Ditemukan 25929 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Latar Belakang : Peningkatan prevalensi penderita hipertensi di masyarakat DKI Jakarta disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat dimodifikas maupun tidak. Aktifitas fisik sehagai salah satu lilktor yang dapat mencegah hipertensi perlu mendapat perhatian yang lebih karena faktor ini termasuk: salah satu faktor yang dapat dimodifikasi dengan usaha dan biaya yang tidak terlaiu besar.Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya besar hubungan antara kejadian hipertensi dengan aktivitas fisik pada masyarakat di lima wilayah DKI Jakarta tahun 2006. Metode : Penelitian ini dilakukan dengan disain cross sectional dan dianalisis secara kohort menggunakan data sekwtder dari survey faktor resiko PTM utama di lima wilayah DKI Jakarta tahun 2006. Kasus ekspos adalah subyek yang melakukan aktivitas fisik renda yang berjumlah 668 orang subyek dan non ekspos adalah subyek yang melakukan aktivitas tinggi sejumlah 668 orang. Perbandingan kasus ekspos dan non ekspos adalah 1:1, hingga jumlah keseluruhan subyek penelitian 1336 subyek. Hasil : Hasil penelitian mendapatkan proporsi hipertensi pada subyek yang beraktivitas rendah sebesar 65,5% dab pada subyek yang beraktivitas tinggi 58 8%. Hasil analisis menunjukkan bahwa aktivitas fisik berhubungan secara signiflkan dengan kejadian hipertensi. Dengan nilai p (p value) = 0,0001, setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin dan peketjaan didapat OR aktivitas tinggi 0,750 dengan 95% CI (0,601- 0,937) menunjukkan bahwa dengan beraktivitas dapat mengurangi risiko untuk menderita penyakit hipertensi sebesar 4 kali. Dalam penelitian ini variabel Jenis kelamin. umur, tingkat pendidilcan, status perkawinan, diaberes mellitus, hiperkolesterol, low HDL, IMT, dan pekerjaan semua mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi (nilai p < α), sementara variabel merokok, hiper LDL dan kecukupen serat walaupun berhubungan tetapi hubungannya dengan hipertensi tidak signiflkan (nilai p > a). Kesimpulan : Aktivittas fisik tinggi dapat mengurangi resiko untuk terkena penyakit hipertensi, semakln sering kita me1akukan aktivitas fisik semakin rendah resiko untuk menderita penyakit. Subyek yang melakukan aktifitas fisik rendah lebih beresiko untuk terkena hipertensi 4 kali dibanding subyek yang melakukan aktifitas fisik tinggi.
ABSTRAK Nama : Debri Rizki Faisal Program Studi : Epidemiologi (Field Epidemiology Training Program) Judul : Pengaruh Status Gizi Stunting Saat Balita dan Obesitas Ketika Dewasa Terhadap Risiko Hipertensi (Studi Longitudinal IFLS 1993 – 2014) Pembimbing : dr.Syahrizal Syarif, MPH, PhD. Stunting merupakan salah satu bentuk kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan menurut usia kurang dari -2 SD (standar deviasi). Kondisi stunting pada usia balita berdampak jangka panjang terhadap dewasa yang pendek dan rentan terhadap penyakit tidak menular ketika dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efek gabungan kondisi stunting saat balita dan obesitas ketika dewasa terhadap risiko hipertensi. Desain penelitian cohort retrospective menggunakan data sekunder Indonesia Family Life Survey (IFLS) periode 1-5. Populasi target adalah balita usia 2-5 tahun pada tahun 1993 sebanyak 2.642 orang, kemudian di follow up hingga dewasa pada tahun 2014. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah 588 orang. Analisis data menggunakan uji cox regression dengan 95%CI. Standar pengukuran sebagai berikut stunting (TB/U < -2 SD), obesitas (IMT ≥ 27 kg/m 2 ) dan hipertensi (≥ 140/90 mmHg). Hasil penelitian didapatkan bahwa dari 588 orang dimana 13.27% mengalami hipertensi dengan proporsi orang yang stunting saat balita dan obesitas ketika dewasa 27.27%. Analisis multivariate ditemukan bahwa responden dengan status gizi stunting dan obesitas berisiko 2.46 (95% CI; 1.23 - 4.90) kali; obesitas dan tidak stunting 2.25 (95% CI; 1.12 – 4.50) kali; stunting dan tidak obesitas berisiko 0.95 (95% CI; 0.55 – 1.62) kali, mengalami hipertensi dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami stunting saat balita dan tidak obesitas ketika dewasa. Risiko kejadian hipertensi meningkat 10.56% akibat interaksi antara kondisi stunting saat balita dan obesitas ketika dewasa. Pentingnya pencegahan stunting pada 1000 Hari Pertama Kehidupan dan mengoptimalkan Posbindu PTM dalam melakukan skrining obesitas dan hipertensi serta pengendalian faktor risiko PTM untuk menurunkan prevalensi penyakit tidak menular terutama obesitas dan hipertensi. Kata kunci: Stunting, Obesitas, Hipertensi, Kohort, Efek Gabungan.
ABSTRACT Name : Debri Rizki Faisal Study Program : Epidemiology (Field Epidemiology Training Program) Title : The Effect Of Early Stunting And Adult Obesity To Increase Risk Of Hypertension (Longitudinal Study IFLS 1993 – 2014) Counsellor : dr.Syahrizal Syarif, MPH, PhD. Stunting due to chronic malnutrition condition that is characterized by Height for Age Z score less than -2 SD (standard deviation). The early stunting in children under five years has a long-term impact on adults are short stature and vulnerable to risk non-communicable diseases in later life. This study aims to determine the joint effect of early stunting conditions and adult obesity to risk for hypertension. This study design was a cohort retrospective using secondary data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) period 1-5. The target population was children aged 2-5 years in 1993 with numbers of 2,642 people and then follow up until adulthood in 2014. The number of samples that met the inclusion and exclusion criteria were 588 people. Data analysis used Cox regression test with 95% CI. Standard of measurements was stunting (HAZ <-2 SD), obesity (IMT ≥ 27 kg / m 2 ) and hypertension (≥ 140/90 mmHg). The results showed that of 588 people where 13.27% had hypertension where the proportion of respondent with early stunting and adult obese was 27.27%. Multivariate analysis found that respondents with nutritional status both early stunting and adult obesity have a risk of 2.46 (95% CI; 1.23 - 4.90) times; obese and not stunting 2.25 (95% CI; 1.12 - 4.50) times; stunting and not obese 0.95 (95% CI; 0.55 - 1.62) times, for having risk of hypertension compared to respondents neither experience stunting and obese. The risk of hypertension increases 10.56% due to the interaction between early stunting and obesity adults. The importance prevention of stunting in The First 1000 Days of Life and optimize Posbindu PTM in screening obesity, hypertension and controlling risk factors NCD to reduce the prevalence of non-communicable diseases, especially obesity and hypertension. Key words: Stunting, Obesity, Hypertension, Cohort, Joint Effects.
Kriteria utama obesitas menurut WHO adalah IMT namun obesitas sentral lebih berhubungan dengan risiko kesehatan dibanding obesitas umum Tujuan penelitian untuk mendapatkan cut off point dari ketiga indikator dalam mendeteksi terjadinya DMT2. Juga untuk mengetahui hubungan obesitas dengan indikator IMT, LP dan rasio LP-TB dengan terjadinya DMT2 dan menentukan indikator mana yang lebih baik dari ketiganya. Desain Cross Sectional. menggunakan data sekunder. Analisis menggunakan regresi logistic dan metode ROC.
Hasil : prevalensi DMT2 9,1% dan prevalensi obesitas berkisar 38,37 % - 41,98 % Nilai cut off obesitas umum IMT ≥ 25,72 kg/m2, LP laki-laki ≥ 80,65 cm perempuan ≥ 80,85 cm dan LP-TB laki-laki ≥ 0,51 perempuan ≥ 0,55.
Kesimpulan : orang dengan obesitas meningkatkan risiko terjadinya DMT2 setelah dikontrol faktor umur. Karena hasil ketiga indikator tidak jauh berbeda, maka penggunaanya tergantung keputusan praktisi kesehatan itu sendiri.
The WHO's major obesity criteria is BMI but central obesity is more associated to health risks than general obesity. The objective of the research is to define the cut off points of the three measurements in detecting the occurrence of T2DM. It is also aimed to examine the relationship of obesity indicators (BMI, WC, and WHtR) with T2DM and determine the best indicator of them. Design of Cross Sectional employs secondary data. Analysis apply logistic model and ROC method.
The result: prevalence of type 2 DM is about 9.1%, and obesity prevalence is about 38.37 % to 41.98 %. The cut off values of BMI general obesity, male WC, female WC, male WHtR, and female WHtR are ≥ 25.72 kg/m2, ≥ 80.65 cm, ≥ 80.85 cm, ≥ 0.5, and ≥ 0,55 respectively.
Conclusion: adjusted by age, obesity increases the risk of type 2 DM occurrence. Since there is no significantly different result, the use of obesity indicators depends on the health practitioner decisions.
Coronary Heart Disease (CHD) is one of the leading causes of death globally with a mortality rate of nearly 17.5 million annually. Smoking accounts for 33% and hypertension accounts for 31% of all deaths from cardiovascular disease. Smoking and hypertension are major risk factors for CHD, which are a serious problem that needs to be addressed in Indonesia and the world. The purpose of this study was to determine the greater risk of smoking and hypertension with the incidence of coronary heart disease in Indonesia. The study used a retrospective cohort design. The data used are secondary data from the Indonesian Family Life Survey (IFLS-4 and IFLS-5 data for 2007-2014) with a total sample of 19,486 population respondents aged ≥18 years. Data analysis with cox regression and the amount of risk is expressed in risk ratio (RR) with a confidence interval (CI) of 95%. Data analysis using data processing software. The results of multivariate analysis after being controlled by sex and DM history showed that smoking individually was not related to CHD in Indonesia in 2007-2014 with a value (RR 1.08; 95% CI = 0.70- 1.67). Hypertension individually increases CHD risk (RR 1.19; 95% CI = 0.92-1.53). Smoking and hypertension together increase the risk of CHD compared to people who don't smoke and don't have hypertension in Indonesia in 2007-2014 (RR 1.66; 95% CI = 1.11-2.48) meaning that respondents who smoke and hypertension are at risk of experiencing CHD 1.66 times (95% CI; 1.11-2.48) compared to nonsmokers and those without hypertension.
