Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38758 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ibnu Chattab; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Bahnan
S-4080
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henriette Nuarni Sari; Pembimbing: Evi Martha
S-4023
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vivi Ristanti; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih
S-3890
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mardiah Hayati; Pembimbing: Endah Wuryaningsih; Penguji: Anwar Hasan, Sarining Rahajoe
S-5498
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bambang Kristyanto; Pembimbing: Bambang Sutrisna
S-2971
Depok : FKM UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widyaningsih; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Togi Duma Sianturi, Tri Krianto
S-4458
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sudarawerti; Pembimbing: Tri Krianto
S-3787
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Boy Safriady; Pembimbing: Sandi Iljanto
Abstrak:
Perilaku resiko tinggi terinfeksi HIV pada narapidana pria terdiri dari perilaku seksual dan perilaku penggunaan jarum tidak steril bergantian. Untuk memperoleh model yang dapat menjelaskan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku resiko sangat tinggi terinfeksi HIV, yaitu perilaku seksual, perilaku penggunaan NAZA-IV dan perilaku pembuatan tattoo maka dilakukan penelitian dengan rancangan Cross Sectional dengan metode kuantitatif dan kualitatif pada narapidana dan petugas selama bulan November dan Desember 2002 di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Cipinang. Dari 100 responden narapidana didapatkan 100 % berperilaku seksual resiko tinggi, 55 % berperilaku membuat tattoo dengan jarum tidak steril bergantian, 3 % menggunakan NAZA-IV bergantian. 55 % narapidana berada pada kelompok resiko sangat tinggi terinfeksi HIV, usia 30 tahun atau kurang 71 %, pendidikan SLP atau ke bawah 53 %, belum menikah 61 %, jenis pelanggaran hukum NAZA dan pemerkosaan 67 %, lama menghuni lapas di atas setahun 44 %, usia hubungan seks pertama di bawah atau 20 tahun 71 %, pernah mengalami PMS setahun terakhir 52 %, pengetahuan buruk 64 %. Hasil analisa bivariat, terdapat delapan variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan perilaku resiko sangat tinggi terinfeksi HIV yaitu usia, tingkat pendidikan, status pernikahan, jenis pelanggaran hukum, lama di dalam lapas, usia hubungan seks pertama, pernah alami PMS setahun terakhir dan pengetahuan responden. Analisis multivariat diantara delapan variabel yang menjadi model, ternyata terdapat lima variabel yang berhubungan secara bermakna, yaitu umur, lama di dalam lapas, jenis pelanggaran hukum, usia hubungan seks pertama, pengetahuan narapidana, tanpa adanya interaksi. Penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku seks yang dilakukan narapidana di lapas adalah homoseks baik secara sukarela ataupun dipaksa, tanpa menggunakan kondom. Seluruh responden merasa tidak senang hidup terpisah dari wanita. Berdasarkan penelitian ternyata NAZA dapat melewati sistem Lapas Cipinang, dan narapidana dapat melanjutkan perilaku IDU di dalam lapas. Perilaku pembuatan tattoo banyak dilakukan oleh narapidana dengan menggunakan jarum dan tinta tidak steril bergantian. Jumlah penghuni overkapasitas. Studi ini memperlihatkan bahwa sistem pemasyarakatan menempatkan narapidana dalam kelompok resiko sangat tinggi terinfeksi HIV, hampir seluruh responden menyadari mereka dapat terinfeksi HIV selama tinggal di lapas. Pengkajian terhadap sumber daya (dana, tenaga, dan sarana) belum maksimal, masih menunggu atau tidak pro aktif. Pengetahuan kepala dan petugas lapas masih kurang tentang infeksi HIV. Sebagai saran untuk mengantisipasi dan mencegah penularan infeksi HIV , jangka pendek : meningkatkan penyuluhan tentang cara penularan dan pencegahan infeksi HIV, pelatihan kepada kepala dan petugas lapas, diusahakan penyediaan kondom di lapas, disediakan ruangan khusus di lapas untuk melakukan hubungan seks narapidana yang memiliki istri yang syah dan berkumpul dengan anaknya, disediakan disinfekstan untuk mensterilkan jarum, perlu dibuat lapas khusus NAZA, dipersiapkan program harm reduction, perlu dianggarkan dana operasional RS lapas, perlu dibuat RS khusus untuk narapidana HIV + di lapas besar seperti di Cipinang, serta UU Republik Indonesia No. 12 tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan perlu direvisi. Jangka panjang ditingkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektoral dalam penanganan narapidana sebagai salah satu sumber daya manusia Indonesia.

The Very High Risk Behavior Infected of Human Immunodeficiency Virus (HIV) on The Male Prisoners at the Cipinang Prison Class 1 In 2002The high risk behavior of HIV infected for man prisoner are consist of sex behavior and user of unsterile hypodermic needle by turns. For getting model to explain factors of high risk behavior of HIV infected, that sex behavior, intravenous drug user behavior and tattoo making behavior, so we do the research by cross sectional structure with quantitative and qualitative method to prisoner and the official in charge for November and December 2002 in the class I prison in Cipinang. From 100 respondents of prisoners get 100 % high risk sex behavior, 55 % tattoo making by unsterile needle by turns, 3 % IDU by turns. Prisoner with very high risk infected HIV 55%, 30 years or less 71%, secondary school or under 53%, single 61%, drug offenses and rapes 67%, having punishment above one year 44%, sex relations under or 20 years 71%, having STD experience one last year 52%, bad experience 64%. Based on the analyze of bi-variances has been founded eight variables of meaningful relationship between very high risk behavior namely with ages, education level, marital status, the kind of offenses, the staying duration in prison, the first sex relations, experiencing STD, the knowledge. The analysis multi-variance among eight variances becoming a model was founded five variables meaningfully related, namely; age, duration of staying in the prison, kind of offense, age of first sexual relations, prisoner's knowledge without having interactions. The research showed that the sex behavior conducted by prisoners in the prison is homosexual either being voluntarily or forced without condom. All respondents did not feel comfortable separated from woman, Based on the research was appeared that drug could pass (across) the Cipinang Prison System, and prisoners could follow the IDU behavior in the prison. The prisoners often make tattoo by using the unsterile injection and ink in turn. Overcapacity inmate. This study shows that Sistem Pemasyarakatan to place the prisoners are in very high risk infected HIV, almost all respondents realize that they may be infected HIV during living in the Prison. The study about resources (funds, power, and facilities) is not maximal yet, it is still waiting not proactive. Headmaster's and official free lance's acknowledge are still minim about HIV infection. In order to anticipate and prevent the HIV infection could be suggested, in the short-term, to provide enough information about the infection and how to prevent HIV infection, it need training for headmaster and official freelances, to prepare condom in the prison, to prepare the special room in the prison for whom have a legal wife and children, to prepare the disinfectant to sterilize the needle, then it is necessary to prepare a special prison for drug, to prepare harm reduction program. Furthermore, it is necessary to plan a budget in operating prison hospital and preparing a special hospital for HIV prisoners + big prison like Cipinang Prison, it is necessary to revise UU Republik Indonesia No. 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan. In the long-term, it is necessary to create a collaboration inter-program and inter-sectors in handling the prisoners as one of human resources. Bibliography: 54 (1978-2003)
Read More
T-1591
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Risma Fadillah; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani; Penguji: Achmad, Engkus Kusdinar, Dewi Damayanti
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap remaja tentang PMS dan HIV/AIDS terhadap perilaku berisiko PMS dan HIV/AIDS. Penelitiandilakukan di SMA Negeri I Wundulako, Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara tahun2013. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada 189remaja SMA. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar remaja memiliki perilaku tidak berisiko, berumur 16,22 tahun, perempuan, beragama islam, pengetahuan cukup baik(<mean), sikap negatif (<mean), terpapar informasi media, dan kontak personal yang kurang aktif. Hasil uji statistik membuktikan terdapat hubungan bermakna antara umur, jenis kelamin(OR=2,18), pengetahuan (OR=2,16), sikap (OR=2,19), sumber informasi media (OR=2,5)dan kontak personal (OR=2,19) dengan perilaku berisiko PMS dan HIV/AIDS.
Kata Kunci : PMS; HIV/AIDS; Perilaku Seksual Remaja
This research aim to know the description of the knowledge and attitudes of teenagersabout PMS and HIV/AIDS with risk behavior of PMS and HIV/AIDS. Research conducted inSMA Negeri 1 Wundulako, Kolaka, Southeast Sulawesi in 2013. Design research was a cross-sectional with a quantitative approach in high school teenagers (189). The results showedmost of the teens have no behavior was risk, 16,22 years, male, Moslem, knowledge is quitegood (<mean), negative attitude (<mean), exposure to media information, and personalcontacts that are less active. Results of statistical tests proved there was a meaningfulrelationship between age, sex (OR = 2.18), knowledge (OR = 2.16), attitude (OR = 2,19),sources of information media (OR = 2.5) and personal contacts (OR = 2,19) with riskbehavior of PMS and HIV/AIDS.Key words : PMS; HIV/AIDS; Risk of Sexual behavior
Read More
S-7793
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Octaryana; Pembimbing: Ratna Djuwita Hatma; Penguji: Tri Yunis Miko, Trio Toufik Edwin
Abstrak: Jumlah kasus AIDS di Indonesia semakin meningkat, sampai periode Juni2013 sebesar 43.667 kasus. ABK merupakan mobile migrant population yangmemiliki perilaku seksual berisiko HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuanmengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksualberisiko terkait HIV/AIDS pada ABK di Poliklinik KKP Kelas I Tanjung Priok.Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain penelitian yaitucross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ABK yangmelakukan kegiatan Medical Check Up (MCU) di poliklinik KKP Tanjung Priok.Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian ABK yang melakukan kegiatanMCU dengan kriteria inklusi berjenis kelamin laki-laki, masa kerja minimal 3bulan, WNI, dan menandatangani informed consent. Hasil penelitianmenunjukkan 30,7% ABK memiliki perilaku seksual berisiko terkait HIV/AIDS.Karakteristik ABK terbanyak pada umur >30 tahun (56,7%), menikah (59,3%),pendidikan terakhir SMP keatas (78,7%), pulang ke daerah asal kurang dari 9bulan sekali (78,7%), lama berlabuh ≤ 3 hari (59,3%), usia seks pertama >21tahun (51,3%), tingkat pengetahuan kurang (53,3%), sikap negatif (54,7%), dankurang terpapar informasi HIV/AIDS (56,7%). Faktor-faktor yang secara statistikmemiliki hubungan dengan perilaku seksual berisiko adalah status pernikahan,pendidikan, frekuensi pulang ke daerah asal, lama berlabuh, usia seks pertama,pengetahuan, sikap dan keterpaparan media informasi. Sehingga perlu diberikanKIE mengenai HIV/AIDS dan penggunaaan kondom yang berkesinambungan serta penyediaan ATM kondom.Kata Kunci : Perilaku seksual berisiko, HIV/AIDS, ABK
The number of AIDS cases in Indonesia has increased, until the period ofJune 2013 amounted to 43.667 cases. The crew of ship is a mobile migrantpopulation who have HIV/AIDS-risk sexual behaviors. This research aims to havedescription of the factors correlation with risk sexual behavior related toHIV/AIDS in the crew at the Polyclinic of Port Health Office Class I of TanjungPriok. This research is an observational research using cross-sectional designstudy. Research population was entire the crew that have Medical Check Up(MCU) in the Polyclinic of Port Health Office Class I of Tanjung Priok. Researchsample was partially of the crew that have Medical Check Up (MCU) withinclusion criteria male, work period at least 3 months, Indonesian, and signedinformed consent. The result showed 30,7% of the crew have HIV/AIDS-risksexual behavior. Most of the crew characteristic are above 30 years old (56,7%),get married (59,3%), educational grade over junior high school (78,7%), back totheir hometown less than once in 9 months (78,7%), longer anchore less than 3days (59,3%), age of first sex in over 21 years old (51,3%), level of knowledgelow (53,3%), negative demeanor (54,7%), and less exposure to HIV/AIDSinformation (56,7%). The factors that are statistically have correlation with risksexual behavior was marital status, education, frequency back to their hometown,longer anchored, age of first sex, knowledge, attitudes and media exposureinformation. So that needs to be given information, education and communicationabout HIV/AIDS and sustainable use of condoms and provision of condoms ATM.Keywords : risky sexual behavior, HIV/AIDS, the crew.
Read More
S-8531
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive