Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33500 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fuad Hilmi Sudasman; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Bambang Wispriyono, Ririn Arminsih, Arip Sumantri, Sonny Priajaya Warouw
Abstrak: World Health Organization (WHO) menganjurkan integrasi program penanganan infeksi kecacingan dengan intervensi Water, Sanitation and Higiene (WASH). Jika dibandingkan dengan cakupan Kabupaten Bandung, Kecamatan Dayeuhkolot pada tahun 2015 dan 2016 masih memiliki cakupan water, sanitation and hygiene (WASH) berupa akses sarana air minum yang layak dan jamban sehat yang rendah dan cenderung menurun dari tahun ke tahun. Penelitian ini merupakan studi epidemiologi yang bertujuan untuk menganalisis sarana air minum, sanitasi dan higiene, karakteristik individu serta perilaku individu terhadap infeksi soil-transmitted helminth (STH) dengan subjek penelitian pada rumah tangga dengan anak usia sekolah dasar di Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung. Penelitian ini berlangsung dari bulan Mei hingga bulan Juni 2019. Penelitian ini menggunakan kuesioner dan uji laboratorium dalam pengambilan data. Hasil penelitian menunujukkan prevalensi infeksi soiltransmitted helminth (STH) pada anak usia sekolah dasar di Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung sebesar 9,1%. Rumah tangga yang memiliki anak usia sekolah dasar di Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung yang memiliki sarana sarana air minum unimproved sebesar 12,7%, sarana sanitasi unimproved sebesar 44,5%, sarana higiene unimproved sebesar 21,8% . Sarana air minum (p=0,001; Exp(B)= 10,11) merupakan faktor risiko dominan terhadap infeksi soil-transmitted helminth (STH) pada anak usia sekolah dasar di Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung
Read More
T-5627
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ibrahim; Pembimbing: Abdur Rahman, Endang L. Achadi
T-1741
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Wina Syahira; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Diare merupakan gangguan gastrointestinal yang setiap tahunnya terdapat sekitar 1 juta orang meninggal melalui air minum dan sanitasi tidak aman. Rumah tangga dengan akses sumber air minum layak pada 2025 hanya 93,22% dari target nasional 100% pada 2024. Diare konsisten berada dalam 10 penyakit tertinggi di Kota Depok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan (kualitas mikrobiologi E. coli, jenis sumber air minum, lokasi sumber air minum, jarak sumber air minum dengan sumber pencemar, dan jenis tempat penyimpanan air minum), faktor perilaku (pengolahan air minum), dan faktor sosiodemografi (pendidikan, usia, dan pekerjaan) dengan kejadian diare di Kota Depok 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT). Analisis data mencakup univariat, bivariat dengan Chi-Square, dan multivariat dengan regresi logistik. Ditemukan hubungan antara kualitas mikrobiologis (E. coli) (p=0,026) dan jarak sumber air dengan septik tank (p=0,030) terhadap kejadian diare di Kota Depok. Kualitas mikrobiologis merupakan faktor dominan berpengaruh terhadap kejadian diare. Rumah tangga dengan kualitas mikrobiologi air yang tidak memenuhi syarat memiliki peluang kejadian diare 1,97 kali dibandingkan dengan rumah tangga dengan kualitas mikrobiologi yang memenuhi syarat (95%CI:1,133–3,435). Diperlukan kerjasama berbagai pihak dalam penyelenggaraan edukasi, pengawasan kualitas air minum, serta sanitasi aman.

Diarrhea is a gastrointestinal disorder that claims the lives of approximately 1 million people each year due to unsafe drinking water and sanitation. By 2025, only 93.22% of households have access to safe drinking water, falling short of the national target of 100% by 2024. Diarrhea consistently ranks among the top 10 diseases in Depok City. This study aims to analyze the relationship between environmental factors (microbiological quality of E. coli, drinking water source, location of the drinking water source, distance between the drinking water source and pollution sources, and drinking water storage), behavioral factors (drinking water treatment), and sociodemographic factors (education, age, and occupation) and the incidence of diarrhea in Depok City in 2025. The study used a cross-sectional design with secondary data from the Household Drinking Water Quality Surveillance (SKAMRT). Data analysis included univariate, bivariate analysis using the Chi-Square test, as well as multivariate analysis using logistic regression. Results showed an association between microbiological quality (E. coli) (p=0.026) and the distance between water source and the septic tank (p=0.030) and the incidence of diarrhea in Depok City. Microbiological quality was the most dominant factor influencing the incidence of diarrhea. Households with microbiological quality that do not meet standards had 1.97 times higher odds of experiencing diarrhea compared to households with microbiological quality that meets the standards (95%CI:1,133–3,435). Collaboration among various stakeholders is needed to provide education, monitor drinking water quality, and ensure safe sanitation regarding septic tanks.
Read More
S-12259
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sekar Astrika Fardani; Pembimbing: Suyud; Penguji: Ririn Arminsih, Kuratul Aini
S-7728
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosi Purnama Sari; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Budi Hartono, Desy Mery Dorsanti
Abstrak: Pada tahun 2018, KLB diare di DKI Jakarta sebanyak 124 kasus yang tersebar di beberapa Kecamatan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan menganalisis secara statistik faktor lingkungan, permukiman kumuh dan bantaran sungai, kepadatan penduduk dengan kasus KLB diare di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan yakni studi ekologi dengan menggunakan data sekunder yang berasal dari data Potensi Desa Tahun 2018 dan data Kependudukan yang berasal dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta dan menampilkan hasil dengan analisis spasial, meliputi variabel-variabel kasus KLB diare, pembuangan sampah, tempat pembuangan sampah sementara (TPS), jamban keluarga, tempat pembuangan akhir tinja, pembuangan limbah cair, sumber air bersih, sumber air minum, permukiman kumuh, permukiman bantaran sungai, dan kepadatan penduduk. Hasil penelitian ini ditemukan hubungan signifikan antara permukiman kumuh dengan kasus KLB diare tahun 2018 di DKI Jakarta. Secara spasial mengindikasikan adanya hubungan antara keberadaan TPS, sumber air minum, permukiman kumuh, permukiman bantaran sungai dan kepadatan penduduk dengan kejadian KLB diare. Kesimpulan dari penelitian ini yakni kondisi sanitasi secara umum di DKI Jakarta memiliki kondisi yang lebih baik dari angka nasional, namun tingkat kepadatan peduduk di DKI Jakarta melebihi tingkat kepadatan nasional. Daerah tingkat kerawanan terjadi KLB diare yang tinggi terdapat pada 5 kecamatan. Upaya pencegahan peningkatan jumlah kasus KLB diare yang memiliki hubungan dengan sanitasi lingkungan sebaiknya dilakukan kerjasama dengan lintas sektor guna memenuhi cakupan sarana sumber air minum, pengelolaan tinja, pengelolaan limbah cair, relokasi permukiman, dan persebaran penduduk. Kata kunci: KLB diare, sanitasi, permukiman kumuh, kepadatan penduduk In 2018, outbreaks of diarrhea in DKI Jakarta were 124 cases spread across several districts. This research aims to provide an overview and statistically analyze environmental factors, slums and riverbanks, population density with the case of diarrhea outbreaks in DKI Jakarta in 2018. The design of the study uses an ecological study using secondary data from Potensi Desa 2018 data and Population data and presented the result with spatial analysis, including case variables Outbreaks of diarrhea, waste management, temporary landfills (TPS), family latrines, fecal landfills, disposal waste water, clean water, drinking water, slums, riverbank settlements, and population density. The results from this research found a significant association between slums and diarrhea outbreaks in 2018 in DKI Jakarta. Spatially indicate a relationship between the existence of temporary landfills, drinking water sources, slums, riverbank settlements and population density with the occurrence of diarrhea outbreaks. The conclusion from this research is that sanitation conditions in DKI Jakarta have better conditions than the national rate, but the population density in DKI Jakarta exceeds the national density level. Areas with high levels of vulnerability occur outbreaks of diarrhea that are high in 5 districts. To prevent the increasing number of cases of diarrhea outbreaks associated with environmental sanitation should be cooperation across the sector to meet the scope of drinking water, family latrines, disposal wastewater, settlement relocation, and population distribution. Keywords: diarrhea outbreak, sanitation, slums, population density
Read More
S-10499
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edgina Dhafia Callista; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Budi Haryanto, Ikha Purwandari
Abstrak:
Hingga tahun 2024, prevalensi stunting di Indonesia masih berada di angka 19,8% dan belum mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, yakni 14%. Distribusi stunting dan faktor risikonya terbukti tidak terjadi secara acak, melainkan membentuk pola kewilayahan. Sementara itu, penelitian menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) terkait faktor lingkungan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan (akses sumber air minum dan sanitasi) terhadap stunting di Indonesia pada tahun 2024 dengan mengontrol faktor Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), tingkat pendidikan ibu, dan kepemilikan jaminan kesehatan. Penelitian dilakukan dengan desain cross-sectional menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024. Sampel dalam penelitian ini adalah 273.281 balita usia 0–59 bulan di Indonesia. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat, bivariat (uji chi-square), multivariat (regresi logistik ganda), serta visualisasi spasial dengan pendekatan SIG. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 21,2% dengan sebaran yang tidak merata antarprovinsi. Analisis spasial menunjukkan wilayah Indonesia bagian timur memiliki kombinasi prevalensi stunting tinggi dengan akses sumber air minum dan sanitasi tidak layak yang tinggi, sedangkan wilayah bagian barat cenderung memiliki kondisi yang lebih rendah. Hasil analisis multivariat membuktikan kedua faktor lingkungan tetap berhubungan signifikan setelah dikontrol faktor perancu, dengan akses sanitasi tidak layak (aPOR=1,292; 95% CI: 1,258–1,327) dan akses sumber air minum tidak layak (aPOR=1,287; 95% CI: 1,245–1,330). Dengan demikian, ketidaklayakan faktor lingkungan secara independen meningkatkan risiko stunting dan membentuk pola kewilayahan, sehingga diperlukan intervensi multisektoral berbasis wilayah untuk menekan prevalensi stunting di Indonesia.

As of 2024, the prevalence of stunting in Indonesia remains at 19.8% and has not yet reached the target set in the 2020–2024 National Medium-Term Development Plan, which is 14%. The distribution of stunting and its risk factors has been shown not to occur randomly, but rather to form regional patterns. Meanwhile, research using a Geographic Information System (GIS) approach regarding environmental factors remains limited. This study aims to determine the relationship between environmental factors (access to drinking water and sanitation) and stunting in Indonesia in 2024 by controlling for Low Birth Weight (LBW), maternal education level, and health insurance ownership. The study used a cross-sectional design using data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey. The sample in this study consisted of 273,281 children aged 0–59 months in Indonesia. Data analysis was performed using univariate analysis, bivariate (chi-square test), multivariate (multiple logistic regression), and spatial visualization using a GIS approach. The results showed a stunting prevalence of 21.2%, with uneven distribution across provinces. Spatial analysis showed that eastern Indonesia has a high prevalence of stunting combined with high rates of inadequate access to drinking water and sanitation, while western regions tend to have lower rates. Multivariate analysis results confirm that both environmental factors remain significantly associated after controlling for confounding factors, specifically inadequate sanitation access (aPOR=1.292; 95% CI: 1.258–1.327) and inadequate access to drinking water sources (aPOR=1.287; 95% CI: 1.245–1.330). Thus, inadequate environmental factors independently increase the risk of stunting and form regional patterns, necessitating region-based multisectoral interventions to reduce the prevalence of stunting in Indonesia.
Read More
S-12240
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nasywan Grananda Rachmantoro; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak: Latar Belakang: Diare pada lanjut usia merupakan masalah kesehatan signifikan di Jawa Barat. Determinan pada kelompok usia transisi 60–75 tahun belum banyak dikaji. Tujuan: Menganalisis determinan kejadian diare pada penduduk usia 60–75 tahun berdasarkan karakteristik individu, faktor lingkungan, dan faktor perilaku menggunakan data SKI 2023. Metode: Desain cross-sectional dengan sampel 5.169 responden. Analisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil: Prevalensi diare sebesar 3,3%. Analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara jenis kelamin (p=0,001; OR=1,69), pendidikan (p=0,010; OR=1,77), tempat tinggal (p=0,016; OR=1,55), sumber air minum (p=0,037; OR=1,88), kualitas fisik air minum (p=0,046; OR=1,88), pengelolaan sampah (p=0,021; OR=1,44), fasilitas cuci tangan (p=0,002; OR=1,66), dan perilaku cuci tangan pakai sabun (p=0,034; OR=1,76) dengan kejadian diare. Analisis multivariat menunjukkan jenis kelamin (perempuan) sebagai determinan paling dominan (aOR=1,723; 95% CI:1,251–2,374; p=0,001). Kesimpulan: Jenis kelamin perempuan merupakan faktor paling dominan terhadap kejadian diare pada penduduk usia 60–75 tahun di Provinsi Jawa Barat, diikuti oleh ketersediaan fasilitas cuci tangan yang memadai.
Background: Diarrhea in the elderly is a significant health problem in West Java. Determinants among the transitional age group of 60–75 years have not been extensively studied. Objective: To analyze the determinants of diarrhea among the population aged 60–75 years based on individual characteristics, environmental factors, and behavioral factors using data from the 2023 Indonesian Health Survey. Methods: A cross-sectional design was employed with a sample of 5,169 respondents. Data were analyzed using chi-square tests and multiple logistic regression. Results: The prevalence of diarrhea was 3.3%. Bivariate analysis showed significant associations between diarrhea and sex (p=0.001; OR=1.69), education (p=0.010; OR=1.77), residence (p=0.016; OR=1.55), drinking water source (p=0.037; OR=1.88), physical quality of drinking water (p=0.046; OR=1.88), waste management (p=0.021; OR=1.44), handwashing facilities (p=0.002; OR=1.66), and handwashing with soap behavior (p=0.034; OR=1.76). Multivariate analysis revealed that female sex was the most dominant determinant (aOR=1.723; 95% CI: 1.251–2.374; p=0.001). Conclusion: Female sex is the most dominant factor associated with diarrhea among the population aged 60–75 years in West Java Province, followed by the availability of adequate handwashing facilities.
Read More
S-12261
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Haikal Fikry; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Dewi Susanna, Angger Aminda Noorcipta Johar
Abstrak: COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan. COVID-19 merupakan betaCoronavirus yang menyerang sistem pernapasan. Provinsi Riau menjadi Provinsi di Pulau Sumatera yang memiliki risiko pekerja terpapar COVID-19 cukup tinggi. PT.X merupakan perusahaan yang dikategorikan memiliki risiko COVID-19 pajanan sedang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik individu dan personal hygiene dengan risiko COVID-19 pada pekerja di PT.X. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 107 pekerja. Data karakteristik individu (Usia, Jenis Kelamin, dan Pendapatan) personal hygiene, dan risiko COVID-19 didapatkan dari data primer melalui kuesioner yang sudah teruji validitasnya. Berdasarkan uji statistik yang dilakukan menggunakan uji chi-square, didapatkan hubungan yang tidak signifikan antara jenis kelamin dengan risiko COVID-19 ( p-value = 0,731). Hasil tidak signifikan juga didapatkan dari variabel usia dengan risiko COVID-19 ( p-value = 1,000). Hasil tidak signifikan juga didapatkan pada varibael pendapatan dengan risiko COVID-19 ( p-value = 0,386). Pada variabel personal hygiene ditemukan hubungan yang signifikan dengan risiko COVID-19 (p-value = 0,00, OR = 7,030)
COVID-19 is an infectious disease caused by a newly discovered type of coronavirus. COVID19 is a betaCoronavirus that attacks the respiratory system. Riau Province is a province on the island of Sumatra that has a fairly high risk of workers being exposed to COVID-19. PT.X is a company that is categorized as having a moderate risk of COVID-19 exposure. This study aims to analyze the relationship between individual characteristics and personal hygiene with the risk of COVID-19 in workers at PT.X. This study uses a quantitative method with a cross-sectional design. The number of samples in this study is 107 workers. Data on individual characteristics (Age, Gender, and Income), personal hygiene, and the risk of COVID-19 were obtained from primary data through a questionnaire that has been tested for validity. Based on statistical tests conducted using the chi-square test, there was no significant relationship between gender and the risk of COVID-19 (p-value = 0.731). Insignificant results were also obtained from the age variable with the risk of COVID-19 (p-value = 1,000). Insignificant results were also obtained for the income variable with the risk of COVID-19 (p-value = 0.386).there is a significant relationship between variable personal hygiene and the risk of contracting COVID-19 (p-value = 0.00, OR = 7.030).
Read More
S-10927
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novita Anindia Pratiwi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Anggi Sulistiawati
Abstrak:
Latar Belakang: Laju kuantitas sampah semakin meningkat. Dengan meningkatnya volume sampah tersebut, keberagaman sampah menjadi semakin banyak. Laju timbulan sampah tersebut dapat dipengaruhi dari banyak faktor termasuk kepedulian akan lingkungan dan kemauan untuk mengolah sampah Tujuan: Menganalisis hubungan antara karakteristik individu dengan perilaku pengelolaan sampah sisa makanan di Puskesmas Pondok Aren Tahun 2024. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional di Kelurahan Pondok Aren sebanyak 100 responden. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan masyarakat dengan perilaku pengelolaan sampah sisa makanan (p=0,000), selain itu tidak ada hubungan signifikan antara umur dengan perilaku pengelolaan sampah sisa makanan pada masyarakat (p= 0,249), jenis kelamin dengan perilaku pengelolaan sampah sisa makanan pada masyarakat (p=0,532) dan pendidikan dengan perilaku pengelolaan sampah sisa makanan pada masyarakat (p=1,000).

Background: The rate of waste quantity is increasing. As the volume of waste increases, the diversity of waste becomes increasingly greater. The rate of waste generation can be influenced by many factors including concern for the environment and the willingness to process waste Objectives: To analyze the relationship between individual characteristics and food waste management behavior at Pondok Aren Health Center in 2024. Method: Quantitative research with a cross-sectional study design in Pondok Aren Village with 100 respondents. Result: There is a significant relationship between community knowledge and food waste management behavior (p=0.000). Apart from that there was no significant relationship between age and food waste management behavior in the community (p= 0.249), gender with food waste in the community (p=0.532) and education with food waste management behavior in the community (p=1.000).
Read More
S-12273
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Hasby; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Laila Fitria, Miko Hananto
S-6191
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive