Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29036 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
R.Tyas Kusumo Astuti; Pembimbing: Tri Krianto
S-2816
Depok : FKM UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Ked. Indo. (MKI), Vol.56, No.9, Sept. 2006, hal. 514-518
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Agoes Soelistijani; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Sutanto Priyo Hastono
Abstrak:
Sampai saat ini penyakit HIV/AIDS semakin berkembang termasuk di Indonesia, hingga akhir Juni 2002 telah mencapai 2950 kasus HIV/AIDS di Indonesia. (Ditjen PPM & PL, 2002). Faktor risiko HIV/AIDS terbanyak adalah hubungan seksual (heteroseksual dan homoseksual). Upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, salah satunya adalah KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) yang bertujuan meningkatkan pengetahuan kelompok berisiko tinggi termasuk wanita penjaja seks (WPS) yang akhirnya mau merubah sikap dan perilakunya untuk mencegah HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan perilaku WPS dalam penggunaan kondom seks komersial di Bali tahun 2000. Penelitian ini menggunakan data sekunder Survei Surveilans Perilaku (SSP) Infeksi Menular Seksual (IMS) & HIV/AIDS oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPK Ul) di Bali meliputi Denpasar, Kuta dan Sanur tahun 2000. Rancangan penelitan adalah cross sectional dengan responden adalah WPS. Variabel yang diamati dan dilihat hubungannya dengan perilaku WPS dalam penggunaan kondom seks komersial adalah pengetahuan WPS tentang HIV/AIDS, karakteristik sosial (umur, tingkat pendidikan, lama bekerja sebagai WPS) dan pengalaman menderita gejala IMS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai pengetahuan kurang tentang HIV/AIDS (57,3%) dan berperilaku tidak selalu menggunakan kondom (87,2 %). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel umur (p=0,725), tingkat pendidikan (p 0,252), dan lama bekerja sebagai WPS (p=0,125) tidak berhubungan bermakna dengan perilaku responden dalam penggunaan kondom seks komersial. Pengalaman menderita gejala IMS (p=0,000) dan pengetahuan tentang HIV/AIDS (p),008) menunjukkan hubungan yang bermakna dengan perilaku responden dalam penggunaan kondom seks komersial. Responden yang mempunyai pengetahuan baik tentang HIV/ADDS berpeluang 2,923 kali berperilaku selalu menggunakan kondom dibandingkan responden yang mempunyai pengetahuan kurang tentang HIV/AIDS. Hasil analisis multivariat rnenunjukkan bahwa variabel umur, tingkat pendidikan, lama bekerja sebagai WPS dan pengalaman menderita gejala IMS ternyata bukan confounder dalam hubungan pengetahuan responden tentang HIV/AIDS dengan perilaku responden dalam penggunaan kondom seks komersial. Mengacu pada hasil penelitian di atas, maka saran yang diajukan khususnya untuk pengelola program dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS dan penggunaan kondom melalui KIE dilakukan lebih efektif dan intensif. Perlu pula kerjasama/kemitraan dengan lintas sektor dan lintas program terkait, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat dan media massa yang kondusif Metode yang efektif digunakan penyuluhan massa, disamping konseling dan melalui kelompok sebaya/seprofesi. Daftar Pustaka : 43 (1980-2002)

Relationship between Knowledge of HIV/AIDS with Female Sex Workers Behavior in Condom Use Commercial Sex, in Bali, in 2000HIV/AIDS has been increasing from time to time, including in Indonesia However, as a fact late of June 2002, exclusive for Indonesia it has reached up to 2.950 cases (Ditjen PPM & PL, 2002). The biggest determinant of its infection is hetero and home sexual relationship. One of the prevention ways done in Indonesia is through Communication, Information and Education program for increasing knowledge of HIV/AIDS to high risk groups, including female sex workers, so that they are aware of the prevention of HIV/AIDS. The objective of this research is to measure relationship between knowledge of HIV/AIDS with female sex workers behavior in condom use commercial sex, in Bali, in 2000. The data sources are Behavioral Surveilans Survey, infectious sexual disease and HIV/AIDS done by Health Survey Center, University of Indonesia in Bali covering Denpasar, Kuta and Sanur in 2000. Survey design is cross sectional with female sex workers as respondents. The knowledge of HIV/AIDS, social characteristic (age, education, length of period working as a sex workers) and experience of having infectious sexual disease symptoms are variable matters taken in this research. It shows that the most of the respondent have less of knowledge (57,3 %) and seldom using condom (87,2 %). The results of bivariate analysis, where variable matters : age (p = 0,725), education level (p = 0,252) and the length of period working as a sex workers (p-0,008) have not significantly relationship with female sex workers behavior in condom use commercial sex. The experience of having infectious sexual disease symptoms (p,000) and . knowledge of HIV/AIDS (p=0,008) have significantly relationship with female sex workers behavior in condom use commercial sex. The risk of the more knowledge respondent of HIV/AIDS might be 2,923 times always using condom compared the less knowledge respondent of HIV/AIDS. The multivariate analysis shows that age, education, length of period working as a sex workers and experience of having infectious sexual disease are not confounder in relationship between knowledge of HIV/AIDS with female sex workers behavior in condom use commercial sex. Finally this research suggests to defend of HIV/AIDS for program the organizers, through effective and intensive communication, information and education program for increasing knowledge of HIV/AIDS and condom use. Cooperation of a flash program and sector, community organizations, non government organizations, and condusive mass media is highly recommended. Effectively method use mass communication, besides individual conseling and peer group. References : 43 (1980-2002)
Read More
T-1742
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitriyah Sari Hadiyanti; Pembimbing: Luknis Sabri
S-4036
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Harun M. Wajoi; Pembimbing: Zulazmi Mamdy
S-1592
Depok : FKM UI, 1999
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Liana Rica Mon Via; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Syahrizal, Rizky Hasby, B. Bayu Sabdo Kusumo
Abstrak: HIV masih menjadi masalah kesehatan global. Pelanggan WPS merupakan salah satu populasi kunci penyebaran HIV. Penggunaan kondom secara konsisten menjadi cara efektif pencegahan HIV dan IMS pada kelompok ini. Angka konsistensi penggunaan kondom kelompok ini masih rendah, yaitu: 35,82% pada konsistensi kategori 1 (selalu atau sering menggunakan kondom), dan 21,10% pada konsistensi kategori 2 (selalu menggunakan kondom). Konsistensi penggunaan kondom dipengaruhi beberapa faktor salah satunya adalah persepsi berisiko tertular HIV. Pada kelompok pelanggan diketahui yang mempunyai persepsi merasa berisiko tertular HIV adalah 45,37%. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif desain cross sectional untuk mengetahui hubungan persepsi berisiko tertular HIV dengan konsistensi penggunaan kondom pada pelanggan WPS yang menggunakan data STBP 2018-2019, dilaksanakan di 24 kabupaten/ kota di 16 provinsi di Indonesia pada tahun 2018 sampai 2019 dengan jumlah sampel sebanyak 4743 orang. Hasil penelitian menunjukkan: pada konsistensi penggunaan kondom kategori 1, terdapat hubungan signifikan antara persepsi berisiko tertular HIV dengan konsistensi penggunaan kondom dimana pelanggan WPS yang memiliki persepsi merasa berisiko tertular HIV memiliki kecenderungan 1,60 kali lebih tinggi untuk konsisten menggunakan kondom saat berhubungan seks dibandingkan yang memiliki persepsi merasa tidak berisiko setelah dikontrol oleh variabel umur pertama kali berhubungan seks dan pengetahuan tentang efektivitas kondom (PR=1,60, 95% CI=1,28-1,99). Sedangkan pada konsistensi penggunaan kondom kategori 2, terdapat hubungan signifikan antara persepsi berisiko tertular HIV dengan konsistensi penggunaan kondom dimana pelanggan WPS yang memiliki persepsi merasa berisiko tertular HIV memiliki kecenderungan 1,46 kali lebih tinggi untuk konsisten menggunakan kondom saat berhubungan seks dibandingkan yang memiliki persepsi merasa tidak berisiko setelah dikontrol oleh variabel umur pertama kali berhubungan seks dan pengetahuan tentang efektivitas kondom (PR=1,46, 95% CI=1,10-1,94). Pemberlakuan perda kewajiban kondom di lokalisasi dengan sanksi yang tegas disertai kerjasama sinergis antar lintas sektor, updating pemetaan berkala lokalisasi yang belum terjangkau disertai penyuluhan tentang HIV/ AIDS dan efektivitas kondom, diseminasi informasi untuk membentuk persepsi berisiko dan perilaku konsisten menggunakan kondom, penerapan manajemen penyediaan kondom di lokalisasi perlu dipertimbangkan untuk mengurangi kejadian HIV terutama di kelompok pelanggan WPS.
HIV is still a global health problem. FSW customers are one of the key populations spreading HIV. Consistent condom use is an effective way of preventing HIV and STI in this group. The consistency rate of condom use in this group is still low, namely: 35.82% in category 1 consistency (always or often using condoms), and 21.10% in category 2 consistency (always using condoms). The consistency of condom use is influenced by several factors, one of which is the perception of risk of contracting HIV. In the group of known customers who have a perception of feeling at risk of contracting HIV is 45.37%. This study is a quantitative cross-sectional design study to determine the relationship between perception of risk of contracting HIV with consistency of condom use in FSW customers using IBBS data 2018-2019, carried out in 24 regencies/cities in 16 provinces in Indonesia from 2018 to 2019 with a total sample of 4743 people. The results showed: in the consistency of category 1 condom use, there was a significant relationship between the perception of risk of contracting HIV and the consistency of condom use where FSW customers who had a perception of feeling at risk of contracting HIV had a 1.60 times higher tendency to consistently use condoms during sex than those who had a perception of feeling no risk after being controlled by the age variable of first intercourse sex and knowledge of condom effectiveness (PR=1.60, 95% CI=1.28-1.99). Meanwhile, in the consistency of category 2 condom use, there was a significant relationship between the perception of risk of contracting HIV and the consistency of condom use where FSW customers who had a perception of feeling at risk of contracting HIV had a 1.46 times higher tendency to consistently use condoms during sex than those who had a perception of feeling no risk after being controlled by age variables for the first time having sex and knowledge of condom effectiveness (PR=1.46, 95% CI=1.10-1.94). The implementation of mandatory condom localization bylaws with strict sanctions accompanied by synergistic cooperation between cross-sectors, updating the periodic mapping of unreached localizations accompanied by counseling on HIV/AIDS and condom effectiveness, dissemination of information to form risk perceptions and consistent behavior using condoms, the implementation of condom provision management in localization needs to be considered to reduce the incidence of HIV especially in FSW customer groups.
Read More
T-6683
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R. Tyas Kusumo Astuti; Pembimbing: Tri Krianto, Nur Aziza; Koordinator: Dian Ayubi
L-215
Depok : FKM UI, 2001
S1 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jalu Adi Dana; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Sudijanto Kamso, Poppy Yuniar, Maya Trisiswati, Ari Wulan Sari
T-4635
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erlian Rista Aditya; Pembimbing: Rina Artining Anggorodi; Penguji: Pandu Riono, Yvonne Magdalena Indrawani, Octavery Kamil, Ciptasari Prabawanti
Abstrak:

Prevalensi HIV pada LSL terus meningkat dari tahun ke tahun, 8% pada 2007 menjadi 17% pada 2011. Tingginya prevalensi HIV pada populasi ini disebabkan oleh pratek perilaku seks aman berupa penggunaan kondom secara konsisten yang masih rendah, 32% pada 2007 dan 24% pada 2011. Tujuan penelitian: Diperolehnya informasi yang mendalam tentang faktor-faktor pendukung dan penghambat perilaku penggunaan kondom secara konsisten pada pekerja seks laki-laki panti pijat serta situasi dan pola penggunaan kondomnya. Desain penelitian: Kualitatif menggunakan rapid assessment procedures. Sebanyak 30 informan dipilih melalui ?stratified? purposive sampling dari 15 panti pijat laki-laki, diwawancarai secara mendalam menggunakan structured open-ended question, ditranskrip dan matriks dibuat untuk memilah data sesuai tema-tema yang muncul. Observasi situasi di panti pijat dan analisis dokumen dilakukan untuk melengkapi wawancara mendalam. Analisis-interpretasi data dilakukan berdasarkan 5 level Socio Ecological Model. Hasil: Sebagian besar faktor-faktor pada level individual (pengetahuan, motivasi dan kesiapan menggunakan kondom, niat, keputusan menggunakan kondom, keterampilan, dan selfefficacy) dalam situasi yang memadai dan menjadi faktor pendukung penggunaan kondom secara konsisten. Namun pengaruh faktor-faktor ini tidak langsung dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor interpersonal terutama klien, atasan/manajer panti pijat, teman dan pasangan tetap serta oleh faktor-faktor situasi organisasi panti pijat seperti aturan organisasi, mekanisme rantai suplai distribusi dan promosi kondom, struktur dan budaya organisasi. Faktor-faktor pada level komunitas tidak mendukung tetapi juga tidak menghambat secara langsung karena jejaring, kapasitas, kepemimpinan, partisipasi dan sumber daya komunitas masih embrional dan belum kuat. Faktor-faktor pada level kebijakan publik mendukung perilaku penggunaan kondom informan karena memungkinkan ketersediaan dan distribusi kondom serta program HIV berjalan di panti pijat. Namun karena adanya kontradiksi antara beberapa kebijakan publik, pengaruhnya menjadi terbatas. Ditemukan juga ada 3 pola umum penggunaan kondom pada informan yang merupakan model sederhana dari stage of change model, health believe model, precaution adoption process model dan social cognitive theory. Kesimpulan/rekomendasi: semua informan telah menggunakan kondom tetapi hanya sebagian kecil informan, sekitar 30%, yang penggunaan kondomnya konsisten. Faktor pada level interpersonal dan organisasional adalah faktor yang paling mempengaruhi penggunaan kondom informan dibandingkan faktor-faktor pada level individual, komunitas dan kebijakan publik. Disarankan agar intervensi pencegahan HIV menyasar lebih dalam faktor-faktor pada kedua level tersebut.


 Background: HIV prevalence among MSM increase time to time, 8% in 2007 to 17% in 2011. High HIV prevalence among this population caused by low unsafe sex practices in form of consistent condom use, 32% in 2007 and 24% in 2011. Study purpose: to acquired insight of consistent condom use suporting and inhibiting factors among massage parlor-based male sex workers as well as situation and patterns of condom use behavior. Study design: qualitative approach using rapid assessment procedure method. Thirty informans were select through ?stratified? purposive sampling from 15 massage parlors, interviewed using structured open-ended questions, trancripted and matrix developed for data sorting to captured any emerged themes. Documents and secondary data analysis and observation carried out to suplement indepth interview. Data analysis and interpretation done based on 5 levesl of Socio Ecological Model. Results: Most of factors at individual level (knowledge, motivation and readiness to use condom, behavioral intention, deicion about acting, condom use skill, self-efficacy) were adequate and as supporting factors for consistent condom use practices. However influences of these factors was indirect and greathly influenced by interpersonal factors particularly by clients, massage parlor managers, peers and steady partners as well as by organizational factors such as massage parlor work regulation, condom supply chain management and promotion, organizational culture and structure. Factors at community level were neither support nor inhibit directly to consitent condom use practices. These are mainly caused by inadequate and embryonic stage of community networking, capacity, leadership, participation, and resources. Factors at public policy level support informant?s consistent condom use practices since these factors enabled condom availability and distribution and presence of HIV prevention program inside the massage parlors as well. However due to contradiction among those existing public policy, the influences were narrow. This study found 3 general patterns of informant?s condom use practices which are served as simple model of social cognitive theory, stages of change model, health believe model and precaution adoption process model. Conslusion/recommendation: All informants had used condom but only few of them, about 30%, had used it consistently. Factors at interpersonal and organizational level were the most influencing factors for consistent condom use practices among informants compared to factors at individual, community and public policy level. It is recommended to have deeper and more intensive intervention at those two levels.

Read More
T-3731
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Purwarini; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Yovsyah, Toha Muhaimin, Fonny J. Sifanus
T-3201
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive