Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 20629 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dina Kristina; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Doni Hikmat Ramdhan, Mardianto
Abstrak:

Salah satu kegiatan pelayaran berada pada industri minyak dan gas yang menggunakan kapal tanker dengan berbagai macam ukuran. Sehingga lalu lintas pelayaran pun semakin ramai yang dapat menyebabkan kecelakaan pelayaran. Maka dari itu, operator kapal tanker harus memastikan keselamatan seluruh orang selama kapal tanker beroperasi demi terciptanya keselamatan pelayaran dengan menerapkan standar industri Migas yaitu Tanker Management and Self-Assessment (TMSA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetensi operator kapal tanker dalam menerapkan standar industri dalam rangka terciptanya keselamatan pelayaran. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif pada 5 perusahaan operator kapal tanker yang dianalisa pada penerapan 13 elemen TMSA. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 5 perusahaan yang menerapkan TMSA yaitu 1 perusahaan asing dan ke-empat perusahaan lainnya tidak menerapkan TMSA.


 

One of the shipping activities is in the oil and gas industry which uses tankers of various sizes. So that the shipping traffic is getting more crowded which can cause maritime accidents. Therefore, tanker operators must ensure the safety of all people while the tanker is operating in order to create shipping safety by applying oil and gas industry standards, namely Tanker Management and Self-Assessment (TMSA). This study aims to analyze the competence of tanker operators in applying industry standards in order to create shipping safety. This research is qualitative researchon 5 tanker operator companies analyzed on the application of 13 elements of TMSA. The results showed that of the 5 companies that implemented TMSA, namely 1 foreign company and the other four companies did not implement TMSA.

Read More
T-6441
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dedy Poernama; Pembimbing: Tata Soemitra; Penguji: Hendra, R. Kintoko Rochadi
T-2190
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Grahito Abhinowo; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Chandra Sunaryo, Juni Trihardiyanto
Abstrak:
Basic HSSE Training (BHT) merupakan pelatihan dasar keselamatan yang wajib diikuti seluruh pekerja sebagai prasyarat memasuki area kerja pada industri hulu minyak dan gas yang berisiko tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran BHT dalam meningkatkan perilaku keselamatan pekerja lapangan, yang mencakup gambaran pelaksanaan, manfaat, tantangan, serta aspek yang perlu ditingkatkan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 27 informan dari sembilan kelompok fungsi, dilengkapi data sekunder berupa 13.541 respons feedback pelatihan dan hasil Survei Budaya HSSE berbasis model Hearts and Minds. Data dianalisis secara tematik melalui pengodean deduktif dan induktif, sintesis matriks skoring kesamaan persepsi antarinforman, serta triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BHT telah terselenggara sebagai pelatihan wajib terstruktur yang terhubung dengan HSSE Passport dan dinilai sangat baik pada tingkat reaksi peserta. Manfaat paling kuat adalah peningkatan kesadaran terhadap bahaya, risiko, dan konsekuensi, sedangkan manfaat pada keberanian melakukan intervensi atau menghentikan pekerjaan tidak aman masih terbatas. Tantangan utama meliputi keterbatasan praktik dan simulasi, kesenjangan antara materi umum dan variasi kondisi lapangan, serta lemahnya tindak lanjut pascapelatihan. Aspek perbaikan yang paling disepakati adalah penguatan studi kasus dan pembelajaran dari kejadian nyata, praktik dan simulasi, kontekstualisasi materi terhadap risiko aktual pekerjaan, serta evaluasi hingga tingkat perilaku. Penelitian menyimpulkan bahwa BHT berperan sebagai fondasi pembentukan perilaku keselamatan, tetapi belum cukup berdiri sendiri sehingga memerlukan penguatan transfer pembelajaran dan dukungan organisasi agar kesadaran berkembang menjadi perilaku selamat yang konsisten.

Basic HSSE Training (BHT) is a mandatory foundational safety training that all workers must complete as a prerequisite for entering work areas in the high-risk upstream oil and gas industry. This study aims to analyze the role of BHT in improving field workers’ safety behavior, covering its implementation, benefits, challenges, and aspects requiring improvement. A qualitative approach with a case study design was used. Primary data were collected through in-depth interviews with 27 informants from nine functional groups, complemented by secondary data comprising 13,541 training feedback responses and the results of an HSSE Culture Survey based on the Hearts and Minds model. The data were analyzed thematically using deductive and inductive coding, a synthesis matrix scoring the convergence of informants’ perceptions, and source triangulation. The results indicate that BHT has been delivered as a structured mandatory training linked to the HSSE Passport and is rated highly at the participant reaction level. Its strongest benefit is increased awareness of hazards, risks, and consequences, whereas its benefit for the courage to intervene in or stop unsafe work remains limited. The main challenges include limited practice and simulation, gaps between generic material and varied field conditions, and weak post-training follow-up. The most widely agreed-upon improvements are strengthening case studies and lessons learned from real events, practice and simulation, contextualization of the material to actual work risks, and evaluation up to the behavior level. The study concludes that BHT serves as a foundation for shaping safety behavior but is not sufficient on its own; it requires strengthened learning transfer and organizational support so that awareness develops into consistent safe behavior.
Read More
T-7627
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Singgare Krisandita; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ade Kurdiman, Agni Syah Sutoyo Putro
Abstrak:
Insiden dan fatalitas kerja di industri pertambangan masih terjadi meskipun sistem keselamatan formal telah diterapkan. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas pengendalian risiko juga dipengaruhi oleh keputusan pimpinan operasional dalam menghadapi situasi kerja yang dinamis. Namun, proses pengambilan keputusan tersebut masih belum banyak dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses pengambilan keputusan pimpinan dalam pengendalian risiko kritis keselamatan kerja di industri pertambangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain multiple case study. Penelitian dilakukan pada salah satu perusahaan pertambangan batubara di Kalimantan Timur dengan melibatkan pimpinan operasional sebagai informan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi proses pengambilan keputusan dalam pengendalian risiko kritis. Penelitian mengidentifikasi bahwa pengambilan keputusan pimpinan dalam pengendalian risiko kritis berlangsung melalui empat pola utama, yaitu cognitive pathway of decision making, systemic risk framing, experience-based adaptive decision style, dan systemic weakness pattern. Keputusan dibentuk melalui proses identifikasi risiko, interpretasi situasi, proyeksi konsekuensi, serta pemanfaatan pengalaman dalam menentukan tindakan. Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh faktor individu (pengalaman, persepsi risiko, simulasi mental, dan kondisi emosional), faktor organisasi (tekanan produksi, pengawasan, keterbatasan sistem, budaya keselamatan, dan sumber daya), serta faktor lingkungan operasional (kondisi lingkungan kerja, peralatan, dan keterbatasan area kerja). Temuan juga menunjukkan bahwa insiden lebih merupakan akumulasi kelemahan sistem daripada akibat kesalahan individu.

Incidents and fatalities of work in the mining industry still occur even though formal safety systems have been implemented. This shows that the effectiveness of risk control is also influenced by the decisions of operational leaders in dealing with dynamic work situations. However, the decision-making process is still not widely understood. This research aims to explore the decision-making process of leaders in controlling critical occupational safety risks in the mining industry. This study uses a qualitative approach with a multiple case study design. The research was conducted on one of the coal mining companies in East Kalimantan by involving operational leaders as informants. Data was collected through in-depth interviews, observations, and document reviews, then analyzed thematically to identify decision-making processes in controlling critical risks. The research identified that leadership decision-making in critical risk control takes place through four main patterns, namely cognitive pathway of decision making, systemic risk framing, experience-based adaptive decision style, and systemic weakness pattern. Decisions are formed through the process of identifying risks, interpreting situations, projecting consequences, and utilizing experience in determining actions. Decision-making is influenced by individual factors (experience, risk perception, mental simulation, and emotional state), organizational factors (production pressure, supervision, system limitations, safety culture, and resources), and operational environmental factors (work environment conditions, equipment, and work area limitations). The findings also suggest that incidents are more an accumulation of system weaknesses than the result of individual error.
Read More
T-7590
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ilham Permana AM; Pembimbing: Baiduri; Penguji: Chandra Satrya, Tata Soemitra
Abstrak:

Gangguan otot rangka yang sering dialami pekeija manual material handling salah satunya disebabkan oleh besarnya beban mekanik yang diterima tubuh terutama pada L5/SI (lumbosacral joint) tidak pernah dapat diperkirakan secara tepat hingga saat ini. Beban mekanik yang berlebihan jika melampaui batas kemampuan struktur tubuh dapat menyebabkan cedera. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memperkirakan besarnya gaya internal otot akibat pengaruh berat tubuh dan beban ekstemal adalah dengan menggunakan model matematis. Operator boiler pada industry pengolahan kayu bertugas memasukkan bahan bakr ke dalam boiler melaksanakan pekerjaan dalam 3 postur yaitu mengangkat (loading), membawa (carrying) dan memasukkan (unloading) bahan bakar. Postur kerja tersebut menimbulkan keluhan berupa rasa sakit/nyeri pada pinggang, punggung, bahu dan lengan. Dalam penelitian ini metodologi yang digunakan adalah descriptive dengan pendekatan observasional terhadap 7 (tujuh) orang operator boiler di 2 (dua) industry kayu di Kota Padang. Berdasarkan analisis biomekanik terhadap ke 3 (tiga) postur kerja diketahui bahwa postur loading menimbulkan gaya dan momen terbesar pada L5/S1, bending moment 92.35 Nm, compression force 1889.43 dan sharing force (Anterior/Posterior) 113 N. Pengujian compression force dengan menggunakan Spinal Compression Tolerance Limit (SCTL) pada nilai 50% ile dari tekanan yang ditrima oleh tulang belakang operator diperoleh 28 % dari SCTL artinya tekanan tersebut masih dalam toleransi (< 30 % dari SCTL). Persentase perbandingan terhadap rekomendasi NIOSH untuk bending moment 163 Nm diperoleh 56.66 % untuk compression force 3425 N diperoleh 55.17 % dan shearing farce 1000 N dipero!eh 11.3 % dari rekomendasi. Perbandingan gaya dan momen tersebut seluruhnya masih berada dalam batas rekomendasi NIOSH. tetapi yang perlu diperhatikan adalah untuk compression force, berdasarkan kurva Load­ Deformation gaya tersebut telah menyebabkan L5/S1 terdeformasi ± 0.7 mm pada endplate (inward deformation). Bending moment dan compression farce yang cukup besar pada L5/S J saat postur loading merupakan dasar bagi perancangan perubahan postur tubuh. Pembuatan tempat penampungan dengan ketinggian 75 em dapat menurunkan gaya dan momen secara signifikan. Persentase penurunan yang tetjadi untuk bending moment sebesar 58.08 %, compression force 73.67 % dan shearing force sebesar 50.08 %. Potensi cedera yang terjadi diharapkan dapat berkurang dengan menurunnya beban mekanik yang diterirna tubuh operator boiller.

Read More
T-2355
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puji Hastuti; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Adi Drajat Noerwarsana, Ida Bagus Manuaba
Abstrak: International Atomic Energy Agency (IAEA) mengeluarkan rekomendasi kepada badan pengawas untuk menunjuk Petugas Proteksi Radiasi (PPR) yang berkompeten di radiologi diagnostik dan intervensional (RDI). Penelitian bertujuan mengetahui kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap) PPR, faktor yang berpengaruh, indikator pengetahuan, keterampilan dan sikap yang signifikan serta hubungan antar variabel pengetahuan, keterampilan dan sikap. Rancangan penelitian rancangan cross sectional bersifat deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan 41,6 % PPR memiliki tingkat kompetensi rata rata 69,0 dengan kategori sedang. Faktor mempengaruhi pengetahuan adalah latar belakang pendidikan, pekerjaan selain sebagai PPR di RS, perlengkapan keselamatan radiasi, paparan informasi, frekuensi rekualifikasi, pelatihan serta komitmen pemegang izin. Faktor mempengaruhi keterampilan adalah peminatan studi/jurusan, pekerjaan selain sebagai PPR di RS, perlengkapan keselamatan radiasi, sumber informasi, frekuensi rekualifikasi, pelatihan serta komitmen pemegang izin. Faktor yang mempengaruhi sikap adalah tingkat pendidikan, peminatan studi/jurusan, umur, seberapa sering bekerja dengan radiasi, perlengkapan dan komitmen pemegang izin. Hasil uji multivariat diperoleh indikator pengetahuan yang signifikan adalah pengetahuan tentang konsep verifikasi kesesuaian dan kepatuhan persyaratan dan standar proteksi dan keselamatan radiasi. Indikator keterampilan yang signifikan adalah keterampilan menyusun dokumen program proteksi dan keselamatan radiasi dan Indikator sikap signifikan adalah pro aktif mendorong dokter radiologi untuk menetapkan kriteria pemeriksaan yang boleh, yang dilarang dan yang perlu konsultasi dokter. Pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap keterampilan, pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap sikap dan keterampilan berpengaruh signifikan terhadap sikap. Hasil penelitian menyarankan adanya perbaikan pada unit kompetensi, persyaratan sertifikasi, mekanisme penyegaran, pembuatan SKKNI PPR dan pelatihan berkelanjutan bagi PPR di fasilitas RDI
Read More
T-6419
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Husnul Fitri; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ridwan Z. Syaaf, Arie Budianti
S-8592
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sabrina Valentina; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Mila Tejamaya, Elsye As Safira dan Rahmat Romadhon
Abstrak:
Sejak tahun 2012, salah satu Perusahaan Migas memiliki permasalahan kualitas udara yang belum dapat teratasi hingga saat ini, yaitu kelembaban relative (RH) yang tinggi dan pertumbuhan mikrobiologi (jamur dan bakteri) di dalam ruangan pada bangunan akomodasi dan perkantoran. Hingga akhirnya modifikasi sistem HVAC, perbaikan bangunan bocor dan pemasangan UV-C light telah dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi efektivitas pengendalian sistem tata udara dalam mengatasi permasalahan kualitas udara. Desain penelitian adalah cross sectional kuantitatif dengan analisis uji statistik. Penelitian dilakukan dengan statistik deskriptif dan uji komparasi pada parameter IAQ dan gejala SBS sebelum dan setelah modifikasi. Parameter IAQ meliputi temperatur, RH, air movement, VOC, CO2, O2, serta total jamur dan bakteri di udara dan permukaan. Agar dapat memberikan rekomendasi yang tepat dilakukan pula uji korelasi untuk menganalisis pengaruh antara parameter fisik dan kimia terhadap pertumbuhan mikrobiologi, serta pengaruh thermoregulation behavior dan aktivitas penghuni terhadap kondisi kualitas udara dan gejala keluhan SBS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kualitas udara setelah modifikasi (HVAC dan UV-C light) mengalami perbaikan kondisi yang signifikan pada parameter RH, bakteri dan jamur di udara, bakteri dan jamur di permukaan. Thermoregulation behavior, aktivitas penghuni dan gejala SBS memiliki perubahan yang baik setelah modifikasi. Kelembaban relatif (RH), CO2 dan O2 signifikan mempengaruhi pertumbuhan mikrobiologi (jamur dan bakteri) di dalam ruangan. Aktivitas penghuni dan thermoregulation behavior secara signifikan mempengaruhi kondisi kualitas udara dan gejala keluhan SBS. Modifikasi HVAC dan perbaikan bangunan bocor terbukti efektif dalam menurunkan RH di dalam ruangan. Pemasangan UV-C light pada sistem HVAC dan UV-C light portable terbukti efektif untuk mendisinfeksi jamur dan bakteri di udara, jamur di permukaan diffuser dan sistem HVAC di bangunan akomodasi dan perkantoran. Pengendalian sistem tata udara (HVAC dan UV-C light) secara signifikan dapat memperbaiki permasalahan kualitas udara, namun kondisi ini harus selalu dipertahankan dan ditingkatkan untuk mencapai kondisi sesuai dengan standar KUDR. Rekomendasi mitigasi yang diberikan diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan kualitas udara tersebut. Kata kunci: Indoor Air Quality (IAQ), jamur/mold, sistem HVAC, RH, UV-C light

Since 2012, an Oil and Gas Company has Indoor Air Quality (IAQ) problems that have not been resolved until now, such as the high relative humidity (RH) and microbiological growth (mold and bacteria) indoors in accommodation and office buildings. Finally, the HVAC system modifications, leaking building repairs and UV-C light installation have been implemented. Therefore, an evaluation of the effectiveness of HVAC system control is needed in addressing IAQ problems. Research design is a quantitative cross sectional study with statistical analysis. The study was conducted with descriptive statistics and statistical comparative tests on IAQ parameters and SBS symptoms before and after modification. The IAQ parameters include temperature, RH, air movement, VOC, CO2, O2, total mold and total bacteria in ambient air and surface area. In order to provide appropriate recommendations, statistical correlation tests were conducted to analyze the influence between physical and chemical IAQ parameters on microbiological growth, as well as the influence of thermoregulation behaviour and occupant activity on air quality conditions and SBS symptoms. The study results showed that IAQ conditions after modification (HVAC and UV-C light) has significant improvements in RH, bacteria and mold in ambient air, bacteria and fungi on the surface. Thermoregulation behaviour, occupant activity and SBS symptoms have good changes after modification. RH, CO2 and O2 significantly affect the microbiological growth (mold and bacteria) indoors. Occupant activity and thermoregulation behaviour significantly affected IAQ conditions and SBS symptoms. HVAC modifications and leaky building repairs have proven effective in lowering RH indoors. Installation of UV-C light on HVAC systems and portable UV-C light has proven effective for disinfecting airborne molds and bacteria, mold on diffuser surfaces and HVAC systems in accommodation and office buildings. Modification of HVAC systems and UV-C light can significantly improve IAQ problems, but these conditions must always be maintained and improved to achieve acceptable conditions based on IAQ standards. Mitigation recommendations are expected to solve the air quality problem. Key words: HVAC system, Indoor Air Quality (IAQ), mold, RH, UV-C light
Read More
T-7525
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meddy Harjanto; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Dadan Erwandi, Kevin Gerhana Angga, Nur Hudha
Abstrak: Seiring dengan perkembangan jaman sebagaimana kegiatan di industry Minyak dan Gas (Migas) yang memiliki risiko tinggi sehingga diperlukan pengelolaan operasi yang sangat baik, tertata dan terencana dengan matang. Hal ini berkaitan dengan kecelakaan yang diakibatkan oleh prilaku tidak aman (un-safe act) sebagai penyebab dominan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian tentang analisis budaya keselamatan dengan mengukur Safety Climate Level (SCL) dan Safety Culture Maturity Level (SCML), sebagai upaya peningkatan buadaya keselamatan untuk mengurangi kecelakaan. Populasi pada penelitian ini berjumlah 2.568 pekerja, kemudian pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode penyebaran keusioner dan Focus Group Discussion (FGD) untuk di Site A dengan jumlah 245 pekerja. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui skor SCL 7,82 (>7,5 ref. Norma SCL) dimana safety climate sudah tercermin dengan baik pada individu dan kelompok. Sedangkan safety culture sudah berada pada level 4 (proactive) dengan skor SCML 4,17 dari total skor 5. Hal ini menunjukkan peran pekerja dalam program K3 telah meningkat dimana pendekatan bottom-up perlu ditingkatkan dengan menyerap dan menindaklanjuti spirasi dan masukkan dari pekerja.
Read More
T-5655
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Donny Agustinus Sitanggang; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Dadan Erwandi, Baiduri Winarko, Benyamin Argubie, Samy Awaludin
Abstrak: Tesis ini membahas iklim keselamatan pada pekerja di industri minyak dan gas, data iklim keselamatan pekerja diperoleh melalui survei daring. Pengumpulan data menggunakan metode survei yang bersumber dari survei yang digunakan pada jurnal (Sunindijo et al. 2019) dan (Loosemore et al. 2019) yang sudah digunakan pada industri lainnya yaitu industri bangunan, infrastruktur, konstruksi di Indonesia dan Australia. Survei dilakukan terhadap karyawan dan partner di industri minyak dan gas, hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pada beberapa bagian antara karyawan dan partner, dan antara pekerja industri minyak dan gas dan pekerja industri lainnya. Dapat disimpulkan bahwa iklim keselamatan di industri migas sudah baik dan secara rerata lebih tinggi dari industri konstuksi, dimana di sisi positif pekerja industri migas merasa lingkungan kerjanya aman untuk bekerja, namun di sisi lain memerlukan perbaikan dalam implementasi peraturan dan prosedur keselamatan di tempat kerja.

The focus of this thesis is safety climate on oil and gas industry worker, the objective is to analyze safety climate in oil & gas industry and compare it with construction industry. Data collection is performed using a survei method which sourced from journal (Sunindijo et al. 2019) and (Loosemore et al. 2019) which already used in other industry such as building, infrastructure, construction in Indonesia and Australia. Safety climate data is obtained through online survei. Survei performed to employees and partners in oil and gas industry, this study shows that there is a significant difference on some part of employees and partners, and between oil and gas worker and construction industry worker. We can conclude that safety climate in oil & gas industry is already good and in average has higher value than construction industry, where on the positif side oil & gas industry worker feels their work environment is safe to work ,but need some improvement in safety rules and procedures implementation at work.
Read More
T-5864
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive