Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33281 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ika Fitri Alfiani; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Rahmadewi
Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan terhadap pemberian makanan prelakteal pada bayi usia 0-23 bula di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data SDKI 2017 dengan rancangan studi potong lintang. sampel penelitian yaitu ibu yang memiliki bayi usia 0-23 bulan yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi berjumlah 6.425. Data dianalisis secara univariat dan bivariat.
Read More
S-10543
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lara Rizka; Pembimbing : Syahrizal Syarif; Penguji: Irawati, Anies
Abstrak: Sesuai anjuran WHO dan UNICEF, salah satu kunci utama untuk meningkatkan tingkat kesehatan anak di Indonesia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara Eksklusif tanpa makanan tambahan selama 6 bulan. Berbagai penelitian menunjukan bahwa pemberian makanan prelakteal, terutama susu formula, dapat berpengaruh buruk pada durasi dan eksklusifitas pemberian ASI.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan pemberian susu formula sebagai makanan prelakteal bagi bayi di Indonesia dengan analisis lanjutan dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010. Metode penelitian disesuaikan dengan metode Riskesdas 2010, yakni kros seksional, dengan total sampel 5562 Ibu di Indonesia yang memiliki anak terakhir berusia 0-23 bulan pada saat dilakukan wawancara.
 
Prevalensi pemberian susu formula sebagai makanan prelakteal untuk bayi di Indonesia sebesar 34,1%. Pemberian susu formula sebagai makanan prelakteal berhubungan dengan pekerjaan ibu PR 1,1 (p-value 0,03), pendidikan ibu PR 1,4 (p-value <0,001), jumlah anak yang dimiliki PR 1,2 (<0,001), pengeluaran keluarga 1,3 (p-value <0,001), dan tempat tinggal 1,3 (p-value <0,001), usia kehamilan PR 1,4 (p-value <0,001), jenis persalinan PR 1,5 (p-value <0,001), berat badan lahir PR 1,3 (p-value 0,003), dan komplikasi persalinan PR 1,1 (p-value <0,001), jenis tempat persalinan PR 1,5 (p-value <0,001) dan penolong persalinan PR 2,1 (p-value <0,001).
 
Perlu dilakukan pencerdasan bagi tenaga kesehatan agar tidak mendukung pemberian susu formula sebelum bayi mendapatkan ASI dan tenaga kesehatan diharapkan lebih mendukung ibu untuk dapat memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan. Selain itu, para ibu juga perlu dibekali pengetahuan mengenai menyusui sebagai hak ibu dan anak, sehingga pemberian makanan prelakteal berupa susu formula dapat dicegah.
 

As recommended by WHO and UNICEF, key to improving the health of children in Indonesia is exclusive breastfeeding is with no additional food for 6 months. Various studies have shown that prelacteal feeding , especially infant formula, may adversely affect the duration and exclusivity of breastfeeding.
 
This study aims to determine the risk factors associated with formula feeding as food for infants in Indonesia prelakteal with further analysis of the data of Health Research (Riskesdas) 2010. Research method is adapted to the method Riskesdas 2010, which is cross-sectional, with a total sample of 5562 mother in Indonesia, who has the last child aged 0-23 months at the time of the interview.
 
The prevalence of formula feeding as prelacteal food for infants in Indonesia is 34.1%. Formula feeding as food prelakteal is associated with maternal occupational PR 1.1 (p-value 0.03), maternal education PR 1.4 (p-value <0.001), the number of children who owned PR 1.2 (<0.001), family expenses 1.3 (p-value <0.001), and shelter 1.3 (p-value <0.001), gestational age PR 1.4 (p-value <0.001), type of delivery PR 1.5 (p-value <0.001), birth weight PR 1.3 (p-value 0.003), and complications of childbirth PR 1.1 (p-value <0.001), type of delivery place PR 1.5 (p-value <0.001) and childbirth helper PR 2.1 (p-value <0.001).
 
Need to empower health professionals to not support formula feeding before the baby is getting milk and more health professionals are expected to be able to support mothers to breastfeed exclusively for 6 months. Furthermore, mothers need to know that breastfeeding is mother and baby’s right. So, formula feeding as prelacteal food can be prevented.
Read More
S-7860
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Patricia Josephine Elzabetty; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Sulistya Widada
Abstrak:
Hepatitis B merupakan masalah kesehatan di dunia, termasuk Indonesia. Untuk mencegah dan mengeliminasi HBV, telah dilakukan pemberian imunisasi HB0. Namun, cakupan pemberian imunisasi HB0 masih belum mencapai target yang ditetapkan dan menunjukkan disparitas antar provinsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan cakupan pemberian Imunisasi HB0 di Indonesia berdasarkan data SDKI 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang dengan analisis bivariat, menggunakan sampel anak yang lahir dalam 2 tahun terakhir dari ibu berusia 15-49 tahun. Hasil penelitian menemukan cakupan tidak imunisasi HB0 sebesar 15,8%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan cakupan pemberian imunisasi HB0 adalah pendidikan ibu rendah (PR:1,599; 95% CI: 1,364-1,874), indeks kekayaan terbawah (PR: 2,890; 95% CI: 2,283-3,657) dan menengah bawah (PR:1,826; 95% CI: 1,408-2,366), urutan kelahiran ≥3 (PR: 1,453; 95% CI: 1,234-1,710), tinggal di daerah rural (PR: 1,734; 95% CI: 1,475-2,038), kunjungan ANC

Hepatitis B remains a global health problem, including in Indonesia. Hepatitis B birth dose vaccination (HepB-BD) has been implemented to prevent and eliminate HBV. Unfortunately, HepB-BD coverage has not yet reached target and shows disparities between provinces. This study aims to identify the factors associated with HepB-BD coverage in Indonesia using 2017 IDHS data. This study uses a cross sectional study design with bivariate analysis, using a sample of children born in the las two years from mother aged 15-49 years. The study found that the coverage of HepB-BD non vaccination coverage of 15,8%. Factors that is statistically associated with HepB-BD vaccination coverage include predisposing factor such as low maternal education (PR:1,599; 95% CI: 1,364-1,874), lowest wealth index (PR: 2,890; 95% CI: 2,283-3,657) and lower-middle wealth indeks (PR:1,826; 95% CI: 1,408-2,366), birth order ≥3 (PR: 1,453; 95% CI: 1,234-1,710), rural residence (PR: 1,734; 95% CI: 1,475-2,038),
Read More
S-11740
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmah Aulia Zahra; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Zakiah
Abstrak: Perdarahan pasca persalinan merupakan salah satu penyebab terbesar terjadinya kematian pada ibu. Pada tahun 2017 terdapat sekitar 295.000 wanita meninggal selama kehamilan dan persalinan, dimana 75% penyebab kematian ibu diantaranya adalah perdarahan pasca persalinan, infeksi, preeklamsia/eklamsia, dan komplikasi lainnya dari persalinan. Di Indonesia dari 20 penyebab kematian ibu, perdarahan pasca persalinan merupakan penyebab nomor satu kemarian ibu. Angka Kematian Ibu di Indonesia masih jauh dari target MDGs yang telah ditetapkan bahkan tiga kali lipat lebih tinggi dari target yang seharusnya. Hal ini merupakan suatu permasalahan yang serius dan perlu diprioritaskan. Maka dari itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian perdarahan pasca persalinan di Indonesia pada tahun 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2017 (SDKI 2017). Populasi dari penelitian ini merupakan seluruh wanita usia subur yang berusia 15-49 tahun yang pernah melahirkan selama 5 tahun terakhir sebelum survei dilakukan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa umur (PR= 1,1), tingkat pendidikan (PR= 1,39), tempat tinggal (PR= 1,11), paritas (PR= 1,13), riwayat komplikasi kehamilan (PR= 0,91), kelengkapan pemeriksaan ANC (PR= 1,35), penolong persalinan (PR= 1,59), tempat persalinan (PR= 1,38), dan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (PR= 1,14) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian perdarahan pasca persalinan (p= <0,05). Perlunya komitmen pemerintah dalam mengoptimalisasi upaya perencanaan program yang strategis dan sistematis meliputi pencegahan dan manajemen yang tepat sejak ibu berada dalam periode kehamilan hingga masa nifas serta pemberdayaan dan pemberian edukasi pada perempuan, keluarga, dan masyarakat, khususnya pada kelompok-kelompok rentan
Read More
S-10898
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sasa Syarifatul Qulbi; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Ahmad Hasanuddin
Abstrak: Angka kematian bayi di Indonesia masih cukup tinggi dengan posisi tertinggi kelima diantara negara Asia Tenggara lainnya. 75% kematian bayi di bawah lima tahun terjadipada fase bayi berusia 0 sampai sebelum 12 bulan (BKKBN et al., 2018). Penelitian inimenggunakan desain studi kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Tujuan daripenelitian adalah adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengankematian bayi di Indonesia menggunakan data sekunder SDKI tahun 2017 yangdikumpulkan oleh DHS (Demographic Health System). Sampel berjumlah 11.861 yangterdiri dari wanita berusia 15 sampai 49 tahun yang sudah melahirkan bayi lahir hidupminimal berusia 1 tahun dalam periode 5 tahun terakhir sebelum Wawancara untuk surveidilakukan. Analisis data dilakukan dengan model chi-square bivariat. Hasil akhir analisisbivariat menunjukkan variabel-variabel yang berhubungan dengan kejadian kematianbayi antara lain status ekonomi, usia ibu saat melahirkan, paritas, jarak kelahiran, beratbayi lahir, jenis kelamin bayi, tempat persalinan, penolong persalinan, dan kunjunganANC. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian kematian bayi diIndonesia tahun 2012-2017 adalah berat bayi lahir dengan nilai PR sebesar 5,49. Olehkarena itu, perlu dilakukan peningkatan pelayanan kesehatan serta kerjasama denganpihak-pihak terkait, seperti bidan desa sebagai tenaga kesehatan terdekat dan parajiataupun kader desa untuk melakukan tindakan-tindakan non-medis--khususnya upayapencegahan--terkait dengan faktor-faktor risiko kematian bayi.Kata kunci:Faktor risiko, kematian bayi, SDKI 2017.
Read More
S-10302
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Ulfa Alriani; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Eti Rohati
Abstrak: Nama : Sri Ulfa Alriani Program Studi : Kesehatan Masyarakat Judul : Faktor-faktor yang berhubungan dengan persalinan sectio caesarea darurat di Indonesia tahun 2012-2017 (analisis data SDKI 2017) Pembimbing : Prof. Dr. dr. Ratna Djuwita, M.Ph. Skripsi ini membahas mengenai Faktor-faktor yang berhubungan dengan persalinan sectio caesarea berdasarkan analisis data SDKI 2017. Sampel 18.164 wanita usia subur 15-49 tahun yang melahirkan anak dalam periode 5 tahun terakhir sebelum survei dilaksanakan. Hasil akhir analisis multivariat dengan menggunakan cox regression didapatkan variabel-variabel yang berhubungan dengan persalinan sectio caesarea darurat yaitu umur ibu, pendidikan ibu, wilayah tempat tinggal, status ekonomi, kehamilan kembar, jarak kelahiran, ukuran bayi, paritas, kepemilikan JKN, komplikasi kehamilan (perdarahan, muntah dan baal di bagian wajah, ketuban pecah sebelum waktunya, hipertensi dan hipotensi pada masa kehamilan), dan komplikasi persalinan (ketuban pecah 6 jam sebelum bayi lahir, dan tidak kuat mengejan). Faktor yang paling dominan berhubungan dengan persalinan SC darurat di Indonesia pada tahun 2012-2017 adalah hipertensi atau hipotensi pada masa kehamilan dengan p value 0,000 dan PR=2,76. Kata kunci: Hipertensi, persalinan sectio caesarea darurat Determinants Related to Emergency Caesarean Delivery in Indonesia 2012-2017 (Analysis of 2017 IDHS Data) Abstract This study aims to determine the factors associated with caesarean sectio delivery based on analysis of the 2017 IDHS data. Sample 18,164 women of childbearing age 15-49 years who gave birth to children in the last 5 years before the survey was conducted. The final results of multivariate analysis using cox regression found variables related to emergency caesarean delivery are maternal age, maternal education, area of residence, economic status, multiple pregnancies, birth interval, baby size, parity, JKN ownership, pregnancy complications ( bleeding, vomiting and numbness in the face, premature rupture of membranes, hypertension and hypotension during pregnancy), and complications of labor (water broke early 6 hours before the baby is born, and not pushing strongly). The most dominant factor related to emergency caesarean delivery in Indonesia in 2012-2017 was hypertension or hypotension during pregnancy with a p value of 0,000 and PR = 2.76. Keyword : emergency caesarean; hypertenstion during pregnancy Determinants Related to Emergency Caesarean Delivery in Indonesia 2012-2017 (Analysis of 2017 IDHS Data) Abstract This study aims to determine the factors associated with caesarean sectio delivery based on analysis of the 2017 IDHS data. Sample 18,164 women of childbearing age 15-49 years who gave birth to children in the last 5 years before the survey was conducted. The final results of multivariate analysis using cox regression found variables related to emergency caesarean delivery are maternal age, maternal education, area of residence, economic status, multiple pregnancies, birth interval, baby size, parity, JKN ownership, pregnancy complications ( bleeding, vomiting and numbness in the face, premature rupture of membranes, hypertension and hypotension during pregnancy), and complications of labor (water broke early 6 hours before the baby is born, and not pushing strongly). The most dominant factor related to emergency caesarean delivery in Indonesia in 2012-2017 was hypertension or hypotension during pregnancy with a p value of 0,000 and PR = 2.76. Keyword : emergency caesarean; hypertenstion during pregnancy Determinants Related to Emergency Caesarean Delivery in Indonesia 2012-2017 (Analysis of 2017 IDHS Data) Abstract This study aims to determine the factors associated with caesarean sectio delivery based on analysis of the 2017 IDHS data. Sample 18,164 women of childbearing age 15-49 years who gave birth to children in the last 5 years before the survey was conducted. The final results of multivariate analysis using cox regression found variables related to emergency caesarean delivery are maternal age, maternal education, area of residence, economic status, multiple pregnancies, birth interval, baby size, parity, JKN ownership, pregnancy complications ( bleeding, vomiting and numbness in the face, premature rupture of membranes, hypertension and hypotension during pregnancy), and complications of labor (water broke early 6 hours before the baby is born, and not pushing strongly). The most dominant factor related to emergency caesarean delivery in Indonesia in 2012-2017 was hypertension or hypotension during pregnancy with a p value of 0,000 and PR = 2.76. Keyword : emergency caesarean; hypertenstion during pregnancy
Read More
S-10243
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ranti Safa Marwa; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Sumarti
Abstrak:
ASI adalah sumber nutrisi terbaik untuk bayi. WHO dan UNICEF merekomendasikan agar bayi diberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. ASI eksklusif berperan penting dalam meningkatkan daya tahan tubuh serta mendukung proses perkembangan otak dan fisik bayi. Namun, menurut data SDKI 2017, hanya sebagian (52%) anak di bawah enam bulan mendapatkan ASI eksklusif. Pemeriksaan kehamilan menjadi titik masuk yang ideal bagi tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi terkait praktik pemberian ASI eksklusif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemeriksaan kehamilan dengan praktik pemberian ASI eksklusif di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data SDKI 2017 dengan desain studi cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah ibu berumur 15-49 tahun di Indonesia yang memiliki anak terakhir umur 0-5 bulan pada saat wawancara SDKI 2017 dilakukan, masih tinggal bersama anaknya, serta memiliki data yang lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase praktik pemberian ASI eksklusif di Indonesia sebesar 51,9% dan persentase pemeriksaan kehamilan ≥ 4 kali sebesar 88,4%. Terdapat hubungan antara pemeriksaan kehamilan dengan praktik pemberian ASI eksklusif di Indonesia. Ibu yang melaksanakan pemeriksaan kehamilan ≥ 4 kali memiliki peluang 1,67 kali lebih tinggi untuk melakukan praktik pemberian ASI eksklusif dibandingkan ibu yang melaksanakan pemeriksaan kehamilan < 4 kali (PR = 1,67; 95% CI 1,24–2,26). Pendidikan ibu, pekerjaan ibu, serta status ekonomi berpotensi menjadi confounding pada hubungan antara pemeriksaan kehamilan dengan praktik pemberian ASI eksklusif. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan cakupan praktik pemberian ASI eksklusif dan pemeriksaan kehamilan di Indonesia seperti meningkatkan pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi kesehatan, mengoptimalkan konseling laktasi pada pemeriksaan kehamilan, mengoptimalkan penyuluhan kepada ibu hamil dan ibu menyusui, mengadakan program kelas ibu hamil secara rutin, pelatihan dan pemberdayaan kader mengenai pemberian ASI eksklusif, memberikan apresiasi kepada ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif, serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan konseling laktasi saat pemeriksaan kehamilan.

Breast milk is the best source of nutrition for infants. WHO and UNICEF recommend that infants should be exclusively breastfed for the first six months of life. Exclusive breastfeeding plays an important role in increasing the body's immune system and supporting infants' brain and physical development. However, according to the 2017 IDHS data, only half (52%) of children under six months are exclusively breastfed. Antenatal care is an ideal entry point for health workers to provide education regarding the practice of exclusive breastfeeding. Therefore, this study aims to determine the association between antenatal care and the practice of exclusive breastfeeding in Indonesia. This study used IDHS 2017 data with a cross-sectional study design. The sample of the study were mothers aged 15-49 years in Indonesia who had their last child aged 0-5 months at the time of the 2017 IDHS interview, still lived with their children, and had complete data. The results showed that the percentage of exclusive breastfeeding practices in Indonesia is 51.9% and the percentage of antenatal care ≥ 4 times is 88.4%. There is an association between antenatal care and the practice of exclusive breastfeeding in Indonesia. Mothers who attended antenatal care ≥ 4 times were 1.67 times more likely to practice exclusive breastfeeding than mothers who attended antenatal care < 4 times (PR = 1,67; 95% CI 1,24–2,26). Mother’s education, occupation, and economic status is the potential confounding in the association between antenatal care and exclusive breastfeeding practices. Various efforts need to be made to increase the scope of the practice of exclusive breastfeeding and antenatal care in Indonesia, such as increasing the use of social media as a media of health promotion, optimizing lactation counselling during antenatal care, optimizing counselling for pregnant women and breastfeeding mothers, conducting routine classes for pregnant women, training and empowering cadres about exclusive breastfeeding practices, giving appreciation to mothers who have succeeded in exclusive breastfeeding, and monitoring and evaluating the implementation of lactation counselling during antenatal care.
Read More
S-11339
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Salsabila; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Zakiah
S-10907
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Harneda Noviva; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyonol Penguji: Yovsyah, Toha Muhaimin, Rahmadewi, Weni Muniarti
Abstrak:
Tesis ini membahas tentang perilaku seksual berisiko pada remaja pria umur 15-18 tahun di Indonesia Tahun 2017. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan sumber data Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitfatif desain dengan studi crosss sectional. Sampel penelitian ini adalah remaja pria umur 15-18 tahun yang dikumpulkan berupa data sekunder dari data SDKI-KRR tahun 2017. Hasil analisis didapatkan bahwa pengaruh teman sebaya merupakan variabel yang paling dominan dengan perilaku seksual berisiko. Hal ini dapat dilihat Odds Ratio (OR) yang paling besar diantara variabel independen yang lainnya 4,974 (95% CI: 3,503-7,062), yang artinya remaja pria yang terpengaruh teman sebaya berisiko 4,974 kali lebih besar memiliki perilaku seksual berisiko dibandingkan remaja yang tidak terpengaruh teman sebaya

This thesis discusses risky sexual behavior in young men aged 15-18 years in Indonesia in 2017. This study uses secondary data from the Indonesia Health Demographic Survey (IHDS) data source in 2017. The design of this study uses a quantitative design method with crosss sectional study. The sample of this study was young men aged 15-18 years collected in the form of secondary data from the IHDS-Adolescent Reproductive Health data in 2017. The results of the analysis found that the influence of peers was the most dominant variable with risky sexual behavior. It can be seen that the highest odds ratio (OR) among other independent variables is 4.974 (95% CI: 3.503-7.062), which means young men who are affected by peers at 4.974 times more risky sexual behavior than unaffected adolescents friends of the same age.

Read More
T-5880
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noerachma Indah Amalia; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarif, Asep Sopari
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan denganperilaku hubungan seksual pranikah pada remaja di Indonesia menggunakan pendekatankuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional). Data yang digunakanmerupakan data SDKI Kesehatan Reproduksi Remaja Tahun 2017 dengan sampelsebanyak 22.986 remaja belum menikah usia 15-24 tahun yang sesuai dengan kriteriainklusi dan eksklusi penelitian. Sebanyak 6,5% remaja mengaku pernah melakukanhubungan seksual pranikah.

Hasil penelitian multivariat menggunakan uji regresi logistikmenunjukkan bahwa umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status ekonomi keluarga,daerah tempat, sikap terhadap hubungan seksual pranikah, pengaruh teman, pengalamankonsumsi alkohol, perilaku pacaran berisiko, dan perilaku merokok berhubungansignifikan dengan perilaku hubungan seksual pranikah pada remaja di Indonesia. Faktorpaling dominan adalah perilaku pacaran berisiko, yaitu dengan nilai p = 0,000 dan aOR= 27,236 (95% CI: 19,979-37,129).

Kata kunci:Perilaku seksual, hubungan seksual pranikah, remaja, Indonesia.
Read More
S-10312
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive