Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34781 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lyda Amalia; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Dwi Sulistyowati
Abstrak: HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, karena terus terjadi peningkatan kasus setiap tahunnya. Berdasarkan Infodatin AIDS 2016, bahwa DKI Jakarta merupakan provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi. Dari tahun 2014 sampai tahun 2016, terjadi peningkatan insiden HIV di Puskesmas Kecamatan Tanah Abang. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui determinan yang berhubungan dengan status HIV/AIDS pasien di Poli VCT (Voluntary Counselling and Testing) Puskesmas Kecamatan Tanah Abang Tahun 2017. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berasal dari data pasien di Poli VCT yang sudah terinput ke SIHA (Sistem Informasi HIV dan AIDS) pada bulan Januari sampai Desember tahun 2017. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel seluruh pasien di Poli VCT yang memenuhi kriteria inklusi. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah sampel adalah 1229 sampel. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai Mei tahun 2018 di Puskesmas Kecamatan Tanah Abang. Analisis dalam penelitian ini adalah univariat, bivariat dan stratifikasi. Hasil analisis menunjukan variabel yang berhubungan bermakna dengan status HIV/AIDS adalah jenis kelamin (P= 0,000), tingkat pendidikan (P= 0,007), pekerjaan (P= 0,025), status perkawinan (P= 0,009 dan P=0,022), status penyakit sifilis (P= 0,000), hubungan anal seks berisiko (P= 0,032), dan bergantian peralatan suntik (P= 0,000). Variabel jenis kelamin merupakan variabel confounding pada hubungan vagina seks berisiko dengan status HIV/AIDS (P-Interaksi= 0,371 , Perubahan PR= 11,36%). Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, status penyakit sifilis, hubungan anal seks berisiko, bergantian peralatan suntik dengan status HIV/AIDS, dan jenis kelamin merupakan variabel confounding pada hubungan vagina seks berisiko dengan status HIV/AIDS.
Kata Kunci : Pasien di Poli VCT; Determinan HIV/AIDS, Status HIV/AIDS

HIV/AIDS is a serious public health problem because its incidence continues to raise each year. Based on AIDS Infodatin 2016, it is found that DKI Jakarta is the province with the highest number of HIV cases. Since 2014 to 2016, there is an increased of incidence of HIV in Primary Health Center Tanah Abang. The purpose of this study is to know the determinants related to HIV / AIDS patients status at VCT (Voluntary Counseling and Testing) Primary Health Center Tanah Abang in 2017. This study used a secondary data derived from patient data in Polyclinic VCT which had been computed to SIHA (System Information on HIV and AIDS) from January to December 2017. This study used a crosssectional design with a sample of all patients in VCT Polyclinic who met the inclusion criteria. The sampling method used is total sampling with total sample is 1229 samples. The study was conducted from April to May 2018 at Primary Health Center Tanah Abang. The analysis in this study is univariate, bivariate and stratification. The results of the analysis showed significant variables with HIV/AIDS status were sex (P = 0,000), education level (P = 0.007), occupation (P = 0.009), marital status (P = 0.009 and P = 0.022), syphilis status (P = 0.000), risky anal sex relationship (P = 0.032), and sharing injection equipment (P = 0,000). Sex variables are confounding variables in risky vaginal sex relationship with HIV/AIDS status (P-Interaction = 0.371, PR change = 11.36%). This study concluded that there is a relationship between sex, education level, occupation, marital status, syphilis status, risky anal sex relationship, sharing injection equipment with HIV/AIDS status, and sex is a confounding variable on risky vaginal sex relationship with status HIV/AIDS.
Keywords: VCT Patients; Determinants of HIV/AIDS; HIV/AIDS Status
Read More
S-9869
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Nurlina; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Nurhayati Adnan; Penguji: Victoria Indrawati, Nanang Ruhyana
Abstrak: Perkembangan infeksi Human Imunodeficiency Virus (HIV) di dunia sangatprogresif. Sejak ditemukan di dunia tahun 1981 sampai dengan tahun 2016 jumlahpenderitanya telah mencapai puluhan juta jiwa. Jumlah penderita baru infeksi HIV diKabupaten Cirebon memiliki kecenderungan yang sama dengan kondisi dunia. Padatahun 2017 jumlah penderita baru meningkat 50% dibanding tahun 2009. PenyebaranInfeksi HIV masih terkonsentrasi pada populasi kunci dengan pola transmisi utamamelalui hubungan seks tidak aman. Upaya pencegahan primer yang dilakukan adalahdeteksi dini status HIV seseorang dan konseling terhadap faktor risiko yang dimilikimelalui kegiatan Voluntary Counselling And Testing (VCT). Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui besarnya hubungan antara perilaku seks berisiko dengan infeksi HIVpada Klien VCT Di Kabupaten Cirebon.Penelitian ini menggunakan desain cross sectional menggunakan data sekunderkegiatan VCT tahun 2017. Populasi penelitian ini adalah klien yang berkunjung padakegiatan VCT, melakukan konseling pra test, tes HIV dan konseling pasca menerimahasil tes. Klien yang berkunjung terdiri dari terdiri dari populasi kunci (gay/LSL, ,penasun, penjaja seks (PS), pelanggan PS, waria, dan WBP) serta pasien TB danpasangan risti. Dilakukan analisis regresi logistik untuk mendapatkan estimasi besarhubungan antara perilaku seks berisiko dengan infeksi HIV setelah dikendalikanvariabel kovariat.Proporsi infeksi hiv pada klien VCT di Kabupaten Cirebon tahun 2017 sebesar3,0%, sedangkan proporsi perilaku seks berisiko sebesar 80,4%. Didapatkan besarhubungan (POR) antara perilaku seks berisiko dengan infeksi HIV pada klien VCT diKabupaten Cirebon sebesar 2,23 (95% CI ; 1,019-4,899) setelah dikendalikan jeniskelamin.Proporsi perilaku seks berisiko pada klien VCT sangat tinggi, klien VCT yangmelakukan perilaku seks berisiko berpeluang terinfeksi HIV sebesar 2,23 kalidibandingkan dengan klien VCT yang tidak melakukan perilaku seks berisiko.Direkomendasikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon agar dapatmeningkatkan kegiatan promotif dan preventif yang bertujuan untuk memberikanpengetahuan dan keterampilan pencegahan infeksi HIV kepada masyarakat , melakukanpelatihan petugas lapangan dalam hal tehnik advokasi dan regulasi, meningkatkanfrekuensi kegiatan VCT pada populasi kunci dan meningkatkan durasi serta kualitaskonseling dalam kegiatan VCT.Kata kunci:HIV, VCT, Perilaku seks berisiko, Kabupaten Cirebon
The progression of Human Immunodeficiency Virus (HIV) infection in theworld is very progressive. Since found in 1981 until 2016 the number of cases hasreached tens of millions of lives. The number of new HIV infections in CirebonRegency has the same as the condition of the world. In 2017 the number of new casesincreased by 50% compared to 2009. The spread of HIV infection is still concentratedin the key population with the main transmission pattern through unsafe sex. Primaryprevention undertaken are early detection of a HIV status and counselling of riskfactors through Voluntary Counseling and Testing (VCT) activities. This study aims todetermine the magnitude of the association between risky sexual behavior with HIVinfection on VCT Clients in Cirebon Regency.This was cross sectional study using secondary data of VCT in 2017. Thepopulation is clients who visit VCT clinic, doing pre-test counselling, HIV test andpost-test counselling. Clients are key populations (gay / MSM, customer sex workers,IDUs, sex workers, transgender, and prisoners), TB patients and legaly sex partner.Logistic regression analysis was used to estimate association between risky sexbehavior and HIV infection after controlled covariate variables.Nearly 3.0%. (85/2,858) of tested clients were positif HIV and 80.4%(2,299/2.858) client had risky sexual behavior. There was a significant associationbetween risky sex behavior and HIV infection on VCT clients in Cirebon Regency(Adjusted POR=2.23 (1.019-4.899) after controlling to gender.The proportion of risky sex behaviors in VCT clients is very high, VCT clientswho engage in sex-risk behaviors had a risk of 2.23 times for HIV infection comparedto VCT clients who do not engage in risky sexual behavior. It is recommended to theCirebon Health Office to improve promotive and preventive programs to enhancingcommunity knowledge and skills in preventing HIV infection, conducting outreachtraining in terms of regulatory and advocacy techniques, increasing the frequency ofVCT and improving the duration and quality of counselling in VCT.Key words:HIV, VCT, Risky sexual behavior, Cirebon Regency.
Read More
T-5137
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yovella Medhira Pujiasti; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Modastri Korib Sudaryo, Laura Hotdiana
S-9430
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noor Farida; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Ani Setiawati
Abstrak: Penyakit HIV/AIDS yang merupakan salah satu dari 10 penyakit terbesar didunia yang memiliki angka mortalitas dan morbiditas tinggi. Pada tahun 2016 menurut Infodatin AIDS bahwa DKI Jakarta adalah yang tertinggi untuk penderita HIV. Salah satu cara penularannya adalah penularan secara vertikal dari ibu ke anak, saat kehamilan, persalinan dan menyusui. Penelitian ini ingin mengetahui apakah faktor sosidemografi ibu, faktor Ibu, faktor obstetri dan faktor anak berhubungan dengan penularan HIV/AIDS pada anak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2017 di RSUP Fatmawati. Pada penelitian ini menggunakan desain Kasus Kontrol dengan sample anak usia 2-5 tahun, sebesar 33 anak sebagai kasus (anak dengan HIV positif)dan 33 anak sebagai kontrol (anak denganHIV negatif) dari ibu yang menderita HIV positif. Dari hasil analisis dengan menggunakan SPSS 20.0 didapatkan bahwa untuk variabel yang dinyatakan adanya hubungan adalah faktor sosioekonomi( OR=4,7; CI=1,45-15,07), stadium klinis HIV (OR=26,7; CI=3,25-218,86), jumlah CD4 ibu (OR=19,3; CI=5,29-70,66), lama ibu minum ARV(OR=7,4; CI=1,87-29,84), cara persalinan (OR=6,7; CI=1,35-33,75) dan prematuritas anak saat kelahiran (OR=16,5; CI=3,37-80,31).Sedangkan variabel yang tidak ada hubungan adalah dari faktor sosiodemograi yaitu usia, pendidikan , pekerjaan dan paritas ibu menunjukan tidak adanya hubungan dengan penularan HIV/AIDS pada anak. Kata kunci: Penularan, HIV/AIDS, anak HIV / AIDS disease is one of the top 10 diseases in the world that have high mortality and morbidity. In 2016 according to Infodatin AIDS that DKI Jakarta is the highest for people with HIV. One way of transmission is vertical transmission from mother to child, during pregnancy, delivery and breastfeeding. This research wanted to know whether mother's sosidemography factor, mother factor, obstetric factor and child factor related to HIV / AIDS transmission in child. This research was conducted from May until July 2017 at Fatmawati General Hospital. In this study used a control case design with a sample of 2-5 year olds, 33 children as a case (HIV positive children) and 33 children as control (HIV negative children) from HIV positive mothers. From the result of the analysis by using SPSS 20.0 it is found that for the variable which stated the existence of the relation is socioeconomic factor (OR = 4,7; CI = 1,45-15,07), clinical stage HIV (OR = 26,7; CI = 3, 25-218,86), mother's CD4 cell count (OR = 19.3, CI = 5.29-70.66), duration of mother taking ARV (OR = 7,4; CI = 1.87-29,84), (OR = 6,7; CI = 1.35-33,75) and prematurity of the child at birth (OR = 16.5; CI = 3.37-80,31). While the variables that have no correlation are from sosiodemograi factor that is age, education, work and parity of mother showed no relation with HIV / AIDS transmission in child. Keywords: Transmission, HIV / AIDS, child
Read More
S-9558
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jauhari Oka Reuwpassa; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, K. Rachmadi
S-7076
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Ully Athalia Sihombing; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Helda, Helwiah Umniyati, Irfan Maulana
Abstrak:
Kesintasan pasien HIV/AIDS sangat dipengaruhi oleh waktu inisiasi terapi antiretroviral (ART) setelah diagnosis ditegakkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara periode inisiasi ART dengan kesintasan pasien HIV/AIDS selama tiga tahun di Kabupaten Bekasi. Penelitian menggunakan desain kohort retrospektif berbasis data sekunder dari Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) Kabupaten Bekasi terhadap pasien yang didiagnosis HIV/AIDS pada periode 2017–2022. Sebanyak 1.554 pasien memenuhi kriteria inklusi. Analisis Kaplan-Meier digunakan untuk menggambarkan probabilitas kesintasan, sementara analisis regresi Cox time-dependent digunakan untuk mengetahui pengaruh waktu inisiasi ART terhadap risiko kematian, dengan mengontrol variabel sosiodemografi, klinis, pengobatan, dan perilaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesintasan tertinggi ditemukan pada kelompok pasien yang memulai ART dalam

The survival of HIV/AIDS patients is strongly influenced by the timing of antiretroviral therapy (ART) initiation following diagnosis. This study aimed to analyze the relationship between the ART initiation period and three-year survival among HIV/AIDS patients in Bekasi District. A retrospective cohort design was used, based on secondary data from the HIV/AIDS Information System (SIHA) of Bekasi District, involving patients diagnosed with HIV/AIDS during the 2017–2022 period. A total of 1,554 patients met the inclusion criteria. Kaplan-Meier analysis was employed to estimate survival probability, while time-dependent Cox regression analysis was used to assess the effect of ART initiation timing on the risk of death, controlling for sociodemographic, clinical, treatment-related, and behavioral variables. The results showed that the highest survival was observed among patients who initiated ART within
Read More
T-7397
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arum Ambarsari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Zayanah, Linda Lidya
Abstrak: Penggunaan ARV yang semakin meluas sebagai pengobatan pada pasien HIV memberikan harapanhidup yang lebih baik bagi ODHA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yangmempengaruhi kesintasan hidup pasien HIV/AIDS yang mengakses ARV di Puskesmas Jakarta Barattahun 2015-2017. Desain penelitian ini adalah kohort retrospekstif menggunakan data rekam medispasien HIV. Sampel penelitian adalah pasien HIV yang mengakses ARV di Puskesmas Jakarta Baratpada tahun 2015-2017, yaitu sebanyak 480 pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan probabilitaskesintasan pasien HIV selama 1, 2 dan 3 tahun pengamatan sebesar 95,2%, 91,7% dan 78,3% denganinsidens rate sebesar 4 per 1000 orang-bulan. Hasil analisis dengan regresi cox menunjukkan bahwapasien dengan koinfeksi TB lebih cepat 2,62 kali untuk meninggal dibandingkan pasien tanpakoinfeksi TB (HR = 2,621; 95%CI: 1,027-6,407, nilai P = 0,035). Untuk pasien HIV dengan tingkatadherensi minum ARV < 95% lebih cepat 9,29 kali untuk meninggal dibandingkan pasien dengantingkat adherensi ≥ 95% (HR= 9,298; 95%CI: 4,653-18,660, nilai P = 0,000).Kata kunci:HIV, ARV, Kesintasan
Widely use of ARV as treatment in people living with HIV has giving better life expectancy. Weconducted a retrospective cohort study to analyze 3 years survival time and associated factors among480 patients with HIV/AIDS who received ARV in 8 Public Health Center at West Jakarta. KaplanMeier and Cox Proportion hazard regression were used to calculate the survival time and itsassociated factors, respectively. The cumulative survival rates of those receiving ARV in 1,2 and 3years were 95,2%, 91,7% and 78,3%. Multivariate Cox Regression analysis showed that patients withTB-coinfection were at a higher risk of death from AIDS-related diseases (HR = 2,621; 95%CI:1,027-6,407, nilai P = 0,035) than patients without TB-coinfection. Patients with ARV adherence<95% were at a higher risk of death from AIDS-related diseases (HR = 9,298; 95%CI: 4,633-18,660,nilai P = 0,000) than patients with adherence ≥95%.Key words:HIV, ARV, survival.
Read More
T-5171
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosalia Sepriana; Pembimbing: Nasir Kodim; Penguji: Renti Mahkota, Lucia B. Siregar
S-7038
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diany Teksa Maharani; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Nurjannah Sulaiman
Abstrak: Proyeksi pada tahun 2030 adalah terjadinya penurunan terhadap angka kematian akibat penyakit menular pada populasi di dunia, sedangkan penyakit akibat HIV/AIDS akan mengalami peningkatan yang jumlahnya dipengaruhi oleh aksesibilitas masyarakat terhadap pengobatan ARV dan upaya pencegahan penularan HIV/ AIDS. Kelompok paling rentan rentan terhadap infeksi HIV adalah usia muda. Banyak usia muda terlibat dalam perilaku seksual berisiko karena pengambilan perilaku berisiko pada kelompok ini. Di antara LSL muda, tingkat infeksi HIV yang tinggi disebabkan oleh perilaku seks berisiko. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor perilaku seks berisiko HIV/ AIDS pada LSL usia muda yakni 15-24 tahun. Faktor risiko meliputi usia, pendidikan, pengetahuan, keterpajanan informasi kesehatan, usia hubungan seks pertama, layanan tes HIV, layanan kesehatan lain, konsumsi alkohol, dan konsumsi NAPZA. Penelitian menggunakan data sekunder STBP 2018. Desain penelitian yang digunakan adalah kros seksional dengan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji kai kuadrat α = 0,05. Hasil didapatkan terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan (p value=0,001; PR=1,4; CI=1,3-2,5), layanan tes HIV (p value=0,000; PR=1,7; CI=2,0-3,4), layanan pencegahan lain (p value=0,000; PR=1,6; CI=1,9-3,2), dan konsumsi alkohol (p value=0,009; PR=1,2; CI=1,1-1,8) dengan perilaku seks berisiko HIV/ AIDS.
Kata Kunci: perilaku seks berisiko HIV/ AIDS, usia muda, LSL

The projection in 2030 is decreased number of deaths from infectious diseases in the world's population, while diseases caused by HIV / AIDS will increase is influenced by public accessibility to ARV treatment and efforts to prevent transmission of HIV / AIDS. The most vulnerable group vulnerable to HIV infection are young people. Many young people engage in risky sexual behavior because of risky behaviors decision in this group. Among young MSM, high rates of HIV infection are caused by risky sexual behavior. The purpose of this study is to determine the factors of risky sexual behavior of HIV/ AIDS in young MSM age 15-24 years. Risk factors include age, education, knowledge, exposure to health information, age of first sex, HIV testing service, other health service, alcohol consumption, and drug consumption. The study utilize secondary STBP 2018 data. The research design use cross sectional with univariate and bivariate analyzes with chi square test α = 0.05. The results show that there are significant relationship between knowledge (p value=0,001; PR=1,4; CI=1,3-2,5); HIV test service (p value=0,000; PR=1,7; CI=2,0-3,4), other health service prevention (p value=0,000; PR=1,6; CI=1,9-3,2), and alcohol consumption (p value=0,009; PR=1,2; CI=1,1-1,8) with risky sexual behavior of HIV / AIDS.
Keywords: HIV/ AIDS risky sexual behavior, young age, MSM
Read More
S-10311
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ainun Jhariah Hidayah; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Renti Mahkota, Rahmi Binarsih
Abstrak: Penyakit infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk di Indonesia. Progresivitas penyakit pada pasien HIV/AIDS dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor usia, genetik, penyakit infeksi lain seperti tuberkulosis dan hepatitis, faktor gizi, status imunologi dan lain-lain. Adanya pengobatan ARV belum mampu menyembuhkan penyakit namun mampu mengontrol progresivitas penyakit HIV dan AIDS dengan menekan replikasi virus, mengurangi timbulnya infeksi oportunistik. Walaupun program ini telah dilaksanakan, namun kematian akibat HIV tetap saja terjadi terutama pada tahun pertama pengobatan ARV. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prediktor yang berhubungan dengan kematian pada pasien HIV-AIDS yang mendapatkan terapi ARV di RS dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor Tahun 2008-2012. Desain studi yang digunakan adalah kohort retrospektif dengan menggunakan data register ART dan Rekam Medik. Sampel berjumlah 396 pasien HIV yang menggunakan ARV. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Regresi Cox. Hasil analisis multivariat menunjukkan prediktor kematian pasien HIV-AIDS yang mendapatkan ARV adalah status fungsional baring (RR=2,34, 95% CI:1,32-4,11), kategori IO berat (RR=2,11, 95% CI:1,26-3,54), dan status anemia (RR=2,56, 95% CI:1,74-3,77). Diperlukan perhatian khusus dan pemantauan bagi pasien HIV-AIDS yang menggunakan ARV dengan status fungsional baring, anemia, dan memiliki infeksi oportunistik yang berat. Kata kunci: ARV; HIV-AIDS; kohort retrospektif; kematian; prediktor
Human Immunodeficiency Virus (HIV) is still an issue in health sector in the world, particularly in Indonesia. Progression of disease is influenced by various factors including age, genetic, and other infectious diseases such as tuberculosis and hepatitis, nutritional factors, and immunological status. ARV therapy has not been able to cure the disease yet is able to control the progression of HIV/AIDS by suppressing viral replication which reduce the incidence of opportunistic infections. Although the program has been implemented, the deaths from HIV continue to occur, especially in the first year of ARV treatment. This study aims to investigate the predictors related to death in HIV-AIDS patients with ARV therapy in Dr. H. Marzoeki Mahdi Hospital in Bogor in 2008-2012. The study design was retrospective cohort using ART registration data and Medical Record. Number of samples were 396 HIV patients with ARV therapy. Data analysis was performed using Cox Regression. The multivariate analysis showed that the predictors of deaths in HIV-AIDS patients with ARV therapy were functional baring status (RR = 2.34, 95% CI: 1.32-4.11), heavy IO category (RR = 2.11, 95% CI : 1.26-3.54), and anemia status (RR = 2.56, 95% CI: 1.74-3.77). Special attention and monitoring are required for HIV/AIDS patients taking antiretroviral medications with functional status of baring, anemia, and having severe opportunistic infections. Keywords: ARV; HIV-AIDS; Retrospective cohort; Death; Predictors.
Read More
T-4871
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive