Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 26059 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Farah Alphi Nabila; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Toha Muhaimin, Debby Permatasari
Abstrak: Perilaku berobat dalam penelitian ini ialah perilaku ODHA dalam meminum obatARV, mulai dari pengambilan obat ARV hingga pada pengonsumsiannya.Penggunaan ARV menuntut ODHA untuk patuh dan menjalankan pengobatannyadengan teratur. Sedikit pelanggaran dari ketentuan mengonsumsi obat tersebut dapatmenyebabkan kegagalan proses pengobatan dan memicu munculnya resistensi. DiIndonesia, angka kejadian kegagalan dalam pengobatan ARV masih tinggi akibatkepatuhan berobat yang kurang baik. Hingga September 2014, ada 38.399 orang yangberhenti melakukan pengobatan ARV dan tidak ter-followup. Tujuan dari penelitianini ialah memperoleh gambaran yang mendalam tentang perilaku berobat ODHAYayasan Kotex Mandiri yang berkaitan dengan pengetahuan, self efficacy, riwayatefek samping obat, akses layanan kesehatan, pengalaman mendapat stigma dandiskriminasi di layanan kesehatan, dukungan tenaga kesehatan, dan dukungankelompok. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakandesain studi kasus. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam dan telaahdokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ODHA Yayasan KotexMandiri memiliki pengetahuan yang baik mengenai HIV, cara penularan, danpengobatan ARV, memiliki self efficacy yang tinggi, mengalami riwayat efek sampingobat seperti mual, demam, ruam-ruam, namun dapat diatasi dengan baik dan tidakmenimbulkan perilaku putus obat, mendapat akses layanan kesehatan sangat mudah,tidak mengalami stigma dan diskriminasi di layanan kesehatan tempatnya berobat,mendapat dukungan dari tenaga kesehatan, dan kelompok (keluarga, teman, danLSM). Adanya program pendampingan dari Yayasan Kotex Mandiri di layanankesehatan memberikan dampak seperti peningkatan pengetahuan dan motivasi berobatODHA.
Kata Kunci: Perilaku Berobat, ODHA, Yayasan Kotex Mandiri
The treatment behavior in this study is the behavior of ODHA in taking ARV drugs,starting from taking ARV in health services to their consumption. The use ofantiretrovirals requires ODHA to comply and carry out their treatment regularly.Few violations of the provisions for taking these drugs can cause a failure of thetreatment process and trigger resistance. In Indonesia, the incidence of ARVtreatment failure is still high due to poor adherence to treatment. Until September2014, there were 38,399 people who stopped taking ARV treatment and were notfollowed up. The purpose of this study was to obtain an in-depth picture of thetreatment behavior of the ODHA of Kotex Mandiri Foundation relating toknowledge, self efficacy, history of drug side effects, access to health services,experience of getting stigma and discrimination in health services, support of healthworkers, and group support. This research is a type of qualitative research usingcase study design. The method used is in-depth interviews and document review.The results showed that most ODHA in Kotex Mandiri Foundation had goodknowledge about HIV, modes of transmission, and ARV treatment, had high selfefficacy, experienced a history of drug side effects such as nausea, fever, rashes,but could be treated well and does not cause drug breaking behavior, gets access tohealth services very easily, does not experience stigma and discrimination in healthservices where he is treated, gets support from health workers, and groups (family,friends and NGOs). The existence of a mentoring program from Kotex MandiriFoundation in health services has had an impact such as increasing the knowledgeand motivation of ODHA treatment.
Keywords: Treatment Behavior, ODHA, Kotex Mandiri Foundation.
Read More
S-10195
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pande Nyoman Vidya Dhanika; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dadan Erwandi, Husein Habsyi
Abstrak: Stigma terkait HIV merupakan sikap, perilaku dan penilaian negatif terhadap ODHA akibat dari ketakutan umum yang akhirnya berujung pada tindakan diskriminatif. Perilaku pemberian stigma terhadap ODHA di Indonesia terus meningkat berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 dan 2018. Akibat dari stigma yang tidak diatasi dapat berujung pada hilangnya keinginan ODHA untuk mengakses layanan kesehatan, sehingga dapat menyebabkan kemungkinan penularan akibat ketidaktahuan status HIV dan kematian terkait AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan perilaku pemberian stigma pada ODHA oleh wanita usia 15-49 tahun di Indonesia dengan menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indoneisa (SDKI) tahun 2017, yang menggunakan desain studi cross-sectional. Uji Chi Square digunakan untuk menganalisis hubungan antara 9 variabel independen dengan perilaku pemberian stigma. Sampel sebanyak 32.184 dari 49.627 wanita usia 15-49 tahun yang memenuhi kriteria pernah medengar tentang HIV/AIDS dan data yang lengkap sesuai variabel yang dianalisis. Ditemukan proporsi perilaku pemberian stigma pada ODHA oleh wanita usia 15-49 tahun di Indonesia, tahun 2017 sebesar 89,5%. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara faktor predisposisi (wilayah tempat tinggal, pengetahuan HIV/AIDS dan sikap terhadap ODHA, faktor pemungkin (indeks kekayaan) dan faktor penguat (sumber informasi HIV/AIDS) dengan perilaku pemberian stigma pada ODHA. Diharapkan pemerintah dapat bekerja sama dengan yayasan/organisasi HIV/AIDS untuk meningkatkan intervensi promotif dan preventif terkait HIV/AIDS terutama mengenai mekanisme penularannya khususnya di wilayah perdesaan Indonesia serta melibatkan masyarakat luas untuk dapat berinteraksi langsung dengan ODHA.
Kata kunci: Stigma terkait HIV, HIV/AIDS, Orang dengan HIV/AIDS

HIV-related stigma is a negative attitude, behavior and perception of PLHIV as a result of general fear which ultimately results in discriminatory actions. Stigmatizing behavior towards PLHIV in Indonesia continues to increase based on the results of the Basic Health Research (Riskesdas) in 2010 and 2018. As a result of the unresolved stigma can lead to the loss of the desire of PLHIV to access health services, which can lead to the possibility of transmission due to ignorance of HIV status and AIDS-related deaths. This study aims to analyze factors related to the behavior of giving stigma to PLHIV by women aged 15-49 years in Indonesia using data on Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in 2017. The approach is done with cross-sectional study design, as well as analysis with Chi Square test to analyze the relationship between 9 independent variables with the behavior of giving stigma. The sample of the study was 32,184 of 49,627 woman aged 15-49 years old with inclusion criteria of research subjects who had heard about HIV / AIDS and who had complete data according to the variables analyzed. It was found the proportion of stigma-giving behavior among PLHIV by women aged 15-49 years in Indonesia in 2017 was 89.5%. Analyze result shows that there is a relation found between predisposing factors (area of residence, knowledge on HIV/AIDS and behavior towards PLHIV), enabling factors (wealth index) and reinforcing factors (information source of HIV/AIDS) with stigmatizing behavior towards PLHIV. It is hoped that the government can cooperate with HIV/AIDS foundations and organizations to improve promotive and preventive interventions related to HIV/AIDS regarding transmission mechanisms especially throughout rural area in Indonesia and also involve wider community to be able to interact directly with PLHIV.
Key words: HIV-related Stigma, HIV/AIDS, People Living with HIV/AIDS
Read More
S-10349
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nency Benedicta Romauli Situmorang; Pembimbing: Rina Artining Anggorodi; Penguji: Teng Soegilar, Paul F. Matulessy
S-4536
Depok : FKM-UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Triyono; Pembimbing: Rina Artining Anggorodi
S-3726
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rostini; Pembimbing: Sudarti Kresno; Penguji: Rina Artining Anggorodi, Anwar Hassan, Hartiah Haroen, Reynie Purnama Raya
Abstrak:

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap petugas puskesmas terhadap Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) di Kota Bandung melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan data primer di empat puskesmas (Salam, Kopo, Pasundan, dan Ibrahim Adji/Kiaracondong) di Kota Bandung pada bulan Oktober - Nopember 2010. Hasil penelitian didapatkan 59.6% petugas puskesmas bersikap positif terhadap ODHA. Faktor yang berhubungan dengan sikap petugas puskesmas terhadap ODHA adalah pengalaman menolong ODHA dengan nilai p=0.016 (OR: 4.827, 95%CI: 1.343-17.349). Artinya, petugas puskesmas yang pernah menolong ODHA akan memberi sikap positif terhadap ODHA sebesar 4.8 kali lebih tinggi dibandingkan petugas puskesmas yang belum pernah menolong ODHA setelah dikontrol variabel dukungan rekan kerja. Hasil penelitian kualitatif ditemukan informasi tentang sikap negatif petugas Puskesmas terhadap ODHA dan mutasi petugas Puskesmas yang mengganggu kelancaran pelayanan kesehatan HIV-AIDS di Puskesmas.


 The study was designed to explore the relationship of the factors of health center providers attitude toward People Living with HIV-AIDS (PLWH) in HIV-AIDS Care, through quantitative and qualitative approach using primary data in four health centers (Ibrahim Adjie/Kiaracondong, Kopo, Pasundan, and Salam) in Bandung in October - November 2010. The result showed 59.6% health center providers had positive attitude toward PLWH. Only one factor was significant related to attitude of health center providers toward PLWH with p=0.16 (OR: 4.827, 95% CI: 1.343-17.349). Meaning, there was 4.8 chance for health center providers who had helped PLWH having positive attitude toward PLWH compared with those who never helped PLWH. The qualitative study found negative attitude of health centre providers toward PLWH and mutation of health centre providers was the problem in HIV-AIDS care at health centers in Bandung.

Read More
T-3274
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Toha Muhaimin; Promotro: Budi Utomo; Ko-Promotor: Sudarto Ronoatmodjo, Samsuridjal Djauzi; Penguji: Sudijanto Kamso, Arwin Akib, Irwanto, Kemal N. Siregar
D-239
Depok : FKM-UI, 2010
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fenita Purnama Sari Indah; Promotor: Tris Eryando; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar, Lely Wahyuniar; Penguji: Besral, Meiwita Paulina Budiharsana, Zubairi Djoerban, Trihono, Muchlis Achsan Udji Sofro
Abstrak:
Indonesia memiliki Pengidap HIV Terbanyak di Asia Tenggara. Pada target 95% ARV, hingga Maret 2023 Indonesia masih mencapai kurang dari setengah target (42%) yang masih di dalam pengobatan ARV. Tujuan utama penelitian ini adalah mengembangkan model edukasi digital m-Health OMA untuk meningkatkan pengetahuan, sikap ODHIV mengenai HIV/AIDS dan ARV dan kepatuhan mengonsumsi pada ODHIV. Penelitian ini adalah penelitian analitik operational research yang terdiri atas 5 (lima) tahap dengan metode campuran atau mixed methods. Tahap penelitian tersebut adalah 1) Identifikasi faktor determinan kepatuhan mengonsumsi ARV (Antiretroviral) pada ODHIV (n=142 ODHIV); 2) Menyusun konten dan desain aplikasi m-Health OMA (n=9 informan Focus Group Discussion); 3) Pengembangan aplikasi m-Health OMA. Peneliti bekerja sama dengan tim IT membentuk model aplikasi m-Health OMA dengan muatan konten dan desain berdasarkan hasil FGD pada tahap sebelumnya; 4) Uji coba konten dan desain m-Health OMA dengan melakukan penilaian user experience aplikasi m-Health OMA (n=33 ODHIV). Analisis hasil pengukuran User Experience (UEQ Data Analysis Tool melalui excel Microsoft Office 365) ; 5) Mengevaluasi model dan sistem aplikasi m-Health OMA. Hasil penelitian mengemukakan bahwa determinan yang paling terkait dengan kepatuhan mengonsumsi ARV pada ODHIV adalah status ekonomi (berkaitan juga dengan biaya transportasi), pengetahuan tentang HIV/AIDS dan ARV, dan stres. Faktor determinan ini menjadi landasan dalam penyusunan konten dan desain aplikasi. Fitur aplikasi yang disusun yaitu kotak obat; pengingat minum obat (mengetikkan kata penyemangat); pantun jenaka; mitos/fakta; poster dan komik; jurnal dan buku HIV/AIDS, ARV; Media Audio Visual. Keseluruhan fitur dapat menambah semangat, memotivasi dan mengingatkan untuk terus konsumsi ARV agar ODHIV tidak lupa dan jenuh. Desain yang diciptakan dibuat menarik dengan tampilan full color dilengkapi dengan media audio visual, komik, poster, kotak obat, pantun yang lucu dan memberikan semangat. Aplikasi m-Health OMA dan video tutorial penggunaan aplikasi telah didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Uji coba konten dan desain m-Health OMA dengan melakukan penilaian user experience aplikasi m-Health OMA menunjukkan hasil excellent pada aspek daya tarik, kejelasan, efisiensi, ketepatan, stimulasi, dan kebaruan. Pada evaluasi m-Health OMA dan pemberian leaflet pada ODHIV untuk pengukuran perubahan pengetahuan, sikap dan kepatuhan mengonsumsi ARV. m-Health OMA telah terbukti dapat meningkatkan pengetahuan (p value <0,001), sikap (p value <0,001) dan kepatuhan mengonsumsi ARV (p value = 0,001).

Indonesia has the most HIV sufferers in Southeast Asia. With a target of 95% ARVs, until March 2023 Indonesia has still reached less than half of the target (42%) on ARV treatment. The main objective of this project is to develop a new m-Health digital education model for OMA in order to improve PLHIV's attitudes, knowledge, and adherence to taking ARVs and HIV/AIDS. This research project is an analytical operational study with five (five) stages and an assortment of approaches. The research proceeded in three stages: 1) determining the factors that influence PLHIV (those living with HIV) to use ARVs (antiretrovirals; n = 142 PLHIV); 2) developing the OMA m-Health application's design and content (n = 9 focus group discussion informants); and 3) developing the OMA m-Health application. For the purpose of to test the content and design of m-Health OMA, researchers collaborated with the IT team to create the OMA m-Health application model, with content and design based on the results of the FGD in the previous stage; 4) evaluate the m-Health OMA application's user experience (n=33 PLHIV). 5) Assess the OMA m-Health application model and system; 5) Analyze User Experience measurement data (UEQ Data Analysis Tool using Excel Microsoft Office 365). The results of the research indicate that stress, knowledge about HIV/AIDS and ARVs, and economic status—which is also related to transportation expenses—are the factors most associated with PLHIV adherence to taking ARVs. This important factor creates the basis for content and application design development. The components of the application are arranged as a result: a medicine box; a rhyme; myth/fact; posters and comics; HIV/AIDS journals and books; ARVs; audio visual media; and a reminder to take medication (type messages of motivation). All of these features assist PLHIV remain motivated, enthusiastic, and reminded to keep taking ARVs to prevent forgetting or getting fatigued. The full color display of the exquisite designs is further developed with visual and audio material, comics, posters, medication boxes, and humorous and inspirational lyrics. The intellectual property rights (HKI) have been registered for the OMA m-Health application and the video tutorials that complement it. The OMA m-Health content and design trial produced great results in terms of attractiveness, clarity, efficiency, input, stimulation, and originality when the user experience of the OMA m-Health application was evaluated. Providing PLHIV leaflets and evaluating m-Health OMA are two ways to assess how PLHIV's knowledge, attitudes, and adherence to taking ARVs have changed. It has been established that m-Health OMA increases adherence to taking ARVs (p value = 0.001), knowledge (p value <0.001), and attitudes (p value <0.001).
 
Read More
D-507
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Balqis; Promotor: Hasbullah Thabranyl; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Anhari Achadi, Dumilah Ayuningtyas, Besral, Zubairi Djoerban, Lely Wahyuniar, Makhdum Priyatno
Abstrak:
Penelitian ini membahas peran kolaborasi lintas sektor terhadap kinerja program pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di Provinsi Sulawesi Selatan, merupakan penelitian mix method dengan design cross sectional dan kualitatif dengan Rapid Assessment Procedur. Pengukuran kolaborasi P2 HIV-AIDS dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah pengembangan indikator proses kolaborasi melalui pendekatan kualitatif dengan melakukan indepth interview pada berbagai pemangku kepentingan yaitu KPAN, kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan, telaah dokumen dan diskusi pakar. Hasil wawancara dianalisis melaui analisis tematik. Tahap kedua dilakukan uji coba kuesioner yang telah dikembangkan dengan uji Alpha Cronbach dan confirmatory factor analysis. Tahap ketiga melakukan perbaikan instrument dari hasil ujicoba yang telah dilakukan melalui diskusi pakar. Tahap terakhir dilakukan pengukuran kolaborasi di Provinsi Sulawesi Selatan dengan melibatkan 328 responden yang mewakili lembaga yang berkolaborasi. Pegukuran menggunakan analisis uji beda mean untuk mengetahui perbedaan rata-rata proses kolaborasi antar kelompok wilayah, kepentingan lembaga, keberadaaan KPA dan peran pemda dan uji beda proporsi untuk mengetahui hubungan antar pemerintah daerah dengan keberadaan KPA serta mengetahui hubungan antara output kolaborasi dan kinerja temuan kasus ODHA. Dilakukan juga analisis regersi logistic untuk melihat pengaruh peran kolaborasi lintas sektor terhadap kinerja program P2 HIV-AIDS. Penelitian ini menghasilkan 29 indikator dari 5 dimensi proses kolaborasi. Hasil peneitian juga menunjukkan terdapat perbedaan rerata skor proses kolaborasi antar ketiga kelompok fokus wilayah, kelompok kepentingan lembaga dan kelompok keberadaan KPA. Terdapat hubungan antar peran sekretariat KPA dengan berjalannya proses kolaborasi serta ada hubungan yang kuat antar perhatian pemerintah daerah dengan keberadaan sekretariat KPA. Terdapat hubungan antar proses kolaborasi dengan output kolaborasi dan juga antar output kolaborasi dengan kinerja temuan kasus ODHA. Dimensi kolaborasi yang berpengaruh terhadap peningkatan temuan kasus ODHA adalah dimensi output yaitu penguatan kebijakan, program, dana dan SDM. Peran output kolaborasi dalam hal ini program, dana dan SDM memiliki kontribusi yang besar terhadap temuan kasus ODHA. Studi ini merekomendasikan perlu peran kolaborasi lintas sektor dalam peningkatan kinerja pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS.
Read More
D-416
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R. Kintoko Rochadi; Pembimbing: Soekidjo Notoatmodjo; Adang Bachtiar; Sudijanto Kamso
D-95
Depok : FKM UI, 2004
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erika Yulita Ichwan; Promotor: Dian Ayubi; Kopromotor: Rita Damayanti; Penguji: Mardiati Nadjib, Martya Rahmaniati M., Lucia RM Royanto, Irwanto, Indra Supradewi, Maria Gayatri
Abstrak:
Latar Belakang : Remaja merupakan aset bagi pembangunan bangsa. Perubahan fisik dan biologis, termasuk berkembangnya ciri-ciri seksual sekunder dan perubahan hormonal pada organ-organ seksual, menyebabkan ketidaksiapan remaja dalam menghadapi dampak perilaku seksual yang mereka lakukan. Hal ini mempengaruhi kualitas kehidupan remaja selanjutnya. Untuk mengatasi permasalahan sosial akibat perilaku seksual pada remaja, diperlukan faktor protektif untuk mengontrol dan mencegah perilaku seksual melalui Developmental Assets yang dimiliki remaja. Tujuan : Penelitian ini untuk mengembangkan model pencegahan perilaku seksual remaja dengan pendekatan Developmental Assets pada remaja di DKI Jakarta. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengumpulan data dilakukan pada 1048 remaja SMA usia 17-19 di DKI Jakarta secara purposive sampling. Menggunakan Developmental Asset Profile (DAP) Questionnaire yang telah diadaptasi dan dianalisis faktor dengan CFA sebelum digunakan. Analisa data menggunakan SEM PLS. Hasil : Penelitian menemukan masih terdapat 4,2% remaja dengan perilaku seksual pranikah berisiko, 7 komponen yang mendukung developmental assets remaja di DKI Jakarta, yaitu Family support and expectation, Constructive use of time in community dan School boundaries and expectation sebagai aset eksternal. Sementara Social competencies, Positives values, Personal identity, dan Commitment to learning merupakan aset internal. Variabel yang berhubungan langsung dengan perilaku seksual adalah Self efficacy, Family support and expectation dan Personal identity dengan nilai SRMR estimated model 0,073 (perfect fit) Kesimpulan : Masih ditemukan remaja dengan perilaku seksual pranikah berisiko meskipun dalam jumlah yang rendah, model yang didapatkan tidak menunjukkan bahwa developmental assets merupakan faktor protektif utama, namun developmental assets melalui aset eksternal berhubungan dengan semua aset internal untuk meningkatkan self efficacy terhadap perilaku seksual berisiko. Implementasi program pendidikan seksual diperlukan dengan memperkuat kolaborasi antar lembaga, dan penguatan aset eksternal dan internal untuk mendukung perkembangan remaja yang sehat dengan pendekatan yang mengintegrasikan dukungan keluarga, lingkungan sekolah, dan kegiatan komunitas. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami lebih dalam jalur tidak langsung ini dan mengembangkan intervensi yang efektif.

Background: Adolescents are a vital asset for national development. However, the physical and biological changes, including the development of secondary sexual characteristics and hormonal changes in sexual organs, often leave them unprepared to face the consequences of their sexual behavior. This lack of preparedness can significantly affect their future quality of life. To address social issues arising from adolescent sexual behavior, protective factors are needed to control and prevent such behavior through the Developmental Assets that adolescents possess. Objective: This study aims to develop a model for preventing adolescent sexual behavior using a Developmental Assets approach among adolescents in DKI Jakarta. Methods: This research employs a quantitative approach with a cross-sectional design. Data were collected from 1,048 high school students aged 17-19 in DKI Jakarta using purposive sampling. The Developmental Asset Profile (DAP) Questionnaire was adapted and validated using Confirmatory Factor Analysis (CFA) for data collection. Data analysis was conducted using Structural Equation Modeling (SEM) with Partial Least Squares (PLS). Results: The research found that there are still 4.2% of teenagers with risky premarital sexual behavior. Seven components support the developmental assets of teenagers in DKI Jakarta: Family support and expectations, Constructive use of time in the community, and School boundaries and expectations as external assets. Meanwhile, internal assets include social competencies, Positive values, Personal identity, and Commitment to learning. Variables that are directly related to sexual behavior are Self-efficacy, Family support and expectations, and Personal identity, with an SRMR estimated model value of 0.073 (perfect fit) Conclusion: There are still teenagers with risky premarital sexual behavior, although, in low numbers, the model obtained does not show that developmental assets are the main protective factor; developmental assets through external assets are related to all internal assets to increase self-efficacy for risky sexual behavior. Implementation of sexual education programs requires strengthening collaboration between institutions and strengthening external and internal assets to support healthy adolescent development with an approach that integrates family support, the school environment, and community activities. Further research is needed to understand these indirect pathways better and develop effective interventions.
 
 
Read More
D-529
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive