Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29291 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sahril Ramadhan, Yanri Wijayanti Subronto, Ari Probandari
MPPK Vol.29, No.2
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2019
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Annisa; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono, Artha Prabawa; Penguji: Martya Rahmaniati Mskful, Suhardini, Diah Handayani
Abstrak: Resistensi obat merupakan masalah baru dalam program eliminasi TB yang disebut TB resisten obat. Pengobatan TB resisten obat di Indonesia dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan rujukan dan fasilitas pelayanan kesehatan satelit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitas pelayanan kesehatan terhadap keberhasilan pengobatan pasien TB resisten obat di Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2019 di Subdit-TB, Direktorat P2PML, Kementerian Kesehatan RI. Desain studi penelitian ini adalah kohort restrospektif. Jumlah sampel sebanyak 4288 orang, diseleksi menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menyelesaikan pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan satelit sebanyak 97,20% dan di fasilitas pelayanan kesehatan rujukan sebanyak 2,8%. Proporsi keberhasilan pengobatan sebesar 53,2% dengan kumulatif hazard keberhasilan pengobatan sebesar 5,43 di akhir pengamatan selama 36 bulan pengamatan
Read More
T-5649
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hasti Luftyanie Mustopa; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Johari
S-10412
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarmudianta ; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Nuning M Kaptiyah, Yovsyah, Ella Nurlaella Hadi, Lukman Hakim Siregar
Abstrak:
Proporsi ketidakpatuhan penderita berobat di beberapa daerah di Indonesia, angkanya bervariasi dan umumnya masih tinggi (36,7%-63,3%). Ketidakpatuhan berobat menjadi sangat penting karena berhubungan dengan resistensi. Di Kabupaten Ogan Komering Ulu proporsi ketidakpatuhan memeriksakan dahak pada akhir fase intensif cukup tinggi,yaitu 25,15%. Sehingga kemungkinan terjadinya resistensi tinggi juga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa faktor terhadap ketidakpatuhan memeriksakan dahak pada akhir fase intensif pengobatan tuberkulosis paru di Kabupaten Ogan Komering Ulu tahun 2000. Penelitian ini dilaksanakan dalam waktu satu bulan dengan menggunakan data sekunder yang ada di puskesmas (register tb 01 dan tb 04) di Kabupaten Ogan Komering Ulu. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kasus kontrol. Sampelnya adalah sebagian atau seluruh penderita tuberkulosis paru berumur 15 tahun atau lebih yang berobat di puskesmas di Kabupaten Ogan Komering Ulu dari tanggal 1 juni 2000 sampai dengan tanggal 31 mei 2001 dengan mendapat pengobatan jangka pendek kategori I, II atau III. Jumlah sampel sebesar 184 orang, terdiri dari 92 orang kasus dan 92 orang kontrol. Analisis yang dilakukan adalah analisis bivariat dan analisis multivariat logistik regresi dengan menggunakan ukuran Odds rasio dan uji kai kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak rumah penderita yang jauh dari fasilitas kesehatan mempunyai OR=2,72 (95% CI: 1,44-5,14) dan PMO yang berasal dari keluarga terdekat mempunyai OR=2,56 (95% CI: 1,25-6,26) Penelitian ini menyimpulkan bahwa jarak rumah terhadap fasilitas kesehatan dan PMO mempunyai pengaruh terhadap ketidakpatuhan memeriksakan dahak pada akhir fase intensif pengobatan tuberkulosis paru. Penelitian ini menyarankan kepada petugas perlu melakukan tindakan yang proaktif, seperti membantu penderita dengan cara mengambil pot yang telah disiapkan sebelumnya untuk dibawa ke fasilitas kesehatan. Menyeleksi orang yang akan dijadikan PMO, memberikan pelatihan/ penyuluhan kepada calon PMO dan menginformasikan kembali jadwal ulang pemeriksaan dahak kepada penderita atau PMOnya satu minggu, atau beberapa hari sebelum jadwal pemeriksaan. Kalau dalam satu desa banyak PMOnya perlu diangkat seorang koordinator.

Some Factors Influencing Not Compliance of the Sputum Examination at the End of Intensive Phase of Tuberculosis Treatment in Oku District, South Sumatera 2000 The proportion of not compliance to attend tuberculosis treatment at some areas in Indonesia, the rate is varies and at present it is still high (36, 7%-63, 3%). Not compliance becomes quite essential, since it related to tuberculosis drug resistance. In Ogan Komering Ulu district the portion of not compliance to check the sputum at the end of intensive phase of tuberculosis treatment is still high, that was 25,15%. So the possibility of become resistance is high. The objective of this study is to determine the impact of some factors to not compliance of tuberculosis cases to check the sputum at the end of intensive phase of tuberculosis treatment in Ogan Komering Ulu district in 2000. This study was conducted in a month by using secondary data that available at Health Center (register TB 01 and TB 04) in Ogan Komering Ulu district. The design used was case control study. The sample was some or entire of tuberculosis cases age 15 years old or over who take medical treatment at Health Center of Ogan Komering Ulu district from June 1,2000 to May 31, 2001 who having short treatment of category I, II or III. The number of sample was 184 people, covering of 92 cases and 92 controls. Analysis conducted were bivariate and regression logistic multivariate analysis by using Odds ratio and quadrate kai measurement. The result of this study showed that the distant of tuberculosis patient home which is far away from the health facility having OR=2,72 (95% CI : 1,44-5,14) and treatment observer (PMO) appointed from the nearest family member having OR=2,56 (95% CI : 1,25-6,26). This study concludes that the home distant to health facility and PMO has impacted to not compliance of checking the sputum at the end of intensive phase of tuberculosis treatment. This study recommended the health workers, the necessity of proactive action to support the smoothness of those programs, such as helping the patient by taking the sputum spot that has been prepared earlier to be brought to the Health Center. Selecting people who will act as the PMO, giving short briefing to PMO candidate and informing again to reschedule checking their sputum to patient or its PMO a week or several days prior treatment schedule according to standard operational procedure. The PMO coordinator is necessary to be appointed if a lot of PMO exist in the village.
Read More
T-1218
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Mediana; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Rina Handayani
S-10413
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bayu Seno Aji; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Fathiyah Isbaniah
Abstrak: Situasi pandemi COVID-19 membuka mata masyarakat akan pentingnya kesehatan, peningkatan demand akan produk-produk kesehatan mendorong industri logistik PT X yang berperan dalam distribusi barang untuk melakukan lembur kerja atas intensitas kerja yang tinggi, hal ini meningkatkan risiko terjadinya fatigue di tempat kerja yang dapat menurunkan fungsional tubuh dan berdampak baik pada kesehatan pekerja maupun risiko terjadinya error di tempat kerja, PT X juga belum memiliki sistem manajemen risiko fatigue khusus sehingga deteksi fatigue tidak dapat dilakukan, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran keluhan dan faktor risiko fatigue pada pekerja logistik gudang PT X tahun 2022 yang bertempat di salah satu kawasan DKI Jakarta. Penelitian ini berdesain deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan metode studi cross-sectional menggunakan instrumen kuesioner termasuk Fatigue Assessment Scale (FAS), NASA Task Load Index (TLX), dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang selanjutnya dianalisis secara univariat dan triangulasi data dengan hasil wawancara di lapangan terhadap beberapa pekerja dan koordinator tiap tim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 20 pekerja (37,04%) mengalami keluhan fatigue ringan, mayoritas sebagian lainnya (62,96%) tidak mengalami keluhan fatigue dan tidak ditemukan pekerja dengan keluhan fatigue berat, serta untuk faktor risiko fatigue paling dominan yang ditemukan adalah pada faktor kuantitas tidur pekerja dengan mayoritas pekerja (83,33%) memiliki durasi tidur dibawah standar 7 jam
The COVID-19 pandemic situation has opened people's eyes to the importance of health, the increasing demand for health products has encouraged the logistics industry of PT X, which plays a role in the distribution of goods, to carry out overtime work to meet the high work intensity, this increases the risk of fatigue in the workplace which can reduce body function and have an impact on the health of workers and even the risk of errors in the workplace. Additionally, PT X lacks a fatigue risk management system, making it unable to do fatigue detection, thus this research aims to provide an overview of complaints and fatigue warehouse logistics workers at PT X year 2022, located in one of the DKI Jakarta region. Research design is a quantitative and qualitative with a cross-sectional study using questionnaire instruments, including the Fatigue Assessment Scale (FAS), NASA Task Load Index (TLX), and Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) which were then analyzed univariately and triangulated the data with the results of field interviews towards several workers and the coordinator of each team. The results showed that there were 20 workers (37.04%) experiencing light fatigue, the majority of the others (62.96%) did not experience any, and none with severe fatigue, as for the most dominant fatigue risk factor found is the workers' sleep quantity with the majority of workers (83.33%) having sleep duration below the standard of 7 hours minimum
Read More
S-11028
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shena Masyita Deviernur; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Trisari Anggondowati, Sulistyo dan Meilina Farikha
Abstrak:
Proporsi pasien Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO) yang memiliki hasil akhir pengobatan meninggal meningkat di tahun 2021 menjadi 19%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kematian pasien TB RO selama masa pengobatan di Indonesia. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan menggunakan data kasus TB RO yang memulai pengobatan tahun 2020-2021 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan hingga Mei 2023 dan tercatat pada Sistem Informasi Tuberkulosis. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif, survival dengan menggunakan Kaplan Meier, dan multivariat dengan menggunakan cox regression. Jumlah sampel penelitian adalah 7.515. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 19,39% pasien meninggal dengan laju kejadian keseluruhan adalah 6 per 10.000 orang hari dan probabilitas kumulatif survival sebesar 73%. Analisis multivariat menunjukkan Faktor – faktor yang mempengaruhi kematian pasien TB RO selama masa pengobatan di Indonesia adalah kelompok umur 45-65 (HR 1,519; 95% CI 1,275-1,809) tahun dan 65+ (HR 3,170; 95% CI 2,512-4,001), wilayah fasyankes Jawa-Bali (HR 1,474; 95% CI 1,267-1,714), koinfeksi HIV (HR 3,493; 95% CI 2,785-4,379), tidak mengetahui status HIV (HR 1,655; 95% CI 1,474-1,858) memiliki riwayat pengobatan (HR 1,244; 95% CI 1,117-1,385), tidak konversi ≤3 bulan (HR 4,435; 95% CI 3,920-5,017), paduan pengobatan LTR (1,759; 95% CI 1,559-1,985), kepatuhan pengobatan pada kelompok tidak minum obat 1-30 hari (HR 0,844; 95% CI 0,748-0,953) dan kepatuhan pengobatan pada kelompok tidak minum obat >30 hari (HR 0,318; 95% CI 0,273-0,370).

The proportion of drug-resistant tuberculosis (RO-TB) patients who have the final outcome of treatment will die in 2021 to 19%. The purpose of this study was to determine the risk factors for death of TB RO patients during the treatment period in Indonesia. The design of this study was a retrospective cohort using data on TB RO cases that started treatment in 2020-2021 and had final treatment results until May 2023 and were recorded in the Tuberculosis Information System. The analysis used in this study is descriptive analysis, survival using Kaplan Meier, and multivariate using cox regression. The number of research samples is 7,515. The results of this study showed that 19.39% of patients died with an overall incidence rate of 6 per 10,000 person days and a cumulative probability of survival of 73%. Multivariate analysis shows that the factors that influence the death of TB RO patients during the period of treatment in Indonesia are the age group 45-65 (HR 1.519; 95% CI 1.275-1.809) years and 65+ (HR 3.170; 95% CI 2.512-4.001), health facilities area Java-Bali (HR 1.474; 95% CI 1.267-1.714), HIV coinfection (HR 3.493; 95% CI 2.785-4.379), do not know HIV status (HR 1.655; 95% CI 1.474-1.858) have a history of treatment ( HR 1.244; 95% CI 1.117-1.385), no conversion ≤3 months (HR 4.435; 95% CI 3.920-5.017), mixed treatment LTR (1.759; 95% CI 1.559-1.985), treatment adherence in non-medication group 1 -30 days (HR 0.844; 95% CI 0.748-0.953) and medication adherence in the non-medication group >30 days (HR 0.318; 95% CI 0.273-0.370).
Read More
T-6699
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Klara Morina BR Surbakti; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Moch Noor Farid, Ratnawati, Amin Amsyari
Abstrak:

Abstrak

Salah satu indikator program pengendalian TB secara Nasional strategi DOTS adalah angka keberhasilan pengobatan TB. Fokus utama pengendalian TB strategi DOTS adalah memutus mata rantai penularan TB oleh penderita TB paru sputum BTA positif. Berdasarkan penelitian penderita TB paru sputum BTA negatif dapat menularkan 13-20% (Tostmann A, et al, 2008). BBKPM Bandung sebagai salah satu UPK strategi DOTS pencapaian angka keberhasilan pengobatan masih dibawah target Nasional.Tujuan: mempelajari faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan pasien TB paru sputum BTA negatif dan pasien TB paru sputum BTA positif. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan TB antara lain faktor individu (umur, jenis kelamin, pekerjaan, kepatuhan berobat) dan obat dan penyakit (rejimen, dosis, lama pengobatan, komorbid HIV dan DM). Indikator keberhasilan pengobatan: pemeriksaan ulang sputum BTA menjadi/tetap negatif dan kenaikan berat badan.Desain penelitian: kohort retrospektif.Sampel: data pasien TB Paru yang tercatat di TB 01 tahun 2009-2011dijadikan 2 sub populasi, Pasien TB paru dengan sputum BTA negatif 292 kasus dan pasien TB paru dengan sputum BTA positif 461 kasus.Analisis: multivariabel regresi logistik.Hasil: OR keberhasilan pengobatan pasien TB paru sputum BTA negatif patuh berobat 1,4 dibandingkan tidak patuh (CI : 0,7-3,0) dan pasien TB paru sputum BTA positif patuh berobat 1,1 di bandingkan tidak patuh (CI : 0,6-2,2) setelah dikontrol umur, jenis kelamin dan pekerjaan.Saran: Meningkatkan peran PMO, dan memperhatikan faktor komorbid dalam tatalaksana pengobatan pasien TB paru.


 

Succes rate of TB treatment is an important indicator of the Natinal TB control program.The main focus of TB control program DOTS strategy is to break the chain of TB transmission. Tostmann A, et al (2008) showed that through 13-20% sputum smear negative pulmonary tuberculosis patients can spread TB the bacteria. BBKPM Bandung as one of CGU DOTS strategy has lower treatment succes rate of the national targets.Purpose: To study factors that influence the treatment succes rate of compare with both smear positve and negative pulmonary tuberculosis patients. Those are age, gender, occupation, treatment compliance (factor individu) and regimen, dose, duration of treatment, comorbid HIV and DM (drug and disease). Indicator of treatment succes are the conversion of sputum result examination and the gain weight.Study design: a retrospective cohort study.Samples: the pulmonary TB patient data recorded at TB 01 yeras 2009-2011. The number of TB patients with sputum smear positive are 461 and negative are 292.Analysis: Multivariable logistic regression.Result: OR treatment succes among sputum smear-negative pulmonary TB patients 1,4 (CI: 0,7-3,0) and among sputum smear positive pulmonary Tb patients who adhere to treatment is 1,1 (CI:0,6-2,2) after controlling for age, sex, and occupation.Suggestion: Enhancing the role of the PMO to increase the treatment adherence rate, treat the TB patients with HIV and DM co-infection.

Read More
T-3895
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lendrayani; Pembimbing: Budi Utomo; Penguji: Nasrin Kodim, Dedi Mulyadi
S-4775
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Felly Philipus Senewe
Bulitkes Vol.30, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2002
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive