Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32863 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ima Ananda; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Putri Bungsu, Tutut Indra Wahyuni, Rusli
Abstrak: Pendahuluan: KLB keracunan pangan di sekolah umumnya diduga disebabkan oleh pangan jajanan anak sekolah (PJAS) yang terkontaminasi bakteri patogen akibat praktek higiene sanitasi yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan higiene sanitasi pangan pedagang PJAS dengan status cemaran mikrobiologi PJAS di sekolah dasar di Provinsi Jawa Barat tahun 2016-2018. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang dilakukan di tujuh Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat, yaitu Kota Cirebon, Kota Depok, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Kuningan. Status cemaran mikrobiologi PJAS diperoleh dari data sekunder uji kualitas mikrobiologi PJAS sedangkan status higiene sanitasi pangan pedagang diperoleh dari data sekunder inspeksi kesehatan lingkungan (IKL) pedagang PJAS yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Subjek penelitian adalah 105 pedagang PJAS di sekolah dasar yang menjadi sasaran IKL dari tujuh Kabupaten/Kota. Analisis yang dilakukan adalah analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil: Pedagang yang tidak memenuhi syarat higiene sanitasi pangan berisiko 1.93 kali untuk mengalami cemaran mikrobiologi PJAS dibandingkan dengan pedagang yang memenuhi syarat higiene sanitasi pangan setelah dikontrol pembinaan sebelum inspeksi dan keterlibatan pedagang dalam kursus higiene sanitasi. Kesimpulan: Pembinaan pedagang PJAS merupakan intervensi kesehatan lingkungan yang sangat penting untuk meningkatkan praktek higiene sanitasi pangan pedagang PJAS sehingga mencegah terjadinya cemaran mikrobiologi PJAS
Read More
T-5733
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Juli Siswantari; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Penguji: Ema Hermawanti, Laila Fitria, Bambang Setiaji
Abstrak: Diare masih menjadi masalah di Indonesia dan merupakan penyebab kematian pertama pada kelompok umur balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi sanitasi dan perilaku higiene ibu dengan kejadian diare balita di Kabupaten Sukabumi. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari studi EHRA Kabupaten Sukabumi tahun 2013. Metode penelitian menggunakan desain cross sectional dengan pemilihan sampel metode purposive sampling. Uji statistik menggunakan chi square dengan sistem regresi logistik ganda model prediksi. Hasil penelitian didapatkan 25% balita terkena diare. Dari analisis bivariat didapat variabel yang signifikan mempengaruhi diare balita adalah sarana air bersih (p value 0,002) dengan OR 2,669 (CI 95% 1,44-4,93) dan variabel jarak septik tank-sumur gali (p value 0,000) OR 4,84 (CI 95% 2,15- 10,93). Hasil multivariat menunjukkan bahwa jarak sumur gali-septik tank adalah yang utama mempengaruhi diare balita (p value 0,000) OR 5,22.
Kesimpulan: dalam penelitian ini jarak antara sumur gali-septik tank sangat berpengaruh besar terhadap kejadian diare balita. Balita dalam rumah tangga yang menggunakan sumur gali dengan jarak kurang dari 10 meter dari septic tank memiliki risiko 5,221 kali untuk menderita diare dibandingkan jika jarak ≥ 10 meter. Oleh karena itu diperlukan penyuluhan atau sosialisasi tentang sarana sumur gali dengan septik tank yang memenuhi syarat. Jika kondisi lahan tidak memungkinkan maka perlu dikembangkan alternatif seperti septik tank komunal atau sistem IPAL terpusat oleh sektor terkait. Kata Kunci : Diare, balita, sanitasi
Read More
T-4405
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irma Gusmi Ratih; Pembimbing: Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Vivi Voronika, Hakimi
Abstrak: Kampanye Imunisasi MR Tahun 2017 di Pulau Jawa berakhir dengan hasil belum optimalnya cakupan imunisasi MR, dimana cakupan imunisasi MR di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat lebih rendah dibandingkan 3 provinsi yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan status imunisasi MR pada anak usia 9-59 bulan saat Kampanye Imunisasi MR Pengetahuan ibu tentang imunisasi MR yang meliputi pengetahuan tentang penyakit campak, penyakit rubella, maupun pengetahuan tentang imunisasi itu sendiri sangat berdampak dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi
Read More
T-5628
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Masitoh; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Woro Riyadina, Soewarta Kosen
Abstrak:
Penyakit infeksi pada balita merupakan masalah kesehatan yang perlu ditangani karena menjadi penyebab langsung kematian balita dan stunting. Salah satu penyebab tidak langsung dari penyakit infeksi balita adalah kerawanan pangan. Meskipun beberapa bukti saat ini menunjukkan ada hubungan antara kerawanan pangan dengan penyakit infeksi pada balita tetapi masih sedikit bukti yang meneliti hubungan ini di negara berpenghasilan sedang dan rendah seperti di Indonesia. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kerawanan pangan dengan penyakit infeksi pada balita di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang menggunakan data SSGI Tahun 2021. Hubungan antara kerawanan pangan dengan penyakit infeksi dikontrol oleh variabel kovariat. Analisis multivariat dilakukan menggunakan uji multiple multinomial logistic untuk memperoleh nilai OR adjusted. Hasil penelitian menunjukkan balita dari rumah tangga dengan rawan pangan ringan berisiko 1,367 kali, rawan pangan sedang berisiko 1,490 dan pada rawan pangan berat 1,500 kali. Begitu juga risiko untuk menderita lebih dari satu penyakit infeksi. Balita dari rumah tangga dengan rawan pangan ringan berisiko 1,685 kali, pada rawan pangan sedang 2,418 kali dan rawan pangan berat 2,596 kali. Dapat disimpulkan risiko balita untuk menderita satu penyakit infeksi maupun lebih dari satu penyakit infeksi semakin meningkat seiring dengan level kerawanan pangan rumah tangga.

Infectious diseases in toddlers are a health problem that needs to be addressed because they are a direct cause of toddlers deaths and stunting. One of the indirect causes of infant infection is food insecurity. Although some current evidence shows that there is a relationship between food insecurity and infectious diseases in toddlers, there is still little evidence examining this relationship in middle and low income countries such as Indonesia. Therefore this study aims to determine the relationship between food insecurity and infectious diseases in toddlers in Indonesia. The research was conducted with a cross-sectional design using SSGI data for 2021. The relationship between food insecurity and infectious diseases was controlled by covariate variables. Multivariate analysis was performed using the multiple multinomial logistic test to obtain an adjusted OR value. The results showed that toddlers from households with mild food insecurity had a risk of 1,367 times, moderate food insecurity had a risk of 1,490 and in severe food insecurity 1.500 times. Likewise, the risk of children suffering from more than one infectious disease. Toddlers from households with mild food insecurity have a risk of 1,685 times, in moderate food insecurity 2,418 times and severe food insecurity 2,596 times. It can be concluded that the risk of toddlers suffering from one infectious disease or more than one infectious disease increases along with the level of household food insecurity.
Read More
T-6641
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rifa'I Ali; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Umi Fahmida, Besral; Penguji: Hadi Pratomo, Mondastri Korib Sudaryo, Rini Sekartini, Dodik Briawan, Hera Nurlita
Abstrak:

Masalah stunting pada anak masih menjadi tantangan serius di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal terhadap perubahan praktik pemberian makan, asupan gizi, status besi, dan status gizi anak baduta. Desain penelitian yang digunakan adalah mixed methods exploratory sequential design, diawali dengan riset formatif kualitatif untuk pengembangan media edukasi, kemudian dilanjutkan dengan kuasi eksperimen dengan pendekatan non-randomized pretest-posttest control group design. Intervensi edukasi dilakukan selama 12 bulan dengan pendekatan komunikasi perubahan perilaku sosial (SBCC) menggunakan modul PGS-PL yang disesuaikan dengan kondisi lokal melalui edukasi intensif, peer educator dan juga demo masak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa edukasi PGS-PL berpengaruh signifikan terhadap peningkatan skor keragaman makanan (DDS) (OR = 1,89; p = 0,048) dan Konsumsi sumber pangan hewani (OR=1,55, p = 0,037), serta peningkatan asupan energi, protein, karbohidrat, lemak, vitamin A, asam folat, zat besi, dan seng (p < 0,05). Namun, tidak ditemukan pengaruh signifikan terhadap kadar serum ferritin dan serum transferrin receptor. Status gizi anak mengalami peningkatan signifikan pada indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) sebesar 0,60 z-score (p = 0,007), tetapi tidak signifikan pada indeks berat badan menurut umur (BB/U), dan terdapat penurunan signifikan pada indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) (p = 0,034).
Penelitian ini menegaskan bahwa edukasi gizi berbasis pgs-pl dengan pendekatan kombinasi edukasi intensif, peer educator dan demo masak dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan praktik pemberian makan dan status gizi anak balita di wilayah dengan potensi pangan lokal.


Stunting in children remains a serious public health challenge in Indonesia, including in Pohuwato District, Gorontalo. This study aimed to analyze the effect of nutrition education based on the Local Food-Based Balanced Nutrition Guidelines (PGS-PL) on changes in feeding practices, nutrient intake, besi status, and nutritional status of children aged 6–14 months. The research employed a mixed methods exploratory sequential design, starting with formative qualitative research for the development of educational media, followed by a quasi-experimental study using a non-randomized pretest-posttest control group design. The education intervention was conducted over 12 months using a social and behavior change communication (SBCC) approach, incorporating the PGS-PL module adapted to local conditions through intensive education, peer educators, and cooking demonstrations.
The results showed that PGS-PL education had a significant effect on increasing Dietary Diversity Scores (DDS) (OR = 1.89; p = 0.048) and Egg and/or flesh food (EFF) (OR=1,55, p=0,037), as well as improving the intake of energy, protein, carbohydrates, fat, vitamin A, folic acid, besi, and seng (p < 0.05). However, no significant effect was found on serum ferritin and serum transferrin receptor levels. Children's nutritional status showed a significant improvement in the height-for-age index (HAZ) by 0.60 z-score (p = 0.007), but no significant change was observed in the weight-for-age index (WAZ), and there was a significant decrease in the weight-for-height index (WHZ) (p = 0.034).
This study confirms that nutrition education based on PGS-PL using a combination of intensive education, peer educators, and cooking demonstrations can be an effective strategy for improving feeding practices and the nutritional status of toddlers in areas with local food potential.

 

Read More
D-584
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmad Isa; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Ririn Arminsih, Laila Fitria, Ahmad, Suhartini
Abstrak: Infeksi kecacingan pada anak usia sekolah merupakan salah satu masalahkesehatan masyarakat di Indonesia. Angka prevalensi nasional bervariasi diberbagai daerah dalam kisaran 0,4 hingga 76,67 % (Kemenkes RI, 2011). Jeniscacing yang paling banyak menyerang adalah cacing gelang (AscarisLumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma Duodenale dan NecatorAmericanus), dan cacing cambuk (Trichuris Trichuria). (Dirjen P2MPL, 2010).Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara higieneperorangan, sanitasi lingkungan, karakteristik orang tua dan konsumsi obat cacingterhadap kejadian infeksi kecacingan. Penelitian dilakukan di SD Negeri Jagabaya1 Warunggunung Kabupaten Lebak, Banten. Desain penelitian adalah cross-sectional sedangkan pemilihan subjek penelitian di tentukan dengan metode totalsampling. Responden penelitian ini adalah siswa kelas satu hingga kelas lima.Pengumpulan data primer dilakukan pada bulan Juni 2013 dengan menggunakankuisioner dan angket sebagai instrumen.Hasil penelitian menunjukkan prevalensi infeksi kecacingan pada siswaSDN Jagabaya 1 Kabupaten Lebak adalah sebesar 65, 85 %. Pada analisisbivariat, variabel yang memiliki hubungan secara bermakna dengan kejadianinfeksi kecacingan adalah higiene perorangan (OR=3,194), kebersihan kuku(OR=3,765), pendidikan ibu (OR=2,360), dan kepemilikan jamban (OR=3,808).Pada analisis multivariat, variabel yang memiliki hubungan paling kuat (dominan)terhadap kejadian infeksi kecacingan adalah kebersihan kuku (OR=4,062),kepemilikan jamban (OR=3,569), kebiasaan mencuci tangan sebelum makan(OR=2,965).Kata kunci : Infeksi kecacingan, higiene perorangan, sanitasi lingkungan, anakusia sekolah, Lebak, Banten
sanitation with soil transmitted helminth infection onstudents of State Elementary School of Jagabaya 1 atWarunggunung, Lebak District, Province of Banten in 2013Soil transmitted helminth infection is a public health problem in Indonesia.National prevalence of this disease varies by region from 0.4 to 76.67 %(Indonesian Ministry of Health, 2011). The common worm species that causeinfection are roundworm (Ascaris lumbricoides), hookworm (Ancylostomaduodenale and Necator americanus), and whipworm (Trichuris trichuria). (DirjenP2MPL, 2010).The objective of this research was to examine the association of personalhygiene, environmental sanitation, parental characteristics and anti helminthicdrugs with soil transmitted helminth infection. The research was conducted inElementary school of Jagabaya 1 at Warunggunung, Lebak, Banten. This studyutilized cross-sectional survey design, which respondents were selected by usingtotal sampling method. Respondents of the research were first grade to fifth gradestudents. Primary data was collected on July 2013 by using questionnaire.Results showed that the prevalence of soil transmitted helminth infectionon students of Elementary School of Jagabaya 1 was 65.85 %. Bivariate analysisrevealed four variables that were significantly related to soil transmitted helminthinfection were personal hygiene (OR=3,194), nail cleanness (OR=3,765),maternal education (OR=2,360), and toilet ownership (OR=3,808). Multivariateanalysis indicated that the essential factors related to the occurrence of soiltransmitted helminth infection were nail cleanness (OR=4,062), toilet ownership(OR=3,569), and habit of washing hand before eating (OR=2,965).Keywords : soil transmitted helminth infection, personal hygiene, environmentalsanitation, school-age children, Lebak, Banten
Read More
T-4063
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oka Septriani; Pembimbing: Modastri Korib Sudaryo; Penguji: Syahrizal Syarif, Renti Mahkota, Citra, Agus Salim
Abstrak: Latar Belakang. Tingginya prevalensi diabetes di populasi menyebabkan diabetes menjadi salah satu penyakit penyerta yang banyak diderita oleh pasien COVID-19. Orang dengan diabetes menghadapi kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami komplikasi serius dari COVID-19 hingga kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan probabilitas kesintasan pasien COVID-19 dengan diabetes melitus tipe 2 dan mengetahui hubungan diabetes melitus tipe 2 dengan kematian COVID-19 di RSUD Al Ihsan Provinsi Jawa Barat.
Metode. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif. Populasi dalam penelitian ini yaitu pasien COVID-19 yang dirawat di RSUD Al Ihsan pada periode Maret 2020 sampai dengan 31 Desember 2021 dengan kriteria inklusi merupakan pasien konfirmasi COVID-19 melalui pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) berusia lebih dari sama dengan 18 tahun. Perbedaan probabilitas kesintasan didapatkan dari analisis kesintasan dengan kaplan meier. Analisis Cox Proporsional Hazard digunakan untuk mengetahui hubungan diabetes melitus tipe 2 dengan kematian COVID-19.
Hasil. Sebanyak 308 pasien konfirmasi COVID-19 terlibat dalam penelitian ini. Selama 21 hari pengamatan, probabilitas kesintasan pasien COVID-19 dengan diabetes melitus tipe 2 lebih rendah dibandingkan dengan tanpa diabetes melitus tipe 2 (71,24% vs 84,13%). Sampai akhir pengamatan selama 49 hari, probabilitas kesintasan pasien COVID-19 dengan diabetes melitus tipe 2 menurun dan berbeda dengan pasien COVID-19 tanpa diabetes melitus tipe 2 yang mana probabilitas kesintasannya 48,98% vs 84,13% dengan nilai p 0,0056. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara diabetes melitus tipe 2 dengan kematian COVID-19 setelah dikontrol dengan variabel confounder yaitu umur, gejala batuk, ARDS, vaksinasi, gagal ginjal kronis, penggunaan ventilator, terapi antivirus dan persentase BOR Isolasi COVID-19 saat admisi. Hazard ratio adjusted hubungan diabetes melitus tipe 2 dengan kematian COVID-19 pada model akhir analisis multivariat sebesar 2,676 (95% IK 1,24-5,73).
Kesimpulan. Probabilitas kesintasan pasien COVID-19 dengan diabetes melitus tipe 2 lebih rendah dibandingkan dengan pasien COVID-19 tanpa diabetes melitus tipe 2.
Diabetes melitus tipe 2 meningkatkan resiko kematian pada pasien COVID-19.
Introduction. The high prevalence of diabetes in the population causes diabetes to become one of the comorbidities that many COVID-19 patients suffer from. Patients with diabetes have a higher risk of experiencing serious complications from COVID-19 and even death. This study aims to determine the difference in survival probability of COVID-19 patients with type 2 diabetes mellitus and to determine the relationship between type 2 diabetes mellitus and COVID-19 mortality at Al Ihsan Hospital, West Java Province.
Methods. This study used a retrospective cohort study design. The population of study were COVID-19 patients who were treated at Al Ihsan Hospital in the period March 2020 to December 31, 2021 with inclusion criteria being confirmed as COVID-19 patients through Polymerase Chain Reaction (PCR) examination and aged ≥ 18 years. Differences in survival probability were obtained from survival analysis with Kaplan-Meier. Cox Proportional Hazard analysis was used to determine the relationship between type 2 diabetes mellitus and COVID-19 mortality.
Results. Results indicated that a total of 308 confirmed positive COVID-19 patients were involved in this study. During the 21 days of observation, survival probability of COVID-19 patients with type 2 diabetes mellitus was lower than those without type 2 diabetes mellitus (71.24% vs. 84.13%). Until the end of the 49-day observation, survival probability of COVID-19 patients with type 2 diabetes mellitus decreased and differed from that of COVID-19 patients without type 2 diabetes mellitus which the survival probability was 48.98% vs. 84.13% (p = 0.0056). There was a statistically significant relationship between type 2 diabetes mellitus and COVID-19 mortality after controlling for confounder variables, age, cough symptoms, ARDS, vaccination, chronic kidney disease, ventilator use, antiviral therapy and the percentage of Bed Occupation Rate COVID-19 isolation at admission. The hazard ratio adjusted relationship between type 2 diabetes mellitus and COVID-19 mortality in the final model of multivariate analysis was 2,676 (95% CI 1,24-5,73).
Conclusion. It appears that survival probability of COVID-19 patients with type 2 diabetes mellitus is lower than those without type 2 diabetes mellitus. Type 2 diabetes mellitus increases the risk of death in COVID-19 patients.
Read More
T-6461
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rindu Rachmiaty; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Nurhayati Adnan, Yoan H. Naomi
T-4749
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggun Purnama Dewi; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mahkota, Renti ; Mutaqin, Asep Adam
S-8985
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Budi Hapsari; Pemb. Rachmadhi Purwana, Ratna Djuwita; Penguji: Bambang Wispriyono, Endang Syaifuddin, Rachmat Suherwin
Abstrak:

Latar belakang - Asap rokok lingkungan merupakan faktor risiko bagi timbulnya masalah kesehatan masyarakat. Dampak kesehatan yang ditimbulkan bukan hanya mengenai perokok, tetapi juga mengenai orang lain. Dari semua kelompuk umur dalam masyamkat, bayi dan anak-anak merupakan kelompok yang rentan terkena dampak kesehatan akibat pajanan asap rokok lingkangan. Pajanan asap rokok lingkungan pada anak-anak dapat menyebabkan peningkatan risiko terkena infeksi saluran pemapasan akut dan kronis, asma, radang telinga tengah (otitis media), dan alergi. Bagi anak-anak, rumah merupakan lokasi terpenting yang berkontribusi dalam pajanan asap rokok lingkungan. Tujuan - Mengetahui hubungan kejadian otitis media dengan pajanan asap rokok lingkungan di rumah dan faktor kovariat lain (jenis kelamin, status gizi, tingkat pendidlkan bapak, tingkat pendidikan ibu, pengeluaran keluarga, kepadatan penghuni rumah, dan ventilasi rumah) pada anak kelas satu Sekolah Dasar (SD) Kelurahan Grogol, Jakarta Barat, tahun 2008. Metode - Penelitian observasional analitik, melalui pendekatan desain studi kasus kontrol. Populasi adalah seluruh anak kelas satu Sekolah Dasar (SD) di wilayah Kelutahan Grogol, Jakarta Barat, tahun 2008. Kasus adalah semua anak kelas satu SD Kelurahan Grogol tahun 2008 yang pada pemeriksaan telinga dengan otoskop ditemukan satu atau lebih tanda klinis berupa sekret di liang telinga, retraksi membran timpani, udem membran timpani, warna membran hiperemis atau kuning pucat, perforasi membran timpani, bayangan cairan di belakang membran timpani pada salah satu satu atau kedua telinganya. Kontrol adalah semua anak kelas satu SD Kelurahan Grogol tahun 2008 yang pada pemeriksaan telinga dengan otoskop tidak didapati tanda klinis seperti pada kelompok kasus. Hasil - Kejadian otitis media berhubungan bermakna dengan pajanan asap rokok lingkungan di rumah pada anak kelas satu SD Kelurahan Grogol Jakarta Barat tahuo 2008. Hasil uji regresi logistik ganda mendapatkan peningkatan resiko tiga kali lebih besar untuk menderita otitis media pada anak yang tinggal di rumah dengan pajanan asap rokok lingkungan tingg! setelah dikontrol dengan tingkat pendidikan bapak. Saran - Temuan pada penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi anak sekolah, orangtua, guru, masyarakat, dan pemerintah dalam upaya promotif dan preventif bahaya asap rokok lingkungan hagi anak-anak serta upay. kuratif dan rehabililatif atas dampak kesehatan yang ditimbulkan.


BackgrOund - Environmental tobacco smoke (ETS) is known as one of risk factors for public health. The health problems caused by ETS affect more people than just smokers. Children are especially vulnerable to ETS exposure than others. Children's exposure to ETS is responsible for increasing risk of acute and chronic respiratory infections, asthma, otitis media, and allergy. The most important location for children's exposure to ETS is their home. Objectives - To analyze asssociation between otitis media and ETS exposure at home and other covariats (sex, nutritional status, paternal education level, maternal education level, family expenditure, house crowding, and ventilation) on 1st year of basic school children in Grogol, West Jakarta, 2008. Method - Analytic observational study with case-control design. Population of this study are all 1st year of basic school children in Grogol, West Jakarta, 2008. Cases are all I" year of basic school children in Grogol, West Jakarta, 2008, with sign/s of otitis media on otoscopy. Controls are all 1st year of basic school children in Gragoi, West Jakarta, 2008, without sign of otitis media on otoscopy. Result - Otitis media significantly associated with Children's exposure to ETS at home in this study area. Multiple logistic regression analysis showed that odds ratio for otitis media was 3 after adjustment for paternal education level. Suggestion - The findings of this study are expecred to be an important information for all student, parents, teachers, public, and government on promotive-preventive programmes of ETS exposure, and on curative-rehabilitative programmes of ETS's health effects.

Read More
T-2938
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive