Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36061 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sonda Nur Assyaidah; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Toha Mohaimin, Ahmad Syafiq, Nurhalina Afriana, Ovi Norfiana
Abstrak: Industri jasa layanan seks ada di Indonesia dan dikenal sebagai sumber penularan HIV dan IMS. Upaya pencegahan penularan HIV salah satunya melalui tes HIV. Tes HIV dapat memperluas layanan HIV yang meliputi perawatan, dukungan, dan pengobatan pada waktu yang tepat. Akan tetapi, masih banyak WPS yang belum bersedia memanfaatkan pelayanan tes HIV padahal tes ini sudah disediakan gratis begitu pula dengan pengobatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan komprehensif HIV/AIDS dan persepsi berisiko terkena HIV terhadap pemanfaatan layanan tes HIV pada WPS baik WPSL maupun WPSTL di DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian mix method (kuantitatif dan kualitatif) dengan desain Sequential Explanatory. Sampel pada penelitian ini adalah WPS berjumlah 447 orang dan 12 informan. Terdapat variasi pengaruh pengetahuan dan persepsi terhadap pemanfaatan layanan tes. Pengetahuan komprehensif mempunyai faktor proteksi 0,50 kali untuk memanfaatkan layanan tes HIV. Artinya, WPS yang tidak memiliki pengetahuan komprehensif lebih berpeluang untuk melakukan pemanfaatan layanan tes HIV, dibandingkan dengan WPS yang memiliki pengetahuan komprehenshif. Sedangkan persepsi berisiko terkena HIV mempunyai faktor proteksi 0,48 kali untuk melakukan pemanfaatan layanan tes HIV. Artinya, WPS yang tidak memiliki persepsi berisiko terkena HIV lebih berpeluang untuk melakukan pemanfaatan layanan tes HIV, dibandingkan dengan WPS yang memiliki persepsi berisiko terkena HIV.
Kata kunci : Pemanfaatan Layanan, Tes HIV, Wanita Pekerja Seks

Sex services industry is in Indonesia and known as a source of HIV and STI transmission.Prevention of HIV transmission one of them is HIV testing. HIV testing can expand HIV services that include care, support, and treatment in a timely manner. However, there are still many FSWs who are not willing to take advantage of HIV testing services, whereas this test has been provided free of charge as well as the treatment. This study aims to determine relationship between comprehensive knowledge of HIV/AIDS and risk perceptions of HIV to the use HIV testing services in WPS both WPSL and WPSTL in DKI Jakarta. This research is mix method (quantitative and qualitative) with Sequential Explanatory design. Samples in this study were WPS amounted to 447 people and 12 informants. There are variations in the influence of knowledge and perceptions on the utilization of test services. Comprehensive knowledge of HIV/AIDS has a protection factor of 0.50 times to take advantage of HIV testing services. That is, WPS who do not have comprehensive knowledge of HIV/AIDS more likely to make use of HIV testing services, compared with WPS with comprehensive knowledge of HIV/AIDS. While risk perceptions of HIV have a protection factor of 0.48 times to make use of HIV testing services. That is, WPS who do not have perceptions at risk of HIV are more likely to utilize HIV testing services, compared to female sex workers who have a risk perception of HIV.
Keywords: Service Utilization, HIV Test, Female Sex Worker
Read More
T-5423
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Etrina Eriawati; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono
T-3352
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kanti Lituhayu; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Moch. Ichwan
Abstrak: Wanita Pekerja Seks (WPS) merupakan populasi yang beresiko tinggi untuk terjadinya infeksi HIV/AIDS sampai sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan determinan konsistensi pemakaian kondom untuk mencegah HIV/AIDS pada WPSTL/Pelanggannya. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan menggunakan data sekunder Survey Cepat Perilaku DKI Jakarta, jumlah sample adalah 240 responden.

Hasil penelitian ini menemukan dari seluruh variabel pada studi ini faktor yang berhubungan dengan penggunaan kondom yang konsisten adalah : menawarkan kondom (OR= 19,539 95% CI 8,701-43,876), ketersedian kondom ( OR= 0 95% CI 0) dan pasangan seks (OR= 0,110 95% CI 0,057- 0,211).

Penelitian ini merekomendaksikan adanya outlet kondom pada tempat tertentu yang mobile agar WPSTL dapat mengakses dan mendapatkan kondom secara berkala.

Kata kunci: Human Immunodeficiency Virus (HIV), Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung (WPSTL), Kondom, Survei Cepat Perilaku (2013)

Female Sex Workers (FSW) is a high-risk population for infection HIV/AIDS until now. This study aims to explore the determinant consistency of condom use to prevent HIV/AIDS in FSW / client. This study used cross sectional study design by using Rapid Behavior Survey among key population at DKI Jakarta with total sample 240 respondents.

This study found of all variables in this study factors associated with consistent condom use is: to offer condoms (OR = 19.539 95% CI 8.701 to 43.876), the availability of condoms (OR = 0. 95% CI 0) and sexual partners (OR = 0.110 95% CI 0.057 to 0.211).

The study recommended to provide condom outlets in certain specific places to give more access for condom to WPSTL regularly.


Keywords: Female Sex Workers Indirect, condoms, HIV/AIDS, Rapid Behavior Survey
Read More
S-9272
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titi Nurhayati; Pembimbing: Ahmad Syafiq, Pandu Riono; Penguji: Toha Muhaimin, Bona Simanungkalit, Irwan M. Hidayana
Abstrak:

Wanita pelacur adalah salah satu kelompok resiko tinggi untuk tertular lnfeksi Menular Seksual termasuk HIV/AIDS. Hal ini mengingat perilaku seksual yang tidak aman dengan berganti pasangan. Mereka menjaja seks di jalanan sehingga dianggap mengganggu ketertiban umum kemudian ditertibkan oleh aparat (digaruk) untuk dikirim ke panti rehabilitasi sosial. Rehabilitasi tidak selalu berjalan efektif karena terlihat setelah keluar dari panti mereka kembali ke jalan. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk melakukan optimalisasi peran panti sosial. Tujuan penelitian: mendapatkan gambaran tentang proscs rehabilitasi sosial yang dilakukan di kedua panti, gambaran tentang persepsi dan tingkat pcngctahuan tentang HIWAIDS, serta proses rehabilitasi sosial yang sedang dijalaninya. Metodologiz penelitian ini dilakukan studi deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan studi kepustakaan, sedangkan studi kualitatif dengan cara wawancara mendalam yang dilakukan di Panti Rehabilitasi Sosial Marga Rahayu dan Mulya Jaya Jakarta sejak April-Juni 2008. Hasil: Gambaran karakteristik penghuni dengan rentang usia 16-49 tahun. Tingkat pengetahuan tentang HIV masih rendah. Pada umumnya menikah dan berasal dari Jawa Barat, mobilisasi 26,6 persen, pernah dibina lebih dari 2 kali 63 persen, persepsi tentang rehabilitasi sosial mereka mengetahui tentang kegiatan panti, tentang peratunan dan sanksi, (sanksi yang dilakukan banyak yang tidak tertulis) sebagian besar merasa senang dengan keterampilan, 72,3 persen berpozensi kembali lurun ke jalan. Hal ini menggambarkan efektifitas peran panti untuk teljadinya perubahan perilaku untuk tidak kembali menjadi pelacur. Saran: Bagi Penghuni hendaknya menngkatkan kesadaran pentingnya pencegahan untuk tidak tertular dan menularkan penyakit kepada orang lain akibat perilaku seksual yang tidak aman, dan meningkatkan keterampilan hidup (LW Skill) untuk dimanfaatkan agar tidak kembali ke jalan.Bagi panti perlu mengajarkan IW skill yang berorientasi pada kebutuhan individu dan upaya promotif tentang HIV/AIDS khususnya umumnya tentang kesehatan rcproduksi di panti jangka panjang dcngan meningkatkan kerjasama Iintas sektoral dalam rangka penyaluran penghuni setelah selesai menjalani rehabiiitasi sosial. Untuk akademisi hendaknya melakukan Studi kualitatif mengapa mereka kembali kejalan.


 

The prostitute is one of the groups that have the highest risk to be infected by Sexually Transmitted Infection including HIV/AIDS (Human lmmunodejiciemy Virus/ Acquired Immune Deficiency Syndrome) unsafe sexual behavior by changing partner. They try to offer sexual relation on the street and it bothers public order. If it is happened, they are usually arrested by the social oflicers and are sent to the social rehabilitation center. The rehabilitation does not always run effectively. We can see after they followed the rehabilitation program, they go back to the street. This problem becomes a challenge for the govemment to do the maximum part of social center/house. The aim of the research : To get the description about the process ofthe social rehabilitation which is done in both of the houses, the description about perception and thc knowicdgc of HIV / AIDS, also social rehabilitation process that is running. Methodology: This research is done in description study through interview technique, observation and literature study. Qualitative study through depth interview is done in both of Social Rehabilitation Center Marga Rahayu and Mulya Jaya Jakarta since April-June 2008. Result: inhabitant in that place are between I6 - 49 years old. Their knowledge of HIV is not maximum. Most of them are married and came fiom West Java, mobilization 26, 6 percent, has rehabilitated more than twice are 63 percent. Their perception about social rehabilitation are the activities, the rules, and punishment of the house (most of the punishments were unwritten). Most of them are happy because they can get some skills hom the social center. And 72,3 percent is potential to go back to the street. Those things describe the effectively of the social center in order to change the prostitute’s behavior and try to make them not go back to thc street to become a prostitute again. Suggestion: The writers suggest the inhabitant to do the safe-sex to make them healthy and are not infected by HIV. And for the For the house, needs to teach life skill which has orientation in individual need and promotion effort especially about HIV/AIDS, and generally about reproduction healthy for long term by increasing cooperation among the sectors. The house also has to think where the prostitute must go afier following the program in social rehabilitation. And for the researcher they can do some researches why the ex-inhabitants of the social control go back to the street.

Read More
T-2950
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fransiska Yuniati Demang; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Nurhalia Afriana, Rahmawati
Abstrak: Tes HIV merupakan gerbang utama dalam rangkaian penanganan kasus HIV. Diketahuinya status HIV seseorang akan meningkatkan upaya pencegahan pada orang yang belum terinfeksi HIV dan membantu orang yang terinfeksi untuk segera mengakses layanan pengobatan. Berdasarkan laporan STBP tahun 2015 Lelaki potensial berisiko tinggi merupakan kelompok kunci yang memiliki prevalensi tes HIV paling rendah. Orang yang memiliki persepsi berisiko tertular penyakit akan cenderung untuk mengakses layanan kesehatan untuk mengetahui status kesehatannya, dan persepsi berisiko tertular HIV diduga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan tes HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh persepsi berisiko tertular HIV terhadap perilaku tes HIV pada lelaki potensial berisiko tinggi. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder STBP tahun 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 4.898 orang yang diambil dari 12 kab/kota di Indonesia. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada pengaruh persepsi berisiko tertular HIV terhadap perilaku tes HIV pada lelaki potensial berisiko tinggi dengan (OR: 0.9 and 95% CI 0.5-1.5).
Read More
T-4960
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dilla Yulian Chaniago; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Astuti
Abstrak: Angka penularan HIV/AIDS masih terus bertambah pada saat ini. Penggunaan akun alterego di twitter telah menjadi salah satu media untuk transaksi seksual. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pencegahan HIV/AIDS. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dan menggunakan data primer. Hasil analisis inferens dengan uji chisquare menunjukkan tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan (nilai p = 0,519; POR = 1,42; 95% CI = 0,48 - 4,23) dan sikap (nilai p = 0,285; POR = 0,58; 95% CI = 0,26 - 1,33) terhadap perilaku pencegahan HIV/AIDS. Namun analisis menunjukkan terdapat hubungan antara usia (nilai p = 0,030; POR = 0,33; 95% CI = 0,13 - 0,83), status pekerjaan (nilai p = 0,045; POR = 0,38; 95% CI = 0,16 ? 0,90), dan status perkawinan (nilai p = 0,020; POR = 0,11; 95% CI = 0,01 ? 0,93) terhadap perilaku pencegahan HIV/AIDS. Program dan pelayanan kesehatan perlu melakukan penjangkauan pemberian pendidikan dan promosi kesehatan terkait HIV/AIDS pada pengguna akun alter-ego di twitter dengan memaksimalkan penggunaan internet serta sosial media misalnya mengadakan webinar terkait HIV/AIDS dan memperkuat kolaborasi dengan lintas sektor lainnya seperti perusahaan, dinas kesehatan setempat, LSM dan lainnya.
The rate of transmission of HIV/AIDS is still increasing at this time. The use of alter-ego accounts on Twitter has become a medium for sexual transactions. This study aims to identify the relationship between the level of knowledge and attitudes towards HIV/AIDS prevention behavior. This study is a quantitative study with a cross-sectional design and uses primary data. The results of the inference analysis using the chi-square test showed that there was no relationship between the level of knowledge (p value = 0.519; POR = 1.42; 95% CI = 0.48 - 4.23) and attitude (p value = 0.285; POR = 0 ,58; 95% CI = 0.26 - 1.33) on HIV/AIDS prevention behavior. However, the analysis showed that there was a relationship between age (p value = 0.030; POR = 0.33; 95% CI = 0.13 - 0.83), employment status (p value = 0.045; POR = 0.38; 95% CI = 0.16 ? 0.90), and marital status (p value = 0.020; POR = 0.11; 95% CI = 0.01 ? 0.93) on HIV/AIDS prevention behavior. Health programs and services need to outreach the provision of education and health promotion related to HIV/AIDS to alter-ego account users on Twitter by maximizing the use of the internet and social media, for example holding webinars related to HIV/AIDS and strengthening collaboration with other cross-sectors such as companies, health offices local, NGOs and others.
Read More
S-11144
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Donna Pratiwi; Pembimbing: Kemal N. Siregar; Penguji: Toha Muhaimin, Husein Habsyi, Baby Jim Aditya
Abstrak: Latar Belakang Laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon menyebutkan tahun 2012 terdapat 637 kasus HIV, tahun 2013 meningkat menjadi 707 kasus dan tahun 2014 meningkat menjadi 805 kasus HIV. Hal ini terjadi karena adanya penularan HIV melalui transmisi seksual, termasuk pada kelompok WPS sebagai salah satu kelompok yang rentan terhadap penularan HIV. Estimasi jumlah WPS di Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon tahun 2016 sebanyak 720 WPS, namun hanya 67% saja yang memanfaatkan layanan tes HIV. Salah satu penyebab keengganan WPS dalam melakukan tes HIV adalah merasa dirinya berisiko rendah terhadap penularan HIV. Pemanfaatan layanan tes HIV oleh WPS pada penelitian ini dapat dipelajari melalui teori Health Belief Model. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara persepsi berisiko HIV/AIDS dengan pemanfaatan layanan tes HIV pada WPS di Cirebon tahun 2017. Metode Penelitian menggunakan rancangan crossectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 94 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan skala sikap untuk mengukur persepsi berisiko HIV. Hasil Pemanfaatan layanan tes HIV pada WPS di Cirebon mencapai 84%. Didapat 43.6% responden memiliki persepsi berisiko HIV tinggi. Berdasarkan analisis bivariat status perkawinan menikah/cerai hidup/cerai mati berhubungan dengan pemanfaatan layanan tes HIV (p = 0.031). Berdasarkan analisis multivariat didapat tidak ada hubungan antara persepsi berisiko HIV tinggi pada WPS dengan pemanfaatan layanan tes HIV setelah dikontrol dengan variabel status perkawinan (p = 0.513, OR = 1.49). Kesimpulan Sebagian besar WPS sudah memanfaatkan layanan tes HIV baik pada WPS yang memiliki persepsi berisiko HIV tinggi maupun persepsi berisiko HIV rendah
Read More
T-6007
Depok : FKM UI, 1998
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghea Sugiharti; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mieke Savitri, Yovsyah, Emah Rohaemah
T-5477
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Monika Sihombing; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Anwar Hassan, Dini Wahyudini
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menggali faktor predisposisi, pemungkin dan pendorong yang berhubungan dengan keberhasilan dan kegagalan WPS melakukan negosiasi pemakaian kondom di lokalisasi Rawa Malang, Jakarta Utara. Desain studi adalah studi kualitatif dengan 8 informan yaitu WPS berpendidikan tinggi dan rendah pada informan WPS pemakai kondom an yang bukan pemakai kondom. Digunakan teknik wawancara mendalam dan dilakukan triangulasi sumber data pada informan kunci serta triangulasi analisis oleh pakar. Umur, pengetahuan, sikap, penghasilan, ketersediaan/akses kondom, kenyamanan pelanggan, tenaga kesehatan dan mucikari berpengaruh positif terhadap keberhasilan perilaku negosiasi.Terkait HIV/AIDS serta praktik pemakaian kondom.Disarankan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap WPS.
Read More
S-8749
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Dachlia; Pembimbing: Toha Muhaimin
T-797
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive