Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36627 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Risti Anjar Wati; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Anshari, Deasy Martini
S-10366
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutti Hazwani Qurrotuaini; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Yoslien Sopamena, Anggy Desmita Pratiwi
Abstrak:
Latar belakang: Beberapa bukti dari studi kuantitatif dan tinjauan literatur di Indonesia menunjukkan bahwa rendahnya literasi kesehatan reproduksi di kalangan remaja dapat menyebabkan perilaku yang tidak sehat seperti, pelecehan seksual, serta kehamilan yang tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran literasi kesehatan reproduksi pada siswa SMA serta faktor-faktor yang berhubungan dengannya. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan mengambil sampel siswa SMA berusia 15-17 tahun dari kelas X dan XI di SMAN 4 Kota Serang Provinsi Banten (n = 443 Siswa SMA). Instrumen pengukuran literasi kesehatan reproduksi diadaptasi dari kuesioner Survei on Maternal Child and Reproductive Health Literacy in Shanghai menggunakan wawancara kognitif. Uji Bivariabel dilakukan untuk melihat hubungan literasi kesehatan reproduksi dengan umur, jenis kelamin, riwayat permasalahan kesehatan reproduksi, pendapatan orang tua, akses fasilitas kesehatan pendidikan orang tua, jenjang kelas, tempat tinggal, dan akses informasi kesehatan reproduksi. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki literasi kesehatan reproduksi kurang hingga sedang (rata-rata 56,14) dengan skor paling baik pada domain promosi kesehatan dan skor paling rendah pada domain pelayanan kesehatan. Terdapat 6 variabel memiliki hubungan (p-value <0,05) dengan literasi kesehatan reproduksi yaitu, umur, jenis kelamin, riwayat permasalahan kesehatan reproduksi, akses fasilitas kesehatan (asuransi), pendidikan orang tua, akses informasi kesehatan reproduksi. Saran penelitian ini mencakup materi kesehatan reproduksi perlu diintegrasikan bagi siswa SMA dalam kurikulum secara lebih mendalam, tidak hanya dalam mata pelajaran biologi tetapi juga melalui Bimbingan Konseling, PJOK dan kegiatan ekstrakurikuler. Serta penggunaan hasil penelitian digunakan sebagai acuan untuk pengembangan intervensi, media edukasi serta penelitian lebih lanjut dapat melakukan penelitian evaluasi terhadap efektivitas berbagai model intervensi peningkatan literasi kesehatan reproduksi.

Background:. This study aims to determine the description of reproductive health literacy among high school students and the factors associated with it. This study used a cross-sectional design by taking a sample of high school students aged 15-17 years from grades X and XI at SMAN 4 Serang City, Banten Province (n = 443). The reproductive health literacy measurement instrument was adapted from the Survey on Maternal Child and Reproductive Health Literacy in Shanghai questionnaire using cognitive interviews. Bivariable tests were conducted to see the relationship between reproductive health literacy and age, gender, history of reproductive health problems, parental income, access to health facilities, parental education, class level, living arrangements, and access to reproductive health information. The analysis results show that the majority of students have poor to moderate reproductive health literacy, with the highest scores in the health promotion domain and the lowest scores in the health services domain. Six variables are associated with reproductive health literacy, namely age, gender, history of reproductive health problems, access to health facilities (insurance), parental education, and access to reproductive health information. This research recommends that reproductive health materials be integrated more deeply into the curriculum for high school students, not only in biology but also through guidance and counseling, physical education, and extracurricular activities. The research results can also be used as a reference for developing interventions and educational media, and further research can evaluate the effectiveness of various intervention models to improve reproductive health literacy.
Read More
S-12162
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nariyah Handayani; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Rita Damayanti, Eny Riawati Tanzil, Ratna Yunita
Abstrak: Kebugaran merupakan prediktor dari penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus dan lain sebagainya. Hasil tes kebugaran pada siswa sekolah menengah atas di kota Bogor yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan pada tahun 2014, menyebutkan 91.29% siswa berada pada tingkat kebugaran kurang dan kurang sekali. Perilaku merokok, jenis kelamin, status gizi, frekuensi olahraga, serta lingkar pinggang, kadar lipid dan tekanan darah, diperkirakan menjadi determinan kebugaran, menurut laporan Survei Kepatuhan terhadap KTR di Kawasan Sekolah tahun 2014, terdapat 15.18% siswa yang merokok. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apa saja determinan kebugaran kardiorespirasi pada siswa di 18 sekolah menengah atas di Kota Bogor. Disain penelitian ini cross- sectional menggunakan tiga data sekunder Dinkes Kota Bogor, tes kebugaran menggunakan metode TKJI untuk usia 16-19 tahun. Sampel penelitian didapatkan 354 responden yang tersebar pada 18 sekolah. Pada analisis regresi logistik ganda, ditemukan bahwa variabel jenis kelamin, status gizi, perilaku merokok dan lingkar pinggang merupakan determinan kebugaran kardiorespirasi, dengan variabel jenis kelamin yang dominan berhubungan dengan kebugaran kardiorespirasi. Perlu dibuat program gerakan hidup aktif untuk penanganan masalah gemuk dan obesitas agar adanya peningkatan kebugaran jasmani. Bagi penelitian selanjutnya, perlu penggunaan metode pengukuran kebugaran TKJI secara lengkap atau dengan metode pengukuran yang lain seperti single-test, dan pengukuran aktivitas fisik yang lebih baik lagi. Kata kunci : kebugaran kardiorespirasi, remaja, status gizi, TKJI
Read More
T-4497
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fajrin Violita; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi, Hadi Pratomo; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Linda Siti Rohaeti, Sri Lilestina Nasution
T-5322
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Delta Fitriana; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Tiara Amelia, Lilis Suryani, Imam Supingi
Abstrak:

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan pendekatan promotif dan preventif yang strategis dalam mendukung kesehatan remaja di satuan pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka evaluasi Input-Process-Output (IPO) dan fungsi manajerial Planning, Organizing, Actuating, Controlling (POAC). Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pelaksanaan program UKS di tiga SMA Negeri di Kota Tangerang Selatan tahun 2025, yaitu SMAN X (stratifikasi minimal), SMAN Y (stratifikasi standar), dan SMAN Z (stratifikasi optimal). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan guru penanggung jawab UKS, penanggung jawab program UKS di puskesmas pembina dan pemegang kebijakan, serta FGD dengan pengelola kantin dan siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah dengan dukungan input yang memadai, serta perencanaan (planning) dan pengorganisasian (organizing) yang terstruktur, cenderung mampu melaksanakan (actuating) Trias UKS secara lebih optimal. Output kegiatan juga terlihat lebih maksimal apabila ditunjang oleh sistem monitoring dan evaluasi (controlling) internal yang kuat. Temuan ini konsisten dengan kondisi pada sekolah berstratifikasi UKS optimal, yang menunjukkan sinergi antara ketersediaan input, pelaksanaan yang efektif, dan monev yang berkelanjutan.
Kepemimpinan sekolah dan peran aktif Tim Pembina UKS (TP UKS) memiliki elemen penting dalam memastikan keberhasilan dan keberlanjutan program UKS. Oleh karena itu, diperlukan penguatan peran kepala sekolah dan TP UKS di seluruh tingkatan, mulai dari tingkat nasional hingga kecamatan, yang didukung oleh komitmen kepala daerah dalam bentuk penganggaran, pembinaan, serta monitoring lintas sektor yang terintegrasi.


School Health Efforts (UKS) serve as a strategic promotive and preventive approach to support adolescent health within educational institutions. This study employed a descriptive qualitative approach using the Input-Process-Output (IPO) evaluation framework and the managerial functions of Planning, Organizing, Actuating, and Controlling (POAC). The aim of the study was to examine the implementation of the UKS program in three public senior high schools (SMAs) in South Tangerang City in 2025: SMAN X (minimal stratification), SMAN Y (standard stratification), and SMAN Z (optimal stratification). Data were collected through in-depth interviews with UKS teacher coordinators, UKS program officers at the affiliated community health centers (puskesmas), policymakers, as well as focus group discussions with canteen managers and students. The findings indicate that schools with adequate input support, along with well-structured planning and organizing, tend to implement the Trias UKS more optimally. Program outputs are also more effective when supported by a strong internal monitoring and evaluation (controlling) system. These results are consistent with conditions observed in optimally stratified schools, which demonstrate synergy between sufficient resources, effective implementation, and continuous monitoring. School leadership and the active role of the UKS Development Team (TP UKS) are essential elements in ensuring the success and sustainability of the UKS program. Therefore, it is necessary to strengthen the roles of school principals and TP UKS teams at all levels, from national to sub-district supported by strong commitments from local government leaders through adequate budgeting, capacity-building, and integrated cross-sectoral monitoring.

Read More
T-7425
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meldisa Rafitri; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Yoslien Sopamena, M. Yasin A
S-12428
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Kusuma Wati; Pembimbing: Adi Sasongko; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Ella Nurlaela Hadi, Arfah Laidiah Razik, Childa
T-4313
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ari Nofitasari; Pembimbing: Rina Artining Anggorodi, Triyani; Penguji: Ivonne M. Indrawani, Cecep Syarief Hidayat
T-2819
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shania Adhanty; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Dien Anshari, Devi Maryori
Abstrak: Menurut WHO, penyakit DM merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat yang disebabkan karena terjadi peningkatan kasus selama beberapa dekade terakhir dan telah menyumbang 4,2 juta kematian pada tahun 2019 dimana proporsi penderita DM terbanyak adalah DM tipe 2. Di Indonesia, penyakit DM merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang menyebabkan kematian utama. Diet merupakan salah satu komponen penatalaksanaan DM dan penting untuk mencegah terjadinya komplikasi penyakit. Kepatuhan terhadap diet menjadi perilaku yang sangat penting dan diperlukan kendali diri untuk melakukannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lokus kendali diri untuk sehat baik dimensi internal, orang berpengaruh dan keberuntungan dengan kepatuhan diet pada pasien DM tipe 2 di RSUD Kota Depok tahun 2020 beserta faktor lain yang mempengaruhi. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan pengambilan data dilakukan melalui convenience sampling pada 52 pasien DM tipe 2 yang berkunjung ke poli penyakit dalam RSUD Kota Depok. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner kepatuhan diet, multidimensional health locus of control form C, Diabetes Knowledge Questionnaire dan kuesioner dari peneliti sebelumnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien memiliki nilai kepatuhan diet yang cukup yaitu sebesar 66,23 dari skala 100. Hasil uji korelasi pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan sedang dan positif antara lokus kendali untuk sehat dimensi internal dengan kepatuhan (r= 0,46) diikuti dengan dimensi orang berpengaruh yang menunjukkan hubungan dengan kekuatan sedang dan positif terhadap kepatuhan diet (r= 0,28) dan dimensi keberuntungan menunjukkan kekuatan sedang dan negatif terhadap kepatuhan diet (r= -0,28). Variabel usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, lama menderita DM dan pengetahuan DM tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kepatuhan diet. Namun variabel jenis kelamin memiliki hubungan dengan kepatuhan diet (0,029) dan diduga menjadi variabel pengganggu hubungan antara lokus kendali diri untuk sehat dengan kepatuhan diet. Oleh karena itu diperlukan adanya penyuluhan dan edukasi yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab pasien terhadap kepatuhan diet.
Kata kunci: Penatalaksanaan DM, Kepatuhan diet, Lokus Kendali Diri Untuk Sehat

According to WHO, Diabetes Mellitus (DM) is a disease that have been concerned as public health problem because of the number of cases continuously increased for decades and contributed 4,2 million deaths in 2019 where the largest proportion are people with type 2 diabetes. In Indonesia, DM is one of the non-communicable disease that cause major death. Diet is one of the important components of DM management to prevent disease complications. Adherence to diet becomes a very important behavior and requires self control to perform it. The purpose of this study is to determine the relationship between health locus of control on internal, powerful others and chance dimensions with dietary adherence among patients with type 2 DM at Depok City Hospital in 2020 along with another influencing factors. This study used a cross-sectional design with quantitative approach and data collection carried out through convenience sampling on 52 patients with type 2 DM who visited internist poly. The instrument used in this study are dietary adherence questionnaire, multidimensional health locus of control form C, diabetes knowledge questionnaire and questionnaire from the previous research. The results of this study indicate that patients have adequate dietary adherence values of 66,23 from scale of 100. Pearson correlation test results indicate that there are a significant relationship between health locus of control internal dimension with moderate and positive relationship with dietary adherence (r= 0,46) followed by powerful-others dimension which show moderate and positive relationship with dietary adherence (r= 0,28) while chance dimension show moderate and negative relationship with dietary adherence (r= -0,28). The other variables such as age, level of education, occupation, duration of DM and knowledge did not show a significant relationship with dietary adherence. However, sex variables show a significant relationship with dietary adherence with p value (0,029) and thought to be a disturbing variable of the relationship between health locus of control with dietary adherence. Therefore, an intervention and education are needed to increase awareness and patient responsibility towards adherence to diet.
Key words: Diabetes Self-Care Behaviour, Dietary Adherence, Health locus of control
Read More
S-10356
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hilda Khairani; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dien Anshari, Siti Arifah Pujonarti, Mutia Arida S, Ira Monellia
Abstrak:
Misinformasi diet di media sosial berpotensi memengaruhi perilaku kesehatan remaja, terutama pada kelompok yang aktif mencari informasi terkait diet. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan literasi kesehatan digital, minat terhadap topik diet, penggunaan media sosial, dan sumber informasi diet dengan kerentanan terhadap misinformasi diet pada siswi SMA/sederajat di Kota Bandung. Penelitian menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan melibatkan 265 siswi SMA/sederajat di Kota Bandung. Kerentanan terhadap misinformasi diet diukur menggunakan instrumen yang diadaptasi dari Online Misinformation Susceptibility Scale (OMISS), sedangkan literasi kesehatan digital diukur menggunakan Digital Health Literacy Competencies (DHLC). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi dan regresi linier berganda. Rerata skor indeks literasi kesehatan digital responden sebesar 72,71 (0-100), sedangkan rerata skor kerentanan terhadap misinformasi diet sebesar 25,15 (9-45). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa literasi kesehatan digital berhubungan negatif secara signifikan dengan kerentanan terhadap misinformasi diet (B = -0,126; p < 0,001), sedangkan minat terhadap topik diet juga berhubungan signifikan dengan kerentanan terhadap misinformasi diet (B = -3,893; p < 0,001), setelah dikendalikan oleh waktu penggunaan media sosial dan sumber informasi diet. Penguatan literasi kesehatan digital perlu menjadi salah satu strategi untuk mengurangi kerentanan remaja terhadap misinformasi diet di media sosial.

Diet-related misinformation on social media has the potential to influence  adolescents' health behaviors, particularly among those who actively seek diet related information. This study aimed to analyze the association between digital  health literacy, interest in diet-related topics, social media use, and diet information  sources with susceptibility to diet-related misinformation among female senior high  school students in Bandung City. This study employed a cross-sectional design  involving 265 female senior high school students in Bandung City. Susceptibility  to diet-related misinformation was measured using an instrument adapted from the  Online Misinformation Susceptibility Scale (OMISS), while digital health literacy  was assessed using the Digital Health Literacy Competencies (DHLC) instrument.  Data were analyzed using correlation tests and multiple linear regression. The mean  digital health literacy index score was 72.71 (0-100), while the mean susceptibility  score to diet-related misinformation was 25.15 (9-45). Multivariable analysis  showed that digital health literacy was significantly and negatively associated with  susceptibility to diet-related misinformation (B = -0.126; p < 0.001). Interest in diet related topics was also significantly associated with susceptibility to diet-related  misinformation (B = -3.893; p < 0.001), after adjusting for social media use and  diet information sources. Strengthening digital health literacy may serve as an  important strategy to reduce adolescents' susceptibility to diet-related  misinformation on social media.
Read More
T-7695
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive