Ditemukan 36360 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Shabrina Khairani; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Zakianis, Dura Vendela
S-9997
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Adzra Dhiya Jannati; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Bambang Wispriyono, Azri Dwi Mahfudzi
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asosiasi antara tingkat kebisingan dengan kejadian tekanan darah tinggi (hipertensi) pada pekerja di unit water pump PT X tahun 2020. Metode yang digunakan adalah cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportionate stratified random sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengolahan data dilakukan dengan analisis univariat, bivariat menggunakan uji chi square dan multivariat menggunakan uji regresi logistik.
Read More
S-10552
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadya Hasna; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Heri Nugroho
Abstrak:
Kesehatan dan keselamatan dalam bekerja merupakan hak bagi setiap pekerja. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi fisik lingkungan di tempat kerja yang biasa menjadi tempat para pekerja beraktivitas sehari-hari masih berpotensi menimbulkan banyak bahaya, Salah satunya adalah bahaya kebisingan. Kebisingan dapat terjadi di tempat kerja baik itu industri maupun non-industri. Pajanannya yang terjadi terus-menerus dan tidak sesuai dengan ketentuan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan baik itu auditory maupun non-auditory. Oleh karena itu, penelitian ini ingin mengetahui hubungan tingkat pajanan kebisingan dengan keluhan subjektif (non-auditory) yang meliputi penilaian gangguan fisiologis, psikologis dan komunikasi pada 84 pekerja di area unit produksi pabrik tepung PT.X Cilegon, Banten. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara masa kerja, usia, kebiasaan merokok, penggunaan alat pelindung telinga, kebiasaan menggunakan earphone, kebiasaan mendengarkan musik bersuara keras, dan juga pelatihan dengan gangguan fisiologis, psikologis dan komunikasi. Namun, angka kejadian gangguan fisiologis, psikologis dan komunikasi pada pekerja menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu sebanyak 26,2% pekerja mengalami gangguan fisiologis, 47,6% pekerja mengalami gangguan psikologis, dan sebanyak 48,8% pekerja mengalami gangguan komunikasi. Oleh karena itu, perusahaan tetap perlu menindaklanjuti terkait permasalahan kebisingan ini agar tidak menimbulkan risiko dan juga masalah kesehatan yang lebih besar kedepannya.
Kata kunci : Kebisingan, gangguan non-auditory, gangguan fisiologis, gangguan psikologis, gangguan komunikasi.
Health and safety at work are rights of every worker. However, it cannot be denied that the physical condition of the environment in the workplace which is used to be a place for workers to do their daily activities is still potential to cause many hazards, one of which is the danger of noise. Noise can occur in the workplace both industrial and non-industrial. Exposure that occurs continuously and not in accordance with the provisions can cause various health problems both auditory and non-auditory. Therefore, this study wants to find out the relationship between the level of noise exposure and subjective (non-auditory) complaints which include assessment of physiological, psychological and communication disorders of 84 workers in the production unit area of the flour mill PT.X Cilegon, Banten. The results of this study indicate that there is no statistically significant relationship between years of service, age, smoking habits, use of ear protection equipment, habit of using earphones, habit of listening to loud music, and also training with physiological, psychological and communication disorders. However, the incidence of physiological, psychological and communication disorders among workers showed a fairly high rate, namely as many as 26.2% of workers experiencing physiological disorders, 47.6% of workers experiencing psychological disorders, and as many as 48.8% of workers experiencing communication disorders. Therefore, companies still need to follow up related to this noise problem so as not to pose risks and also greater health problems in the future.
Keywords : Noise, non-auditory disorders, physiological disorders, psychological disorders, communication disorders
Read More
Kata kunci : Kebisingan, gangguan non-auditory, gangguan fisiologis, gangguan psikologis, gangguan komunikasi.
Health and safety at work are rights of every worker. However, it cannot be denied that the physical condition of the environment in the workplace which is used to be a place for workers to do their daily activities is still potential to cause many hazards, one of which is the danger of noise. Noise can occur in the workplace both industrial and non-industrial. Exposure that occurs continuously and not in accordance with the provisions can cause various health problems both auditory and non-auditory. Therefore, this study wants to find out the relationship between the level of noise exposure and subjective (non-auditory) complaints which include assessment of physiological, psychological and communication disorders of 84 workers in the production unit area of the flour mill PT.X Cilegon, Banten. The results of this study indicate that there is no statistically significant relationship between years of service, age, smoking habits, use of ear protection equipment, habit of using earphones, habit of listening to loud music, and also training with physiological, psychological and communication disorders. However, the incidence of physiological, psychological and communication disorders among workers showed a fairly high rate, namely as many as 26.2% of workers experiencing physiological disorders, 47.6% of workers experiencing psychological disorders, and as many as 48.8% of workers experiencing communication disorders. Therefore, companies still need to follow up related to this noise problem so as not to pose risks and also greater health problems in the future.
Keywords : Noise, non-auditory disorders, physiological disorders, psychological disorders, communication disorders
S-10241
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andreas Billy Falian; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ririn Arminsih, Didik Supriyono
Abstrak:
Pendahuluan: Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak diinginkan sebagai suara yang tidak diinginkan yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan gangguan non-pendengaran, seperti kondisi fisiologis, psikologis, dan komunikasi. Gangguan fisiologi dan psikologi dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Dampak fisik yang mungkin terjadi dari pajanan kebisingan, adalah kram otot, pusing, mual, muntah dan peningkatan sekresi katekolamin dan kortisol, di mana akan mempengaruhi sistem saraf yang kemudian berpengaruh pada detak jantung, dan akan meningkatkan tekanan darah. Menurut WHO, hipertensi diperkirakan menyebabkan 7.5 juta kematian, sekitar 12.8% dari total semua kematian. Hipertensi merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25.8%, sesuai dengan data Riskesdas 2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan kebisingan >85 dB terhadap kejadian hipertensi.
Metode: Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif, dengan desain penelitian potong lintang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah proportionate stratified random sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengolahan data dilakukan dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariat dengan interval kepercayaan 95%. Dalam penelitian ini juga dilakukan tes laboratorium untuk memvalidasi dan mendapatkan data kondisi stres biologis pada pekerja melalui pengujian hormon kortisol dari air liur.
Hasil: Seluruh variabel independen memiliki faktor risiko > 1 terhadap variabel dependen. Terdapat hasil yang signifikan dari variabel independen kebisingan, lama kerja, umur, riwayat keturunan hipertensi, aktivitas fisik, penggunaan APT, indeks massa tubuh, dan kadar hormon kortisol terhadap hipertensi, melalui pengujian secara statistik dengan p value < 0.05. Sedangkan, untuk variabel perilaku merokok dan konsumsi alkohol memiliki p value > 0.05. Kebisingan sebagai variabel utama memiliki OR 19.067 melalui uji multivariat, setelah dilakukan kontrol oleh variabel perancu lama kerja, riwayat keturunan hipertensi, aktivitas fisik, penggunaan APT, dan indeks massa tubuh terhadap hipertensi.
Kesimpulan: Pekerja yang terpapar kebisingan berisiko untuk mengalami hipertensi. Pekerja yang memiliki lama kerja lebih dari lima tahun, tidak melakukan aktivitas fisik, tidak menggunakan APT, dan memiliki indeks massa tubuh yang tidak normal berisiko lebih besar untuk mengalami hipertensi.
Kata kunci: Farmasi, Hipertensi, Hormon Kortisol, Industri, Kebisingan
Read More
Metode: Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif, dengan desain penelitian potong lintang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah proportionate stratified random sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengolahan data dilakukan dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariat dengan interval kepercayaan 95%. Dalam penelitian ini juga dilakukan tes laboratorium untuk memvalidasi dan mendapatkan data kondisi stres biologis pada pekerja melalui pengujian hormon kortisol dari air liur.
Hasil: Seluruh variabel independen memiliki faktor risiko > 1 terhadap variabel dependen. Terdapat hasil yang signifikan dari variabel independen kebisingan, lama kerja, umur, riwayat keturunan hipertensi, aktivitas fisik, penggunaan APT, indeks massa tubuh, dan kadar hormon kortisol terhadap hipertensi, melalui pengujian secara statistik dengan p value < 0.05. Sedangkan, untuk variabel perilaku merokok dan konsumsi alkohol memiliki p value > 0.05. Kebisingan sebagai variabel utama memiliki OR 19.067 melalui uji multivariat, setelah dilakukan kontrol oleh variabel perancu lama kerja, riwayat keturunan hipertensi, aktivitas fisik, penggunaan APT, dan indeks massa tubuh terhadap hipertensi.
Kesimpulan: Pekerja yang terpapar kebisingan berisiko untuk mengalami hipertensi. Pekerja yang memiliki lama kerja lebih dari lima tahun, tidak melakukan aktivitas fisik, tidak menggunakan APT, dan memiliki indeks massa tubuh yang tidak normal berisiko lebih besar untuk mengalami hipertensi.
Kata kunci: Farmasi, Hipertensi, Hormon Kortisol, Industri, Kebisingan
S-9642
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Indah Kusumawati; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
S-7405
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Aisyah Amanda; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Dura Vendela
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kebisingan, faktor karakteristik pekerja (usia, masa kerja, durasi kerja, riwayat diabetes, riwayat hipertensi), dan faktor perilaku pekerja (penggunaan APT dan perilaku merokok), dengan gangguan pendengaran pada pekerja bagian refining PT X tahun 2019. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 66 orang pekerja bagian refining. Data gangguan pendengaran pada pekerja diperoleh dari hasil Medical Check Up rutin yang dilakukan oleh perusahaan, sedangkan data tingkat kebisingan diperoleh melalui pengukuran secara langsung menggunakan Sound Level Meter di area kerja bagian refining. Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia (OR 7; 95% CI: 1,608-30,474), masa kerja (OR 7,8; 95% CI: 0,925-65,747, dan perilaku merokok (OR 7,8; 95% CI: 0,925-65,747) dengan gangguan pendengaran pada pekerja bagian refining. Selain itu, didapatkan rata-rata tingkat kebisingan yang berbeda pada setiap unit kerja bagian refining, yakni unit kerja Peleburan sebesar 87,08 dBA, Pemurnian Perak sebesar 89,04 dBA, Pemurnian Emas sebesar 83,25 dBA, dan Waste Management sebesar 77,85 dBA.
Read More
S-9979
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Andi Fildza Rafiza; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Dewi Susanna, Agus Sudarman
Abstrak:
Kebisingan merupakan risiko kerja yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen, salah satu nya adalah kebisingan dari kegiatan konstruksi di Dok kapal. Dok kapal memiliki kegiatan perbaikan dan pembuatan kapal yang dapat menimbulkan kebisingan tinggi dan terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan gangguan pendengaran pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara tingkat kebisingan dengan gangguan pendengaran yang terjadi pada pekerja lapangan di Dok kapal Tanjung Priok tahun 2019. Desain studi yang digunakan adalah desain studi cross sectional dengan subjek pekerja lapangan PT. Dok & Perkapalan Kodja Bahari galangan II terdiri dari bagian produksi, fasilitas galangan, dan QHSE. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 70 responden dan 31 titik kebisingan. Hasil analisa bivariat menghasilkan hubungan yang signifikan antara tingkat kebisingan dengan gangguan pendengaran dengan p value 0,02, OR=5,44, dan CI 95%=1,263- 23,464. Hasil analisis multivariat menunjukan bahwa pekerja yang terpajan kebisingan memiliki risiko 21 kali terkena gangguan pendengaran dibandingkan yang tidak terpajan setelah di kontrol variabel riwayat penyakit telinga dan usia. Temuan ini menyarankan untuk adanya pengendalian kebisingan dengan eliminasi alat kerja yang menimbulkan bising, melakukan penanaman pohon untuk mereduksi kebisingan, kontrol administrasi dengan melakukan rotasi kerja dan kegiatan edukasi pada pekerja bahaya kebisingan
Read More
S-10121
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ayu Pratiwi Lubis; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari;Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
Abstrak:
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa suhu lingkungan kerja berpengaruh terhadap produktivitas pekerja. Selain memengaruhi produktivitas kerja, suhu lingkungan kerja yang panas juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan akibat panas (heat related disorder), yang paling umum dialami pekerja adalah kelelahan akibat panas (heat exhaustion). PT. X merupakan salah satu pabrik peleburan timah terbesar di Indonesia yang pada proses produksinya memerlukan suhu sampai 1.500oC, hal tersebut dapat menimbulkan tekanan panas (heat stress). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pajanan tekanan panas dengan kejadian heat exhaustion pada. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional atau potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 76 pekerja. Jumlah pekerja yang mengalami heat exhaustion adalah 27 orang (35,5%). Hasil yang didapatkan suhu WBGT indoor berkisar 29,4-41,0oC, sehingga menyebabkan 56 dari 76 pekerja (73,7%) mengalami tekanan panas.. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara tekanan panas dengan kejadian heat exhaustion pada pekerja. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian secara administrativ dan perlindungan personal untuk memimalisasi risiko dari tekanan panas.
Various studies have shown that the temperature of the working environment affects worker productivity. In addition, high temperature in working environment can also cause heat related disorder, the most common is heat exhaustion. PT. X is one of the biggest tin smelter in Indonesia that the production process requires temperatures up to 1.500oC, it can cause heat stress. This study aims to analyze the relationship between the exposure of heat stress on heat exhaustion. This study used a crosssectional study design with 76 sample of workers. The number of workers who suffered heat exhaustion were 27 persons (35.5%). The results obtained WBGT indoor temperature ranges from 29.4 to 41.0 ° C, resulting in 56 of 76 workers (73.7%) experienced heat stress. The results of this study showed theres a association between heat stress on workers' heat exhaustion. Therefore, the required control efforts in terms of technical, administrative, and provision of personal protective equipment to minimize the risk of heat exhaustion due to heat stress.
Read More
Various studies have shown that the temperature of the working environment affects worker productivity. In addition, high temperature in working environment can also cause heat related disorder, the most common is heat exhaustion. PT. X is one of the biggest tin smelter in Indonesia that the production process requires temperatures up to 1.500oC, it can cause heat stress. This study aims to analyze the relationship between the exposure of heat stress on heat exhaustion. This study used a crosssectional study design with 76 sample of workers. The number of workers who suffered heat exhaustion were 27 persons (35.5%).
S-8452
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nisrina Rihadatul Aisy; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Dewi Susanna, May Haryanti
Abstrak:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara intensitas kebisingan dengan gangguan non-auditory pada pekerja di PT. X, Cikarang, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain studi cross-sectional, dengan jumlah sampel yang diteliti sebanyak 48 pekerja. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode proportionate stratified random sampling. Data intensitas kebisingan diperoleh dari Dokumen UKL-UPL Bulan Desember 2019 PT. X, sedangkan data karakteristik, perilaku, dan gangguan non-auditory pada pekerja diperoleh dari hasil kuesioner. Variabel independen dalam penelitian ini adalah intensitas kebisingan di area produksi, variabel dependen adalah keluhan gangguan non-auditory, dengan karakteristik dan perilaku individu sebagai variabel confounding.
Read More
S-10538
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
M. Jali; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Zakianis, Didik Supriono
S-5587
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
