Ditemukan 40837 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Yosi Purnama Sari; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Budi Hartono, Desy Mery Dorsanti
Abstrak:
Pada tahun 2018, KLB diare di DKI Jakarta sebanyak 124 kasus yang tersebar di beberapa Kecamatan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan menganalisis secara statistik faktor lingkungan, permukiman kumuh dan bantaran sungai, kepadatan penduduk dengan kasus KLB diare di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan yakni studi ekologi dengan menggunakan data sekunder yang berasal dari data Potensi Desa Tahun 2018 dan data Kependudukan yang berasal dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta dan menampilkan hasil dengan analisis spasial, meliputi variabel-variabel kasus KLB diare, pembuangan sampah, tempat pembuangan sampah sementara (TPS), jamban keluarga, tempat pembuangan akhir tinja, pembuangan limbah cair, sumber air bersih, sumber air minum, permukiman kumuh, permukiman bantaran sungai, dan kepadatan penduduk. Hasil penelitian ini ditemukan hubungan signifikan antara permukiman kumuh dengan kasus KLB diare tahun 2018 di DKI Jakarta. Secara spasial mengindikasikan adanya hubungan antara keberadaan TPS, sumber air minum, permukiman kumuh, permukiman bantaran sungai dan kepadatan penduduk dengan kejadian KLB diare. Kesimpulan dari penelitian ini yakni kondisi sanitasi secara umum di DKI Jakarta memiliki kondisi yang lebih baik dari angka nasional, namun tingkat kepadatan peduduk di DKI Jakarta melebihi tingkat kepadatan nasional. Daerah tingkat kerawanan terjadi KLB diare yang tinggi terdapat pada 5 kecamatan. Upaya pencegahan peningkatan jumlah kasus KLB diare yang memiliki hubungan dengan sanitasi lingkungan sebaiknya dilakukan kerjasama dengan lintas sektor guna memenuhi cakupan sarana sumber air minum, pengelolaan tinja, pengelolaan limbah cair, relokasi permukiman, dan persebaran penduduk. Kata kunci: KLB diare, sanitasi, permukiman kumuh, kepadatan penduduk In 2018, outbreaks of diarrhea in DKI Jakarta were 124 cases spread across several districts. This research aims to provide an overview and statistically analyze environmental factors, slums and riverbanks, population density with the case of diarrhea outbreaks in DKI Jakarta in 2018. The design of the study uses an ecological study using secondary data from Potensi Desa 2018 data and Population data and presented the result with spatial analysis, including case variables Outbreaks of diarrhea, waste management, temporary landfills (TPS), family latrines, fecal landfills, disposal waste water, clean water, drinking water, slums, riverbank settlements, and population density. The results from this research found a significant association between slums and diarrhea outbreaks in 2018 in DKI Jakarta. Spatially indicate a relationship between the existence of temporary landfills, drinking water sources, slums, riverbank settlements and population density with the occurrence of diarrhea outbreaks. The conclusion from this research is that sanitation conditions in DKI Jakarta have better conditions than the national rate, but the population density in DKI Jakarta exceeds the national density level. Areas with high levels of vulnerability occur outbreaks of diarrhea that are high in 5 districts. To prevent the increasing number of cases of diarrhea outbreaks associated with environmental sanitation should be cooperation across the sector to meet the scope of drinking water, family latrines, disposal wastewater, settlement relocation, and population distribution. Keywords: diarrhea outbreak, sanitation, slums, population density
Read More
S-10499
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Reza Ginanjar; Pembimbing: Rachmadi Purwana; Penguji: Laila Fitria, Bety Setyorini
S-5473
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arina Qonita; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Bambang Wispriyono, Debbie Valonda S.
Abstrak:
Read More
Diare masih menjadi masalah kesehatan dengan tren cenderung meningkat di Provinsi DKI Jakarta dalam kurun 5 tahun terakhir. Kejadian diare di wilayah Provinsi DKI Jakarta perlu mendapat perhatian karena dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor risiko, salah satunya adalah kualitas air yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan kualitas air minum pada tingkat rumah tangga dan pengaruhnya terhadap kejadian diare di Provinsi DKI Jakarta dengan turut melihat faktor kondisi sarana air minum, faktor sanitasi, faktor perilaku, dan juga faktor sosiodemografi. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan data sekunder yang berasal dari Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2025. Kualitas air minum rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta sebagian besar belum memenuhi syarat (86,8%). Sebagian besar kualitas air minum rumah tangga ditinjau dari parameter mikrobiologi (57,6%) dan juga fisik (57,2%) di Provinsi DKI Jakarta belum memenuhi syarat sesuai dengan baku mutu yang berlaku. Mayoritas rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta memiliki sumber air minum yang layak (97,9%), lokasi yang aman (98,7%), wadah penyimpanan tertutup (74,6%), tidak mengetahui jarak penampungan tinja dengan sumber air minum (53,0%), tidak melakukan pengolahan air sebelum diminum (56,4%), memiliki tingkat pendidikan menengah dan tinggi (91,0%), bekerja (95,0%), dan juga berusia produktif (96,9%). Hasil analisis diperoleh bahwa tidak terdapat variabel yang berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian diare (p > 0,05). Namun, faktor yang paling dominan adalah sumber air minum sebagai faktor yang turut berperan secara signifikan. Berdasarkan hasil tersebut mengindikasikan perlunya upaya pencegahan diare melalui pemantauan kualitas air minum rumah tangga secara berkala, edukasi pengolahan dan penyimpanan air minum, serta penguatan perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga.
Diarrhea continues to pose a significant public health challenge with an increasing trend in DKI Jakarta Province over the last five years. The incidence of diarrhea in DKI Jakarta Province requires attention, as it may be influenced by various risk factors, one of which is household drinking water quality. This research sought to investigate the association between household drinking water quality and diarrhea incidence in DKI Jakarta Province by also considering factors related to drinking water facilities, sanitation, behavior, and sociodemographic characteristics. Utilizing a cross-sectional design approach, the research analyzed secondary data derived from the 2025 Household Drinking Water Quality Surveillance conducted by the DKI Jakarta Provincial Health Office. The results showed that of household drinking water failed to meet the quality standards (86,8%), particularly in the microbiological (57.6%) and physical (57.2%) parameters. Even though most households had improved water sources (97.9%), safe locations (98.7%), and closed storage containers (74.6%), many respondents were unaware of the distance to the septic tank (53.0%) and did not treat their water before consumption (56.4%). Furthermore, the majority of respondents had secondary or higher education (91.0%), were employed (95.0%), and belonged to the productive age group (96.9%). The findings indicated that no factors were statistically significantly associated with diarrhea incidence (p > 0.05). However, water source was the most dominant factor that played a significant role. These results indicate the need for diarrhea prevention efforts through regular monitoring of household drinking water quality, education on drinking water treatment and storage, and strengthening clean and healthy living behaviors at the domestic level.
S-12244
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bagus Pramudito; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, M. Olik Abdul Holik
S-9711
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Akhmad Riyadi; ;Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Zakianis, Fitri Kurniasari, Ikha Purwandari, Juri Hendrajadi
Abstrak:
Read More
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berkaitan erat dengan faktor lingkungan, terutama kualitas dan pengelolaan air minum rumah tangga. Di Provinsi Kalimantan Timur, prevalensi diare berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 sebesar 4,2%. Peningkatan akses terhadap sumber air minum layak belum sepenuhnya menjamin keamanan air pada titik konsumsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kualitas air minum rumah tangga yang meliputi parameter mikrobiologi, fisik, dan kimia dengan kejadian diare di Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan data Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan unit analisisnya adalah rumah tangga. Teknik pengambilan sampel mengikuti metode yang digunakan dalam SKAMRT 2024 yang melibatkan 2.051 rumah tangga. Analisis dilakukan secara deskriptif, uji Chi-square, dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4,5% rumah tangga memiliki anggota rumah tangga yang mengalami diare. Parameter kualitas air minum yang menunjukkan proporsi tidak memenuhi syarat cukup tinggi adalah E. coli (31,3%), kekeruhan (19,0%), pH (15,0%), krom valensi 6 (46,5%), dan sisa klor pada rumah tangga dengan sumber air minum perpipaan (86,3%). Sebagian besar rumah tangga menggunakan sumber air minum layak (98,0%), memiliki akses air minum kontinu (96,5%), melakukan pengolahan air minum (56,9%), dan memiliki penyimpanan air minum tidak berisiko (95,1%). Parameter kekeruhan, pH, dan krom valensi 6 berhubungan signifikan dengan kejadian diare. Pada model akhir, hubungan E. coli, kekeruhan, dan pH dengan diare berbeda menurut kontinuitas air minum, sedangkan pada parameter sisa klor tidak berhubungan signifikan dengan diare setelah dikontrol kontinuitas air minum dan penyimpanan air minum. Kualitas air minum rumah tangga pada titik konsumsi, khususnya parameter fisik kekeruhan dan parameter kimia pH, berhubungan erat dengan kejadian diare di Provinsi Kalimantan Timur. Hubungan ini sangat dipengaruhi oleh keandalan kontinuitas air minum yang berperan sebagai variabel pemodifikasi efek (effect modifier).
Diarrhea remains a public health issue closely linked to environmental factors, particularly the quality and management of household drinking water. In East Kalimantan Province, the prevalence of diarrhea, according to the 2023 Indonesian Health Survey, was 4.2%. Increased access to improved drinking water sources does not fully guarantee water safety at the point of consumption. This study aims to analyze the association between household drinking water quality—comprising microbiological, physical, and chemical parameters—and the incidence of diarrhea in East Kalimantan Province, using data from the 2024 Household Drinking Water Quality Surveillance (SKAMRT). This study employed a cross-sectional design, with households as the unit of analysis. The sampling procedure followed the methodology of the 2024 SKAMRT, involving 2,051 households. Data were analyzed using descriptive statistics, Chi-square tests, and multivariable logistic regression. The results indicated that 4.5% of households had at least one member who experienced diarrhea. The results showed that 92 households (4.5%) had at least one member who experienced diarrhea. Drinking water quality parameters with a high proportion of non-compliance included E. coli (31.3%), turbidity (19.0%), pH (15.0%), hexavalent chromium (46.5%), and residual chlorine in households utilizing piped water sources (86.3%). Most households used improved drinking water sources (98.0%), had access to a continuous drinking water supply (96.5%), practiced drinking water treatment (56.9%), and utilized low-risk drinking water storage (95.1%). Turbidity, pH, and hexavalent chromium were significantly associated with the incidence of diarrhea. In the final model, E. coli, turbidity, and pH showed significant interactions with water supply continuity on the risk of diarrhea, whereas residual chlorine was not significantly associated with diarrhea after controlling for water supply continuity and water storage practices. Household drinking water quality at the point of consumption, particularly the physical parameter of turbidity and the chemical parameter of pH, is significantly associated with the incidence of diarrhea in East Kalimantan Province. This association is highly influenced by the reliability of water supply continuity, which acts as an effect modifier.
T-7546
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Edgina Dhafia Callista; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Budi Haryanto, Ikha Purwandari
Abstrak:
Read More
Hingga tahun 2024, prevalensi stunting di Indonesia masih berada di angka 19,8% dan belum mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, yakni 14%. Distribusi stunting dan faktor risikonya terbukti tidak terjadi secara acak, melainkan membentuk pola kewilayahan. Sementara itu, penelitian menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) terkait faktor lingkungan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan (akses sumber air minum dan sanitasi) terhadap stunting di Indonesia pada tahun 2024 dengan mengontrol faktor Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), tingkat pendidikan ibu, dan kepemilikan jaminan kesehatan. Penelitian dilakukan dengan desain cross-sectional menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024. Sampel dalam penelitian ini adalah 273.281 balita usia 0–59 bulan di Indonesia. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat, bivariat (uji chi-square), multivariat (regresi logistik ganda), serta visualisasi spasial dengan pendekatan SIG. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 21,2% dengan sebaran yang tidak merata antarprovinsi. Analisis spasial menunjukkan wilayah Indonesia bagian timur memiliki kombinasi prevalensi stunting tinggi dengan akses sumber air minum dan sanitasi tidak layak yang tinggi, sedangkan wilayah bagian barat cenderung memiliki kondisi yang lebih rendah. Hasil analisis multivariat membuktikan kedua faktor lingkungan tetap berhubungan signifikan setelah dikontrol faktor perancu, dengan akses sanitasi tidak layak (aPOR=1,292; 95% CI: 1,258–1,327) dan akses sumber air minum tidak layak (aPOR=1,287; 95% CI: 1,245–1,330). Dengan demikian, ketidaklayakan faktor lingkungan secara independen meningkatkan risiko stunting dan membentuk pola kewilayahan, sehingga diperlukan intervensi multisektoral berbasis wilayah untuk menekan prevalensi stunting di Indonesia.
As of 2024, the prevalence of stunting in Indonesia remains at 19.8% and has not yet reached the target set in the 2020–2024 National Medium-Term Development Plan, which is 14%. The distribution of stunting and its risk factors has been shown not to occur randomly, but rather to form regional patterns. Meanwhile, research using a Geographic Information System (GIS) approach regarding environmental factors remains limited. This study aims to determine the relationship between environmental factors (access to drinking water and sanitation) and stunting in Indonesia in 2024 by controlling for Low Birth Weight (LBW), maternal education level, and health insurance ownership. The study used a cross-sectional design using data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey. The sample in this study consisted of 273,281 children aged 0–59 months in Indonesia. Data analysis was performed using univariate analysis, bivariate (chi-square test), multivariate (multiple logistic regression), and spatial visualization using a GIS approach. The results showed a stunting prevalence of 21.2%, with uneven distribution across provinces. Spatial analysis showed that eastern Indonesia has a high prevalence of stunting combined with high rates of inadequate access to drinking water and sanitation, while western regions tend to have lower rates. Multivariate analysis results confirm that both environmental factors remain significantly associated after controlling for confounding factors, specifically inadequate sanitation access (aPOR=1.292; 95% CI: 1.258–1.327) and inadequate access to drinking water sources (aPOR=1.287; 95% CI: 1.245–1.330). Thus, inadequate environmental factors independently increase the risk of stunting and form regional patterns, necessitating region-based multisectoral interventions to reduce the prevalence of stunting in Indonesia.
S-12240
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ajeng Sewelas Ekapermatasari; Pembimbing: Ririn Arminsih; Penguji: Budi Haryanto, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sumber air minum dengan kejadian diare pada balita di Banten menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah sampel 467 balita. Analisis data yang digunakan adalah distribusi frekuensi dan chi-square. Prevalensi diare pada balita sebesar 10,7%.
Read More
S-10544
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizky Indriyani; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Renti Mahkota, Endah Kusumawardhani
Abstrak:
Kasus diare di Kabupaten Pandeglang masih cukup tinggi terutama diwilayah kerja Puskesmas Cibaliung, Labuan, dan Pagelaran dimana setengahnyaterjadi pada balita. Kasus diare pada tahun 2012 di Puskesmas Cibaliung, Labuan,dan Pagelaran masing-masing yaitu 244, 1.440, dan 686. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontaminasi Escherichia coli dalam air minum dan faktor sanitasi lingkungan dengan kejadiandiare akut pada balita di wilayah kerja Puskesmas Cibaliung, Labuan, dan Pagelaran Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten Tahun 2013. Disain penelitian yang digunakan adalah case control. Pengumpulan data dilakukan melaluiwawancara langsung mengenai faktor risiko lingkungan dengan menggunakan kuesioner serta pengambilan sampel air minum dan usap alat minum balita.Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara kontaminasi Escherichia coli dalam air minum dan faktor sanitasi lingkungan dengan kejadian diare akut pada balita. Variabel yang memiliki hubungan dengandiare akut pada balita adalah status gizi, pengetahuan ibu/pengasuh, serta hygienesanitasi makanan dan minuman. Sedangkan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diare akut pada balita adalah pengetahuan ibu/pengasuh sertahygiene sanitasi makanan dan minuman. Kata kunci: Escherichia coli, faktor sanitasi lingkungan, diare akut, balita
Cases of diarrhea in Pandeglang district is still high especially in Regionof Puskesmas Cibaliung, Labuan, and Pagelaran which is half of the caseshappened to underfive years children. Cases of diarrhea (2012) in PuskesmasCibaliung, Labuan, and Pagelaran are 244, 1.440, and 686.This study aims to analyze association between contamination ofEscherichia coli in drinking water and factor of environmental sanitation withunderfive years children acute diarrhea in region of Puskesmas Cibaliung,Labuan, and Pagelaran, Regency of Pandeglang Province of Banten in 2013. Thisstudy used case control design. The information collected by interview aboutenvironmental risk factor and laboratorium analyze of drinking water sample andtumbler swab.Conclusion of this study is contamination of Escherichia coli in drinkingwater and factor of environmental sanitation have not association with underfiveyears children acute diarrhea. Whereas nutrition, knowledge of mother, andhygiene sanitation of food and water have association with underfive yearschildren acute diarrhea. Main risk factor which causes underfive years childrenacute diarrhea are knowledge of mother and hygiene sanitation of food and water.Keyword: Escherichia coli, factor of environmental sanitation, acute diarrhea,underfive years children
Read More
Cases of diarrhea in Pandeglang district is still high especially in Regionof Puskesmas Cibaliung, Labuan, and Pagelaran which is half of the caseshappened to underfive years children. Cases of diarrhea (2012) in PuskesmasCibaliung, Labuan, and Pagelaran are 244, 1.440, and 686.This study aims to analyze association between contamination ofEscherichia coli in drinking water and factor of environmental sanitation withunderfive years children acute diarrhea in region of Puskesmas Cibaliung,Labuan, and Pagelaran, Regency of Pandeglang Province of Banten in 2013. Thisstudy used case control design. The information collected by interview aboutenvironmental risk factor and laboratorium analyze of drinking water sample andtumbler swab.Conclusion of this study is contamination of Escherichia coli in drinkingwater and factor of environmental sanitation have not association with underfiveyears children acute diarrhea. Whereas nutrition, knowledge of mother, andhygiene sanitation of food and water have association with underfive yearschildren acute diarrhea. Main risk factor which causes underfive years childrenacute diarrhea are knowledge of mother and hygiene sanitation of food and water.Keyword: Escherichia coli, factor of environmental sanitation, acute diarrhea,underfive years children
S-8069
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sekar Astrika Fardani; Pembimbing: Suyud; Penguji: Ririn Arminsih, Kuratul Aini
S-7728
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Regina Fatikha Yonashita; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Budi Hartono, Dharma Ningsih Dwi Putri
Abstrak:
Read More
Diare dapat didefinisikan sebagai peningkatan frekuensi buang air besar dari suatu individu yang biasanya disertai dengan konsistensi feses yang cair. Diare tergolong dalam 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Puskesmas di Kota Depok. Pada tahun 2024, tercatat dua kasus kematian akibat diare di Kota Depok, dan satu di antaranya terjadi di Kecamatan Bojongsari. Tren penggunaan air minum isi ulang yang diproduksi oleh Depot Air Minum semakin meningkat. Dalam praktiknya, kualitas air minum isi ulang sangat bergantung pada aspek kelayakan dan higiene dan sanitasi dari penjamah/operator DAM, tempat, dan proses karena apabila tidak diterapkan dengan baik dapat menyebabkan air isi ulang tercemar sehingga menyebabkan penyakit, salah satunya adalah diare. Di sisi lain, risiko diare tidak hanya ditentukan oleh kondisi DAM sebagai sumber air minum, tetapi juga perilaku konsumen dalam menangani air yang sudah diperoleh, contohnya adalah perilaku mecuci tangan, cara penyimpanan air, pendistribusian, dan frekuensi konsumsi. Desain studi yang digunakan adalah studi potong lintang. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara dan observasi kelayakan DAM. Analisis data dari 96 responden dengan menggunakan uji Chi-Square, Fisher's Exact Test, dan Mann-Whitney. Kejadian diare yang digambarkan melalui gejala yang dialami oleh konsumen menunjukkan 10,4% responden mengalami gejala diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara waktu tempuh ke Depot Air Minum, perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS), dan jumlah konsumsi air minum isi ulang per hari dengan kejadian diare pada konsumen (p > 0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku konsumen yang diteliti belum terbukti secara statistik berhubungan dengan kejadian diare pada konsumen DAM di Kecamatan Bojongsari. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan cakupan variabel yang lebih luas, termasuk faktor kualitas air dan kondisi sanitasi lingkungan rumah tangga, untuk mengidentifikasi determinan kejadian diare pada populasi pengguna Depot Air Minum.
Diarrhea can be defined as an increase in the frequency of bowel movements in an individual, usually accompanied by loose stools. Diarrhea is among the 10 most common diseases among outpatients at community health centers in Depok City. In 2024, two deaths due to diarrhea were recorded in Depok City, one of which occurred in Bojongsari District. The trend of using refilled drinking water produced by drinking water depots is increasing. In practice, the quality of refilled drinking water is highly dependent on the suitability, hygiene, and sanitation aspects of the water depot handlers/operators, the location, and the process. If not implemented properly, it can lead to water contamination, which can cause diseases, one of which is diarrhea. On the other hand, the risk of diarrhea is not only determined by the condition of the water depot as a drinking water source, but also consumer behavior in handling the water that has been obtained, for example, handwashing behavior, water storage methods, distribution, and frequency of consumption. The study design used was a cross-sectional study. Data collection was carried out using interviews and observations of the feasibility of the water depot. Data analysis of 96 respondents using the Chi-Square, Fisher's Exact Test, and Mann-Whitney test. Diarrhea symptoms, as described by consumers, showed that 10.4% of respondents experienced diarrhea. The results showed no significant relationship between travel time to the Drinking Water Depot, handwashing with soap (CTPS) behavior, and the number of refilled drinking water consumed per day and diarrhea incidence among consumers (p > 0.05). This study concluded that the consumer behaviors studied were not statistically proven to be associated with diarrhea incidence among DAM consumers in Bojongsari District. Further research is needed with a broader range of variables, including water quality factors and household environmental sanitation conditions, to identify the determinants of diarrhea incidence among the Drinking Water Depot user population.
S-12260
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
