IMT ≥ 26,5 kg/m2 dengan OR 3,34(IK95% =1,61-6,97) dan lama operasi ≥ 300 menit dengan OR 3,43 (IK95=1,67-7,04), usia≥60 tahun dengan OR 2,01 (IK 95%=0,97-4,19), dan pemedahan ulang karena perdarahandengan OR sebesar 3,10 (IK 95%= 0,94-10,27).Kesimpulan: Determinan utama yaitu diabetes mellitus, obesitas, usia, lama operasi danpembedahan ulang karena perdarahan.Kata kunci: bedah pintas arteri koroner; determinan mediastinitis.
Read More
T-5139
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edy Rizal Wahyudi; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Kopromotor: Besral, Siti Setiati; Penguji: Hadi Pratomo, Ratna Djuwita, Czeresna Heriawan Soejono, R.A. Tuty Kuswardhani, Soewarta Kosen
Abstrak:
Pendahuluan: Penduduk usia lanjut global secara cepat meningkat, hingga dapat mencapai 1,5-2 miliar pada tahun 2050, yang membawa masalah kesehatan termasuk peningkatan angka rawat inap dan rehospitalisasi pada geriatri. Hal tersebut akan menyebabkan penurunan kualitas perawatan geriatri di RS. Untuk mengatasi masalah ini, strategi perencanaan pulang khusus geriatri harus dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh perencanaan pulang terintegrasi terhadap kualitas perawatan RS bagi geriatri. Metode: Dilakukan penelitian mixed method di fasilitas perawatan akut dan rawat inap geriatri RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, penelitian kuantitatif melibatkan 259 geriatri, dengan 130 dalam kelompok kontrol dan 129 dalam kelompok intervensi. Perhitungan besar sampel mengikuti formula uji hipotesis beda dua proporsi. Analisis meliputi analisis univariat, Chi-Square, Mantel-Haenszel, serta regresi logistik dengan luaran yaitu rehospitalisasi dan perawatan akut dalam 30 hari. Penelitian kualitatif dikerjakan dengan melakukan wawancara mendalam dan observasi terhadap pelaku rawat dan tenaga kesehatan untuk mencapai saturasi informasi. Hasil dan Pembahasan: Hasil menunjukkan perencanaan pulang terintegrasi secara signifikan mengurangi tingkat rehospitalisasi dalam 30 hari (ARR 12,1%; RRR 34,3%; RR 0,657; IK 95% 0,445-0,971; p 0,045), namun tidak signifikan mengurangi tingkat penggunaan perawatan akut (ARR 11,4%; RRR 28,3%; RR 0,717; IK 95% 0,508-1,012; p 0,074) pada geriatri. Pada analisis stratifikasi dan multivariat, tidak ditemukan adanya confounding maupun interaksi antar confounding. Temuan kualitatif dari wawancara mendalam mendukung manfaat perencanaan pulang, dengan tercapainya kejenuhan informasi tentang perlunya implementasi dan saran untuk memanfaatkan media dalam edukasi perencanaan pulang. Dari observasi didapati bahwa implementasi perencanaan pulang di RS belum sesuai dengan pemahaman dan harapan informan. Simpulan: perencanaan pulang terintegrasi meningkatkan kualitas perawatan rumah sakit pada geriatri, dengan signifikan mengurangi tingkat rehospitalisasi. Penelitian lebih lanjut sangat dianjurkan.

Introduction: The global elderly population is rapidly increasing, with projections indicating it could reach 1.5-2 billion by 2050, leading to various health challenges including increased hospitalization and rehospitalization rates which marked the decline in hospital care quality. To address these issues, specific discharge planning strategies must be developed for geriatric population. This study establishes an integrated discharge planning model for geriatric post-discharge care and aims to elaborate on its influence on hospital care quality. Methods: Mixed method research was conducted at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital's geriatric acute care and inpatient facilities. Quantitative research involved 259 hospitalized geriatrics, with 130 in the control group and 129 in the intervention group. Sample size calculation followed a hypothesis testing formula for two-proportion difference. Analyses included univariate, Chi-Square, Mantel-Haenszel stratification analyses, and logistic regression multivariate analyses, focusing on rehospitalization and acute care utilization rates within 30 days post-discharge. Qualitative research was done by conducting in-depth interviews and observations upon caregivers and healthcare professionals to achieve information saturation. Results & Discussion: Results showed integrated discharge planning significantly reduced rehospitalization rates within 30 days (ARR 12,1%; RRR 34,3%; RR 0.657; 95% CI 0.445-0.971; p 0.045), but did not significantly reduce acute care utilization rates (ARR 11,4%; RRR 28,3%; RR 0.717; 95% CI 0.508-1.012; p 0.074) in geriatrics. In stratification and multivariate analyses, both confounding and confounding interactions were not found. Qualitative findings from in-depth interviews supported the benefits of discharge planning, with information saturation on the need for its implementation and suggestions for media utilization in discharge planning education. Observation revealed that discharge planning implementations in routine hospital geriatric care were not yet satisfactory, according to the informants understanding and expectations. Conclusion: In conclusion, integrated discharge planning improved hospital care quality in geriatrics, significantly reducing rehospitalization rates. Further research is recommended.
Read More
D-544
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gusni Rahma; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Susilarini, Ni Ketut
S-7375
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rachel Monique; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Gandi Agusniadi
Abstrak: Berdasarkan laporan WHO 2013, kasus TB ekstra paru di Indonesia mengalami peningkatan dari 14.054 tahun 2012 menjadi 15.697 tahun 2013. Salah satu rumah sakit yang mencatat adanya peningkatan kasus TB ekstra paru adalah RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan TB ekstra paru pada pasien rawat inap TB di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2011-2013.
 
Penelitian ini menggunakan rekam medis dengan desain studi kasus kontrol. Sampel penelitian ini meliputi kasus yaitu, pasien rawat inap TB ekstra paru tahun 2011-2013 serta kontrol yaitu, pasien rawat inap TB paru tahun 2011-2013 dengan rekam medis yang tercatat lengkap.
 
Hasil penelitian menunjukkan proporsi kasus TB ekstra paru tertinggi berdasarkan organ terjangkit adalah TB tulang dan sendi sebesar 60%. Setelah TB ekstra paru dihubungan dengan beberapa variabel, umur < 25 tahun (OR: 19,36; 95% CI: 4,90-76,44) dan 25-50 tahun (OR: 4,40; 95% CI: 1,42-13,62), riwayat DM (OR: 0,08; 95% CI: 0,02-0,37) dan riwayat hipertensi (OR: 0,17; 95% CI: 0,03-0,81) secara statistik memiliki hubungan bermakna dengan TB ekstra paru, tetapi riwayat DM dan riwayat hipertensi menjadi faktor proteksi terhadap TB ekstra paru.
 
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait faktor-faktor yang berperan terhadap TB ekstra paru, memberikan perhatian khusus kepada pasien yang lebih berisiko dalam diagnosis, serta promosi kesehatan kepada masyarakat agar lebih menyadari bahwa TB dapat menyerang organ lain selain paru-paru yang akan berdampak serius jika tidak ditangani segera, khususnya mereka yang termasuk kelompok berisiko.
 

Based on the WHO report 2013, extra-pulmonary TB cases in Indonesia have increased from 14.054 in 2012 to 15.697 in 2013. One of hospitals which get an increase of extra-pulmonary TB cases is National Center General Hospital Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, so, this study ultimately aims to identify risk factors that associated with extra-pulmonary TB to TB hospitalized patients in National Center General Hospital Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta 2011-2013.
 
This study is using medical records with the design of case-control study. Samples of this study include the case is extra-pulmonary TB hospitalized patients 2011-2013 while control is pulmonary TB hospitalized patients in 2011-2013. Both case and control must have complete medical records.
 
The results showed that the highest proportion of extrapulmonary TB cases by an affected organ is tuberculosis of bones and joints by 60%. After connecting extra-pulmonary TB with several variables, age < 25 years (OR: 19,36; 95% CI: 4,90-76,44) and 25-50 years (OR: 4,40; 95% CI: 1,42-13,62), history of diabetes (OR: 0,08; 95% CI: 0,02-0,37) and history of hypertension (OR: 0,17; 95% CI: 0,03-0,81), they statistically had significant association with extra-pulmonary TB, but a history of diabetes mellitus and a history of hypertension be protective factors against extra-pulmonary TB.
 
Therefore, it is advisable to do further research related to the factors that contribute to extra-pulmonary TB, giving special attention to patients who are more at risk in making the diagnosis, and doing health promotion to the public to be more aware that TB can affect other organs beside the lungs that would have a serious impact if it is not treated promptly, especially for the risky ones
Read More
S-8319
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arif Masnjoer; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Yunis Miko Wahyono, Rudiyanto Sedono
Abstrak: Hasil. Median kesintasan lama rawat intensif 43 jam. Nilai skor EuroSCORE tidak memenuhi asumsi hazard proporsional. Model baru telah dibuat dari 7 variabel EuroSCORE yang secara substansi berhubungan dengan lama rawat intensif (AUC 0,67). Kesimpulan. Model baru dari tujuh faktor EuroSCORE cukup dapat memprediksi lama rawat intensif 48 jam. Kata Kunci: Model prediksi, lama rawat intensif, bedah jantung, regresi Cox
Read More
T-4221
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shafira Rahmania; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Wisesa Soetisna, Rudyanto Sedono
Abstrak:
Penyakit kardiovaskular, khususnya penyakit arteri koroner (Coronary Artery Disease/CAD), merupakan salah satu penyebab utama kematian global. Bedah pintas arteri koroner (Coronary Artery Bypass Graft/CABG) merupakan salah satu intervensi utama untuk CAD yang bertujuan mengurangi morbiditas dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Namun, perawatan intensif yang berkepanjangan pasca CABG dapat berdampak negatif terhadap luaran kondisi pasien dan beban sumber daya kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesintasan pasien pasca bedah pintas arteri koroner (CABG) untuk keluar dari ICU dalam waktu ≤48 jam dan mengembangkan model skoring prediksi lama rawat intensif. Studi menggunakan desain kohort retrospektif dengan data sekunder dari registri bedah jantung dewasa di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita periode Januari 2019 – Agustus 2024. Analisis mencakup univariat, bivariat (log-rank dan uji Cox proportional hazard), serta multivariat untuk memperoleh model prediksi terbaik. Hasil menunjukkan bahwa faktor faktor usia (adjHR 1.22; 95% CI 1.12-1.32), stroke (adjHR 1.29), gangguan fungsi ginjal berat (adjHR 1.51); gangguan fungsi ginjal sedang (adjHR 1.89), fungsi jantung normal (adjHR 1.80), kondisi kritis pre-operasi (adjHR 3.37), disfungsi jantung sedang (adjHR 1.85), disfungsi jantung ringan (adjHR 2.51), fungsi jantung normal (adjHR 3.03); mengalami infark miokard >21 hari pre-operasi (adjHR 1.35); tidak pernah mengalami infark miokard (adjHR 1.36); dan status prosedur elektif (adjHR 1.36) sebagai prediktor signifikan perawatan ICU ≤48 jam. Model skoring yang dikembangkan memiliki nilai AUC 68,87%, dengan titik potong skor ≥14 menunjukkan prediksi keberhasilan pasien menyelesaikan perawatan ICU dalam waktu ≤48 jam pasca operasi CABG. 

Cardiovascular diseases, particularly coronary artery disease (CAD), are among the leading causes of global mortality. Coronary Artery Bypass Graft (CABG) surgery is one of the primary interventions for CAD, aimed at reducing morbidity and improving patients' quality of life. However, prolonged intensive care post-CABG can negatively impact patient outcomes and place a burden on healthcare resources. This study aims to analyze factors influencing the survival of post-CABG patients to leave the ICU within ≤48 hours and to develop a scoring model for predicting intensive care length of stay. The study employed a retrospective cohort design using secondary data from the adult cardiac surgery registry at RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita from January 2019 to August 2024. The analysis included univariate, bivariate (log-rank and Cox proportional hazards tests), and multivariate approaches to obtain the best predictive model. Results identified are age (adjHR 1.22; 95% CI 1.12–1.32), stroke (adjHR 1.29), severe renal dysfunction (adjHR 1.51), moderate renal dysfunction (adjHR 1.89), normal cardiac function (adjHR 1.80), critical preoperative condition (adjHR 3.37), moderate cardiac dysfunction (adjHR 1.85), mild cardiac dysfunction (adjHR 2.51), normal cardiac function (adjHR 3.03), myocardial infarction >21 days preoperatively (adjHR 1.35), no history of myocardial infarction (adjHR 1.36), and elective procedure status (adjHR 1.36) as significant predictors for ICU stays ≤48 hours. The developed scoring model achieved an AUC of 68.87%, with a cutoff score of ≥14 indicating successful prediction of ICU discharge within ≤48 hours post-CABG surgery
Read More
T-7179
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uly a Qoulan Karima; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Ns. Palestina Gultom
S-7891
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jauhari Oka Reuwpassa; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, K. Rachmadi
S-7076
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mochamad Aldis Ruslialdi; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Gandi Agusniadi
Abstrak: HIV/AIDS berdampak kepada peningkatan kerentanan terkena infeksi penyakitlain yang berujung kepada kematian. Menurut UNAIDS, Indonesia termasuk kedalam daftar negara dengan kematian akibat AIDS tidak mengalami penurunan ataulaju penurunannya kurang dari 25%. Penelitian ini merupakan penelitian observasional, dengan desain cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian dan faktor atau determinan utama yang berhubungan dengan kematian berkaitan AIDS pada pasien HIV/AIDS di unit rawat inap Rumah SakitCipto Mangunkusumo pada tahun 2008-2012. Sampel penelitian ini sebanyak 207pasien. Data pasien diambil dengan memanfaatkan data rekam medis pasien untukmelihat variabel independen yang terdiri dari jenis kelamin, umur, pekerjaan, kadarCD4, faktor risiko penularan, jumlah penyakit yang diderita, status gizi, riwayatgangguan syaraf pusat, riwayat konsumsi obat ARV, dan kondisi psikologis untuknantinya dihubungkan dengan status kematian pasien HIV/AIDS. Analisis datadilakukan hingga analisis multivariat dengan model prediksi. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kematian AIDS sebesar 28,5%. Dari hasil analisis multivariatdidapatkan 4 variabel yang berhubungan dengan kematian AIDS, yaitu status gizikurang dari normal (OR=4,75) dengan 95% CI (2,278-9,917), riwayat gangguansyaraf pusat (OR=1,82) dengan 95%CI (1,025-3,251), jumlah penyakit yang dideritalebih dari 5 penyakit (OR=4,09) dengan 95%CI (1,854-9,043), dan kadar CD4. KadarCD4 menjadi faktor paling berpengaruh terhadap kematian AIDS dengan nilai ORsebesar 5,9 dengan 95%CI 2,096-17,106. Dari hasil penelitian ini dapat direkomendasikan upaya peningkatan awarenessakan pentingnya kontrol kadar CD4 darah untuk pasien HIV/AIDS dan upaya pendukung lainnya untuk mencegah kematian AIDS seperti peningkatan kualitas gizi pasien AIDS, skrining dan deteksidini gangguan syaraf pusat, dan pencegahan komplikasi penyakit. Kata kunci: HIV/AIDS, Kematian, kadar CD4, determinan utama
HIV/AIDS impact to increased susceptibility to other diseases infections whichlead to death. The death of AIDS is also a problem, especially in Indonesia.According to UNAIDS, Indonesia is included in the list of countries where deathsfrom AIDS do not decline or rate of less than 25% of his descent. This research isobservational research, design with cross sectional. This research aims to know thedescription and the main factors which related to mortality of AIDS HIV/AIDS ininpatient unit RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo in 2008-2012. The sample of thisresearch are 207 patients. Data collected by utilizing the patient's medical record datato see the independent variables consisted of gender, age, job, CD4 levels, risk factorsof transmission, the amount of illness suffered, nutritional status, history of centralnervous disorders, drug consumption history ARV consumption, and psychologicalconditions to be linked with the status of a patient's death related with HIV/AIDS.The data analysis done to multivariate analysis with prediction model. The resultsshowed that the AIDS death prevalence reach up to 28.5%. The results ofMultivariate analysis obtained 4 variables related to the death of AIDS, poornutritional status (OR=4,75) with 95% CI (2,278-9,917), central nervous disorderhistory (OR=1,82) with 95% CI (1,025-3,251), the number of illnesses suffered morethan 5 disease (OR=4,09) with 95% CI (1,854-9,043), and CD4 levels. CD4 levelsbecame the most influential factors towards AIDS deaths with a value of 5, 9 OR and95% CI (2,096-17,106). From the results can be recommended the efforts toincreased awareness toward control CD4 blood levels for HIV/AIDS patients andother supporting efforts to prevent deaths of AIDS such as improved quality ofnutrition AIDS patients, screening and early detection of central nervous disorders,and prevention of complications of the disease.Keywords: HIV/AIDS, Death, CD4 level, main determinant
Read More
S-8097
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hadiki Habib; Promotor: Mondastri Korib Sudaryo; Kopromotor: Besral, Martin Rumende; Penguji: Evi Martha, Syahrizal, Soroy Lardo;Tri Martani, Syamsul Maarif
Abstrak:
Rawat inap dan kematian di rumah sakit karena pneumonia meningkat pada saat pandemi COVID-19, baik karena COVID-19 maupun patogen lain dan perlu diidentifikasi faktor-faktor risikonya. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis secara bersamaan hubungan berbagai determinan biologi, gaya hidup, lingkungan dan pelayanan kesehatan terhadap sintas rawat inap pasien pneumonia pada masa pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan disain campuran. Pertama, dilakukan studi kuantitatif kohort retrospektif menggunakan analisis regresi cox, analisis interaksi dilakukan dengan metode stratifikasi dan multiplikasi. Data subjek penelitian diambil secara sampling acak sederhana dari rekam medis pasien pneumonia yang dirawat pada masa pandemi COVID-19 Mei 2020-Desember 2021 di RS dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Kedua, dilakukan studi kualitatif sequential explanatory dengan disain studi kasus. Informasi dikumpulkan melalui wawancara mendalam bersama enam orang informan untuk menjelaskan dinamika determinan kesehatan dengan sintas rawat inap dari perspektif ketahanan rumah sakit. Terdapat 1945 subjek pneumonia, insiden kematian saat rawat inap 34,1%. Determinan biologi yang berhubungan dengan peningkatan risiko kematian adalah kondisi awal pneumonia berat (HR 1,8;IK95% 1,38-2,43), skor CCI ≥2 (HR 1,5;IK95% 1,16-2,08). komplikasi ≥2 (HR 5,9; 95%IK 2,9-11,9), tren kematian rawat inap meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Risiko kematian lebih rendah ada pada subjek dengan infeksi utama organ selain paru (HR 0,4;IK95% 0,35-0,51). Determinan pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan peningkatan risiko kematian adalah intubasi (HR 1,6;IK95% 1,27-2,05) dan lama tunggu di IGD ≥8 jam (HR1,4;IK95% 1,12-1,63), risiko kematian lebih rendah ada pada subjek yang mendapat perawatan intensif (HR 0,3;IK95% 0,25-0,41), terapi antikoagulan (HR 0,3;IK95% 0,27-0,44) dan terapi steroid pada pneumonia non-COVID-19 kondisi berat (0,7;IK95% 0,5-0,9). Pada subjek pneumonia COVID-19, risiko kematian selama rawat inap lebih rendah jika mendapatkan antibiotik empiris (HR 0,4;IK95% 0,26-0,58), terapi antikoagulan (HR 0,3;IK95% 0,23-0,4), dan terapi antivirus (HR 0,4;IK95% 0,3-0,5). Steroid (HR 0,4;IK95% 0,3-0,6), terapi plasma konvalesens (HR 0,2;IK95% 0,08-0,57), dan terapi anti interleukin-6 (HR 0,7; IK95% 0,46-1,03) menurunkan risiko kematian rawat inap pada pneumonia COVID-19 berat. Ketangguhan rumah sakit terjaga dengan adanya kebijakan zonasi, penerapan prinsip mitigasi risiko, dan modulasi layanan sesuai azas proporsionalitas, jejaring rumah sakit membantu mengurangi beban finansial melalui pemberian donasi atau hibah. Kerentanan rumah sakit antara lain kerapuhan infrastruktur, kecepatan kembali ke layanan reguler lebih lambat, rasa takut tenaga kesehatan dan triase pra-rumah sakit belum berjalan. Tidak terdapat ineraksi antara variabel etiologi pneumonia dengan fase lonjakan kasus, dan tidak terdapat interaksi antara variabel etiologi pneumonia dengan lama tunggu di IGD. Determinan biologi, lingkungan dan pelayanan kesehatan berhubungan dengan sintas rawat inap pasien pneumonia pada masa pandemi COVID-19. Ketahanan rumah sakit perlu dinilai dengan melihat dampak pandemi terhadap kematian pneumonia COVID-19 maupun pneumonia non-COVID-19. Pengelolaan lonjakan kasus akibat pandemi COVID-19 perlu mempertimbangkan prinsip zonasi, modulasi layanan yang proporsional, kesiapan psikologis tenaga kesehatan, kondisi finansial rumah sakit, dan kesiapan infrastruktur. Triase pra-rumah sakit merupakan faktor eksternal yang membantu meningkatkan ketahanan rumah sakit.

Hospital admissions and mortality due to pneumonia increased during the COVID-19 pandemic, both due to COVID-19 and other pathogens, Thus, risk factors need to be identified. The research was conducted to simultaneously analyze the relationship between various biological, lifestyle, environmental and health service determinants on the survival rate of pneumonia patients during the COVID-19 pandemic. This research uses mixed methods design. First, a quantitative retrospective cohort study was performed using cox regression analysis, interaction analysis was carried out using stratification and multiplication methods. Simple random sampling was done from medical records list of pneumonia patients who were treated during the COVID-19 pandemic in May 2020December 2021 at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. Second, a sequential explanatory qualitative study was performed with a case study design. Information was collected through in-depth interviews of six informants to explain the dynamics of health determinants and inpatient survival from a hospital resilience perspective. There were 1945 subjects, the incidence of mortality during hospitalization was 34.1%. Biological determinants associated with an increased risk of mortality were initial conditions of severe pneumonia (HR 1,8; CI95% 1,38-2,43), CCI score ≥2 (HR 1,5; CI95% 1,16-2,08), complications ≥2 (HR 5,9; 95%CI 2,9-11,9), the trend of inpatient mortality increases with increasing age. The risk of death was lower in subjects with primary infection of organs other than the lungs (HR 0,4; 95% CI 0,35-0,51). Determinants of health care that are associated with an increased risk of death are intubation (HR 1,6; 95% CI 1,27-2,05) and waiting time in the ER ≥8 hours (HR 1,4; 95% CI 1,12-1,63), mortality risk was lower in subjects who received intensive care (HR 0,3;95%CI 0,25-0,41), anticoagulant therapy (HR 0,3;95%CI 0,27-0,44) and steroid therapy in severe non-COVID-19 pneumonia (0,7; 95%CI 0,5-0,9). In COVID-19 pneumonia subjects, the risk of death during hospitalization was lower if they received empiric antibiotics (HR 0,4; 95%CI 0,26-0,58), anticoagulant therapy (HR 0,3; 95%CI 0,23-0,4), and antiviral therapy (HR 0,4;95% CI 0,3-0,5). Steroids (HR 0,4; CI95% 0,3-0,6), convalescent plasma therapy (HR 0,2; CI95% 0,08-0,57), and anti-interleukin-6 therapy (HR 0,7; IK95% 0,46-1,03) reduces the risk of inpatient death in severe COVID-19 pneumonia. Hospital resilience is maintained by having zoning policies, implementing risk mitigation principles, and modulating services according to the principle of proportionality. Hospital networks help reduce financial burdens through providing donations or grants. Hospital vulnerabilities include the fragility of infrastructure, slower process of return to regular services, fearness among health workers and pre-hospital triage not adequately performed. There was no interaction between the pneumonia etiology variable and the surge phase of cases, and there was no interaction between the pneumonia etiology variable and the length of stay in the ER. Biological, environmental and health service determinants are associated to the inpatient survival rate of pneumonia during the COVID-19 pandemic. Hospital resilience needs to be assessed by looking at the impact of the pandemic on mortality from COVID-19 pneumonia and non-COVID-19 pneumonia. Management of the surge capacity due to the COVID-19 pandemic needs to consider zoning principles, proportional service modulation, psychological readiness of health workers, financial condition of hospitals, and infrastructure readiness. Prehospital triage is an external factor that helps improve hospital resilience. Keywords : Pneumonia; COVID-19; Pandemic; survival; hospital resilience

Read More
D-526
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive