Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 19295 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tri Wurisastuti; Pembimbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Woro Riyadina, Felly Philipus Senewe
Abstrak: Hipertensi tidak terkontrol merupakan masalah kesehatan global karena dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular. Salah satu factor terjadinya hipertensi tidak terkontrol adalah perilaku tidak sehat seperti kebiasaan merokok. penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan trend hipertensi tidak terkontrol selama 7 tahun pengamatan dan menilai besaran hubungan perilaku merokok dengan hipertensi tidak terkontrol pada orang dewasa yang dikontrol oleh kovariat lainnya selama 7 tahun pengamatan. Penelitian ini merupakan penelitian longitudinal, dimana subjek yang sama diukur outcome dan pajanannya berulang pada setiap tahun pengamatan. Sumber data berasal dari data Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular tahun 2011-2019. Populasi adalah responden yang mengalami hipertensi di awal penelitian. Analisis data multivariate dilakukan dengan analisis Generalized Estimating Equations (GEE) dengan Working Correlation Structure (WCS) Autoregressive (1). Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa prevalensi hipertensi tidak terkontrol pada orang dewasa selama 7 tahun pengamatan di Kota Bogor mengalami penurunan dari 87,0% pada tahun pertama menjadi 76,4% pada tahun ke-7 pengamatan. Asosiasi perilaku merokok dengan hipertensi tidak terkontrol berbeda berdasarkan waktu. Selama 7 tahun pengamatan, hubungan perilaku merokok dengan hipertensi tidak terkontrol sebesar 2,15 (AOR=2,150; 95%CI: 1,657-2,789) setelah dikontrol variable lain. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi program pengendalian hipertensi di Indonesia untuk lebih menegaskan upaya berhenti merokok pada masyarakat terutama penderita hipertensi
Read More
T-6377
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Kristanti; Pembimbing: Nurhayati A Prihartono, Ratna Djuwita; Penguji: Woro Riyadina, Tristiyenny Pubianturi
T-5620
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hotma Parulian Tambunan; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Nasrin Kodim, Ekowati Rahajeng, Endah Gina Faziah
Abstrak:

Latar Belakang : Peningkatan prevalensi penderita hipertensi di masyarakat DKI Jakarta disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat dimodifikas maupun tidak. Aktifitas fisik sehagai salah satu lilktor yang dapat mencegah hipertensi perlu mendapat perhatian yang lebih karena faktor ini termasuk: salah satu faktor yang dapat dimodifikasi dengan usaha dan biaya yang tidak terlaiu besar.Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya besar hubungan antara kejadian hipertensi dengan aktivitas fisik pada masyarakat di lima wilayah DKI Jakarta tahun 2006. Metode : Penelitian ini dilakukan dengan disain cross sectional dan dianalisis secara kohort menggunakan data sekwtder dari survey faktor resiko PTM utama di lima wilayah DKI Jakarta tahun 2006. Kasus ekspos adalah subyek yang melakukan aktivitas fisik renda yang berjumlah 668 orang subyek dan non ekspos adalah subyek yang melakukan aktivitas tinggi sejumlah 668 orang. Perbandingan kasus ekspos dan non ekspos adalah 1:1, hingga jumlah keseluruhan subyek penelitian 1336 subyek. Hasil : Hasil penelitian mendapatkan proporsi hipertensi pada subyek yang beraktivitas rendah sebesar 65,5% dab pada subyek yang beraktivitas tinggi 58 8%. Hasil analisis menunjukkan bahwa aktivitas fisik berhubungan secara signiflkan dengan kejadian hipertensi. Dengan nilai p (p value) = 0,0001, setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin dan peketjaan didapat OR aktivitas tinggi 0,750 dengan 95% CI (0,601- 0,937) menunjukkan bahwa dengan beraktivitas dapat mengurangi risiko untuk menderita penyakit hipertensi sebesar 4 kali. Dalam penelitian ini variabel Jenis kelamin. umur, tingkat pendidilcan, status perkawinan, diaberes mellitus, hiperkolesterol, low HDL, IMT, dan pekerjaan semua mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi (nilai p < α), sementara variabel merokok, hiper LDL dan kecukupen serat walaupun berhubungan tetapi hubungannya dengan hipertensi tidak signiflkan (nilai p > a). Kesimpulan : Aktivittas fisik tinggi dapat mengurangi resiko untuk terkena penyakit hipertensi, semakln sering kita me1akukan aktivitas fisik semakin rendah resiko untuk menderita penyakit. Subyek yang melakukan aktifitas fisik rendah lebih beresiko untuk terkena hipertensi 4 kali dibanding subyek yang melakukan aktifitas fisik tinggi.

Read More
T-2836
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titi Indriyati; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Asri C. Adisasmita, Rustika, Edi Darma
T-4070
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nasrin Kodim; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah, Budi Utomo
D-77
Depok : FKM UI, 2004
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andini Wisdhanorita; Pembimbing: Syahrizal, Putri Bungsu; Penguji: Dian Meutia
Abstrak: Prevalensi diabetes melitus di Indonesia meningkat sebanyak 23,2% dari 6,9% pada tahun 2013 menjadi 8,5% pada tahun 2018 (Riskesdas, 2018). Selain itu, perilaku merokok yang diduga sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya diabetes melitus juga mengalami peningkatan sebesar 6,14% dari 34,2 persen pada tahun 2007 menjadi 36,3 persen pada tahun 2013 (Riskesdas, 2013). Berbagai penelitian telah menunjukan bahwa terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan diabetes melitus tipe 2 (Cho dkk, 2014; Sairenchi dkk, 2004; Shi dkk, 2013; Papier, 2016). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Antara Perilaku Merokok Dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 Di Kecamatan Bogor Tengah. Desain penelitian menggunakan kohort retrospektif. Sampel terdiri dari 1804 responden yang berasal dari studi kohort faktor risiko PTM. Responden diamati selama 6 tahun. Insidens rate diabetes melitus adalah 4,13%.
Read More
T-5688
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Armenda; Pembimbing: Helda; Penguji: Asri C. Adisasmita, Bambang Dwipoyono, Yoan Hotnida Naomi
Abstrak:
Kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak ke-4 yang didiagnosis pada wanita di dunia. Kanker seviks utamanya disebabkan oleh infeksi virus Human Papilloma Virus (HPV) tipe high risk. Merokok merupakan salah satu kofaktor yang menyebabkan perkembangan infeksi HPV berkembang menjadi lesi prakanker dan kanker serviks. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan merokok dengan terjadinya lesi prakanker serviks pada wanita usia 25-64 tahun di daerah perkotaan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan disain studi cross sectional dengan menggunakan data sekunder dari Riset PTM 2016, dengan jumlah sampel 37.972 responden. Hasil analisis multivariat menggunakan regresi logistik setelah dikontrol variabel kovariat menemukan bahwa pada wanita perokok aktif didapatkan POR 0,862 (95% CI: 0,687– 1,083) dan pada wanita mantan perokok didapatkan POR 0,927 (95% CI; 0,719-1,119) dengan p-value > 0,05, yang dapat diartikan bahwa pada penelitian ini tidak terdapat hubungan bermakna secara statistik antara merokok aktif dan riwayat dulu pernah merokok dengan terjadinya lesi prakanker serviks. Hasil penelitian ini masih dipengaruhi oleh bias temporal sehingga penggunaan data dari desain cross sectional tidak bisa menjelaskan hubungan kausalitas antara merokok dengan lesi prakanker serviks.

Cervical cancer is the 4-th most common type of cancer diagnosed in women in the world. Cervical cancer is mainly caused by high risk infection of Human Papilloma Virus (HPV). Smoking is one of the cofactors that cause the development of HPV infection into precancerous lesions and cervical cancer. The purpose of this study was to determine the relationship between smoking and the occurrence of cervical precancerous lesions in women aged 25-64 years in urban areas in Indonesia. This study used a cross-sectional study design using secondary data from the 2016 NCD’s Research, with total 37,972 subjects. The results of multivariate analysis using logistic regression shows that there was no significant assosiations between smoking and cervical precancerous lesions, with adjusted POR = 0.862 (95 % CI: 0.687–1.083) in current smoker and adjusted POR = 0.927 (95% CI; 0.719-1.119) for former smoker with a p-value > 0.05, which means that there is no relationship between current active smoking and former smoking with cervical precancerous lesions. This study was still influenced by temporal bias because of using data from a cross-sectional study is not valid to explain the causal relationship between smoking and cervical precancerous lesions.
Read More
T-6792
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Purwo Setiyo Nugroho; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Putri Bungsu, Julianty Pradono, Punto Dewo
Abstrak:

ABSTRAK Nama :  Purwo Setiyo Nugroho Program Studi :  Magister Epidemiologi Judul :  Hubungan Diabetes Melitus Dengan Penyakit Jantung Koroner (Analisis Data Baseline Kohor PTM Tahun 2011). Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi yang berakibat munculnya penyakit lainnya. Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit terbesar pada penderita diabetes mellitus. Penyakit jantung koroner merupakan penyakit kardiovaskuler terbanyak dibandingkan penyakit kardiovaskuler lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan diabetes mellitus dengan penyakit jantung koroner pada studi data Baseline Kohor PTM Kementrian Kesehatan. Analisis yang digunakan adalah Cox Regression yang mengestimasi nilai Prevalens Ratio. Hasil analisis multivariat dengan menggunakan analisis cox regression mengungkapkan bahwa orang yang menderita diabetes melitus memiliki prevalens rasio sebesar 1,094 kali (p value 0,929 CI 95 % 0,149 – 8,026) dibanding responden yang tidak menderita diabetes melitus. Namun, hasil analisis ini menunjukkan bahwa hubungan diabetes melitus terhadap penyakit jantung koroner tidak signifikan dengan mempertimbangkan nilai p value > 0,05 dan 95 % Confidence Interval yang rentangnya melewati angka 1. Dalam peneltian ini minim terjadinya bias seleksi karena tidak missing data pada sampel eligible sebanyak 1937 responden. Begitu pula minim terjadinya bias informasi karena pengukuran variabel penelitian menggunakan alat ukur yang baku. Namun penelitian ini memiliki kelemahan dalam temporality sehingga hasil penelitian tidak dapat di justifikasi bahwa diabetes mellitus merupakan penyebab penyakit jantung koroner. Serta nilai asosiasi prevalence ratio bukan merupakan nilai risiko yang sebenarnya. Kata Kunci : Diabetes Melitus, Penyakit Jantung Koroner, Baseline Kohor, Penyakit Tidak Menular


ABSTRACT Name :  Purwo Setiyo Nugroho Program :  Master of Epidemiology Title :  Association of Diabetes Mellitus With Coronary Heart Disease (Baseline Data Analysis of Non-Communicable Disease, 2011). Diabetes mellitus is a disease that can cause complications that lead to the emergence of other diseases. Cardiovascular disease is the biggest disease in patients with diabetes mellitus.  This study aims to determine the relationship of diabetes mellitus and coronary heart disease in the Baseline Data Non-Communicable Disease Cohort Study. The analysis is the Cox Regression estimate the Prevalence Ratio. Multivariate analysis using Cox regression analysis revealed that people suffering from diabetes mellitus have a prevalence ratio of 1.094 times (p value = 0.929 95% CI 0.149 to 8.026) than respondents who do not have diabetes mellitus. However, the results of this analysis showed that the association of diabetes mellitus against coronary heart disease is not significant considering p value <0.05 and 95% Confidence Intervals range is exceeded 1. This study the minimal selection bias because there is missing data on a sample of eligible total 1937 respondents. Similarly, the minimal bias variable measurement information for research using standard measurement tools. However, this study has weaknesses in temporality so that research results can not be justified that diabetes mellitus is a cause of coronary heart disease. Tthe value of association prevalence ratio is not the value of the actual risk. Keywords: Diabetes Mellitus, Coronary Heart Disease, Baseline Cohort, Non Communicable Disease

Read More
T-4835
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Leah Hadassah Kadly; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Rindu Rachmiaty
Abstrak: Latar Belakang: Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mendunia, karena prevalens dan insidens PGK yang terus meningkat, prognosis yang buruk, serta biaya perawatan yang tinggi. Epidemi penggunaan temabakau dengan penggunaan utamanya adalah melalui perilaku merokok merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat terbesar yang dihadapi dunia, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku merokok dengan Penyakit Ginjal Kronis (PGK) pada penduduk berusia ≥ 15 tahun di Indonesia. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan desain studi potong lintang analitik. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang dipeoleh dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 dengan jumlah sampel sebesar 324.801 yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Berdasarkan hasil analisis, didapatkan prevalensi kejadian PGK adalah 0,5% dan proporsi perilaku merokok adalah terdapat 15,8% merokok dan 1,8% pernah merokok dengan sebanyak 14,1% rata-rata batang rokok yang dihisap ≤ 20 batang/hari, 14,5% merokok > 10 tahun, 8,0% merupakan perokok sedang, dan 11,0% merokok jenis kretek. Terdapat hubungan yang bermakna antara status merokok, lama merokok, derajat merokok, dan jenis rokok dengan POR = 1,15 (95% CI = 1,02 ? 1,30), POR = 1,30 (95% CI = 1,15 ? 1,48), POR = 1,89 (95% CI = 1,48 ? 2,40), dan POR = 1,91 (95% CI = 1,30 ? 2,80), secara berturut-turut. Selain itu, beberapa variabel faktor risiko lain memiliki hubungan yang bermakna, yaitu usia (POR = 2,66, 95% CI = 2,40 ? 2,96), jenis kelamin (POR = 1,44, 95% CI = 1,30 ? 1,60), tingkat pendidikan (POR = 1,33 95% CI = 1,20 ? 1,48), hipertensi (2,43, 95% CI = 2,20 ? 2,69), diabetes mellitus (POR = 4,2, 95% CI = 3,63 ? 4,93), penyakit jantung (5,28, 95% CI = 4,51 ? 6,17), konsumsi minuman berenergi (POR = 1,51, 95% CI = 1,07 ? 2,13), dan aktivitas fisik (POR = 1,58, 95% CI = 1,42 ? 1,77). Selain itu, diidentifikasi variabel efek modifikasi (interaksi), yaitu status pekerjaan, diabetes mellitus, dan konsumsi minuman berenergi dan variabel perancu yaitu variabel usia dan jenis kelamin. Kesimpulan: Perilaku merokok, khususnya status merokok, lama merokok, derajat merokok, dan jenis rokok yang dihisap merupakan faktor risiko penting yang perlu diperhatikan dalam pencegahan dan pengendalian kejadian PGK.
Background: Chronic kidney disease (CKD) is a global public health problem, due to the increasing prevalence and incidence of CKD, poor prognosis, and high treatment costs. The epidemic of tobacco use with its main use being through smoking is one of the biggest public health threats facing the world, including Indonesia. This study aims to determine the relationship between smoking behavior and Chronic Kidney Disease (CKD) in the population aged 15 years in Indonesia. Methods: The research was conducted using quantitative methods and a a cross-sectional analytical design. The source of data used in this study is secondary data obtained from the Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 with a total sample of 324,801 according to the inclusion and exclusion criteria. Results: Based on the results of the analysis, the prevalence of CKD incidence was 0.5% and the proportion of smoking behavior was 15.8% smoked and 1.8% had ever smoked with 14.1% the average cigarette smoked 20 cigarette/days, 14.5% smoked > 10 years, 8.0% were moderate smokers, and 11.0% smoked kretek. There is a significant relationship between smoking status, smoking duration, smoking degree, and type of cigarette with POR = 1.15 (95% CI = 1.02 ? 1.30), POR = 1.30 (95% CI = 1.15 ? 1.48), POR = 1.89 (95% CI = 1.48 ? 2.40), and POR = 1.91 (95% CI = 1.30 ? 2.80), respectively. In addition, several other risk factor variables had a significant relationship, namely age (POR = 2.66, 95% CI = 2.40 ? 2.96), gender (POR = 1.44, 95% CI = 1, 30 ? 1.60), education level (POR = 1.33 95% CI = 1.20 ? 1.48), hypertension (2.43, 95% CI = 2.20 ? 2.69), diabetes mellitus ( POR = 4.2, 95% CI = 3.63 ? 4.93), heart disease (5.28, 95% CI = 4.51 ? 6.17), consumption of energy drinks (POR = 1.51, 95 % CI = 1.07 ? 2.13), and physical activity (POR = 1.58, 95% CI = 1.42 ? 1.77). In addition, the modification effect variables (interaction) were identified, namely employment status, diabetes mellitus, and consumption of energy drinks, and confounding variables, namely age and gender. Conclusion: Smoking behavior, especially smoking status, duration of smoking, degree of smoking, and types of cigarettes smoked are important risk factors that need to be considered in preventing and controlling the incidence of CKD.
Read More
S-11021
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yunita Diana Sari; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Ratna Djuwita, Julianty Pradono, Sri Prihartini
Abstrak:

ABSTRAK

Penyakit jantung koroner merupakan pembubuh utama di negara maju maupunnegara berkembang. Salah satu faktor risiko utama penyebab arterosclerosis adalahhiperkolesterolemia yang ditunjukkan dengan peningkatan kadar kolesterol LDL.Perubahan pola hidup yang ditandai dengan kurangnya mengkonsumsi buah dansayuran serta banyak mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak, merupakan salahsatu risiko terjadinya peningkatan kadar kolesterol LDL. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui hubungan asupan serat dengan kadar kolesterol LDL pendudukusia 25-65 tahun di Kelurahan Kebon Kalapa Bogor tahun 2013. Penelitian dilakukandengan desain cross sectional menggunakan data baseline Studi Kohor Faktor RisikoPenyakit Tidak Menular Badan Litbangkes tahun 2011. Analisis multivariatemenggunakan regresi logistik. Hasil analisis data diperoleh proporsi kolesterol LDLtinggi sebesar 78.3% dengan rata-rata kadar kolesterol 120 mg/dl. Rata-rata asupanserat sebesar 7 gram/hari dengan proporsi asupan serat <6.6 gram/hari sebesar 50.5%.Hasil multivariate menunjukkan asupan serat rendah merupakan faktor protektif (OR= 0.182) terhadap kadar kolesterol LDL tinggi setelah dikontrol oleh variabel umur,asupan lemak dan asupan protein nabati. Faktor determinan dalam model ini terhadapkadar kolesterol LDL adalah asupan protein nabati (OR = 13.356). Model ini mampumemprediksi kejadian kadar kolesterol LDL sebesar 79.4% dan sisanya dipengaruhioleh variabel lain yang tidak tercantun didalam model. Dengan melakukanpenyuluhan akan pentingnya mengkonsumsi makanan yang banyak mengandungserat merupakan salah satu upaya pencegahan terjadinya penyakit yang berhubungandengan arterocslerosis. Merubah pola makan dengan memperbanyak konsumsi buahakan mengurangi kadar kolesterol LDL dalam darah.

ABSTRACT

Coronary heart disease considers as one of the major killers both in developedand developing countries. One of the main risk factors that caused artherosclerosis ishypercholesterolemia which indicates by elevated LDL cholesterol level. Life stylechanging by lack of consuming fruits and vegetables while excess in consuming foodhigh in fat content considered one of risk to have elevated cholesterol level. The aimof this research is to identify the relationship between fiber consumption and thecontent of LDL cholesterol for the people of 25-65 years of age at Kebon KelapaVillage in Bogor on the Year of 2013. The research is conducted by Cross Sectional.The analytic design utilizes the baseline data from Cohort Study of ContagiousDisease Risk Factors of the Research and Development of Health Agency of theRepublic of Indonesia in the year of 2011. Stratification is used in analyzing data andcog regression is utilized in multivariate analysis. The analysis of the result obtainedthat the prevalence of LDL cholesterol is 78.3% with the average of cholesterolcontent 120 mg/dl. The average of daily fiber consumption is 7 gram/day with theproportion of fiber consumption <6.6 gram/day is 50.5%. The result of multivariateanalysis indicates that low fiber consumption considers as a protective factor(OR=0.182) toward high level of LDL cholesterol level after having controlled bysuch variables as age, consumptions of fat and vegetable protein. Determinant factorin this model toward LDL cholesterol content is the consumption of vegetable protein(OR=13.356). This model has the ability to predict in experiencing LDL cholesterollevel 79.4% and the remaining would be influenced by other factors that have notwritten down in the model. By educating the community about the important ofconsuming high fiber foods consider as one of the effort to prevent the occurrence ofdiseases relate with artherosclerosis. Changing the eating pattern by consuming morefiber will decrease the content of cholesterol level in the blood

Read More
T-4007
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive