Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37577 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rina Agustina; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Rizka Maulida, Sulistyo
Abstrak: Kasus TB RO menyebabkan beban pengendalian penyakit TB menjadi bertambah. Adanya penurunan angka keberhasilan pengobatan dari tahun 2010 (67,9%) menjadi 51,1% tahun 2013 dan peningkatan kasus pasien putus berobat mendorong Indonesia menerapkan pengobatan jangka pendek untuk meningkatkan angka keberhasilan pengobatan TB RO dan menurunkan kasus pasien putus berobat. Penelitian ini melihat hasil pengobatan TB RO dan faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek di Indonesia tahun 2017 menggunakan desain penelitian kohort retrospektif. Menggunakan data pasien TB RO yang tercatat dalam e-TB manager berusia ≥15 tahun yang telah menyelesaikan pengobatan regimen pendek maksimal pada bulan November 2018. Didapatkan 223 kasus dengan 46,6% sembuh, 26,5 % putus berobat, 4,9% pengobatan lengkap, 14,2 meninggal, 6,3% gagal dan 1,3% lainnya. Usia, jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, jenis resistensi, status HIV, status diabetes mellitus dan status kavitas paru secara statistik tidak berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek. Faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek ialah resisten terhadap amikasin (RR 7.4; 95% CI 4.68- 17.29), ofloksasin (RR 28; 95% CI 2.8-279.5), dan kanamisin (RR 9; 95% CI 4.68- 17.29), dan interval inisiasi pengobatan > 7 hari (RR 0.307; CI 0.09-0.98).
Kata kunci: hasil pengobatan; pengobatan jangka pendek; TB RO

The case of drug-resistant tuberculosis causes the burden of controlling TB disease to increase. The decline in treatment success rates from 2010 (67.9%) to 51.1% in 2013 and an increase in cases of patients dropped out encouraged Indonesia to apply shortterm treatment to increase the success rate of DR-TB treatment and reduce cases of patients dropped out. This study aims to look the results of DR-TB treatment and factors related to treatment outcomes for short regimens in Indonesia in 2017 using a retrospective cohort study design. Using data on DR-TB patients recorded in the e-TB manager aged ≥15 years who have completed treatment for the maximum short regimen in November 2018. There were 223 cases with 46.6% cured, 26.5% dropped out, 4.9% completed, 14.2 died, 6.3% failed and 1.3% others.. Age, gender, previous treatment history, type of resistance, HIV status, DM status and lung cavity status were not statistically related to the results of treatment of short regimens. Factors related to the results of treatment of short regimens were resistant to amikacin (RR 7.4; 95% CI 4.68-17.29), ofloxacin (RR 28; 95% CI 2.8-279.5), kanamycin (RR 9; 95% CI 4.68- 17.29), and treatment initiation interval >7 days (RR 0.307; CI 0.09-0.98).
Key words: treatment outcomes; short-term treatment; DR-TB
Read More
S-9891
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elsye Tendenan Malensang; Pembimbing: Yovsyah; PengujiL: Helda, Sulistyo
Abstrak:
Abstrak Tuberkulosis masih menjadi masalah Kesehatan Masyarakat sampai saat ini, baik di Indonesia maupun Tingkat global. Indonesia negara dengan peringkat ke dua sebagai negara dengan angka kasus TB terbesar di dunia. Succsess Rate TB RO di Indonesia dalam satu dekade terakhir bekisar antara 40-50%, tahun 2022 SR TB RO menjapai angka 51% masih jauh dari target nasional. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui hubhungan factor usia, jenis kelamin, Riwayat pengobatan, jenis faskes, status HIV dan status DM terhadap keberhasilan pengobatan TB RO Pengobatan Jangka Pendek di Indonesia tahun 2022. Desain studi yang digunakan yaitu cross sectional dengan menganalisis data dari data register TB RO 03 Aplikasi SITB Direktorat Jenderal P2P Kementerian Kesehatan RI dengan jumlah sampel sebesar 2.028. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunkana aplikasi SPSS versi 27.Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor usia (PR=1,31; 95%; CI:1,20-1,42) dan status HIV (PR=1,4; 95%; CI: 1,02-1,90) menjadi faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB RO Jangka Pendek(Short Treatment Regiment) di Indonesia tahun 2022. Oleh sebab itu, perlu adanya intervensi dan pengawasan ekstra bagi pasien yang berusia > 45 tahun dan dengan infeksi HIV dalam menjalani pengobatan TRB RO Jangka Pendek untuk mencegah kegagalan pengobatan dan meningkatkan keberhasilan pengobatan TB RO Jangka Pendek. Kata Kunci : Pengobatan TB RO Jangka Pendek, Usia, jenis Kelamin, Riwayat Pengobatan, Jenis Faskes, Status HIV, Status DM, Indonesia

Abstract Tuberculosis is still a public health problem today, both in Indonesia and at the global level. Indonesia is the country ranked second as the country with the largest number of TB cases in the world. The TB RO Success Rate in Indonesia in the last decade has ranged between 40-50%, in 2022 the TB RO SR will reach 51%, which is still far from the national target. The aim of this research is to determine the relationship between the factors age, gender, treatment history, type of health facility, HIV status and DM status on the success of Short Term RO TB treatment in Indonesia in 2022. The study design used is cross sectional by analyzing data from TB register data. RO 03 SITB Application Directorate General of P2P Ministry of Health of the Republic of Indonesia with a sample size of 2,028. Data were analyzed univariately and bivariately using the SPSS version 27 application. The results of the analysis showed that the factors were age (PR=1.31; 95%; CI: 1.20-1.42) and HIV status (PR=1.4; 95% ; CI: 1.02-1.90) is a factor related to the success of Short Term RO TB treatment (Short Treatment Regiment) in Indonesia in 2022. Therefore, there is a need for extra intervention and supervision for patients aged > 45 years and with HIV infection undergoing Short Term TRB RO treatment to prevent treatment failure and increase the success of Short Term TB RO treatment. Keywords: Short Term RO TB Treatment, Age, Gender, Treatment History, Type of Health Facility, HIV Status, DM Status, Indonesia
Read More
S-11509
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadhira Kannitha Putri; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarief, Retno Kusuma Dewi
Abstrak: Penelitian ini melihat hasil pengobatan pasien TB RO serta faktor faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO di Indonesia pada tahun 2017 sampai 2019 dengan menggunakan desain cross sectional. Menggunakan data pasien dari e-TB Manager berumur ≥15 tahun yang telah menyelesaikan pengobatannya tahun 2017-2019. Terdapat 3822 kasus dengan sembuh sebanyak 35,5%, pengobatan lengkap sebanyak 4,7%, putus berobat sebanyak 32,8%, meninggal sebanyak 17,7%, gagal sebanyak 6,9%, perubahan diagnosis 1,2%, dan lainnya 8%. Jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, aksesibilitas geografis ke fasilitas pelayanan kesehatan secara statitsik tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan hasil pengobatan. Faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO adalah usia (PR 1,328; 95% CI 1,773 - 2,332), pasien XDR (PR 1,353; 95% 1,225-1,494), pasien pre XDR (PR 1,234; 95% CI 1,145-1,330) pasien MDR (PR 0,869; 95% CI 0,8110,930), dan interval inisiasi pengobatan >7 hari (PR 1,069; 95% CI 1,002-1,140).
Read More
S-10788
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Mediana; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Rina Handayani
S-10413
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Regina Loprang; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Tri Yunis Miko Wahyono, RR Diah Handayani, Sulistyo
Abstrak:
Tuberkulosis resisten obat (TBC RO) tetap menjadi hambatan utama dalam eliminasi tuberkulosis, dengan Indonesia menempati peringkat ketiga dalam beban TBC RO secara global. Dari perkiraan 30.000 kasus baru setiap tahun, hanya 39% yang terdiagnosis dan dilaporkan, dengan tingkat keberhasilan pengobatan yang rendah sebesar 57%. Penelitian ini menganalisis faktor risiko kematian pada pasien TBC RO yang menggunakan paduan pengobatan jangka pendek (STR) di Indonesia selama 2020–2022 dengan desain kohort retrospektif dan analisis survival menggunakan data SITB. Temuan utama mengidentifikasi usia lanjut (≥65 tahun), koinfeksi HIV tanpa ART, riwayat pengobatan ulang, keterlambatan memulai pengobatan (>3 bulan), dan rejimen berbasis suntikan STR sebagai faktor risiko kematian yang signifikan. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi (87,37%) ditemukan pada pasien yang memulai pengobatan dalam 2–4 minggu setelah diagnosis dan terendah (77,36%) pada mereka yang menunda pengobatan lebih dari tiga bulan. Koinfeksi HIV tanpa ART menjadi faktor risiko terkuat, meningkatkan risiko kematian hingga sepuluh kali lipat, sementara usia lanjut meningkatkan risiko 3,67 kali dibandingkan kelompok usia yang lebih muda. Temuan ini menegaskan pentingnya diagnosis dan pengobatan tepat waktu, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi.

Drug-resistant tuberculosis (DR-TB) remains a critical barrier to tuberculosis elimination, with Indonesia ranking third globally in DR-TB burden. Despite an estimated 30,000 new cases annually, only 39% are diagnosed and reported, with a low treatment success rate of 57%. This study analyzed mortality risk factors among DR-TB patients treated with shorter treatment regimens (STR) in Indonesia from 2020 to 2022 using retrospective cohort and survival analyses of SITB data. Key findings identified older age (≥65 years), HIV co-infection without ART, re-treatment history, delayed treatment initiation (>3 months), and STR injection-based regimens as significant mortality risk factors. Survival was highest (87.37%) among patients starting treatment within 2–4 weeks of diagnosis and lowest (77.36%) for those delaying beyond three months. HIV co-infection without ART posed the strongest risk, increasing mortality tenfold, while advanced age raised the risk 3.67 times compared to younger cohorts. These findings underscore the need for timely diagnosis and treatment, particularly for high-risk groups
Read More
T-7436
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ririn Ayudiasari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal, Meilina Farikha
Abstrak:
Tren angka putus berobat pada pasien TBC RO cenderung fluktuatif. Angka putus berobat TBC RO pada tahun 2020 sebesar 19%, angka ini menurun dibandingkan tahun 2019 sebesar 22% dan 2018 sebesar 27%. Angka putus berobat ini memberikan dampak yang besar bagi indikator program tuberkulosis nasional yang secara tidak langsung memengaruhi keberhasilan pengobatan TBC RO yang belum mencapai target 80%. Penelitian terdahulu menyebutkan kejadian putus berobat ini dipengaruhi oleh faktor karakteristik individu, faktor perilaku, dan faktor lingkungan. Akan tetapi, penyebab pasti dari kejadian putus berobat pasien TBC RO di Indonesia belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia Tahun 2022-2023. Sampel penelitian ini adalah semua kasus pasien TBC RO di Indonesia yang memulai pengobatan pada tahun 2022-2023 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan dinyatakan sembuh, pengobatan lengkap, dan putus berobat pada Mei 2024. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara faktor umur, jenis kelamin, status HIV, status DM, jenis resistansi, kategori panduan OAT, dan jenis fasyankes terhadap kejadian putus berobat pada pasien TBC RO. Sedangkan faktor riwayat pengobatan dan wilayah fasyankes tidak menunjukan adanya hubungan yang signifikan dengan kejadian putus berobat. Perluasan fasyankes pelaksana layanan TBC RO dan kolaborasi antara fasyankes dan komunitas TB dalam melakukan pendampingan dan memberikan dukungan psikososial dapat membantu mencegah terjadinya kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia.

The trend of treatment loss to follow up (LTFU) rates in DR-TB patients tends to fluctuate. The DR-TB treatment LTFU 2020 was 19%, this number decreased compared to 2019 of 22% and 2018 of 27%. LTFU have a major impact on national TB programme indicators, which indirectly affect the success of DR-TB treatment, which has not yet reached the 80% target. Previous studies have found that LTFU is influenced by individual characteristics, behavioural factors, and environmental factors. However, the exact causes of LTFU among DR-TB patients in Indonesia are still unknown. This study aims to find out what factors are associated with the incidence of LTFU in patients with DR-TB in Indonesia in 2022-2023. The sample of this study was all DR-TB patients in Indonesia who started treatment in 2022-2023 and had the final results of treatment declared cured, complete treatment, and LTFU in May 2024. The results showed that there was an association between age, gender, HIV status, DM status, type of resistance, OAT guideline category, and type of health facility with LTFU in patients with DR-TB. Meanwhile, the treatment history and health facility region did not show a significant association with LTFU. Expansion of health facilities providing DR-TB treatment and collaboration between health facilities and TB communities in assisting and providing psychosocial support can help prevent LTFU among patients with DR-TB in Indonesia.
Read More
S-11668
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nenden Siti Aminah; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Retno Kusuma Dewi, Ani Herna Sari
Abstrak:
Tiga permasalahan TB di Indonesia yaitu TB sensitif, TB Resistan Obat (TB-RO) dan TB-HIV. TB-RO merupakan masalah yang menghawatirkan, angka penemuan kasus TBRO setiap tahun semakin meningkat, namun tidak diimbangi dengan angka pengobatan. Penggunaan paduan jangka pendek untuk pengobatan pasien TB-RO sejak September 2017 merupakan salah satu upaya menekan peningkatan kasus pasien putus berobat. Penelitian ini dilakukan untuk melihat trend dan faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan pasien TB Resistan Obat (TB RO) dengan paduan Shorter Treatment Regiment (STR) di Indonesia Tahun 2017-2019. Penelitian menggunakan desain kohort restropektif. Sumber data adalah semua pasien TB RO paduan jangka pendek yang terdaftar dalam sistem informasi TB MDR Subdit Tuberkulosis. Metode sampling adalah total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis yang digunakan adalah uji chi-square dan uji cox regression. Sebanyak 3.100 pasien disertakan dalam analisis, didapat angka keberhasilan pengobatan adalah 41,94%. Hasil analisis menunjukkan faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan adalah umur, kepatuhan, hasil pemeriksaan sputum awal pengobatan, pola resistensi monoresisten dan poliresisten, serta wilayah tempat tinggal. Kepatuhan merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan. Perlu dilakukan upaya penguatan kepatuhan dengan melakukan konseling sedini mungkin, pendamping PMO dari non petugas dan inisiasi grup dukungan pasien di setiap faskes MDR

TB problems in Indonesia are TB sensitive, Drug-Resistant TB and TB-HIV. TB-RO is the most challengging  problem, the number of case finding is increase every year, but treatment rate is decrease. The use of short-term  regiment since September 2017 is one of strategy to reduce default of TB treatment. This research was  conducted to see trends and factors related to the TB treatment success rate among patients with Drug  Resistance TB (TB RO) using Shorter Treatment Regiment (STR) in Indonesia 2017-2019. The study desain is  restropective cohort. Data sources are all patients of TB RO using STR regiment, which is enrolled in the e-TB  manager, Sud Directorate of Tuberculosis, MoH RI. The sampling method is total sampling that meets the  inclusion and exclusion criteria. The analysis used was the chi-square test and the cox regression test. As many  as 3,100 patients were included in the analysis, the treatment success rate was 41,94%. The results of the  analysis showed that factors related to treatment success were age, adherence, results of initial sputum  examination of treatment, patterns of monoresistant and polyresistant resistance, and area of ​​residence.  Adherence is a dominant factor related to treatment success. Efforts should be made to strengthen compliance  by conducting counseling as early as possible, PMO assistants from non-helath officers and initiating patient  support groups in each MDR facility 

Read More
T-5925
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chrisshanti Putri Pasaribu; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Renti Mahkota, Sulistyo, Yusie Permata
Abstrak:
Pada tahun 2023 mulai diimplementasikan regimen Bedaquiline, Pretomanid, Linezolid dengan atau tanpa Moxifloxacin (BPaL/M) sebagai regimen pengobatan tuberkulosis resisten obat (TBC RO) dengan durasi 6–9 bulan. Meskipun memiliki durasi pengobatan yang lebih singkat, data nasional tahun 2023–2025 menunjukkan bahwa 19,4% pasien masih mengalami ketidakberhasilan pengobatan dengan cure rate sebesar 69,1%. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko ketidakberhasilan pengobatan pada pasien TBC RO yang menggunakan regimen BPaL/M berdasarkan tingkat beban TBC di Indonesia tahun 2023–2025. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan data sekunder Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Sebanyak 8.746 pasien yang  memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dianalisis menggunakan cox regression dan extended cox regression pada variabel yang tidak memenuhi asumsi proportional hazards dengan titik potong 120 hari. Hasil penelitian secara nasional menunjukkan bahwa tidak mengalami konversi sputum merupakan faktor risiko terkuat terhadap ketidakberhasilan pengobatan (aHR = 12,23; 95%CI: 10,92–13,71), diikuti oleh ketidakpatuhan pengobatan setelah 120 hari (aHR = 5,50; 95%CI: 3,82–7,91), HIV positif (aHR = 1,98; 95%CI: 1,61–2,44), HIV tidak diketahui (aHR = 1,91; 95%CI: 1,50–2,44), usia ≥45 tahun pada ≤120 hari pengobatan (aHR = 1,75; 95%CI: 1,56–1,97), riwayat pengobatan TBC sebelumnya setelah 120 hari (aHR = 1,48; 95%CI: 1,24–1,77), pola resistensi MDR (aHR = 1,17; 95%CI: 1,06–1,29), dan efek samping obat setelah 120 hari (aHR = 1,27; 95%CI: 1,04–1,54). Sebaliknya, inisiasi pengobatan >7 hari merupakan faktor protektif terhadap ketidakberhasilan pengobatan (aHR = 0,78; 95%CI: 0,71–0,86). Diperlukan penguatan pemantauan pasien berisiko tinggi, peningkatan kepatuhan pengobatan, serta pengembangan early warning system bagi pasien yang tidak mengalami konversi sputum.

In 2023, the Bedaquiline, Pretomanid, and Linezolid regimen with or without  Moxifloxacin (BPaL/M) was introduced as a treatment regimen for drug-resistant  tuberculosis (DR-TB), with a treatment duration of 6–9 months. Despite its shorter  treatment duration, national data from 2023–2025 showed that 19.4% of patients  experienced unsuccessful treatment outcomes, with a cure rate of 69.1%. This study  aimed to identify the risk factors for unsuccessful treatment outcomes among patients  with DR-TB receiving the BPaL/M regimen across regions with low, medium, and high  TB burden in Indonesia during 2023–2025. A retrospective cohort study was conducted  using secondary data from the Tuberculosis Information System (SITB). A total of 8,746  patients who met the inclusion and exclusion criteria were analyzed using Cox  proportional hazards regression and extended Cox regression for variables that violated  the proportional hazards assumption, with a 120-day time cut-off. Nationally, sputum  non-conversion was the strongest risk factor for unsuccessful treatment outcomes (aHR  = 12.23; 95% CI: 10.92–13.71), followed by treatment non-adherence after 120 days  (aHR = 5.50; 95% CI: 3.82–7.91), HIV-positive status (aHR = 1.98; 95% CI: 1.61–2.44),  unknown HIV status (aHR = 1.91; 95% CI: 1.50–2.44), age ≥45 years during the first 120  days of treatment (aHR = 1.75; 95% CI: 1.56–1.97), previous TB treatment after 120 days  (aHR = 1.48; 95% CI: 1.24–1.77), multidrug-resistant (MDR) resistance pattern (aHR =  1.17; 95% CI: 1.06–1.29), and adverse drug events after 120 days (aHR = 1.27; 95% CI:  1.04–1.54). In contrast, treatment initiation more than 7 days after diagnosis was  identified as a protective factor (aHR = 0.78; 95% CI: 0.71–0.86). These findings  highlight the need to strengthen the monitoring of high-risk patients, improve treatment  adherence, and implement an early warning system for patients who fail to achieve  sputum conversion
Read More
T-7648
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
XNur Afianti Hasanah; Pembimbing: Nuning Maria Kiptyah; Penguji: Putri Bungsu, Sity Kunarisasi
Abstrak: Indonesia masuk kedalam Negara dengan tiga beban TB tertinggi, salah satunya adalah TB-MDR. Persentase kematian pada pasien TB-MDR selama masa pengobatan di Indonesia melebihi batasan target WHO yaitu 10%. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian pada pasien Tuberkulosis Multi Drug Resistance (TB-MDR) selama masa pengobatan di Indonesia tahun 2010-2014. Desain penelitian yang digunakan adalah studi cross sectional menggunakan data sekunder registrasi kohort e-TB Manager (Surveilans TB Resistan Obat) 2010-2014. Variabel independen pada penelitian ini meliputi faktor kerentanan individu (usia, jenis kelamin, komorbid diabetes mellitus, jumlah resistansi OAT, hasil pemeriksaan sputum di awal pengobatan), faktor kerentanan sistem kesehatan (riwayat pengobatan TB sebelumnya dan interval inisiasi pengobatan), dan faktor kerentanan sosial (wilayah tempat tinggal). Variabel dependen pada penelitian ini adalah hasil akhir kematian pada pasien TB-MDR. Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara usia dengan kematian pada pasien TB-MDR selama masa pengobatan. Kata Kunci : Kematian, Pasien TB-MDR Indonesia is one of the countries in three high-burden country list, partially MDR-TB. The presentation of mortality among MDR-TB patients during treatment in Indonesia is above WHO target which is 10%. This study aimed to describe the epidemiological and factors associated with mortality among MDR-TB patients during treatment in Indonesia from 2010 through 2014. The study was conducted with cross sectional using secondary data cohort registration e-TB Manager (Surveillance of TB Drugs Resistance) 2010-2014. Independent variables of this study were individual vulnerability (age, sex, diabetes mellitus comorbidities, number of drugs resistance, initial sputum test), programmatic or institutional vulnerability (previous history of TB treatment and interval of treatment), and social vulnerability (living status). Dependent variable of this study was the end of treatment result for mortality among MDR-TB patients. The results indicated that age associated with mortality among MDR-TB patients during treatment. Keywords : Mortality, MDR-TB Patients.
Read More
S-9333
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zulfa Ayuningsih; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Nikson Sitorus, Dina Bisara Lolong
Abstrak: Tuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia. Hasil akhir pengobatan TB pada pasien berupa kematian saat melakukan pengobatan merupakan permasalahan terkini yang perlu diselesaikan. Penyebab pasti terjadinya kematian pada pasien yang sedang menjalani pengobatan TB masih belum banyak di ketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian pasien tuberkulosis pada penderita TB MDR dan TB Sensitif Obat di Indonesia tahun 2015-2017. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari aplikasi eTB manager dan SITT di Subdit Tuberkulosis, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) - Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kementerian Kesehatan RI
Read More
T-5778
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive