Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38999 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Olivia Tisya Anne E.A. Sigalingging; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Meiwita P. Budiharsana, Maria Gayatri
Abstrak: Penelitian ini membahas pengaruh jarak kelahiran terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun dengan tujuan mengetahui gambaran pengaruh jarak kelahiran dengan kematian bayi di Indonesia berdasarkan karakteristik wilayah perdesaan dan perkotaan. Desain studi yang digunakan adalah potong lintang (cross sectional) dengan analisis multivariabel regresi logistik menggunakan data sekunder SDKI 2017. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 4871 sampel dengan pembagian wilayah perkotaan 2294 sampel dan wilayah perdesaan 2577 sampel pada populasi WUS sudah menikah dan memiliki >1 anak. Hasil penelitian bivariat menunjukkan jarak kelahiran memiliki risiko terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di perkotaan saja berdasarkan nilai OR. Variabel lainnya yang menunjukan hubungan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun berdasarkan P value <0,05 adalah jumlah anak yang dilahirkan, kelengkapan melakukan layanan ANC, dan keinginan ibu memiliki anak lagi. Setelah dilakukan analisis pemodelan terdapat perubahan hasil di kedua wilayah. Di perkotaan, hasil analisis multivariabel yang menunjukan faktor risiko kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun berdasarkan AOR>1 adalah jarak kelahiran 5 tahun, usia ibu pertama melahirkan 30 tahun, jumlah anak yang dilahirkan >3, tingkat pendidikan tidak sekolah/SD, ANC tidak lengkap, dan ibu menginginkan anak lagi. Di perdesaan, faktor risikonya adalah jarak kelahiran 5 tahun, usia ibu pertama melahirkan 30 tahun, jumlah anak yang dilahirkan >3, ANC tidak lengkap, ibu menginginkan anak lagi. Faktor risiko dominan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di kedua wilayah adalah ibu yang melahirkan >5 anak. Dapat disimpulkan jarak kelahiran memiliki hubungan terhadap kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di wilayah perkotaan, sedangkan di wilayah perdesaan jarak kelahiran menjadi faktor risiko setelah dilakukan analisis pemodelan. Terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan faktor risiko kematian bayi usia 0 sampai 1 tahun di kedua wilayah, sehingga faktor risiko bervariasi menurut karakteristik wilayah.
Read More
S-10998
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Selni Paressa Masakke; Pembimbing: Luknis Sabri; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Yuliana Sari
S-4174
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Hadi Budhy Setyanto; Pembimbing: Sudjianto Kamso; Penguji: Artha Prabawa, Salimar
S-10026
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Julius Sugiharto; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Flourisa J. Sudrajat
S-6727
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Faisal; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Artha Prabawa, Rinni Yudhi Pratiwi
S-6232
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Demsa Simbolon; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar, Sabarinah B Prasetyo; Penguji: Kusharisupeni, Edward Firdaus Sembiring, Itje A. Ranida
Abstrak: Latar Belakang: Kelangsungan hidup bayi di Indonesia masih rendah, hal ini dapat dilihat dari tingginya AKB di Indonesia. AKB di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya dan tetap berada pada keadaan intermediate rock, juga sangat bervariasi antar wilayah, dimana AKB di pedesaan jauh lebih tinggi dibandingkan di perkotaan. Dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan lebih menitikberatkan perhatian pada faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian bayi, sangat sedikit yang menganalisis umur kelangsungan hidup bayi, dan tidak membandingkan kelangsungan hidup bayi di perkotaan dan pedesaan. Tujuan: Penelitian bertujuan menggambarkan probabilitas kelangsungan hidup bayi serta menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi di Indonesia dan menurut wilayah perkotaan dan pedesaan. Metoda: Penelitian ini menggunakan data SDKI 2002-2003, dengan rancangan cross sectional. Data dapat dianalisis dengan analisis survival karena tersedia informasi waktu (time) dan kejadian (event), dengan waktu pengamatan mulai bayi lahir sampai usia sebelum satu tahun. SDKI tahun 2002–2003, sampel berjumlah 11.588 bayi, terdiri dari 4769 bayi di perkotaan dan 6819 bayi di pedesaan. Bayi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi akan dianalisis dengan mengaplikasikan analisis survival. Analisis mencakup analisis univariabel, analisis bivariabel dengan metode life table dan regresi cox sederhana, dan analisis multivariabel dengan regresi cox ganda. Hasil: Probabilitas kelangsungan hidup bayi di perkotaan (98,59%) lebih tinggi dibandingkan bayi di pedesaan (97,54%). Proporsi kematian bayi di pedesaan dua kali lebih banyak dibandingkan bayi di perkotaan. Kurva kelangsungan hidup bayi menurun tajam pada umur bulan pertama (masa neonatal), untuk umur berikutnya penurunan probabilitas kelangsungan hidup bayi lebih landai. Menurut wilayah, penurunan probabilitas kelangsungan hidup bayi di perkotaan lebih landai dibandingkan di pedesaan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi di perkotaan adalah adalah berat badan lahir, waktu pemberian ASI, penolong persalinan dan interaksi antara penolong persalinan dengan berat badan lahir setelah dikontrol faktor frekuensi kunjungan pelayanan antenatal, tempat persalinan, dan nomor urut lahir, sedangkan di pedesaan adalah frekuensi kunjungan pelayanan antenatal, berat badan lahir, penolong persalinan, nomor urut lahir, waktu pemberian ASI, tempat persalinan, interaksi penolong persalinan dengan waktu pemberian ASI setelah dikontrol faktor jarak kelahiran dan jenis kelamin. Kesimpulan: Terdapat perbedaan faktor-faktor yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi di perkotaan dan pedesaan. Faktor keadaan saat bayi lahir merupakan faktor penting yang berhubungan signifikan dengan kelangsungan hidup bayi, faktor waktu pemberian ASI pertama kali merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi. Kata Kunci : Bayi, Kelangsungan Hidup Bayi, Perkotaan dan Pedesaan, Analisis Kesintasan, Proportional Hazard Model.
Background: Infant’s survival is still low on Indonesia, it based on high IMR level on Indonesia. IMR on Indonesia is higher compared to other ASEAN country and still on intermediate rock condition and multiplicity among the area, which are 32 per 1000 birth on urban and 52 per 1000 birth on rural. From previous researches which more concentrate on factors relate to infant mortality, and few analyze on infant’s survival age, and not comparing infant’s survival on urban and rural. Objektive: This research’s aim is to describe infant’s survival probability also analyzing faktors relate to infant’s survival on Indonesia and based on the urban and rural area. Methods: This research is using SDKI 2002-2003 data. Cross sectional data on SDKI 2002-2003 can be analyze by survival analyses because it contain time and event information, with survey period from infant’s birth until less than one year age. Sample’s amount 11.588 infant, consist of 4.769 infant on urban and 6.819 infant on rural. Data analysis using survival analysis application with life table and Cox regression also time independent covariate if variabel doesn’t meet proportional hazard ratio assumption. Result: Probability infant’s survival on urban (98,59%) higher than on rural (97,54%). On rural infant’s mortality proportion is twice higher than on urban. Infant’s survival time probability decline on first month age (neonatal mortality), for higher age infant’s survival time probability is still low, but not as low as the first month age. According to the area, on urban infant’s survival time probability is even lower than on rural. Faktors related to infant’s survival time probability on urban are birth weight, breast feeding period, birth assistance and interaction between birth assistance with birth weight after controlled by antenatal service visit frequency faktor, birth weight, birth assistance, birth queue number, breast feeding period, bearing place, birth assistance interaction with breast feeding period after controlled by birth distant faktor and gender. Conclusion: Infant’s survival determinant faktor is infant condition when the baby born, besides the antenatal service visit frequency. As a dominant faktor is breast feeding period. Midwife or birth assistance is a precondition faktors of infant’s weight effect and breast feeding on infant effect to infant survival time. Appropriate intervention is needed for problem that found on each city and rural area. Main intervention effort is increasing early breast feeding as soon as the infant born which also an advantage for lessening birth interval, beside it also improves birth assistance ability on BBLR infant process, and helps mother on breast feeding as soon as the baby born, increase antenatal service coverage, and increase birth delivery coverage by health worker. Keyword: Infant, Infant Survival, Survival Analysis, Rural and Urban, Proportional Hazard Model.
Read More
T-2136
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khalina Puspitasari; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Wahyu Septiono, Siti Sugih Hartiningsih
Abstrak:
Depresi merupakan gangguan kesehatan mental paling umum di seluruh dunia yang dapat mengarah pada keinginan bunuh diri serta menimbulkan kerugian ekonomi. Kelompok dewasa muda memiliki prevalensi depresi tertinggi, namun paling sedikit mengakses layanan kesehatan mental. Wilayah perkotaan memiliki prevalensi depresi yang lebih tinggi dari perdesaan karena berbagai perbedaan antara kedua wilayah tempat tinggal. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan depresi pada dewasa muda usia 18-24 tahun di Indonesia menurut wilayah perkotaan dan perdesaan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data dilakukan dengan metode analisis regresi logistik. Hasil menunjukkan perempuan (OR=2,743; 95% CI=2,058 - 3,655), memiliki riwayat penyakit kronis (OR=4,252; 95% CI=2,651 - 6,818), dan mengonsumsi alkohol (OR=4,285; 95% CI=2,359 - 7,786) merupakan determinan depresi di perkotaan. Perempuan (OR=2,149; 95% CI=1,196 - 3,863), tidak bekerja (OR=2,260; 95% CI=1,274 - 4,008), dan tidak menikah (OR=1,980; 95% CI=1,161 - 3,377) merupakan determinan depresi di perdesaan. Program edukasi, konseling, dan skrining kesehatan jiwa perlu diutamakan bagi kelompok berisiko, serta diintegrasikan dengan promosi gaya hidup sehat.

Depression is the most common mental health disorder worldwide that can lead to suicidal ideation and economic loss. Young adults have the highest prevalence of depression, but the least to access mental health services. Urban areas have a higher prevalence of depression than rural areas due to various differences between the two areas of residence. Based on that, this study aims to determine the determinants of depression in young adults aged 18-24 years in Indonesia according to urban and rural areas. This study is a quantitative study using secondary data from the 2023 Indonesia Health Survey (IHS). Data analysis was carried out using the logistic regression analysis method. The results showed that women (OR = 2.743; 95% CI = 2.058 - 3.655), having a history of chronic disease (OR = 4.252; 95% CI = 2.651 - 6.818), and consuming alcohol (OR = 4.285; 95% CI = 2.359 - 7.786) are determinants of depression in urban areas. Female (OR=2.149; 95% CI=1.196 - 3.863), unemployed (OR=2.260; 95% CI=1.274 - 4.008), and unmarried (OR=1.980; 95% CI=1.161 - 3.377) are determinants of depression in rural areas. Mental health education, counseling, and screening programs need to be prioritized for at-risk groups, and integrated with healthy lifestyle promotion.
Read More
S-11902
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salmaa Afkari; Pembimbuing: R. Sutiawan; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Ely Setyawati
Abstrak:
Periode balita adalah fase rentan terhadap risiko kesehatan yang dapat menghambat pertumbuhan anak serta menyebabkan kematian. Diare menjadi perhatian utama dalam kesehatan balita karena menjadi penyebab utama kematian dan penyakit pada kelompok usia tersebut, terutama di negara-negara berkembang. Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dan 2017, prevalensi diare pada balita di Indonesia cenderung stagnan, hanya mengalami sedikit penurunan dari 14,3% pada tahun 2012 menjadi 14,1% pada tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh antara sumber air minum dan sanitasi rumah tangga terhadap kejadian diare pada balita di Indonesia dengan menggunakan analisis propensity score matching berdasarkan data SDKI 2017. Penelitian bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain studi observasional. Populasi penelitian ini yaitu seluruh anak di bawah usia lima tahun (0 - 59 bulan) yang tercatat dalam data SDKI 2017. Hasil analisis propensity score matching menemukan bahwa efek rata-rata dari layanan air minum yang tidak layak menunjukan hasil yang tidak signifikan terhadap peningkatan kejadian diare pada balita berdasarkan nilai statistic t yang dihasilkan dengan nilai efek peningkatan risiko sebesar 2,0%. Sementara itu, efek rata-rata dari layanan sanitasi yang tidak layak memenuhi nilai asumsi yang signifikan berdasarkan nilai t yang dihasilkan terhadap peningkatan kejadian diare pada balita dengan nilai efek peningkatan risiko sebesar 3,8%. Perbandingan hasil analisis propensity score matching dan analisis regresi logistik biner menunjukkan sedikit perbedaan pada nilai odds ratio yang dihasilkan, namun tidak terlihat signifikan. Temuan ini menunjukan masih diperlukan penanganan terhadap kejadian diare pada balita. Diperlukan upaya dalam penerapan program edukasi yang berfokus pada pencegahan diare untuk mengurangi kejadian diare pada balita terkait sanitasi jamban. Selain itu, diperlukan pengembangan infrastruktur dan peningkatan ketersediaan fasilitas sumber air minum dan sanitasi agar akses fasilitas dapat tercapai merata di seluruh wilayah Indonesia.

The under-five period is a phase vulnerable to health risks that can stunt a child's growth and cause death. Diarrhea is a major concern in the health of children under five as it is the leading cause of death and illness in this age group, especially in developing countries. Based on data from the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in 2012 and 2017, the prevalence of diarrhea in children under five in Indonesia tends to stagnate, only experiencing a slight decrease from 14.3% in 2012 to 14.1% in 2017. This study aims to examine the effect of drinking water sources and household sanitation on the incidence of diarrhea in children under five years old in Indonesia using propensity score matching analysis based on the 2017 IDHS data. The research was quantitative in nature using an observational study design. The population of this study was all children under the age of five (0 - 59 months) recorded in the 2017 IDHS data. The results of the propensity score matching analysis found that the average effect of unimproved drinking water services showed insignificant results on increasing the incidence of diarrhea in children under five years of age based on the t-statistic value generated with an increased risk effect value of 2.0%. Meanwhile, the average effect of unimproved sanitation services meets the significant assumption value based on the resulting t value on the increase in the incidence of diarrhea in children under five with an increased risk effect value of 3.8%. Comparison of the results of propensity score matching analysis and binary logistic regression analysis showed a slight difference in the resulting odds ratio values, but did not appear significant. These findings indicate the handling of the incidence of diarrhea in toddlers. Efforts are needed to implement educational programs that focus on diarrhea prevention to reduce the incidence of diarrhea in children under five years of age related to latrine sanitation. In addition, it is necessary to develop infrastructure and increase the availability of water supply and sanitation facilities so that access to facilities can be achieved evenly throughout Indonesia.
Read More
S-11517
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novitasia Elsera Gultom; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: R. Sutiawan, Anindita Dyah Sekarputri
Abstrak: Pernikahan di usia dini atau yang disebut dengan early marriage merupakan suatu bentuk pelanggaranhak-hak anak dan hak-hak manusia. Indonesia merupakan negara yang memiliki angka pernikahandini cukup tinggi, dimana menempati posisi ke-37 dunia dan ke-2 ASEAN setelah Negara Kamboja.Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana tren dan dampak yang ditimbulkan dari pernikahan usia dini di Indonesia dengan analisis data SDKI 2012. Pada penelitian ini menggunakan menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 yang meliputi analisis,univariat dan bivariat dengan desain potong lintang. Penelitian ini memakai sampel Wanita UsiaSubur (WUS) 35-49 tahun yang pernah kawin. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tren daripernikahan usia dini menurun menjadi 30,5% pada tahun 2012, yang sebelumnya 48,1% pada tahun2007. Dampak yang berhubungan dengan pernikahan usia dini adalah fertilitas dan status kawin. Dampak yang paling berhubungan adalah fertilitas. Kata kunci: fertilitas; Indonesia; pernikahan usia dini
Marriage at an early age, or the so-called early marriage is a form of violation of children's rights andhuman rights. Indonesia is a country that has a fairly high rate of early marriage, which occupies the37th position of the world and the 2nd ASEAN after the State of Cambodia. The aim of the study is todescribe how about the trends and the impact of early marriage in Indonesia with secondary dataanalysis of IDHS 2012. In this study using the data of the Indonesia Demographic Health Survey(IDHS) which includes univariate and bivariate analysis were used the design of cross-sectional study.The sample of this study using Eligible Women 35-49 years who ever married. The result showedthat the trend of early marriage decreased to 30,5% in 2012, which previously 48,1% in 2007. Earlymarriage associated with fertility and marital staus. The most associated impact with early marriage isfertility.Key words: early marriage; ertility; Indonesia
Read More
S-8494
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulya Zahratul Afiah; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Wahyu Septiono, Eksi Wijayanti
Abstrak:
Cakupan imunisasi dasar lengkap di Indonesia masih rendah dan belum merata di setiap provinsi. Data SDKI 2012 dan 2017 melaporkan cakupan imunisasi dasar lengkap mencapai 37% dan 59%. Jawa Timur, Bali dan NTB merupakan provinsi dengan cakupan imunisasi selalu di atas cakupan nasional sedangkan Aceh, Sumatera Barat dan Riau selalu di bawah cakupan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan faktor yang mempengaruhi imunisasi dasar lengkap pada anak usia 12-59 bulan di wilayah imunisasi dasar konsisten tinggi (Jawa Timur, Bali dan NTB) dan wilayah imunisasi dasar konsisten rendah (Aceh, Sumatera Barat dan Riau) menggunakan data SDKI 2012 dan 2017. Variabel dependen yaitu imunisasi dasar lengkap sedangkan variabel independen yaitu usia ibu, pendidikan ibu, indeks kekayaan, kunjungan antenatalcare dan tempat persalinan. Uji regresi logistik multivariabel digunakan untuk mengidentifikasi faktor yang paling mempengaruhi imunisasi dasar lengkap. Cakupan imunisasi dasar lengkap di wilayah imunisasi dasar konsisten tinggi dan rendah tahun 2012 mencapai 43,8% dan 29,8% sedangkan tahun 2017 mencapai 51,4% dan 21,8%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa indeks kekayaan menjadi faktor yang paling mempengaruhi imunisasi dasar lengkap tahun 2012 di wilayah imunisasi dasar konsisten tinggi (OR=2,89) dan wilayah imunisasi dasar konsisten rendah (OR=2,64). Faktor yang paling mempengaruhi imunisasi dasar lengkap tahun 2017 di wilayah imunisasi dasar konsisten tinggi yaitu tempat persalinan (OR=2,3) sedangkan di wilayah imunisasi dasar konsisten rendah yaitu kunjungan antenatalcare (OR=2,09). Program antenatalcare dan perencanaan persalinan perlu diperkuat untuk mendukung program imunisasi dengan menargetkan ibu dari indeks kekayaan terbawah.

Complete basic immunization coverage in Indonesia is still low and not equally distributed in each province. The IDHS 2012 and 2017 data reports basic complete immunization around 37% and 59%. East Java, Bali and West Nusa Tenggara are province with immunization coverage above national coverage, while Aceh, West Sumatera and Riau are bellow national coverage. This study aims to compare the factors that influence complete basic immunization among children aged 12-59 months in consistently high (East Java, Bali and West Nusa Tenggara) and low (Aceh, West Sumatera and Riau) basic immunization areas uses 2012 and 2017 IDHS data. The dependent variable is complete basic immunization while the independent variables are maternal age, maternal education, wealth index, antenatal care visits and place of delivery. Multivariable logistic regression test was used to identify factors that most influence complete basic immunization. The results showed that the wealth index was the factor that most influenced complete basic immunization in 2012 in consistently high (OR=2,89) and low (OR=2,64) basic immunization areas. The factors that most influenced complete basic immunization in 2017 in consistently high basic immunization areas was the place of delivery (0R=2,3) while in consistently low basic immunization areas was antenatal care visits (OR=2,09). Antenatal care and birth planning programs need to be strengthened to support immunization programs by targeting mothers from the lowest wealth index.
Read More
S-11493
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive